Buat 17th++. Sex bukanlah hal yang buruk asal jangan berbuat kriminal. Cerita di blog ini ada kumpulan Cerita yang saya rangkum di dunia maya, jika ada pengarang yang sebenarnya belum saya cantumkan harap diingatkan dan gambar/foto yang di pakai hanya ilustrasi semata bukan yang sebenarnya, harap jangan ada yng mencoba menjadi pahlawan kesiangan. Bagi yang suka silahkan di baca bagi yang tidak suka jangan menghina. Belajar dewasa adalah manusia NORMAL..
Jumat, 24 Mei 2013
Aku di Perkosa Adik Iparku
Kontent ini Khusus Dewasa (18+)
Buat Anak di Bawah Umur, dan Buat Orang yg sok Munafik.., di LARANG KERAS MEMBACA.
perkenalkan namaku Namaku Elly. Usiaku kini 23
tahun. Aku sudah menikah dengan Albert yang kini berusia
25 tahun, dan kini aku adalah seorang ibu muda, dengan
seorang anak yang baru berusia 6 bulan yang kami beri
nama Michael. Sejak pacaran dan menikah sampai sekarang
ini, suamiku sering berpergian ke luar negeri untuk urusan
pekerjaan. Aku sendiri adalah wanita yang mendapat karunia
wajah yang cantik, itu menurut teman temanku. Aku
memiliki rambut yang lurus dan panjang sampai sebahu.
Tubuhku sudah kembali ramping dan indah seperti pujian
suamiku, meskipun aku baru melahirkan setengah tahun
yang lalu. Mungkin hal itu karena aku rajin mengikuti senam
aerobik, dan memang aku menjaga pola makan supaya
badanku tak semakin melar, dan aku sedikit banyak bangga
karenanya.
Aku sendiri tidak bekerja di luar, karena suamiku memiliki
penghasilan yang lebih dari cukup. Dan memang suamiku
ingin aku menjadi ibu rumah tangga yang baik saja, dengan
tinggal di rumah untuk merawat anak kami dengan baik.
Kehidupan seks kami juga luar biasa. Suamiku adalah lelaki
perkasa di tempat tidur, dan aku sungguh menikmati
kehidupanku ini. Kini kalau suamiku tak ada di rumah, aku
hanya tinggal dengan anakku, juga pembantu kami yang
kupanggil bi Iyem, satpam kami yang bernama Adrian,
tukang kebun kami yang bernama pak Jono, dan juga sopir
kami yang bernama Sarman. Di usiaku yang sekarang ini,
nafsu seksku tentu sedang tinggi tingginya. Ditinggal oleh
suamiku bekerja seperti ini, kadang aku amat merindukan
bermain cinta dengannya. Demikian sekilas tentang
keadaanku dan keluargaku.
Hari itu hari Sabtu. Siang hari itu, aku menerima telepon dan
aku terkejut dengan berita yang aneh. Aku mendapatkan
hadiah sebuah mobil lewat undian sebuah produk. Dan
seingatku, aku tak pernah mengikuti prosedur undian itu.
Dengan santai aku berkata, “Pak, terserah bapak mau bicara
apa, tapi saya tak akan pernah mentransfer uang apapun
untuk pajak atau yang lain”.
Dan orang itu berkata panjang lebar, “Ibu Elly, kami
memaklumi kalau ibu berhati hati, memang kami tak
menyuruh ibu membayar apapun, karena pajak hadiah
ditanggung oleh kami. Kami akan mengantarkan hadiah itu
langsung ke rumah ibu sekitar satu jam lagi. Gratis bu, tak
dipungut biaya apapun. Ibu boleh mencobanya, kalau
ternyata mobilnya bermasalah kami langsung mengganti
dengan yang baru. Tapi itu tidak akan terjadi bu, karena kami
sudah melakukan More…pemeriksaan terhadap mobil ini”.
Mendengar hal ini, aku hanya bisa mengangkat bahu dan
berkata, “Ya terserah bapak. Maaf, dengan bapak siapa saya
bicara?”.
Dan orang itu menjawab, “Dengan bapak Anto. Ibu bisa
menghubungi kantor kami di nomer *** ****. Aku
mengiyakan saja dan kemudian memutus pembicaraan.
Dalam hati aku merasa aneh, tapi ya kalau gratis, apa
salahnya?
Kulihat sekarang ini adalah jam 1 siang. Aku baru selesai
makan siang, maka aku menyusui dan menidurkan anakku,
supaya nanti ketika aku pergi aku tak begitu kuatir. Dan
memang satu jam kemudian aku mendengar bel rumahku
berbunyi, dan ketika aku keluar, aku melihat sebuah mobil
Kijang Innova keluaran terbaru, dengan cat yang mulus
mengkilap. Di belakangnya berhenti sebuah mobil Kijang
pickup. Mungkin untuk mereka yang mengantar mobilku ini
pulang nanti. Aku agak terkejut juga, berarti mungkin ini
benar. Seseorang turun dari mobil pickup itu, sementara
orang yang sudah berdiri di depan pintu rumah menyapaku.
“Bu Elly? Saya Anto”, kata orang yang bernama Anto itu
sambil mengulurkan tangannya.
Aku menjabat tangannya dengan sedikit perasaan ragu dan
menjawab “Elly”.
Orang itu memang penampilannya rapi. Tapi wajahnya agak
seram. Aku mencoba membuang semua pikiran negatif.
Dan kemudian orang satunya yang berpenampilan biasa
biasa, yang juga berwajah biasa biasa, menjabat tanganku.
“Seto”, katanya.
Aku menjabat tangannya dan menjawab, “Elly”.
Setelah acara kenalan yang menurutku hanya formalitas ini,
kami duduk di teras rumah, dan aku disodori formulir yang
aku baca di bagian awal dan akhir saja, untuk memastikan
aku tak keluar uang apapun untuk mendapatkan hadiah ini.
Lalu Anto menawarkan padaku untuk mencoba mobil itu,
karena nantinya aku harus mengisi formulir untuk
memberikan ‘penilaian’ tentang kondisi mobil itu, sebelum
acara serah terima surat kendaraan dilakukan. Aku setuju
saja, dan aku menerima kunci mobil itu dari Anto. Aku
masuk ke dalam mobil itu, joknya masih terbungkus plastik
semua, baunya khas mobil baru. Dan dengan didampingi
mereka, aku mulai mencoba mobil itu.
Semua baik baik saja, sampai tiba tiba di sebuah gang yang
sepi di dekat rumahku, Anto yang duduk di kursi depan
menarik handbrake. Aku terkejut sekali, sampai lupa
menginjak pedal kopling dan mesin mobil ini mati. Aku
menoleh kepada Anto, tapi belum sempat aku bertanya, dari
belakang aku dibekap, oleh Seto tentunya. Kurasakan bau
yang menyengat, dan tak lama kemudian semuanya gelap…
Perlahan aku mulai sadar. Aku mengeluh perlahan, ketika
aku tak bisa menggerakkan kedua tanganku yang terentang.
Sakit rasanya. Aku mulai mencoba mengerti apa yang terjadi
pada diriku. Ternyata kedua pergelangan tanganku yang
terentang ini, terikat erat pada semacam pilar di ruangan ini.
Sedangkan aku sendiri terbaring di atas matras. Yang
membuatku tercekat, aku sudah tak mengenakan apa apa
lagi selain bra dan celana dalamku. Kakiku memang masih
bebas, tapi apa artinya? Aku kini sudah tak berdaya dengan
tangan yang terpasung seperti ini. Aku memejamkan mata
dan menggigit bibir, tak sanggup membayangkan apa yang
akan terjadi padaku. Aku mulai menyesali kebodohanku tadi,
mengapa bisa terjebak dengan iming iming hadiah itu.
Tiba tiba pintu ruangan ini terbuka, lalu masuk seseorang
yang membuatku ternganga tak percaya pada
pengelihatanku.
“Arman?”, seruku tak percaya.
“Halo Elly… lama tak jumpa… bagaimana kabarnya?”, kata
Arman dengan senyum yang membuat hatiku dingin seperti
disiram air es. Aku takut sekali.
“Arman… apa yang kamu lakukan ini? Ingat Arman, aku ini
kakak iparmu. Tolong lepaskan aku..”, aku mencoba
menyadarkan Arman walaupun aku tahu ini mungkin sekali
merupakan hal yang sia sia.
Aku tahu Arman memang menginginkan aku sejak aku
dikenalkan Albert pada keluarganya. Arman adalah adik
Albert yang kini berusia 24 tahun. Wajahnya memang
cukup tampan. Dan sejak ia mengenalku, ia sudah beberapa
kali mencoba mendekatiku, tapi tentu saja aku tak
memberinya respon. Suatu hari ketika aku berkunjung ke
rumah Albert saat masih tinggal bersama keluarganya,
Arman nekat dan nyaris berhasil memperkosaku. Untung
saja waktu itu kepulangan Albert menyelamatkanku, dan
sejak itu aku tahu aku harus menghindari orang ini. Tapi kini
aku sudah jatuh ke dalam tangannya. Tanpa sadar aku
bergidik ngeri.
Mendengar kata kataku, Arman hanya tertawa. Ia
mendekatiku dan ‘krek…’. Arman merenggut braku hingga
tali talinya putus.
“Aduh…”, aku mengeluh perlahan, sedikit sakit rasanya pada
bagian tubuhku yang tertekan tali braku saat ditarik Arman.
Aku memejamkan mataku erat erat, malu sekali rasanya
payudaraku terlihat oleh laki laki lain selain suamiku.
“Elly… Elly… kamu kira aku segoblok itu sudah bersusah
payah menjebakmu seperti ini dan melepaskan kamu begitu
saja? Hahaha… aku belum gila, Elly”, kata Arman sambil
menyeringai mengerikan saat aku menatapnya dengan
marah bercampur takut.
“Arman, kamu gila… lepaskan aku!!”, aku mulai panik dan
membentaknya.
‘breeet… breeet’… seruanku dijawab Arman dengan
merenggut robek celana dalamku, hingga kini aku sudah
telanjang bulat.
Aku menjerit kecil. Kini aku hanya bisa memandangi Arman
dengan jantung berdebar ketika ia mulai melucuti pakaiannya
sendiri. Sesekali aku mencoba meronta, tapi tak ada hasil
sama sekali karena aku benar benar tak bisa menggerakkan
kedua tanganku yang terentang lebar. Aku tahu, nasib yang
buruk akan segera menimpaku, dan perlahan aku mulai
menangis.
“Lho sayang… kok nangis sih? Tenang saja, sebentar lagi
kamu juga akan keenakan kok”, ejek Arman yang sudah
bersiap di selangkanganku.
Aku semakin ngeri, dengan suara gemetar aku memohon,
“Arman, tolong jangan begini… aku ini kakakmu… kakak
iparmu… masa kamu tega berbuat begini padaku…”.
Arman tertawa sinis dan berkata dengan suara kasar, “Diam
Elly. Kamu telah merendahkanku. Kamu selalu menolakku.
Kamu tak pernah menghargai aku”.
Aku sadar kalau aku memang selalu menjaga jarak
dengannya, karena aku merasa ia berbahaya. Dan kini
memang semuanya terbukti kan?
Dan sambil merenggangkan kedua pahaku lebar lebar,
Arman melanjutkan, “Kamu tak pernah mau aku ajak pergi
makan berdua. Kamu anggap aku tak layak pergi
berdampingan bersamamu. Benar benar perempuan
sombong! Karena itu sekarang rasakan pembalasanku!”.
Berkata begitu, Arman menempelkan kepala penisnya ke
bibir liang vaginaku. Aku makin panik dan berusaha
menggerakkan pinggulku menghindari hunjaman penis
Arman saat Arman mulai memajukan pinggulnya.
Berhasil, penis itu tak sampai melesak masuk menerobos
liang vaginaku.
Tapi rupanya Arman marah dengan perbuatanku, ia
menamparku dengan keras, hingga aku mengaduh dan
menangis kesakitan.
“Jangan coba coba lagi Elly, atau nanti kamu akan kuberikan
pada dua kacungku di depan itu!”, ancam Arman dengan
suara yang mengerikan.
Mendengar hal itu aku langsung melemas dan pasrah, di sela
tangisanku, aku hanya bisa mengumpat getir, “Kamu gila..
Arman”.
Arman hanya tertawa dan aku hanya bisa membiarkan
kepala penis Arman menemukan bibir liang vaginaku, dan
sesaat kemudian aku mengerang kesakitan saat liang
vaginaku tertembus oleh batang penis Arman.
Aku mulai menangis saat Arman memompa liang vaginaku.
Walaupun aku sudah pernah melahirkan, tapi berkat senam
dan ramuan khusus, liang vaginaku kembali menyempit.
Konsekuensinya, kini aku merasa kesakitan karena liang
vaginaku dipompa penis Arman yang cukup besar.
Aku memalingkan mukaku supaya tak melihat wajah Arman
yang kesenangan karena berhasil mendapatkan tubuhku. Ia
meremasi kedua payudaraku dengan gemas, seolah
melampiaskan segala nafsunya yang tak kesampaian untuk
menikmati tubuhku sejak dulu. Sedangkan aku sendiri hanya
bisa terus menggeliat kesakitan.
“Elly… punyamu enaak”, erang Arman dengan tatapan
penuh gairah padaku sambil terus menggenjotku.
Ingin aku menamparnya, tapi kedua tanganku tak bisa
kugerakkan. Aku hanya bisa merelakan liang vaginaku
ditembusi oleh laki laki yang harusnya memperlakukanku
sebagai kakak iparnya. Tapi Arman memang sudah
kesetanan, ia mulai mencumbuiku dengan sangat bernafsu.
Bibirku dilumatnya dengan ganas, sementara kedua
payudaraku diremasnya dengan kuat.
Perlahan aku mulai terangsang karena perbuatan adik iparku
ini, rasa terhina karena diperkosa mulai berganti dengan rasa
nikmat yang melanda selangkanganku dan juga sekujur
tubuhku.
Rupanya vaginaku sudah mampu beradaptasi dengan
ukuran penis Arman yang tadinya terasa begitu
menyesakkan. Aku malu sekali, ingin rasanya aku
menyembunyikan wajahku yang terasa panas ini. Tapi tentu
saja hal itu tak bisa kulakukan, maka aku hanya bisa pasrah
namun mati matian berusaha menahan diri supaya tak
kelihatan menikmati hal ini.
Tapi sayangnya, tubuhku terlalu jujur, perlahan tanpa
mampu kucegah, pinggangku terangkat saat aku menahan
nikmat yang luar biasa. Kurasakan penis Arman melesak
begitu dalam ketika ia menghunjamkan kuat kuat kedalam
liang vaginaku, membuatku menggeliat keenakan seperti
cacing kepanasan.
Arman tertawa sinis dan mulai menghinaku, “Ternyata
kamu menikmati punyaku juga Elly. Makanya kamu jadi
cewek jangan sok suci.. hahaha.. kalau sudah kemasukan
gini, toh kamu keenakan juga..”.
Sambil menghinaku Arman terus memompa liang vaginaku
dengan gencar. Aku sudah tak tahu apa yang harus
kulakukan, karena perlahan tapi pasti aku sedang diantar
menuju orgasme.
“Arman… oohh… sudaah… ampuuun… ennngghh”, aku
mulai mengerang dan melenguh.
“Kenapa El? Enak ya?”, ejek Arman dan malah makin gencar
memompa liang vaginaku.
“Kamu…”, aku tak bisa menjawab, tubuhku menggigil,
selangkanganku serasa akan meledak.
Aku terus mengerang dan melenguh, sampai akhirnya aku
mengejang hebat, kepalaku terlempar ke sana kemari karena
aku menggelepar dihantam badai orgasme ini.
“Oh Elly… kamu cantik sekali kalau seperti ini”, desah Arman
yang tak menunjukkan tanda tanda akan orgasme,
sementara aku sendiri sedang menderita dalam kenikmatan
orgasme yang berkepanjangan ini, dan nikmatnya
selangkanganku yang terus dipompa Arman semakin
menjadi jadi.
Namun rasa ngilu mulai menghampiri liang vaginaku, dan
makin lama rasa itu makin menderaku.
Aku sudah tak kuat lagi, dan berteriak “Armaaan… aaaaah…
hentikaaaan… amppuuuun…”.
Ia benar benar perkasa seperti suamiku, hanya saja suamiku
lebih pengertian, membiarkanku beristirahat kala aku
mengalami orgasme. Sedangkan Arman sama sekali tak
memperdulikan keadaanku, ia hanya mencari
kenikmatannya sendiri.
Aku makin menderita dalam kenikmatan ini, rasanya tulang
tulang di dalam tubuhku terlepas semua dari
sambungannya, sementara tubuhku meliuk liuk dan
menggelepar terhempas badai orgasme yang terus
menerus ini. Entah cairan cintaku sudah membanjir berapa
banyak, aku mulai pening dan tak mampu mengerang lagi.
Dengan kejam Arman terus memompa liang vaginaku,
sampai akhirnya ruangan ini rasanya berputar, semuanya
gelap…
Ketika aku mulai sadar, kurasakan kedua puting susuku
seperti ada yang mengulum dan menyedoti dengan kuat.
Vaginaku masih terasa sedikit sakit, tapi sudah tak terasa
sesak, artinya Arman sudah selesai memompa liang
vaginaku. Becek sekali rasanya liang vaginaku, aku tahu si
brengsek itu pasti mengeluarkan spermanya di dalam sana.
Untungnya aku sedang dalam masa tidak subur, jadi aku tak
perlu takut hamil. Tapi kini aku sadar, ada dua orang
sekaligus yang mengulum puting susuku, yang berarti ada
orang lain selain Arman. Dan aku mulai mengenali mereka
berdua ini, bahkan Arman bukan salah satu dari mereka.
Ternyata Anto dan Seto yang kini sedang menyusu pada
kedua payudaraku.
“Jangaaaan”, aku menjerit ngeri.
Aku tak bisa berbuat apa apa, kedua tanganku yang
terentang ini tak bisa kugerakkan sedikitpun, sementara
mereka berdua dengan santai meneruskan perbuatan
mereka.
“Lepaskan aku… Armaaan kamu bajingaaaan…”, aku
mengumpat dalam keputus asaanku.
Dan kudengar tawa yang membuatku bergidik ngeri.
Kemudian aku melihat Arman masuk, dan memegang
handycam.
Ia merekamku! Merekamku yang sedang pasrah tak berdaya
saat kedua puting susuku disedot oleh kedua kacungnya.
“Biadab kamu Arman… Kamu kan sudah janji..”, aku
langsung terdiam.
Bajingan ini memang tak pernah berjanji apa apa.
“Kenapa Elly? Kok diam? Apa aku salah? Aku memang tak
pernah berjanji kalau kamu tak akan kuberikan pada mereka
bukan? Hahahaha…”, Arman tertawa dengan memuakkan.
Aku hanya bisa menangis. Habislah aku, aku sudah dalam
cengkeraman Arman sepenuhnya. Entah seperti apa nasibku
di hari hari berikutnya. Sementara kedua kacung Arman ini
tertawa senang, dan mereka kembali mencucup kedua
puting susuku dengan bersemangat, tak lupa tentunya
mereka juga meremasi payudaraku.
Beberapa saat kemudian, dengan gaya yang menjijikkan,
mereka membuka mulut mereka yang penuh air susuku ke
arah kamera.
“Wow.. air susu Elly”, kata Arman sambil menyorot mulut
kedua kacungnya.
Kedua orang itu menelan air susuku.
“Bagaimana rasanya Anto? Seto? Enak tidak?”, tanya Arman
penasaran.
“Gurih abis bos, susu amoy gini”, kata Anto.
“Lebih enak dari susu sapi”, sambung Seto.
Kurang ajar sekali mereka ini. Dan Arman kelihatannya
penasaran, lalu ia menaruh handycamnya.
“Aku juga ingin coba”, gumannya.
Ia mendekati payudaraku, dan setelah memberikan beberapa
jilatan yang membuatku mau tak mau merasa terangsang,
tiba tiba ia sudah mencucup puting susuku. Beberapa
sedotan dilakukannya, sementara aku hanya bisa mendesah
keenakan.
“Bos, susunya diremas”, kata Anto.
“Bisa tambah banyak keluarnya”, Seto menyambung.
Maka Arman menyedot puting susuku sambil meremasi
payudaraku. Aku sedikit menggeliat kesakitan. Ia terus
melakukannya sampai puas, sementara aku hanya bisa
menggigil menahan nikmat.
“Susu yang enak, Elly”, kata Arman dengan nada puas.
“Nanti aku minta lagi”, sambungnya sambil kembali
mengambil handycamnya.
“Lanjutkan”, perintah Arman pada Anto dan Seto.
Mereka berdua yang sudah melepaskan semua baju mereka
hingga telanjang bulat selagi menunggu Arman mencicipi
susuku. Mereka tentu saja kembali mengerubutiku dengan
kesenangan.
Handycam itu kembali merekamku. Kini Anto dan Seto
berniat memuaskan diri mereka sendiri, bisa terlihat dari
mereka mengocok penis mereka sendiri untuk makin
menegangkan ereksi penis mereka. Melihat ukuran penis
mereka berdua ini, aku makin ngeri. Baik panjang maupun
diameternya semuanya lebih dari ukuran milik Arman.
Aku berusaha mematikan semua perasaanku. Kini aku
digumuli oleh dua kacung si Arman. Kedua pahaku
dilebarkan oleh Anto. Aku masih terlalu lemas untuk
mencoba menghindar.
Akibatnya, bless… kembali liang vaginaku tertusuk oleh
sebatang penis.
Aku menggigit bibir, menahan segala perasaan malu dan
sakit ini, air mataku terus mengalir. Handycam yang
dipegang Arman terus menyorot ke arah vaginaku yang
sedang dipompa oleh Anto. Mukaku rasanya panas sekali
membayangkan aku sedang membintangi film porno amatir
ini.
Perlahan Arman mengarahkan sorotan handycamnya ke
arah tubuhku bagian atas, dan sempat berhenti agak lama
ketika menyorot kedua payudaraku. Seto sempat meremasi
kedua payudaraku dan semua itu disorot oleh Arman.
Sementara itu tubuhku harus terus menggeliat karena
menerima rangsangan dua orang sekaligus. Liang vaginaku
dipompa dengan gencar oleh Anto sementara kedua
payudaraku diremas dengan gemas oleh Seto. Aku sendiri
antara mendesah keenakan dan merintih kesakitan. Liang
vaginaku masih belum beradaptasi sepenuhnya dengan
ukuran penis Anto, tapi sudah mendatangkan nikmat yang
membuatku serasa melayang.
“Sudah… hentikaaan…”, aku mengerang dan mulai
menggelepar, karena kurasakan liang vaginaku kembali ngilu
dipompa segencar itu.
Anto sendiri kelihatannya sudah akan berejakulasi, tubuhnya
bergetar hebat saat menggenjotku, dan tak lama kemudian
ia mengerang panjang dan meneriakkan namaku,
“Ooouuuhhh… bu Ellyyy…”.
Tubuhnya berkelojotan di atasku, dan kurasakan penisnya
berdenyut keras di dalam sana. Beberapa semprotan lahar
panas kurasakan membasahi liang vaginaku, dan Arman
segera bergerak ke tempat yang bagus untuk menyorotan
handycamnya ke arah vaginaku. Kurasakan Anto mencabut
penisnya perlahan, dan Arman terus menyorot daerah
vaginaku, aku malu sekali. Gejolak yang sempat membuatku
hampir orgasme kini mereda. Tapi gilanya, si Seto langsung
bersiap menggilirku, ia sudah mengarahkan penisnya ke
liang vaginaku. Aku memang tak bisa apa apa, hanya bisa
menggigit bibir saat kurasakan liang vaginaku tertusuk oleh
penisnya Seto. Hanya saja sekarang rasanya tak begitu sakit,
dan setelah beberapa genjotan, Arman menyorot mukaku,
karena si Anto sudah menempelkan penisnya ke mulutku.
“Elly, ayo kulum”, perintah Arman.
Aku hanya bisa menurut, toh aku sudah tak ada gunanya
lagi membantah. Daripada aku mendapat tamparan atau
siksaan lain, aku lebih baik mengikuti kemauan bedebah ini.
Perlahan kubuka mulutku, dan penis Anto yang masih
belepotan sperma dan cairan cintaku, menerjang masuk ke
dalam mulutku. Rasanya amis dan asin, membuatku ingin
muntah. Tapi aku berusaha tak memikirkan rasanya, dan
ingin cepat menyelesaikan tugasku. Aku terus mengulum
penis si Anto ini, kubersihkan cepat cepat dan kutelan semua
sisa spermanya dan cairan cintaku sendiri. Anto yang sudah
tak tahan mengerang panjang dan menarik penisnya dari
mulutku.
Penderitaanku belum selesai.
“Buka mulutmu, Elly”, perintah Arman sambil menyorotkan
handycamnya ke mulutku.
“Perlahan!”, perintahnya lagi.
Aku mulai membuka mulutku perlahan, dan Arman terus
menyorot mulutku.
“Bagus”, katanya dengan puas.
Aku malu sekali, pasti aku terlihat layaknya seorang wanita
nakal dalam handycam itu. Tak lama kemudian tubuhku
terguncang guncang, rupanya Seto mulai menikmati liang
vaginaku. Dengan bersemangat ia menggenjot liang
vaginaku, sementara aku tak tahu bagaimana sekarang raut
wajahku saat menahan malu dan nikmat dan disorot oleh
handycam milik Arman. Panas sekali wajahku rasanya,
untungya Arman kemudian ganti menyorot tubuhku bagian
bawah. Kini aku tinggal memusatkan perhatianku pada si
Seto.
Diam diam aku melakukan gerakan kegel, sejenis gerakan
menahan buang air kecil, sambil pura pura merintih
keenakan, supaya Seto cepat ejakulasi dan semua ini segera
berakhir. Sesuai harapanku, tak lama kemudian Seto yang
terangsang habis habisan, melolong lolong dan meneriakkan
namaku.
“Aaaaarrrrghh… Bu Ellyyyyy…”, jeritnya dan kemudian ia
menarik penisnya, tentu saja setelah di dalam sana liang
vaginaku dibasahi lahar panasnya.
Arman dengan giat terus menyorot liang vaginaku yang
tentunya tak mampu menampung sperma kedua
pemerkosaku ini. Jari tangannya ditusukkan ke liang
vaginaku mengorek sisa sperma Anto dan Seto. Seto sendiri
segera beranjak ke arah wajahku, aku tahu ia hendak
menagih jatah servis oral dariku.
Seperti tadi, Arman yang buru buru mengarahkan
handycamnya ke wajahku memberikan instruksi instruksi
padaku hingga membuatku kembali terlihat seperti pelacur.
Tapi aku hanya bisa menurutinya, walaupun dengan hati
pedih.
Setelah semua selesai, Arman mematikan handycamnya.
“Arman, sudah, lepaskan aku… please”, aku memohon.
Tapi Arman tak menjawab, malah ia dengan bernafsu
melihat ke arah payudaraku.
Aku langsung tersadar dan teringat keinginan Arman tadi,
yaitu ingin merasakan air susuku lagi.
Dan memang benar, Arman segera melumat puting susuku,
ia menyedot susuku sepuas puasnya. Aku mendesah
keenakan, memang rasanya nikmat sekaligus amat
merangsangku. Aku menggigit bibir, apalagi Anto ikutan
melakukan hal yang sama pada puting susuku yang sebelah.
Kini dua orang dewasa menyusu pada kedua payudaraku
seperti bayi, dan aku hanya bisa memejamkan mata
berharap mereka segera selesai.
Aku melamunkan suamiku… maafkan aku Albert… aku
bahkan sempat orgasme ketika diperkosa adikmu…
Tak terasa sampai si Seto juga sudah puas menyusu, dan
akhirnya ikatanku dilepaskan. Lega rasanya, walaupun terasa
sakit pada bekas ikatan di kedua pergelangan tanganku. Aku
duduk dan mengurut kedua pergelangan tanganku, dan aku
memandang Arman dengan benci sekaligus takut, karena
dengan rekaman handycam itu, ia pasti akan
menggunakannya untuk mengancamku agar menurutinya
kelak kalau ia menginginkan tubuhku lagi. Ia tersenyum
dengan penuh kemenangan ketika bersama dua kacungnya
melihat hasil rekaman film porno tadi.
Aku malu sekali, dan aku mencari cari pakaian luarku yang
ternyata berserakan tak jauh dari tempat aku digangbang
tadi.
“Sudah puas kalian?”, bentakku dengan jengkel dan
menahan tangis.
Aku memakai pakaianku tanpa bra dan celana dalam.
Keduanya memang sudah tak bisa aku pakai karena tadi
direnggut paksa dari tubuhku hingga robek. Mereka tertawa
tawa dan beberapa saat lamanya mereka menonton
rekaman pemerkosaan terhadap diriku, kemudian Arman
mematikan handycamnya. Ia menghampiriku dan tiba tiba
melumat bibirku.
Aku menarik wajahku ke belakang untuk melepaskan diri
dari ciumannya, lalu aku menamparnya, keras sekali.
“Bajingan kamu Arman! Kamu tega sekali melakukan ini
semua… sekarang antarkan aku pulang!”, kataku lirih, sambil
menangis.
Arman mengelus pipinya yang baru kutampar keras itu dan
memandangku dengan aneh. Aku bergidik ditatap oleh
Arman seperti itu. Lalu Arman melangkah ke arah luar diikuti
oleh kedua kacungnya. Aku mengikuti mereka, dan dengan
tegang aku masuk ke dalam mobil Kijang Innova pembawa
petaka itu. Aku duduk di kursi penumpang depan, Arman
yang menyetir, sementara Anto dan Seto duduk di belakang.
Dalam perjalanan, kami semua diam, sedangkan aku sendiri
dalam ketegangan yang luar biasa, karena aku berada
semobil dengan para pemerkosaku. Tapi untungnya mereka
tak melecehkanku lebih lanjut, dan mobil sialan ini mengarah
ke rumahku.
Ketika aku turun dari mobil, aku mendengar Arman berkata,
“Elly, sampai ketemu lagi, kapan kapan kita main main lagi
ya”.
Dengan muak aku membanting pintu mobil, dan aku segera
masuk ke dalam rumah sambil menahan tangis.
Aku segera melihat anakku. Agak lega melihatnya masih
tertidur pulas.
Aku segera mandi dan keramas, membersihkan tubuhku
yang sudah ternoda oleh adik iparku yang bejat itu, yang
tega menyerahkanku pada dua kacungnya. Aku memang
rindu bermain cinta, tapi itu adalah dengan suamiku sendiri,
bukan dengan Arman, bukan dengan mereka ini. Apalagi
diperkosa seperti tadi, sakit sekali hatiku rasanya. Tanpa
sadar aku kembali menangis.
Aku tahu hari ini adalah hari pertama aku mengalami
penghinaan seperti ini, dan ini bukan hari terakhir.
Terbukti dua hari kemudian, aku mendapat kiriman DVD dari
Arman, yang berisi rekaman pemerkosaan terhadap diriku
oleh dua kacungnya itu, dengan sebuah surat bertuliskan
“Elly, lain kali kita bermain tanpa ikatan pada kedua
tanganmu… kamu pasti akan lebih menikmatinya”.
E N D
Pekosaan : Kunikmati perkosaan itu
O ya..namaku Dita, kini usiaku menjelang 24 tahun Selama ini
saya dan Mang Sardi sudah lama tidak melakukan belaian seperti
dulu, mungkin 10 bulan lamanya sejak Dedi kemenakan mang
Sardi merengut kegadisanku…dan tanpa saya sadari ternyata
setelah kepulangan Dedi ke kampungnya Subang, dia(Dedi)telah
menceritakan kisahnya sama mang Sardi pamannya itu yang
sampe saat ini kembali kerja sebagai sopir keluarga Kami.
Hingga suatu saat Mang Sardi bertanya seperti ini kepadaku
“Neng Dita kenapa melakukannya sama keponakan mamang??”
Kontan saja saat mang Sardi Tanya itu saya kaget sekali, saya
pikir Dedi akan diam seribu bahasa, tapi kenyataannya Dedi malah
cerita ke pamannya itu, dan saya malu sekali mendengarnya
langsung dari pertanyaan Mang Sardi, padahal beberapa bulan
lalu atau mungkin satu tahun lalu Mang Sardi hanya membelai-
belai daerah sensitifku dan tidak berani untuk membobol
keperawananku yang ternyata keperawananku hancur oleh
keponakannya sendiri . saat itu saya hanya tertunduk malu ketika
Mang Sardi Tanya masalah itu ke saya yang kira-kira pada awal
bulan November 2003 menjelang puasa , yang sudah hampir 10
bulan sejak Dedi membobol keperawananku saya tidak pernah
bermain belaian seks sama siapapun termasuk Mang Sardi,
karena sejak saya berhubungan badan untuk pertama kalinya itu
saya anggap itu yang terakhir kali melakukannya (malah saya
sempat bersumpah untuk tidak melakukan kegiatan seks sekecil
apapun), tapi terus terang saja kalo saya betul-betul tersiksa
dengan gejolak seks yang sudah saya tahan sejak 10 bulan lalu.
Dan ternyata Mang Sardi mengungkit lagi masalah itu sehingga
terlintas lagi bayangan seks di pikiranku ketika mang sardi
bertanya tentang hubungan seks ku dengan keponakannya. Saat
mang Sardi Tanya itu saya lagi nonton tivi di ruangan bawah pagi
jam 10 dan seperti biasa di rumah sepi karena ortu pada kerja
dan adikku sekolah.
Saya masih ingat betul saat itu tanggal 4 November 2003 atau 2
hari menjelang puasa. Saya jawab saat itu begini “ah Mang Sardi
….udah ah jangan Tanya masalah itu lagi, dita jadi malu
dengernya…” begitu kira-kira jawabku saat itu…lalu mang Sardi
tersenyum sambil agak mendekatkan wajahnya ke arahku yang
saat itu sedang tiduran di sofa depan tivi dan ngomong seperti ini
“dulu neng Dita suka diusap sama mamang….kalo mamang
ngajak Neng Dita lagi usap-usapan lagi kira-kira neng Dita mau
ga??” Saya tentu saja menggeleng sambil menyuruh mang Sardi
meninggalkan ruangan keluarga “udah mang jangan ganggu Dita
deh…mending Mamang ke dapur aja gih!!!” kataku setengah
menghardik saat itu. karena jenuh nonton tivi saya kepengen
mandi pagi saat itu yang kebetulan ada kuliah jam 12 dan
langsung menuju kamar mandi dan setelah selesai keramas saya
langsung menuju ke atas kamarku sambil pake daster dan di
kamar saya langsung pasang hair dryer untuk keringin rambut
sambil terlihat pintu kamarku setengah terbuka karena aku
anggap ga ada siapa-siapa diatas aku membuka daster yang
kebetulan tidak memakai cd dan bh jadi langsung aku buka saat
itu dan ternyata mang Sardi mengintip kegiatanku membuka
daster yang sudah pasti saat itu saya telanjang bulat. Saya lihat
dari cermin kamar bayangan Mang Sardi sedang menyapu tapi
tatapannya ke arah tubuhku saya memekik kaget dan menutup
kamar dan ternyata Mang Sardi malah lebih nekat memasuki
kamarku yang kebetulan ga ada kuncinya itu saya menutup
dadaku dengan tanganku saat itu dan memohon ke mang Sardi
untuk meninggalkan kamarku saat itu eh dia malah tersenyum
sambil bilang gini “neng Dita kenapa jadi penakut begitu padahal
beberapa waktu lalu Neng Dita meminta mamang untuk
mengusap-ngusap neng Dita, mamang kepengen merasakan
seperti yang Dedi rasakan waktu itu boleh kan, dijamin mamang
ga akan melakukannya dengan kasar kok ”begitulah katanya
dengan tetap melihat bagian tubuhku yang vital, saat itu saya
hanya menutup pake tangan kemaluanku dan dadaku dan tentu
saja bagian-bagian tubuhku yang lain terlihat jelas putih dan
mulus.
Saat itu Mang Sardi makin berani mendekatiku sambil
mendesakku ke arah dinding kamarku yang membuat saya
semakin ketakutan karena saat itu saya berjanji ga akan
melanggar sumpahku untuk tidak melakukan kegiatan seks
dengan siapapun walau beberapa bulan lalu saya sempet minta di
usap-usap sama mang Sardi.
O ya saat itu saya masih tetep single ga punya pacar karena takut
sama mama kalo punya pacar, dan setelah mang Sardi semakin
mendesak ke arah dinding semakin dekat pula hembusan
nafasnya di wajahku dan dia mulai membelai rambutku sambil
saya memohon ke dia untuk tidak meneruskan aksinya sampai
saya bilang begini” mamang jangan teruskan, dita udah janji ga
akan lagi seperti dulu-dulu saat sama mamang karena dita takut
ketagihan mang, tolong mang hentikan…” sambil sedikit demi
sedikit berjongkok sambil tetap tanganku menutup aurat yaitu
dada dan kemaluanku dengan keadaan telanjang saat itu , eh
mang Sardi malah bilang gini”tenang neng Dita mamang pasti
akan lembut melakukannya Neng….soalnya mamang lihat akhir-
akhir ini neng Dita sering melamun dan semakin hari neng Dita
semakin membuat mamang jatuh cinta dengan kemulusan dan
kecantikan neng Dita, apalagi disaat neng Dita dibalut handuk ,
aduh mamang mah ga kuat melihatnya juga neng…beda sekali
dengan beberapa bulan lalu neng….saat ini neng Dita semakin
kelihatan cantiknya”katanya dengan logat sunda merayu dan saat
saya berjongkok begitu saya memejamkan mata saat dia mulai
elus-elus rambut,pipi dan kelopak mata saya yang saat itu agak
sedikit air mata,dan tangannya terhenti di telinga dan usap-usap
di telinga sambil sesekali melebar usapannya ke leher yang
lambat laun merangsang gairah seksku yang saat itu sudah tidak
mens lagi sejak 3 hari.
Saya pun terdiam disaat mamang ikut jongkok dan membelai
tangan yang menutup bagian dada, sambil tetep memejamkan
mata ini, dan mamang membukakan tangan ini dari dada dan
anehnya saya pun menurut saat itu ketika dadaku mulai terbuka
karena mamang menyibakkan tangan yang menghalangi dada
ini. Lalu dia menaruh tangan kiri saya ke bawah sehingga di posisi
jongkok itu dia bisa secara jelas melihat dadaku kiri dan kanan
yang mancung, dan mamang pun mulai membelai dada ini saat
itu sambil tetep kami berjongkok berdua dan sesekali dia melihat
ke arah kemaluanku yang masih ku tutup dengan tangan
kananku dan tangannya menyibakan tangan kanan ku yang saat
itu menghalangi kemaluanku dan sayapun seperti dihipnotis
menurut dengan lemah saya turunkan tangan kananku saat itu
sehingga posisiku waktu itu berjongkok bersandar ke dinding
kamar dan tanganku dua-duanya saya turunkan ke bawah yang
tentu saja dengan leluasa Mang Sardi melihat pemandangan
indah yang akhir-akhir ini ngga pernah lagi dinikmatinya seperti
dulu.
Dan setelah mang sardi mulai menyentuh kemaluanku dengan
posisi berjongkok itu sayapun ikut hanyut menikmatinya karena
sudah lama sekali saya tidak melakukannya sejak 10 bulan lalu
berhubungan badan pertama kali dengan keponakannya Dedi.
Saya memejamkan mata dan mencoba menikmati suasana itu
sambil sesekali tak sadar mengeluarkan suara desahan yang
mungkin membuat mang Sardi tambah bernafsu saja saat itu.
Lalu dia mencoba memangku tubuhku saat itu ke atas ranjangku
dan anehnya saya mengulurkan tangan saat itu seperti memberi
akses kepadanya untuk lebih jauh lagi melakukan kenikmatan.
Saat itu saya betul-betul hanyut dengan sentuhannya dan melihat
jam di dinding kamarku sudah jam 12 siang,artinya saya harus
kuliah tapi ga kepikir untuk bersiap-siap kuliah hanya perasaan
nikmat yang ada dipikiranku saat mang sardi mengangkat
tubuhku ke atas kasur…dan adegan berikutnya mang Sardi
membuka ghespernya yang usang itu lalu pelan-pelan sekali
membuka celananya sendiri yang ternyata dia ga pake celana
kolor lagi saat itu dan terlihatlah kemaluannya yang menegang
kalo dibandingkan dengan burung keponakan nya lebih kecil
diameternya tapi lebih putih warnanya…sambil membuka
celananya itu dia masih tetap memakai kemeja lusuhnya dan
meminta saya untuk mengusap kemaluan yang tegang itu. Saya
pun dengan pelan-pelan meraih kemaluan mang Sardi yang
hangat dan berdenyut lalu perlahan mengocoknya seperti yang
pernah saya lakukan setahun lalu di mobilku bersamanya.
Dia dengan posisi berlutut merem melek ketika saya
mengocoknya perlahan sementara saya hanya berbaring saja di
kasur dengan posisi tidur terlentang dan sesekali dia melihat ke
arahku dan tak lama dia meraih buah dadaku yang putih mulus,
memang dadaku ini sedang untuk ukuran cewe hanya 34b
nomor bh ku tapi mancung, putih dan mulus tanpa cacat,
mungkin itu yang membuat mang Sardi tergila-gila. Lalu
kemudian dia mendekatkan wajahnya ke wajahku dan berusaha
mencium bibirku tapi aku menolaknya dengan menggelengkan
kepala di bantal saat itu dan dia hanya menciumi kening leher dan
dadaku lalu ciumannya ke perut dan berakhir di kemaluanku yang
sudah basah sekali …ah nikmat sekali rasanya…saya menolak
diciumnya karena mang Sardi perokok jadi bau sekali nafasnya
dengan bau rokok cerutu kebiasaannya. Tapi saat dia berlama-
lama cium daerah kemaluanku saya betul-betul di awang-awang
dan mengejang seperti ingin pipis tapi nikmat sekali.
Setelah saya orgasme dan tubuhku bersimbah keringat dia
menghentikan kegiatannya, lalu Tanya gini ke saya”neng
Dita….kalau burungnya mamang dimasukin ke itu nya neng
Dita…boleh ga??”katanya lembut Saya hanya menganguk saat itu
lalu dia bilang lagi”tapi neng Dita istirahat saja dulu…mamang liat
neng Dita kepanasan” Saya menganguk saat itu, memang cuaca
di atas sini panas sekali kalo siang-siang apalagi jam 12-an. Tak
lama 15 menit kemudian mang Sardi membawakan air putih
dingin dari bawah dengan hanya pake baju kemeja lusuhnya saja
dan terlihat burungnya mengecil Lalu setelah saya meminumnya
dia Tanya begini”neng Dita saat itu pernah mengulum burung
nya Dedi ngga?”tanyanya polos,aku pikir saat itu “dasar dari
kampung,polos banget pertanyaannya” lalu menggeleng jujur…
dan dia tersenyum seakan dia ingin dikulum burungnya.
Dan setelah saya menaruh gelas di meja dia naik lagi ke kasur
kamarku dan mulai membelai dadaku lagi….saya kemudian
berbaring lagi memejamkan mata dan mulai menikmati
sentuhannya lagi sambil agak mengangkat kaki kiriku saat itu saya
mengerang dan mendesah saking nikmatnya dan burung mang
Sardi terlihat berdiri lagi dan mendekatkannya ke arah mulutku
saya sempet menggeleng tapi dia setengah memaksa
mendekatkan kemaluannya ke arah bibirku sekilas tercium bau
keringat di sekitar kemaluannya dan saya berusaha untuk tidak
menghirupnya dan mencoba membuka mulut ini saat mamang
menyodorkan kemaluan yang diameternya lebar itu dan saat
saya mulai menyentuhkan lidah ke liang penisnya terasa asin dan
aneh lalu lambat laun saya memasukan agak lebih dalam ke
mulutku…dan itu adalah kemaluan laki-laki ke dua yang aku
kulum setelah kemaluan Dedi keponakannya beberapa waktu lalu.
Agak lama saya memaju mundurkan kepalaku saat mengulum
kemaluan mang sardi di mulutku saat itu dan terasa pegal
mulutku saat itu dan akhirnya sekitar 15 menit kemudian keluarlah
air kental berasa aneh dari kemaluannya yaitu sperma mang
Sardi muncrat tepat di mulutku yang mungkin setengahnya
termakan olehku saat itu , saya sempat tersedak dan mau
muntah tapi ditutupkan mulutku ini sama mang sardi waktu itu,
sehingga termakan hampir seluruhnya sperma nya itu. Setelah
itu dia mencoba menjilati kemaluanku yang basah sambil sesekali
tangannya aktif membelai dadaku dua-duanya lama sekali
sehingga saya merasakan orgasme ke 2.
Setelah kami istirahat ½ jam sambil sesekali bercerita dengannya,
kami mulai melakukan kegiatan lagi yang ketiga kalinya saya liat
jam 2 siang artinya saya ga kuliah hari itu, sementara ortuku
sama ade ku ada di rumah tepat jam 6 sore.
Saat itu sempet terpikir olehku kalo mang Sardi ini ingin mencicipi
tubuhku seperti keponakannya membobol keperawananku. Tapi
saya ga peduli saat itu yang ada hanyalah kenikmatan demi
kenikamatn saat itu yang kami lakukan berdua, betul-betul hari
yang melelahkan sekaligus mengasikan.
Saat kegiatan yang ke 3 ini kami mulai belai satu sama lain dia
belai dada kemaluan paha dan punggung,sementara saya belai
penis dada dan sesekali wajahnya dan saat itu kami sempet
berciuman bibir rasanya aneh sekali, mang sardi yang usianya 50
tahunan menciumi bibir mungilku yang merah ini tapi saat
bermain lidah itu enak rasanya dan saat itulah mang Sardi
mengarahkan penisnya ke kemaluanku. mamang terlihat hati-hati
dan pelan-pelan memasukannya karena masih sempit dan terasa
perih beberapa kali ga berhasil masuk tapi setelah dengan sabar
dia mangarahkannya dan saya Bantu dengan mengarahkan
penisnya ke kemaluanku akhirnya masuk juga walau agak sedikit
nyeri(maklum saya hanya dua kali melakukannya lagi pula
rentang waktu 10 bulan cukup lama) yang pada akhirnya saya
merasakan nikmat tiada tara yang lebih nikmat melakukannya
dibanding dengan keponakannya itu.
Setelah sekian lama kami bersenggama akhirnya saya
berteriak”ahhhhhhh……mmmmaaamma
kellluaaarrrrr”maka saya pun orgasme untuk ke 3 kalinya
sementara mang sardi terl;ihat blum keluar dan dia mencabut
kemaluannya dan menyuruh saya mengulumnya kali itu agak
lama saya mengulumnya dan terasa pegal mulut ini hampir ½
jam akhirnya keluar juga spermanya….dan kami masing-masing
berpakaian setelah terlihat jam dinding sudah jam 4 sore……
Sejak saat itu sampe sekarang kami sering melakukan hubungan
badan ini yaitu dengan mencuri-curi kesempatan di saat rumah
sepi.
E N D
ANTARA JAKARTA DAN BANDUNG
Laki-laki brengsek!, Merry mengumpat seraya menekan pedal gas
Cielonya dalam-dalam. Ia saja melewati pintu tol menuju
Bandung, tapi pikirannya masih mengingat kejadian siang tadi
ketika ia melihat Rendy, tunangannya sedang menyuapkan
sesendok makanan ke seorang wanita di sebuah café. Ketika
Merry mendekati mereka wajah Rendy langsung pucat dan
tergagap-gagap ia menjelaskan yang diyakini oleh Merry tidak ada
satupunyang bisa dipercaya.
Oleh karena itu, ia memutuskan untuk berakhir pekan ke Bandung.
Melupakan kekesalan hatinya. Ia langsung berangkat sepulang
kerja, setelah mengepak keperluan secukupnya untuk berakhir
pekan, Merry langsung berangkat menuju rumahnya yang ada di
pinggiran kota Bandung.
Setelah beberapa saat keluardari pintu tol, dan hari sudahgelap,
sekitar pukul 8 malam. Tiba-tiba mesin mobilnya berbunyi aneh.
Dan tanpa disangka-sangka asap mengepul dari kap depan
mobilnya menutupi dan mesin mobilnya langsung terbatuk-batuk
dan berhenti. Dengan sisa-sisa tenaga, mobil itu berhasil
dkemudikan ke pinggir jalan oleh Merry yangkebingungan dan
panik melihat asap yang mengepul dari depan.
Merry masih berusaha untuk menyalakan lagi mesin mobilnya,
tapi sia-sia. "Shit!" Merry keluar dari mobil dan menemukan dirinya
ada di pinggir jalan yang gelap, sumber cahaya hanya dari bulan
purnama yang sedang bersinar. Hampir tidak ada mobil yang
lewat, sedangkan tidak ada tanda-tanda di sekitar situ ada rumah
penduduk.
"Damn, gue musti nginep di mobil, sialan!", Merry menendang
ban mobilnya. Udara sekitar situ agak panas, untung Merry hanya
mengenakan t-shirt dan celana pendek, sehingga panasnya udara
tidak begitu mengganggunya. Sedangkan untuk makanan, ia
sudah mempersiapkan bekal untuk selama di perjalanan,
biarpunseadanya tapi cukup untuk mengganjal perut.
Tapi Merry masih tetap berharap akan ada mobil yang lewat yang
bisa membawanya ke bengkel atauwartel sehingga ada yang bisa
menjemputnya. Rupanya Merry tidak usah menunggu terlalu
lama. Tak berapa lama
terdengar suara deru kendaraan mendekat, lalu terlihat sepasang
lampu, makin lama makin terang dan terlihat sebuah mobil box
mendekati tempat Merry. Merry langsung berdiri di tepijalan dan
melambai-lambaikankedua tangannya.
"Haaii! Tolong Saya!". Box itu berhenti dan minggir dua orang
keluar. Yang satu berbadan hitam dan besar serta berotot,
sedangkan yang satu lagi botak, denganbadan kekar. Merry
sempat ragu-ragu menghadapi keduaorang yang tampaknya
kasar-kasar itu, tapi dirinya sangat membutuhkan tumpangan,
dan ia berdoa agar tidak terjadi apa-apa.
"Ada yang bisa saya bantu, Non?", tanya Botak dengan sopan,
sementara Hitam diam dan hanya tersenyum tipis.
"Mobil saya tau-tau keluar asepnya. Terus mesinnya mati nggak
mau jalan lagi".
"Sial banget ya Non", jawab Botak sambil melirik kaki Merry yang
panjang.
"Bener. Padahal saya musti sampe ke Bandung hari ini juga.
Bapak-bapak bisa bantu saya?".
"eeh, bisa Non, mungkin kepanasan atau ada yang bocor. Bisa
pinjem kuncinya Non?".
Merry merogoh saku celana pendeknya dan memberikan kunci
Cielo-nya. Saking leganya ia tidak melihat Hitamdan Botak bertukar
pandang dan menyeringai.
"Tunggu sebentar ya Non. Kita mesti periksa dulu mobilnya", kata
Botak sambil menerima kunci dari Merry. Merry memberikan
senyumnya yang paling manissebagai tanda terima kasih, dan ia
lalu berjalan-jalan sekitar situ melemaskan kakinya yang kaku
selama mengemudi.
"Waduuh!", Botak berteriak ketika asap menyembur keluar dari
kap yang ia buka.
Selama lima menit kemudian mereka berdua menunduk di mesin
mobil Merry sambil berbisik-bisik. Sekali Merry bertemu pandang,
dan Merry tersenyum. Mereka membalasnya, lalu kembali
memandang satu sama lainnya. Beberapa saat Merrysedang
melamun sambil memandang sebuah pohon di depannya ketika
suara Botakdari belakangnya membuat ia terlompat kaget.
"Aduh, Saya sampe kaget Pak!".
"Begini Non, mobilnya emang rusak, tapi temen saya ini bisa
betulin. Gimana, Non maununggu dibetulin?" kata Botak sambil
menunjuk Hitam.
"Oh!" Merry merasa lega,"Betul? Bisa dibetulin? Kalo begitu silakan
Pak dikerjakan. Makasih sekali Pak!".
"Cuma", kata Botak "Kami minta.., ya.., sedikit imbalan atau..",
Botak tidak menyelesaikan kalimatnya sementara Hitam sekarang
menyeringai.
"Oh iya Pak. Ten, tentu Pak. Bapak jangan kuatir". kata Merry. Ia
sendiri heran mengapa ia merasa begitu gugup.
"Berapa biayanya, nanti sayabayar. Juga nanti ada uang lelah
untuk Bapak ber.."
Merry terheran-heran melihat kedua laki-laki dihadapannya tertawa
terbahak-bahak.
"Ada apa?" tanyanya bingung. "Ada yang salah?".
"Itu bukan imbalan yang kami minta nona manis!" mendengar
nada suara Botak, Merry langsung sadaryang yang diingikan oleh
mereka berdua atas dirinya. Dadanya berdebar keras, keringat
dingin mulai keluar. Ini pasti mimpi, katanya dalamhati. Mereka
pasti hanya bergurau. Matanya melihat suasana sekitarnya, gelap,
tidak orang lain, tidak ada kendaraan yang lewat. Tidak ada.
"Sa, sa, saya nggak mengertimaksud Bapak!, Saya..", Merry
berusaha menenangkan dirinya. Wajah si Botak dan Hitam
langsung berubah sinis.
"Tentu saja Non tau", kata Botak dengan tenang.
"Perempuan cantik kayak Non, sendirian, dan butuh bantuan dari
kita", Hitam kembali tertawa sementara mata Merry membelalak
tidak percaya pendengarannya.
"Tentu saja ada yang lebih baik dan bagus daripada dibayar
dengan uang. Betul nggak Cing?".
Merry perlahan-lahan mundur, "Sa, sa, sa tetap nggak nge,
ngerti", berusahaagar tidak terdengar ketakutan. Merry merasa
putus asa melihat Botak dan Hitam perlahan-lahan maju
mendekati dirinya.
Air mata meleleh ke pipi Merry, "Tung, tunggu sebentar Pak!
Jangan!" Merryterus mundur sementara jarak antara dirinya dan
kedua laki-laki itu makin dekat.
"Lebih baek Non buka celana Non sekarang!"
Itu saat pertama terdengar suara keluar dari mulut Hitam.Merry
langsung shock dan tidak dapat menguasai diri lagi. "Toloong!
Toloong!", Merry berteriak dan berbalik lari sekuat tenaga.
Anehnya kedua laki-laki itu
tidak langsung mengejarnya. Merry menyadari kecil kemungkinan
ada mobil yang akan lewat yang akan menolongnya. Tapi ia tidak
mau hanya berdiri dan menyerah diperkosa oleh kedua laki-laki
itu. Nafas Merry mulai terengah-engah setelah ia sudah jauh berlari
dari Botak dan Hitam. Ketika ia menoleh Merry melihat Botak dan
Hitam masuk ke box mereka dari menyalakan mesin. Merry
semakin panik dan ketakutan menyangka mereka akan
menabrakkan mobil itu pada dirinya.
Merry terus berteriak minta tolong sambil terengah-engah
menyadari mobil itu makin mendekatinya. Akhirnya mobil itu
menjejeri dari sebelah kanan, dan Botak membuka jendela sambil
meneriakinya.
"Lari terus Non!, Terus!, Cepeten Non! TerusS!", Merry berusaha
mempercepatlarinya sambil terus berteriak, "Jangaan!".
Tiba-tiba box itu berhenti tiba-tiba, Merry terus berlari.Nafasnya
hampir putus, terengah-engah, menangis tersengal-sengal.
Keringat membanjiri tubuhnya. Menyadari box tadi berhenti
mengejarnya, ia sedikit merasa lega mengira mereka melepaskan
dirinya. Ia terus berlari, berusaha mencari tanda-tanda seseorang
yangbisa dimintai tolong. Mata Merry mulai berkunang-kunang,
karena tubuhnya belum pernah dipaksa berlarisecepat ini, Merry
berusaha untuk tidak jatuh tersungkur dan pingsan.
Tapi dari arah belakang kembali terdengar dencit roda, dan dalam
sekejap boxtadi kembali ada disampingnya, lalu tiba-tiba pintu
samping box terbuka dengan keras menghantam tubuh Merry
yang sedang berlari limbung.
Merry merasa tubuhnya terlempar dan berputar sesaat sebelum
akhirnya jatuh ke jalan berbatu. Tubuh Merry berguling-guling
sebelumnya berhenti menabrak pohon di pinggir jalan tersebut.
Dalam kesakitan dan ketakutannya,Merry berusaha bangkit lagi tapi
ia langsung tersungkaur antara sadar dan tidak.
Kemudian ia merasa tubuhnyadiangkat dan dimasukan ke bak
belakang box tadi. Tubuhnya gemetar, jatuhnya tadi tidak
menyebabkan luka hanya Merry merasa sakit dan pusing
dikepalanya. Lewat matanya yang kabur, ia melihat Botak
menyuruh
Hitam untuk kembali ke mobilnya dan melepaskan nomor
polisinya, dan kemudian membakarnya.
"Nona manis ini nggak butuh mobil lagi. Soalnya dia kan udah ikut
kita".
"Jangan, jangan bakar mobil saya. Saya mohon!", Merry berusaha
berteriak, tapi yang keluar hanya kata-katalemah, sambil berusaha
bangkit.
"Hei, nona manis ini masih bisa ngomong!" Botak lalu menampar
pipi Merry, membuatnya ia tergeletak kembali ke lantai box tadi
sambil menangis.
Tak lama, Hitam kembali sambil membawa nomor polisi mobil
Merry. Dari kejauhan, terlihat cahaya api yang berkobar
membakar mobil Merry, termasuk semua yangada di dalamnya.
Sekarang tak seorangpun tahu, milik siapa mobil tersebut atau
tidak seorangpun dapat mencari kemana pengemudi mobil itu.
Kemudian Merry merasa, tangan seseorang mengikat kedua
tangannya erat-erat di depan, setelah itu giliran kakinya,
sementaraMerry hanya bisa berharap dirinya mati saat itu juga.
Setelah selesai mengikat Merry, mereka berdua keluardan
menutup pintu belakang box itu. Dan sesaat kemudian, mesin
mobil itu menyala dan mulai melaju. Merrypun jatuh pingsan
dalam gelap.
Merry berusaha membuka matanya, dan perlahan-lahansadar
bahwa dirinya tidak ada di dalam box tadi. Dirinyaterbaring di
tanah berumput. Hari sudah malam, dan ada api unggun
didekatnya berkobar membuat sekitarnya bersinar terang. Tali
yang mengikat tangan dan kakinya sudah tidak ada.Merry
memandang sekelilingnya dan kembali ketakutan melihat dua
penculiknya sedang duduk didekatnya di atas sebuah batu. Botak
memegang sebuah pisau yang besar, sementara Hitam
mengacungkan sebuah pistol.
"Sudah bangun Non?", sindir Botak.
"Sekarang kita mulai pesta kita!", Mereka langsung tertawa
sementara Merry menjerit ketakutan.
"Ma, ma, mau apa kalian?".
Merry sudah putus asa. Dirinya sudah dikuasai seluruhnya oleh
Botak dan Hitam, semua identitasnya terbakar bersama mobilnya.
Dan tidak ada seorangpun dari teman dan saudaranya tahu
kemana ia pergi, karenarencananya ini semua dilakukannya secara
tiba-tiba. Tangis Merry mulai terdengar lagi, terisak-isak dihadapan
laki-laki yang tanpa belas kasihan terus memperhatikan dirinya.
"Kita nggak bakalan menyakiti kamu Non", jawab Botak, "Selama
Non menuruti semua perintah kita. Semua. Ngerti Non?".
Merry hanya mengangguk sambil menundukan kepala.
"Saya nggak bisaenger Non!", bentak Botak.
"Saya mengerti", Merry menjawab disela tangis.
"Saya mengerti tuan!", bentak Botak lagi.
"Saya mengerti Tuan", ulang Merry ketakutan.
"Sekarang coba Non berdiri!"
Perlahan Merry berdiri, sambil terus menundukan kepalanya.
"Lepasin semua pakaian Non!".
"Y, y, ya Tuan", Merry menarik t-shirtnya ke atas.
"Pelan dong!", kata Botak kesal.
"Kita mau menikmati juga!".
Putus asa, Merry menuruti perintah Botak, perlahan-lahan menarik
t-shirtnya ke atas melalui kepalanya. Buah dadanya terlihat ditutupi
olehBH yang halus dan berwarna putih. Dengan tangis yang
makin keras, ia melepaskan BH tapi dan menjatuhkannya ke tanah.
Sekarang Merry berdiri dengan dada terbuka,payudaranya yang
bulat terlihat jelas disinari cahaya api unggun. Botak dan Hitam
bersuit-suit dan bertepuk tangan kegirangan. Muka Merry
memerah mendengar komentar-komentar Botak dan Hitam. Baru
dua kali ia bertelanjang di depan laki-laki, pertama kali di depan
Achmad, tunangannya yang ternyata sekarang berkhianat.
"Celananya sekalian Non!" perintah Botak.
Perlahan, Merry membuka kancing depan celananya danperlahan
menurunkannya, akhirnya celana itu jatuh di kakinya, lalu dengan
air matameleleh di pipi Merry menarik turun celana dalamnya,
sehingga sekarang ia betul-betul telanjang bulat. Merry berusaha
menutupi kemaluan dan buah dadanya dengan tangannya. Tapi
Botak menggerak-gerakan pisaunya, menyuruh Merry
menurunkan tangannya. Merry langsung menurunkan tangannya,
dan sekarang Botak dan Hitam berjalan mengelilinginya
mengagumi tubuhnya.
"Coba sekarang Non berlututdan merangkak ke temen saya di
sana!" perintah Botak, dan Merry menuruti perintahnya, ia
merangkak dengan tangan dan lututnya mendekati Hitam yang
tinggi dan besar.
"Nah, sekarang coba Non, masukin punya teman saya itu ke
mulut Non. Jilatin sama isep, sampe dia keluar. Kalo nanti di keluar,
Non musti telen semuanya, jangan sampe ada yang kebuang.
Dan ati-ati jangan sampe punya temen saya itu kegigit.Kalo sampe
kegigit, terpaksa saya potong puting susu Non!"
Merry kembali shock, ia belum pernah memasukkan penis ke
dalam mulutnya. Perasaannya muak membayangkan
memasukan penis ke dalam mulutnya, ia lebih ketakutan
mendengar ancaman Botak yang akan memotong puting
susunya jika ia tidak menuruti perintahnya.
"Si, si, siap Tuan", jawab Merry sambil meraih kancing celana
Hitam.
"Tunggu", tiba-tiba Hitam berkata, membuat Merry berhenti
kebingungan.
"Minta ijin dulu dong Non!".
Merry menangis lagi, melihat dirinya sedang dilecehkan oleh kedua
orang itu. Ia takutsekali akan terus-menerus mengalami ini.
"Bo, bo, boleh saya jilat punya Tuan?", Merry berusaha
mengeluarkan suara ditengah isak tangsinya. Pipi Merry tampak
berkilat-kilat basah oleh air mata.
"Yah, silakan deh", jawab Hitam.
"Soalnya Non sopan sekali sih mintanya." Jari-jari Merrygemetar
berusaha melepaskan kancing celana Hitam, setelah berhasil
restleting celana Hitam langsung terbuka dengan sendirinya.
Melihat apa yang keluar dari celana itu, tidak heran restleting celana
tadi tidak bisa menahan apa yang
keluar dari celana itu, tidak heran restleting celana tadi tidak bisa
menahan apa yangada di dalamnya. Celana dalam Hitam sudah
turun dengan sendirinya tidak mampu menahan penis Hitam
yang sudah tegang sekali. Di depan mata Merry, penis itu
mengacung dengan panjang sekitar 25 cm, dengan urat-urat
yang menonjol. Penis itu tampak berkilau-kilau ditimpa cahaya api
unggun. Kepala penis itu sendiri berdiameter sekitar 8cm. Hitam
tertawa melihat wajah Merry memucat melihat penisnya.
"Lho, Non, katanya mau..", kata Hitam tidak sabar. Tidaktahu
bagaimana memulainya, Merry memajukan wajahnya dan
menempelkan bibirnya yang mungil ke kepala penis tadi, dan
mulai menciuminya. Merry terus menciumi selama beberapa saat,
kemudian ia mengeluarkan lidahnya lalu iamenjilati batang penis
Hitam. Sambil menelan ludah, Merry sekarang membuka
mulutnya lebar-lebar dan memasukan kepala penis tadi ke dalam
mulutnya, sedangkan lidahnya terus menjilati. Nafas Hitam
sekarang semakin berat dan terengah-engah, sementara itu Merry
terus menjilati kepala penisnya, sesaat dirasakannya sesuatu yang
asin di ujung penis Hitam. Merry berusaha melupakan apa yang
baru dijilatnya, sambil menutup matanya erat-erat, bibirnya
menempeldisekeliling penis tuannya yang baru.
Hitam mulai mengerang. Dengan tangan kanannya Merry
memegang batang penis Hitam, sementara kepalanya bergerak
maju mundur berirama dengan berusaha membuka rahangnya
lebar-lebar agar giginya tidak bersentuhan dengan kepala penis
Hitam. Bibir Merry terus menggosok-gosok maju mundur pada
kepala dan batang penis Hitam, sedangkan lidahnya terus begerak
menjilati dan membasahinya. Hitam sekarang semakin keras
mengerang, Merry ketakutan mendengar erangan Hitam
menyangka ia telah berbuat salah dan menyakitinya. Tapi Hitam
terus membiarkan bibirnya menggosok-gosok penisnya. Terus,
terus, terus sampai akhirnya.
Hitam tiba-tiba memegang rambutnya dan mendorong kepala
Merry hingga wajah Merry bersentuhan dengan pinggulnya.
Hitam menyemprotkan sperma
masuk ke dalam mulut Merry. Merry belum pernah merasakan
sperma sebelumnya, ia tak berdaya menelan semua cairan kental
yang terasa asin yang dalam sekejap memenuhi mulutnya, dan
dengan leluasa masuk kedalam perutnya.
"aararaagghh!", erang Hitam,sementara Merry kembali menangis
tak berdaya berusaha menelan semua sperma yang terus keluar
dari penis Hitam.
"Telen semua!, Semuaakkhahh!".
Lalu pegangan Hitam pada rambutnya perlahan mengendor dan
aliran spermayang keluar melambat dan akhirnya berhenti.
Selama beberapa saat Merry masih memasukan penis Hitam
dalammulutnya, takut akan berbuatsalah dengan mengeluarkan
penis si Hitam tanpa perintah.Tapi Hitam akhirnya menarik keluar
penisnya dari mulut Merry. Merry langsung membungkuk
terengah-engahmenghirup udara, beberapa kali berusaha menelan
sisa-sisa sperma yang masihmenempel di lidah dan langit-langit
mulutnya, dan Hitam yang juga terengah-engah, berusaha
berbicara.
"Kita bener-bener nemuin emas di sini", Ia tertawa.
Tubuh Merry berkeringat walaupun sebernarnya udarasekitar situ
cukup dingin.
"Nona manis ini bener-bener hebat!", lanjut Hitam.
"Oke nona manis", Botak maju.
"Giliran saya sekarang!", Melihat tidak ada yang bisa dilakukannya,
dan berharap bila ia menuruti perintah mereka ia akan dibebaskan
Merry berlutut di depan Botak dan berkata. "Tuan, bolehkan saya
memuaskan Tuan?".
"Tentu saja boleh!", jawab Botak sambil menyeringai. Merry
kembali membuka celana Botak dan tak lama kemudian keluarlah
penis Botak di depan wajah Merry. Penis Botak tidak sebesar milik
Hitam, tapi kepala penisnya sangat besar dan berwarna ungu.
Merry melakukan kembali apa yang baru saja ia lakukan terhadap
Hitam, menciumi, menjilati penis Botak sampai Botak mengerang
mencapai puncak kenikmatan.
"aakkhh! aakkhh! Teruusshhkk! aakkhh! Botak berteriak dan
spermanya keluar deras masuk ke mulut Merry. Sperma Botak
terasa lebih pahit dari milik Hitam, tapi tidak sebanyak yang
dikeluarkan oleh Hitam, Merryberusaha untuk menelan
semua cairan kental pahit itu ke dalam perutnya.
Botak menarik keluar penisnya, sementara Merry tersungkur dan
menangis takberdaya, berharap mereka berdua puas dan
melepaskandirinya, tapi ternyata harapan yang sia-sia. Hitam
berdiri di hadapan Merry, mata Merry terbelalak melihatpenis
Hitam sudah tegang dan mengacung kembali.
"Berdiri!", perintah Hitam.
"Ya Tuan!", Merry berdiri sambil menghapus tangis yang mengalir
di pipinya.
"Naik ke belakang box dan berbaring telentang".
"Iya Tuan, saya naik Tuan", Merry naik ke belakang box.
Di lantai box itu sudah tergelar kasur tipis. Merry pasrah
menyadari sekarang dirinya akan segera diperkosa oleh kedua
orang itu. Sambil menangis Merry merangkak naik dan berbaring
telentang di atas kasur, gemetar ketakutan dan kedinginan.
Sekarang Hitam merangkak ke atas tubuh Merry, Merry ngeri, aku
bisa sesak nafas jika ia menindihku. Tuhan, tolong saya Tuhan.
Tapi yang dilihatnya cuma wajah Hitam yang menyeringai.
Hitam memajukan pinggulnya, dan Merry langsung menjerit
kesakitan ketika kepala penis Hitam mulai membuka bibir
vaginaya. Dia tidak pakai kondom, Merry tersadar, dia akan
menghamiliku! Ketakutan akandihamili oleh Botak, Merry terus
menangis ketika penis Hitam terus masuk menyakiti vaginanya.
"Aduuhh, Sakiitt! Sakit Tuaan!, Merry menjerit-jerit.
"Tuhaan! Sakiitt!", Tapi Hitam terus bergerak makin cepat dan
keras, makin lama makin dalam penis Hitam masuk ke dalam
vagina Merry. 10, 15, 20 dan 25 cm penis Hitam masuk!
"Saakiitt!", jerit Merry.
"Ampuunn! Ampuunn!".
Jeritan Merry hanya menambah semangat Hitam. Iamakin keras
menghentak-hentak, pinggul dan pantat Merry terbanting-banting
di lantai box. Penis Hitam hampirsebesar pergelangan langan
Merry, dan seluruhnya bergerak keluar dan masuk vagina Merry
yang masih sempit. Merry merasa bagian bawah dirinya seperti
tersobek-sobek, tak terlukiskan sakit yang dirasakan oleh Merry,
sakit sekali sehingga Merry merasa akan mati saat itu juga. Hitam
terus memperkosa Merry, sampai
Merry terlalu sakit dan lelah untuk bisa berteriak, tiba-tiba Hitam
berguling dan mengangkat tubuh Merry hingga terbaring di atas
perutnya. Merry terbaring terengah-engah dengan penis Hitam
yang masih masuk seluruhnya. Hitam lalu memegangi pantat
Merry dan mulai bergerak lagi, sekarang lebih perlahan tapi masih
tetap menyakitkan. Merry masih menangis di atasdada Hitam,
sementara Hitam terus memompa keluar masuk. Sebelum Merry
berhasil bernafas dengan normal kembali, dirasakannyasebuah
kepala penis mendorong tepat di liang anusnya yang kecil dan
rapat.
"Ya Tuhan, ya Tuhan! Jangaann!", Merry melolong ketika penis
Botak mulai menembus masuk anusnya senti demi senti. Ya
Tuhan, jangan Tuhan. Aku diperkosadua orang sekaligus! Tolong
Tuhan, jerit Merry dalam hati.Dengan satu dorongan final, penis
Botak terbenam seluruhnya dalam anus Merry.
"aarrhhkkhh!", Merry menjerit dan menjerit.
"Sakiit!, Sakiit! Sakiit! Ampuunn!", Tapi Botak dan Hitam terus
bergerak keluar masuk, sampai akhirnya Merry hanya bisa
merintih"..sakit,.. Sakit,.. Sakit.."
Dan akhirnya Merry merasakan hentakan pinggul Hitam dan cairan
hangat terasa memenuhi vaginanya. Hitam telah mencapai
orgasme, Merry mengetahui itu dan ia menyadari dirinya akan
hamil karena saat itu adalah saat suburnya. Merry sudah tidak
mampu lagi bergerak ketika Botak, juga dengan keras dan brutal
mencapai puncak dan meyemprotkan spermanya dalam anus
Merry. Dan, kedua laki-laki itu dengan terengah-engah terbaring
lemas dengan Merry tepat berada ditengah-tengah mereka.
Perlahan Merry merasakan batang kejantanan yang masih
bersarang di dalam liang kewanitaan dan juga duburnya telah
mengecil, danmereka terlelap kelelahan. Sedangkan Merry, jatuh
pingsan di atas tubuh Hitam, dan ditindih oleh Botak, sementara
sperma meleleh keluar dari vagina dan anusnya serta perlahan
mengering.
Dengan tubuh berkeringat karena teriknya matahari, tubuh Merry
terbaring di atasperutnya dengan tangan kakiterikat pada dua buah
batangpohon. Sekarang ia berbaring
seperti huruf X di atas rumput dan pasir. Ketika ia mengangkat
kepalanya dilihatnya Hitam dan Botak ada di dekatnya, kembali
Merry memohon-mohon untukdikasihani, "Tuan, saya mohon
Tuan, jangan sakiti saya lagi Tuan. Saya akan lakukan apa saja
yang Tuan suruh. Saya janji Tuan!".
Botak maju ke depan dan Merry langsung ketakutan melihat Botak
memegang sebuah logam yang panjang dan lentur, mirip dengan
sebuah antena radio mobil.
"Saya tau Non pasti nurut sama kita. Yang kita mau adalah denger
nona manis dan cantik macem Non menjerit-jerit minta ampun".
"Tapi kenapa Tuan?" tapi Botak cuma tersenyum. Merrylangsung
meronta-ronta ketika dirasakannya tangan Botak mengusapi
pantatnya.
"Jangan! Ampuun, Jangan pecut Saya.., Tuann! Ampuun!", Merry
berusaha melepaskan diri dari ikatan."Halus sekali", Ia mendengar
Botak berkata. Sebuah jeritan melengking ketika pecut logam tadi
mendarat di pantat Merry.
"aaiaiaiaahh!", Merry menjerit. Dan sekali lagi pecutitu mendarat
dan jeritan terdengar lagi.
Sekitar sepuluh kali Botak mengayunkan pecutnya, tapi pada
pecutan yang kelima Merry sudah tidak mampu lagimenjerit
karena kehabisan tenaga dan nafas. Ketika tangan Botak kembali
merabapantatnya sakit kembali menyengat dan Merry merasakan
darah meleleh mengalir turun keluar dari tempat Botak
mengayunkan pecutnya.
Segera setelah itu, tangan Merry dilepaskan dari batangpohon dan
diikat menjadi satu di depan. Sementara kakinya dilepaskan sama
sekali. Lalu ia didorong hingga jatuh telentang dan saat itu juga
dirasakannya cairan hangat kental jatuh di atas wajahnya.
Ternyata dengan menyiksanya dengan pecut tadi Botak mencapai
puncak kenikmatan dan menyemprotkan spermanya ke wajah
Merry.
Setelah itu Merry ditarik berdiri, dan Hitam berkata,"Non, kita mau
ngundang Nonke rumah kami. Sekitar 3 kilo dari sini. Di sana ada
beberapa temen kami, yang tentu juga pengen berkenalan sama
Non. Kami pikir mereka pasti suka samaNon, suka sekali malah!".
Merry kembali gemetar dan pucat, mereka akan
memperkosanya lagi, dan sekarang bukan hanya dua orang tapi
banyak orang. Merry langsung jatuh berlutut.
"Jangan, saya mohon Tuan, jangan bawa saya Tuan! Jangan,
ampun Tuan!" Merry berkata sambil menangis.
"Hush, hush, hush, inget kata saya. Non nurut apa yang kami
bilang". kata Botaksambil menarik tangan Merry untuk berdiri lagi.
Merry tidakberkata-kata lagi, ia hanya masih terus menangis.
Sementara itu Hitam mengikat tali yang ada di tangannya dengan
sebuah tali yang lain dan ujung tali tersebut diikatnya ke bemper
belakang mobil box mereka. Pertama Merry kebingungan melihat
itu, tapi ia tersadar,"Jangan, jangan, saya tidak sanggup".
Botak dan Hitam terus masuk ke dalam kabin box dan Botak
berkata, "Cuma 3 kilo Non. Non pasti bisa". Sambil tertawa ia
menyalakan mesin.Merry berdiri dengan limbungkarena kesakitan
akibat pecutan Botak, berusaha menahan dirinya agar tidak
ambruk jatuh. Box tadi maju dan tangan Merry tertarik kedepan,
dan tubuhnya tertarikdan terbanting ke depan. Boxitu berhenti,
dengan putus asa Merry kembali berusaha berdiri. Box tadi mulai
maju dan di belakang Merry mulai berlari kecil menyeberangi
padang rumput yang berbatu dan luas, sambil menyeringai
kesakitan, dengan tubuh telanjang, putus asa.
Merry berusaha menghilangkan pikiran itu, sementara box tadi
terus melaju di terik matahari.
TAMAT
Nikmatnya Keke
Semua yang aku ceritakan adalah masa pacaran dulu semasa sma, namaku panji dan pacarku bernama keke.Kami satu sekolah dijakarta dan pacaran sejak kelas 3. Kami sering pulang bareng karena kebetulan rumah kami satu arah.
Keke sendiri adalah seorang gadis yang bertubuh mungil, tingginya mungkin tidak lebih dari 155 cm dan bertubuh kurus, namun memiliki ukuran payudara yang besar, mungkin seukuran dengan payudara Febby Febiola. Sampai-sampai teman-temanku sering berkata kalau nafsu seksnya pun pasti besar. Tapi bukan itu yang jadi penyebab aku mencintainya, sikap manja dan tawanya yang lepas membuatku senang bersama dan bercanda dengannya.
Hubungan pacaran kami layaknya gaya pacaran remaja era 90-an, tidak lebih dari nonton bioskop atau makan di restoran cepat saji. Tapi memang setelah pulang sekolah aku sering mampir ke rumahnya untuk ngobrol atau mengerjakan tugas bareng. Biasanya ada ibunya dan adik laki-lakinya yang masih smp.
Sehari menjelang acara liburan perpisahan sekolah kami, seperti biasa aku mengantarnya pulang dan mampir ke rumahnya. Ternyata hari itu ibunya sedang ke Kota Malang bersama adiknya untuk menjenguk kakaknya yang kuliah dan sedang sakit di sana. Sedangkan bapaknya memang biasa pulang malam. Jadilah kami hanya berdua di rumah tersebut.
“Mau nonton VCD ga? Aku punya VCD baru ni,” katanya seperti biasa dengan ceria. “Boleh,” sahutku. “Bentar ya, aku mo ganti baju dulu, bau,” katanya sambil beranjak ke kamarnya. Aku pun memasukkan keping VCD ke dalam VCD playernya sambil menunggunya ganti baju.
Tidak lama dia pun kembali ke ruang tengah dengan celana pendek sekitar 20 cm di atas lutut dan kaos ketat. Kami pun menonton film dengan duduk bersebelahan di sofanya. Film yang kami tonton adalah film Armageddon.
Kugenggang tangannya dan menariknya menempelkan bahunya dengan bahuku, dia pun merapat dan lenganku pun kini berada di atas payudaranya yang kenyal. Dia sudah terbiasa dengan hal ini, toh biasanya pun seperti itu tiap kali nonton di bioskop atau di perjalanan.
Semakin lama posisi duduknya makin bergeser dan kini dia tiduran dengan kepalanya berada di atas pahaku. “Cantiknya gadisku ini,” pikirku dalam hati. Tanganku pun kuletakkan di atas perutnya. Ketika adegan ada adegan panas di film, kurasakan nafasnya berubah. Terus terang aku pun merasa terangsang, pelan-pelan kugeser telapak tanganku ke atas payudaranya, tapi dia menolaknya.
Karena terbawa suasana, kucium keningnya dan dia tersenyum kepadaku. Kulanjutkan dengan mengecup pipi dan bibirnya, lagi-lagi dia tersenyum. Itu adalah ciuman pertama kami. Ciuman yang awalnya hanya menempel kurang dari sedetik, kini sudah menjadi ciuman penuh nafsu. Lidah kami saling bermain dan tanganku pun sudah meremas-remas payudaranya.
Tiba-tiba dia bangun dan duduk di sebelahku, “udah ya, nanti keterusan lagi”. “Sorry ya, abis kamu gemesin sih. Tau ngga, itu tadi ciuman pertamaku lho,” ujarku polos. “sammma,” jawabnya lagi sambil menampilkan senyumnya yang bikin makin cinta itu. Kami pun meneruskan menonton film dan hanya menonton.
Setelah film selesai, dia bangkit dari duduknya, “Mau ke mana?” tanyaku. “Mau beresin baju dulu buat besok,” jawabnya. Memang besok kami akan pergi ke luar kota bersama seluruh teman satu sekolah.
“Mau dibantuin?” tanyaku. “Ayo,” jawabnya sambil berjalan menuju kamarnya. Aku pun mengikutinya ke kamarnya dan inilah pertama kalinya aku masuk ke kamarnya. Kamarnya betul-betul menunjukkan kalau dia masih manja, dengan cat pink dan tumpukan boneka di atas ranjangnya.
Dia mulai mengeluarkan baju-bajunya. “Yang ini jangan dibawa, terlalu seksi,” kataku ketika dia mengeluarkan bajunya yang memang tipis dan berbelahan dada besar. “Jangan protes doang, nih beresin sekalian,” jawabnya seolah protes dengan memasang wajah ngambek, tapi lagi-lagi tetap terlihat manja.
Aku pun mengambil alih lemarinya dan kupilih-pilih baju yang kupikir cocok untuk dibawanya. Tiba-tiba muncul ide isengku untuk memilihkan juga pakaian dalamnya. Kuambil satu yang berwarna krim, “ih jangan pegang-pegang yang itu” jerit manjanya sambil berusaha merebut dari tanganku. Aku pun berlari menghindar, “Wah ini toh bungkusnya, gede juga,” candaku.
Dia pun menarik tanganku dan memelukku untuk merebut bra dari tanganku yang lain. Segera saja kucium lagi bibirnya dan dia pun membalas ciumanku. “emmmh...emhhh,” suaranya mendesah sambil tangannya memegang tanganku.
Kudorong tubuhnya ke ranjang sambil terus berciuman. Kini posisiku ada di atasnya dan menempel di tubuhnya. Terasa betul payudara kenyalnya di dadaku. Kugeser tubuhku ke sampingnya agar dapat meremas payudaranya. “emmmh...emhhhhh...emhhhh,” desahnya makin jelas dan kini tangannya sudah menyentuh penisku dari luar celanaku. “Sudah nafsu banget,” pikirku.
Perlahan-lahan kumasukkan tanganku ke dalam kaosnya dan meremas payudaranya langsung. Kuangkat ke atas kaosnya sehingga kini terpampang payudaranya yang besar terbungkus bra krim. Segera kuciumi kedua payudaranya dan tidak lama dia pun melepas sendiri bra tersebut. Benar-benar payudara yang besar dan indah, warnanya kecoklatan dengan puting yang lebih gelap.
Kumainkan kedua putingnya, kujilati bergantian. “emmmh....emhhhh...kamu juga buka dong,” pintanya sambil menahan desah. Segera kubuka baju seragam dan celana sekolahku hingga tinggal celana dalam, kulanjutkan dengan membuka celana pendeknya. “celana dalamnya jangan,” tolaknya ketika aku akan menarik lepas celana dalam coklatnya.
Kulanjutkan jilatan-jilatanku di puting payudaranya, tangan kiriku memainkan puting yang satu lagi, sedangkan tangan kananku menggesek-gesek vaginanya dari luar celana dalam. “Enak?” tanyaku. Dia hanya mengangguk sambil meremas-remas penisku dari luar celana dalam. Tiba-tiba dia menarik keluar penisku. “dibuka aja ya?” tanyaku sambil kubuka celana dalamku.
Tangannya makin kuat meremas-remas penisku, sementara tangan kananku mulai memasuki vaginanya dari samping celana dalamnya. Kugesekkan jari telunjukku ke bibir vaginanya yang sudah basah. Pelan-pelan kumasukkan jariku ke dalam vaginanya, kulihat kepalanya mendongak ke atas sambil terus mendesah.
“Boleh dimasukin ga?” tanyaku sambil menatap wajahnya yang sekarang menjadi begitu seksi. “Pelan-pelan ya,” jawabnya dengan nafas terengah-engah. Mendapat persetujuan, aku pun berdiri di bawah ranjangnya dan di antara kedua kakinya. Kutarik lepas celana dalamnya sehingga kini untuk pertama kalinya aku melihat langsung vagina seorang gadis.
Vaginanya berwarna coklat dan kedua bibir vaginanya begitu rapat seolah tidak ada lubang di sana. Bulu-bulu kemaluannya yang tipis sudah terkena lendir-lendir yang keluar dari vaginanya ketika kumasukkan jari telunjukku tadi. Kucium vagina tersebut, “iiiihh, apaan sih. Jangan dicium, jijik ah, “ tolaknya sambil kedua telapak tangannya menutup vaginanya.
“Abis imut sih,” kataku sambil tersenyum kepadanya. Kulepaskan kedua tangan yang menutupinya dan langsung kugesek-gesekkan penisku ke vaginanya. Sesekali kujilat-jilat kedua putingnya. “ehmmm...ehhhhm....” lenguhnya makin tidak jelas. “Ji, masukin ji, masukin....emmmhhhh,” pintanya.
Segera kudorong penisku memasuki lubang vaginanya, begitu sempit namun karena sudah dipenuhi cairan-cairan, akibat rangsangan tadi, perlahan-lahan penisku kun menembus vaginanya. “Oooooooh...ohhhhhhh,” kali ini aku pun ikut mendesah keenakan.
Setelah penisku masuk seluruhnya, kurasakan denyutan-denyutan vaginanya menjepit kepala penisku, begitu nikmat. Kutatap wajahnya, mata kami pun berpandangan seolah membuat kesepakatan untuk mulai memompa.
Kutarik pelan-pelan penisku lalu kumasukkan kembali pelan-pelan. “Ji, enak banget ji. Aduh enak banget....emmmmhh,” teriaknya makin meracau. Semakin lama kocokan penisku semakin kencang. Kedua tanganku pun terus memainkan kedua puting payudaranya, sambil sesekali meremasnya dan menjilatnya.
Dia pun menarik tubuhku memeluknya. Kini tubuh kami serasa menempel, payudaranya menempel di dadaku yang telah berkeringat. Bibir kami berpagutan dan lidah kami saling membelit. Nikmat sekali. Hanya penisku yang masih bisa bergerak keluar masuk vaginanya.
“Ji.....ohhhhh...ohhhh....jiii
Tidak kujawab pertanyaannya tapi kembali kukocok penisku. “Jangan cepet-cepet, masih geli,” pesannya. Karena memang sebetulnya aku pun hampir ejakulasi, tidak lama kemudian aku pun mengeluarkan maniku. “Ohhhhhh...ohhhhh...ke....keee
Kucabut penisku dan tidur di sebelahnya. “Enak banget, makasih ya ke,” ucapku. Dia Cuma tersenyum dan memelukku dengan kepalanya bersandar di dadaku. Setelah itu kami pun mandi bersama.
Besoknya di acara liburan perpisahan sekolah, kami menjadi semakin rapat seperti sepasang pengantin baru. Kami pun beberapa kali mengulangi aktivitas seks di rumahnya. Hingga akhirnya kami berpisah jarak karena harus kuliah di kota yang berbeda dan berujung dengan putus karena sulit mempertahankan pacaran jarak jauh.
"Menimati Tubuh Anak Sekolah
cerita ini dimulai saat saya tercatat sebagai siswa baru pada SMUN 2 pada waktu itu sebagai siswa baru, yah.. acara sekolahan biasa saja masuk pagi pulang sekitar jam 14:00 sampai pada akhirnya saya dikenalkan oleh teman seorang gadis yang ternyata gadis itu sekolah juga di dekat sekolah saya yaitu di SMPN 3.
Ketika kami saling menjabat tangan, gadis itu masih agak malu-malu, saya lihat juga gadis itu tingginya hanya sekitar 158 cm dan mempunyai dada yang memang kelihatan lebih besar dari anak seumurnya sekitar 34B (kalau tidak salah umurnya 14 tahun), mempunyai wajah yang manis banget dan kulit walaupun tidak terlalu putih tapi sangat mulus.
(sekedar info tinggi saya 165 cm dan umur waktu itu 16 tahun), saya berkata siapa namamu?, dia jawab L—- (edited), setelah berkenalan akhirnya kami saling memberikan nomor telepon masing-masing, besoknya setelah saling telepon dan berkenalan akhirnya kami berdua janjian keluar besok harinya jalan pertama sekaligus cinta pertama saya membuat saya deg-degan tetapi namanya lelaki yah…, jalan terus dong.
Akhirnya malam harinya sekitar jam 19.00 saya telah berdiri didepan rumahnya sambil mengetuk pagarnya tidak lama setelah itu L—-muncul dari balik pintu sambil tersenyum manis sekali dia mengenakan kaos ketat dan rok yang kira-kira panjangnya hampir mencapai lutut berwarna hitam.
Saya tanya, “Mana ortu kamu…”, dia bilang kalau di rumah itu dia cuma tinggal bersama papanya dan pembantu, sedangkan kalau kakaknya dan mamanya di kota lain.
“Oohh jawab saya,” saya tanya lagi “Terus Papa kamu mana?” dia jawab kalau Papa lagi keluar ada rapat lain di hotel (papanya seorang pejabat kira-kira setingkat dengan wagub) jadi saat itu juga kami langsung jalan naik motorku dan tanpa disuruhpun dia langsung memeluk dari belakang, penis saya selama jalan-jalan langsung tegang, habis dada dia begitu kenyal terasa di belakangku seakan-akan memijit-mijit belakangku (motor waktu itu sangat mendukung, yaitu RGR).
Setelah keliling kota dan singgah makan di tempat makan kami langsung pulang ke rumahnya setelah tiba saya lihat rumahnya masih sepi mobil papanya belum datang.
Tiba-tiba dia bilang “Masuk yuk!., Papa saya kayaknya belum datang”. Akhirnya setelah menaruh motor saya langsung mengikutinya dari belakang saya langsung melihat pantatnya yang lenggak-lenggok berjalan di depanku, saya lihat jam ternyata sudah pukul 21.30, setiba di dalam rumahnya saya lihat tidak ada orang saya bilang “Pembantu kamu mana?”, dia bilang kalau kamar pembantu itu terpisah dari bangunan utama rumah ini agak jauh ke belakang.
“oohh…”, jawab saya.
Saya tanya lagi, “jadi kalau sudah bukakan kamu pintu pembantu kamu langsung pergi ke belakang?”, dia jawab iya.
“Terus Papa kamu yang bukain siapa…”
“saya…” jawabnya.
“Kira-kira Papa kamu pulang jam berapa sih…”, tanya saya. Dia bilang paling cepat juga jam 24.00. (Langsung saja pikiranku ngeres banget)
Saya tanya lagi “Kamu memang mau jadi pacar saya…”.
Dia bilang “Iya…”.
Lalu saya bilang, “kalau gitu sini dong dekat-dekat saya…”, belum sampai pantatnya duduk di kursi sebelahku, langsung saya tarik ke dalam pelukanku dan mengulum bibirnya, dia kaget sekali tapi belum sampai ngomong apa-apa tanganku langsung memegang payudaranya yang benar-benar besar itu sambil saya remas-remas dengan kuat sekali (habis sudah kebelet) diapun mengeluh “Ohh.., oohh sakit”. katanya.
Saya langsung mengulum telinganya sambil berbisik, “Tahan sedikit yah…”, dia cuma mengangguk.
Payudaranya saya remas dengan kedua tanganku sambil bibir saya jilati lehernya, kemudian pindah ke bibirnya langsung saya lumat-lumat bibirnya yang agak seksi itu, kamipun berpagutan saling membenamkan lidah kami masing-masing. Penis saya langsung saya rasakan menegang dengan kerasnya.
Saya mengambil tangan kirinya dan menuntun memegang penisku dibalik celana saya, dia cuma menurut saja, lalu saya suruh untuk meremasnya. Begitu dia remas, saya langsung mengeluh panjang, “Uuhh…, nikmat sayang”, kata saya.
“Teruss…”, dengan agak keras kedua tanganku langsung mengangkat kaos yang dia kenakan dan membenamkan muka saya di antara payudaranya, tapi masih terhalang BH-nya saya jilati payudaranya sambil saya gigit-gigit kecil di sekitar payudaranya, “aahh…, aahh”.
Diapun mendesis panjang tanpa melepas BH-nya saya langsung mengangkat BH-nya sehingga BH-nya berada di atas payudaranya, sungguh pemandangan yang amat menakjubkan, dia mempunyai payudara yang besar dan puting yang berwarna kemerahan dan menjulang keluar kira-kira 1/2 cm dan keras, (selama saya main cewek baruku tahu sekarang bahwa tidak semua perempuan nanti menyusui baru keluar putingnya).
Saya jilat kedua payudaranya sambil saya gigit dengan keras putingnya. Dia pun mengeluh sambil sedikit marah. “Aahh…, sakkiitt…”, tapi saya tidak ambil pusing tetap saya gigit dengan keras. Akhirnya diapun langsung berdiri sambil sedikit melotot kepadaku.
Sekarang payudara dia berada tepat di depan wajah saya. Sambil saya memandangi wajahnya yang sedikit marah, kedua tanganku langsung meremas kedua payudaranya dengan lembut. Diapun kembali mendesis, “Ahh…, aahh…”, kemudian saya tarik payudaranya dekat ke wajah saya sambil saya gigit pelan-pelan.
Diapun memeluk kepala saya tapi tangannya saya tepiskan. Sekelebat mata saya menangkap bahwa pintu ruang tamunya belum tertutup saya pun menyuruh dia untuk penutup pintunya, dia pun mengangguk sambil berjalan kecil dia pergi menutup pintu dengan mengendap-endap karena bajunya tetap terangkat sambil memperlihatkan kedua bukit kembarnya yang bikin hati siapa saja akan lemas melihat payudara yang seperti itu.
Setelah mengunci pintu dia pun kembali berjalan menuju saya. Saya pun langsung menyambutnya dengan memegang kembali kedua payudaranya dengan kedua tangan saya tapi tetap dalam keadaan berdiri saya jilati kembali payudaranya. Setelah puas mulut saya pun turun ke perutnya dan tangan saya pelan-pelan saya turunkan menuju liang senggamanya sambil terus menjilati perutnya sesekali mengisap puting payudaranya.
Tangan sayapun menggosok-gosok selangkangannya langsung saya angkat pelan-pelan rok yang dia kenakan terlihatlah pahanya yang mulus sekali dan CD-nya yang berwarna putih saya remas-remas liang kewanitaannya dengan terburu buru, dia pun makin keras mendesis, “aahh…, aakkhh… ohh…, nikmat sekali…”, dengan pelan-pelan saya turunkan cdnya sambil saya tunggu reaksinya tetapi ternyata dia cuma diam saja, (tiba-tiba di kepala muncul tanda setan).
Terlihatnya liang kewanitaannya yang ditumbuhi bulu-bulu tapi sangat sedikit. Sayapun menjilatinya dengan penuh nafsu, diapun makin berteriak, “Aakkhh…, akkhh…, lagi…, lagii..”.
Setelah puas sayapun menyuruhnya duduk di lantai sambil saya membuka kancing celanaku dan saya turunkan sampai lutut terlihatlah CD-ku, saya tuntun tangannya untuk mengelus penis saya yang sudah sangat tegang sehingga sepertinya mau loncat dari CD-ku.
Diapun mengelusnya terus mulai memegang penis saya. Saya turunkan CD-ku maka penis saya langsung berkelebat keluar hampir mengenai mukanya. Diapun kaget sambil melotot melihat penis saya yang mempunyai ukuran lumayan besar (diameter 3 cm dan panjang kira-kira 15 cm) saya menyuruhnya untuk melepas kaos yang dia kenakan dan roknya juga seperti dipangut dia menurut saja apa yang saya suruh lakukan.
Dengan terburu-buru saya pun melepas semua baju saya dan celana saya kemudian karena dia duduk dilantai sedangkan saya dikursi, saya tuntun penis saya ke wajahnya dia pun cuma melihatnya saja. Saya suruh untuk membuka mulutnya tapi kayaknya dia ragu-ragu.
Setengah memaksa, saya tarik kepalanya akhirnya penisku masuk juga kedalam mulutnya dengan perlahan dia mulai menjilati penis saya, langsung saya teriak pelan, “Aakkhh…, aakkhh…”, sambil ikut membantu dia memaju-mundurkan penis saya di dalam mulutnya.
“aakk…, akk…, nikmat sayyaangg…”. Setelah agak lama akhirnya saya suruh berdiri dan melepaskan CD-nya tapi muncul keraguan di wajahnya sedikit gombal akhirnya CD dan BH-nya dia lepaskan juga maka telanjang bulatlah dia depanku sambil berdiri. Sayapun tak mau ketinggalan saya langsung berdiri dan langsung melepas CD-ya.
Saya langsung menubruknya sambil menjilati wajahnya dan tangan saya meremas-remas kedua payudaranya yang putingnya sudah semakin tegang, diapun mendesis, “Aahh…, aahh…, aahh…, aahh”, sewaktu tangan kananku saya turunkan ke liang kemaluannya dan memainkan jari-jariku di sana.
Setelah agak lama baru saya sadar bahwa jari saya telah basah. Saya pun menyuruhnya untuk membelakangiku dan saya siapkan penis saya.
Saya genggam penis saya menuju liang senggamanya dari belakang. Saya sodok pelan-pelan tapi tidak maumasuk-masuk saya sodok lagi terus hingga dia pun terdorong ke tembok tangannyapun berpangku pada tembok sambil mendengar dia mendesis, “Aahh…, ssaayaa..,. ssaayaangg…, kaammuu…”, sayapun terus menyodok dari belakang.
Mungkin karena kering penis saya nggak mau masuk-masuk juga saya angkat penis saya lalu saya ludahi tangan saya banyak-banyak dan saya oleskan pada kepala penissaya dan batangnya dia cuma memperhatikan dengan mata sayu setelah itu.
Saya genggam penis saya menuju liang senggamanya kembali. Pelan-pelan saya cari dulu lubangnya begitu saya sentuh lubang kemaluannya dia pun langsung mendesis kembali, “Ahh…, aahh…”, saya tuntun penis saya menuju lubang senggamanya itu tapi saya rasakan baru masuk kepalanya saja diapun langsung menegang tapi saya sudah tidak peduli lagi.
Dengan satu hentakan yang keras saya sodok kuat-kuat lalu saya rasa penis saya seperti menyobek sesuatu maka langsung saja dia berontak sambil berteriak setengah menangis, “Ssaakkiitt…”. Saya rasakan penis saya sepertinya dijepit oleh dia keras sekali hingga kejantanan saya terasa seperti lecet di dalam kewanitaannya.
Saya lalu bertahan dalam posisi saya dan mulai kembali menyiuminya sambil berkata “Tahann.. sayang… cuman sebentar kok…”
Saya memegang kembali payudaranya dari belakang sambil saya remas-remas secara perlahan dan mulut saya menjilati belakangnya lalu lehernya telinganya dan semua yang bisa dijangkau oleh mulut saya agak lama.
Kemudian dia mulai mendesis kembali menikmati ciuman saya dibadan dan remasan tangan saya di payudaranya, “Ahh…, aahh…, ahh…, kamu sayang sama lakukan?” dia berkata sambil melihat kepada saya dengan wajah yang penuh pengharapan.
Saya cuma menganggukkan kepala padahal saya lagi sedang menikmati penis saya di dalam liang kewanitaannya yang sangat nikmat sekali seakan-akan saya lagi berada di suatu tempat yang dinamakan surga. “Enak sayang?”, kataku.
Dia cuma mengangguk pelan sambil tetap mengeluarkan suara-suara kenikmatan, “Aahh…, aahh…” lalu saya mulai bekerja, saya tarik pelan-pelan penis saya lalu saya majukan lagi tarik lagi majukan lagi dia pun makin keras mendesis, “Aahh…, ahh…, ahhkkhh…”
Akhirnya ketika saya rasakan bahwa dia sudah tidak kesakitan lagi saya pun mengeluar-masukkan penis saya dengan cepat dia pun semakin melenguh menikmati semua yang saya perbuat pada dirinya sambil terus-meremas payudaranya yang besar itu. Dia teriak “Sayaa mauu keeluuarr…”.
Sayapun berkata “aahhkkssaayyaanggkkuu…”, saya langsung saja sodok dengan lebih keras lagi sampai-sampai saya rasakan menyentuh dasar dari liang senggamanya tapi saya benar-benar kesetanan tidak peduli lagi dengan suara-suara.
“Ahh…, aahh…, ahh…, akkhh…, akkhh…, truss” langsung dia bilang “Sayyaa kkeelluuaarr…, akkhh…, akhh…”, tiba-tiba dia mau jatuh tapi saya tahan dengan tangan saya.
Saya pegangi pinggulnya dengan kedua tangan saya sambil saya kocok penis saya lebih cepat lagi, “Akkhh…, akkhh…, ssaayyaa mauu…, kkeelluuaarr…, akkhh…”, pegangan saya di pinggulnya saya lepaskan dan langsung saja dia terjatuh terkulai lemas.
Dari penis saya menyemprotlah air mani sebanyak-banyaknya, “Ccroott…, croott.., ccrroott…, akkhh…, akkhh…”, saya melihat air mani saya membasahi sebagian tubuhnya dan rambutnya, “Akhh…, thanks sayangkuu…”, sambil berjongkok saya cium pipinya sambil saya suruh jilat lagi penisku.
Diapun menjilatinya sampai bersih. Setelah itu saya bilang pakai pakaian kamu dengan malas dia berdiri mengambil bajunya dan memakainya kembali.
Setelah kami berdua selesai saya mengecup bibirnya sambil berkata, “Saya pulang dulu yah sampai besok sayang…!”.
Dia cuma mengangguk tidak berkata-kata lagi mungkin lemas mungkin nyesal tidak tahu ahh. Saya lihat jam saya sudah menunjukkan jam 23.35, saya pulang dengan sejuta kenikmatan.
Si Cantik RIna Anak smp
Aku adalah seorang mahasiswa tingkat akhir di perguruan tinggi di Bandung, dan sekarang sudah tingkat akhir. Untuk saat ini aku tidak mendapatkan mata kuliah lagi dan hanya mengerjakan skripsi saja. Oleh karena itu aku sering main ke tempat abangku di Jakarta.
Suatu hari aku ke Jakarta. Ketika aku sampai ke rumah kakakku, aku melihat ada tamu, rupanya ia adalah teman kuliah kakakku waktu dulu. Aku dikenalkan kakakku kepadanya. Rupanya ia sangat ramah kepadaku. Usianya 40 tahun dan sebut saja namanya Firman. Ia pun mengundangku untuk main ke rumahnya dan dikenalkan pada anak-istrinya. Istrinya, Dian, 7 tahun lebih muda darinya, dan putrinya, Rina, duduk di kelas 2 SMP.
Kalau aku ke Jakarta aku sering main ke rumahnya. Dan pada hari Senin, aku ditugaskan oleh Firman untuk menjaga putri dan rumahnya karena ia akan pergi ke Malang, ke rumah sakit untuk menjenguk saudara istrinya. Menurutnya sakit demam berdarah dan dirawat selama 3 hari. oleh karena itu ia minta cuti di kantornya selama 1 minggu. Ia berangkat sama istrinya, sedangkan anaknya tidak ikut karena sekolah.
Setelah 3 hari di rumahnya, suatu kali aku pulang dari rumah kakakku, karena aku tidak ada kesibukan apapun dan aku pun menuju rumah Firman. Aku pun bersantai dan kemudian menyalakan VCD. Selesai satu film. Saat melihat rak, di bagian bawahnya kulihat beberapa VCD porno. Karena memang sendirian, aku pun menontonnya. Sebelum habis satu film, tiba-tiba terdengar pintu depan dibuka. Aku pun tergopoh-gopoh mematikan televisi dan menaruh pembungkus VCD di bawah karpet.
“Hallo, Oom Ryan..!” Rina yang baru masuk tersenyum.
“Eh, tolong dong bayarin Bajaj… uang Rina sepuluh-ribuan, abangnya nggak ada kembalinya.”
Aku tersenyum mengangguk dan keluar membayarkan Bajaj yang cuma dua ribu rupiah.
Saat aku masuk kembali.., pucatlah wajahku! Rina duduk di karpet di depan televisi, dan menyalakan kembali video porno yang sedang setengah jalan. Mia memandang kepadaku dan tertawa geli.
“Ih! Oom Ryan! Begitu, tho, caranya..? Rina sering diceritain temen-temen di sekolah, tapi belon pernah liat.”
Gugup aku menjawab, “Rina… kamu nggak boleh nonton itu! Kamu belum cukup umur! Ayo, matiin.”
“Aahhh, Oom Ryan. Jangan gitu, dong! Tu, liat… cuma begitu aja! Gambar yang dibawa temen Rina di sekolah lebih serem.”
Tak tahu lagi apa yang harus kukatakan, dan khawatir kalau kularang Rina justru akan lapor pada orangtuanya, aku pun ke dapur membuat minum dan membiarkan Rina terus menonton. Dari dapur aku duduk-duduk di beranda belakang membaca majalah.
Sekitar jam 7 malam, aku keluar dan membeli makanan. Sekembalinya, di dalam rumah kulihat Rina sedang tengkurap di sofa mengerjakan PR, dan… astaga! Ia mengenakan daster yang pendek dan tipis. Tubuh mudanya yang sudah mulai matang terbayang jelas. Paha dan betisnya terlihat putih mulus, dan pantatnya membulat indah. Aku menelan ludah dan terus masuk menyiapkan makanan.
Setelah makanan siap, aku memanggil Rina. Dan.., sekali lagi astaga… jelas ia tidak memakai BH, karena puting susunya yang menjulang membayang di dasternya. Aku semakin gelisah karena penisku yang tadi sudah mulai “bergerak”, sekarang benar-benar menegak dan mengganjal di celanaku.
Selesai makan, saat mencuci piring berdua di dapur, kami berdiri bersampingan, dan dari celah di dasternya, buah dadanya yang indah mengintip. Saat ia membungkuk, puting susunya yang merah muda kelihatan dari celah itu. Aku semakin gelisah. Selesai mencuci piring, kami berdua duduk di sofa di ruang keluarga.
“Oom, ayo tebak. Hitam, kecil, keringetan, apaan..!”
“Ah, gampang! Semut lagi push-up! Khan ada di tutup botol Fanta! Gantian… putih-biru-putih, kecil, keringetan, apa..?”
Mia mengernyit dan memberi beberapa tebakan yang semua kusalahkan.
“Yang bener… Rina pakai seragam sekolah, kepanasan di Bajaj..!”
“Aahhh… Oom Ryan ngeledek..!”
Mia meloncat dari sofa dan berusaha mencubiti lenganku. Aku menghindar dan
menangkis, tapi ia terus menyerang sambil tertawa, dan… tersandung!
Ia jatuh ke dalam pelukanku, membelakangiku. Lenganku merangkul dadanya,
dan ia duduk tepat di atas batang kelelakianku! Kami terengah-engah dalam posisi itu. Bau bedak bayi dari kulitnya dan bau shampo rambutnya membuatku makin terangsang. Dan aku pun mulai menciumi lehernya. Rina mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah dadanya.
Nafas Rina makin terengah, dan tanganku pun masuk ke antara dua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang.
“Uuuhh… mmmhhh…” Rina menggelinjang. Kesadaranku yang tinggal sedikit seolah memperingatkan bahwa yang sedang kucumbu adalah seorang gadis SMP, tapi gariahku sudah sampai ke ubun-ubun dan aku pun menarik lepas dasternya dari atas kepalanya. Aahhh..! Rina menelentang di sofa dengan tubuh hampir polos!
Aku segera mengulum puting susunya yang merah muda, berganti-ganti kiri dan kanan hingga dadanya basah mengkilap oleh ludahku. Tangan Rina yang mengelus belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tak sabar. Aku menarik lepas celana dalamnya, dan.. nampaklah bukit kemaluannya yang baru ditumbuhi rambut jarang. Bulu yang sedikit itu sudah nampak mengkilap oleh cairan kemaluan Rina. Aku pun segera membenamkan kepalaku ke tengah kedua pahanya.
“Ehhh… mmmaaahhh..,” tangan Rina meremas sofa dan pinggulnya menggeletar ketika bibir kemaluannya kucium.
Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan mengemut perlahan.
“Ooohh… aduuhhh..,” Rina mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat.
Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali lidahku akan membelai kelentitnya dan tubuh Rina akan terlonjak dan nafas Rina seakan tersedak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya sedikit membesar dan mengeras.
Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Rina tergeletak terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa aku membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Rina.
“Mmmhh… mmmhhh… ooohhhmmm..,” ketika Rina membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku.
Mungkin film tadi masih diingatnya, jadi ia pun mulai menyedot. Tanganku
berganti-ganti meremas dadanya dan membelai kemaluannya.
Segera saja kemaluanku basah dan mengkilap. Tak tahan lagi, aku pun naik ke atas tubuh Rina dan bibirku melumat bibirnya. Aroma kemaluanku ada di mulut Rina dan aroma kemaluan Rina di mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit.
Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Rina, dan sebentar kemudian kurasakan tangan Rina menekan pantatku dari belakang.
“Ohhmm, mam… msuk… hhh… msukin… Omm… hhh… ehekmm…”
Perlahan kemaluanku mulai menempel di bibir liang kemaluannya, dan Rina semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku kutekan, tetapi gagal saja karena tertahan sesuatu yang kenyal. Aku pun berpikir, apakah lubang sekecil ini akan dapat menampung kemaluanku yang besar ini. Terus terang saja, ukuran kemaluanku adalah panjang 15 cm, lebarnya 4,5 cm sedangkan Rina masih SMP dan ukuran lubang kemaluannya terlalu kecil.
Tetapi dengan dorongan nafsu yang besar, aku pun berusaha. Akhirnya usahaku pun berhasil. Dengan satu sentakan, tembuslah halangan itu. Rina memekik kecil, dahinya mengernyit menahan sakit. Kuku-kuku tangannya mencengkeram kulit punggungku. Aku menekan lagi, dan terasa ujung kemaluanku membentur dasar padahal baru 3/4 kemaluanku yang masuk. Lalu aku diam tidak bergerak, membiarkan otot-otot kemaluan Rina terbiasa dengan benda yang ada di dalamnya.
Sebentar kemudian kernyit di dahi Rina menghilang, dan aku pun mulai menarik dan menekankan pinggulku. Rina mengernyit lagi, tapi lama kelamaan mulutnya menceracau.
“Aduhhh… ssshhh… iya… terusshh… mmmhhh… aduhhh… enak… Oommm…”
Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Rina, lalu membalikkan kedua tubuh kami hingga Rina sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak 3/4 kemaluanku menancap di kemaluannya. Tanpa perlu diajarkan, Rina segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku berganti-ganti meremas dan menggosok dada, kelentit dan pinggulnya, dan kami pun berlomba mencapai puncak.
Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Rina makin menggila dan ia pun membungkukkan tubuhnya dan bibir kami berlumatan. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya menyentak berhenti. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang kemaluanku.
Setelah tubuh Rina melemas, aku mendorong ia telentang. Dan sambil menindihnya, aku mengejar puncakku sendiri. Ketika aku mencapai klimaks, Rina tentu merasakan siraman air maniku di liangnya, dan ia pun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang ke dua.
Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme.
“Aduh, Oom… Rina lemes. Tapi enak banget.”
Aku hanya tersenyum sambil membelai rambutnya yang halus. Satu tanganku lagi ada di pinggulnya dan meremas-remas. Kupikir tubuhku yang lelah sudah terpuaskan, tapi segera kurasakan kemaluanku yang telah melemas bangkit kembali dijepit liang vagina Rina yang masih amat kencang.
Aku segera membawanya ke kamar mandi, membersihkan tubuh kami berdua dan… kembali ke kamar melanjutkan babak berikutnya. Sepanjang malam aku mencapai tiga kali lagi orgasme, dan Rina… entah berapa kali. Begitupun di saat bangun pagi, sekali lagi kami bergumul penuh kenikmatan sebelum akhirnya Rina kupaksa memakai seragam, sarapan dan berangkat ke sekolah.
Kembali ke rumah Firman, aku masuk ke kamar tidur tamu dan segera pulas kelelahan. Di tengah tidurku aku bermimpi seolah Rina pulang sekolah, masuk ke kamar dan membuka bajunya, lalu menarik lepas celanaku dan mengulum kemaluanku. Tapi segera saja aku sadar bahwa itu bukan mimpi, dan aku memandangi rambutnya yang tergerai yang bergerak-gerak mengikuti kepalanya yang naik-turun. Aku melihat keluar kamar dan kelihatan VCD menyala, dengan film yang kemarin. Ah!
Merasakan caranya memberiku “blowjob”, aku tahu bahwa ia baru saja belajar dari VCD.
Pacarku Akhirnya Mau Ngeseks Juga
Haiii pembaca setia Cerita-Dewasa.Us…. kenalkan namaku Ryan, umur saat ini 22 tahun, tercatat sebagai mahasiswa sebuah PTS di Bandung. Pengalaman nyata cerita dewasa sex yang akan kuceritakan ini terjadi tiga tahun yang lalu. Sudah lama memang, tapi aku selalu teringat-ingat pengalaman seks tersebut dan tak akan pernah aku melupakan satu nama seorang mahasiswi bernama Cindy. Walau hingga sekarang pun akan selalu kukenang saat-saat indah bersamanya. Pertemanan akrabku dengan Cindy karena ia adalah cucu dari ibu kostku. Cindy lebih tua 2 tahun dan dia anak Surabaya, sedang kuliah di Bandung hanya beda kampus denganku. Yang aku tahu, kedua orangtuanya sudah pisah ranjang selama dua tahun (tapi tidak bercerai) dan Cindy ikut tinggal bersama neneknya (ibu kostku) ketika ia masuk kuliah. Mungkin terlalu panjang kalo kuceritakan bagaimana prosesnya hingga kami berpacaran. Aku beruntung punya cewek seperti dia yang wajahnya sangat cantik (pernah dia ditawarin untuk menjadi model), segala yang diidamkan pria melekat pada dia. Kulitnya yang putih, hidung bangir, matanya yang indah dan bening, rambut ikal serta tubuhnya yang sexy padat.. Aku juga nggak tahu kenapa ibu kost menerimaku untuk nge-kost dirumahnya padahal yang kost di rumahnya adalah cewek semua. Mungkin karena ngeliat tampangku seperti orang baik-baik kali ya (hehehe)… Pada awal kami berpacaran, Cindy termasuk pelit untuk urusan mesra-mesraan. Jangankan untuk berciuman, minta pegang tangannya saja susahnya minta ampun, ga terbayang deh untuk bisa ngentot dia hehehe… ! Padahal aku termasuk orang yang hypersex, dan aku sering kali melakukan onani untuk melampiaskan nafsu seksku, hingga sekarang. Aku bisa melakukan onani sampai tiga kali sehari. Setiap kali fantasi dan gairah seksku datang, pasti kulakukan kebiasaan jelekku itu. Entah dikamar mandi menggunakan sabun, sambil nonton VCD porno dan seringnya sambil tiduran telungkup di atas kasur sambil kugesek-gesekkan penisku. Aku merasakan nikmat setiap orgasme onani. Back to story, sejak aku dan Cindy resmi jadian, baru dua minggu kemudian dia mau kucium pipinya. Itu pun setelah melalui perdebatan yang panjang, akhirnya ia mau juga kucium pipinya yang mulus itu, dan aku selalu ingin merasakan dan mengecup lagi sejak saat itu. Hingga pada suatu malam, ketika waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh, aku, Cindy dan Desi (anak kost yang lain) masih asyik menonton TV di ruang tengah. Sementara ibu kostku serta 3 anak kost yang lain sudah pergi tidur. Kami bertiga duduk diatas permadani yang terhampar di ruang tengah. Desi duduk di depan sementara aku dan Cindy duduk agak jauh dibelakangnya. Lampu neon yang menyinari ruangan selalu kami matikan kalau sedang menonton TV. Biar tidak silau kena mata maksudnya. Atau mungkin juga demi menghemat listrik. Yang jelas, cahaya dari TV agak begitu samar dan remang-remang. Desi masih asyik menonton dan Cindy yang disampingku saat itu hanya mengenakan kaos ketat dan rok mini matanya masih konsen menonton film tersebut. Sesekali saat pandangan Desi tertuju pada TV, tanganku iseng-iseng memeluk pinggang Cindy. Entah Cindy terlalu memperhatikan film hingga tangannya tidak menepis saat tanganku memeluk tubuhnya yang padat. Dia malah memegang rambutku, dan membiarkan kepalaku bersandar di pundaknya. Terkadang kalo pas iklan, Cindy pura-pura menepiskan tanganku agar perbuatanku tidak dilihat Desi. Dan saat film diputar lagi, kulingkarkan tanganku kembali. “I love you, honey….” Bisikku di telinganya. Cindy menoleh ke arahku dan tanpa sepengetahuan Desi, ia mendaratkan ciumannya ke pipiku. Oh my God, baru pertama kali aku dicium seorang cewek, tanpa aku minta pula. Situasi seperti ini tiba-tiba membuat pikiranku jadi ngeres apalagi saat Cindy meremas tanganku yang saat itu masih melingkar di pinggangnya, dan matanya yang sayu sekilas menoleh ke arah Desi yang masih nongkrong di depan TV. Aman, pikirku.Apalagi ditambah ruangan yang hanya mengandalkan dari cahaya Tv, maka sesekali tanganku meremas payudara Cindy. Cindy menggelinjang, sesekali menahan nafas. Lutut kanannya ditekuk, hingga saat tangan kiriku masuk ke dalam daster bagian bawah yang agak terbuka dari tadi, sama sekali tidak diketahui Desi. Mungkin ia konsen dengan film, atau mungkin juga ia sudah ngantuk karena kulihat dari tadi sesekali ia mengangguk seperti orang ketiduran. Ciumanku kini sedikit menggelora, menelusuri leher Cindy yang putih mulus sementara tangan kiriku menggesek-gesekkan perlahan vagina Cindy yang masih terbungkus celana dalam. Ia mendesah dan mukanya mendongak ke atas saat kurasakan celana dalamnya mulai basah dan hangat. Mungkin ia merasakan kenikmatan, pikirku.Tanganku yang mulai basah oleh cairan vagina Cindy buru-buru kutarik dari dalam roknya, ketika tiba-tiba Desi bangkit dan melihat ke arah kami berdua. Kami bersikap seolah sedang konsen nonton juga. “Aku ngantuk. Tidur duluan ya….. nih remote-nya!” ujar Desi sambil menyerahkan remote TV pada Cindy. Desi kemudian masuk ke kamarnya dan mengunci pintu dari dalam. Aku yang tadi agak gugup, bersorak girang ketika Desi hanya pamitan mau tidur. Aku pikir dia setidaknya mengetahui perbuatanku dengan Cindy. Bisa mati aku. Cindy yang sejak tadi diam (mungkin karena gugup juga) matanya kini tertuju pada TV. Aku tahu dia juga pura-pura nonton, maka saat tubuhnya kupeluk dan bibirnya kucium dia malah membalas ciumanku. “Kita jangan disini Say, nanti ketahuan….” Bisiknya diantara ciuman yang menggelora. Segera kubimbing tangan Cindy bangkit, setelah mematikan TV dan mengunci kamar Cindy, kuajak dia ke kamar sebelah yang kosong. Disini tempatnya aman karena setiap yang akan masuk ke kamar ini harus lewat pintu belakang atau depan. Jalan kami berjingkat supaya orang lain yang telah tertidur tidak mendengar langkah-langkah kami atau ketika kami membuka dan menutup kunci dan pintu kamar tengah dengan perlahan. Setelah kukunci dari dalam dan kunyalakan lampu kamar kuhampiri Cindy yang telah duduk di tepi ranjang. “Aku cinta kamu, Cindy…..” ujarku ketika aku telah duduk disampingnya. Mata Cindy menatapku lekat.. Sejenak kulumat bibirnya perlahan dan Cindy pun membalas membuat lidah kami saling beradu. Nafas kami kembali makin memburu menahan rangsangan yang kian menggelora. Desahan bibirnya yang tipis makin mengundang birahi dan nafsuku. Kuturunkan ciumanku ke lehernya dan tangannya menarik rambutku. Nafasnya mendesah. Aku tahu dia sudah terangsang, lalu kulepaskan kaosnya. Payudaranya yang padat berisi ditutupi BH berwarna merah tua. Betapa putih kulitnya, mulus tak ada cacat. Kemudian bibir kami pun berciuman kembali sementara tanganku sibuk melepaskan tali pengikat BH, dan sesaat kemudian kedua payudaranya yang telah mengeras itu kini tanpa ditutupi kain sehelai pun. Kuusap kedua putingnya, dan Cindy pun tersenyum manja. “Ayo Yan, lakukanlah….” Ujarnya. Tak kusia-siakan kesempatan ini, dan mulai kujilati payudaranya bergantian. Sementara tangan Cindy membantu tanganku melepaskan kemeja yang masih kukenakan. Kukecup putingnya hingga dadanya basah mengkilap. Betapa beruntungnya aku bisa menikmati semua yang ada ditubuhnya. Tangan kananku yang nakal mulai merambah turun masuk ke dalam roknya, dan kugesek-gesekkan pelan di bibir vaginanya. Cindy menggelinjang menahan nikmat, sesekali tangannya juga ikut digesek-gesekkan kesekitar vaginanya sendiri. Bibirnya mendesah menahan kenikmatan. Matanya terpejam, Sebentar kemudian vaginanya mulai sedit basah. Dan kami pun mulai melepaskan celana kami masing-masing hingga tubuh kami benar-benar polos. Betapa indahnya tubuh Cindy, apalagi ketika kulihat vaginanya yang terselip diantara kedua selangkangannya yang putih mulus. “Wah.. punyamu oke Cindy, Ok’s banget…” ujarku terpana Begitu mulus memang,ditambah dengan bulu-bulu lebat disekitar bagian sensitifnya. “Burungmu juga besar dan bertenaga. Aku suka Yan….” Balasnya sambil tangannya mencubit pelan kemaluanku yang sudah tegak dari tadi. “Come on Honey….” Pintanya menggoda. Aku tahu Cindy sudah begitu terangsang maka kemudian kusuruh Cindy berbaring di atas kasur. Dan aku baringkan tubuhku terbalik, kepalaku berada di kakinya dan sebaliknya(posisi 69). Kucium ujung kakinya pelan dan kemudian ciumanku menuju hutan lebat yang ada diantara kedua selangkangannya. Kukecup pelan bibir vaginanya yang sudah basah, kujilat klitorisnya sementara mulut Cindy sibuk mengocok-ngocok kemaluanku. Bibir vaginanya yang merah itu kulumat habis tak tersisa. Ehm, betapa nikmatnya punyamu Cindy, pikirku. Ciumanku terus menikmati klitoris Cindy, hingga sekitar vaginanya makin basah oleh cairan yang keluar dari vaginanya. Kedua jari tanganku aku coba masukkan lubang vaginanya dan kurasakan nafas Cindy mendesah pelan ketika jariku kutekan keluar masuk. “Ahh… nikmat Yannn…ahhhh…” erangnya. Kugesek-gesekkan kedua jariku diantara bibir klitorisnya dan Cindy makin menahan nikmat. Selang 5 menit kemudian kuhentikan gesekkan tanganku, dan kulihat Cindy sedikit kecewa ketika aku menghentikan permainan jariku. “Jangan sedih Say, aku masih punya permainan yang menarik, okay?” “Oke. Sekarang aku yang mengatur permainan ya?” ujarnya. Aku mengangguk.Jujur saja, aku lebih suka kalau cewek yang agresif.Cindy pun bangkit, dan sementara tubuhku masih terbaring di atas kasur. “Aku di atas, kamu dibawah, okay? Tapi kamu jangan nusuk dulu ya Say?” Tanpa menunggu jawabanku tubuh Cindy menindih tubuhku dan tangan kanannnya membimbing penisku yang telah berdiri tegak sejak tadi dan blessss…….ah,Cindy merasa bahagia saat seluruh penisku menembus vaginanya dan terus masuk dan masuk menuju lubang kenikmatan yang paling dalam. Dia mengoyang-goyangkan pantatnya dan sesekali gerakannya memutar, bergerak mundur maju membuat penisku yang tertanam bergerak bebas menikmati ruang dalam “gua”-nya. Cindy mendesah setiap kali pantatnya turun naik, merasakan peraduan dua senjata yang telah terbenam di dalam surga.Tanganku meremas kedua payudara Cindy yang tadi terus menggelayut manja. Rambutnya dibiarkan tergerai diterpa angin dingin yang terselip diantara kehangatan malam yang kami rasakan saat ini. Kubiarkan Cindy terus menikmati permainan ini. Saat dia asyik dengan permainannya kulingkarkan tanganku dipinggangnya dan kuangkat badanku yang terbaring sejak tadi kemudian lidah kami pun beradu kembali. “Andainya kita terus bersama seperti ini, betapa bahagianya hidupku ini Cindy ” bisikku pelan “Aku juga, dan ku berharap kita selalu bersama selamanya..” Sepuluh menit berlalu, kulihat gesekan pinggang Cindy mulai lemah. Aku tahu kalau dia mulai kecapekan dan aku yang mengambil inisiatif serangan. Kutekan naik turun pinggangku, sementara Cindy tetap bertahan diam. Dan suara cep-clep-clep… setiap kali penisku keluar masuk vaginanya. “Ahh terusss Yannnnn….terusss…nikmattttt…ah
Langganan:
Postingan (Atom)






