
Di sekolah ini aku dan Dol bekerja sendirian. Kami sengaja hidup
berpindah-pindah tempat. Kami bukanlah pekerja tetap di sekolah
negeri ini, aku hanya mendapat order sebagai cleaning service.
Kami tidak dibayar mahal namun aku memiliki kebebasan untuk
tinggal di lingkungan sekolah ini. Maklumlah aku adalah perantau
yang hidup nomaden.
Diantara gadis-gadis di sekolah tempatku bekerja, ada salah
seorang yang paling menonjol. Aku sangatlah hafal dengannya.
Karena memang dia cantik, lincah dan aktif dalam kegiatan
sekolah, sehingga akupun sering melihat dia mondar-mandir di
sekolahan ini. RATRI namanya. Postur tubuhnya besar, wajahnya
cantik dan manis, kulitnya putih bersih serta wangi selalu,
rambutnya lurus panjang sepunggung dan selalu diurai.
Penampilannyapun modis sekali, seragam sekolah yang
dikenakannya selalu berukuran ketat, rok seragam abu-abunya
berpodolgan sejengkal diatas lutut sehingga pahanya yang putih
mulus itu terlihat, ukuran roknyapun ketat sekali membuat
pantatnya yang sekal itu terlihat menonjol, sampai-sampai garis
celana dalamnyapun terlihat jelas melintang menghiasi lekuk
pantatnya, tak lupa kaos kaki putih selalu menutupi betisnya yang
putih mulus itu.
Tidak bisa kupungkiri lagi aku tengah jatuh cinta kepadanya.
Namun perasaan cintaku kepada Ratri lebih didominasi oleh nafsu
sex semata. Gairahku memuncak apabila aku memandanginya
atau berpapasan dengannya di saat aku tengah bekerja di sekolah
ini. Ingin aku segera meyetubuhinya. Banyak sudah WTS-WTS
kunikmati akan tetapi belum pernah aku menikmati gadis
perawan muda yang cantik dan sexy seperti Ratri ini. Aku ingin
mendapatkan kepuasan itu bersama dengan Ratri. Informasi
demi informasi kukumpulkan dari orang-orang di sekolah itu, dari
penjaga sekolah, dari tukang parkir, dari karyawan sekoah.
Dari merekalah aku mengetahui nama gadis itu. Dan dari orang-
orang itupun aku tahu bahwa gadis yang bernama lengkap Ratri
********* (nama kusamarkan) adalah seorang siswi yang duduk
di kelas 3 SMA, umurnya baru 18 tahun. Beberapa saat yang lalu
dia merayakan hari ulang tahunnya yang ke-18 di kantin sekolah
ini bersama teman-temannya sekelas. Diapun termasuk siswi
yang berprestasi, aktif dalam kegiatan OSIS di sekolah ini. Dan
yang informasi terakhir yang kudapat bahwa dia ternyata adalah
salah seorang murid yang akan diberangkatkan ke luar negeri,
bulan depan dalam rangka pertukaran pelajar antar SMA.
Kini di saat sekolah telah sepi, salah satu dari gadis-gadis anggota
OSIS tadi itu tengah merintih-rintih dihadapanku. Dia adalah gadis
yang terakhir kalinya masih tersisa didalam sekolah ini, yang
sedang asyik bercanda ria dengan temannya melalui HP-nya,
semetara yang lainnya telah meninggalkan halaman sekolah.
Beberapa menit yang lalu melalui sebuah pergulatan yang tidak
seimbang aku telah berhasil meringkusnya dengan mudah,
kedua tangannya kuikat dengan kencang kebelakang tubuhnya,
dan mulutnya kusumpal dengan kain gombal. Setelah itu kuseret
tubuhnya ke massal olahraga yang berada di bagian belakang
bangunan sekolah ini.
Tidak salah salah lagi gadis itu adalah Ratri, gadis cantik sang
primadona sekolah ini yang telah lama kuincar. Aku sangat hafal
dengan kebiasaannya yaitu menunggu jemputan supirnya dikala
selesai rapat OSIS sore dan sang supir selalu terlambat datang
setengah jam dari jam bubaran rapat. Sehingga dia paling akhir
meninggalkan halaman sekolah. Kini dia meringkuk dihadapanku,
dengan tangisannya yang teredam oleh kain gombal yang
kusumpal di mulutnya. Sepertinya dia memohon-mohon
sesuatu padaku tetapi apa peduliku, air matanya nampak
mengalir deras membasahi wajahnya yang cantik itu. Sesekali
nampak dia meronta-ronta mencoba melepaskan ikatan tali
tambang yang mengikat erat di kedua tangannya, namun sia-sia
saja, aku telah mengikat erat dengan berbagai simpul. Posisinya
kini bersujud dihadapanku, tangisannya kian lama kian
memilukan, aku menyadari sepenuhnya bahwa dia kini tengah
berada dalam rasa keputusasaan dan ketakutan yang teramat
sangat didalam dirinya.
Kutatap tajam dan kupandangi tubuh gadis cantik itu, indah nian
tubuhnya, kulitnya putih bersih, pantatnya sekal berisi. Kunikmati
rintihan dan tangis gadis cantik yang tengah dilanda ketakutan itu,
bagai seseorang yang tengah menikmati alunan musik didalam
ruangan sepi. Suara tangisnya yang teredam itu memecahkan
kesunyian massal olahraga di sekolah yang tua ini. Sesekali dia
meronta-ronta mencoba melepaskan tali ikatan yang mengikat
kedua tangannya itu. Lama kelamaan kulihat badannya mulai
melemah, isak tangisnya tidak lagi sekeras tadi dan sekarang dia
sudah tidak lagi meronta-ronta mungkin tenaganya telah habis
setelah sekian lamanya menagis meraung-raung dengan
mulutnya yang telah tersumbat. Sepertinya didalam hatinya dia
menyesali, kenapa Pak Jos supirnya selalu terlambat
menjemputnya, kenapa tadi tidak menumpang sahabat karibnya
yang tadi mengajaknya pulang bareng, kenapa tadi tidak
langsung keluar dari lingkungan sekolah di saat latihan usai,
kenapa malah asyik melalui HP bercanda ria dengan sahabatnya
yang lain. Yah, semua terlambat untuk disesali pikirnya, dan saat
ini sesuatu yang mengerikan akan terjadi pada dirinya.
“Beres Gol, pintu pagar depan sudah gue tutup dan
gembok” terdengar suara dari seseorang yang tengah
memasuki massal. Ternyata Dol dengan langkah agak
gontai dia menutup pintu massal yang mulai gelap ini.
“OK sip, gue udah beresin nih anak, tinggal kita pake aja”
ujarku kepada Dol sambil tersenyum.
Kebetulan malam ini Pak Marijan sang penjaga sekolah beserta
keluarganya yang tinggal di dalam lingkungan sekolah ini yaitu
sedang pulang kampung, baru besok lusa mereka kembali ke
sekolah ini. Mereka langsung mempercayakan kepada kami untuk
menjaga sekolah ini selama mereka pergi. Maka tinggallah kami
berdua bersama dengan Ratri yang masih berada didalam
sekolah ini. Pintu gerbang sekolah telah kami rantai dan kami
gembok sehingga orang-orang menyangka pastilah sudah tidak
ada aktifitas atau orang lagi didalam gedung ini. Pak Jos sang
supir yang menjemput Ratri pastilah berpikiran bahwa Ratri telah
pulang, setelah melihat keadaan sekolah itu.
Kupandang lagi tubuh Ratri yang lunglai itu, badannya bergetar
karena rasa takut yang teramat sangat didalam dirinya. Hujanpun
mulai turun, ruangan didalam massal semakin gelap gulita angin
dinginpun bertiup masuk kedalam massal itu, Dol menyalakan
satu buah lampu TL yang persis diatas kami, sehingga cukup
menerangi bagian disekitar kami saja. Mulailah kubuka bajuku
satu per satu, hingga akhirnya aku telanjang bulat. Batang
kemaluanku telah lama berereksi semenjak meringkus Ratri di
teras sekolah tadi.
“Gue dulu ya” ujarku ke Dol.
“Ok boss” balas Dol sambil kemudian berjalan
meninggalkan aku keluar massal.
Kudekati tubuh Ratri yang tergolek dilantai, kuraba-raba
punggung gadis itu, kurasakan detak jantungnya yang berdebar
keras, kemudian tanganku turun hingga bagian pantatnya yang
sekal itu, kuusap-usap pantatnya dengan lembut, kurasakan
kenyal dan empuknya pantat itu sambil sesekali kutepok-tepok.
Badan Ratri kembali kurasakan bergetar, tangisnya kembali
terdengar, sepertinya dia kembali memohon sesuatu, akan tetapi
karena mulutnya masih tersumbat suaranyapun tidak jelas dan
aku tidak memperdulikannya. Dari daerah pantat tanganku turun
ke bawah ke daerah lututnya dan kemudian menyelinap masuk
kedalam roknya serta naik ke atas kebagian pahanya. Kurasakan
lembut dan mulus sekali paha Ratri ini, kuusap-usap terus
menuju ke atas hingga kebagian pangkal pahanya yang masih
ditutupi oleh celana dalam. Karena sudah tidak tahan lagi,
kemudian aku posisikan tubuh Ratri kembali bersujud, dengan
kepala menempel dilantai, dengan kedua tangannya masih terikat
kebelakang. Aku singkapkan rok seragam abu-abu SMUnya
sampai sepinggang.
“Waw indah nian gadis ini” gumamku sambil melototi
paha dan pantat sekal gadis ini.
Kemudian aku lucuti celana dalamnya yang berwarna putih itu,
terlihatlah dua gundukan pantat sekal gadis ini yang putih bersih.
Sementara Ratri terus menagis kini aku memposisikan diriku
berlutut menghadap ke pantat gadis itu, kurentangkan kedua
kakinya melebar sedikit. Dengan jari tengahku, aku coba meraba-
raba selangkangan gadis ini. Di saat jari tengahku menempel pada
bagian tubuhnya yang paling pribadi itu, tiba-tiba tubuh gadis ini
mengejang. Mungkin saat ini pertama kali kemaluannya disentuh
oleh tangan seorang lelaki. Di saat kudapatkan bibir kemaluannya
kemudian dengan jariku itu, aku korek-korek lubang
kemaluannya. Dengan maksud agar keluar sedikit cairan
kewanitaannya dari lubang kemaluannya itu. Tubuhnya seketika
itu menggeliat-geliat di saat kukorek-korek lubang kemaluannya,
suara desahan-desahanpun terdengar dari mulut Ratri, tidak lama
kemudian kemaluannya mulai basah oleh cairan lendir yang
dikeluarkan dari lubang vaginanya. Setelah itu dengan segera
kucabut jari tengahku dan kubimbing batang kemaluanku dengan
tangan kiriku kearah bibir vagina Ratri. Pertama yang aku pakai
adalah gaya misionaris, ini adalah gaya favoritku. Dan…
“Hmmmpphhhh” terdengar rintihan dari mulut Ratri di
saat kulesakkan batang kemaluanku ke bibir vaginanya.
Dengan sekuat tenaga aku mulai mendorong-dorong batang
kemaluanku masuk kelubang kemaluannya. Rasanya sangat seret
sekali, karena sempitnya lubang kemaluan gadis perawan ini. Aku
berusaha terus melesakkan batang kemaluanku kelubang
kemaluannya dengan dibantu oleh kedua tanganku yang
mencengkram erat pinggulnya. Kulihat badan Ratri mengejang,
kepala mendongak ke atas dan sesekali menggeliat-geliat. Aku
tahu saat ini dia tengah merasakan sakit dan pedih yang tiada
taranya. Keringat terus mengucur deras membasahi baju
seragam sekolahnya, namun harum wangi parfumnya masih
terus tercium, membuat segarnya aroma Ratri saat itu, rintihan-
rintihan terdengar dari mulutnya yang masih tersumpal itu. Dan
akhirnya setelah sekian lamanya aku terus melesakkan batang
kemaluanku, kini bobol sudah lubang kemaluan Ratri. Aku telah
berhasil menanamkan seluruh batang kemaluanku kedalam
lubang vaginanya. Kurasakan kehangatan disekujur batang
kemaluanku, dinding vagina Ratri terasa berdenyut-denyut seperti
mengurut-urut batang kemaluanku. Sejenak kudiamkan batang
kemaluanku tertanam didalam lubang vaginanya, kunikmati
denyutan-demi denyutan dinding vagina Ratri yang
mencengkram erat batang kemaluanku. Selanjutnya kurasakan
seperti ada cairan mengucur mengalir membasahi batang
kemaluanku dan kemudian meluber keluar menetes-netes.
“Ah, ternyata itu darah, berarti aku telah merenggut
keperawanan dari gadis cantik ini.” batinku.
Sementara itu kepala Ratri kembali tertunduk dilantai, desah
nafasnya terdengar keras, badannya melemas. Setelah itu, aku
mulai memompakan kemaluanku didalam lubang vaginanya.
Kedua tanganku yang mencengkram erat pinggulnya juga
membantu memaju mundurkan tubuhnya. Badan Ratri kembali
tegang, rintihan kembali terdengar. Semakin lama aku semakin
mempercepat gerakanku, hingga tubuh Ratri tersodok-sodok
dengan cepat sesekali, badannya juga menggeliat-geliat. Raut
mukanya meringis-ringis akibat rasa sakit diselangkangannya.
Hujanpun mulai turun dengan deras dan aku ingin menikmati
rintihan-rintihan dari gadis ini. Sementara aku terus menyodok-
nyodok dari belakang, aku putuskan untuk membuka gombal
yang sedari tadi membekap mulutnya. Dan…
“Aakkk…akkkhh…oohh...ooh…iihh…oohh...” suara
erangan Ratri kini terdengar, kunikmati suara-suara itu
sebagai penghantar diriku yang tengah menyetubuhi
gadis ini.
Suaranya menggema diseluruh massal olahraga ini, namun
masih tertelan oleh suara derasnya hujan diluar. Ratri semakin
terlihat kepayahan, tubuhnya melemah namun aku masih terus
menggenjotnya, gerakanku semakin cepat. Bosan dengan posisi
itu aku cabut kemaluanku dari lubang vaginanya dan kulihat
darah berceceran membasahi selangkangannya dan kemaluanku.
Sejenak Ratri mendesahkan nafas lega, kubalik tubuhnya, dan kini
posisi dia terlentang. Setelah itu kurentangkan kedua kakinya dan
kulipat hingga kedua pahanya menyentuh dadanya. Kulihat jelas
kemaluan gadis ini, indah sekali. Bulu-bulunya yang masih
jarang-jarang itu tumbuh menghias disekitar bibir kemaluannya.
“Ohh...jangann mas…ampun mas...ooohh sakittt
sekali...mas” terdengar Ratri merintih pelan memohon
belas kasihan kepadaku.
Dengan menyeringai aku tindih tubuh Ratri itu. Kembali aku
benamkan batang kemaluanku didalam lubang vaginanya.
“Aakkhh” Ratri terpekik matanya terpejam, roman
mukanya kembali meringis kesakitan dikala aku
menanamkan batang kemaluanku kedalam lubang
kemaluannya.
Setelah itu aku kembali memompakan tubuhku, menggenjot
tubuh Ratri. Batang kemaluanku dengan gaharnya mengaduk
aduk, menyodok-nyodok lubang kemaluannya. Tubuh Ratri
kembali tersodok-sodok. Sesekali kuputar-putar pinggulku, yang
membuat tubuh Ratri kembali kelojotan, dari bibir Ratri terdengar
desahan-desahan halus
“Ohh…enngghh…oohh…ohhh…oohh”
Setelah sekian menit lamanya aku menyetubuhinya, aku
merasakan diriku akan berejakulasi. Segera kupeluk kepalanya
dan kucengkram erat dengan kedua tanganku setelah itu irama
gerakanku kupercepat.
“Aakkhhh…” akupun menejan, tubuhku mengeras.
Croot…croottt…croott… akupun berejakulasi, kusemprotkan
spermaku didalam rahimnya. Banyak sekali sperma yang
kukeluarkan menyemprot membasahi liang vaginanya hingga
meluber keluar meleleh membasahi pahanya. Kulihat raut muka
Ratri saat itu nampak panik, sinar matanya menunjukkan
kekalahan dan kepedihan. Dengan tatapan sayu dia
memandangiku di saat aku mengejan menyemprotkan
spermaku yang terakhir. Ahh nikmat sekali gadis ini, baru kali ini
aku merengut keperawanan seorang gadis kota yang cantik.
Setelah itu akupun merebahkan tubuhku menindih tubuhnya
yang lemah, sambil mengatur nafasku. Tubuhku berguncang-
guncang akibat dari isakan-isakan tangisnya serta nafasnya yang
tersengal-sengal, sementara itu kemaluanku kubiarkan tertanam
didalam lubang kemaluannya. Kubelai-belai rambutnya, kukecup-
kecup pipi dan bibirnya. Terasa lembut sekali bibirnya, kumainkan
lidahku didalam mulutnya, sejenak aku bercumbu mesra dengan
Ratri. Dia hanya terisak-isak dengan nafas yang terus tersengal-
sengal. Akhirnya kusudahi permainanku ini, aku bangkit sambil
mencabut kemaluanku.
“Ouugghhhh…” Ratri merintih panjang saat kutarik
kemaluanku keluar dari lubang vaginanya.
Kulihat diselangkangannya telah penuh dengan cairan-cairan
kental dan darah penuh membasahi bulu-bulu kemaluannya. Tak
kusadari Dol ternyata telah berdiri didekatku, dan rupanya dia
telah telanjang bulat menunggu gilirannya, badannya yang kekar
dan tinggi itu nampak semakin sangar dengan banyaknya
gambar-gambar tatto yang menghiasi sekujur dada dan
lengannya. Dengan rasa toleran sebagai seorang sahabat, akupun
menyingkir dari tubuh Ratri yang tergolek lemas dilantai. Aku
ambil jarak beberapa meter dari tubuh Ratri kemudian aku
kembali merebahkan tubuhku. Dengan tiduran terlentang dilantai
aku menggali kembali rasa nikmatku setelah melampiaskan
nafsuku ke Ratri tadi. Sedang asyik-asyiknya aku istirahat,
terdengar olehku bunyi sesuatu, srett…sreettt…sreett…brett...
diikuti oleh isak tangis Ratri yang terdengar kembali. Setelah
kuperhatikan, oh ternyata Dol dengan sebuah pisau cutter
ditangannya tengah sibuk merobek-robek baju seragam Ratri.
Dengan kasarnya Dol mencabik-cabik baju seragam putih Ratri,
termasuk BH putih yang dikenalkannya. Dan akhirnya kini badan
Ratri telah telanjang, kedua buah payudaranya yang putih mulus
namun tidak begitu besar kini terpampang jelas. Termasuk juga
rok abu-abu yang melilit dipinggangnya setelah kusingkap tadi
dirobek-robeknya, hanya sepasang kaos kaki putih setinggi
betisnya serta sepatu kets masih dikenakannya.
“Ouuhh…ammpuunn…mas…ampun…” suara Ratri
terdengar lirih memohon-mohon ampun ke Dol yang
sepertinya tengah kalap kemasukan setan itu.
Setelah itu dengan kain gombal yang tadi menyumpal mulut
Ratri, Dol membersihkan daerah selangkangan Ratri. Dengan
sedikit kasar Dol mengusap-usap selangkangan Ratri sampai-
sampai tubuh Ratri menggeliat-geliat. Akupun kembali
merebahkan tubuhku dan mengatur nafasku.Sementara itu hujan
diluar mulai reda, namun angin dingin terus berhembus masuk
kedalam massal tempat pembantaian Ratri ini. Tiba-tiba semenit
kemudian dikala aku sedang rebahan, terdengar olehku jerit Ratri
yang memilukan
“Aaakkhhhhh...”
Akupun terbangun, kulihat dari asal suara itu. Ternyata Dol
tengah menyodomi Ratri. Posisi Ratri kembali bersujud dengan
kepala yang mendongak ke atas, bola matanya terbelalak,
wajahnya cantiknya terlihat miris sekali, mulutnya menganga
membentuk huruf “O” dan Dol berada dibelakangnya tengah
asyik menanamkan batang kemaluannya yang besar itu ke dalam
lubang anus Ratri.
“Aakkhh…”
Dolpun mendesah lepas tatkala dia berhasil menanamkan batang
kemaluannya di lubang anus Ratri. Setelah itu lubang anus Ratri
dihujani sodokan-sodokan batang kemaluan Dol, Dol
melakukannya dengan gerakan yang cepat dan kasar sampai-
sampai tubuh Ratri terdorong-dorong dan tersodok-sodok
dengan keras.Tidak ada suara rintihan lagi yang keluar dari mulut
Ratri mungkin karena suara tertahan ditenggorokannya karena
menahan rasa sakit yang dideritanya, akan tetapi badannya masih
kaku menegang, raut mukanya kini meringis-ringis, mulutnya
masih saja menganga terbuka. Rasa sakit dan pedih kembali
melanda dirinya yang tengah disodomi oleh Dol.
Melihat ini aku kembali terangsang, nafsu birahiku kembali
memuncak. Aku bangkit dari rebahanku mendekati mereka
berdua. Kemaluanku kembali ereksi melihat keadaan Ratri yang
tengah menderita. Kuamati wajahnya dari dekat dan dia masih
terlihat cantik, keringatpun mengucur deras membasahi wajah
cantiknya. Aku dengan posisi berlutut berada didepan wajah
Ratri, yang masih mendongak kesakitan itu, sementara itu
seluruh badannya terus tersodok-sodok karena ulah Dol yang
menggenjotnya dari belakang. Kini aku dan Dol berhadap-
hadapan sementara Ratri berada ditengah-tengah kami. Dolpun
menghentikan sejenak genjotannya untuk memberikan
kesempatan padaku memposisikan diri. Kuraih batang
kemaluanku yang telah berdiri tegak, dan kujejalkan kemulut Ratri
yang masih menganga itu. Ah, rasa dingin dan basah
menyelimuti sekujur batang kemaluanku tatkala masuk didalam
rongga mulut Ratri. Nikmat rasanya, juga kurasakan kelembutan
mulut dan bibirnya disekujur batang kemaluanku.Setelah itu
kembali Dol menggenjot tubuh Ratri dari belakang. Kulirik mata
Ratri menjadi sayu, nafasnya tersengal-sengal, aku hanya berdiri
santai saja, karena tubuh Ratri yang bergerak-gerak maju
mundur sebagai akibat sodokan-sodokan Dol yang tengah mulai
menyodominya kembali dari belakang. Kubelai-belai rambutnya
yang indah, sambil kutatap wajah dan badannya.
“Ahh…ahh…ah…“
Nikmat sekali rasanya mulut gadis ini, sambil memejamkan mata
aku terus merasakan kenikmatan di sekujur batang kemaluanku
yang tengah dikulum keluar masuk mulut Ratri.
Tidak lama kemudian Dol semakin cepat menggenjot, memompa
lubang anus Ratri, badannya semakin banyak mengeluarkan
keringat, kulihat dia sepertinya akan berejakulasi.Benar saja,
tubuhnya nampak menggelinjang dan dan menegang, dari mulut
Dol keluar pekikan kecil yang disusul oleh desahan yang penuh
dengan kepuasan. Dolpun berejakulasi di lubang pantat Ratri.
Setelah itu badan Dolpun ambruk disamping badan Ratri.
Akan tetapi posisiku masih tetap seperti semula, kemaluanku
masih tertanam dimulut Ratri. Dengan kedua tanganku kuraih
kepala Ratri, kini dengan gerakan tanganku kepala Ratri ku maju-
mundurkan. Ah, nikmat rasanya, kemaluanku seperti dipijit-pijit
dengan mulut Ratri, bibir sensualnya melingkari batang
kemaluanku, memberi rasa nikmat tersendiri, kurasakan pula
lidahnya menggelitik kepala batang kemaluanku, ah nikmatnya
penuh sensasi. Setelah sekian lama menikmati itu, tiba-tiba
kembali aku akan berejakulasi, maka kugerakkan kepalanya
semakin cepat untuk mengulum batang kemaluanku. Dan,
akupun berejakulasi didalam mulut Ratri, spermaku memancar
keluar membasahi mulut hingga tenggorokannya sampai-sampai
meleleh keluar dari mulutnya. Rasa nikmat yang tiada taranya
kembali melanda sekujur tubuhku. Kucabut batang kemaluanku
dari mulutnya, dan Ratri terbatuk-batuk sepeti akan muntah,
samar-samar kulihat mulutnya penuh dengan cairan-cairan lendir
kental sampai membuat mulutnya nampak mengkilat karena
belepotan cairan sperma. Wajahnya yang lesu dan lemah sejenak
memandangku dengan tatapan mata sayu penuh dengan
keputus-asaan serta air mata yang kembali meleleh. Kemudian
dia terjatuh lunglai dilantai, hanya suara nafasnya yang terdengar
menderu-deru tersengal-sengal dan isakan-isakan tangisnya.
Aku kembali merebahkan tubuhku disamping Ratri, akhirnya
akupun tertidur. Tidak lama rupanya aku tertidur, dan kemudian
terjaga setelah kembali telingaku menangkap suara erangan-
erangan dan rintihan-rintihan. Setelah aku bangun ternyata Dol
tengah menyetubuhi Ratri, tubuh telanjang Ratri yang hanya
tinggal mengenakan sepasang kaos kaki dan sepatu kets ditiduri
oleh Dol. Dengan garangnya Dol menggenjot tubuh Ratri,
iramanya cepat dan kasar sekali, tubuh lemah Ratri kembali
terguncang-guncang. Kini nampak roman muka Ratri telah lunglai
sepertinya hampir pingsan, beberapa saat yang lalu masih
kudengar suara rintihan lemah yang keluar dari mulut Ratri
namun kini suara itu hilang sama sekali. Tidak lama kemudian
Dolpun berejakulasi, kembali rahim Ratri disiram dan dipenuhi
oleh cairan sperma. Ratri nampak tidak sadarkan diri dan pingsan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, 4 jam lamanya
kami memperkosa Ratri. Kini tibalah waktu kami untuk angkat
kaki, setelah kami berpakaian rapi kemudian kami angkat tubuh
Ratri dari ruang aula menuju ke sebuah gudang dibagian paling
belakang sekolah ini. Kami rebahkan gadis cantik primadona
sekolah ini disana. Disisinya kami tebarkan baju seragam sekolah,
tasnya serta HP miliknya yang sedari tadi terus berbunyi.Kini
gadis cantik itu, terkulai pingsan didalam gudang yang kotor,
badan telanjangnya dipenuhi dengan cairan-cairan sperma yang
mulai mengering, juga darah yang nampak masih menetes dari
lubang pantatnya sebagai akibat disodomi oleh Dol tadi.
Kemaluannyapun terlihat kemerahan dan membengkak. Puas
kami memperkosanya. Tepat pukul 22.15 setelah kami
menghilangkan jejak kami, kami pun pergi meninggalkan gedung
sekolah negeri ini, berjalan menuju ke terminal di kota
metropolitan ini untuk menumpang bus yang entah kemana
membawa kami, menuju ke suatu tempat yang jauh dari kota
metropolitan ini.

Kejadian ini berlangsung kira-kira 2
tahun yang lalu, waktu itu gua diminta
oleh ibu mertua untuk mengambil suatu
barang di rumah kakak ipar perempuan
gua sekalian nengok dia karena sudah
lama nggak ketemu. Kakak ipar gua ini (sebut saja namanya Ina) memang
tinggal sendirian, walaupun sudah
kawin tetapi belum punya anak dan saat
sudah pisah ranjang dengan suaminya
yang kerja di kota lain. Gua sampai dirumahnya sekitar jam
19:00 dan langsung mengetuk pintu
pagarnya yang sudah terkunci. Tak lama
kemudian Ina muncul dari dalam dan
sudah tahu gua bakalan datang malam
itu. "Ayo Yan, masuk. Langsung dari kantor ?
Sory pintunya sudah digembok, soalnya
Ina tinggal sendiri jadi harus hati-hati"
Sambutnya.
Ina malam itu sudah pakai daster tidur
karena toh yang bakalan datang juga masih terhitung adiknya, daster yang
dia pakai punya potongan leher yang
lebar dengan model tangan 'you can
see'.
Kami kemudian ngobrol dan nonton TV
sambil duduk bersebelahan di sofa ruang tengah. Selama ngobrol, Ina
sering bolak-balik ngambil minuman dan
snack buat kita berdua. Setiap dia
menyajikan makanan atau minuman di
meja, secara nggak sengaja gua dapat
kesempatan melihat kedalam dasternya yang menampilkan kedua toketnya
secara utuh karena Ina tidak memakai
BH lagi dibalik dasternya. Ina memang
lebih cantik dari bini gua, tubuhnya
mungil dengan kulit yang putih dan
rambut yang panjang tergerai. Walaupun sudah kawin cukup lama tapi
karena tidak punya anak tubuhnya
masih terlihat langsing dan ramping.
Toketnya yang kelihatan ama gua,
walaupun tidak terlalu besar tetapi tetap
padat dan membulat. Melihat pemandangan begini terus menerus gua
mulai nggak bisa berpikir jernih lagi dan
puncaknya tiba-tiba gua sergap dan
tindih Ina di sofa sambil berusaha
menciumi bibirnya dan meremas-remas
toketnya. Ina kaget dan menjerit : "Yan, apa-apaan
kamu ini !" Dengan sekuat tenaga dia mencoba
berontak; menampar, mencakar dan
menendang-nendang. Tapi perlawanan
dia membuat berahi gua semakin tinggi
apalagi akibat gerakannya itu
pakaiannya menjadi makin nggak karuan dan semakin merangsang.
"Breeeettt............" daster bagian atas
gua robek kebawah sehingga sekarang
kedua toketnya terpampang dengan
jelas. Putingnya yang berwarna coklat
tua terlihat kontras dengan kulitnya yang putih bersih.
Ina terlihat shock dengan kekasaran
gua, perlawanan dia melemah dan
kedua tangannya berusaha menutup
dadanya yang terbuka.
"Yan ... inget, kamu itu adik saya ..." rintihnya memelas.
Gua nggak pedulikan rintihannya dan
terus gua tarik daster yang sudah robek
itu kebawah sekaligus dengan celana
dalamnya yang sudah gua nggak inget
lagi warnanya. Sekarang dengan jelas dapat gua lihat vaginanya yang
ditumbuhi dengan bulu-bulu hitam yang
terawat baik.
Setelah berhasil menelanjangi Ina, gua
lepaskan pegangan pada dia dan berdiri
disampingnya sambil mulai melepaskan baju gua satu persatu dengan tenang.
Ina mulai menangis sambil meringkuk
diatas sofa sambil sebisa mungkin
mencoba menutupi badannya dengan
kedua tangannya. Saat itu pikiran gua
mulai jernih kembali menyadari apa yang telah gua lakukan tapi pada titik
itu, gua ngerasa tidak bisa mundur lagi
dan gua putusin untuk berlaku lebih
halus.
Setelah gua sendiri telanjang, gua
bopong tubuh mungil Ina ke kamarnya dan gua letakkan dengan lembut diatas
ranjang. Dengan halus gua
tepiskan tangannya yang masih
menutupi toket dan vaginanya
kemudian gua mulai tindih badannya.
Ina tidak melawan ..... Ina memalingkan muka dengan mata
terpejam dan berurai air mata setiap
kali gua mencoba mencium bibirnya.
Gagal mencium bibirnya, gua teruskan
menciumi kuping, leher dada dan
berhenti untuk mengulum puting dan meremas-remas toket satunya lagi.Ina
tidak bereaksi ...... Gua lanjutkan petualangan bibir gua
lebih kebawah, perut dan vaginanya
sambil merentangkan pahanya lebar-
lebar terlebih dahulu. Gua mulai dengan
menjilati dan menghisap clit-nya yang
cukup kecil karena sudah disunat (sama dengan bini gua).Ina mulai bereaksi ....
Setiap gua hisap clit-nya Ina mulai
mengangkat pantatnya mengikuti arah
hisapan. Kemudian dengan lidah gua
coba membuka labia minoranya dan
memainkan lidah gua pada bagian dalam liang senggamanya.
Tangan Ina mulai meremas-remas kain
sprei sambil menggigit bibir ... Ketika
vaginanya mulai basah gua masukkan
jari menggantikan lidah yang kembali
berpindah ke puting toketnya. Mula- mula hanya satu jari kemudian disusul
dua jari yang bergerak keluar masuk
liang senggamanya.
Ina mulai berdesah dan memalingkan
mukanya kekiri dan kekanan ... Sekitar
dua atau tiga menit kemudian gua tarik tangan gua dari vaginanya. Merasakan
ini, Ina membuka matanya (yg selama
ini selalu tertutup) dan menatap gua
dengan pandangan penuh harap seakan
ingin diberi sesuatu yang sangat
berharga tapi nggak berani ngomong. Gua segera merubah posisi badan gua
untuk segera menyetubuhinya. Melihat
posisi 'tempur' seperti itu, pandangan
matanya berubah menjadi tenang dan
kembali menutup matanya. Gua arahkan
penis gua ke bibir vaginanya yang sudah berwarna merah matang dan
sangat becek itu. Secara perlahan penis
gua masukin ke liang senggamanya dan
Ina hanya mengigit bibirnya. Tiba-tiba
tangan Ina bergerak memegang sisa
batang penis gua yang belum sempat masuk, sehingga penetrasi gua
tertahan.
"Yan, kita nggak boleh melakukan hal
ini ..." Kata Ina setengah berbisik sambil
memandang gua.
Tapi waktu gua lihat matanya, sama sekali tidak ada penolakkan bahkan
lebih terlihat adanya berahi yang
tertahan. Gua tahu dia berkata begitu
untuk berusaha memperoleh
pembenaran atas perbuatan yang
sekarang jadi sangat diinginkannya. "Nggak apa-apa 'Na, kita kan bukan
saudara kandung, jadi ini bukan incest"
Jawab gua "Nikmati saja dan lupakan
yang lainnya"
Mendengar perkataan gua itu, Ina
melepaskan pegangannya pada pensi gua yang sekaligus gua tangkap sebagai
instruksi untuk melanjutkan
'perkosaannya'.
Dalam 'posisi standard' itu gua mulai
memompa Ina dengan gerakan
perlahan, setiap kali penis gua masukkan gua ambil sisi liang
senggama yang berbeda sambil
mengamati reaksinya Ina. Dari
eksperimen awal ini gua tahu bahwa
bagian paling sensitif dia ada di dinding
dalam bagian atas yang kemudian menjadi titik sasaran penis gua
selanjutnya.
Strategi ini ternyata cukup efektif
karena belum sampai dua menit Ina
sudah orgasme, tangan dia yang
asalnya hanya meremas-remas sprei tiba-tiba berpindah ke pantat gua. Ina
dengan kedua tanggannya berusaha
menekan pantat gua supaya penis gua
masuk semakin dalam, sedangkan dia
sendiri mengankat dan menggoyangkan
pantatnya untuk membantu semakin membenamnya penis gua itu. Untuk
sementara gua biarkan dia mengambil
alih.
"SSSShhhhhhhhh.......aaaahhhhh"
rintihnya berulang-ulang setiap kali
penis gua terbenam. Setelah Ina mulai reda, inisiatif gua
ambil kembali dengan merubah posisi
badan gua untuk stype 'pumping flesh'
untuk mulai memanaskan kembali
birahinya yang dilanjutkan dengan style
'stand hard' (kedua kaki Ina dirapatkan, kaki gua terbuka dan dikaitkan
kebetisnya). Style ini gua ambil karena
cocok dengan cewek yang bagian
sensitifnya seperti Ina dimana vagina
Ina tertarik keatas oleh gerakan penis
yang cenderung vertikal. Ina mengalami dua kali orgasme dalam
posisi ini.....
Ketika gerakan Ina semakin liar dan
juga gua mulai merasa akan ejakulasi
gua rubah stylenya lagi menjadi
'frogwalk' (kedua kaki Ina tetap rapat dan gua setengah berlutut/berjongkok).
Dalam posisi ini setiap kali gua tusukan
penis gua otomatis vagina sampai
pantat Ina akan terangkat sedikit dari
permukaan kasur menimbulkan sensasi
yang luar biasa sampai pupil mata Ina hanya terlihat setengahnya dan
mulutnya mengeluarkan erangan bukan
rintihan lagi. "Na, saya sudah mau ke luar. Di mana
keluarinnya ?" Kata gua sambil terus
memompa secara pelan tapi dalam.
"Ddddi dalam saja.... di dalam saja,
aaahhhh ..... jangan pedulikan"
Ina mejawab ditengah erangan kenikmatannya.
Saya keluar sekarrrraaaaang ......."
Teriak gua.
Gua tekan vaginanya keras-keras
sampai terangkat sekitar 10 cm dari
kasurnya dan cairan kenikmatan tersemprot dengan kerasnya yang
menyebabkan untuk sesaat gua lupa
akan dunia.
"Jangan di cabut dulu Yan ... " Bisik Ina.
Sambil mengatur napas lagi, gua
rentangkan kembali kedua paha Ina dan gua pompa penis gua pelan-pelan
dengan menekan permukaan bawah
vagina pada waktu ditarik. Dengan cara
ini sebagian sperma yang tadi
disemprotkan bisa dikeluarkan lagi
sambil tetap dapat menikmati sisa-sisa birahi. Ina menjawabnya dengan
hisapan-hisapan kecil pada penis gua
dari vaginanya
"Yan, kenapa kamu lakukan ini ke Ina ?"
Tanyanya sambil memeluk pinggang
gua. "Kamu sendiri rasanya gimana?" Gua
balik bertanya
"Mulanya kaget dan takut, tapi setelah
kamu berubah memperlakukan Ina
dengan lembut tiba-tiba berahi Ina
terpancing dan akhirnya turut menikmati apa yang belum pernah Ina
rasakan selama ini termasuk dari suami
Ina" Jawabnya
Kita kemudian mengobrol seolah-olah
tidak ada kejadian apa-apa dan sebelum
pulang gua setubuhi Ina sekali lagi, kali ini dengan sukarela. Sejak malam itu,
gua 'memelihara' kakak ipar gua
dengan memberinya nafkah lahir dan
batin menggantikan suaminya yang
sudah tidak memperdulikannya lagi. Ina
tidak pernah nuntut lebih karena bini gua adalah adiknya dan gua
membalasnya dengan menjadikan
'pendamping tetap' setiap gua pergi ke
luar kota atau ke luar negeri.

,selamat Pagi sahabat setia fp KumCerPer ...?
,barusan Admin dapet e-mail dari seseoranq yg gag mau nyebutin
Identitas Aslinya .., dia mengirimkan e-mail yg ternyata berisi sebuah
cerita yg katanya dia alamin sendiri.., dan Admin juga gak tau',ntah dia
bo'ong or nggak.., yg penting tugas Admin, cuma ingin share cerita yg
anda kirimkan..,
dan inilah isi ceritanya ...
Sebelum saya ceritakan kisah-kisah nyata yg terjadi di hidupku,
sebelumnya saya perkenalkan dulu.
Saya lahir di Jakarta, keturunan cina, umur 28 thn, kerja disalah
satu perusahaan swasta sebagai auditor pembukuan dan
keuangan, saya ditugasi untuk mengawasi cabang denpasar, jadi
saya tinggal disana menempati rumah kontrakan.
Suatu hari saya diberi kabar oleh pacar saya (Wiwi umur 26) yg di
Jakarta, bahwa dia mau datang bersama adiknya (Irene umur 22).
Setelah kedatangannya, mereka menginap di kontrakanku (kamar
tamu).
Tetapi Wiwi tidak bisa lama, karena dia hanya diberi ijin oleh
kantornya 3 hari.
Selama 3 hari saya dan Wiwi selalu ngumpet-ngumpet dari
cicinya untuk bermesraan, dan sialnya kita hanya bisa melakukan
hubungan sex 1X (kami dulu telah biasa melakukannya sewaktu
saya tingal di Jakarta), karena kesempatan untuk itu susah sekali.
Setelah Wiwi pulang, tinggal saya dan Irine yg masih mau liburan
di bali.
Pada hari minggu saya ajak dia jalan ke berbagai tempat wisata,
pulangnya dia langsung ingin istirahat karena kelelahan. Karena
saya belum merasa ngantuk, saya ke ruangan tamu untuk nonton
TV, sedangkan dia masuk kamar tidur tamu untuk istirahat.
Setelah acara yg saya sukai selesai, saya melihat jam, ternyata
sudah jam 1 pagi, tiba-tiba muncul ide isengku untuk memasuki
kamar tidur Irene, dengan perlahan-lahan saya berjalan mendekati
pintu kamarnya, ternyata tidak dikunci, saya masuk dan melihat
Irene telentang dengan kedua lengan dan paha terbuka, saya
langsung mengambil tali plastik dan perlahan-lahan saya melucuti
pakaiannya semua, mungkin karena dia terlalu lelah sehingga
tidurnya sangat nyenyak sampai tidak tahu apa yg sedang saya
lakukan, setelah semua pakaiannya kubuka, saya langsung
mengikat lengan dan kakinya ke sudut-sudut ranjang.
Tiba-tiba dia terbangun, dan terkejut karena tubuhnya telah
telanjang polos dan terikat di ranjang. "Ko lepasin saya", suaranya
gemetaran karena shock. "Cepat lepasin Ko!" Irene mengulangi
perintahnya, kali ini lebih keras suaranya. Tubuh telanjangnya telah
mambiusku. Aku segera mencopot celana dan celana dalamku
dengan cepat. "Ko!" Irene memekik. "Mau ngapain kamu?" Irene
terkesiap melihat batang kemaluanku yang sudah berdiri tegak.
Kusentuh payudaranya dengan kedua tanganku, rasanya dingin
bagai seonggok daging.
"Koko gila luu yah!" Aku merasakan sensasi aneh melihat
payudara dan liang kemaluan adik pacarku ini. Jelas beda dengan
waktu-waktu dulu kalau mengintip dia ganti baju di kamarnya.
Sekarang aku melihatnya dengan cara yang berbeda. "Koko, gua
khan adik Wiwi!" Aku menyentuh liang kemaluannya dengan
tanganku, lalu menjilatinya.
Setelah puas segera kuletakkan batang kemaluanku di gerbang
liang kemaluan Irene. "Ko jangaan!" dia memohon-mohon
padaku. "Diam.. cerewet!" aku menjawab dengan sembarangan.
Sekali batang kemaluanku kudorong ke depan, tubuhku sudah
menjadi satu dengannya. "Iiih.. shiit!" dia mengumpat tapi ada
nada kegelian dari suaranya itu. Aku menggoyangkan pinggangku
secara liar hingga batang kemaluanku mengocok-kocok liang
kemaluannya. "Ahh.. shiit! ah shiit! Ko stop!" Semakin dia mamaki
dan mengumpatku dengan ekspresi judesnya itu, semakin
terangsang aku jadinya.
Sambil memompa liang kemaluannya aku menghisap puting-
puting payudaranya yang agak berwarna pink itu. "Mmmh.. udah
jangan Ko!" Irene masih berteriak-teriak memintaku berhenti. "Lu
diam aja jangan banyak ngomong", ujarku cuek. "Ohh shiit!"
ujarnya mengumpat. Dia menatapku dengan tatapan yang
bercampur antara kemarahan dan kegelian yang ditahan. Sejenak
aku menghentikan gerakanku. Kasihan juga aku melihatnya terikat
seperti ini. Dengan menggunakan cutter yang tergeletak di meja
samping ranjang aku memotong tali yang mengikat kedua
kakinya. Begitu kedua kakinya terlepas dia sempat berontak. Tapi
apa dayanya dengan posisi telentang dengan tangan masih terikat.
Belum lagi posisiku yang sudah mantap di antara kedua kakinya
membuat dia hanya bisa meronta-ronta dan kakinya menendang-
nendang tanpa hasil. "Aaahh Ko stop dong.. udah Ko.. gue khan
adik Wiwi", dia memohon lagi tapi kali ini suaranya tidak kasar lagi
dan terdengar mulai berdesah karena geli. Nafasnya pun mulai
memburu. Aku menjilati lehernya dia melengos ke kiri dan ke
kanan tapi wajahnya mulai tidak mampu menutupi rasa geli dan
nikmat yang kuciptakan. " Aduhh sshh Ko udah doong.. hh.. ssh!"
suaranya memohon tapi makin terdengar mendesah lirih. Kedua
kakinya masih meronta menendang-nendang tapi kian lemah dan
tendangannya bukan karena berontak melainkan menahan rasa
geli dan nikmat.
Aku menaikkan tempo dalam memompa sehingga tubuhnya
semakin bergetar setiap kali batang kemaluanku menusuk ke
dalam liang kemaluannya yang hangat berulir serta kian basah
oleh cairan kenikmatannya yang makin membanjir itu. Kali ini
suara nafas Irene kian berat dan memburu, "Uh.. uh.. uhhffssh..
shiit Koo.. agh uuffsshh u.. uhh!" Wajahnya semakin memerah,
sesekali dia memejamkan matanya sehingga kedua alisnya seperti
bertemu. Tapi tiap kali dia begitu atau saat dia merintih nikmat,
selalu wajahnya dipalingkan dariku. Pasti dia malu padaku. Liang
kemaluannya mulai mengeras seperti memijit batang kemaluanku.
Pantatnya mulai bergerak naik turun mengimbangi gerakan
batang kemaluanku keluar masuk liang kenikmatannya yang
sudah basah total. Saat itu aku berbisik "Gimana, lu mau udahan?"
Aku menggodanya. Sambil mengatur pernafasan dan dengan
ekspresi yang sengaja dibuat serius, dia berkata, "I.. iiya.. udah..
han yah Ko", suaranya dibuat setegas mungkin tapi matanya yang
sudah sangat sayu itu tidak dapat berbohong kalau dia sudah
sangat menikmati permainanku ini. "Masa?" godaku lagi sambil
tetap batang kemaluanku memompa liang kemaluannya yang
semakin basah sampai mengeluarkan suara agak berdecak-decak.
"Bener nih lu mau udahan?" godaku lagi. Tampak wajahnya yang
merah padam penuh dengan peluh, nafasnya berat terasa
menerpa wajahku. "Jawab dong, mau udahan gak?" aku
menggodanya lagi sambil tetap menghujamkan batang
kemaluanku ke liang kemaluannya.
Sadar aku sudah berkali-kali bertanya itu, dia dengan gugup
berusaha menarik nafas panjang dan menggigit bibir bagian
bawahnya berusaha mengendalikan nafasnya yang sudah ngos-
ngosan dan menjawab, "Mmm.. iya.. hmm." Aku tiba-tiba
menghentikan gerakan naik turunku yang semakin cepat tadi.
Ternyata gerakan pantatnya tetap naik turun, tak sanggup
dihentikannya. Soalnya liang kemaluannya sudah semakin
berdenyut dan menggigit batang kemaluanku. "Ehmm!" Irene
terkejut hingga mengerang singkat tapi tubuhnya secara otomatis
tetap menagih dengan gerakan pantatnya naik turun. Ketika aku
bergerak seperti menarik batang kemaluanku keluar dari liang
kemaluannya, secara refleks tanpa disadari olehnya, kedua kakinya
yang tadinya menendang-nendang pelan, tiba-tiba disilangkan
sehingga melingkar di pinggangku seperti tidak ingin batang
kemaluanku lepas dari lubang kemaluannya.
"Lho katanya udahan", kata-kataku membuat Irene tidak mampu
berpura-pura lagi.
Mukanya mendadak merah padam dan setengah tersipu dia
berbisik, "Ah shiit Koo.. uhh.. uhh.. swear enak banget.. pleasee
dong terusiin yeeass!" belum selesai ia berkata aku langsung
kembali menggenjotnya sehingga ia langsung melenguh panjang.
Rupanya perasaan malunya telah ditelan kenikmatan yang sengaja
kuberikan kepadanya. "Ah iya.. iiya.. di situ mmhh aah!" tanpa
sungkan-sungkan lagi dia mengekspresikan kenikmatannya.
Selama 15 menit berikutnya aku dan dia masih bertempur sengit.
Tiga kali dia orgasme dan yang terakhir betul-betul dahsyat kerena
bersamaan dengan saat aku ejakulasi. Spermaku menyemprot
kencang sekali bertemu dengan semburan-semburan cairan
kenikmatannya yang membanjir. Irine pasti melihat wajahku yang
menyeringai sambil tersenyum puas. Senyum kemenangan.
Aku melepaskan ikatannya. Dia kemudian duduk di atas kasur.
Sesaat dia seperti berusaha menyatukan pikirannya.
"Huuhh, kamu hebat banget sih Ko, sering yach melakukan
dengan Wiwi"
"Enggak juga koq!"
"Alah, sama setiap cewek yang kamu tidurin juga jawabannya
pasti sama"
"Keperawanan lu kapan diambil?" tanyaku
"Sewaktu pacarku ingin pergi ke Amerika untuk kuliah, saya
hadiahkan sebagai hadiah perpisahan"
Kemudian dia bangkit dengan tubuh yg lemah ngeloyor ke kamar
mandi, setelah selesai bersih-bersih Irene kembali lagi ke kamar.
Di depan pintu kamar mandi kusergap dia, kuangkat satu pahanya
dan kutusuk sambil berdiri. "Aduh kok ganas banget sih Lu!"
katanya setengah membentak. Aku tidak mau tahu, kudorong dia
ke dinding kuhajar terus vaginanya dengan rudalku. Mulutnya
kusumbat, kulumat dalam-dalam. Setelah Irene mulai terdengar
lenguhannya, kugendong dia sambil pautan penisku tetap
dipertahankan. Kubawa dia ke meja, kuletakkan pantatnya di atas
meja itu. Sekarang aku bisa lebih bebas bersenggama dengan dia
sambil menikmati payudaranya. Sambil kuayun, mulutku dengan
sistematis menjelajah bukit di dadanya, dan seperti biasanya, dia
tekan belakang kepalaku ke dadanya, dan aku turuti, habis emang
nikmat dan nikmat banget. "aahh.. sshh.. oohh.. uugghh..
mmhh", Irene terus meracau.
Bosen dengan posisi begitu kucabut penisku dan kusuruh Irene
menungging. Sambil kedua tangannya memegang bibir meja.
Dalam keadaan menungging begitu Irene kelihatan lebih aduhai!
Bongkahan pantatnya yang kuning dan mulus itu yang bikin aku
tidak tahan. Kupegang penisku dan langsung kuarahkan ke
vaginanya. Kugesekkan ke clitorisnya, dan dia mulai mengerang
nikmat. Tidak sabar kutusukkan sekaligus. Langsung kukayuh, dan
dalam posisi ini Irene bisa lebih aktif memberikan perlawanan,
bahkan sangat sengit. "Aahh Koo Akuu mmoo.. kkeelluuarr
laggi.." racaunya. Irene goyangannya menggila dan tidak lama
tangan kanannya menggapai ke belakang, dia tarik pantatku
supaya menusuk lebih keras lagi. Kulayani dia, sementara aku
sendiri memang terasa sudah dekat. Irene mengerang dengan
sangat keras sambil menjepit penisku dengan kedua pahanya.
Saya tetap dengan aksiku. Kuraih badannya yang kelihatan sudah
mulai mengendur. Kupeluk dari belakang, kutaruh tanganku di
bawah payudaranya, dengan agak kasar kuurut payudaranya dari
bawah ke atas dan kuremas dengan keras. "Eengghh.. oohh..
ohh.. aahh", tidak lama setelah itu bendunganku jebol, kutusuk
keras banget, dan spermaku menyemprot lima kali di dalam.
Dengan gontai kuiring Irene kembali ke ranjang, sambil kukasih
cumbuan-cumbuan kecil sambil kami tiduran. Dan ketika kulihat
jam di dinding menunjukan jam 02.07. Wah lumayan, masih ada
waktu buat satu babak lagi, kupikir. "rine, vagina dan permainan
kamu ok banget!" pujiku. "Makasih juga ya Ko, kamu juga hebat",
suatu pujian yang biasa kuterima!
Setelah itu kami saling berjanji untuk tidak memberi tahu cici dan
pacarnya yg sedang kuliah di Amerika. Selanjutnya kami selalu
melakukannya setiap hari sampai dia pulang ke Jakarta. Jika ada yg
ingin berkenalan, silakan cari sendiri.

Krisis moneter rupanya telahmeluluh lantakkan ekonomi bangsa.
Semua orang tahu hal itu. Tetapi yang paling menderita adalah
rakyat kecil. Hal ini juga menimpa keluargaku. Sebelum krismon,
suamiku adalah seorang pengawas bangunanpada suatu
perusahaan kontraktor. Tetapi begitu badai krismon mengamuk,
robohlah seluruh bangunan ekonomi rumah tanggaku. Kenapa?
Karena kontraktor terbelit dengan hutang yang menggunung.
Bank relasinya ambruk terkena likuiditas. Akibatnya kami
sekeluarga harus pulang, meninggalkan rumah kontrakan
perusahaan. Pulang ke desa,itulah keputusan yang tidak dapat
dihindari. Anak-anak terpaksa berhenti sekolah. Untuk makan
sehari-hari, suami terpaksa jadi tukang batu untuk pembangunan
kecil-kecilan, suatu pekerjaan yang kurang pas bagi seorang
lulusan politeknik jurusan teknik sipil. Tapi semuanya tidak penting
kecuali satu; bagaimana perut orang serumah tetap terisi setiap
hari.
Sehingga ketika Pak Sumardi,"orang sukses" di Jakarta pulang ke
desa kami, dan menawarkan kepadaku untukdikirim sebagai TKW,
suamiku menyetujuinya. Namun aku pribadi sebenarnya agak
berat meninggalkan suami dan dua anakku yang masih kecil-kecil.
Satu di SD kelas satu dan kakaknya SD kelas dua. Tapi kerja apalah
yang dapat diperoleh seorang jebolan akademi sekretaris dan
manajemen semester ketiga seperti aku. Pernah memang, suatu
hari, seorangmenawariku bekerja di panti pijat dengan gaji pokok
pertama Rp. 600.000 per bulan (30 hari kerja per bulan), belum
terhitung bonus dari perusahaan dan tips dari tamu. Barangkali
postur tubuhku yang semampai, wajah yang cukupcantik
(suamiku juga cakep loh) dianggap cukup dapat menarik para
hidung belang. Kulitku yang putih, membungkus otot-otot tubuh
yang sintal dan gempal berisi, diyakini dapat menggaet langganan
panti pijat lebih banyak. Belum lagi buah dadaku; berbentuk
kerucut dengan konsistensi yang masih kencang (di saat aku
bersanggama buah dadaini selalu menjadi mainan suami), tentu
akan menyenangkan kalau giliran
si pemijat yang justru ganti dipijati oleh tamunya.
Tentu yang dipijat bukan hanya kaki dan tangan, tetapi buah dada,
vulva, danyang lain-lainnya. Diajak gulat di atas tempat tidur? Pasti
aku akan reaktif dan agresif berkat senam aerobik yang kulakukan
setiap pagi sewaktu masih tinggal di rumah kontrakan. Sudahlah,
semua orang tahu sendiri kelanjutan lakon ini. Belum cukup dapat
menggambarkan profilku? Lihat saja artis Meriam Bellina (maaf
kalau aku jadikan bandingan), itu artis yang tiap malam minum
kapsul yang bikin suaminya terangsang secara "luar biasa". Kalau
diprosentasi profil aku kira-kira 80% miripartis yang tetap sintal
dan cantik itu. Cuma kalau soal buah dada, aku yakin masih
montok punyaku. Namun semua orang pasti tahu, menjadi
tukang pijat di malamhari dari jam 18:00 sampai 24:00 pada
hakikatnya adalah menjadi pelacur terselubung. Tulisan ini
tidakbermaksud untuk menakut-nakuti atau menghalangi mereka
yang ingin menjadi TKW di luar negeri. Tidak sama sekali. Aku
sekedar ingin menceriterakan pengalamanku, yang semoga tidak
akan pernah dialami oleh orang lain, kecuali aku. Biarlah hal itu
menjadi catatan kenangan hidupku sendiri. Baiklah kumulai saja.
Pengalaman menjadi TKW,"dipaksa melayani bandot tengik".
Setelah dua minggu aku berada di rumah Pakde Mardi, akhirnya
semua urusan selesai. Hari Sabtu jam 18:30 aku akan
diberangkatkan ke Philipina sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW).
Aku tidak tahubagaimana liku-liku pengurusan visa, ijin kerja dan
"tetek-bengek" lain yang kabarnya ruwet tersebut. Yang aku tahu,
akumemberi Pakde Mardi uang sebanyak Rp 300.000, katanya
untuk membayar biaya paspor dan lain-lainnya. Biaya pesawat,
pemondokan dan sebagainyaakan dibayar dulu oleh pihakPT
pengerah jasa tenaga kerja dan akan aku bayar secara mencicil
dari potongangaji kelak setelah mulai kerja. Pakde Mardi
mengatakan bahwa hari Sabtu aku akan berangkat dari rumah
pada pagi jam 10:00, karena Pakde mau mengantarkanku putar-
putar dulu keliling Jakarta. Setelah
berpamitan dengan seisi rumah, Bude Mardi, anaknya,dan lain-
lainya. Aku berangkat dengan mobil yangdisetir sendiri oleh
Pakde. Aku duduk di samping Pakde di depan. Dari rumah
rupanyaaku tidak terus dibawa ke Bandara Sukarno-Hatta (apalagi
waktu berangkat pesawatnya masih 8 jam lagi).
Aku diajak turun waktu mobil diberhentikan di halaman parkir Mall
Mangga Dua.
"Min, ayo turun dulu, Pakde mau belikan kamu sedikit bekal."
"Ah, sudah Pakde, tidak usah repot-repot, Pakde saja silakan, aku
nunggu di mobil saja."
Tetapi Pakde dengan isyarattangan yang siap menuntun berkata,
"Ayo, manut aku, jangan menolak." Terpaksa aku ikut turun.
Selama di pasar aku digandeng diajak berputar-putar mengitari
hampir seluruh bangunan pasar. Mula-mula aku diajak ke los
penjual bahan pakaianjadi, di situ aku dibelikan rokwarna merah
yang bagus, harganya sekitar Rp 250 ribu, suatu harga yang bagi
aku sebagai orang yang sedang prihatin, sangat mahal. Kecuali itu
aku juga dibelikan arloji wanita, seharga Rp 200 ribu. Tentunya
aku menolak waktubarang-barang dibeli itu akan diperuntukkan
untukku,tetapi rasanya aku tidak berdaya, apalagi barang tersebut
setelah dimasukkantas, aku juga yang harus membawa. Dan
terakhir, aku diajak makan direstoran yang cukup mewah dengan
aneka macam hidangan baik makanan Indonesia maupun
internasional (masakan China, Korea dan sebagainya).
Pembaca tahu apa yang aku makan; nasi soto ayam, itu saja.
Habis, bagaimana aku dapat makan hidangan yang lebih dari itu.
Bukan soal bahwa nantinya Pakde yang akan membayar, tetapi
karena rasa sependeritaan dengan suami dan anak-anak aku yang
tiap hari hanya makan nasi dengan garam saja. Ora kolu ,
istilahnya dalam bahasa Jawa (rasa tidak mampu menelan). Kira-
kira jam satu siang, aku keluar dari mall. Kembali Pakde menyetir,
dan aku duduk di sampingnya. Baru kurang lebih setengah jam
mobil berjalan, Pakde berkata,
"Min, kowe ninggali aku, yoo..?"
aku terkejut.
"Ninggali menopo Pakde..?" (memberi tinggalan apa).
"Ya, ini kalau kamu mau ya.. Min, Pakde ingin menidurimu."
"Blaarr.." rasanya sebuah petir keras sekali menyambar kepalaku.
Benarkah yang tadi aku dengar? Sambil berdebar, aku
memberanikan diri untuk bertanya,
"Maksud Pakde bagaimana?"
"Yaa itu tadi, aku ingin menidurimu, sebentar saja."
(Mooddiaar.. awak mami, teriak batinku. Tidak salah yang aku
dengar tadi). Dunia sekitar rasanya jadi gelap. Sungguh, siapa akan
menyangka bahwa Pakde yang tadinya kukenal sebagai orangtua,
yang dua bulan lalu datang ke desaku mengajakku berangkat
sebagai TKW ini adalah"BANDOT TENGIK" yang akanmencicipi
tubuhku. Siapa akanmenduga bahwa orangtua yang di depan
isteri dan anaknya terkesan alim ini adalah "HIDUNG BELANG"
yang bernafsu binatang. Siapa yang akan curiga bahwa
"BAJINGAN BUSUK" ini akan membeli tubuhku dengan hadiah
yang dibeli di Mall Mangga Dua tadi.
Rasanya aku ingin berteriak keras-keras biar semua orang di jalan
itu mendengar.Tapi tidak bisa. Suaraku tidak keluar. Sebaliknya aku
cuma menunduk, menangis"nggu-guk" (tersedu-sedu) dengan
rintihan lirih, dan air mata yang mulai mengucur deras. Aku tidak
tahu dimanapikiranku dan bagaimana harus menjawabnya,
sampai ketika Pakde menyapaku,
"Gimana Min, mau ya Min, sebentar saja.. nggak apa-apa, tidak
sakit kok..?"
Huwaah, maling edan tenan, teriak hatiku. Bukan masalah tidak
sakit, tapi ini kan tubuhmanusia, bukan manekin atauboneka,
kurang ajar benar"Bandot" ini, pikirku. Aku jadibingung, mau
menjawab iya, jelas aku akan dipompa, digenjot dan dienjot-enjot
seperti mainan enjot-enjotanatau ditunggangi seperti kuda balap
yang dikendalikan oleh joki"Bajingan Tengik" ini.
Denganberpegangan buah dadaku, pasti dia akan
memperlakukanku seperti kuda balap yang membawanya ke
surga kenikmatan, sementara aku terhantar ke neraka laknat. Dia
pasti akan menciumi seluruh tubuhku, menjilati pahaku yang
putih, dan mengecupi serta meremas-remas buah dadaku yang
masih kencang. Dia juga akanmendekap, melahap, mengguling-
gulingkan
tubuhku, juga mengocok dan memompa kemaluanku
sampailudes, habis-habisan, menyentorkan air mani sebanyak-
banyaknya ke liang kemaluanku seperti tukang bensin mengisikan
bensin ke tangki mobil.
Tetapi.. kalau aku menolak.. kalau aku tidak mau.. bagaimana
nasibku. Ibaratnya, aku ini, dari ujungkaki sampai ke ubun-ubun
sudah berada ditangan"Bandot" ini. Atau ibarat orang berada di
tepi jurang dengan tebing tinggi; aku tinggal pilih, di dorong, jatuh
dan mati karena terhempas di dasar jurang, atau kupegang tangan
"Bandot" ini untuk minta diselamatkan. Sungguh suatu pilihan
yang rumit. Kalau aku menolak bagaimana kalau dia meminta
kembali biaya pembelian tiketdan lain-lain yang telah
dikeluarkannya. Bagaimana kalau aku tidak (dan pasti tidak
mungkin) mampu membayar semua itu, lalu akudijual ke seorang
konglomerat hidung belang yang sanggup membeli tubuh dan
berikut kemaluanku berapa saja harganya. Aku tambah bingung
dan tercenung. "Mau ya Min, tokh.. hanya sebentar saja." Aku
tidak menjawab kecuali tangisku yang tambah"ngguguk", disertai
keluarnya air mata yang tambah deras. Tetapi "Badot"ini
menangkap ke-"diaman"-ku ini sebagai peng-"iya"-an. Bukankah
diam tanda setuju. Ini aku ketahui karena mobil mulai berjalan
pelan sedikit menepimencari sesuatu. Sesuatu itu adalah Hotel.
Benar juga. Mobil berhenti di depan suatuhotel yang tidak terlalu
besar.
"Bandot" itu keluar dulu menuju ke meja resepsionis, dan
membayar biaya kamar. Aku merasa seperti seorang pesakitan
yang akan dihukum mati karena telah melakukan kejahatan luar
biasa. Aku turun dari mobil. Dengan digandeng, aku menuju
kamar hotel yang telah dipesan "Bandot Tengik" ini. Siang itu
suasana hotel terlihat sepi, tidak terlihat lalu lalangnya tamu.
Sampai di depan kamar Pak "Bandot" segera membuka kamar.
Tetapi aku tidak segera menyusul. Aku terhenti di depan kamar.
Kakiku terasa kaku, badan dingin semua. Jantung berdebar,
sementara nafas rasanya mau berhenti. Sungguh aku jadi sangat
takut sekali. Serasa mau
dimasukkan kamar dengan kursi listrik untuk menghukum
penjahat kaliber kakap. Tanpa terasa, kencingku mulai keluar
membasahi kaki. Melihat aku tidak juga masuk kamar,"Bandot" itu
keluar, memegang lenganku dan menariknya masuk ke
kamar.Kini aku berada dibelakang pintu, namun tetap saja tangan
dan kakiku kaku, seperti orang kedinginan sehabis kehujanan di
jalan. Kemudian terdengar bunyi"klik", "Bandot" itu mengunci
kamar. Tapi suara itu di telinga terdengar seperti suara pistol yang
dikokang untuk siap ditembakkan.
Aku masih berdiri mematung di belakang pintu, sementaraPakde
Mardi alias "Bandot" Tengik" itu mulai melepaskanpakaiannya satu
demi satu. Kini dia sudah telanjang bulatdi depanku. Dengan sudut
mataku, kuamati sekujur tubuhnya. Perawakan agak pendek,
dengan kepala sedikit botak dan rambut keriting tebal,
mengingatkan wajah Pak Hikam, Menteri Ristek (maaf ini hanya
sekedar perbandingan fisik saja, tanpa maksud apa-apa), namun
dengan kesan wajah yang lebih tua. Umur "Bandot" Tengik" ini
kutaksir sudah lebih dari 53 tahun. Dadanya ditutupi rambut lebat,
mulai bawah leher, dada terus sampai di atas pangkal
kemaluannya. Konon kata orang, digumuli dengan orang dengan
rambutdi tubuh begini akan memberirasa geli bercampur nikmat.
Namun karena yang ada di hadapanku ini adalah seorang
pemerkosa, aku merasa akan diperkosa oleh monyet besar atau
gorilla. Kemaluannya yang akan segera dihujamkan ke liang
kemaluanku panjangnya biasa saja, tetapi bentuknya besar
dengan warna hitam kemerahan. Apa batang kemaluan sebesar
alu (penumbuk padi) ini tidak akan mengkoyak-koyak
liangkemaluanku? Mudah-mudahan tidak. Kepala bayi saja bisa
lewat apalagi kemaluan laki-laki, begitu pikirku.
Kini "Bandot Tengik" ini mulaimenciumi, melumat bibirku. Kasar
sekali. Satu persatu pakaianku dilepaskan. Entah kenapa aku tetap
pasif diam dan menurut saja. Sekarang dalam keadaan bugil aku
berada dipelukan "Bandot Tua" itu. Sambil mendesakkan bibirnya
ke bibirku, badannya mendorong tubuhku ke belakang mepet ke
tembok, sehingga tekanan bibir dan badannya terasa kuat
sekali.Lalu batang kemaluannya mulai menggelitik
kemaluanku.Pangkal kemaluan itu ditekan-tekankan, ada reaksi dari
kemaluanku. Bungkem rapat-rapat. Seperti mulutku yang tetap
rapat meskipun bibir "BandotTengik" menekan sambil diputar-
putar di atas bibirku.Saat gelegak nafsu "Bandot Tengik" ini mulai
meningkat, bibirku digigit dengan gemasnya. "Aduh Pak, sakit..
aduh.. jangan Pak!" Ciumannya kini menuju ke bawah, leher,
daerah
belakang telinga, terus ke bawah, di antara buah dada. Tiba-tiba
ciumannya dilepaskan. Dia menyempatkan mengamati buah
dadaku. "Susumu hebat, Min," (Buah dadaku memang indah,
besar, kenyaldan berbentuk kerucut. Di sekitar puting susu yang
coklat kehitaman terlihat semburat urat darah kebiruan muda yang
seolah terukir di atas "bola" porselin yang putih. Kata suamiku,
setiap kali melihat buah dadaku, batang kemaluannya langsung
ereksi. Batang kemaluan itu baru mau "tidur" kembali setelah
isinya dimuntahkan ke lubang kemaluanku, melewati
persetubuhan yang panjang, mengasyikkan dan penuh nikmat).
Kini, bibir "Bandot Tengik" inidibenamkan di antara kedua buah
dadaku. Mencium ke kiridan ke kanan bergantian. Lalu pentil buah
dadaku mulaidihisap-hisap. Mulutnya lebihmasuk lagi, sepertinya
buah dadaku mau ditelan saja."Hii.. hh, hii.." gumamnya sambil
menggigit buah dadaku dengan geramnya, rupanya gemas sekali
dia merasakan ranumnya buah kebaggaan suamiku
tersebut."Hiyung.. aduuh.. Pak.. sakit, sakit sekali.. Pak.. sudah..
Pak.." aku hanya bisa mengaduh lirih. Kini serangannya merembet
ke bawah. Perut atas, pusar, diciumi, digigit-gigit dengan
rakusnya. Terus.. terus ke bawah lagi.. sampai di bukit
kemaluanku. "Bandot Tua" inirupanya sangat terangsang melihat
kemaluanku yang metutuk (mencembung) ke depan seperti roti
kokis dengan rambut di sekitar klitoris yang rimbun. Sebab setelah
dijilati sebentar, bibirkemaluanku sempat digigit dengan gemas.
"Aduh..!" aku tersentak karena sakit.
Lalu pahaku dipeluk satu persatu, dicium, digigit. Kalauaku
mengaduh, baru gigitan itu dilepaskan. Bangsat! Rakus benar,
setan laknat ini. Demikian umpatku dalam hati. Setelah forepplay
ini dianggap cukup, badanku ditarik dan direbahkan dengan paksa
ke atas kasur.Dengan kakiku yang terjulur ke bawah, dia
menunggangiku. Persis seperti joki kuda balap yang siap memacu
kuda balapnya (lihat tulisanku bagian pertama). Batang
kemaluannya siap dimasukkan ke lubang kemaluanku. Tetapi bibir
lubang kemaluanku rupanya mengkerut (berkontraksi) menutup
rapat. Ini akibat sikapku yang me-"reject" (menolak) batang
kemaluan asing itu, sehingga timbul Vaginismus . ( Vaginismus
adalah lubang kemaluan yangmengalami spasmus , yaitu merapat
kuat menutup lubangnya sehingga tidak bisa dimasuki batang
kemaluan). Gagal, tetapi tidakputus asa. Kini dia menciumiku lagi,
kasar dan penuh nafsu. Buah dadaku dipegang dengan kedua
telapak tangannya, diperas kuat-kuat, digigit mulai pangkal puting
dadaku terus sampai setengah buah dada masuk ke mulutnya.
"Uhh.. uhh.." suara kegemasan Pak Mardi.
Rupanya nafsu syahwatnya sudah sampai ke ubun-
ubun,sementara batang kemaluannya masih parkir di luar lubang
kemaluanku."Aduhh.. aduh.. Pak.. sakit sekali Pak!" teriakku lirih
penuh iba. Tetapi akibat kesakitanku itu "kontrol" sarafku ke lubang
kemaluan lepas. Lubang kemaluanku sedikit menganga, dan
cairannya mulai menetes keluar. Merasa batang kemaluannya
terbasahi cairan lubang kemaluanku,"Bandot" ini terlihat lega.
Batang kemaluannya coba dimasukkan lagi secara paksa ke lubang
kemaluanku."Bluss.." masuk seluruhnya meskipun aku jadi
kesakitan karena bibir lubang kemaluanluar dan dalamnya terlipat-
lipat dan terseret ke dalam akibat desakan batang kemaluan. Kini
"Bandot" itu seperti menemukan kunci, kunci untuk membuka
lubang kemaluanku yang "metutuk", yaitu dengan menyakiti.
Karena itu diulangi kekurang-ajarannya denganmenggigit buah
dadaku, kiri dan kanan bergantian. Sakit..sekali. Meskipun tidak
sampaiberdarah, akibat gigitannya terasa perih karena menyisakan
jelas (bekas, pingget)di kulitku. Sekarang dia mulai menikmati
lubang kemaluanku. Pantatnya mulai dinaik-turunkan dengan
kuatnya terutama pada saat diturunkan, seolah batang
kemaluannya mau membobol lubang kemaluanku. Dug.. dug..
dug.. Setiap menghentakkan kemaluannya, tangannya meremas
buah dadaku sekeras-kerasnya. "Nurut saja Min, biar sama-sama
enak, ya.. toh.." Buiihh, anjing tua keparat, gumamkudalam hati.
Ya, aku heran
kenapa aku merasa tidak punya kekuatan apa-apa. Lemah, lunglai,
mungkin karena mengalami syok mental. (Padahal dengan
suamiku kalau bersetubuh sambil bergulat begini, aku biasa di
posisi atas, dan"lumpang"-ku yang justru menjojoh "alu"-nya
suamiku. Setiap kali lubang kemaluanku menjojoh, Mas-ku
menggelinjang kenikmatan).
Ibarat air yang dimasak, suhunya kini sudah delapan puluh
derajat. Ini terlihat darinafas "Bandot" yang mulai terengah-engah.
Dan keringat dari dadanya mulai menetes. Sementara akibat
tonjokkan itu, aku sedikit saja menikmatinya, meskipunkenikmatan
yang hanya 10% itu terkubur oleh 90% rasa sakit yang kurasakan.
Ibaratorang naik motor, kini sudah masuk ke perseneling tiga,
sebab makin lama makin cepat gerakan menggenjot-genjot
tubuhku. Kulihat mata"Bandot" ini mulai dipejam-melekkan
menikmati lubang kemaluanku yang mulai kuat menggigit,
merasakan kenikmatan memijat buah dadaku yang indah, putih
dan montok. Kadang saja"Bandot" ini terlihat kelelahan, " pause "
sebentar dengan merebahkan dadanyake dadaku, sedang
wajahnya"disembunyikan" di samping leherku. Kalau sedang
begini,aku hanya dapat berdoa, semoga "Bandot" ini mati
mendadak terkena serangan jantung, meskipun urusan dengan
polisi nantinya akan sangat ruwet. Ehh.. bangun lagi. Malah
tambah segar, tentu, setelah lebih kurang satu jam aku disiksa
dalam alam surganya "Bandot" ini. Permainan agaknya akan
diakhiri, tetapi tiba-tiba"Plak.. plak.. plak.." pipiku kanan dan kiri
ditamparnya kuat beberapa kali. Ini merupakan "kunci" untuk
memaksa aku membuka lubang kemaluan.
"Aduh Pak.. sakit sekali.. Pak,aku sudah tidak kuat lagi Pak..
dibunuh saja aku Pak!" Tapi tentu saja suara itu takakan terdengar,
karena tertutup deru nafsu syahwatnya yang mulai mencapai
kecepatan 90 km per jam itu. Gojlokan batang kemaluannya ke
lubang kemaluanku makin keras dancepat, dan aku menggelinjang
kesakitan, menggolek-golekkan kepalaku, meronta-ronta mau
melepaskan tikaman batang kemaluan "Bandot" ini, tetapi tentu tak
akan
bisa. Bahkan rambutku yang tersibak ke kiri dan ke kanan di depan
wajahku menjadi daya tarik tersendiri(seperti iklan shampoo di TV
itu). Rambutku dipegangnya, disapukan ke wajahku, lalu ditaruh di
depan wajahku lagi. Setelah itu rambut disibakkan ke pipiku. Dan
hidung, bibir, pipiku diciumnya kuat-kuat, sambil sekali-kali digigit.
Dan sementara itu penggejotan lubang kemaluanku jalan terus.
Wah.. pokoknya, ini cara orang barbar menyetubuhi
pasangannya. Menyetubuhi sambil menyiksa.
Kini badanku makin bertambah lemas, ingatanku mulai sayup-
sayup. Tetapi suhu syahwat "Bandot" ini tambah tinggi, dengan
kecepatan diatas 100 km."Duk.. duk.. duk.." batang kemaluannya
makin mengembang dan tetesan keringatnya makin deras,
nafasnya makin tersengal, sementara aku meronta-ronta ingin
melepaskan diri. Tetapi kekuatanku makin lemah dan akhirnya tak
sadarkan diri. Dan tiba-tiba.."Achh.." Bandot ini mencapai klimaks.
Kakinya mengejang lurus, tangannya memeluk leherku sambil
menggigit pipiku. Air maninya muncrat dari batang kemaluannya,
ditumpahkan ke lubang kemaluanku. Dan tubuhnya lemas jatuh
menimpa badanku.

...Kedatangan Herman ke sini mengingatkanku akan kampung
halamanku. Banyak yang telah ia ceritakan mengenai
perkembangan kota kelahiranku. Maklum, sudah tujuh tahun
lebih aku tidak pernah kembali ke sana. Namaku Agnes Monica,
umurku sekitar 23 tahun, aku mempunyai seorang anak
perempuan umur tujuh tahun bernama Chelsea Olivia, mungkin
pembaca bingung dan heran dengan nama kami. Ya, nama kami
seperti nama artis di negara kita, ibuku yang memberikan nama
Agnes Monica kepadaku, karena saat mengandung aku, ibu
sering menonton acara Tralala Trilili yang saat itu dibawakan oleh
artis cilik bernama Agnes Monica. Sedangkan saat aku melahirkan
putriku, aku kebingungan menamakannya, saat itu ia terlahir
tanpa seorang ayah, aku hanya teringat dengan cara ibu
menamaiku. Aku coba mencari nama artis Indonesia melalui
internet, maklum, sejak beberapa tahun lalu aku sudah berapa di
Singapura, jadi aku kurang tahu perkembangan di Indonesia.
Kemudian hasil pencarianku mengena pada nama yang cukup
menarik bagiku, nama tersebut adalah Chelsea Olivia. Setelah
melahirkan Chelsea, aku bertemu dengan John yang kini sudah
menjadi suamiku, ia tidak menghiraukan statusku saat itu.
Ceritanya sangat panjang, tujuh tahun yang lalu tepatnya aku
duduk di bangku SMP, aku mengalami musibah yang
membuatku harus meninggalkan negaraku sendiri untuk
menutup aib dan memulai hidup baru. Awalnya orang tuaku
membawaku ke Jepang, namun tidak lama di sana aku
diterbangkan ke Singapura. Banyak hal buruk yang telah ku alami,
sehingga aku harus memulai kehidupanku kembali bersama
John.
Namun kedatangan Herman telah kembali mengingatkan
kenangan burukku. Sebenarnya niat Herman ke sini hanya
sekedar untuk liburan, namun aku sendiri yang kembali
mengingat masa laluku. Jujur, aku pernah jatuh hati dengan
Herman, namun karena sesuatu hal, aku harus dijodohkan orang
tuaku dengan pria lain, hal tersebutlah yang membuat Herman
berubah sifat, ia cukup frustasi dan akhirnya memperkosaku
bersama teman-temannya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku
tidak menuntutnya, karena sampai hari ini pula aku masih
menaruh hati padanya. Setidaknya kedatangannya sedikit
mengobati rasa rinduku.
Herman terlihat akrab dengan keluargaku, baik dengan Chelsea
maupun John. Sepertinya ia punya ikatan batin dengan Chelsea.
Firasatku mengatakan bahwa Herman lah ayah dari putriku ini.
Tapi kami masing-masing telah mengambil jalan sendiri, jadi
kami tidak berhak untuk mengungkit masa lalu. Banyak cerita
mengenai perkembangan negara asalku yang menambah
wawasanku, namun yang sedikit membuatku sedih adalah
mengenai kasus yang sedang hangat ketika itu. Herman bilang di
kota asalku marak terjadi kasus pemerkosaan dalam angkot,
kejadian itu baru saja terjadi sebelum keberangkatan Herman ke
sini.
Cerita Herman tersebut sontak saja mengingatkanku dengan
keperihan yang aku alami dulu. Bayangkan saja, aku yang masih
ABG dulu diperkosa oleh teman-teman sekolahku, bahkan
beruntut diperkosa petani. Bukan hanya itu saja, menjejakkan kaki
ke Jepang, aku masih mengalami hal yang tidak menyenangkan
itu. Kasus di Indonesia adalah pemerkosaan dalam angkot,
sedangkan yang kualami di Jepang adalah pemerkosaan dalam
bis. Berita ini benar-benar kembali menyayat hatiku untuk kembali
terluka. Aku akan menceritakannya kepada pembaca agar
pembaca mengerti bagaimana sakitnya menjadi seorang
perempuan. Aku harap pembaca tersadar dan tidak akan
menzolimi kaum hawa lagi.
Aku kebingungan setelah sampai di bandara Jepang, aku sama
sekali tidak tahu daerah di sini, untungnya mama ku sedikit bisa
berbahasa Jepang, dan beliau mempunyai beberapa teman yang
bekerja di sini. Narita airport, kata mama ditelepon kepada
temannya agar bisa menjemput kami. Sambil menunggu, aku
dan mama duduk di kursi yang telah disediakan, ku lihat ramai
orang berkulit putih susu berlalu lalang tanpa sapa menyapa,
wajah mereka terlihat serius, cukup bosan juga aku menunggu di
sini. Untungnya tidak perlu menunggu cukup lama, teman mama
pun sampai untuk menjemput kami. "Wah, ini anakmu ya?
Cantik banget..." kata teman mama sambil memujiku. "Iya, nanti
rencananya dia lanjut sekolah di sini..." kata mama. Akhirnya aku
memperkenalkan diri kepada wanita berambut pirang hasil semir
itu, "Agnes, tante..." Sepertinya di sini sedang tren cat rambut,
aku sebenarnya lebih suka dengan warna rambutku yang hitam
alami. Iya, aku lebih suka dengan rambut yang lebih oriental,
hitam dan lurus, sangat cocok dengan postur tubuhku yang
mungil namun seksi.
Kamipun kemudian berangkat dari airport menuju ke apartemen
teman mama yang ku panggil tante Olive. Sepenjang jalan kami
banyak berbincang, sambil aku menoleh ke arah luar jendela
melihat suasana kota yang mama bilang adalah Tokyo,
sepanjang jalan banyak orang berjalan kaki, beda jauh dengan
negara kita Indonesia, bahkan orang yang berpakaian rapi pun
berjalan kaki menjinjing tasnya. Sepanjang jalan pun banyak
papan nama toko yang tidak ku mengerti tulisannya, karena aku
belum pernah sekali pun mempelajari bahasa Jepang. Ternyata
tante Olive adalah teman SMA mama, sejak lulus tante Olive
sudah merantau di Jepang untuk bekerja menjadi buruh pabrik.
Tante Olive mempunyai sebuah apartemen, ia memperbolehkan
kami tinggal untuk sementara di apartemennya. Ia juga langsung
membawa kami keliling, bahkan mengenalkan aku pada sebuah
sekolah, tante bilang ia akan membiayaiku di sekolah yang
lumayan ternama di Tokyo ini. Semua data yang ku bawa dari
Indonesia diminta oleh tante Olive, "Kalau prosesnya sudah
selesai, tante akan temani Agnes agar tahu jalan ke sekolah", kata
tante Olive. "Makasih ya tante...", aku sangat berterimakasih akan
jasa tante Olive, karena bukan hanya membantuku, ia juga coba
membantu mama untuk masuk bekerja di pabrik tempat ia
bekerja. Kami tidak tahu apa yang akan kami lakukan lagi selain
berterima kasih.
Setelah selesai dengan kesibukan, kami sampai ke apartemen
tante Olive. Kedatangan kami ternyata disambut dengan ramah
oleh suami dan anak-anaknya. "Owh, ini suamimu Liv?" tanya
mama. Semua senang sekali bisa berkumpul, karena ternyata
mama juga mengenal suami tante Olive yang juga berasal dari
Indonesia. Kisah cinta mereka memang berseri di negara sakura
ini, kata tante ia bertemu om Aseng di sebuah restoran, om
Aseng adalah koki di restoran tersebut, karena bisa berbahasa
Indonesia maka tante Olive sering makan di sana dan menjadi
akrab. Tante Olive memiliki dua anak laki-laki, namanya Sanusi
dan Kosashi. Sanusi anak sulungnya sudah cukup besar,
mungkin dua atau tiga tahun lebih tua dariku, sedangkan Kosashi
mungkin seumuran denganku. Setelah berkenalan, akhirnya kami
makan bersama, mereka semua terlihat akrab sekali, sungguh
hangat berada dalam suasana keluarga ini.
Tak terasa hari pun sudah menjelang malam, tante Olive telah
menyediakan kamar untuk aku dan mama. Kami pun segera
melepas lelah agar besok bisa terbangun dengan kondisi yang
lebih segar, karena besok tante Olive akan menuntunku ke
sekolah baruku di Jepang, namanya Nishi, di sana banyak anak
orang Indonesia yang bersekolah, jadi kalau masalah bahasa, aku
tidak akan kesulitan. Tante Olive memang pandai meyakinkanku,
aku yang hanya berbekal bahasa Inggris juga tidak mau
menyerah mempelajari bahasa Jepang di sini. Setelah itu tante
juga harus membawa mama ke pabrik tempat ia bekerja.
Lumayanlah, setidaknya mama tidak susah mencari kerja lagi di
sini dan tidak perlu terus berharap dengan papa yang sedang
merantau ke Singapura lagi.
"Ayo Nes..." ajak tante di hari besoknya, segera aku mengenakan
seragam sekolah khas siswi Jepang yang telah disediakan tante.
Seragamnya keren banget, sangat jauh berbeda dengan seragam
sekolahku di Indonesia kemarin.
Ternyata benar apa yang dikatakan tante Olive, di sekolah ini aku
menemukan beberapa siswa yang juga berasal dari Indonesia.
Awalnya aku sedikit malu, tapi agar bisa beradaptasi, mau gak
mau aku harus berkenalan dengan mereka. Di kelasku saja aku
sudah menemukan lima orang siswa yang berasal dari
Indonesia, seperti diriku, mereka adalah warga keturunan. Rata-
rata mereka adalah orang yang cukup berada sehingga dapat
bersekolah di luar negeri. "Tenang saja nes, tidak susah koq
belajar bahasa Jepang...", kata seorang siswa kepadaku. Dari lima
siswa tersebut ada seorang gadis cantik dari Indonesia juga.
Perlahan-lahan akhirnya kami menjadi akrab. "Lagian di sini
pelajarannya pakai bahasa Inggris koq", kata gadis asal Indonesia
tersebut. Hampir 80% siswa di sini berambut pirang, terlihat
dengan jelas trend di sini.
Aku duduk bersebelahan dengan Elissa, gadis yang ramah
tersebut terus membantuku melewati pelajaran hari ini. Pulang
sekolah aku pun sudah ditunggu oleh tante Olive. Tante Olive
mengajarkanku jalur pulang ke apartemen, agar besok aku bisa
mandiri untuk bisa sendiri pergi bersekolah.
Seperti halnya kemarin, malam ini kami makan bersama, namun
menu hari ini cukup berbeda. Tante Olive menyiapkan makanan
yang super mewah, "Hari ini kita selamatan untuk hari pertama
Agnes bersekolah dan Mamanya Agnes yang sudah mulai
bekerja..." mendengar itu kami sangat terharu. Mamaku langsung
memeluk tante Olive sambil mengucapkan terima kasih. "Ayo
makan, ga perlu sungkan...", kata om Aseng yang dengan
senyum manisnya ikut senang dengan kondisi kami. Aku pun
sangat menikmati malam itu, sungguh suasana keluarga yang
cukup akrab. Mungkin karena tante Olive dan om Aseng tidak
memiliki anak perempuan, maka mereka memperlakukan aku
sangat baik seperti anak sendiri. Begitu pula Sanusi dan Kosashi
yang juga berkata sudah menganggapku seperti saudari mereka.
Besok pagi aku bangun lebih awal agar tidak terburu-buru
berangkat ke sekolah. Setelah sarapan pagi, aku langsung
berpamitan dengan mama dan tante Olive, sedangkan om Aseng
dan dua anaknya tidak ada di rumah. Om Aseng bekerja di
sebuah restoran sebagai koki, jadi dia harus berangkat lebih awal
untuk menyiapkan bahan-bahan masakan, sedangkan Sanusi dan
Kosashi bersekolah di SMA lain yang jauh lebih elit, maklum, om
Aseng sangat mengharapkan anaknya bernasib yang lebih baik.
Aku masih sedikit canggung keluar dari apartemen, ini pertama
kalinya aku sendirian di daerah yang belum aku kenal. Aktivitas
pagi sudah ramai dengan warga yang berjalan lalu lalang, sibuk
mengejar waktu mereka, sungguh lucu kulihat ada yang sambil
makan roti sambil berjalan seperti tidak ada waktu lagi baginya
untuk duduk menikmati rotinya. Aku masuk dalam kerumunan
warga yang berlalu lalang, aku berjalan ke arah halte yang tidak
jauh dari sini. Semua warga seperti tidak saling mengenal,
berjalan dengan tatapan serius hingga aku sendiri merasa tidak
nyaman dengan kondisi ini. Akhirnya aku sedikit lega setelah
sampai di halte yang aku tuju, sambil menunggu jemputan bis
akupun mengutak-ngatik hp yang baru om Aseng belikan
untukku, biasa, ingin update status Facebook saja.
Aku pun menaiki bis yang menjemput tadi, kulihat hanya pria-
pria tua berjas yang menaiki bis ini, kelihatannya para bapak yang
tampak seperti bisnisman ini satu jalur denganku. Sambil
mengutak-atik Facebook-ku, perasaanku terasa tidak enak, bis
yang berjalan sedikit bergetar sehingga aku yang berdiri karena
tidak kebagian tempat duduk ini harus bersenggolan dengan
bapak-bapak yang menghimpitku. Rasa curigaku makin
memuncak ketika ku tersadar para 'bisnisman' itu pada melirikku.
Apakah mereka kagum dengan tubuhku? Walaupun sedikit
mungil, tapi bentuk tubuhku sangat seksi, apalagi dibarengi wajah
orientalku yang berkulit putih dengan rambut hitam terurai
panjang seperti boneka, aku yakin beberapa pria juga akan
terpesona. Namun yang kupikirkan semakin membingungkan,
kulihat seorang pria mengeluarkan handycam dari tasnya,
sepertinya sedari tadi pria itu sudah menyorotku melalui
handycam yang ditutupi sedikit dari dalam tasnya.
Perasaanku semakin tidak enak ketika pria di belakangku meraba
bokongku. Sontak saja aku langsung kaget dan melotot ke
belakang. Bukan hanya orang belakang, pria berkacamat dari
depan pun meraba dadaku. "Don't touch me!!!" teriakku.
Kekesalanku berubah menjadi ketakutan karena bis tidak singga di
halte yang seharusnya aku turun, sopir bus malah memutar arah
ke jalan yang aku tidak kenal. Badanku gemetaran dan ketakutan,
pria yang memegang handycam terus menyorotku, dan seorang
pria didekatku membisikkan sesuatu yang aku tidak mengerti,
nada bahasa Jepang sepertinya mengancamku. Aku melirik ke
arah tangannya, ternyata dia memegang pisau, sedangkan pria-
pria lain tersenyum kegirangan melihat aku yang tak berdaya.
Satu per satu tangan mereka meraba dada dan bokong ku, gila,
apa ini akan dijadikan video bokep? Aku tidak bisa berbuat apa-
apa, walaupun sesekali aku memohon dengan bahasa Inggris,
entah mereka mengerti atau tidak, tapi sama sekali mereka tidak
menggubrisku. Tindakan mereka semakin keterlaluan, beberapa
tangan pria yang berkerumunan di dekatku telak menyingkap rok
ku, dan beberapa tangan sudah menjelajahi payudaraku melalui
balik seragamku. Perasaanku sungguh sakit hingga aku
meneteskan air mata. Handycam terus menyorot aksi mereka,
bahkan ada pria di samping yang sudah menurunkan resleting
celananya dan mengeluarkan penisnya, kemudian ia menarik
tanganku untuk memegangi penisnya. Aku berusaha berontak,
namun jumlah mereka ramai sekali, bahkan ada yang menarik
rambutku untuk berusaha melumat bibirku. Aku berusaha
menjauhi bibir pria itu namun tak bisa, ia terus menciumi bibirku
tanpa perasaan. Kedua tanganku ditarik ke arah berlawanan untuk
memegangi penis pria sebelah kanan dan kiriku. Pria belakang
yang sudah menyingkap rokku sudah berhasil menarik turun
celana dalamku.
Aku mendengar mereka terus berkomunikasi dalam bahasa
Jepang untuk melancarkan aksi mereka. Pria depan juga sudah
berhasil membuka kancing bajuku hingga seragamku terbuka,
bra warna pink ku pun ditariknya ke atas hingga payudara ku
yang baru tumbuh terpampang jelas di hadapan mereka. Tanpa
perintah, mereka pun berebutan meraba payudara ku, beberapa
pria di depan berusaha menciumi susu ku. Aku tak mampu
berontak karena beberapa tangan terus memegangiku dengan
erat.
Di arah bawah, aku sudah merasakan jemari manusia
menjelajahi vaginaku, pria tersebut berusaha menusukkan jarinya
ke dalam lubang vaginaku yang masih sempit ini. Aku mencoba
menggoyangkan pinggulku agar jarinya tidak bisa berbuat lebih
jauh, namun usahaku gagal, pria yang sedari tadi melumat
bibirku kemudian menampar pipi ku, maksudnya adalah agar aku
tidak melawan. Jantungku berdegup sangat kencang, sambil
menangis aku hanya bisa melayani mereka dengab terpaksa. Jari
pria belakang sudah berhasil masuk ke vaginaku, ia terus
mengocokkan jarinya di lubang vaginaku, aku hanya merasa geli.
Ke dua susu ku pun dikulum bergantian oleh pria-pria di
sampingku. Ke dua tanganku pun disibukkan dengan memainkan
penis mereka.
Akhirnya aku jatub tersungkur ketika jari pria yang mengocok
vaginaku selama beberapa menit telah membuatku orgasme,
cairan hangat pun tersembur keluar dari vaginaku. Ketika aku
tersungkur dengan posisi berlutut, pria tadi langsung
mendekatkan jarinya yang penuh dengan cairan vaginaku ke arah
wajahku, ia menggosokkan jarinya ke arah mulutku. Walaupun
itu cairan dari tububku, tapi aku juga merasa sedikit jijik untuk
menjilatinya. Aku benar-benar merasa sangat kotor, dilecehkan
pria-pria tak dikenal di negeri orang.
Pria yang tadinya aku kocok penisnya kemudian menyodorkan
penisnya ke mulutku. Dia memaksaku untuk mengulum
penisnya. Pria-pria lain pun kemudian membuka resleting mereka
dan mengeluarkan penis mereka yang sudah mengeras, mereka
sepertinya antri untuk melesapkan penis mereka ke mulutku. Aku
sangat jijik, tapi pria itu menampar-nampar pipi ku agar aku
membuka mulutku. Bahkan mereka menekan pipiku agar aku
membuka mulutku. Aku yang tidak mungkin bisa melawan
dengan terpaksa harus melayani nafsu birahi mereka.
Sambil mengulum penis pria tersebut, pakaian yang masih
tersisa di tubuhku kemudian dilepas mereka dengan dengan
segera. Pria lain ikut jongkok agar bisa memainkan susu dan
vagina ku. Sudah beberapa penis yang aku layani, tubuhku sudah
benar-benar kelelahan, vaginaku pun sudah terasa perih karena
tusukan kasar jemari tangan pria-pria itu.
Mereka kemudian mengangkat tubuhku yang sudah mulai
lunglai, mungkin mereka tahu aku sudah kecapekan. Mereka pun
menaruh tubuhku di kursi, aku pun duduk tersandar, ku lihat ke
arah jendela, bis masih berjalan, namun orang-orang di luar
tampak tak sadar dengan apa yang terjadi di dalam sini. Tiba-tiba
aku tersontak kembali, aku kaget dengan benda besar yang tiba-
tiba menusuk ke vagina ku. Ku lihat seorang pria menusukkan
sesuatu yang bentuknya menyerupai penis, batangan itu besar
sekali sehingga vaginaku terasa sakit sekali. Pria-pria lain masih
menangkapku, sambil meraba dan menciumi susuku. Aku
semakin tak mampu menahan rasa sakitku karena aku
merasakan vaginaku diobok-obok penis mainan itu. Ternyata
benda yang ditusukkan ke vagina ku itu bisa bergerak-gerak dan
bergetar. Aku tak mampu menahan orgasme ku yang
selanjutnya. Cairan vagina ku menyemprot tak karuan keluar dari
vaginaku. Mereka hanya tersenyum sambil berbicara bahasa
yang tidak ku mengerti itu.
Mereka benar-benar tak berperasaan, aku yang sudah tak
bertenaga dan mengalami orgasme dua kali masih saja dinikmati.
Bibirku terus dilumat oleh pria-pria itu, susuku diciumi dan
disedot, bahkan sesekali mereka menggigit puting ku dengan
keras, vaginaku pun tak henti-hentinya diobok-obok dengan
sextoy mereka itu, lebih tragisnya adegan itu direkam handycam
yang dipegang salah satu pria-pria jahanam tersebut.
Tak puas dengan adegan begitu, kemudian satu pria berbuat
yang lebih jauh, ia menusukkan penisnya ke liang vaginaku.
Vaginaku benar-benar perih, seperti sudah tersobek-sobek, tapi
pria jahanam ini tidak memperdulikanku, ia terus menggenjot
vaginaku tanpa henti. Bahkan sebelum dia orgasme, ia menarik
keluar penisnya dan menusukkan penisnya ke mulutku, ia
memaksaku mengulum penisnya hingga orgasme dan
menyemprotkan sperma nya di dalam mulut ku. Aku hanya
tersedak oleh banyaknya sperma yang memenuhi
kerongkonganku. Belum selesai menelan sperma pria itu, pria lain
telah mengambil posisi pria sebelumnya, ia menusukkan
penisnya ke vaginaku, mungkin dinding-dinding vaginaku sudah
lecet.
Seperti pria sebelumnya, ia juga kemudian menyemprotkan
spermanya di dalam mulutku hingga masuk ke kerongkonganku.
Aku sangat merasa muak dan mual, ingin sekali ku muntahkan
semua, namun apa daya, mulutku dibekap agar tidak
memuntahkannya. Para pria itu terus bergiliran dengan aksi yang
sama. Hingga semua sudah mendapatkan giliran, barulah mereka
berhenti dan kemudian memakaikan baju ku kembali. Sambil
memakaikan baju, mereka pun masih mencuri kesempatan
untuk menjamah payudaraku. Aku tak mampu bergerak, mereka
memakaikanku seragam dengan sembarangan, bahkan celana
dalam dan bra ku tidak dipakaikan, aku yakin rambutku juga
sudah acak-acakan, apalagi wajahku yang penuh dengan cairan
sperma yang belepotan.
Pria-pria tersebut mengangkatku dan memapahku ke arah pintu,
aku kemudian diturunkan di daerah yang sangat sepi, aku tidak
tahu daerah apa itu. Badanku lemas, aku hanya mengenakan
seragam tanpa dalaman, kemudian tas ku dilempar ke arahku
dan mereka pun meninggalkan ku. Aku tak mampu bangkit lagi,
ku bongkar tas ku untuk menghubungi tante Olivia, tapi tak
sempat menelepon, aku sudah merasa pandanganku berkunang-
kunang, kemudian semua menjadi gelap. Aku pun jatuh pingsan
untuk beberapa jam lamanya.
Saat aku membuka mata ku, aku sudah berada di kamarku, tante
Olive dan mama merawatku. Tante Olive mendapatkan informasi
dari kantor polisi, maka itu tante dan mama segera
menjemputku. Polisis hanya menyuruh mereka membawa aku
pulang. Kata tante Olive, di sini polisi sangat takut dengan
keganasan para yakuza, maka oleh karena itu mama dan tante
Olive tidak ingin menuntut masalah yang sudah ku alami. Aku
sangat kecewa sekali, namun apa boleh buat, hal ini akan
mengancam keselamatan tante Olive beserta keluarganya juga,
karena tante curiga kejadian ini didalangi oleh para yakuza. Mama
juga tidak bisa berbuat apa, beliau hanya berjanji akan segera
pergi dari sini untuk menyusul papa di Singapura.
TAMAT

Sebut saja namaku dimas, seorang pemuda yang lahir 28 tahun
yang lalu di sebuah desa di lereng gunung lawu jawa tengah,
tawang mangu tepatnya aku dilahirkan dari sebuah keluarga petani
sayur yang bisa dibilang terpandang di kampungku. Hal tersebut
terjadi karena orangtuaku adalah pemilik mayoritas tanah di lereng
gunung yang dingin itu.
Selepas menamatkan pendidikanku di mts (setara smu) di sekitar
tempat tinggalku, kulanjutkan pendidikanku ke ungaran di sebuah
sekolah kesehatan ternama di kota itu, sesuai cita citaku untuk
mengabdikan hidupku untuk membantu sesama, terutama kaum
menengah kebawah seperti penduduk di kampong tempat
tinggalku.
Empat tahun sudah aku menjalani pendidikan di sekolah tersebut
yang kulalui dengan sungguh sungguh, berharap dapat lulus
dengan nilai yang memuaskan, sehingga dapat dengan mudah
mendapatkan pekerjaan sesuai yang aku harapkan.
Sudah tiga tahun aku lulus dari sekolah kesehatan, dan selama itu
pula aku bekerja di sebuah rumah sakit di semarang. Karena pada
saat aku lulus dengan peringkat ke tujuh dari 500 siswa,
rumahsakit tempat aku magang dahulu langsung
merekomendasikan aku ntuk menjadi karyawannya, walaupun
masih phl (petugas harian lepas) tapi aku sangat bersyukur waktu
itu.
Dua tahun kemudian aku diangkat sebagai pegawai negeri dan di
tempatkan di sebuah rumah sakit jiwa yang masih berada di
wilayah semarang. Seketika pada saat aku menerima skep
pengangkatanku di rumah sakit jiwa aku menyesal. Apa yang
harus ku perbuat dengan orang orang yang menderita gangguan
jiwa disana, bisa bisa aku malah ikutan jadi gila. Singkat kata
kujalani saja pekerjaanku dengan penuh rasa tanggung jawab dan
dedikasi hingga saat ini menginjak tahun ke dua.
Siang itu giliranku piket jaga untuk 24 jam kedepan, sekira jam
sepuluh pagi telepon di ruang piket berdering, setelah kuangkat
ada permintaan penjemputan seorang pasien yang diduga
menderita gangguan jiwa. Dari permintaan seseorang diseberang
alat telepon yang mengaku anggota kepolisian meminta pihak
rumah sakit menyediakan peralatan untuk menenangkan dan
membawa pasien ke rumah sakit. Beberapa saat setelah
melakukan procedural pelaksanaan tugas kami bergegas menuju
lokasi di sebuah kota di daerah magelang.
Dari informasi sementara dari yang kami terima, calon pasien
kami adalah seorang remaja putri berusia dua puluh dua tahun
yang menderita gangguan jiwa dengan dugaan sementara karena
telah direnggut kegadisannya oleh kekasihnya yang kini sirna
entah kemana.
Sampai dilokasi kami langsung disambut oleh isak tangis keluarga
yang memohon kesembuhan bagi putrinya. Dari keterangan
petugas kepolisian dan dari orang tua pasien maria telah menjalin
hubungan dengan andi yang kini pergi setelah berhasil
menggagahi putrinya, walau kemungkinan kehamilan itu belum
jelas namun trauma yang diderita maria seorang gadis dengan
kulit putih dan badan yang montok itu sedemikian berat, sehingga
dalam sakitnya dia mengancam semua orang yang mendekatinya
karena khawatir akan memutuskan hubungannya dengan andi
pacarnya.
“Tolong sembuhkan anak kami pak” sepatah kata yang terlontar
dari mulut seorang ibu disela isak tangisnya.
Setelah melakukan pengamatan, saya dan satu rekan saya
bambang memutuskan untuk memberikan suntikan penenang
kepada maria demi kemudahan perjalanan kami, dan setelah
mendapatkan persetujuan dari keluarga persiapan tindakan kami
lakukan. Aku mengeluarkan satu ampule deazepamp dan spetnya
sedangkan bambang dengan senyum ramah berusaha mendekati
maria yang dari tadi terus memluk bantal sambil memanggil
nama andi.
Dengan cepat bambang menindih tubuh maria dan menarik
tangan kanannya ke sisi untuk memberikan ruang bagiku untuk
menyuntikkan obat penenang ke nadi maria. Lima belas detik
kemudian usaha maria untuk meronta melepaskan pegangan
bambang pun melemah dan ……………. Dia tertidur dalam
pengaruh obat penenang. Berdua kami menggendong tubuh
maria yang kini lemas ke dalam mobil khusus expedisi pasien.
Kami baringkan maria di bagian belakan kendaraan dan kami kunci
pintu nya dari luar.
“ada yang mau ikut mengantar?” tanyaku kepada keluarga ketika
akan meninggalkan rumah maria.
“iya pak, tapi kami pakai mobil sendiri karena nanti sore kami
harus kembali kesini” jawab ayah maria.
Rombongan mobil berjalan beriringan dengan mobil kami berada
di posisi paling depan. Dalam perjalanan sesekali aku harus
mengontrol kondisi maria karena khawatir kalau pengaruh obat
penenang itu pudar walaupun sebenarnya sudah kupersiapkan
untuk lima jam perjalanan. Ketika kulakukan pengecekan, terlintas
dalam benakku ternyata maria adalah gadis yang cantik. Dengan
rambut lurus sebahu, tinggi badan tak kurang dari 160 cm
ditambah badan yang montok. Benar benar gadis yang cantik,
bisikku.
“mbang, pasien kita cantik lho mbang” kataku kepada bambang
yang sibuk mengendalikan kemudi.
“iya, tapi sayang gila” jawabnya tanpa ekspresi sedikitpun.
Hm………… sejenak kunikmati ayu wajah maria, ingin rasanya
kuremas buah dada montok yang menyembul dari kaos putih
yang dikenakan maria. “lho kan ni mobil kan nggak ada jendela”
so nggak mungkin orang diluar melihat yang aku lakukan.
Sedangkan bambang, silahkan aja mainin kemudi.
Iseng kuraba buah dada maria yang terlihat menantang dibalik
tulisan spice girl di kaos ketatnya. Maria diam saja ketika jari ku
mulai menjelajah ke vagina mungil yang dibalut celana jeans
hitam, hanya kepala dan badannya yang bergoyang – goyang
karena gerakan kendaraan. Benar benar useless ni cewek,
membuatku semakin tak bisa menahan diri. Kurubah posisi
tangan maria ke atas kepala dan mengikatkannya kepada besi
pengait yang ada di atas dragbar, kutarik keatas kaos putihnya
sehingga nampaklah sepasang buah dada nan indah menyembul
dari balik kaos itu. Kukulum dan kuhisap putingnya, kumainkan
dengan penuh nafsu dan maria tetap terlelap dalam pengaruh obat
penenang.
Kulepaskan perlahan kancing dan dengan hati hati kuturunkan
celana nya, ampun…. Terpampang dihadapan ku sebuah
pemandangan yang selama ini hanya ada dalam benakku,
kemaluannya sungguh indah dengan bulu halus menghiasi
atasnya. Kujilati dan kuhisap klitoritsnya sambil kedua tanganku
memainkan putting merah maria yang kini mulai agak mengeras.
Sedikit lenguhan keluar dari mulut mungil maria ketika kujulurkan
lidahku memasuki liang kemaluannya.
Sejenak aku takut dengan tindakanku, tapi toh maria kan udah
nggak perawan minimal itu keterangan dari orang tua dan pihak
kepolisian. Jadi “it’s ok babe” kuturuti nafsuku yang kini sudah ada
di ubun ubun, kubuka rest luiting celana seragamku dan
kukeluarkan batang kemaluanku yang kini sudah mengeras.
Kuangkat sedikit tubuh maria sehingga kepalanya mendongak
keatas, kubuka mulutnya dan sangat kunikmati hangatnya mulut
maria ketika batang penisku masuk ke dalam mulutnya. Dengan
mata yang masih terpejam maria seakan menikmati juga
kerasnya kemaluanku di dalam mulutnya.
Puas melakukan oral di mulut maria, kini tujuan utamaku adalah
kemaluannya yang indah. Kuambil posisi sejajar dengan maria
dan dengan perlahan kudorong masuk kepala penis ke dalam
vagina maria. Agak susah, mungkin karena baru beberapa kali aja
di menerima tamu penis laki laki. Uh…… maria melenguh dengan
sedikit mengangkat kepala, namun kembali dia terlelap dalam buai
deazepamp. Kutarik sedikit penisku dan kembali kudorong dengan
tekanan yang lebih kuat, kuulang beberapa kali dan akhirnya lancer
juga walau agak sesak.
Dengan penuh nafsu yang meracuniku telah kucumbu kujilat dan
kusetubuhi pasien ku dalam keadaan tak sadarkan diri. Dan aku tak
menyesal, hinggak akhirnya aku mencapai klimaks dan kubuang
seluruh spermaku diatas tubuh maria yang masih tergolek tak
berdaya.
Setelah merapikan pakaianku sendiri, kukenakan kembali pakaian
yang dikenakan maria mulai dari celana calam, jeans dan terakhir
kaos putihnya setelah sebelumnya kubersihkan tubuhnya dengan
cairan alcohol (biar bau sperma hilang). Ketika aku kembali duduk
di bangku depan kendaraan kami sudah sampai semarang.
Hh……………. Hampir sampai, bisikku.
“gimana ? cantik” Tanya bambang mengagetkanku.
“yup” jawabku singkat.
Tapi aku sudah punya rencana untuk pasienku yang satu ini.