Minggu, 12 Mei 2013

Risa Si Cantik Montok



"Hallo Ryan.. 'Met sore" Risa pacarku meneleponku.

O ya, sebagai gambaran, aku mempunyai pacar yang sangat cantik, wajahnya hampir mirip artis yang sering tampil di layar televisi, bodynya sexy, montok, serta ukuran BH-nya 36 B.

"Hallo juga Risa, lagi dimana nih?"
"Aku di rumah, eh kamu ada acara nggak?"
"kalau ya kenapa dan kalau nggak kenapa"
"Eku mau minta tolong dong, ortuku kan lagi pergi ke Jakarta. Di rumah aku sendirian, aku mau garap skripsi. Mau nggak nemenin aku?"
"Kapan?"
"Setahun lagi.. Gimana sih ya sore ini dong"
"Yah kalau sore ini aku nggak bisa, aku udah janjian ama temen bisnisku untuk merancang pembuatan proposal proyek"
"Ya udah kalau nggak bisa aku minta temenin temen kampusku aja biar sekalian busa diskusi"

Aku kemudian bergegas untuk pergi dengan teman bisnisku, sebenarnya ingin sekali aku menemani Risa, namun apa boleh buat karena aku berpikir bisnis ini kan juga untuk masa depan kami berdua, jadi nggak mungkin aku batalkan. Sementara Risa kemudian mengajak temennya Rico yang memang sudah kukenal untuk menemaninya mengerjakan skripsi. Rico ini adalah sahabat Risa, teman sekampusnya. Kalau kulihat dari tatapan matanya aku tahu betul kalau Rico itu naksir kepada Risa, apalagi memang Risa orangnya sangat friendly dan cantik lagi sehingga siapapun lelaki pasti tak akan menolaknya ketika diajak menemani.

Acara dengan rekan bisnisku ternyata tidak berlangsung lama, karena ternyata ia ada saudaranya yang meninggal sehingga harus segera pergi. Di satu sisi aku girang juga karena aku segera dapat menemani kekasihku Risa. Segera kupacu mobilku menuju ke rumahnya. Sengaja aku tidak meneleponnya karena aku akan memberi kejutan kalau aku bisa menemaninya. Terbayang wajahnya yang cantik, aku ingin memeluknya dan segera berduaan dengannya. Tiba-tiba di tengah jalan aku teringat kalau ia tadi sudah menelepon temannya Rico. Entah mengapa tiba tiba aku jadi cemburu membayangkan mereka lagi berduaan dan bercanda ria. Padahal aku biasanya tidak merasakan ini karena aku paham betul siapa Rico.

Pukul 20.00 tepat sampailah aku di rumah Risa. Sayup-sayup kudengar orang tertawa-tawa dari dalam, sepertinya mereka tidak menyadari ada orang yang datang. Kuurungkan niatku untuk menekan bel, aku ingin tahu apa yang sedang mereka lakukan, sehingga aku mencoba mengintip dari jendela kaca. Kulihat mereka lagi bercanda, apalagi Rico orangnya memang pintar melawak. Ada perasaan cemburu dalam dadaku melihat keasyikan mereka berdua. Sesekali kulihat Risa mencubit Rico karena saking gemasnya. Aku betul-betul tak tahan melihatnya. Langsung kubuka pintu depan rumahnya, hingga membuat mereka terkejut.

"E Ryan.." Serempak mereka mengucapkan itu melihat kedatanganku.
"Katanya garap skripsi kok malah asyik berduaan gitu?" bentakku ke Risa, karena cemburukku yang tidak terkontrol.
"Iya.. Kita kan lagi istirahat dulu" jawab Risa sambil tergagap. Kulihat Rico hanya diam saja mematung. Nampaknya ia tidak mau terlalu ikut campur karena "internal" kami.
"Kok nggak ada buku-bukunya?" tanyaku dengan kesal.

Tanpa menunggu jawaban kemudian aku keluar sembari membanting pintu menuju mobilku yang kuparkir di halaman. Aku sendiri tidak paham kenapa aku bisa secemburu ini padahal aku juga sudah kenal baik dengan Rico dan aku pun paham meski pun kadang Risa agak sedikit genit namun dia tidak mungkin melakukan hal yanhg aneh-aneh dan melebihi batas.

Aku masuk ke mobilku dan kustarter mobilku, tiba-tiba Risa keluar dari rumah dan berteriak-teriak memanggil namaku.

"Ryan.. Ryan.." Ia langsung masuk ke mobillku.
"Kamu kenapa sih Ryan kok nggak biasanya kamu begitu?"
"Gak usah banyak tanya, kan udah jelas kamu ini nggak tahu diri, aku lagi susah-susah untuk berusaha mengerjakan bisnis untuk masa depan kita berdua tapi kamu malah enak-enakan, bermesra-mesraan dengan Rico"
"Kamu jangan salah paham Ryan.. Kok tega kamu menganggap aku serendah itu, aku kan hanya minta tolong sama rico apalagi dia yang lebih paham masalah skripsi ini.. Kamu jahat Ryan" Risa mencoba menjelaskan sambil menangis.

Melihatnya menangis aku menjadi iba, teringat aku akan kebaikannya, lucunya, keceriannya, bibir seksinya.
Sejenak aku diam, kemudian kurengkuh badannya dalam pelukanku.

"Tapi kamu nggak selingkuh kan sayang?"

Risa menggeleng, kuseka air matanya, kuelus pipinya kemudian kukecup bibirnya. Ia membalas, lidah kami saling bertautan.

"Uhh.., ogh.." ia melenguh ketika sambil kucium bibirnya tangan bergerilya ke payudaranya.
"Uhh Ryan.. Aku sayang kamu" ciuman lidahnya makin panas dalam mulutku, sementara tanganku terus bergerilya pada dua buah dadanya yang montok.

Aku tahu betul kalau Risa ini paling tidak tahan ketika dadanya di sentuh, apalagi kalau putingnya di pegang pasti langsung mengeras bagaikan tersengan listrik 3000 volt.

"Ahh.. Uh.. Ryan.. Aku nggak tahan, kita lanjutin di kamar yuk.. Gak enak kalau kelihatan orang"

Wajah Risa memerah, nampak sekali kalau ia menahan gairah yang luar biasa. Tanpa banyak bicara langsung kupapah Risa sambil terus berangkulan menuju kamarnya. Kulihat di ruang tengah Rico tak ada, mungkin ia sedang di belakang. Tapi kami tak ambil pusing, langsung kubawa Risa ke kamarnya. Tanpa sempat menutup pintu sehingga agak terbuka sedikit. Kurebahkan tubuh Risa di kasur, kuciumi bibirnya, pipinya dan tak ingun kulepaskan.

"Ohh.. Ryan.. Uh.. Nikmat sekali" Risa terus menggelinjang ketika kubuka bajunya.

Tersembul di depan mukaku dua buah gunung yang masih terbungkus kain meski tidak menutupi semuanya. Putih bersih begitu indah dan menggairahkan. Kuciumi kembali 'buah' yang masih tertutup itu.

"Uh.. Ogh.. Uh.. Ogh.."

Desahan suara Risa semakin menggairahkan aku untuk terus memainkan payudaranya. Perlahan kubuka kait tali BH nya dari belakang, sedikit demi sedikit kutarik semua BH nya.

"Oh.."

Lenguhan Risa semakin kencang. Sejenak kupandangi dua buah gunung yang sudah tak berkain lagi, tampak putingnya yang kecoklatan mengeras tegak seolah memanggilku untuk segera menjilatnya

"Kok dipandangi aja sih.. Cium dong".

Risa memintaku seakan tak sabar untuk segera memintaku melumat habis putingnya. Kudekatkan perlahan kepalaku di dadanya. Kujilat-jilat kulit di sekitar putingnya sembari menggodanya untuk memberikan sensasi yang luar biasa.

"Oh.. Oh, ogh," Risa merintih ketika lidahku tepat berada di putingnya. Kubasahi putingnya dengan ludahku.
"Aughh.. Ohh.. Ogh.." Rintihan dan lenguhannya makin keras saat kutarik putingnya dengan mulutku..
"Ohh.. Ambil semua Ryan.. Ambil semua.. Aku milikmu Ryan" napas risa semakin tak beraturan menggelinjang ke kanan ke kiri bagai cacing kepanasan.

Sementara itu akibat kelalaian kami tak menutup pintu, sepasang mata terus mengamati aktivitas yang aku dan Risa lakukan. Di luar sepengetahuanku, Rico ternyata mengintip perbuatan kami. Memang bukan sepenuhnya dia yang salah tapi juga karena keteledoran kami yang karena terlalu asyik tidak sempat menutup pintu.

Aku terus mencumbu Risa, kujilat perutnya dan terus kebawah. Pelan namun pasti kubuka celana jeans Risa, tangannya secara refleks juga ikut membantu menurunkan celananya. Terlepaslah celana jeans biru Risa, kini yang tertinggal hanyalah celana dalam warna pink yang di dalamnya tampak gundukan hitam yang ditumbuhi rambut ynag cukup lebat.

"Oh.. Rico.." Teriak tertahan Risa yang makin terangsang, sambil menggigit bibir menahan gelora nafsu yang kian panas.
"CD-mu lepas sekalian yah?"
"Ehm.." Ungkap Risa sembari menggangguk, seakan tak mampu lagi untuk mengeluarkan kata-kata.

Kini Risa telah telanjang bulat di depanku, bodynya betul-betul menggairahkan membuat 'adik' kecilku yang masih tersimpan di celana berontak meminta untuk keluar ikut bergabung.

"Kamu lepasin juga dong pakaianmu.. Kan nggak adil kamu masih lengkap aku dah telanjang bulat gini"

Tanpa banyak bicara kulepaskan seluruh pakaianku, hingga keluarlah senjataku yang telah berdiri tegak dan bersiap menjemput mangsanya. Kutundukkan kepalaku untuk menciumi gundukan bukit kecil Risa yang ditumbuhi hutan hitam yang lebat.

"Ohh.. Uhh.. Ugh" teriakan Risa makin tak beraturan, apalagi saat kutemukan benda kecil bagai kacang berwarna merah dan basah. Sejenak kupandangi kemudian kembali kusapu dengan lidahku meminum sari-sari kacang itu dengan nikmatnya.
"Ah.. Ryan.. Kamu pintar sekali, terusin Ryan.. Terusin" sambil menggelinjang tangan Risa mencari-cari sesuatu. Ups.. Akhirnya ia dapatkan juga tongkatku yang sudah tegak.
"Oh.. Oh.." aku pun mendesah geli ketika tongkatku dipegang tangan halusnya, perlahan tongkatku dikocoknya.
"Uh.. Uh.." Aku semakin tak tahan merasakan sensasi yang begitu nikmat.

Tiba-tiba Risa bergerak memutar tubuhnya hingga mulutnya persis berada di 'adik' kecilku seolah ia mau berdiskusi lebih jauh dengan 'adik'ku yang gagah. Sedangkan mulutku juga tepat berada di bukit yang di tengahnya terdapat lorong ditutup kacang. Kami bermain dengan gaya 69.

"Oh.. Uhh.. Ogh.."
"Ah.. Uh.. Slurp.. Slurp.." Bunyi gesekan mulut dan tongkat serta mulut dan gua makin keras terdengar. Kami asyik dengan mainan kami masing-masing hingga berlangsung sekitar 20 menit.
"Ryan.. Aku nggak tahan lagi, masukin dong tongkatmu ke guaku" Rengek Risa sambil terus berdiskusi dengan tongkatku, dijilatnya tongkatku hingga licin, bahkan sesekali telornya pun ia cicipi juga.
"Ryan.. Please.. Cepetan donk.. Aku nggak tahan lagi.."
"He eh.." Jawabku sambil terus menikmati kacangnya..Beberapa saat kemudian kuputar badanku pada posisi semula. Risa mengangkangkan kakinya hingga gundukan bukit itu nampak jelas sekali. Hutannya yang hitam dan rimbun membuat pemandangan tampak begitu indah, begitu pula 'kacang basahnya' yang melambai-lambai. Wajahnya yang merah, bibirnya yang seksi menahan gairah semakin menambah kecantikannya malam ini.

"Cepetan dong Ryan.." Perlahan namun pasti kugerakkan tongkatku menuju gua yang lebat itu
"Ouhh.." Risa merintih saat kepala tongkatku mulai masuk kemulut gua yang sudah basah dan licin.
"Ah.. Ouh.. Ohh."
"Oh.. Oh.. Uhh.."

Desahannya dan desahanku bersahutan tatkala pelan-pelan batang tongkatku masuk ke dalam gua. Sejenak tongkat itu kutarik keluar kemudian kumasukkan lagi dengan sangat perlahan.

"Ahh.. Ouhh.. Nikmat sekali Ryan.. Ohh"
"Aku sayang kamu Risa"
"Aku juga Ryan.. Oh nikmat sekali.. Ohh"

Tongkatku terus bersenam maju mundur di dalam gua Risa. Sementara itu mulutku juga terus bergerilya di gunung kembar Risa.

"Ahh.. Ryan.. Oh.. Terus Ryan.. Dalem lagi.. Ohh" Risa terus menggelinjang ke sana ke mari, pantatnya juga terus bergoyang bagaikan Inul di atas panggung.
"Oh.. Oh.. Aku tak tahan lagi Ryan.. Tongkatmu enak sekali, aku hampir sampai.. Terus Ryan lebih keras lagi.. Ohh"
"Ahh.. Uhh.. Uh.. Aku juga hampir keluar sayang, dikeluarkan dimana? Di luar apa di dalam?"

Tiba-tiba ada sesuatu lahar panas yang akan segera muntah dari tongkat kenikmatanku.

"Di dalam aja biar nikmat.. Oh.. Uh.." Cret.. Cret.. Crett.. Keluarlah lahar panas dari tongkatku.
"Ohh.. Aku sampai.." Pada saat yang bersamaan Risa juga sampai pada puncaknya.
"Uhh.. Ogh.."

Lolongan panjang kami mengakhiri pertempuran pertama yang luar biasa nikmatnya. Perlahan nafas kami teratur kembali seperti turun dari puncak kenikmatan yang sensasional.

Prakk.. Tiba-tiba terdengar suara vas bunga tersenggol, aku dan Risa saling berpandangan, terkejut sekaligus sadar kalau Rico masih ada di ruang tengah.

"Risa.. Rico kan belum pulang?"
"Belum.. Kamu sih terlalu bernafsu.."
"Habis kamu juga sih.. Terlalu menggairahkan he he.."
"Jangan-jangan dia lihat kita?"
"Biarin aja deh, kan malah lebih sensasional"
"Dasar Gabrut kamu.."
"Eh Risa, aku punya ide"

Tiba tiba muncul dalam benakku untuk mengajak Rico ikut serta dalam permainan kami, seolah aku sudah lupa kalau tadi sempat merasa cemburu dengan keberadaannya.

"Ide apaan?"
"Gimana kalau Rico kita ajak sekalian main dengan kita"
"Maksudmu?"
"Kita ajak dia untuk bercinta bersama, kan lebih asyiik.. Pasti jauh lebih nikmat"
"Ah gila kamu.. Gak mau emangnya aku cewek apaan.."
"Bukan begitu, pasti lebih sensasional. Percayalah ini tidak akan mempengaruhi hubungan kita. It's just sex not love. Aku juga tetap mencintaimu"

Sejenak Risa berpikir, mungkin ia menganggap ideku sangat gila, tapi entah kenapa tiba-tiba bulunya merinding dan tampak wajahnya bergairah, mungkin ia membayangkan permainan tersebut. Namun ia juga tidak mau kalau tampak menggebu menginginkan permainan itu karena bagaimana pun kami memang saling mencintai.

"Apa kamu serius Ryan?"
"Serius" aku coba meyakinkan Risa.
"Kamu nggak cemburu kalau aku main seks juga dengan Rico?"
"Ya enggaklah kan aku yang minta, asalkan ada aku"
"Kamu nggak ngambek lagi kayak tadi saat liat aku hanya bercanda dengan Rico"
"Enggak.. Percayalah.. Ini mungkin malah akan membuat hubungan kita semakin dewasa"
"Terserah kamulah" Risa akhirnya pasrah, yang penting tak mengubah apapun pada hubungan kami, karena tiba-tiba ia pun mulai bergairah.
"Ok kalau gitu aku akan bicara ama Rico"

Aku segera turun dari ranjang, kupakai celanaku kemudian aku keluar dari kamar. Kulihat Rico lagi merokok di ruang tengah, dari wajahnya nampak ia sangat gelisah melihat permainan tadi, mungkin ia juga sangat terangsang tapi tak ada pelampiasan. Kaget ia ketika melihatku melangkah ke arahnya.

"Eh Ryan.."
"Ric.. Sori ya perlakuanku tadi, aku agak emosi karena badanku lagi capek, pikiranku juga stress akibat kerjaan"
"Gak pa-pa kok Ryan.. Aku paham, biasalah dalam setiap berhubungan, cemburu itu kan tanda sayang" ungkapnya sok bijak dan arif.
"Sori juga tadi kamu kami tinggal sendirian di ruang tengah"
"Gak pa-pa kok"
"Tapi tadi kamu lihat kan aku ngapain dengan Risa?"
"Enggak.. Aku nggak.. Tahu.." Katanya agak gugup.
"Gak usah bohong Ric.. Aku nggak pa-pa kok, kita kan udah sama-sama dewasa, malah kalau kamu mau boleh kok kalau kamu ikutan"
"Maksudmu?"
"Iya kalau kamu mau, kamu boleh kok ikutan"
"Ikutan apaan?"
"Ikutan bermain seperti yang kamu lihat tadi"
"Apa aku nggak salah denger?
"Enggak.. Tadi aku juga udah bicarakan ama Risa, Risa juga setuju kok, itung-itung ini sebagai tanda maaf kami berdua, lagian kamu kan juga udah lihat semuanya"

Rico tercenung, mungkin ia tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar, ia seolah sedang bermimpi. Tapi aku segera menyadarkannya.

"Yuk kita ke kamar.. Kasihan Risa dah menunggu lama" kutarik tangan Rico untuk ikut ke kamar Risa.

Begitu masuk kamar, nampaklah Risa sedang telentang di tempat tidur sambil diselimuti sedikit di bagian bawah perutnya. Rico melongo melihat pemandangan yang luar biasa, paha yang putih mulus, dada yang indah membusung, pemandangan yang mungkin selama ini hanya ia bayangkan saat melakukan onani karena aku pun tahu kalau memang sudah sejak lama ia sangat tertarik dan bernafsu ketika melihat Risa. Namun sejauh ini ia cukup tahu diri karena Risa sudah ada yang punya. Tapi kini Rico melihat Risa yang betul-betul dalam posisi menantang, atas ajakanku sendiri yang merupakan pacarnya Risa.

"Kok diem Ric, kenapa?" Sapa Risa memecahkan kesunyian.

Kulihat sebenarnya Risa agak gugup dipandangi seperti itu. Apalagi kini di depannya ada dua lelaki yang selama ini memang dekat dengannya yang satu sahabatnya yang satu adalah pacarnya. Atau mungkin ia juga membayangkan sebentar lagi kedua orang dekatnya itu akan menjamah tubuhnya dan memberikan kenikmatan kepadanya. Kulihat pancaran wajahnya sangat bergairah. Sedangkan aku sendiri juga tidak tahu kenapa, saat ini sama sekali tidak ada rasa cemburu sedikit pun, malah yang justru aku sangat terangsang menghadapi permainan yang akan segera kami mulai.

"Yuk Ric kita mulai pestanya" Kuajak Rico segera mendekat ke Risa.

Kulepas semua baju yang ada di tubuhku, juga kuminta hal yang sama dengan Rico. Kini kami bertiga dalam keadaan yang sama-sama telanjang. Kulirik tongkat Rico yang sudah tegak, dari sisi ukuran memang tak jauh beda. Namun masing-masing punya kekhasan tersendiri. Punyanya agak melengkung sedangkan punyaku menjulang dengan kokohnya.

Aku memulai duluan dengan merundukkan kepalaku pada bagian bawah perut Risa. Hutannya yang lebat kuciumi dengan seksama.

"Ouh.. Ouh.." Risa merintih kenikmatan.

Rico pun tidak mau ketinggalan, ia mengambil bagian pada wajah Risa. Ia ciumi bibir Risa dengan lembutnya. Bibir sensual yang selama ini hanya ada dalam bayangannya.

"Ouh.. Ogh.. Uh.." Risa tak tahan menahan sensasi serangan bawah atas, tubuhnya menggeliat ke sana ke mari, pantatnya bergoyang bagai tampah yang sedang diputar-putar.

Sambil terus beradu bibir dengan Risa, tangan Rico bergerilya ke dalam payudara Risa yang ranum.

"Ouh.. Ou.." sensasi yang Risa rasakan makin menjadi-jadi.
"Hh.. Uh.." Desah nafas kami makin tak beraturan.

Sambil terus kujilati 'kacang basah' Risa, kulihat Rico mengubah posisi. Tongkatnya yang melengkung itu ia sodorkan ke mulut Risa. Dan Risa pun menyambutnya dengan antusias.

"Ouhh.. Ups.." Pelan dan pasti tongkat Rico keluar masuk dari mulut Risa.. Terkadang Risa melahapnya hingga hampir mengenai telurnya.
"Ohh.." Kudengar erangan Rico menahan kenikmatan dari mulut yang selama ini ia bayangkan. Sementara aku sendiri juga mengubah posisi, tongkatku yang sudah tegak kucoba untuk kumasukkan ke dalam tempat 'kacang basah' Risa.
"Aauuww.. Ohh.. Auww" Risa berteriak tertahan menahan kenikmatan tongkatku, namun tertahan suaranya oleh tongkat Rico yang sedang maju mundur.

Kulihat wajah pacarku ini benar-benar cantik dan menggairahkan dengan dua buah tongkat yang sedang memasuki lubang atas dan bawahnya. Kugerakkan tongkatku maju mundur mengikuti gerakan Rico yang juga maju mundur dalam mulut Risa.

"Ohh.. Ua.. Uuaoww" berbagai suara-suara tertahan serta desahan nafas memecah kesunyian malam itu.

Setelah berlangsung selama 10 menit, kemudian Rico menoleh ke arahku, meski ia tak bicara tapi aku mengerti kalau ia minta ijin kepadaku untuk tukar posisi, karena ia ingin merasakan juga nikmatnya 'kacang basah' Risa. Kami pun bertukar tempat. Tongkat Rico di bawah, sedangkan tongkatku di mulut Risa.

"Ouhh.. Ohh.." Tongkatku maju mundur dalam mulut Risa, kadang kepalanya ia jilat, kadang batangnya bahkan kadang seluruhnya ia telan.
"Ouhh enak sekali Ris.. Punya kamu masih seret.. Ohh" Terdengar Rico meracau merasakan nikmatnya gua Risa.
"Ris, kamu makin cantik sekali, dengan wajah penuh permen gitu.. Ohh" matanya melotot kugodain seperti itu, tapi makin tambah nikmat.
"Ohh Ris.. Dada kamu montok sekali.. Ohh"
"Ahh.. Kamu menggairahkan sekali Ris.."
"Auh.. Ohh" sensasi yang kami rasakan makin menjadi.

Mata Risa berkejap-kejap tanda ia sudah mau mencapai orgasme, aku hapal betul tanda-tanda ini karena aku sering bermain cinta dengan Risa.

"Ohh.. Ohh.." Di saat yang sama akupun juga merasakan hal serupa, akhirnya kutumpahkan seluruh lahar panasku kemulutnya. Crutt.. Crutt..
"Ups.. Ohh.."

Mulut Risa belepotan oleh cairan lahar panasku. Sebagian ia telan karena ia mempercayai akan membuatnya awet muda. Sedangkan Rico masih terus memompa, tapi kulihat ia pun hampir mengeluarkan lahar panasnya.

"Ohh.. Huu.. Ohhghh.."

Cret.. Cret.. Crret.. Tumpahlah lahar panas Rico yang ia keluarkan di perut Risa, sengaja ia tidak mau mengeluarkan di dalam karena takut resiko pada kehamilan Risa, meski sebenarnya Risa sudah meminum obat anti hamil.

Kami bertiga kemudian tergeletak lemas, namun puas setelah mencapai puncak bersama-sama. Karena Risa di rumah sendirian, maka semalam kami terus berpesta. Kadang aku dengan Risa, kadang Rico dengan Risa, kadang juga bertiga. Tapi yang pasti aku tidak dengan Rico karena aku masih waras bukan gay. Dan kulihat Risa sangat menyukai permainan ini.

Sejak saat itu hubunganku dengan Risa semakin mesra, tanpa ada rasa cemburu tapi semakin cinta. Dan rencananya kami juga akan segera menikah. Sedangkan petualangan kami terus berlanjut yang mungkin di lain waktu kuceritakan.

Celebrity 3



Di ruangan tempat main billiard

Okky Lukman tengah berdiri di tengah ruangan, seorang pria negro menjulurkan tangannya, menyibakkan pakaiannya yang bentuknya mirip baju kimono tipis sehingga tersingkaplah pahanya yang gemuk. Okky tersenyum nakal menatap Tika Pangabean yang tengah menjerit-jerit sambil meronta-ronta, bahkan pakaiannya tersobek-sobek dibeberapa tempat memperlihatkan lipatan perutnya yang berlemak, ranjang pun sampai terguncang hebat karena rontaan wanita bertubuh gempal itu.
“Brettttt… Brekkkkk… Brrrrtttt” suara pakaian Tika yang disobek dengan kasar oleh sepasang tangan yang kekar.
Okky pun mendekati Tika, lalu keduanya menatap kamera dan berkata,
“Sorry ya mupengers…kita salah tempat nih, kacian deh luu!!”
“Ky lepasin gua…buru kita pergi aja, syuting kita bukan disini tau!” omel Tika
“Iya-iya yuk cabut, kalau ngga nanti mupengers bisa shock semua!” kata Okky sambil melepas ikatan Tika.
“Cut-cut-cut…mana pemain yang benernyaaaa?!! Eh…siapa sih lo!!” teriak sutradara pada seorang pria lain yang baru masuk
“Gua sutradara baru, lebih punya taste, ok deh…mupengers dah pada ga sabar tuh, kamera….action!!”
 *********************************
Di ruangan tempat main billiard
 
Sandra Dewi, Asmirandah & Magdalena

Sandra Dewi tengah berdiri di tengah ruangan, seorang pria negro menjulurkan tangannya menyibakkan pakaian Sandra yang bentuknya mirip baju kimono tipis sehingga terlihatlah pahanya yang putih mulus. Sandra tersenyum nakal menatap Asmirandah yang tengah menjerit-jerit sambil meronta-ronta, bahkan pakaiannya tersobek-sobek di beberapa tempat“Brettttt… Brekkkkk… Brrrrtttt” suara pakaian Asmirandah yang disobek dengan kasar oleh sepasang tangan yang kekar.
Sandra mendekati Asmirandah.
“Tenang Dah, nggak usah menjerit-jerit begitu….” ia membelai-belai pipi Asmirandah.
Aktris muda itu menatap Sandra dengan tatapan putus asa
“Lepaskannnn… Lepasssss…. Ohhhhhhhh” air mata mengalir dari mata Asmirandah.
“Tolong jangan…, saya masih perawan….” Asmirandah memelas menyadari apa yang akan menimpa dirinya.
“Justru disitulah letaknya kenikmatan…Andah, setelah diperawani kamu pasti ketagihan , minta terus, terus dan terussss… Hssshhh Ohhhh Andahhh, kamu pasti bakal ketagihan….” Sandra mengecup kening Asmirandah dengan lembut.
Sandra lalu berjalan mendekati meja billiard. Para negro itu seakan-akan sudah mengerti apa yang harus mereka lakukan, tubuh Asmirandah diseret dan dinaikkan ke atas meja billiard itu.
“Lepaskan… Bajingan….!!” Asmirandah membentak marah ketika mereka dengan paksa membuatnya berlutut diatas meja billiard dengan posisi lutut mengangkang lebar, kedua tangannya dipiting ke belakang kemudian diikat.

Sandra meraih sebuah tongkat billiard, kemudian diselipkannya tongkat itu  pada selangkangan Asmirandah, Sandra membungkuk mengambil posisi seperti orang yang akan menyodok bola billiard, kemudian tongkat itu bergerak maju mundur menggesek-gesek selangkangan Asmirandah.
“Hssshhhhhh….jangannnh Hssssshh….jangannnn Ahhhhhhh.” Asmirandah mendesah-desah.
Payudara Asmirandah yang semakin membusung dengan indah menjadi mainan yang mengasikkan bagi tangan-tangan nakal yang merayapi dan menggerayangi permukaan payudara gadis itu yang halus dan lembut. Penolakan Asmirandah tidak dapat membohongi reaksi tubuhnya yang sedang terangsang hebat.
“Ngangkang, sayangggg….”si negro berbisik ditelinga Sandra.
“Hahhhhh…..!! ” Sandra tampak terkejut menolehkan kepalanya matanya menatap wajah si negro yang tampak serius.
“What’s up babe, c’mon, spread your legs…” si negro mengelusi bulatan buah pantat Sandra.
Sandra menghela nafas lega, mungkin dirinya salah dengar akibat terlalu nafsu. Tangan Sandra berpegangan pada pinggiran meja billiard, sedangkan kedua kakinya mengangkang sambil menaikkan pinggul sedikit ke atas. Nafasnya semakin menggebu-gebu merasakan hembusan-hembusan nafas hangat di permukaan buah pantatnya.
“Ahhhhhhhhhhhhh…….” Sandra mendesah merasakan jilatan lembut disela-sela buah pantatnya, lidah yang basah dan hangat itu menggeliat resah, menggelitik, dan berusaha mengoreki lubang anusnya
“UTTTTSSSSSHHH……” Sandra menggeliat resah ketika mulut si negro mengemut lubang anusnya dengan kuat, “Slapp, Slapppphh, Slapppphhhh” suara lidah si negro menyapu pantat Sandra.

“Cklekkkk….” tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka, Lena Magdalena, si presenter dan model sexy itu muncul di ambang pintu. Dari bibirnya yang sensual tergurat sebuah senyum kecil, ia hanya memakai handuk putih yang melilit tubuhnya yang ramping itu, buah dadanya yang montok itu seperti mau meloncat keluar saja dari balik handuk, juga pahanya yang jenjang dan mulus begitu menggugah selera.
“Haiiii…” Magdalena menyapa Sandra.
“Haiiiii…darimana? Keringatan gitu?” tanya Sandra memperhatikan tubuh Magdalena yang nampak agak basah-basah itu.
“Saunaan, wuihh panas…tapi kayanya bakal ada yang lebih panas nih” katanya sambil menyapukan ke ruang itu.
Sandra menggeliat melepaskan diri dari dekapan si negro untuk menghampiri Magdalena. Mereka berdiri saling berhadapan, Sandra menarik ujung handuk yang terselip di wilayah dada Lena hingga handuk itu jatuh ke lantai. Terlihatlah tubuh indah Magdalena yang menggiurkan dengan perut rata dan payudara membulat indah, dibanding Sandra dan Andah payudaranya adalah yang terbesar. Kedua artis cantik itu saling merangkul, bibir mereka saling mengulum dengan lembut namun lama-lama semakin liar. Suara decakan ludah dan gumaman mereka mengundang dua orang negro untuk segera bersujud di belakang bokong keduanya. Lidah si negro menjilati buah pantat Sandra dan Lena serta mengorek-ngorek lubang anus mereka.
“Ehhhh, nggakkk, jangan disitu…” Magdalena ketakutan ketika lubang anusnya disentuh oleh kepala penis si negro, Sandra tersenyum sambil memeluk erat-erat tubuh Lena.

“C’mon fuck her ass….” Sandra menyemangati si negro agar segera melampiaskan keinginannya menyodomi Magdalena
“Arrrhhhhhhhhhhhhhhhhh….! ” terdengar erangan Magdalena, ia mengerjap-ngerjapkan matanya, kesakitan itu membuatnya terbata-bata.
“Arrh, shak.. shakit…, Aww, duuhhh, jangan , Heggg” mata Magdalena membeliak lebar-lebar ketika sebuah hentakan menjebol lubang duburnya, mulutnya terbentuk seperti hendak mengucapkan huruf “A” ketika merasakan batang penis yang hitam dan panjang itu menerobos memasuki lubang duburnya dengan paksa, terus masuk dan masuk ke dalam.
Sandra tertawa kecil sambil mengecupi bibir Magdalena. Gerakan – gerakan kasar si negro yang sedang menyodomi dubur Magdalena membuat tubuhnya terdorong-dorong ke depan sehingga buah dadanya bergesekan dan menekan-nekan payudara Sandra, putting Lena pun bersentuhan dengan puting Sandra. Si negro menarik pinggul Magdalena agar lebih menungging sehingga penisnya dapat keluar masuk dengan lebih leluasa. Penis yang hitam dan besar itu memacu lubang anus Magdalena. Magdalena meringis ketika lubang anusnya yang masih seret kering dimasuki oleh penis si negro yang besar. Rasanya panas dan pedih, ketika anusnya dipaksa menerima penis sebesar itu
“Awwwwwwhhhhhhh !!! ” Lena menjerit panjang ketika si negro mulai memaju mundurkan penisnya dengan kasar. Matanya melotot, erangannya terdengar  keras “Arrrrhhhhhhhhhhhhhhh!!!”, Magdalena seolah-olah merasakan lubang anusnya sedang dibelah begitu kasar dan brutal “Plokkkkkk… Plokkkkkk… Plokkkkkkk….Plokkkk” suara benturan buah pantat Magdalena yang sedang dihajar oleh penis si negro terdengar dengan semakin keras.

“Unnnggghhh, Unngggghhhhh… Ahhhhh… cuphh Cuppppp” bibir Magdalena yang sedang mengeluh kesakitan dikecupi dengan lembut oleh Sandra, kedua tangannya berpegangan pada bahu Sandra, matanya menatap mata Sandra seolah sedang meminta pertolongan menghadapi tusukan-tusukan kuat di lubang anusnya.
Ekspresi kesakitan di wajah Magdalena perlahan-lahan digantikan oleh ekspresi kenikmatan, desahan-desahan dan rintihan kenikmatan bersenandung penuh dengan gairah seksual Magdalena. Lidah presenter seksi itu terjulur keluar menjilati bibir Sandra, dengan lahap Sandra menghisapi lidah Magdalena, lidah mereka saling membelit, saling kait, dan saling jilat.
“Ahhhhh, Uhhhhh,…” Sandra hendak meronta ketika merasakan benda tumpul itu menekan lubang anusnya namun Magdalena memeluknya dengan semakin erat.
“Len, aduhh, lepaskan, Lenaaa Akkkhhhhhh!! ” Sandra melolong panjang “Hegghhhhhhhh……” Gigi Sandra terkatup rapat, wajahnya mengernyit kesakitan, benda besar itu memaksa lubang duburnya untuk melar dan terkuak  menerima bulatan kepala penis si negro.
“Ngahhhhhhh….. Shhhhh…, Shhhhhhhhhhhh” Sandra mendesah kesakitan, tubuhnya terasa mengejang. “Arhhhhhhhhhhhhhhh……! ” Sandra mengerang panjang dan keras, ada sesuatu yang mengganjal dan terus masuk merojok lubang duburnya, begitu dalam, sakit, sakit sekali.
Ia terengah-engah berusaha membiasakan diri dengan benda asing yang panjang dan besar mengait lubang duburnya, buah pantatnya yang lembut bergesekan dengan selangkangan si negro.
“Ennhhhhh….” tubuh Sandra terdorong ke depan dengan kuat, lagi dan lagi, begitu pula tubuh Lena, tubuh mereka yang halus dan mulus semakin berhimpitan karena si negro terus mendesak dan mendesak dengan sodokan-sodokannya.

Desahan dan erangan terdengar silih berganti dari bibir Sandra dan Magdalena. Pacuan penis di lubang anus mereka semakin membuahkan rasa nikmat yang berkepanjangan,
“Unnnhhhhhhh… Ohhhhhh, Sandraaaaaa…..”
“Essshhhhh…, Ouhhhhhhh Lenaaaaa….”
Crrrruu….. Creeetttttttt……, pekikan Sandra disusul oleh pekikan kecil Magdalena. Kedua orang negro itu lalu mencabut batang penisnya dari lubang anus Sandra dan Magdalena.
Sandra dipeluk oleh dua orang negro sekaligus yang mendekapnya dari depan dan belakang. Bibir tebal si negro menciumi bibirnya, tengkuknya dijelajahi oleh bibir tebal yang terkadang mencumbu dengan kasar penuh dengan nafsu birahi yang hendak dilampiaskan. Sandra didudukkan di atas sebuah kursi, tangan-tangan yang hitam menggerayangi sepasang pahanya, bibirnya menjadi rebutan untuk dua negro yang terus berlomba mencumbui bibirnya. Tubuh artis muda itu menggelepar keenakan ketika buah dadanya diemut-emut oleh bibir-bibir yang tebal dan kasar.
“Ohhhhhhhhhhhh…..” desahan itu terdengar ketika kedua kakinya dibuka melebar kesamping oleh sepasang tangan yang kekar, jilatan-jilatan lidah yang hangat dan basah menerpa permukaan vaginanya, pemukaan lidah yang kasar bersentuhan dengan bibir vaginanya, membuahkan sensasi kenikmatan yang membuat Sandra semakin terbuai dalam persetubuhan yang semakin nikmat.
“Arrrhhhhhhhh……” secara otomatis kedua tangan Sandra memegangi permukaan vaginanya ketika merasakan rasa sakit di sana. Nafasnya berdesahan ketika batang penis yang hitam dan panjang itu menerobos semakin dalam memasuki lubang vaginanya.
“Eerrrrhhhh, Arrrrrrhhhhh!!! ” Sandra mengerang keras kemudian terkulai ketika si negro menjebloskan batang kemaluannya sekaligus.

“Ohhhh… Heeemmmm… Mmmhhhh Cupphhh.. Emmmm” bibir Sandra dilumat dengan kasar oleh negro berhidung pesek, tangan si negro menggerayangi payudaranya yang semakin kenyal mengeras. Tubuh Sandra tersentak-sentak ketika lubang vaginanya dikocok-kocok dengan kasar oleh sebatang penis yang berulang kali menancapi vaginanya.
“Crrrrr… Crrrrrr…..” kenikmatan itu kembali datang dan menerkam tubuh Sandra hingga luluh dalam pelukannya yang membiusnya hingga lupa diri “Ahhhhhhh, Ahhhhhhh, Ahhhhhhhhhh” jeritan Sandra terdengar liar dan sangat menggairahkan.
Si negro berhidung pesek berdiri kemudian menyodorkan penisnya ke mulut Sandra.
“Oggghhhhhhh… Hufffhhhh… Emmmmm” Sandra kesulitan menolak ketika tangan si negro menjambak rambutnya dan menekankan penisnya dalam-dalam. Wajah Sandra mengernyit ketika kepala penis itu menekan kerongkongannya,
“Orrrrrrhhhhh, uhukkk nooo.., No please… Hmmmmmm” Untuk sesaat si negro mengeluarkan batang penisnya memberi kesempatan bagi Sandra untuk mengambil nafas, kemudian dengan kasar ia kembali menjejalkan penisnya dalam-dalam ke mulut Sandra, dikeluarkan lagi terus dimasukkan lagi semakin dalam.
“Ouhhhhhhhh, Shhhhhh, Ha….shhhhhh… Please, Pleaseeeee….” Sandra memohon dengan memelas tapi si hidung pesek terkekeh-kekeh dan menampari wajah artis muda itu dengan batang penisnya, ia memaksanya untuk membuka mulutnya kembali

“Noo, I’ll do it myself, pleasee….” Sandra memohon-mohon
“All right babe, do it good or I’ll teach you more….” Si negro mengeluarkan ancamannya.
Sandra mengocok-ngocok penis si negro, kemudian menjilati buah pelirnya yang menggantung, diemutnya buah pelir hitam itu bergantian, kemudian lidahnya menjilati sepanjang batang penis si negro yang hitam berurat, berulang-ulang dari bawah keatas seperti sedang menjilati es cream stick yang panjang. Sandra mendengus ketika hidungnya mengendus bau khas Penis yang menyengat. Ia membuka mulutnya selebar mungkin agar dapat menerima kepala penis itu, dengan hati-jati ia menekan kepalanya agar penis si negro tenggelam masuk ke dalam kerongkongannya,
“Uhhhh…. Ahhhhhhhh…Crrrr Crrrrrrrrrrrrr” Sandra mengeluarkan Penis itu dari mulutnya kemudian menarik nafas kuat-kuat mengisi rongga dadanya yang terasa sesak, dipenuhi oleh hawa nafsu yang sulit untuk ditahan ketika lubang vaginanya berdenyut-denyut dengan nikmat.
“Yesss, I know you can do it, good girl…Damn, I like it…” si negro menekan belakang kepala Sandra agar batang penisnya semakin dalam tenggelam. Kepala Sandra bergerak maju mundur, sebatang penis yang besar dan panjang keluar masuk menyesaki kerongkongannya.
Belajar? Ya Sandra sedang belajar untuk tunduk pada keinginan si negro, melakukan perintah tanpa membantah, ia ketika tangan si negro mendekap kepalanya dan menjejalkan batang penisnya sedalam mungkin, tubuhnya terus terguncang dengan kuat digenjot-genjot oleh sebatang penis yang masih sulit untuk menemukan kenikmatannya padahal sudah beberapa kali ia menyemprotkan cairan klimaksnya.

“C’mon baby, you must learn….” Si negro duduk mengangkang dengan batang kemaluannya yang besar terhunus seperti sebuah tombak hitam. Si pesek membimbing dan mengajari Sandra, perlahan-lahan vagina Sandra kembali tertembus tanpa daya, tanpa dapat menolak, ketika penis yang besar itu kembali mengoyak lubang vaginanya. “Awwwwwww…” Hanya memekik, itulah satu-satunya yang dapat dilakukan oleh Sandra. Si pesek merangkul Sandra dari belakang, kedua tangannya meremasi buah dadanya, entah apa yang dibisikan oleh si pesek ditelinga Sandra yang pasti Sandra hanya mengangguk sambil menaik-turunkan pinggulnya.
“Ahhhhh, Ahhhhhhh, Ahhhhhhhh” semakin lama Sandra semakin ahli melakukan pekerjaan barunya, begitu pandai dan lincah pinggulnya bergerak naik turun “Cleppp.., Cleppp.. Clepppp” Suara itu terdengar keras ketika Sandra menurunkan pinggulnya yang disambut oleh hentakan batang penis si negro keatas, gerakan ketiga orang itu sungguh serasi, erotis dan penuh dengan rintihan dan erangan nafsu birahi.
Tangan si pesek mengelusi buah pantat Sandra sebelum menjejalkan kepala penisnya kesela-sela pantatnya yang basah dan lembut. Tangannya menekan buah pantat Sandra yang membulat indah, satu sentakan kuat gagal ketika menghantam lubang dubur Sandra namun tidak dengan sentakan yang kedua “Arrrhhhhhhhhhhhhhh….” kepala Sandra terangkat keatas ketika lubang anusnya dibobol oleh penis si pesek yang hitam dan panjang.
Sandra merengek – rengek ketika dua batang penis mulai bergerak dengan semakin kasar, sentakan-sentakan kasar membuatnya menjerit semakin keras antara sakit dan nikmat, sungguh kejam dua batang penis yang besar itu seperti hendak merobek-robek anus dan lubang memeknya, merobek-robek kesadarannya, memacunya agar lebih liar dan semakin liar.
“Fuck me, Yeahhh.., Fuck me.., Arrrhhh harderrr, harderrrrrr….”Sandra melupakan rasa malunya, melupakan segalanya, yang ada hanyalah teriakan-teriakan binalnya yang terdengar semakin keras, dua orang negro itu semakin kuat  mendorong dan menarik batang penis mereka menghujam, mencecar, menusuk kasar tanpa belas kasihan, tanpa peduli apakah ia memekik karena sakit atau nikmat, ataupun sakit sekaligus nikmat ?

“Unnnhhh, Arrrrhhhhhhhhh….” Sandra menggeram binal, kemudian membelai wajah si negro yang baru saja memuntahkan cairan klimaksnya.
Sandra menolehkan kepalanya kearah jeritan Magdalena, kemudian tersenyum nakal ketika melihat temannya itu sedang asik dipacu oleh nafsu birahi. Magdalena sedang asik duduk di atas penis hitam yang tertancap di lubang anusnya, dua tangannya sibuk mengocok dua batang penis yang besar dan hitam dalam genggaman tangannya, sesekali mulutnya mengemut dan menjilati kepala penis yang semakin membengkak itu.
“Ussshhhhh…. Kecrooottt Crrrotttt…..” penis itu menyemprot wajah Magdalena. Tampaknya Magdalena berhasil mengalahkan sebatang penis yang besar dan panjang. Tapi yang sebatang lagi mengincar lubang vaginanya. Sepasang tangan mencekal pergelangan kakinya kemudian melebarkan kakinya mengangkang,
“Awwwwwww…..” Lidah Magdalena sedikit terjulur keluar ketika sebatang penis itu meluncur dengan kasar, celupan-celupan kasar yang semakin membuatnya mendesah nikmat, tepatnya dua tusukan kasar yang terus menggenjoti lubang anus dan lubang vaginanya, memacu nafsu birahinya sampai meledak dalam kenikmatan seksual.
 ”Auhhhhhhh……. Crrrrr…, Crrrrrrrr,” Magdalena terengah-engah didera puncak klimaks, kedua negro itu memacu penisnya dengan perlahan-lahan agar ia dapat lebih meresapi puncak klimaksnya.
Magdalena tersenyum puas sambil menatap si negro dengan rambut jabrik, ia menggeliatkan tubuhnya ketika tangan-tangan nakal menggerayangi lekuk liku tubuhnya yang sudah basah kuyup berceceran keringat. Pinggulnya pun bergoyang dengan lembut,
“Fuck me Again……” Magdalena mendesah sambil terus menggerakkan pinggulnya dengan lembut, tusukan-tusukan penis yang tadinya bergerak dengan perlahan semakin lama bergerak semakin cepat.

“Ohhhhh…,Ohhhhhh… Harderrrr…, deeper please….” Magdalena tidak peduli jika dirinya sekarang tidak ubahnya menjadi budak nafsu kedua orang negro itu yang terus memberinya kenikmatan, menggerayangi tubuhnya yang mulus dan basah. “Crrrotttt…..” “Croooottttttt”, setelah membuat Lena mencapai klimaksnya kembali barulah kepala penis itu menyemburkan spermanya.
“Cmon stand up….” Magdalena dibantu berdiri oleh si kurus, kemudian ditarik ke sudut ruangan, disini sudah menanti negro bertubuh gemuk luar biasa, dengan kemaluannya yang sudah mengacung keras, begitu besar batang itu sampai membuat Lena bergidik ngeri, namun ia tetap berusaha menaiki tubuh si negro.
Madalena merasa seperti sedang menaiki seonggok kemak ,
“Uhhhhhhhhh……” sebuah kecupan lembut mampir di payudaranya. Mulut si gemuk melumat puncak payudaranya dengan lembut.
Magdalena berusaha menerima penis yang bulatannya lebih besar sambil mengangkangkan kedua lututnya menekan pinggulnya ke bawah.
“sshhhhh.., Shhhhhhh…. Ahhhhhhhhhhhhh” Magdalena mendesah merasakan kepala penis si negro mulai terbenam “Klepp….” kepala penis itu mencelat masuk sehingga tubuh Lena sseperti terkena sengatan listrik.
Ada sebuah kata yang terpikirkan oleh Magdalena saat itu “Ngentot”, Ya, kata itulah yang membuat pinggulnya bergerak naik turun, menjerit dengan nikmat, mendesah, merintih, dan berteriak dengan liar. Si gemuk terkekeh-kekeh sambil mengelusi permukaan pahanya yang mulus.

“Wow…! You’re so wild, O shittt, Eearrrhh, I can’t stand it..!! ” Si gemuk tampak kewalahan menghadapi keliaran Magdalena, apakah benar si gemuk kewalahan, tentu saja tidak !!, si gemuk hanya bersandiwara agar Magdalena merasa di atas angin  dan mengeluarkan seluruh kemampuannya.
“Ha Ha Ha…, You’re so weak…….,Heyyyyy” Magdalena terkejut ketika keadaan tiba-tiba berbalik dengan drastis. Si gemuk mendekap kuat-kuat pinggulnya dan mengocokkan batang penisnya begitu kuat, liar dan brutal , memaksa Magdalena yang kewalahan untuk segera menyerah.
“Ouhhhh, Unnnhhhhh…, Crrrrr Crrrrrr…..” Magdalena ambruk di atas setumpukan lemak.
Si negro mengedusi rambut Magdalena, tumpukan lemak itu tiba-tiba berdiri, Magdalena mengalungkan kedua tangannya pada leher si gemuk.
“Arhhhhhhhh…….” ia berteriak keras ketika tubuhnya terayun-ayun dengan sangat kasar dan kuat, bahkan kesulitan untuk mengambil nafas ketika sodokan-sodokan itu dengan gencar memompa vaginanya. Arrrrhhhhh.., Arrrrrhhhhhh, Arhhhhhhhh, kata-kata itu semakin keras terdengar, sepotong otot yang keras dan besar dengan kasar menghujam-hujam lubang vaginanya, terdengar suara celupan-celupan keras di selangkangan presenter seksi itu “Deebbb,,, Cleppp Blepppp… Beppphh “
“Ahhhhhhh, Ahhhhhhhhh, Ahhhhhhhhhhhh” mulut Magdalena ternganga lebar, jeritannya terdengar keras mirip seperti sedang melolong ketika seorang negro yang gemuk ikut menjejalkan batang penisnya yang besar mengoyak lubang vaginanya.
Magdalena kini terhimpit oleh dua tumpukan lemak yang ingin mereguk kenikmatan dari tubuhnya yang mulus dan halus.

“Plokkk.. Plokkkk… Plokkkkk”
“Blepppp.. Bleppppppp… Blepppppp”
Magdalena tampaknya sudah tidak kuat untuk melawan, ia hanya dapat meringis dan medesah panjang, menghadapi tusukan-tusukan kasar di kedua lubangnya, terkadang ia mengerang dengan keras. Sisi binal Magdalena kembali terkuak, gadis itu menjerit liar
“Arrrrr, Yeahhhhh, Ooooooo Yeahhhhhhh, Ha Ha Ha, Urrrhhhh”
Magdalena merasakan tubuhnya terjepit diantara buntalan lemak yang hangat, buntalan lemak itu menghimpitnya dan memberinya kehangatan dan kenikmatan. Tubuhnya menggeliat dalam himpitan dua buntalan lemak itu, “Crrrrrr Cruuuuutttttt…..” Magdalena mendesah panjang ketika kembali  mencapai klimaks.
Dua tumpukan lemak itu mencabut penis besarnya, kemudian seonggok lemak berbaring diatas lantai, Magdalena mengambil nafas kemudian menerkam tumpukan lemak itu, bibirnya mengejar bibir si negro dan melumat-lumat dengan liar.
“Ha ha ha…, Emmmm, Cuphhh, Ehhhhh, cuppphhhh Ahhhhhhh” dada Magdalena yang halus mengelusi dada si gemuk. Ia mengangkat pinggulnya sedikit ketika si gemuk mengarahkan kepala penisnya kearah lubang vaginanya.
Magdalena menekan kuat-kuat vaginanya agar penis si gemuk dapat memasuki lubang vaginanya yang sudah memar kemerahan akibat persetubuhan interrasial yang semakin memanas itu.  Pinggul Lena bergerak turun naik dengan cepat terkadang sambil menekankan vaginanya pinggulnya bergoyang dengan liar, sepertinya sih lebih hot goyangan Magdalena ketimbang goyangan Julie Estelle, jauh beda deh kalau yang goyangin pinggulnya Magdalena, so hot and tasty, nyam.

Magdalena menolehkan kepalanya ke belakang ketika seseorang menekan pinggulnya, duh lagi ? Disodok dari dua arah ? Magdalena tersenyum, bibirnya mendesah ketika sebatang penis mengoreki lubang anusnya berusaha mencari jalan kenikmatan.di lubanng duburnya.
“Uhhhhh…, “Magdalena bertumpu pada bahu sigemuk, tubuhnya terdorong maju mundur ketika dua batang penis itu merojoki lubang anus dan lubang vaginanya.
“Hekk…, hekkk, Hekkkkk,, Hekkkk… Emmmpphhhh, Errrhhhhhhhh” Magdalena menggeram liar menahan serbuan penis yang merojok-rojok dengan kasar sampai tubuhnya tersentak berulang kali dengan kuat.
“Damn you two, Arrrhhhhhhh, Gilaaaa……” mulut Magdalena menceracau panjang lebar ketika lubang anus dan lubang vaginanya diaduk-aduk dengan kasar, kemudian mendadak berhenti seperti sedang menggodanya agar merengek-rengek memohon pada kedua negro bertubuh gemuk berlemak itu agar mereka segera melanjutkan persetubuhan interrasial itu.
“Ohhhh, Ahhhhh, Ohhhhhhh, Arrrhhhhhh, Yahhh..” mulut Magdalena kembali bersuara, begitu menggemaskan, ketika ia mengucapkan kata Ahhhhhhhhhhhhhhh…!!  yang diakhiri pekikan kecilnya “Awww… Crrrrrr. Crrrrrrrrrrrrr……”
Sandra yang juga baru dihajar habis-habisan mendekati Magdalena, kedua gadis itu tidur berpelukan, beristirahat untuk pertarungan berikutnya …..!! sebab masih banyak batang-batang penis diruangan itu yang masih belum terpuaskan.

************************
Dua jam kemudian

Sandra merasakan tubuhnya terangkat dan melayang kemudian dibaringkan dengan lembut, samar-samar ia mendengar makian Asmirandah, Sandra pun membuka matanya perlahan.
“Andahhhh…, Ohhh Andahhhh indah sekali….” Magdalena sedang  memeluk tubuh Amirandah dari belakang, tangan Lena mengusapi payudara Andah, Sandra tersenyum kemudian ikut berlutut di hadapan Asmirandah yang memekik kesal sebagai pelampiasan penolakannya atas perlakuan Magdalena yang meremasi payudaranya.
Asmirandah mendengus kesal sambil memalingkan kepalanya ketika Sandra hendak mengecup bibirnya, Sandra tersenyum nakal sambil mengecup lembut leher Amirandah. Lidah Sandra terjulur keluar dan dengan lembut mengulasi leher Amirandah, “Cuphhh.. Cuppphh..” berkali-kali kecupan-kecupan lembut mendarat di leher Asmirandah, kalau saja kedua tangannya tidak diikat ke belakang pastilah Andah akan mendorong kuat-kuat tubuh Sandra dan Magdalena. Asmirandah berusaha mengusir jauh-jauh sebuah perasaan aneh dihatinya, ia bukan seorang lesbian, Bukan !! berkali-kali ia berusaha meneguhkan hatinya, Tapi kenapa ? Ahhhhhhh… ?! Perasaan aneh itu kembali muncul dan menggeluti keteguhan hati Asmirandah dan MENANG !!!!!!!!!! Nafas Asmirandah berdesahan ketika kecupan-kecupan lembut Sandra kembali mendarat dilehernya. Asmirandah juga mendesah ketika  Magdalena mencium bahunya dan menggigit kecil bahunya dengan lembut. Ia menolehkan kepalanya menghadap wajah Sandra, desah nafas Sandra yang hangat menerpa pipinya. Asmirandah memejamkan matanya ketika bibir Sandra mengecup lembut bibirnya, bibir Sandra memangut-mangut dan terus memanguti bibirnya.

Untuk sesaat Sandra Dewi memandangi Asmirandah, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengulum Bibir Andah, suara mulut Andah dan Sandra dewi berdecakan, Andah menghisapi lidah Sandra Dewi yang terjulur , begitu pula sebaliknya Sandra Dewi menghisapi lidah Andah ketika Asmirandah menjulurkan lidahnya keluar. Dengan nakal Sandra Dewi menggigit bibir Bawah Andah dengan lembut kemudian melumat mesra bibir Andah yang merekah. Andah membalas lumatan bibir Sandra dewi, Asmirandah menolehkan kepalanya ketika merasakan kecupan dipipi kanannya, Bibir Lena mengejar Bibir Andah sementara kedua tangan Lena Magdalena menjepit dan memilin-milin putting Susu Asmirandah, Sandra Dewi menempelkan Jari tengahnya pada belahan Bibir Vagina Andah, kemudian dengan teratur Sandra dewi menggerakkan jarinya menggeseki Belahan Vagina Asmirandah yang semakin basah oleh cairan nafsu.
“Ahhhhhhhh… Crrrrr… Crrrrrrr……” Asmirandah menengadahkan kepalanya keatas, Denyutan-denyutan nikmat yang membuatnya terhanyut biarpun Asmirandah mencoba untuk berpegangan namun gelombang kenikmatan itu terlampau kuat menghempaskan jati dirinya.
Ikatan ditangan Andah sudah terlepas, Asmirandah terkulai pasrah ketika Sandra dan Magdalena membuatnya berbaring diatas meja billiard.
“Give me nine ball….” Sandra meminta bola bertuliskan angka 9, perlahan-lahan bola itu digesek-gesekkannya pada putting susu Asmirandah. Kedua kaki Andah dikangkangkan lebar-lebar oleh Magdalena sehingga Andahpun mendesah kegelian ketika bola billiard itu menggesek bibir vaginanya, dengan lembut Sandra menguakkan bibir vagina Andah.
“Ennhhhh… Shhhhhhhhh” Andah mendesah ketika klitorisnya bersentuhan dengan bola billiard di tangan Sandra. Sandra menggesek-gesekkan bola billiard di tangannya pada klitoris Andah yang semakin mengkilap. Klitoris Andah Vs nine ball, Andah mendesah, dan terus mendesah, permukaan bola billiard itu nampak semakin basah oleh cairan kewanitaannya.

Andah tersenyum sambil memejamkan matanya letika wajah Magdalena mendekati wajahnya, ia membuka bibirnya ketika merasakan lidah Magdalena mengeliat-geliat dan mengulasi sela-sela bibirnya. Dengan lahap Andah menghisap-hisap lidah Mangdalena. Andah merasakan sedikit rasa lengket di permukaan bibirnya ketika bibir Magdalana melumat-lumat bibirnya, desahan-desahan kenikmatan semakin keras dari bibir Andah dan Magdalena, sementara Sandra memanaskan situasi dengan memperkuat gesekan bola billiard ditangannya pada klitoris Andah. Asmirandah akhirnya berteriak “Uhhhhhhhhhhhhhhhh….! Cretttttt… Crrruuuuutttt” cairan kenikmatan itu berdenyut-denyut keluar dari lubang vaginanya. Andah menelan ludahnya berkali-kali, matanya terpejam rapat. Sepasang tangan mencekal pergelangan kaki Andah, ia menyentak-nyentakkan kedua kaki agar terlepas dari cekalan seorang negro. Asmirandah bergidik ngeri ketika si negro menumpangkan batang penisnya di permukaan vaginanya, begitu besar, hitam dan panjang. Berbagai macam kekhawatiran dan pertanyaan berkecamuk didalam benak Andah,
“Seperti apa rasanya ya ?” “Ahhh besar amat”,” bisa masuk nggak ?” “Mampus Gue….!! “
“Affffhhhhh….. Ohhhhhhhhh” Sandra dan Magdalena menahan bahu Andah, mereka berusaha menenangkan Andah yang terlihat resah, dan gelisah , ketika penis si negro menggeseki belahan vaginanya.
“Heeehhhhhhh…, Ngaaaahhhhhhhh…!! ” Andah menjerit keras ketika lubang vaginanya terasa pedih. Penis yang besar itu membongkar paksa vagina Andah dan merobek-robek selaput keperawanannya.
“Uhhhhhhhhhhhhh…., Aaaaaaaaaaawwhh…..!” Andah menjerit keras kesakitan ketika batang penis si negro mulai bergerak maju mundur, melakukan gerakan memompa, menggenjoti dan mengaduk lubang vaginanya.

Tangan si negro mengangkat-angkat pinggul Andah sambil menjejal-jejalkan penisnya, Andah terkulai tanpa daya, rasa sakit itu terlalu sakit untuk dilawan, tenaganya mendadak lenyap entah kemana seiring dengan bobolnya selaput keperawanannya. Si negro menekan kemaluannya sambil mengoyang-goyangkan penisnya mengaduk lubang vagina Andah. Mata gadis itu terpejam rapat, lubang vaginanya serasa dibelah dengan kasar, dikoyak dan dirobek-robek. Inikah rasa nikmat itu ? tidak !! bukannn !! Ouhhh begitu menyiksa,
“Tollllloooonggggggggg……” Asmirandah menatap dengan tatapan mata yang memelas pada Sandra dan Magdalena, Asmirandah tidak mengerti kenapa mereka selalu membisikkan kata enaknya diijut, asiknya dientot, ditelinga Andah kalau ternyata rasanya jauh berbeda dari apa yang dibisikkan oleh Sandra dan Magdalena.
“Ahhhhhhhhhhh, Ahhhhhhhh…” Andah mendesah-desah panjang. Apakah karena sakit ? Bukan ! rasa nikmat itu mulai berkobar-kobar, melahap tubuh Andah, memeras keringatnya sampai bercucuran dengan deras.
Andah mulai mengerti, inilah yang disebut nikmatnya bersetubuh, ya memang enak, membuat Andah seolah berenang dalam lautan kenikmatan, membuat Andah selalu mendesah-desah , merintih dan mengerang keras-keras ketika penis yang panjang dan besar itu memompa lubang vaginanya. Asmirandah menjerit-jerit keenakan, apalagi ditambah dua orang negro yang menundukkan kepala mereka untuk  melumati buah dadanya, menjilati, menciumi bulatannya dan mengemut kuat-kuat puttngnya.
“Esshhhhhh…, Ahhhhh, Owwwww… Crrrtttt. Crrrrtttttt” Asmirandah menggelepar-gelepar, vaginanya yang sedang digenjot tiba-tiba berdenyut-denyut dengan nikmat.
Asmirandah mendesah ketika si negro membalikkan tubuhnya, ia berdiri sambil sedikit menungging dengan kedua tangannya yang bertumpu pada pinggiran meja billiard.

“Emm.. Plokkk… plokkkk.plokkkkk… plokkk” suara beradunya buah pantat Andah dengan selangkangan si negro.
“Ennhhhhh… Enhhhhhh… ennhhhhhh….” Rengekan-rengekan manja Andah menambah panas suasana diruangan itu, jeritan-jeritan liar Andah membuat si negro bertambah bersemangat memacu penisnya yang hitam dan besar. Sesekali si negro menjambak rambut Andah sambil mengoceki lubang vaginanya sampai suara – suara becek itu terdengar dengan keras, setelah puas mengoceki lubang vagina Andah, si negro menarik pinggulnya. Ia duduk dengan santai bersandar pada meja billiard, tangannya mengelus-ngelus tubuh Asmirandah yang duduk bersandar di pangkuannya. Batang penis si negro yang hitam besar masih tertancap di lubang vagina Andah. Tangan si negro membelit pinggang Andah kemudian tubuh Andah tersentak-sentak ke atas dengan kuat. Batang penis itu meliuk-liuk ketika berusaha mengocoki lubang vagina Andah yang peret. “Ahhhh.. Ahhhhhhh….” Mulut Andah ternganga, sesekali Andah mendesis keras. Buah dadanya melompat-lompat dengan indah, terguncang -guncang sekeras sodokan-sodokan batang penis si negro.
“Clepp.. Clepp.. Plokkkk… Cleppp… Plokkkk Pllokkkk”
“Ahhhhhhhhh, Ahhhhhh. Awwhhhhhh, Annnghhhhhhhh”
Mulut Andah terbuka lebar menyongsong sebatang penis yang tersodor kearah mulutnya, wajah Andah mengernyit ketika si negro mendekap kepalanya sambil menyorongkan penisnya dalam-dalam ke mulutnya.
“Ehhhhhhhhhh, crrrrrrrrrrtt Crrrrrrrrrrrrrrrrrrr”
“Arhhhhhh, Shitttttt….. Croooooottttttt” si negro menghentakan penisnya sambil menarik pinggul Andah.
Tubuh Andah ditarik kemudian seorang negro, memposisikan Andah dalam posisi doggy style. Penis si negro menggeseki belahan pantat Asmirandah yang sudah basah oleh keringat.”I love wet pussy..”

“Hennggghhhh…!! Akkkhhhhhhhh….” tubuh Andah mengejang ketika penis itu merojok kuat-kuat lubang duburnya, tubuhnya sudah terlalu lemah untuk melawan.
“Arrrrggghhhhhhhhhhhhhh……” Andah mengerang keras ketika lubang anusnya seperti dipaksa menguak melebar dengan tiba-tiba, ketika kepala penis si negro berhasil membongkar lubang kenikmatan dubur Andah.
“Hekkkk, Hekkkkss, Hekkssss…..Errrhhhhhh” Asmirandah mengerang, tubuhnya terdorong-dorong “plokkk… Plokkkkk… Plokkkkkk” suara buah pantat Andah kembali terdengar semerdu rintihan-rintihan Andah.
Si negro menjatuhkan dirinya kebelakang sambil menarik Andah, posisi andah duduk memunggungi si negro, dengan sebatang penis yang hitam dan besar terbenam di lubang anusnya.
“Ahhhhhhhhhhhhhhhhhh…! ” Andah kembali memekik keras ketika sebatang penis kembali mengoyak lubang vaginanya.
Aduh…, Ampunnn… Ampunnnnn, Stoppppp, Nn.. Nooooo” Asmirandah “mencoba meredakan nafsu kedua pria negro itu yang menyerang lubang anus dan lubang vaginanya dengan terlalu brutal dan kasar.
“Harrrrrggghhhhhhhhhh, Arrrrrrrrrrrrrrrrrhhhhh…..” Semakin kuat Andah mengerang , semakin kuat pula lubang anus dan lubang vaginanya digenjot.
“Haaaaaaaaaaaaaaaa, Auhhhhhhhhhhh…..” mata Andah mendelik-delik, seperti ini kah rasanya double penetration? ketika rasa nikmat menyerang lubang vagina dan lubang anusnya sekaligus, “Unnnnnhhhhh…. Unnnggghh” Andah melenguh diiringi desahan-desahan panjang, rasa nikmat itu menghanyutkannya entah kemana.
“Ahhhhh, Yes, Ahhhhhh, Ohhhhh Yesssss, Emmm Crrrrrrrrr.. Crrrrrrr” Andah mendesah-desah semakin liar kemudian mencapai puncak klimaks.
Crrrooooot, Crrroottt, Andah merasakan ada semburan -semburan hangat di lubang anus dan lubang vaginanya.

“Come on Baby….” seorang negro dengan tubuhnya yang berotot menarik tubuh Andah, ditariknya bahu Andah agar gadis itu berdiri
Si negro menariknya ke dekat dinding berlapiskan cermin di ruangan itu, Andah mengalungkan kedua tangannya pada leher si negro, kakinya berjingjit sambil menyongsong bibir si negro yang mengejar bibirnya. Andah mengangkangkan kedua kakinya ketika merasakan sebatang penis menekan belahan vaginanya, tangan si negro mengangkat pinggulnya, betapa kuatnya si negro, Andah melingkarkan kedua kakinya pada pinggang si negro, tubuhnya terayun dipacu dengan kuat oleh sebatang penis yang besar dan panjang. Tubuhnya kembali mengejang ketika lubang duburnya disodomi, kini Andah terayun-ayun, tersentak-sentak dalam kenikmatan sodokan dua penis yang hitam, besar dan panjang , jeritan-jeritan andah terdengar liar dan semakin liar, kenikmatan itu membuatnya melupakan rasa malunya, yang ada hanya keinginan untuk mengejar kembali kenikmatan itu. Kedua negro dengan tubuh berotot dengan sukarela merengkuh tubuh Andah dan menelan bulat-bulat kehangatan dan kemulusan gadis itu ketika ia memohon “Fuck me please”
“Ohhhh, Ahhhhh, Ohhhhhh, Ahhhhhhhhhhh…” suara Andah terdengar dengan jelas dan keras, suara seorang gadis yang tengah diamuk oleh nafsu birahi yang menggebu-gebu.
Andah tidak berdaya ketika kehangatan dan kenikmatan tubuhnya dilahap oleh dua orang negro dengan tubuh berotot, tubuhnya yang lembut dan halus bergesekan dengan tubuh si negro yang hitam dan kasar. Ia menolehkan kepalanya ke arah cermin, ia tidak dapat mengenali bayangan siapa yang terpantul didalam cermin, apakah itu dirinya, dirinya yang menjerit-jerit kenikmatan, dirinya yang sedang keenakan dirojok – rojok oleh dua batang penis yang besar dan hitam ??

Bukan !! Itu bukan Aku, Asmirandah berusaha menyangkal,
“Ya itu kamu !!”
“Bukannn…!!”
“Itu kamu Andah, Itu kamu!! kamu!! kamuuu!! ” suara itu semakin keras berteriak didalam hati Asmirandah.
“Crrrrttt Crrrrrr… Crrrrr…….” Rasa nikmat yang berdenyut-denyut membuat Andah tersadar, Ya itu dirinya, dirinya yang tengah mengarungi kenikmatan yang tanpa batas. Bayangan wajah gadis yang terpantul dicermin itu tiba-tiba tersenyum nakal, ada sorot mata liar di tatapan matanya. Jeritan-jeritan Andah terdengar semakin keras dan keras, jeritan yang merdu sangat membangkitkan birahi. Dua orang negro yang sedang menyetubuhinya menghujamkan batang kemaluan mereka masing-masing “Crooottttt.. ” Crooootttttt” Setelah saling melumat, dan saling kulum untuk sesaat Asmirandah menarik lepas batang-batang penis yang terkulai lemas dari lubang anus dan lubang vaginanya. Asmirandah mencari batang-batang penis yang masih segar megacung menunggu giliran untuk menikmati tubuh Andah. Tangan Andah menekan bahu si negro agar si negro berbaring, Andah mendesah panjang ketika batang penis itu kembali menggelusur menyesaki lubang vaginanya, pinggul Andah bergoyang dengan indah, bergerak naik turun dalam irama yang teratur. Andah mendesis – desis liar ketika lubang anusnya dihantam dengan kasar, sebatang penis tertancap di lubang anusnya dan menyodominya. Mulut Andah sibuk mengoral sebatang penis, sedangkan kedua tangannya menggenggam  2 batang kemaluan dan melakukan mengocok-ngocok. Buah dadanya diremasi oleh tangan-tangan yang hitam dan kasar, berkali-kali putting susunya ditarik dan payudaranya diremas-remas. Andah menggerakkan kepalanya maju mundur mengoral batang penis si negro, Andah menyerang penis si negro dengan hisapan-hisapan kuat. Mulutnya menggembung ketika sperma si negro meledak di dalam rongga mulutnya. Ia tampak menelan sesuatu, batang penis si negro tertunduk menggakui keampuhan mulut Andah, tidak berapa lama dua batang penis dalam genggaman tangannya memuncratkan cairan sprema.

Sayang daya tahan Andah sudah semakin lemah, matanya berkunang-kunang, tubuhnya serasa lemah, dan letih, tiba-tiba ia Ambruk sambil mendesah lemah “Ennnhhhhh… Crrrrrrrrr. Crrrrrrrrrrr”
Matanya menatap sayu pada pantulan dirinya di cermin, tubuhnya masih tersentak-sentak dengan kuat digenjoti oleh batang kemaluan yang tertancap di lubang anus dan lubang vaginanya. Andah tersenyum sambil mendesah panjang ketika denyutan-denyutan kenikmatan kembali berdenyut di lubang vaginanya. Mata Andah menatap cermin, menatap pantulan dirinya yang sedang menikmati hubungan sex interracial menatap pantulan dirinya yang sedang memekik keenakan, mendesah dan merintih dalam kenikmatan digenjot dengan kasar oleh dua batang penis yang panjang, hitam dan besar. Andah menutup matanya, menikmati dentuman cairan sperma di lubang anus dan lubang vaginanya, bibirnya mendesah kemudian tersenyum dengan puas. Andah membuka matanya sedikit ketika seseorang menarik tangannya, Sandra dan Magdalena meletakkan jari telunjuk di bibir mereka yang meruncing. Perlahan-lahan Andah menggeliat melepaskan diri dari himpitan dua orang negro yang menjepit tubuhnya. Ketiga wanita cantik itu perlahan-lahan membuka pintu, mereka melangkahkan kakinya
“Mau kemana ?” Andah bertanya
Sandra dan Magdalena hanya tersenyum sambil menarik tangan Andah, menuruni.anak tangga.
“Lena….” Andah menarik tangannya ketika menyadari Sandra dan Magdalena hendak menariknya keluar dari dalam rumah itu dalam keadaan bugil.
“Udah…, ikut Aja….” Sandra tersenyum nakal sambil mendorong pinggul Andah.

“Klikkk…” pintu rumah itu terbuka lebar, dinginnnya angin malam mengelus tubuh Andah, Magdalena dan Sandra yang masih telanjang bulat, berjalan di jalanan yang terlihat sepi. Kedua tangan Andah ditarik oleh Sandra dan Magdalena. Magdalena dan Sandra menariknya dengan paksa mendekati gerombolan negro dengan baju lusuh mereka yang sedang menghangatkan diri di sekeliling tong besi yang menyala.
“Haiiiii….” suara Sandra terdengar merdu
Segerombolan negro itu berdiri dan mengurung ketiganya. Entah berapa helai baju lusuh yang terhampar, dijatuhkan oleh pemiliknya. Sepertinya pertarungan “Outdoor” akan segera dimulai di malam yang dingin ini. Batang-batang kemaluan yang besar dan hitam mengelilingi ketiga wanita cantik itu, Sandra dan Magdalena berlutut masing-masing sedang asik dengan tiga batang penis, dua di tangan dan satu di mulut mereka. Dua orang negro menarik tubuh Andah, mereka menghimpit tubuh artis muda itu, memberikan rasa hangat untuknya. Andah tampak khawatir menengokkan kepalanya ke kiri dan kanan dengan was-was.
“Don’t worry.., no one dare to pass here at night…” si negro  berusaha menenangkan Andah, tangannya merayap mengelusi buah dadanya yang kembali mengeras.
Magdalena berdiri mengangkang seorang negro tengah mencumbui permukaan vaginanya, jembut tipisnya terlihat semakin basah terbasuh oleh air liur si negro.
“Ahh, Ennnnhh….” Magdalena mendesah keras ketika lidah si negro yang runcing dan kasar mengulasi kelentitnya, kedua tangan si negro tidak pernah merasa bosan untuk merayapi permukaan pahanya, bibir si negro yang tebal dan kasar mengecupi permukaan vaginanya kemudian mengulum belahannya.

“Ahhhhhhhh….” Magdalena semakin kuat mendesah panjang merasakan sebatang lidah yang kasar , basah dan hangat, menggeliat-geliat menjilati sela-sela pantatnya. Rasa geli menerpa lubang anusnya yang digelitiki oleh lidah si negro yang runcing.
Lena tersenyum nakal setelah memasukkan penis si negro hingga tertancap di belahan vaginanya. Ia kemudian melompat sambil mengalungkan kedua kakinya pada si negro, kakinya menjepit kuat-kuat pinggang si negro. Penis si negro semakin dalam menancap di belahan vaginanya ketika pinggul Lena bergerak turun kemudian terangkat naik kemudian ia kembali menghempaskan pinggulnya kuat.
“Essshhh Eshhhhhh…, Hssshhhhhssss… Ahhhh,”
Desahan dan rintihan Lena mengundang sebatang penis mengacung ke arah anusnya membuatnya mendesis ketika penis yang besar dan panjang itu menekan memaksa memasukinya.
“Arhhhhh…!! ” satu jeritan kesakitan Lena menjadi pertanda kalau penis yang besar dan hitam itu sudah berhasil membongkar lubang duburnya dengan paksa.
“Ennnhhh., Ennnhhh. Awwww…, Awwwww….” jeritan keras Lena membuat kedua batang penis itu semakin cepat bergerak, memaksa nafsu birahinya untuk terus naik semakin tinggi dan akhirnya meledak dengan tiba-tiba dalam denyutan-denyutan nikmat di selangkangannya.
Lena memejamkan matanya meresapi tusukan-tusukan kasar di lubang anus dan lubang vaginanya, tubuhnya terdorong-dorong ke atas mengikuti tusukan-tusukan dua batang penis besar yang menancap di kedua lubangnya.

Berkali kali mulut Lena mengucapkan hurup “U” dengan bibirnya yang meruncing, kadang wajahnya mengernyit dengan bibir terkatup rapat ketika disetubuhi dengan kasar. Magdalena merengek bahkan hampir menangis ketika para negro itu terus menyetubuhi dirinya dalam berbagai macam gaya. Magdalena, sebuah perpaduan yang sulit untuk ditandingi antara kecantikan dan ukuran susunya yang putih dan besar. Para negro itu tidak pernah bosan untuk mempermainkan gumpalan susu montoknya yang putih besar dan semakin kenyal, enak banget untuk diremasi atau dikenyot..
“Arrhhh…., ” terdengar suara jeritan kecil Sandra yang sedang berjongkok memunggungi si negro di bawahnya. Negro itu menyodoki anusnya dengan kasar, tubuh Sandra terdorong-dorong keatas ketika penis yang besar dan hitam itu terayun keatas, kepalanya kadang menengok ke kiri sambil mulutnya mengejar kepala penis dalam genggaman tangan kirinya. Terkadang menengok kekanan sambil menjilati kepala penis si negro dalam genggaman telapak tangan kanannya.
“ahhh. Aaaa Ahhhh Aaaaaa….!! ERrrhhhhhhhh” Sandra menjilat kepala penis si negro sambil menggeram dengan penuh nafsu.
Sebatang penis mendekati vaginanya yang menganggur, sayang bangetkan kalau belahan vagina itu tidak dimanfaatkan.
“Uhhh…. Essshhhhhh” Sandra mendesis keras ketika si negro menjejalkan batang penisnya, karena kedua kakinya diangkat secara otomatis Sandra melepaskan genggamannya pada batang penis di tangannya. Kedua tangan Sandra kini bergerak ke belakang untuk menopang tubuhnya..
Dua negro yang tadinya dioral olehnya kini berlutut di samping kiri dan kanan. Tangan mereka yang hitam dan berbulu menggerayangi dan mengelusi payudaranya yang bergerak-gerak. Buntalan dada Sandra bergerak mirip seperti hendak melompat namun terbetot kembali ke bawah ketika tubuhnya digenjot dengan semakin keras oleh dua batang penis yang menancap di lubang anus dan vaginanya.

Sandra menolehkan kepalanya ke kanan dan langsung mengulum sebatang penis besar yang panjang. Jeritan – jeritannya yang keras terdengar semakin menggairahkan. Keringatnya kembali bercucuran. Si negro yang berada di bawah memegangi pinggangnya agar artis cantik itu dapat sedikit menghemat tenaganya. Sandra semakin mengangkangkan kedua kakinya ketika merasakan sodokan-sodokan di lubang anus dan vaginanya bertambah gencar.
“Yes fuck me !, Oooo…, YEahhhh, YEahhhhhh….”
“Harderr.., Harderrrrr…. Annhhhhhhh ” Sandra berteriak keras, sesekali pekikan kecil terdengar dari mulutnya, kadang menjerit keras sekeras-kerasnya ketika merasakan sodokan-sodokan kasar yang semakin liar memompa dirinya.
“Enhhhh… Crrr Crrrrr… Crrrrr…” Sandra pun mengejang dengan bergelimang kenikmatan yang berdenyut-denyut di lubang vaginanya.
Tangan si negro buru-buru menopang punggungnya yang hendak terjatuh ke belakang, Disibakkannya rambut Sandra yang acak-acakan kemudian sesekali bibir si negro mengulumi bibir Sandra. Sandra mendesah keras ketika seorang negro menundukkan kepalanya dan menghisap kuat-kuat puncak payudaranya.
“Arrrhhhhhh…, Emmhhhhhh…. ” suara itu keluar dari mulutnya ketika mulut si negro semakin rakus mengemuti dan menjilati puncak payudaranya sampai meninggalkan bekas-bekas gigitan memerah pada kulit payudaranya
“Ahhh Ahhhh Owwwww….” Sandra kembali berorgasme, kepalanya terangkat ke atas dengan matanya merem-melek , Ouhh !! Gila Nikmat sekali , pikiran itulah yang berkali – kali terlintas dalam benaknya ketika lubang anus dan lubang vaginanya dihantam-hantam dengan kasar dan kuat.
Mulut Sandra meruncing, tubuhnya terguncang dengan hebat, nafas artis cantik itu tersendat-sendat mengikuti pacuan di lubang vagina dan anusnya.
“Aa.. Crrrr Crrrr….” wajah Sandra tampak semakin bersemu merah ketika mengucapkan kata “A” , agak lama barulah kedua batang penis di anus dan di vaginanya menyemprotkan cairan spermanya.

Sementara itu, langkah Asmirandah terseret-seret oleh dua negro bertubuh tinggi besar yang menarik tangannya masuk ke dalam mobil sedan tua, di bangku belakang. Tangan Andah yang satu menyilang menutupi dadanya sedangkan telapak tangannya yang satu lagi berusaha menutupi derah intimnya. Sebenarnya Andah ingin kabur ketika mencuri pandang pada selangkangan si negro,  dua batang penis yang jauh lebih besar dan panjang dari penis-penis yang pernah merasakan kenikmatan vagina Andah? Tapi kabur kemana ? Posisi Andah berada ditengah-tengah, kedua orang negro itu seolah-olah menjaga pintu di belakang tubuh mereka. Bibir-bibir tebal itu mulai mengecupi leher Andah, gadis itu merasakan dirinya sedang dilahap perlahan-lahan oleh kedua orang negro yang terkadang menggigit kecil lehernya.
“Ohhhh, Andah nggak mau!!, Tolongggg…..” suara hati kecil Andah berteriak untuk menyadarkannya.
Dengan kejamnya “si kenikmatan sex interracial” menerkam dan melahap habis suara hati kecil itu hingga tidak dapat bersuara untuk mengingatkan Andah lagi. Si kenikmatan interracial menyerbu dan mengotori benaknya dengan kata-kata mesum dan terus berbisik di telinganya.
“Andah…, ngentot lagi yukkk….”
“Ayo Andah, minta diijut gih…!!,”
Nafas Andah terasa berat, dadanya sesak oleh luapan birahinya, ia diam ketika tangan yang hitam dan besar itu menepiskan tangannya, kedua tangannya mengepal kuat-kuat ketika kepala kedua orang negro itu merunduk dan menciumi payudaranya. Bibir mereka yang tebal mengemut dan mengenyot kuat-kuat putingnya yang semakin mengeras. Tubuh Andah menggeliat sambil mendesah lirih, sesekali ia memejamkan matanya rapat-rapat. Puncak dadanya terasa nikmat sekali ketika dihisapi oleh mulut si negro.

Mulut Andah kadang meruncing, kadang terbuka lebar tanpa ada suara apapun yang keluar dari mulutnya, kadang berteriak keras untuk mengeluarkan luapan Nafsunya yang sudah tidak tertahankan. Sepasang Tangan Sinegro menarik pinggul Andah dan memaksa Andah untuk menduduki selangkangannya, dalam posisi memunggungi
“Ahhhhhhhhhh…..! ” Andah menjerit keras, mulutnya terbuka lebar dan matanya mendelik merasakan kepala penis si negro menguakkan belahan vaginanya dan menyentak dengan kuat sampai tubuhnya tersentak ke atas.
“Please.., Ahhhh, Pleaseee, It’s hurt…!!Jangan, Aduhhh Awwwwww”
Batang besar itu sama sekali tidak mempedulikan Andah yang semakin kewalahan, air keringat kembali mengucur dengan deras.
“Arhhhhhhhhhhhh…….! ” Andah berteriak panjang ketika batang penis itu dijebloskan dengan kuat-kuat, tubuhnya menggeliat antara rasa ngilu dan nikmat ketika vaginanya dipaksa terkuak untuk menerima penis si negro yang besar.
Putting susu Andah dihisapi dengan lahap, bulatan dadanya terasa hangat ketika lidah si negro memolesinya dengan merata, lidah kasar itu menggesek permukaan payudara Andah sampai ia mendesah karena nikmat. Tubuh Andah mulai tersentak-sentak keatas, mula-mula sih lembut banget, semakin lama semakin kasar dan kuat. Andah hanya dapat menjerit kecil dan mengerang ketika batang penis itu menusuk-nusuk dengan semakin keras
“Ahhh.., Ouhhhh, !! Assshhhhh…. Crrr Crrrrr”
Si negro mengangkat dan mendorong bokong Andah sampai penisnya terlepas, kemudian diarahkannya batang penis yang berlumuran cairan kewanitaan Andah pada lubang anusnya.

“Aaaaaaa….!! ” Andah menjerit panjang dengan tubuhnya yang mengejang merasakan lubang anusnya dibongkar dan sesuatu yang besar dan panjang merojokinya semakin dalam, belum sempat ia mengambil nafas ketika kedua kakinya dipaksa mengangkang dan kini vaginanya kembali disesaki oleh batang penis yang besar, Andah meringis keras ketika belahan vaginanya dikuakkan oleh batang penis yang hitam dan besar. Genjotan-genjotan penis yang besar dan panjang mulai memompa lubang anus dan vaginanya dalam sebuah irama yang teratur.
“Erhhhhh…, Erhhhhh…, Erhhhhh, Arrrrhhhhhhh….” Suara erangan Andah terdengar keras, berkali-kali bibirnya mendesah dan berkali-kali pula ia  mencapai puncak kenikmatan.
Andah merintih, kadang mejerit keras dan panjang, ketika dua batang penis itu semakin kuat menggenjoti kedua lubangnya.  Matanya mengerjap-ngerjap, mulutnya sedikit terbuka ketika merasakan denyutan-denyutan nikmat di lubang vaginanya,
“Enggghhhhhhhhhhh………..”
Andah melenguh panjang sebelum akhirnya jatuh pingsan tidak sadarkan diri.
Mobil sedan tua itu masih terus terguncang dengan hebat sehebat dua batang penis negro yang terus menggenjoti lubang anus dan lubang vaginanya. Entah berapa lama Andah tidak sadarkan diri, ia membuka matanya perlahan-lahan dan merasakan tubuhnya masih digenjoti dalam posisi berbaring mengangkang di jok belakang. Ia memegangi tangan si negro yang meremasi payudaranya. Tubuhnya terasa sangat lemas, letih, dan pegal. Si negro mengangkangi kepala Andah sambil menjejalkan kepala penisnya ke mulut gadis itu. Asmirandah hanya dapat mendelikkan matanya ketika penis si negro menekan kerongkongannya, kemudian penis itu dicabut pemiliknya dan kemudian dibenamkannya kembali ke dalam mulutnya. Andah merasakan dua semprotan panas, satu di lubang vaginanya dan satu di dalam rongga mulut “Uhukkk…, uhukkkk…, uhukkkk” Asmirandah terbatuk-batuk tersedak sperma si negro, sebagian sperma tersebut meleleh di sudut bibirnya.

“Tok… Tokkk Tokkkk….” pintu mobil diketuk oleh seseorang
Si negro membuka pintu mobil
“Are you finish?” si gemuk bertanya.
“Yeah… we finished nge he he he…, take her….” tubuh Asmirandah pun langsung berpindah tangan.
Asmirandah mulai kedinginan apalagi hujan sudah mulai turun, sementara tubuh Sandra diseret oleh seorang negro, demikian juga tubuh Magdalena. Ketiganya kini duduk berdampingan di atas sebuah kursi panjang, mereka hanya dapat bersandar lemas ke belakang menatap tiga orang negro bertubuh gemuk luar biasa berdiri di hadapan mereka dengan batang penis mereka yang hitam, besar dan panjang, mungkin batang penis merekalah yang terbesar dan terpanjang diantara para negro lainnya. Ketiga artis cantik itu menggigil kedinginan. Hujan bertambah deras membuat tubuh keenam orang itu basah kuyup. Ketiga orang  negro  bertubuh gemuk bergerak, berlutut di hadapan mereka masing-masing.
“Arhhhhhhhh…..” jeritan pertama keluar dari mulut Sandra, penis yang besar itu serasa mengoyak lubang vaginanya
“Auhhhhh, Akhhhhhhhhhhhhhhhh ” Jeritan kedua terdengar dari mulut Andah, tubuhnya tersentak kesakitan.
“Ohhhhhh, Awwwwwhhhhhhhh ” Jeritan Magdalena menyusul jeritan Asmirandah.
Trio negro bertubuh gemuk itu membiarkan Andah, Sandra dan Magdalena untuk membiasakan diri terlebih dahulu ditancap oleh batang penis mereka yang kokoh dan panjang. Ketiga artis cantik itu bergantian mendesah-desah, mengerang dan merintih lirih pokoknya nyanyian mereka bertiga kalau sampai diterbitkan pasti laku keras di pasaran.

“Arhhh, Arhhhhh Arrrrrhh, Awwwwwww….!! ” Asmirandah semakin gelisah dan akhirnya menjerit keras ketika vaginanya mulai disodoki begitu cepat, kuat dan kasar.
Mulutnya ternganga-nganga, kadang melolong keras “Aowwwhhhh….!! ” tampak eskpresi kesakitan yang amat sangat tergambar di wajahnya, erangan – erangan Andah membuat Sandra dan Magdalena merinding, mata Sandra dan Magdalena melotot ke arah selangkangan Andah. Bibir vagina Andah seperti tertekan amblas ketika penis itu menekan dengan kasar dan tertarik mayun ketika penis hitam itu dibetot oleh pemiliknya.
“Ennnnhhhhhhhhhh……., Crrr Crrrrr” nafas Asmirandah tiba-tiba tersendat-sendat, sesekali tubuhnya tersentak ketika si negro merojok kuat lubang vaginanya.
Penis hitam itu bergerak perlahan menghantarkan Asmirandah yang baru saja meraih puncak kenikmatannya sebelum akhirnya kembali memacu menggenjot dengan semakin cepat dan kuat sampai ia kembali memekik dan mengerang keras dengan tubuhnya yang terguncang-guncang hebat. Sementara Magdalena mulai resah ketika kedua pergelangan kakinya dicekal dan diletakkan mengangkang di bahu si negro. Si gemuk terkekeh-kekeh menatap wajahnya yang tampak ketakutan. Si negro menusukkan penisnya perlahan-lahan sedalam mungkin kemudian dengan tiba-tiba si negro mencabut batang penisnya “Plopp”
“Plakkk.., Plakkkk,, plakkkkk” si negro memukulkan penisnya pada bibir vagina Magdalena sebelum kemudian perlahan-lahan kembali mencelupkan penisnya yang hitam, berkali-kali si negro melakukan hal seperti itu sehingga Magdalena sedikit lengah, matanya terpejam dengan mulut sedikit terbuka.
Si negro tersenyum, pancingannya berhasil, si cantik bersusu besar tampak rileks di bawah kucuran air hujan. Dengan kuat dan cepat tiba-tiba si negro mengocoki lubang vaginanya “Arrrrhhhhhhhhh….!!” Magdalena pun membeliakkan matanya, kemudian mengerang-ngerang kesakitan ketika penis si negro mengompa lubang vaginanya kuat-kuat.

Magdalena mengerang keras ketika penis si negro mengaduki lubang vaginanya “Pleppp Pleppp Plepppph…..” suara penis itu terdengar keras ketika mengaduk dan melakukan genjotan-genjotan yang kuat.
“Mampus dah…, giliran gue nih….glekk.” Sandra membatin sambil menelan ludah ketika pergelangan kedua kakinya didorong sampai lututnya tertekuk
Sandra mencoba melemparkan senyuan pada wajah si negro yang begitu dingin menatap wajahnya, bahkan tanpa ekspresi sedikitpun.
“Ooo, I love your smile.., C’mon smile again…” wajah si negro berubah ramah, Sandra menghela nafas lega kemudian mencoba melemparkan senyuman termanis yang ia miliki.
“Arrrhhhhhhh….!!  Arrrhhhhhhhhh….!!” Sandra berulang kali menjerit keras, tangannya menahan bahu si negro yang merapat menghimpit tubuhnya, vaginanya ditusuki dengan kuat, wajah si gemuk berubah bengis.
“Smile !! Smileee !! Smileee!!… , that all you can do bahhh !! ” si negro menjulur-julurkan lidahnya keluar sambil menggenjot-genjotkan batang penisnya ke belahan vaginanya, semakin dalam penis besar itu terbenam semakin keras pulalah lolongan Sandra.
Si negro menggeram keras kemudian menghentak-hentakkan penisnya dengan kasar, “Oahaaahhh…!! Aaarrrhhhhhhh….., Errrrrrrrrhhhhh” Sandra kembali mengerang-ngerang, bibir vaginanya terlipat-lipat ketika penis si negro bergerak keluar masuk dengan kasar dan kuat. Si negro memacu penis besarnya begitu cepat dan kuat penisnya bergerak di belahan vagina artis cantik itu hingga melampaui daya tahannya untuk menerima sodokan. “Unnnhhhhhh… Cruuuttt… Cruutttt ” vagina Sandra berdenyut nikmat, ia menggerakkan tangannya berusaha menahan sodokan si negro yang terus memompanya, dengan kasar si negro menepiskan tangannya dan semakin kuat menggecak-gecak vaginanya.

Sandra mengikuti jejak Asmirandah yang memeluk tubuh Magdalena, sementara trio negro bertubuh gemuk meleletkan lidah ketika menyaksikan ketiga gadis itu saling berpelukan satu sama lain, wajah Asmirandah, Magdalena dan Sandra tampak begitu menggairahkan ketika berkali kali mulut mereka mengerang, merintih dan memekik keras.
“Ahhhhhhhh…..!! ” hampir bersamaan suara keras itu terdengar dari mulut Asmirandah, Sandra dan Magdalena.
Ketiga artis cantik itu saling menyusul berorgasme, kadang Sandra memekik kecil ketika mencapai klimaks, kadang Andah menjerit panjang ketika vaginanya berdenyut-denyut dengan nikmat, kadang terdengar erangan keras Lena ketika vaginanya berkali-kali menyemprotkan cairan kenikmatan. Hampir bersamaan trio negro bertubuh gemuk itu mencabut penisnya dengan kasar dari belahan vagina Andah, Magdalena dan Sandra. Ketiga negro gendut itu masing-masing memangku tubuh Andah, Sandra, dan Magdalena. Tangan kasar si negro merengut tubuh Magdalena dan menunggingkannya tepat di hadapan kaki Asmirandah.
“Jangan, Nggakk, jangannn, disituu….,” Magdalena berusaha berontak ketika si negro menempelkan kepala penisnya pada duburnya.
“Aduhhhhh” ia kesakitan ketika tangannya diikat ke belakang.
“Nghaaakkkkssss, Andahhhhhh tolonggggggg…..” Magdalena menatap Asmirandah dengan tatapan memelas meminta pertolongan. Sebelum akhirnya melolong keras ketika lubang anusnya dijebol oleh kepala penis si negro yang terus menggeliat memasuki lubang anusnya lebih dalam. Tubuh Lena tersentak-sentak kuat ke depan ketika si negro bertubuh gemuk mulai menyodominya, jeritan kesakitannya terdengar di tengah hujan yang semakin deras.

Sandra dan Asmirandah saling berpandangan, mereka khawatir mengalami nasib yang sama dengan Magdalena, walaupun kini tubuh mereka hanya dirayapi dari belakang, diremasi susunya dan dikecup-kecup oleh bibir tebal si negro yang memangku tubuh mereka. Sandra menolehkan kepalanya menatap Asmirandah dengan tatapan memelas ketika bokongnya didorong agar berdiri, bahu Sandra dicengkram oleh sepasang tangan hitam yang kekar dan memaksanya untuk berlutut dan menungging di samping Magdalena.
“Heiii !!! ” tiba-tiba Sandra meronta keras dan melepaskan tubuhnya dari dekapan si negro bertubuh gemuk, si gemuk mengejarnya, dengan cekatan tangan si negro menyambar pinggangnya
“Jangannn, Tolonggg, Jangannnn…, Pleaseeee…, ” Sandra memohon-mohon, suaranya begitu memelas.
Si negro menggeram marah, hampir saja santapannya yang lezat ini kabur, dengan kasar diikatnya tangan Sandra ke belakang, seperti tangan Magdalena. Dengan paksa si negro membuat Sandra menungging di samping Magdalena yang masih mengerang kesakitan.
“Arhhhhhh…. !! ” suara jeritan Sandra terdengar panjang berbaur dengan erangan Magdalena. Pekikannya terdengar keras ketika lubang anusnya tiba-tiba melebar dengan paksa dan sebatang penis besar meluncur mengoyak duburnya.
“Hegghhh.., Heggghhh Heggghhhh….” gigi Sandra terkatup rapat menahan rasa sakit yang semakin mendera lubang duburnya sebelum akhirnya melolong keras sekeras lolongan Magdalena di sampingnya.
“Plakkkk… Plakkkk… plakkkkk Plokkkk Plakkkk Plokkkkk Plakkkk”
suara benturan antara buah pantat diiringi dengan tamparan-tamparan keras terdengar silih berganti dibawah guyuran air hujan diselingi erangan kesakitan yang terus keluar dari mulut keduanya. Tubuh mereka tersungkur-sungkur ke depan dalam posisi menungging dan kedua tangan terikat ke belakang.

“So, want to do it yourself or I’ll rape your ass?” si negro bertubuh gemuk menjilat sambil berbisik ditelinga Asmirandah. Karena Asmirandah tidak menjawab pertanyaanya si negro bertubuh gemuk pun semakin beringas.
“No, Please , I do it myself….” Asmirandah berdiri kemudian perlahan-lahan Andah menurunkan pinggulnya seperti orang hendak berjongkok dan kemudian berusaha menduduki kepala penis si negro dengan duburnya.
Sambil menahan Nafas Asmirandah menekankan duburna, mulut Asmirandah membentuk Huruf “O” yang semakin besar ketika lubang duburnya melar menerima kehadiran kepala penis si negro, tangan si negro bergerak menarik pinggang Asmirandah untuk terus turun dan turun, dengan tiba-tiba tangannya menarik pinggang Andah kuat-kuat sambil menghentakkan batang penisnya ke atas.
“Heggghhhhh…” Asmirandah mendelik menahan rasa sakit yang tidak tertahankan ketika sebatang penis yang besar tertancap semakin dalam dilubang duburnya. Tangan si negro menarik kaki Asmirandah dan mengangkangkannya melebar, selanjutnya tubuh Andah terdorong-dorong kuat keatas, ketika lubang anusnya disodoki oleh penis si negro.
“Arrhhh…, Ahhhhh, Ahhhhhh, Arrrhhhh….” erangan Asmirandah menyatu berbaur dengan erangan Sandra dan Magdalena.
“Jangann, Aduh.., sakittt, jangann, pleasee !!”
“Awww.. Arhhhhh, Arrrrhhhhh”
“Tidakkkk, Owwwwhhhh”
Asmirandah menangis keras kesakitan, ketika tubuhnya ditunggingkan di samping Sandra dan digenjot kuat-kuat oleh si negro gemuk yang semakin asik mengaduki lubang anusnya. Suara guyuran hujan deras terdengar mengasikkan berbaur dengan rintihan – rintihan mereka.
“They’re Soo Cute… Nge He he he!!”
“Yeahhh…, ! Cute little slut”
“Shut up, just fuck them all!! Deep and hard”
Sesuai dengan komando yang diberikan ketiga penis itu bergerak semakin kencang merojoki dan mengaduk kemudian keluar masuk dengan

“Tenang Neng… tenang, 1



“Neng Luisa......” sebuah suara memanggil seorang gadis yang baru saja keluar dari sebuah kelas di salah satu SMU swasta terkenal di ibukota.

Saat itu kegiatan belajar mengajar di sekolah baru saja selesai, dan semua siswa-siswi bersiap-siap untuk pulang. Gadis yang dipanggil itu berhenti sejenak lalu memutar tubuhnya ke belakang sambil menatap seorang lelaki setengah baya yang tergopoh-gopoh lari ke arahnya. Melihat siapa yang datang, gadis itu langsung memisahkan diri dengan teman-temannya, lalu mengajak lelaki tadi masuk kembali ke dalam sebuah kelas kosong untuk berbicara 4 mata saja. Nampaknya ada hal yang sangat serius yang mereka obrolin. Sekitar 10 menit mereka mengobrol, kemudian gadis itu keluar dari kelas itu dengan tersenyum penuh arti. Demikian juga lelaki setengah baya itu. Entah apa yang mereka bicarakan. Akhirnya gadis itu kembali menyusul teman-temannya, bersiap-bersiap untuk pulang. Nama gadis itu adalah Luisa. Usianya baru 17 tahun. Ia sekolah di kelas 2 sebuah SMU swasta terkenal di ibukota ini. Luisa merupakan salah satu cewek terpopuler di sekolahnya. Gadis belia itu sangat cantik, dengan hidung mungil yang lucu. Dia memiliki kulit putih bersih yang mulus, mata bulat dengan bulu mata yang lentik dan panjang hitam lurus sepunggung. Gadis manis itu memiliki tubuh mungil khas remaja, dengan dada yang tidak begitu besar namun montok dan menantang serta dihiasi seragam SMU yang ketat, rok yang beberapa centi di atas lutut, dan kaus kaki putih panjang yang menutupi keindahan betisnya. Ya, kecantikan wajah dan tubuhnya, nyaris sempurna, sangat sesuai dengan selera om-om hidung belang. Ditunjang bibirnya tipis menggoda, dan selalu dihiasi senyum nakal remaja, membuatnya sebagai magnet bagi kaum lelaki, termasuk lelaki yang baru saja diajaknya ngobrol di kelas tadi. Lelaki setengah baya yang baru saja berbicara dengan Luisa adalah Mang Hamad. Dia adalah pesuruh sekolah ini yang bertugas antara lain sebagai tukang sapu sekaligus tukang kebun sekolah. Umurnya sudah 52 tahun. Dia bertubuh tinggi besar dan berkulit hitam. Rambutnya yang putih tipis nyaris botak sedangkan kumis dan janggutnya tumbuh liar tak teratur. Tetapi yang paling tidak mengenakan untuk di lihat adalah tampanganya sangat jelek. Tahun ini dia sudah bekerja selama 12 tahun dan dia dipertahankan kepala sekolah karena sangat baik dan rajin. Murid-murid sekolah itupun sangat senang bergaul dengannya yang sangat ramah.

************************

Di sebuah kompleks perumahan

Pukul 16.00


HamadDengan sepeda bututnya, Mang Hamad menyusuri jalan di sebuah perumahan menengah atas. Sepeda itu berhenti di sebuah rumah bertingkat dua dengan taman garasi mobil di sampingnya. Mang Hamad menjulurkan tangannya ke dalam pagar untuk mencari knop bel. Tak lama kemudian dari dalam sana keluar seorang gadis belia dengan senyuman khasnya yang nakal. Gadis itu adalah Luisa. Tubuhnya yang indah itu terbungkus hotpants ketat berwarna putih dan baju berkancing tanpa lengan yang berwarna sama dengan bawahannya. Penampilan sangat seksi dan menggoda sore itu.

“Sore mang, yuk masuk!” ajak gadis itu.

Maka Hamad pun akhirnya memasukkan juga sepedanya ke dalam setelah Luisa membukakan pagar untuknya. Mang Hamat mengikutinya dari belakang, sesekali matanya menatap pantat gadis itu yang bergoyang kesana-kemari dengan indahnya. Begitu bulat dan padat sempurna bokong itu sampai Mang Hamad gemas ingin meremasnya. Luisa menyuruh Mang Hamad memasukkan sepedanya ke garasi yang kebetulan hari itu kosong, yang menandakan ada yang memakai mobil keluarganya. Kemudian dia mengikuti si empunya rumah memasuki rumah itu setelah melepas alas kaki dan menaruhnya di depan pintu.

“Mang Hamad bawa kan barangnya?” tanya Luisa dengan wajah penuh harap.

“Bawa neng. Tapi harus cepat-cepat dikembalikan. Takut kepala sekolah tahu”

“Tenang aja, cuman bentar kok” jawab Luisa dengan tersenyum puas.

“Tapi duit perjanjiannya sudah ada kan neng?”

“Santai saja mang. Tapi saya lihat dulu dong apa yang Mang Hamad bawa apa”

“Boleh” jawab Mang Hamad seraya mengeluarkan sesuatu dari balik punggunya.

“Eh mang, kita lihat di kamar Luisa aja. Ga ada orang kok” kata Luisa lalu mengajak Mang Hamad ke dalam kamarnya.

Di dalam kamar, gadis itu lalu duduk di atas ranjangnya yang diikuti Mang Hamad.

“Mana mang?”

“Ini neng, seperti yang neng minta” kata Mang Hamad tersenyum sambil menyerahkan sebuah map berisi beberapa lembar kertas.

Luisa melihat semua isi map itu dan ikut juga tersenyum bahagia.

“Benar kan ini yang neng Luisa mau?”

“Benar mang. Pintar juga nih si mamang” puji gadis itu

“Siapa dulu dong….Hamad bin Abdul Aziz” kelakar pesuruh sekolah tua itu sambil membusungkan dadanya.

“Tapi ga ada yang tahu kan?”

“Sumpah ga ada neng. Tenang aja. Sekarang mana duit yang neng janjikan”

Luisa terdiam sejenak. Dia memang menjanjkan sejumlah uang kepada pesuruh sekolahnya ini untuk “jasa’ yang telah dilakukan Mang Hamad. Tapi terus terang dia tidak menyangka Mang Hamad akan berhasil. Luisa sebenarnya orang yang berada. Uang jajannya terbilang banyak. Orangtuanya selalu memberikan uang jajan setiap bulan (bukan perhari seperti siswa lain), dengan jumlah yang cukup banyak untuk ukuran anak SMA. Hal itu dimaksud agar Luisa jadi disiplin dan bisa me-manage duit sendiri. Tapi sayang, gaya hidup Luisa sangat glamor, suka hura-hura. Dia memang dikenal cukup gaul, modis karena badannya memang bagus dan wajahnyapun cantik. Butuh biaya yang tidak sedikit untuk mendapatkan semua itu, maka maka tak heran baru pertengahan bulan seperti ini dia sudah kehabisan uang. Kalau sudah begitu maka jangan harap ortunya yang disiplin dalam hal keuangan itu akan memberikan uang jajan tambahan.

“Mana duitnya neng? Mau mabok-mabokan dulu nih. Hehehe...” pinta Mang Hamad.

“eh..gini mang...anu.....” kata Luisa terbata-bata.

“Apa? Jangan bilang ga ada duit?”

“Bukan begitu. Jadi gini. Duit Luisa lagi ga ada sekarang. Habis kepake. Gimana kalo saya bayar bulan depan?”

“Ya elah neng. Tahu gitu ga mau deh mamang ambil resiko kayak gini”

“Maaf deh mang...Bulan depan ya...beneran ini uang jajan saya sudah habis nih” kata Luisa memelas.

“Masa utang. Kalo gitu ga jadi deh. Cape-cape saya nyolong ini” kata Mang Hamad sambil berdiri dan siap-siap keluar dari kamar.

Luisa lalu memutar otak dengan cepat. Dia ga boleh membiarkan Mang Hamad pergi membawa “barang” itu. Karena itu sangat penting baginya. Menyangkut masa depannya. Maka dia bertekad akan melakukan apapun asal dia mendapatkannya. Agaknya terpaksa ia harus memakai cara terakhir, maka dia lalu berdiri dan memanggil Mang Hamad yang sudah di pintu kamarnya.

“Mang.....” panggil Luisa pelan, suaranya dibuat sesexy mungkin.

Mang Hamad menoleh ke belakang.

“Apa lagi? Pokoknya ada uang ada barang.” katanya.

"Jangan gitu dong mang. Lagi ga ada uang. Gimana kalo barang diganti barang?”

“emang pasar loak bisa barang diganti barang”

“Aku yakin barang yang ini mamang suka deh” kata Luisa menggoda.

“Barang apaan?”

“Mamang duduk dulu deh di ranjang ini” kata Luisa, dia lalu berjalan ke pintu kamar.

"Hei.. neng mau kemana?"

Luisa diam saja, pintu kamarnya itu dikuncinya lalu kembali ke arah Mang Hamad yang duduk bengong tak mengerti. Luisa sekarang berhadapan dengan Hamad. Perlahan-lahan dibukanya kaos tanpa lengennya di hadapan pria tua itu sehingga sehingga BH-nya yang warna pink dan perutnya yang mulus dan putih telah terlihat oleh Mang Hamad. Kontan Mang Hamad melotot dan kaget dengan perlakuan gadis itu. Matanya makin melotot saat Luisa juga melepaskan BH-nya, sehingga kini kedua payudaranyas terbuka lebar-lebar dan pria itu bisa melihatnya dengan bebasnya.

“Barang yang ini loh yang saya maksud” kata Luisa dengan genit memamerkan dadanya.

Memang payudara Luisa betul-betul indah menggoda. Keduanya begitu menantang untuk diraba-raba dan diremas-remas. Sementara kedua putingnya berwarna kemerahan nampak segar menantang untuk dikulum. Mang Hamad masih bengong tak tahu berbuat apa atas perlakukan nekat Luisa.

"Mang, bagaimana kalo duit yang saya janjikan diganti dengan tubuh saya? Mang Hamad boleh menikmati tubuh saya sampai mamang puas. Tapi mamang serahkan barang itu” bujuk Luisa.

Lalu tangannya menggapai tangan Mang Hamad yang berotot. Tangan Mang Hamad yang masih terbengong lalu ditempelkannya di payudaranya. Tangan kekar dan kasar itu tepat memenuhi payudara Luisa. Tangan Mang Hamad agak basah berkeringat. Tapi tiba-tiba tangan itu meremas payudara Luisa dengan lembut.

"Aaahh...gitu…terus... Mang.." desah Luisa manja.

"Luisa... tetek kamu indah sekali.. bening banget... kenyal lagi...".

“Asal mamang mau kasih barang itu, mamang boleh kok menikmtinya sampai puas”

“Benar nih??” tanya penjaga sekolah itu seolah-olah tak percaya.

“Benar Mang” kata Luisa dengan mengarahkan kepala Mang Hamad ke payudaranya. A

Mang Hamad yang sudah terangsang mulai mencium payudara Luisa, dicium, dijilat, dikenyot, dihisap dan digigit putingnya yang berwarna kemerahan.

"Mang.. aaahhh.. aahhh en... enak.. Mang.."

"Iya... neng... pentilnya... manis nih"

“Ayo mang nikmatin sepuasmu...ahhhh......” desah Luisa.

Sementara payudara Luisa sedang dilahap oleh mulut Mang Hamad, tangannya mulai merambah ke paha gadis itu, dirabanya sebentar paha mulus itu lalu diturunkannya hotpants Luisa ke lantai. Kini Luisa berdiri di kamar itu dengan setengah telanjang di hadapan penjaga sekolah itu dengan hanya memakai celana dalam saja. Sungguh pemandangan yang menggairahkan. Dibantu oleh Luisa, Mang Hamad kemudian meraih celana dalam Luisa dan ditarik ke bawah hingga kaki, otomatis vaginanya yang ranum terpampang jelas dan menyerbakan aroma harum di kamar itu.

"Neng Luisa...bau apa ini…wangi sekali..."

"Bau ini Mang…kan Luisa baru mandi." jawab Luisa menunjuk ke kelaminnya

"Waaaww... pasti rasanya.. enak.. juga.. ya.."

"Kalau Mang Hamad mau... mencoba.. boleh.. kok.. sodok aja sama kontol Mang Hamad.. yang mulai gede..." Luisa melihat batang kemaluan Mang Hamad sudah mulai mendesak dari balik celana yang dikenakannya.

Tubuh Luisa lalu dibaringkan di tempat tidur. Mang Hamad melotot melihat tubuhnya yang sudah telanjang bulat, matanya terus menatap ke arah vagina Luisa. Nafasnya berubah menjadi semakin liar. Saat itu benar-benar Luisa tambah begitu sexy dan merangsang mata laki-laki ygmemandangnya. Tubuhnya yang mulus, putih dan kencang itu terpampang di atas ranjang hingga membuat darah menggelegak.

"Neng Luisa, ka.. kamu... hgeehh... memek....bagus....sekali.... ka.. kamu... mau.. ya..."

"Iya... Mang. selesaikan aja sekarang. Habis itu berikan barangnya ya".

Benar-benar Luisa telah menyerahkan seluruh tubuhnya kepada Hamad demi barang yang belum tahu apa. Lalu Mang Hamad berlutut di depan gadis itu, kepalanya diarahkan ke vaginaanya. Luisa menahan nafas menantikan perlakuan penjaga sekolahnya.

“Ooooh. OOHHHHH. Aduuhh. Enaak!!!”

Mang Hamad menyapukan lidahnya pada bibir kemaluannya. Lidahnya semakin liar saja, kini lidah itu memasuki liang vaginanya dan bertemu dengan klitorisnya. Badan Luisa bergetar seperti tersengat listrik dengan mata merem-melek. Gadis yang sudah terangsang berat itu mengelus-elus kepala Mang Hamad seraya membuka pahanya lebih lebar, kepalanya menengadah menatap langit-langit kamar. Mang Hamad nampaknya sudah pengalaman menaklukan wanita, dengan jarinya dia buka vagina Luisa sehingga lidahnya dapat menelusuri lebih ke dalam. Selain dengan lidah, Hamad juga mengerjai liang vagina gadis itu dengan jari-jarinya, jadi sambil menjilat jarinya juga aktif mengorek-ngorek liang itu sehingga area itu semakin berlendir.

“Oohhh…enak banget. Hebat banget sih jilat-jilatnya....ohhh...ohhhh....” desah Luisa.

Luisa, anak kelas 2 SMU yang cakep dan populer itu, yang jadi idaman seluruh cowok di sekolah itu, kini dibuat jadi tak berkutik dan mendesah-desah makin tak keruan oleh pesuruh sekolahan itu. Apalagi sekarang kedua tangan Mang Hamad meraih ke atas menggenggam dan meremas-remas masing-masing satu payudara Luisa.

“Oooh. AAAHHHHHH. AAAAHHHHHHHH. AAAAAHHHHHHHHH.”

Jilatan Mang Hamad itu benar-benar ampuh. Sampai-sampai membuat Luisa, cewek bermata indah itu, sekarang jadi basah kuyup vaginanya dibuatnya. Wajah Mang Hamad pun jadi ikutan basah pula kena tetesan cairan dari vaginanya. Namun dengan liar ia terus menjilati vagina basah Luisa sehingga jadi makin kuyup aja. Mang Hamad semakin memegang kendali permainan sampai akhirnya kini Luisa benar-benar pasrah dan mengikuti saja seluruh permainan Mang Hamad. Hal ini menunjukkan bahwa Mang Hamad jauh lebih berpengalaman dibanding Luisa. Kini Mang Hamad mengeluarkan kepalanya dari himpitan paha Luisa. Hal itu membuat Luisa merasa tanggung dan mau marah. Tapi dia sadar jutru dia harus bisa memuaskan lawan mainnya ini demi “perjanjian” tadi.

“Ayuk, sekarang neng duduk ya,” kata Mang Hamad sambil menyuruh Luisa duduk setengah tiduran di ranjang. Sementara ia melepaskan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya. Nampaknya Mang Hamad ingin Luisa melihat penisnya yang akan dikeluarkan.

“Neng Luisa pasti belum pernah lihat kontol orang kampung kayak punya mamang. Sekarang mamang kasih lihat. Gratis. Hehehe..”

Kemudian Mang Hamad membuka resulting celananya dan menurunkan celana dalamnya sekaligus sehingga menyembullah penis yang sudah mengeras itu di depan wajah Luisa. Penis itu besar dan panjang dengan batang yang hitam dan ujungnya yang bersunat berbentuk helm tentara, membuat Luisa terkesiap karena panjangnya. Ini merupakan penis terbesar yang pernah dilihat langusng olehnya. Beda dengan punya pacarnya. Walau merasa ngeri saat membayangkan penis itu bakal mengoyak vaginanya, tapi Luisa tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Maka tanpa diminta diapun mulai mendekati penis itu lalu mengelusnya. Tubuh Mang Hamad bergetar saat Luisa mulai meraih penis itu dan mengocoknya pelan.

“Tangannya halus..enak...” desah Mang Hamad.

Pelan-pelan, Luisa memajukan wajahnya, dia melanjutkan kocokannya sambil menyapukan lidahnya pada kepala penis itu, sehingga Mang Hamad mendesah merasakan belaian lidah Luisa pada penisnya serta kehangatan yang diberikan oleh ludah dan mulutnya.

Setelah belasan tahun yang lalu lamanya menduda Mang Hamad kembali menikmati kehangatan tubuh wanita. Wanita muda dan cantik lagi. Dia sungguh sangat terangsang. Luisa sendiri walaupun merasa jijik dan kotor, tanpa disadari mulai terangsang dan mulai mengulum benda itu dalam mulutnya.

“enaknya!!!” lenguh Mang Hamad

Luisa terus memaju-mundurkan kepalanya sambil mengulum penis itu, tangannya juga ikut bekerja mengocok batangnya atau memijat buah pelirnya. Pria setengah baya itu merasa semakin keenakan sehingga tanpa sadar ia menggerak-gerakkan pinggulnya sehingga penisnya menyodoki mulut Luisa seolah menyetubuhinya. Kini Luisa berhenti memaju-mundurkan kepalanya dan hanya pasrah membiarkan mulutnya disenggamai penjaga sekolah itu itu, kepalanya dipegangi sehingga tidak bisa melepaskan diri.

“Uuhhh…gitu , enak…mmmm !” gumamnya sambil memegangi kepala Luisa dan memaju-mundurkan pinggulnya.

Luisa merasakan wajahnya makin tertekan ke selangkangan dan buah pelir Mang Hamad yang berbulu lebat itu, penis di dalam mulutnya semakin berdenyut-denyut dan sesekali menyentuh kerongkongannya.

“Ohhh…Neng Luisa, terus...terus!” desahnya sambil membelai rambut gadis itu.

Saking enaknya, pertahanan Mang Hamad langsung jebol dalam waktu kurang dari 5 menit. Wajahnya menegang dan cengkeramannya pada pundak gadis itu makin mengeras. Luisa yang menyadari lawan mainnya akan segera keluar mempergencar serangannya, kepalanya maju mundur makin cepat dan cret…cret…sperma Mang Hamad menyemprot dalam mulutnya. Dengan lihainya Luisa menelan dan menyedot cairan kental itu tanpa ada yang menetes dari mulutnya. Sungguh kenikmatan oral terdahsyat yang dialami Mang Hamad sehingga membuatnya melenguh tak karuan.

“Uoohh…sedot terus neng…ajibb…jibb…jibbh!!”

Luisa melakukan cleaning servicenya dengan sempurna, seluruh batang itu dia bersihkan dari sisa-sisa sperma. Setelah mulutnya lepas tak terlihat sedikitpun cairan putih itu menetes dari mulutnya. Sungguh teknik yang sempurna, demikian pikir Mang Hamad.

Luisa kemudia tersenyum genit kearah Penjaga sekolahnya itu.

“Neng memang gadis nakal ya, Luisa”. katanya

“Asal Mamang mau bantu Luisa, apapaun saya lakukan buat Mang Hamad”. Sahut Luisa dengan masih terseyum menggoda.

Mang Hamad lalu memanggil Luisa untuk duduk di pangkuannnya. Posisi mereka sekarang saling menghadap dimana Mang Hamad masih duduk di ranjang dan Luisa diatasnya. Tanpa malu-malu Luisa menuruti keinginan penjaga sekolahnya itu. Bahkan tanpa sungkan dia mencium bibir Mang Hamad. Sambil berciuman tangan Mang Hamad kembali meremas bagian-bagian sensitif tubuh gadis mungil itu. Sekarang penjaga sekolah bejat itu menyusu dari payudaranya. Pipi pria itu sampai kempot menyedot puting Luisa, sepertinya dia sangat gemas dengan payudara Luisa yang putih montok dengan puting kemerahan itu. Luisa senang-senang saja payudaranya dikenyot. Dia sendiri nampak mendesah nikmat dengan kepala menengadah dan mata terpejam. Dengan nakal dia ikut meremas-remas batang Mang Hamad yang masih lemas. Perlahan-lahan nafsu gadis itu mulai naik lagi. Begitu juga dengan Mang Hamad. Dalam tempo singkat penisnya sudah kembali bangun.

“Masukin ya pak. Luisa sudah ga tahan nih’. kata Luisa yang diiyakan Mang Hamad. Luisa lalu mengakat pantatnya dan mengarahkan vaginanya ke penis yang sudah menegang maksimal itu. inilah kali pertama Luisa akan merasakan penis terbesar yang akan memasuki lubang vaginanya yang sempit. Walau sedikit ngeri, tapi nafsunya mengalahkan semuanya. Beberapa kali kepala penis itu terpeleset dan gagal masuk ke celah vagina luisa.

“Susah banget sih mang. Punya mamang gede sih”

“Sini mamang bantu”

Mang Hamad lalu membantu dengan mengarahkan penisnya ke vagina gadis itu. Luisa mengigit bibirnya merasakan sedikit perih saat ujung kepala penis Penjaga sekolahnya itu masuk. Pelahan-lahan benda itu meluncur masuk ke dalam miliknya.

“Pelan-pelan mang. Sakit....”

“Iya neng. Memeknya kesempitan sih”

Luisa merintih menahan nyeri saat penis besar itu menyeruak perlahan ke dalam kemaluannya yang sempit, demikian juga Mang Hamad meringis menahan nikmat merasakan penisnya tergesek dinding vagina gadis itu. Dengan beberapa kali gerakan tarik dorong yang keras maupun lembut, penis itu akhirnya terbenam setengahnya ke dalam vagina Luisa. Itupun Luisa sudah merasa penuh sekali. Penis itu terasa sangat sesak di liang vaginanya, ini memang bukan pertama kalinya bagi Luisa, namun penis mantan pacarnya Johan tidaklah sebesar milik Mang Hamad. Dan ketika dengan kasar Mang Hamad tiba-tiba menekankan batangnya seluruhnya hingga amblas. Luisa tak kuasa menahan diri untuk tidak memekik. Perasaan luar biasa bercampur pedih menguasai dirinya, hingga badannya mengejang beberapa detik.

“ahh……….mang......ohhhhhhh.......sakit........” Luisa melolong dengan panjang.

“Oohh…enak banget Neng, sempit, legit, padahal udah gak perawan…!” katanya sambil menggoyangkan pinggulnya pelan-pelan kemudian makin lama makin cepat. Luisa sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap dia menggerakkan tubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding dalam liang vaginanya sungguh membuatnya seperti terbang tinggi. Mereka bersetubuh dengan gaya woman on top.

“Oh, Luisa...... memekmu…bener-bener masih seret, ohh..ohhh !” puji Mang Hamad ditengah genjotannya. Luisa hanya hanya memejamkan mata sambil mendesah. Dia sudah mulai bisa menikmati penis Mang Hamad di liangnya. Bahkan dia sekarang mulai ikut menggoyang-goyangkan pantatnya di atas penis hitam itu.

“Oh, mang....ohhhh...ohhhhhh.....e..nak......” desah Luisa.

Dia memacu dan menggoyangkan pinggulnya pada pangkuan Mang Hamad dengan penuh semangat. Ketika memandang ke depan, dilihatnya wajah orang tua itu sedang menatapnya dengan takjub, segaris senyum terlihat pada bibirnya, senyum kenikmatan karena telah berhasil menikmati gadis terpopuler di sekolah ini.

“Kamu benar-benar cantik neng. teteknya juga bagus”. ujarnya.

Dengan posisi demikian, Mang Hamad dapat mengenyot payudara Luisa sambil menikmati goyangan pinggulnya.

Kedua tangannya meraih sepasang gunung kembar itu, mulutnya lalu mencium dan mengisap putingnya secara bergantian. Remasan dan gigitannya yang terkadang kasar menyebabkan Luisa makin melayang, dia makin lama makin cepat mengoyangkan pinggulnya diatas tubuh Mang Hamad. Di ambang klimaks, tanpa sadar Luisa memeluk Mang Hamad dan dibalas dengan pagutan di mulutnya. Mereka berpagutan sampai Luisa mendesis panjang dengan tubuh mengejang.

‘Oh..mang....Luisa ....mau ke....lu....ar....rrrrr” Jerit Luisa.

Sekitar 2 menit kemudian, tubuh Luisa meliung keras, menjerit menahan desah, saat berhasil mencapai orgasme, matanya membeliak dan tubuhnya berkelejotan. Mang Hamad masih erus mengenjot hingga orgasmena makin panjang. Vagina Luisa berdenyut kencang seolah menghisap penis Mang Hamad dan mencengkeram penis itu keras sekali. Meski begitu, entah apa yang menjadi doping Mang Hamad, penis penjaga sekolah itu tetap saja berdiri tegak seperti tongkat baja yang tidak bisa lemas. Penis itu terus menyodok vagina Luisa meski gadis cantik itu sudah kepayahan. Mang Hamad lalu mendekap tubuh telanjang Luisa, lalu masih dengan kemaluan yang menyatu, mereka lalu berlutut di lantai. Mang Hamad kemudian menunggingkan pantat Luisa, memaksa gadis cantik itu berposisi merangkak dengan bertumpu pada lutut dan siku. Dengan posisi pantat Luisa yang menungging lebih tinggi dari kepala, Mang Hamad makin leluasa menggagahi wanita cantik itu. Dia melebarkan kedua kaki Luisa, membuat vagina wanita itu kembali membuka. Segera saja penis Mang Hamad kembali menggenjot vagina gadis seksi itu secara brutal.

“Ahhkh… aahh… oohh…” Luisa merintih-rintih lirih merasakan vaginanya kembali digenjot oleh penis Mang Hamad.

Tubuhnya kian lemas mengalami percintaan yang begitu lama. Lenguhan dan erangan Luisa akhirnya lenyap sama sekali dan hanya menyisakan rintihan-rintihan tak berdaya. Tubuh mulusnya yang telanjang bulat tersentak maju mundur dengan pasrah mengikuti sodokan penis Mang Hamad pada vaginanya. Tubuhnya benar-benar terasa letih dan lemas. Meski begitu gelombang orgasme terus-menerus menghajar tubuhnya, membuat Luisa hanya bisa menggeliat lemah dan menggigit bibir merasakan kenikmatan yang sekaligus sangat menyakitkan.

“enak sekali memek neng Luisa...beruntung sekali mamang…ha...ha....” Jerit Mang Hamad bagai kesetanan.

Penis Mang Hamad dengan kasar menyodok-nyodok vaginanya berulang-ulang. Cairan vagina Luisa yang membludak seolah berbuih melicinkan gesekan penis Mang Hamad pada dinding vaginanya. Sebagian cairan vagina itu mengalir membasahi paha Luisa sebelah dalam.

Mang Hamad kian ganas mengenjot Luisa. dengan tangan terus-menerus meremas-remas pantat Luisa, penis Mang Hamad menyodok vagina anak 17 tahun yang cantik itu dengan gerakan tidak teratur, kadang cepat kadang pelan, membuat Luisa kian tersiksa oleh kenikmatan yang kembali mendera tubuhnya. Kadang-kadang saking terangsangnya, Luisa menggoyangkan pantatnya sendiri maju mundur untuk mempercepat sodokan penis Mang Hamad pada vaginanya. Mang Hamad tertawa senang di tengah dengus kenikmatannya menyaksikan Luisa yang menggoyangkan pantatnya sendiri.

“He he he.. Oke juga nih neng..” Mang Hamad tertawa. “Ayo, goyang terus… Ayo.. terus…” Mang Hamad menyemangati.

Dia lalu menghentikan sodokan penisnya sama sekali, untuk mengetahui reaksi Luisa. Secara reflek Luisa langsung menggerakkan pantatnya lebih kuat dan lebih cepat. Orgasme berkali-kali telah membuat Luisa kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. yang dia inginkan sekarang hanyalah bagaimana meraih kenikmatan seksual sebanyak mungkin. Karena itulah Luisa terus menerus menggoyangkan pantatnya membuat vaginanya tetap terpompa oleh penis Mang Hamad. Sementara itu Mang Hamad juga mengimbangi gerakan pantat Luisa yang kian liar. Mang Hamad memegangi pinggul Luisa lalu menarik pinggul yang bulat itu maju mundur mempercepat goyangan pantat Luisa.

“Ayo.. terus.. goyang terus..” Mang Hamad menyemangati Luisa yang makin liar, sementara tangannya terus meremasi pantat Luisa yang montok dengan penuh kegemasan. Luisa kian tak tahan menerima sodokan penis Mang Hamad. Perlakuan Mang Hamad yang brutal ternyata justru membuat orgasme Luisa lebih cepat meninggi. Luisa merasakan gelombang orgasme kembali meregangkan syaraf seksualnya mencoba menembus pertahanannya.

“Udah dulu mang, cape...”

“Tapi Mamang belum cape neng...kalau mau udahan silakan tapi perjanjian kita batal” ancamnya.

“Ok..ok lanjutin ajah mang” Kat Luisa tak punya pilihan,

Merasa belum terpuaskan dengan posisi doggy style yang dipraktekkannya, Mang Hamad memaksa Luisa kembali menelentang di lantai, lalu direntangkannya kedua tangan Luisa ke samping dan dipeganginya pergelangan tangan wanita itu erat-erat. Kemudian kembali penis Mang Hamad menyodok-nyodok vagina Luisa. Luisa tidak bisa bergerak dengan posisi seperti itu. Tubuh Mang Hamad yang besar menindih tubuh putih mulus Luisa dengan ketat. Sodokan penis Mang Hamad menggenjot vagina Luisa dengan begitu kasar membuat pantat Luisa sampai terbanting-banting keras di lantai marmer yang dingin. Luisa yang sudah tidak punya tenaga lagi hanya bisa pasrah dan berharap ini cepat berakhir. Meski begitu Luisa harus menunggu cukup lama untuk itu. Selang sepuluh menitan Mang Hamad menggenjotkan penisnya, tubuh Luisa kembali menggeliat dan mengejang, hanya kali ini terlalu lemah.

“Ohh… aahh…” Luisa mengerang lirih dengan tubuh mengejang dan gemetar. Dari vaginanya yang kembali berdenyut keras, Mang Hamad segera tahu kalau gadis cantik yang sedang digagahinya itu kembali mengalami orgasme. Vagina Luisa mencengkeram penis Mang Hamad dengan kuat seolah hendak membetot penis itu sampai lepas.

“Udah dulu mang....aduh capek...istirahat dulu....” Desah Luisa.

Kali inin Mang Hamad menurut saja. Dia juga mau mengistirahtkan penisnya yang dari tadi `bekerja keras`. Dia lalu membopong Luisa. Direbahkannya gadis itu di atas ranjang. Luisa telentang dengan lemasnya. Entah sudah berapa kali dia orgame. Tapi dia tahu ini belum selesai. Luisa menerima minuman yang diberikan Mang Hamad. Kerongkongannya yang tadinya kering kembali terisi. Mang Hamad juga membantu Luisa mengurangi lemasnya dengan memijat-mijat gadis itu.

Pukul 17.40

“Terima kasih neng. Ini baru bayaran yang sepadan”

“Ya udah. Sekarang mana “barang” nya. Saya butuh banget” sahut Luisa

“Tuh ambil!” Mang Hamad mengeluarkan lembaran itu dari saku celananya pada Luisa.

Luisa tersenyum lalu ia buru-buru menyalin semua yang dalam kertas pada sebuah catatan kecil.

Lima belas menit kemudian Mang Hamad pun meninggalkan rumah Luisa dengan penuh kepuasan

************************

Keesokan harinya

Pukul 13.40

Sekolah sudah lenggang setelah bubaran jam 13.15 tadi, tidak ada kegiatan ekskul karena ini adalah minggu ujian. Di sebuah toilet di tingkat 3 yang jarang dilewati orang terdengar sayup-sayup suara desahan dari dalam.

“Aaah…iyahhh Mang, lebih keras dikit…ahhh….aahhhh!!!” erang Luisa yang bersandar pada tembok dan menerima hujaman penis Mang Hamad pada vaginanya.

Seluruh kancing seragam gadis itu telah terbuka dan cup bra nya telah terangkat ke atas, demikian juga celana dalamnya telah tergeletak di lantai dan roknya terangkat hingga pinggang. Crettt….crettt…beberapa kali semprotan sperma Bang Hamad mendarat di buah pantatnya yang sekal. Kedua insan itu baru saja mencapai puncak kenikmatan bersama di toilet itu.

“hihihi…untung ada Mang Hamad jadi tadi ujiannya lancar!” kata Luisa agak lemas sambil mulai mengancingkan kembali kemejanya.

“Pokoknya kalau Neng butuh bantuan sih cari aja Hamad bin Abdul Aziz, dijamin tokcer…asal imbalannya juga asyik punya dong hehhee!” kelakarnya genit sambil membelai pantat Luisa.

Ya…lembaran yang sejak kemarin sangat diinginkan Luisa itu tak lain adalah kunci jawaban pilihan ganda untuk UTS IPA hari ini. Luisa memang terbilang agak kurang dalam bidang studi satu ini, terutama kimia yang membuatnya sangat frustasi. Dengan kunci jawaban hasil curian Bang Hamad kemarin ia dapat mengerjakan ujian tadi dengan lancar, tentunya tidak semuanya dijawab sama persis seperti di kunci demi menghindari kecurigaan para guru. Sebagai harganya ia harus merelakan tubuhnya dinikmati oleh si penjaga sekolah tua itu.

“Udah ya Mang, saya pulang dulu…inget di luar jangan macem-macem loh, gak enak kalau diliat orang!” Luisa mewanti-wanti pria itu setelah membenahi diri dan hendak keluar dari toilet itu.

“Tenang neng…tenang, Mamang juga bisa dipecat atuh kalau ketahuan gitu hehehe” jawab Mang Hamad terkekeh-kekeh.

Sampai di tempat parkir, Luisa tampak bingung mencari-cari sesuatu di saku bajunya hingga tasnya.

“Ininya ketinggalan Neng?” tanya sebuah suara dari belakang yang mengejutkannya.

“Duh Mang, ngagetin aja, makasih ya, kayanya jatuh di atas tadi” Luisa pun menerima kunci mobilnya dari tangan Mang Hamad lalu menekan remotenya hingga pintu tidak terkunci. Luisa masuk ke jok kemudi, tapi sebelum ia sempat menutup pintu mobil, tiba-tiba Mang Hamad menahannya dan merangsek ke dalam menindih tubuh gadis itu.

“Mang…apa-apaan ini…aahhh…jangan! Aahhh!!” erang Luisa terkejut.

Selanjutnya pintu mobil tertutup dan mobil itu sedikit bergoyang-goyang, Mang Hamad nampaknya tidak puas-puasnya menikmati kehangatan tubuh si bunga sekolah itu.