Minggu, 12 Mei 2013

School Girl Diary



Anita & Veily
“Ya…Masukkkk….!! ” Pak Dion tersenyum – senyum ketika pintu kantornya diketuk pada siang hari dimana para murid sudah berhamburan pulang, senyumannya tambah lebar mirip senyuman srigala buas yang kelaparan.
Dua orang muridnya yang cantik datang menyerahkan diri, cukup lama Pak Dion mengintai mangsanya dan akhirnya kerja kerasnya berhasil dengan gemilang, bayangkan betapa berat ia mencurahkan seluruh pikiran dan tenaganya siang dan malam demi dapat menikmati santapannya yang lezat dan nikmat. Pak Dion tidak pernah merasa memaksa mereka, ia memberikan dua pilihan sebagai bentuk “demokrasi” ciptaannya, serahkan keperawanan kalian atau….. rekaman kalian akan segera beredar luas. Pak Dion mengunci pintu kantornya, kemudian segera menarik pergelangan tangan kedua gadis itu, dengan santai  ia menyuruh keduanya agar duduk di atas meja, sedangkan ia sendiri duduk di atas  kursi empuknya tepat di hadapan mereka. Anita dan Veily saling memandang kemudian tertunduk lesu tanpa daya.
“Kalian kenapa sichhh….??? Koq lemas gitu, padahalkan kalian ini biasanya hot banget……, sampe ngecrot barengan..He he he” Pak Dion terkekeh-kekeh, tangannya menyibakkan rok seragam Veily.
“Ehhhh….!! ” Pak Dion merasa tersinggung ketika Veily menepiskan tangannya, senyuman mesum mendadak hilang dari wajahnya, sambil menggeram  ia bangkit dari kursinya dan
 ”Plakkkkkk!!! “
“Dengar baik-baik, bapak bisa melakukannya dengan kasar kalau kalian terus seperti ini, dasar murid tidak tahu diuntung, disuruh belajar yang enak-enak malah ngak mau, jarang bapak memberikan kesempatan seperti ini…!!”

“Jangan pakkk, jangan, tolong….jangan” Anita menahan tangan pak Dion yang melayang hendak kembali menampar wajah Veily.
“Hmmmmmhhh…….” Pak Dion mencoba meredakan emosinya.
“Baiklah, nama kamu Anita ya ??” Pak Dion membelai kepala gadis itu, Anita mengangguk kecil.
“Sekarang coba kamu ciuman dengan Veily, Bapak pengen lihat langsung, pengen nonton lesbian live show, hehehe….”
Anita menekan perasaannya, kemudian bibirnya mengejar bibir Veily, nafas Veily memburu antara marah dan nafsu yang perlahan-lahan mulai menggoyahkan, menghancurkan rasa marah dan kebencian dihatinya. Sang nafsu mengupas kemudian membasuh rasa marah di hati Veily, perlahan-lahan sang nafsu melemparkan jauh-jauh rasa risih yang mengganjal di dalam hati kedua pasangan lesbi itu, Pak Dion tersenyum kemudian duduk kembali di atas kursinya, berkali-kali kepala sekolah bejat itu menelan ludah ketika menyaksikan Anita dan Veily saling melumat dengan mesra
“Ckkk Ckkkk.. Ckkkkk…..” suara bibir kedua muridnya yang cantik terdengar saling berdecakan ketika mereka saling melumat dan mengulum.

Veily merapatkan kedua kakinya ketika merasakan rok seragamnya disibakkan ke atas oleh Pak Dion, pria itu tersenyum sambil menyibakkan rok seragam Anita.
“Ha Ha Ha.., wahh,!!, Ck ck Ck ” Pak Dion berdecak kagum sambil menatap tajam dua pasang paha kedua muridnya yang putih dan mulus, tangan kirinya bermain dipermukaan paha Anita sedangkan tangan kanannya bermain di permukaan paha Veily. Posisi kedua kaki yang merapat itulah yang sengaja dimanfaatkan oleh Pak Dion untuk meloloskan celana dalam kedua muridnya.
Tangan Pak Dion memaksa kedua paha Veily untuk mengangkang, ia menatap wajah Veily dengan tatapan sinisnya, kepala sekolah bejat itu merasa di atas angin karena Veily hanya terdiam pasrah tanpa daya, menatapnya dengan tatapan putus asa.

“Awwww…..!! ” Veily memekik kaget ketika jari tangan Pak Dion mengusap selangkangannya yang mengangkang, tubuhnya tersentak seperti tersengat listrik merasakan usapan kurang ajar itu.
Wajah Veily merah padam, baru pertama kali ini selangkangannya dielus oleh jari tangan laki-laki, bahkan kini jari-jari itu mulai menghampiri selangkangannya kembali, nafas Veily semakin berat, berkali-kali Veily merasakan tubuhnya menggigil , dan merinding hebat.
“Nah Veily, coba sekarang kamu buka bajunya Anita…” Pak Dion memerintahkan Veily, perlahan-lahan ia melaksanakan perintah Pak Dion, tangannya mulai melepaskan kancing baju seragam Anita kemudian menarik lepas baju seragam temannya.
“Sekarang buka BH-nya….” Pak Dion memberikan instruksi lebih lanjut dan Veily melaksanakan instruksi Pak Dion, Anita merapatkan kedua kakinya sambil menyilangkan tangankirinya di depan dada berusaha menyembunyikan buah dadanya yang terekspose dengan bebas, sedangkan telapak tangannya yang satunya lagi berusaha menutupi wilayah intimnya.”bagus.., bagus.. Ha Ha Ha” Pak Dion tertawa senang.
“Nah, Sekarang giliran Anita….., Buka baju ama BH-nya Veily…” Pak Dion meleletkan lidahnya ketika Anita mulai melaksanakan instruksinya.
“Luar biasa….!!” mata Pak Dion berbinar-binar menatap keindahan tubuh Veily dan Anita.
Tangan Pak Dion mencekal pergelangan tangan Veily dan Anita kemudian menyuruh mereka untuk berlutut di sisi kanan dan kirinya.
“Oke.., sekarang biar bapak ajarkan, mata pelajaran pertama yang sangat penting bagi kalian berdua, yaitu belajar menservice penis laki-laki, ” Pak Dion cengengesan dengan wajahnya yang menyebalkan.

“Seperti biasa dan pada umumnya sebelum belajar kita harus membuka buku terlebih dahulu, sebab bagaimana kita mau belajar kalau bukunya tidak kita buka, iya tohh…, nah, karena ini tentang penis, maka bapak sarankan kalian mulai membuka celana bapak… ayooo tunggu apa lagi sih!!! “Pak Dion membentak karena Anita dan Veily tidak menyimak pelajaran darinya.
Mereka saling berpandangan kemudian perlahan-lahan mereka mulai membagi tugas, Veily membuka ikat pinggang Pak Dion sedangkan Anita menarik resleting celananya “Srerrtttt…..!! ” , bersamaan mereka menarik celana panjang Pak Dion sampai terlepas, kini hanya celana dalam itu sajalah yang menutupi selangkangan Pak Dion. Veily dan Anita memalingkan wajah mereka ketika Pak Dion meraih sesuatu dari balik celana dalamnya. “Sekarang kita mulai pelajaran kedua dengan topik, tanpa keberanian maka semuanya sia-sia, oleh karena itu dalam pelajaran kedua ini kalian harus berani mempergunakan mata kalian, coba lihat benda Bapak yang hebat ini HE HE HE”
“Ayo Anita jangan malu gitu dong ahh, harus berani kaya Veily…” Pak Dion membujuk Anita agar mau menatap batang kemaluannya.
“Ihhhh…gede amat….” Anita tanpa sadar mengungkapkan isihatinya.
“Nah sekarang , selain sebagai alat perasa lidah juga mempunyai fungsi lain, demikian pula dengan fungsi mulut kalian selain untuk makan tentu ada gunanya….juga dalam pelajaran yang satu ini,, julurkan lidah kalian…” Pak Dion  tersenyum sambil menekankan kepala Veily dan Anita kearah batang kemaluannya.

“Nahhh…, Ayo belajar baik-baik, dijilat, dihisap…, diciumin….” Pak Dion menyandarkan punggunya bersandar pada kursi empuknya. Sesekali terdengar suara Anita dan Veily yang terbatuk-batuk, mereka belum terbiasa menghirup aroma kemaluan pria yang menyengat.
“Bagus, cukup pandai.., ” Pak Dion mengelus-ngelus kepala Veily dan Anita, bergantian mereka mengecup-ngecupi buah zakar Pak Dion, lidah mereka terjulur-julur keluar menjilati permukaan batang kemaluan Pak Dion yang berwarna hitam kecoklatan.
“Nahh, ini juga dicobain.., kamu pasti suka…” Pak Dion menekan kepala Anita sambil menjejalkan kepala kemaluannya, sementara Veily menatap Anita yang sedang menghisap-hisap kepala kemaluan Pak Dion, mulut Anita bedecakan ketika melumat-lumat puncak kepala kemaluan Pak Dion, sementara kedua tangan Anita menggenggam penis Pak Dion yang besar.
“Anitaaaaa, jangan serakah gitu dong, ayo biar sekarang Veily yang nyicipin kontol Bapak…..”
Anita melepaskan kemaluan Pak dion kemudian menyodorkannya pada Veily, sebentar Veily menatap kepala kemaluan Pak Dion sebentar kemudian menolehkan wajahnya menatap Anita seolah-olah bertanya seperti apa rasanya. Anita menganggukkan kepalanya seolah meyakinkan Veily kalau mainan baru yang satu ini ternyata sangat mengasikkan. Perlahan lidah Veily terjulur keluar dan memijati kepala kemaluan Pak Dion sebelum memasukkannya ke mulut, Hmmmmm ternyata seperti inilah rasanya kepala penis laki-laki, asin, kenyal,dan gurih. Bergantian Anita dan Veily menservice kemaluan Pak Dion, mulai dari buah zakar, batang kemaluan dan juga kepala kemaluan Pak Dion. Pak Dion menarik tubuh Anita kemudian membaringkannya kembali di atas meja, tangannya mendekap pinggul Anita dan menggusup pinggul gadis itu sampai posisi vagina gadis itu pas untuk disodok oleh batang kemaluannya, kepala sekolah bejat itu kemudian sibuk berusaha melakukan penetrasi pada lubang vagina Anita yang masih rapat.

“Aaaakkhhh……!! ” Anita membeliakkan matanya ketika merasakan batang kemaluan Pak Dion mulai terbenam, membelah jepitan vaginanya dengan perlahan-lahan.
“Arhhhhh………, Owwwww….. Hkk Hkkkk” Anita menolehkan kepalanya kesamping ketika merasakan seseorang menggenggam lembut tangannya.
“Veilyyyyy….,Ahhhh.., “Anita memekik sambil menggenggam erat tangan Veily ketika merasakan kepala kemaluan Pak Dion merobek-robek selaput perawannya, Veily membelai-belai kepala Anita, berusaha menenangkan Anita yang sedang diperawani oleh Pak Dion.
Pak Dion terkekeh-kekeh sambil semakin dalam membenamkan batang kemaluannya sampai mentok kemudian ditariknya perlahan-lahan kemudian disodokkannya masuk sekaligus kedalam jepitan vagina Anita.
“Pelan-pelan Pakkk, ” Veily memohon memelas pada Pak Dion, agar Pak Dion menyetubuhi Anita dengan lebih lembut.
“Boleh, tentu boleh…!! Tapi… syaratnya kamu juga harus ikut ngegarap Anita…., kalo nggak Bapak sodok dia kayak gini !! Hihhhhh…..!! ” Pak Dion menggenjot vagina Anita dengan kasar sampai Anita memekik – mekik kesakitan.
“Jangan…!!, Jangannnn Pakkkk!!, Saya lakukan…..” Tangan  Veily menahan gerakan pinggul Pak Dion yang sedang menggenjot-genjot vagina Anita.
Pak Dion tersenyum-senyum ketika Veily mulai duduk di pinggiran meja menghadap ke Anita yang terlentang pasrah, tangan Veily mengelus-ngelus payudara Anita, diusapnya payudara Anita sampai gadis itu menggeliatkan tubuhnya karena kegelian.
“Veil…” gadis itu merintih lirih ketika merasakan remasan-remasan lembut pada gundukan buah dadanya,

 ”Ahhhh…………… ” Anita mendesah ketika merasakan tangan Veily mencubit putting susunya kemudian mulai menarik-nariknya dengan lembut, sementara Pak Dion mulai mengayunkan batang kemaluannya dengan lembut. Ditekankannya batang kemaluannya yang besar dan panjang itu dalam dalam kemudian perlahan-lahan kembali ditariknya sampai sebatas leher penis kemudian ia kembali menekankan batang kemaluannya dalam-dalam sampai mentok.
“Ahhh…, Ahhhhhhh, Veily” Anita merintih sambil mendekap kepala Veily yang sedang mencumbui puncak payudaranya.
Mulut Veily mengecupi buntalan payudara Anita yang padat dan kenyal, lidahnya terjulur keluar menjalari permukaan payudaranya kemudian menjilati puttingnya sebelum melumat dan mengenyot-ngenyot puncak payudara Anita dengan kuat. Serangan Veily di buah dadanya dan juga genjotan-genjotan lembut Pak Dion akhirnya meruntuhkan dinding pertahanan Anita, dinding itu jebol ketika denyutan-denyutan kenikmatan menerjang tanpa ampun.
“Ahhh… Crrr Crrrrr.. Crrrr…..” Anita memejamkan matanya, Veily agak tercekat ketika menatap Anita, bibirnya agak terbuka sambil mendesis pelan “Ohhhhhhh, nikmatnya……….”
Anita tidak lagi merintih kesakitan ketika Pak Dion mulai melakukan genjotan-genjotan yang agak kuat dan kencang, “Crepppp… Crepppp… Creppppp…” Benda besar dan panjang itu keluar masuk membelah vagina Anita
“Ahhhh Ahhhh Ahhhhh Awwwww….” Anita memekik – mekik kecil keenakan, tusukan-tusukan pak Dion terasa semakin nikmat, terkadang ia menjerit keras dengan liarnya.

“Anitaa ??!! ” Veily tercengang , Anita yang ia kenal tidak seperti ini, Ohh, kenapa ? apakah tusukan-tusukan batang kemaluan Pak Dion yang membuat Anita berubah menjadi liar seperti ini ???
“Ennnhh Ennnnh Ennnhh… Aaaaaaa” Anita semakin keras merengek ketika Pak Dion semakin kuat menggenjot-genjotkan penisnya.
“Arhhhhh….!! “Anita mengerang keras ketika penis Pak Dion mengaduk-ngaduk vaginanya, pria itu tampak semakin bernafsu menyodok-nyodokkan batang kemaluannya.
“Oahhhhhhh…., Hshhhhhhhh……Hshhhhhh” Anita mendesis-desis, sungguh sulit menahan nikmatnya sodokan-sodokan penis Pak Dion yang membuat Anita berkali-kali terperanjat seperti terkena sengatan listrik tegangan tinggi, dan pada sentakan terakhir ia memekik kecil
“Ahhhhh…, Pak Dionnnn, Crrr Crrrrr…….” tubuh Anita mengejang beberapa detik sebelum akhirnya terkulai dengan lemas, Pak Dion menghela nafas panjang sambil meremas-remas buah dadanya, kepala sekolah bejat itu menarik batang kemaluannya dari dalam jepitan vagina Anita. “Plophhhh”
“Veily.., sekarang giliran kamu he he he” Pak Dion memerintahkan Veily agar duduk di atas kursi empuknya.
“Ayooo…, ngak apa-apa koqq…” Pak Dion membimbing Veily dengan paksaan, dibukanya kedua lutut Veily agar mengangkang ke samping, gadis itu berusaha mengumpulkan keberaniannya ketika kepala Pak Dion menunduk dan mendekati wilayah intimnya, Veily merasa risih ketika merasakan hembusan-hembusan nafas pak Dion yang memburu menerpa permukaan vaginanya.
“AHHHHH…!! ” Veily tersentak ketika merasakan sebuah jilatan dibibir vaginanya, tubuhnya menggigil hebat ketika merasakan ulasan-ulasan lidah Pak Dion menjilati dan mengorek-ngorek belahan vaginanya. “Slllcckkkk….Sllllcccckkkkk… Slllccckkkkk!! “
.
“Ennnhhhhhh……” Tubuh Veily kelojotan ketika mulut Pak Dion tiba-tiba mengenyot-ngenyot bibir vaginanya “Uhhhhh!! Crrrr Crrrr Crrrrr” Cairan kenikmatan itu berdenyut berkali-kali dan semuanya habis dikenyot dan ditelan oleh Pak Dion.
“He he he…, Nyamm, Gurih…, Ehmmm” Pak Dion mengangkat kepalanya ,
Veily terdiam dengan wajah merah padam, ketika si kepala sekolah bejat itu berhasil membuatnya mencapai puncak klimaks.
Veily menolehkan kepalanya ke kiri ketika Pak Dion mulai mengarahkan batang kemaluannya pada bibir vaginanya, Veily merintih ketika merasakan gesekan-gesekan kepala kemaluan Pak Dion yang menggeseki belahan vaginanya.
“AHHHHH………!! ” gadis itu memejamkan matanya rapat-rapat ketika merasakan belahan vaginanya dipaksa melar pada saat kepala kemaluan Pak Dion mulai melakukan penetrasi, tubuhnya melenting kemudian terhempas begitu saja.
“Hsssshhhhh…… Awwww…..!! “Veily menatap Wajah Pak Dion sambil berusaha menahan gerakan pinggul Pak Dion, Pak Dion tertawa senang sambil menikmati jepitan vagina Veily pada leher penisnya.
“Uuuuhhhh……” bibir Veily meruncing ketika merasakan penis Pak Dion mulai menekan untuk masuk lebih dalam, Veily menggeliat-geliat resah, bibirnya terus mendesis-desis tanpa henti.
“Awwww…., Aduhhhhh……” Veily mengernyit kesakitan ketika kepala kemaluan Pak Dion bersuka ria merobek-robek selaput daranya,
Sambil meremas induk payudara Veily, Pak Dion menyentakkan batang kemaluan kuat-kuat.”Owwwww……!! “Veily terkulai lemas di atas kursi empuk dengan sebatang penis Pak Dion yang besar dan panjang tertancap dalam-dalam di lubang vaginanya. Air mata meleleh dari sudut matanya, gadis itu terisak menangis sambil menatap wajah Pak Dion, betapa menyebalkannya wajah pria itu, dasar bajingan!! keparat!! Veily mengumpat dalam hati.

Pak Dion menarik penisnya perlahan-lahan kemudian kembali disodokkannya sekaligus, bibir vagina Veily sampai terlipat kedalam ketika batang kemaluan yang besar dan panjang itu menyodok masuk dengan paksa.
“Hemmmppphhh…..” Veily bertahan agar dirinya tidak berteriak, ia tidak ingin si keparat ini terkekeh senang mendengarnya memekik-mekik tanpa daya dalam genjotan-genjotan batang kemaluannya.
Pak Dion menggeram kemudian semakin kasar dan liar menarik dan membenamkan batang kemaluannya, begitu kasar, liar dan brutal,
“Clepp.. Cleppp Cleppp….”
“Oawwwww….!! Ampunnn… Pakkkk!! Ampunnnn Ohhhhh” Veily tidak sanggup lagi menahan genjotan-genjotan kasar Pak Dion, Pak Dion malah semakin mempercepat genjotannya, sambil sesekali tertawa senang mendengarkan jeritan-jeritan kecil Veily.
“HHhhsshhh…..” Veily berusaha mengambil nafas sebanyak mungkin ketika Pak Dion membenamkan batang kemaluannya dalam-dalam dan berhenti bergerak, kedua tangan Pak Dion meremasi induk payudara Veily yang sudah basah oleh lelehan cairan keringat, dijepitnya putting susu gadis itu kemudian dipilin-pilinnya putingnya yang sudah meruncing keras. Pak Dion mencekal tungkai lutut Veily sebelah bawah dan mendorong sambil mengangkangkan kedua kaki gadis itu. Posisi kaki Veily mirip huruf “M” yang sangat indah. Veily meringis ketika Pak Dion menarik kembali batang kemaluannya, gadis itu tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Ahhh, AHHHH, Owwww…! Owwwww!” Tubuh Veily tersentak-sentak dengan kuat ketika Pak Dion kembali menggenjot-genjot kasar lubang vagina Veily yang seret dan sempit.

“Ahhhh, kenapa ini ??, Ohh, Ampun,  enak bangetttt…..” Veily membatin ketika merasakan genjotan-genjotan Pak Dion yang kasar dan brutal terasa semakin enak. Apa ini yang dirasakan oleh Anita, Hmm, pantesan Anita malah mendesah-desah keenakan ketika digenjot-genjot oleh batang kemaluan Pak Dion.
“Ahhhh… Pak Dionnnn, Ahhhhhh….” Veily menatap sayu wajah Pak Dion, menatap laki-laki gemuk itu mengayunkan batang kemaluannya yang besar dan panjang.
“He He He, Gimana pelajaran khusus dari bapak ?? rasanya enak bukan ?? Kamu harus bersyukur dan berterimakasih sama Bapak, nggak semua murid perempuan mendapatkan kesempatan emas ini !!!, Cuma yang cantik-cantik aja, HA HA HA HA” Pak Dion mencekal pinggang Veily kuat-kuat kemudian menghentak-hentakkan batang kemaluannya dengan liar dan brutal sampai Veily melolong panjang “Owwwwww…………hhhhhh”
“Hemmmmmffffff… Ucchhhhh….?” Veily mendesah-desah ketika tiba-tiba lubang vaginanya berkedut-kedut dengan nikmat, ada sesuatu yang keluar tanpa dapat ditahan atau dicegah, semuanya terjadi begitu saja, begitu lega, nyaman, kenikmatan itu membuat Veily merinding.”OHHH…, nikmat banget sichhh……” tanpa sadar Veily mendesis lirih.
Pak Dion meraih pundak Veily kemudian menarik tubuh gadis itu ke arahnya sambil melakukan kocokan-kocokan lembut. Kepala sekolah bejat itu menciumi bibir Veily yang terus mendesah-desah, sesekali dilumatnya bibir gadis itu. “ckkkk… Ckkkk… Cllllkkkkk, Ohhh,, Hsshhh Ahhh Ckkkk..”Suara decakan-decakan itu bercampur dengan desahan dan rintihan Veily yang semakin manja dan menggairahkan.Pak Dion menolehkan kepalanya pada Anita yang sedang duduk di pinggiran meja sambil menonton perbuatan mesum antara Pak Dion dan Veily.

“Anita sini…” Pak Dion memanggil Anita, perlahan-lahan Anita mendekati pak Dion.
Kepala sekolah bejat itu menarik pergelangan tangan Anita agar gadis itu ikut berlutut disamping tubuhnya yang gembrot, dengan santai lengan Pak Dion melingkari pinggang Anita, setelah mengecup pipi Anita, Pak Dion kembali menggenjotkan batang kemaluannya menerjang lubang vagina Veily. Veily menatap Anita dengan tatapan matanya yang sayu, berkali-kali bibirnya mendesah-desah lembut, terkadang mengerang lirih, nafas Anita semakin memburu, gadis itu menundukkan tubuhnya dan mengalungkan kedua tangannya pada leher Veily. Dengan lembut Anita melumat bibir Veily.
“Ha Ha HA…, Bagus, Bagus….! ” Pak Dion tertawa senang, sambil menatap kedua muridnya yang lesbi saling berpelukan dan berciuman dengan mesra, kepala sekolah bejat itu menatap pantat Anita yang agak menungging di sisinya, sambil mengocok vagina Veily Pak Dion mencari cari kelentit Anita.
“Offffffhhh…, Ahhhh, Ahhhh Ckk Ckkk….” Anita mendesah-desah ketika merasakan kelentitnya diurut-urut oleh Pak Dion, sementara Veily mendesah resah karena lubang vaginanya terus digenjoti oleh si keparat Dion.
“Ahhhh Ahhhhh… Pak Dionnn…..”
“Aduhhh… duhhhh Ahhhhhh… Awwww”
Rintihan-rintihan kedua murid yang cantik itu terkadang disela oleh suara tawa pak Dion yang terkekeh-kekeh keenakan, erangan dan desahan-desahan manja semakin sering terdengar dari bibir mereka.
“Aaaaa…. Hemmmm CRRTTT CRRRRTTT”
“Aduhhhh… AAAAAAA…. Crrr Crrrrr…….”
Pak Dion semakin pede ketika berhasil merobohkan kedua muridnya yang cantik sekaligus. Ia lalu mencabut batang kemaluannya.

“Ehmmm, He he he…..kalian haus??” Pak Dion bertanya pada kedua muridnya, Anita dan Veily menganggukkan kepala sambil menatap dengan pandangan memohon.
“Ayo kalian bersujud di depan kontol Bapak….” tangan kanan Pak Dion berkacak pinggang sedang kan tangan kirinya memegang sebotol teh botol yang sudah dibuka, perlahan-lahan Anita dan Veily berlutut di hadapan penis Pak Dion.
“Kalian boleh minum tapi harus lewat kontol Bapak, ya itung-itung ngerasain teh botol rasa baru,” Pak Dion memiringkan teh botol ditangannya tepat pada Batang Penisnya yang sengaja diarahkan pada wajah kedua muridnya yang cantik.
Anita dan Veily terdiam sambil menatap sedikit air teh yang mengucur di ujung kemaluan Pak Dion, antara rasa haus dan harga diri, itulah yang harus dipilih oleh mereka.
“Gluk… Ceglukk…” berkali-kali Veily dan Anita menelan ludah berusaha membasahi kerongkongan mereka yang terasa kering dan panas sedangkan sedikit air teh yang mengucur di ujung penis Pak Dion begitu menggoda mereka.
“Slccckkk… Slllccckkkk,, Glekkk,,, Srrrrrrpppp… Srrrpppp” Veily langsung menyeruput air teh yang mengucur di ujung penis Pak Dion, untuk mengghilangkan rasa dahaga yang menyiksanya.
“HA HA HA HA HA HA…..” Pak Dion tertawa senang, suara tawanya semakin keras ketika Anita mengikuti jejak Veily.
“Buka mulut kalian lebar-lebar….” Pak Dion memerintahkan agar Veily dan Anita membuka mulut mereka, ia mengarahkan kepala kemaluannya pada mulut Anita yang ternganga, kemudian menuangkan air teh melalui batang kemaluannya

“Cerrrrrrr………” terdengar suara air teh yang sedang mengisi rongga mulut Anita, selesai mengisi mulut Anita, Pak Dion mengarah kepala kemaluannya untuk mengisi rongga mulut Veily.
“Glukkk… Glukk”
“Ceglukk…. Gluk”
Anita dan Veily yang kehausan menelan air teh di rongga mulut mereka, pak Dion berulang kali mengisi mulut kedua muridnya yang terus menganga kehausan.
“Nahhh, gimana rasanya ?? teh botol rasa kontol , HA HA HA” Pak Dion tertawa terbahak-bahak, ada sensasi tersendiri ketika melecehkan kedua muridnya yang cantik.
Pak Dion mencekal pergelangan tangan kedua muridnya dan menarik mereka berdua berdiri, “Nahhhh , kalian sudah belajar dientot dan terus terang, Bapak sangat salut pada kalian berdua, memek kalian rasanya enakk banget…, seret, peret pisannn…, top abis dahhhh….!! TWO THUMB UP BUAT MEMEK KALIAN !! ” (Hemmmmm??? Waduh….kayaknya istilahnya familiar amat ^^ )
“Setelah pelajaran dientot, kurang sreg rasanya jika kalian tidak belajar untuk melakukan pembalasan…., nah ini dia pelajaran selanjutnya, kalianlah yang harus belajar ngentotin Bapak…. He he he…..” Pak Dion menarik Veily dan Anita ke arah kursi sofa panjang di ruangan kepala sekolah yang biasanya dipakai untuk menjamu tamu.
Tubuh Pak Dion duduk santai di atas kursi sofa, Veily dan Anita saling berpandangan. Harap-harap cemas, berharap untuk kembali menggapai puncak kenikmatan namun cemas menghadapi sodokan-sodokan maut pak Dion.

“Nah, Anita…, Coba kamu naik kemari,”
Anita menaiki tubuh Pak Dion, kedua tangannya berpegangan pada bahu pak Dion untuk menjaga keseimbangan tubuhnya, Posisi Anita Mirip seperti Orang yang sedang berjongkok untuk buang air kecil.
“Oke, sekarang kamu dudukin kepala kontol Bapak Pakai memek Kamu…, Ayooo…, jangan ragu-ragu….”Pak Dion membantu dengan menarik pinggang Anita untuk turun.
“Sllllleeeeeppppphhhhh ” Perlahan-lahan kepala kemaluan Pak Dion kembali membelah vagina Anita. “Aaakkhhh….” kepala Anita terangkat keatas sambil mendesah panjang merasakan batang kemaluan Pak Dion kembali tertancap di lubang vaginanya, Anita berusaha menekankan vaginanya ke bawah, lelehan keringat kembali bercucuran membasahi tubuh gadis itu.
“Sekarang kamu ayun-ayunkan pinggul kamu… Ayoo…” Pak Dion menanti aksi Anita selanjutnya, sambil menggigit bibir Anita mulai bergerak mengayun-ngayunkan pinggulnya.
“Lebih cepat !!.. Lebihhh kuatttt….!! ” Pak Dion menyemangati Anita agar lebih aktif lagi melakukan Pr-nya.
“Ayoo,,, terusss,,!! perkosa Bapak, Anita…,!!” Pak Dion membantu Anita dengan menarik-narik pinggulnya untuk turun dengan lebih cepat dan kuat.
“Pakkk… Dionnnn!! Enakkkk…, Pakkkkkk….” Anita menjerit liar, sambil menghempas-hempaskan pinggulnya dengan lebih cepat.
Payudara Anita yang membuntal padat bergerak-gerak dengan indah di dadanya, Pak Dion Langsung mencaplokinya bergantian dari yang kiri dan yang kanan.
“Utsssss….!! Crr Crrr Crrrr…..” gerakan Anita tiba-tiba terhenti, tubuhnya mengejang , Anita merintih lirih dan terkulai lemas dalam dekapan Pak Dion.
Pak Dion mendorong tubuh Anita kesamping kanan, gadis itu bersandar lemas dengan posisi kedua kakinya sedikit  mengangkang.

“Ayo.., Veily sekarang kamu yang berlatih….”
Pak Dion terkekeh-kekeh sambil membantu memegangi pinggang Veily yang berusaha menaiki tubuh Pak Dion yang gembrot.
Nafas Veily memburu kencang ketika merasakan kepala kemaluan Pak Dion yang tidak tahu malu itu kembali menerobos Belahan Vagina gadis itu.
“Ahhhh…. Hsssshhhhhhh…..” Veily mendesis, tubuhnya melenting ke belakang sehingga buah dadanya semakin menonjol, sebuah kesalahan fatal karena Pak Dion justru memanfaatkan moment tersebut untuk mencaploknya, rakus sekali pria itu melumat-lumat payudara Veily yang segar sampai itu sepuas-puasnya.
“Nahhh, ayoo, mulai berlatih…!! ” Pak Dion sudah tidak sabaran ingin mewariskan pelajaran penting untuk Veily.
“Susah Pakkk, susahhhhh…..” Veily tampak kesulitan
“Makanya jangan terlalu tegang begitu santai saja…. Ayo coba lagi…Bapak yakin kamu bisa melakukannya !! “
“Hsssshhh… Ahhhhh Haaaaasssshhhh….” Veily mulai dapat melakukan tugasnya dengan baik, bahkan lebih pandai dari Anita karena Veily tampak lihai menggoyang-goyangkan pinggulnya seperti orang main hulahop.
“Wahhhhh…, rupanya kamu punya bakat terpendam!! ” Pak Dion tersenyum sambil meremas buah dada Veily.
“Ahh Ahhh Ahhh….” Veily mulai belajar untuk menghempas-hempaskan pinggulnya, gadis itu menjerit-jerit liar sambil merengek-rengek manja
“Wahhh…, kamu nangtang Bapak rupanya..,,, Baik bapak layani…!!” Pak Dion menyodokkan batang kemaluannya ke atas ketika Veily menghempas-hempaskan vaginanya kebawah.
“Ohhhh…., Pakkkk!!, Lebih kerassss….!! Ahhhhh terusss Pakkk…” Veily sudah kehilangan jati dirinya, yang ada hanyalah kenikmatan demi kenikmatan yang terasa ketika vaginanya disodok-sodok oleh batang kemaluan Pak Dion.

“AHHHHH……!! Crrr Crrrr” Veily mengalungkan kedua tangannya pada leher Pak Dion sambil menghempaskan vaginanya kebawah kuat-kuat, nafasnya tersendat-sendat ketika cairan-cairan kenikmatan itu berdenyut keluar.
Veily menolehkan kepalanya ke belakang ketika merasakan pinggulnya di dorong ke samping oleh seseorang, rupanya Anita ingin melanjutkan permainan barunya. Veily sedang asik-asiknya menonton Anita yang sedang menghempas-hempaskan pinggulnya dengan liar ketika terdengar bunyi “Cklekkk…..!!”
“Owww….!! ” Veily dan Anita berseru terkejut ketika seseorang menerobos masuk diikuti beberapa orang guru di sekolah itu.
“Ohhhh…, Pak Agunggg….!! Silahkan….” Pak Dion mempersilahkan Pak Agung untuk masuk.
“Wahhhh…, lagi asik rupanya, Maaf nih saya jadi menggangu Pak Dion ” Pak Agung menutup kembali pintu ruangan itu.
“Ohhh, Tidak apa…, saya justru senang Pak Agung mau ikut bergabung, dan memberikan informasi penting tentang korban kita berikutnya… he he he” Pak Dion terkekeh-kekeh sambil meremas-remas buah pantat Anita.
Tampaknya akan segera terjadi pertempuran tidak seimbang, antara Anita dan Veily melawan Pak Dion cs. Setelah mengunci pintu Pak Dede, Pak Ahmad, Pak Djono dan Pak Agung mulai melepaskan pakaian mereka masing-masing, Empat batang kemaluan teracung-acung mendekati mangsa mereka. Pak Djono menggesek-gesekkan kepala penisnya pada belahan pantat Anita yang halus lembut. Pak Dion terkekeh – kekeh sambil mendekap punggung Anita kuat-kuat agar posisi Anita lebih menungging. Pak Djono menekankan kepala kemaluannya kuat-kuat pada lubang anus Anita. Gadis itu mengerang, lubang anusnya mengkerut ketakutan sehingga kepala kemaluan Pak Djono sulit melakukan penetrasi.

“Hemmmm,masih susah…He he” ujung jempol kanan Pak Djono menekan kuat-kuat pinggiran anus Anita berusaha agar lingkaran anus gadis itu sedikit melar dan merekah, kemudian tangan kiri Pak Dion mengarahkan ujung kemaluannya pada lubang anus Anita dan menekan lubang yang sedikit merekah itu kuat-kuat.
“AWWWWWW….!” Anita menjerit keras kesakitan ketika dengan satu sentakan yang kuat kepala kemaluan Pak Djono menjebol  lubang duburnya,
“Arrrhhhhh… Arhhhhhhh…. Errrrhhhhhh” Anita berulangkali ketika Pak Djono menekankan batang kemaluannya lebih dalam menyodomi lubang anus Anita.
“Hegghhhhh…..” Mata Anita membeliak kemudian terpejam rapat disertai rintihan-rintihan kecil ketika merasakan batang kemaluan Pak Djono memasuki lubang anusnya lebih dalam dan lebih dalam lagi, sampai akhirnya pantat Anita bergesekan dengan perut Pak Djono.
“Ahhh Ahhh Ahhhh Ahhhh….” Terdengar suara-suara menggairahkan dari bibir Anita ketika dua batang kemaluan itu berlomba menyodok-nyodok lubang vagina dan lubang anusnya.
“Creppp Creppp Crepppp….”
“Plokkk… plokkkk… Plokkkk” Suara lubang vagina dan lubang anus Anita yang sedang dikocok habis-habisan oleh batang kemaluan Pak Dion dan Pak Djono.
Pak Agung mencekal pergelangan tangan Veily dan menarik gadis itu untuk berdiri, kedua tangan Pak Agung membelit pinggangnya kemudian dengan nafsu yang menggelegak bibir Pak Agung mencaplok bibir gadis itu, tubuh Veily melenting-lenting ke belakang ketika Pak Agung melumat dan mengulum-ngulum bibirnya, Veily mendorongkan kedua tangannya pada bahu Pak Agung, murid cantik itu berusaha melepaskan lumatan Pak Agung dari bibirnya, setelah berusaha beberapa saat…..

“Auhhhh… Ohhhh… Hmmmm Hmmmmm” bibir Veily akhirnya terlepas dari lumatan Pak Agung yang ganas dan liar, namun hanya sesaat sebelum akhirnya bibir Veily kembali menjadi bulan-bulanan Pak Agung.
“Hemmm… Mhhh… Mmmmmhhhhh” kali ini Veily lebih sulit untuk melepaskan bibirnya karena tangan kiri Pak Agung menekan belakang kepala gadis itu kuat-kuat, Pak Agung  yang atletis, berotot, dengan kulitnya yang kecoklatan mendekap erat-erat tubuh Veily, sambil terus melakukan lumatan-lumatan dan kuluman kuluman mautnya, sampai hati Pak Agung puas.
“Uhhhh….” Veily pasrah ketika tangan Pak Agung yang kekar mendekap pinggulnya kemudian mengangkatnya keatas, Pak Agung yang berotot mirip Ade Rai mendesakkan tubuh Veily kesudut ruangan. Tubuh Veily tergantung di udara, posisi buah dada Veily pas banget di hadapan wajahnya.
Perlahan-lahan Pak Agung menjulurkan lidahnya dan menjilat lembut putting susu Veily yang berwarna pink kecoklatan. Nafas Veily semakin tidak beraturan ketika merasakan jilatan-jilatan Pak Agung yang lembut bergantian di kedua puncak payudaranya, mengulas-ngulas putting susunya dan sesekali memutarinya
“Ohhh, Pakkk… Ahhhh!!” Veily mendesah ketika merasakan mulut Pak Agung mencaplok kemudian menghisap lembut puncak payudaranya sebelah kanan mulut, gerakan mulut Pak Agung tampak seperti sedang mengunyah payudara Veily bergantian dari yang kanan ke yang kiri.
Sambil tersenyum pak Agung merebahkan tubuh Veily di meja, disibakkannya kedua kaki gadis itu agar mengangkang.

“OHHHHH…!!!….” Veily bergidik ngeri menatap kemaluan Pak Agung, kalau soal panjang sih kurang lebih sama dengan panjang kemaluan Pak Dion namun yang mebuat Veily bergidik ngeri adalah bulatan batang kemaluan Pak Agung yang hampir dua kali lipat bulatan kemaluan Pak Dion,
“Ahhhh….” punggung Veily sampai terangkat kemudian terhempas kembali ketika merasakan kepala penis Pak Agung mulai menekan berusaha membongkar jepitan vaginanya, agak lama juga Pak Agung berusaha
“EENNNNHHHHH… AWWWWW….!! ” nafas Veily tertahan-tahan ketika kepala kemaluan Pak Agung tiba-tiba mencelat masuk.
“Ha HA Ha, Akhirnya masuk juga, hajar langsung..!! “
“Ayo Pak Agung sodok yang kuat…!!”
Pak Dede dan Pak Ahmad menyemangati Pak Agung. Pak Agung menatap Veily yang tergolek tanpa daya sambil menatap padanya dengan pandangan mata yang memelas.
“Aduhh….Awwwww, Essshhhhhhhh, Owwwww.” Veily mengaduh ketika Pak Dede dan Pak Ahmad meremas-remas buah dadanya dengan kasar, kemudian mencubit kuat-kuat putting Veily sampai ia merintih-rintih kesakitan.
“Hmmmmm… ” kening pak Agung berkerut setelah mencabut batang kemaluannya, Pak Agung meraih tubuh gadis itu kemudian diangkatnya tubuh Veily dengan hati-hati sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
“Yahhh, koq dibawa sihh…!!”
“Lohhh mau ke mana Pak Agung…!!”

“Mau keluar” Pak Agung menjawab singkat kemudian melangkahkan kakinya menjauhi ruangan kantor Pak Dion,
“Nahhh…” Pak Agung mendudukkan Veily disalah satu bangku panjang yang terbuat dari kayu, gadis itu menundukkan kepalanya ketika Pak Agung duduk di sebelahnya.
“Cuphhhh….” dengan lembut Pak Agung mengecup pipi Veily, tangannya merayap ke arah selangkangan Veily kemudian berbisik di telinga gadis itu “Masih sakit ya ??”
“Atau kamu cape?? ” dengan mesra Pak Agung memeluk tubuh Veily, entah kenapa Veily merasa mendapat perlindungan dari Pak Agung, kalau tidak dirinya pasti sudah dikerjai habis-habisan oleh Pak Dede dan Pak Ahmad, Veily terisak menangis dalam pelukan Pak Agung.
“Sudah.. , sudahh, cupphh, cuphhh…” Pak Agung menciumi kening Veily sambil membelai-belai punggung gadis itu dengan penuh perasaan, Veily memasrahkan dirinya dalam pelukan Pak Agung, ada rasa aman ketika Pak Agung yang tinggi dan berotot seperti Ade Rai itu memeluk mesra dirinya, tanpa terasa Veily tertidur dalam pelukan mesra Pak Agung, dengan lembut Pak Agung mengusap-ngusap rambut gadis itu.

Berbeda dengan Veily nasib Anita lebih mengenaskan, dua batang penis berkali-kali ditancapkan dengan kasar oleh pemiliknya ke dalam lubang vagina dan lubang anus gadis itu, sementara buah dadanya menjadi mainan Pak Dede dan Pak Ahmad.
“Ahhhh…, Ohhhhh, ampun Pak Aduhh Awwww…., jangan…!!” Anita meringis-ringis sambil berusaha menepiskan tangan Pak Dede dan Pak Ahmad yang menggerayangi payudaranya.
“Ennnngghhh… Aduhhh…!! Crrrtt.. Crrrttttt….!! ” Anita merintih lirih.
Tubuh gadis itu berkelojotan beberapa saat.
“HA HA HA, Aduh !!! enak katanya …..” Pak Dede mengolok-olok Anita.
“Iya…, pengen terus dirojok…!! “Pak Ahmad ikut meledek sambil meremas induk payudara Anita kuat-kuat.
“Ooo, begitu ya…, kayak gini? Hihhh….!! ” Pak Dion berkali-kali menyodokkan batang kemaluannya ke atas.
“Bukan seperti itu Pak Dion, kayak gini baru benar…!! ” Pak Djono tidak mau kalah menggenjot kuat-kuat lubang anus Anita.
Dua batang kemaluan milik Pak Dion dan Pak Djono berlomba-lomba menusuk, menyodok dan menghajar lubang anus dan vagina gadis itu tanpa mempedulikan Anita yang mengerang-ngerang kesakitan, kedua lubangnya terasa panas akibat dikocok-kocok dengan kasar.
“Aowwwhhhh… Hekkkk….!!” kepala Anita terangkat ke atas ketika Pak Dion dan Pak Dede bersama-sama membenamkan batang kemaluannya,
“Croooorrrrrttt….!! “
“Kecroooottttt……”
Gerakan-gerakan brutal itu mendadak berhenti,

“Wahhh, sepertinya giliran kita nih…! ” Pak Dede menarik Anita, Pak Ahmad cuma tersenyum kemudian langsung bergabung dengan Pak Dede.
Anita dipaksa menungging di atas lantai,
“Emmmmm, Hemmmmhhh….” mulut Anita terisi penuh oleh batang kemaluan Pak Ahmad sementara Pak Dede tersenyum sambil menimbang-nimbang, lubang manakah yang sebaiknya disodok, anus atau vagina.
“Lohhh, Pak Dede koq malah diam?? hemmp, Ahhhh, sedappnya…!!” tangan Pak Ahmad mendekap kepala Anita sambil memaju mundurkan batang penisnya keluar masuk kedalam mulut gadis itu.
“Ha Ha Ha, habis saya bingung mau yang mana?? soalnya dua-duanya tampak menggiurkan….tapi ya sudah saya pilih yang ini aja dechhh buat pemanasan” Pak Dede menggesekkan kepala kemaluannya pada belahan lubang vagina Anita kemudian dengan gerakan-gerakan menyentak ia membenamkan batang kemaluannya, kedua tangannya mencekal kedua pergelangan tangan Anita kemudian menarik tangan Anita kebelakang “Ayo, Pak Ahmad, biar saya bantu… biar Pak Ahmad lebih enak…”
“Hemmmppphh Hemmmmhhh, Emmmmmm” Anita mendelikkan matanya ketika lubang vaginanya disodok kuat-kuat oleh batang kemaluan Pak Dede, sedangkan kerongkongannya dirojok oleh batang kemaluan Pak Ahmad.
Wajah Anita mengernyit-ngernyit, tampaknya ia sangat menderita, sementara kedua guru bejat itu malah terkekeh-kekeh keenakan.

“Anjinggg…!! Whuaduhhhhh….!! ” Pak Ahmad memaki sambil menarik batang kemaluannya darid alam mulut Anita, kemudian
“Plakkkkkk…..” Pak Ahmad menampar wajah Anita kemudian menjambak rambutnya, Anita hanya mengerang tak berdaya,
“Lohhh ?? ada Apa Pak Ahmad ?? ” Pak Dede bertanya keheranan.
“Dia ngigit kontol saya…!! Sialan.. Plakkkk…!!!” Pak Ahmad kembali menampar wajah gadis itu kemudian menjambak-jambak rambut Anita.
“Kurang ajar..!! Berdiri..!! ” Pak Dede mencabut batang kemaluannya kemudian memaksa Anita untuk berdiri.
Pak Ahmad mencekal dan mengangkat tungkai lutut kanan Anita sebelah bawah, kemudian “Jrebbbb Jrebbbb.. Jrebbbbbb…, berani kamu ya, Hihhh!! “
Disodok-sodoknya lubang vagina Anita sekuat tenaga..
“AWWWW….. AWWWWW…..” Anita menjerit panjang ketika merasakan lubang anusnya dipaksa menerima kehadiran batang kemaluan Pak Dede. Setelah membantu menopang tungkai lutut kanan Anita, pak Dede dan Pak Ahmad berlomba marathon merojok-rojokkan batang kemaluan mereka dengan kasar.
“Murid seperti ini yang harus diajar adat, tidak menuruti nasehat gurunya !!”
Sesekali Pak Dede menjambak rambut Anita sambil menggecakkan batang kemaluannya kuat-kuat.
“Betul Pak Dede.., Ayo kita kasih pelajaran murid sialan ini !! “Pak Ahmad menghantamkan batang kemaluannya kuat-kuat.
“Ayo Pak Ahmad kita kocok yang kuat…” Pak Dede tambah liar.
“Aduhhh… Ahhhhh… Awwwww, ampun Pakkk ampunnnnn….” Anita mejerit-jerit kewalahan, tubuhnya terjepit tanpa daya di antara tubuh Pak Dede dan Pak Ahmad, Anita mengerang panjang kemudian terkulai jatuh tidak sadarkan diri.

Sementara di sebuah bangku kayu panjang, Veily membuka matanya ketika merasakan rasa geli di bibir vaginanya,
“Emmmm…….” Tubuh gadis itu menggeliat lemah, setelah terbangun dari tidurnya tubuhnya terasa segar. Tangan Veily terjulur membelai lembut kepala Pak Agung yang sedang menjilati bibir vaginanya
“Ehhh…, Maaf .., tidur kamu jadi terganggu ya ?? ” Pak Agung menengadahkan kepalanya ketika merasakan belaian Veily.
Veily menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum sambil membuka kedua kakinya lebar-lebar
“Ceglukk..! “Pak Agung menelan ludah, matanya menatap tajam pada belahan vagina Veily yang sedikit merekah, perlahan-lahan Pak Agung kembali menundukkan kepalanya dan mengencup belahan vagina Veily yang merekah.
“Ahhhhhh……… Pakkk, “Veily mendesah panjang ketika merasakan bibir vaginanya diemut oleh Pak Agung, berkali-kali tubuhnya menggelepar ketika mulut Pak Agung mencaploki vaginanya dengan lembut.
Tangan Pak Agung menarik bibir vagina Veily kemudian melumat isinya. Cairan kewanitaan Veily semakin banyak meleleh membasahi lubang vaginanya, pak Agung mulai mengambil posisi sambil mengarahkan batang kemaluannya dan menggesek – gesek lubang vagina Veily yang sudah basah. Veily menahan nafas ketika merasakan kepala kemaluan Pak Agung mulai menekan dan berusaha membelah jepitan lubang vaginanya. Kepala Veily terangkat keatas, matanya mengerjap-ngerjap, bibir gadis itu sedikit terbuka merekah ketika perlahan-lahan kepala kemaluan Pak Agung mulai membelah dan menancap di vaginanya. “Haa, Emmmfffhhhh….” Tiba-tiba tubuh Veily mengejang dan terkulai dengan nafasnya yang tersendat-sendat.

“Sakit ?? ” Pak Agung bertanya, ia membelai rambut Veily
Sambil tersenyum Veily menggelengkan kepalanya, walaupun vaginanya terasa seperti kram dan ngilu menerima kehadiran batang kemaluan Pak Agung, Veily ingin memberikan yang terbaik untuk Pak Agung. Tubuhnya menggeliat-geliat ketika Pak Agung membenamkan batang kemaluannya, sesekali Pak Agung menahan batang kemaluannya ketika Veily meringis, kemudian pelan-pelan ia kembali melanjutkan membenamkan batang kemaluannya sampai mentok, perlahan-lahan Pak Agung mengaduk-ngaduk vagina Veily dan menggecakkan batang kemaluannya mendesak-desak lubang vagina Veily yang sempit. Perlahan-lahan Pak Agung mulai menarik dan membenamkan batang kemaluannya, berkali-kali Veily terperangah dan terperanjat keenakan ketika Pak Agung mulai menaikkan tempo genjotannya.
“Aaaahhhh….!! ” Veily menjerit keras kemudian
“Crrr.. Crrrrrr.. Crrrrrr, Ennhhh Pakkk…!!”
Pak Agung menghentikan gerakannya membiarkan Veily meresapi kenikmatan puncak klimaks yang baru saja diraihnya, setelah itu barulah Pak Agung kembali menarik dan membenamkan penisnya berulang kali.
“Cleppp.., Clepppp, Clepppp, Clepppp ” suara vagina Veily berdecakan menikmati sodokan-sodokan batang kemaluan Pak Agung yang semakin kuat menggenjot-genjot vaginanya.
“Auhhhhh….!! Aaaaa…..Ennnakkkkk, Ahhhhhhhh, terus Pakkk” Veily kehilangan kendali dibawah genjotan-genjotan batang kemaluan Pak Agung.
“AHHHH, AHHHHHHHHHHH…!! Pak Agunggggg….. Ohhhhhh” Veily menggoyangkan pinggulnya menyambut datangnya klimaks.

“Wahh…!? Veilyyyyyy, Ya Ampunnnn,!! enak banget….!! Aohhhhh!!” Pak Agung memanas-manasi Veily agar gadis itu lebih rajin menggoyangkan pinggulnya.
Pak Agung mendekap pinggul Veily sambil menjatuhkan tubuhnya ke belakang, kini Veilylah yang memegang peranan penting dalam persetubuhan itu. Nafas Pak Agung terasa sesak ketika Veily mengibaskan rambutnya ke belakang, cantik sekali ketika gadis itu menatapnya sambil tersenyum malu. Pak Agung tambah sesak nafas ketika Veily menundukkan wajahnya, tangan Pak Agung mengelus-ngelus pinggang dan pinggul Veily sambil membalas lumatan Veily dengan lembut. Veily menumpukan tangannya pada dada Pak Agung yang berotot kemudian sambil tersenyum ia menghempas-hempaskan vaginanya.
“Ahhhh.. Ahhhhh…. AHHHHH” desahan-desahan Veily terkadang terdengar keras ketika Pak Agung sesekali menghentakkan batang penisnya ke atas kuat-kuat menyambut hempasan vaginanya.
Mata Pak Agung menatap payudara Veily yang melompat-lompat dengan indah, kedua tangannya meremas payudara itu, kemudian mengelusi putingnya.
“Hssshhh Hsssssshhh Ahhhh Pakkk, Ohhhh enak sekali!! pakkk…Awwww… Awwwwwkkkssshh.” tangan Veily kini berpegangan pada tangan Pak Agung yang sedang meremasi induk payudaranya, hempasan vaginanya semakin lama semakin kuat dan cepat, berkali-kali Veily menjerit liar melampiaskan nafsu birahi yang meledak-ledak dengan hebat.

“Unnnnhhhh….!! Blukkkkkk…..” tubuh Veily tiba-tiba roboh sambil menggeliat-geliat “Crrrr Crrr….” Veily tersenyum puas, kedua matanya terpejam-pejam, vaginanya terasa berkedut-kedut memuntahkan cairan klimaksnya.
Pak Agung berbisik lembut “Kita coba sambil berdiri ya….”
Veily mengangguk, gadis itu bangkit dari atas tubuh Pak Agung. Pak Agung memeluknya dari belakang, gadis itu kegelian ketika Pak Agung mencumbui tengkuknya, kemudian melakukan hisapan-hisapan lembut di lehernya. Veily membusungkan susunya ke depan sambil mengalungkan kedua tangannya ke belakang leher Pak Agung ketika merasakan telapak tangan pria itu mengusapi bulatan susunya sebelah bawah.
“Lembut sekali…indah, Hemmmmm…” Pak Agung menggerayangi buah dada Veily sambil berkali-kali memuji keindahan dan kemulusan payudaranya yang sedang kenyal-kenyalnya akibat dirangsang oleh Pak Agung. Dijepitnya putting Veily kemudian dipilin-pilinnya dengan lembut, terkadang tangannya menggoyang-goyangkan bongkahan dada Veily.
“Veily, Bapak pengen nyodomi kamu ya..” Pak Agung meminta dengan sopan
Veily terdiam agaknya ia ragu-ragu, namun kemudian mengangguk pasrah.
“Nungging sayang, nahhhh….” Pak Agung meminta agar Veily bersedia menunggingkan bokongnya, tangan Pak Agung menekan buah pantat Veily sampai anus gadis itu terekspose dengan jelas.
“Haaaaaaaa…..” Veily menarik nafas panjang merasakan desakan kuat di lubang anusnya, kening gadis itu berkerut sedangkan mulutnya membentuk huruf “O”, tubuhnya berkali-kali terdorong ketika Pak Agung menghentakkan kepala kemaluannya berusaha melakukan penetrasi.

“ARRRRRWWWHHHHH……!! “gadis itu menjerit keras ketika satu tusukan yang kuat tiba-tiba memaksa lubang anusnya untuk merekah, kemudian kemaluan Pak Agung menyodok pintu duburnya dengan sentakan-sentakan yang kuat.
Pak Agung menahan pinggul Veily yang hendak melarikan diri, leher penisnya tertancap mengait lubang anus Veily yang merekah dan berkedut-kedut kuat mencengkram leher kemaluan Pak Agung. Lutut Veily goyah, perlahan-lahan, tubuh gadis itu melorot turun dan bersujud dengan posisi kedua lututnya yang sedikit mengangkang, Pak Agung ikut turun bersujud di belakang tubuhnya. Tangan Pak Agung yang kekar dan berotot membelit tubuh Veily dan memeluk erat-erat tubuh gadis itu, Pak Agung mendesakkan batang kemaluannya, sampai selangkangannya menyatu erat dengan buah pantat Veily yang bulat padat dan terasa halus ketika bergesekan dengan selangkangan dan perut Pak Agung yang berotot. Veily menolehkan kepalanya menyambut datangnya bibir Pak Agung yang melumat bibirnya. “Hmmmfffhhhh… Mmmmmmhhhh…., Mmmm” bibir Pak Agung melumat-lumat bibirnya sementara kedua tangan Pak Agung merayap ke depan mengelus lembut puncak payudaranya kemudian meremas-remas gundukan buah dadanya. Pada saat yang bersamaan Pak Agung memompakan batang kemaluannya keluar masuk menyodok-nyodok lubang anusnya.

“Unngghh, Unnnggghhh, Unnnnnnnhhhh….!! ” berulang kali Veily mengeluh ketika merasakan sodokan-sodokan Pak Agung yang semakin lama semakin keras dan kencang merojok-rojok lubang anusnya.
“Plokkk.. Plokkkk… Plokkkkk.. Plokkkk……”
Suara hantaman selangkangan Pak Agung ketika membentur pantat gadis itu, Entah kenapa Veily malah rela biarpun lubang anusnya terasa sakit ketika disodok-sodok kuat oleh Pak Agung, sambil menggeliat-geliat perlahan-lahan Veily mengalungkan kedua tangannya ke belakang.
“Hemmmm, He he he he….” Pak Agung semakin betah meremas-remas buah dada yang sengaja dibusungkan oleh pemiliknya, begitu kenyal, halus, putih dan lembut. Sesekali Pak Agung mencium gemas pipi Veily kemudian mengecupi dan mencumbui lehernya.
“Enn Ngaaahhhhhhhhhhh…..!! Crrr Crrrr Crrrrr”
“WHOWWW… Kecroootttt… Crooootttttt…..”
Gadis itu menyandarkan kepalanya ke belakang, entah kenapa Veily tidak merasa seperti sedang diperkosa oleh Pak Agung. Mungkin karena Pak Agung begitu baik dan perhatian??? Tubuh Pak Agung yang tinggi besar dan berotot seperti Ade Rai tidak dapat menyembunyikan hati Pak Agung yang lembut.
Pak Dion mengangkat Hpnya
“Haloo, Oohhh kamu ?? gimana ??”
“Ha Ha Ha…bagus-bagus…., rencana yang bagus ” Pak Dion terkekeh sambil membayangkan santapan lezat selanjutnya.

******************************
Setelah selesai merangkaikan kata-kata di dalam buku harianku
Aku termenung,
aku tidak sabar menanti datangnya hari esok.
Empat orang gadis cantik
akan mengadakan rapat penting,
di markas besar mereka.

Nadia, si anak majikan cantik


Dodi, seorang pribumi bertubuh kekar dengan wajah ramahnya menyambut seorang gadis cantik bermata sipit yang keluar dari pintu gerbang sekolah. dengan ramah Mang Dodi membukakan pintu mobil mempersilahkan gadis cantik itu duduk di dalam. Dengan hati-hati ia menutup pintu kembali, setelah itu ia duduk di belakang kemudi.



“bagaimana sekolahnya non ??” Mang Dodi bertanya sambil menyalakan mobil.



“uhh sebel deh mang Dod, cape, tadi aku..dll dstt dsttt”



Nidya curhat kepada sopir kepercayaannya yang menengok kebelakang.mendengarkan curhat dari Nidya. Memang sudah lama mang Dodi bekerja di keluarga Nidya, semenjak Nidya masih duduk di kelas TK kecil, mang Dodi sudah mengantar jemputnya dari rumah ke sekolah dan dari sekolah ke rumah. Mata Mang Dodi melirik melihat paha mulus yang tersembul, mau tak mau sebagai laki-laki normal mang Dodi menelan ludah yang membanjir melihat kemulusan paha putih yang mengkilap.



“pokoknya hari ini aku sebeeeeelll banget mang Dod , bete deh..” Nidya mengakhiri keluhannya.



“ya sudah.. betenya jangan lama-lama non, nggak baik…”



Mang Dodi menghadap ke depan dan mulai menginjak gas. Dengan mobil pajero sport mang Dodi mengantar Nidya pulang ke rumah dengan selamat. Seorang jongos yang berjaga membukakan pintu besi yang berdiri dengan kokoh dan yang seorang lagi sibuk berkiri kiri dan berkanan-kanan memandu mobil mewah itu. Nidya turun dari mobil kemudian mengangguk ramah kepada dua orang jongos yang menyapa, Mang Dodi mengekori dari belakang mengikuti Nidya masuk ke dalam rumah mewah yang sepi dari yang namanya “keluarga” . Mata Mang Dodi menikmati goyangan pinggul Nidya. Masih terbayang saat Nidya masih TK dulu, ia sering duduk di pangkuannya dan Nidya tertawa saat mang Dodi menggelitiki dan mencubit hidungnya yang mancung. Masih teringat dengan jelas saat Nidya keluar telanjang buat dari dalam kamar mandi, Nidya kecil berlari kepangkuannya dan menangis sambil berkali-kali menunjukkan bebek karetnya



“mang Dod , bek mati.. hu hu hu” , mata mang Dodi melotot bukan ke arah bebek karet yang menciut namun melotot ke arah selangkangan Nidya kecil. jarinya hendak menyentuh bibir vagina Nidya yang masih sangat suci. Tiba-tiba seorang perempuan tua menerobos masuk membawa belanjaan.



“Ehh-um Ehemmmmmm” Mang Dodi salah tingkah karena Mbak Ijah muncul tiba-tiba.



“Dodi mengapa non Nidya menangis ?? kamu apakan hah !!” Mbok Ijah menegur Dodi , matanya menatap curiga.



“MBOKKKKKK… Bek matiiiiii…..” Nidya berlari kearah Mbok Ijah.



“Ohhhh, bebek.. mana sini , biar simbok liat…” Mbok Ijah meniup bebek karet yang menciut, Nidya tersenyum senang.



“Mang.. Mang Dod, mang Dod !! MANGGG !!!” Nidya berteriak keras.



“Uhhh.. e- ehh iya non kenapa ?? ada apa”



Kenangan masa lalu Mang Dodi buyar seketika, ia mengejar ke arah kolam renang, agak keheranan mang Dodi melihat Nidya mematung berdiri pucat pasi, mang Dodi berlari menghampiri.





Mang Dodi “kenapa non ?? kenapa…”



“i-i-itu mang .. itu…”



“yiahh si non, cuma beginian, mang Dod kira ada apaan…” Mang Dodi mencomot ulat bulu di bahu Nidya.



“Uhhh…. “ Nidya bernafas lega.



“Nihh uletnya !!” Mang Dodi pura-pura melempar ulat bulu ke arah Nidya



“Awwww… e-ehh mang bawa kesana ah!! Yee mang Dod !! awas ya!!” Nidya merengut, mang Dodi tertawa.



“mang beliin air kelapa dong…” Nidya mengeluarkan uang dari dompetnya.



“iya…, tapi traktir ya…” goda Mang Dodi cengengesan.



“Iya.. pokoknya beres…” Nidya tersenyum.



“Asikkkkkk….. makasih non…, Non Nidya emang paling baek dah” Mang Dodi memuji.



“udah , nggak usah nge-gombal, sebel…GPL ya” Nidya tersenyum manis.



“beres Nonnnn…” Mang Dodi menjawab dan segera berlari.



Di pinggir kolam renang, dua kursi mengapit sebuah meja bunda dengan sebuah payung yang menaungi. Sementara di tempat yang teduh berjajar kursi santai panjang. Di situlah Nidya duduk bersantai melepas kepenatan di atas kursi santai panjang. Matanya yang sipit terpejam, tangan kirinya menarik rok seragam abu-abunya ke atas, tangan kanan menyusul masuk ke dalam kain segitiga kecil berwarna putih bersih.



“ohhh mang Dodddd….”



Bibirnya mendesis saat angan membawa Nidya menuju sebuah tempat membayangkan nikmatnya kecupan mang Dodi. Dalam khayalnya, Mang Dodi sangat lugu sedangkan Nidya sendiri sangatlah liar hingga mang Dodi mengerang meminta ampun menghadapi keliaran Nidya. Darah muda Nidya mendidih seliar angannya.



“Emmm…..” tubuh Nidya mengerjat menahan nikmat.



“Ahh !!”



Rasa Nikmat disusul dengan terkejut. Mata sipitnya bertatapan dengan mata mang Dodi yang berdiri tercenggang, Nidya menunduk dengan wajah merah padam, malu bukan main, untuk yang pertama kali mang Dodi memergokinya sedang bermasturbasi. Wajah mang Dodi juga sama, merah padam karena nafsu yang memuncak. Angannya kembali ke masa lalu saat ia melihat Nidya kecil telanjang bulat dan berlari ke pangkuannya. Mang Dodi tidak tuli, jelas-jelas ia mendengar Nidya mendesis memanggil namanya, tidak perlu diragukan lagi, laki-laki dalam khayal Nidya adalah dirinya. Setelah menaruh air kelapa di atas meja mang Dodi berlutut di samping kursi malas.



“Non Nidya….” dengan memberanikan diri mang Dodi mengelus betis gadis itu



Karena tidak mendapat penolakan dari Nidya , mang Dodi semakin berani, tangannya mengelus ke atas mengusap paha putih mulus. Reflek Nidya mengapitkan kedua pahanya saat tangan mang Dodi mengusap paha bagian dalam.



“mang Dod…” Nidya merintih dalam gejolak darah mudanya.



Matanya menatap sayu pada mang Dodi yang merenggangkan paha mulusnya, nafasnya tak beraturan dan berat. Tubuhnya yang masih awam menggelinjang dan menghangat. Tubuh Nidya rebah di atas kursi malas dengan dua kaki yang mulus mengangkang lebar.



“ohhhhhh.. mang Dod…hhsssshh” sekali lagi Nidya merintih saat mang Dodi menjatuhkan wajah pada kain segi tiga putih di selangkangannya.



Tubuh Nidya gemetaran seperti sedang meenjalani terapi listrik. Detak jantungnya berdegupan keras memompa darah untuk mengalir lebih kencang melepaskan nikmat dan nafsu yang sempat tertahan. Tangan Nidya membelai kepala mang Dodi. Ia menggigit bibir menahan desah yang hampir keluar saat lidah mang Dodi menyelinap melalui pinggiran celana dalamnya. Aktif, lidah mang Dodi menggeliat-geliat.



“Achhh…!” Nidya mendorong kepala mang Dodi yang lidahnya menoel bibir vaginanya.



“E-Ehhh mang Awww…” Nidya memekik kaget saat mang Dodi menjabret celana dalamnya.



“Hussshhh jangan keras-keras non…, nanti kedengeran loh…” Mang Dodi tersenyum mesum.



“ih Mang Dodi, maen buka aja…seenaknya” Nidya cemberut, ia bangkit sambil menarik rok seragamnya ke bawah.



“supaya lebih asik non.., percaya deh sama mang Dodi..”



Mang Dodi menjatuhkan Nidya kembali ke atas kursi, tangannya menarik rok seragam Nidya dengan paksa ke atas. Mulutnya mengejar belahan bibir vagina Nidya , gadis itu panik menggeser-geserkan pinggulnya menghindari mulut mang Dodi.



“ahhhhhhhh……m-mang Doddd…. Dhiiiii…ihhhh”



Tubuh Nidya lemas di atas kursi. Kecupan dan hisapan rakus mang Dodi membuat gairah darah muda Nidya kembali bergejolak, tubuh Nidya menggelepar dan melenting menikmati keagresifan mulut mang Dodi yang mencecar vaginanya.



“Aaaaa.. ahhhhhh…..” Nidya mendesah



Cairan orgasmenya tumpah kedalam mulut mang Dodi yang rakus menghisap-hisap vaginanya. Nidya merintih tak berdaya, selama ini dalam khayal memang dirinyalah yang liar dan mang Dodi yang lugu dan lemah namun pada kenyataanya justru sebaliknya. Dengan Mudah mang Dodi memeras cairan vagina Nidya bersama dengan luapan kenikmatan. Nidya tak melawan saat mang Dodi meloloskan seragam abu-abu dari pinggangnya. Hanya bra dan pakaian seragam yang melindungi kemulusan tubuh Nidya dari mata mang Dodi.



“Non Nidya cantik sekali..”



Mang Dodi membopong tubuh Nidya, dengan santai ia membawa Nidya masuk ke dalam rumah, lalu menaiki anak tangga dan membawa nona majikannya masuk ke dalam kamar. Semenjak kematian Mbok Ijah setahun yang lalu, suasana rumah menjadi sepi. Nidya salah tingkah saat mang Dodi mendudukkannya di pinggiran ranjang sedangkan mang Dodi duduk di sampingnya. Bibir tebal mang Dodi mengejar Bibir Nidya, dengan mudah mang Dodi merampas Ciuman pertama Nidya.



“Emhh…” Nidya menarik bibirnya, ia menatap sopirnya itu dengan mata sayunya saat tangan kekar mang Dodi melucuti kancing baju seragamnya setelah itu menarik kedua cup branya ke bawah



Sepasang buah dada indah tertopang oleh cup bra berwarna krem. Mata mang Dodi berbinar menatap nanar keindahan sepasang payudara Nidya, ia telah menjadi saksi tumbuhnya sepasang payudara indah di dada Nidya. Dada yang semula rata kemudian mulai berkembang dan terus berkembang dengan indahnya dihiasi sepasang puting merah muda yang runcing. Setelah melepaskan baju dan celana panjang dan celana dalamnya yang dekil, Mang Dodi berlutut di hadapan Nidya, ia mengusap-ngusap paha mulus Nidya yang mengangkang pasrah. Bibir mang Dodi melumat dan mengulum bibir Nidya, tangan kekarnya mengerayang menjelajahi lekuk liku tubuh Nidya yang menggeliut-geliut tak bisa diam geli oleh rasa nikmat. Cumbuan mang Dodi merambat ke leher, pundak bahu dan mengecup ke arah buntalan buah dada sebelah kiri.



“mang….ennnnnnnnhhh…mang Doddddddd” Nidya merengek manja.



Mulut mang Dodi mengunyah puncak dada. Ke mana Nidya berusaha menarik dadanya ke situ pula mulut mang Dodi mengejar. Tak ingin ia melepaskan puncak buah dada Nidya dalam mulut, bahkan saat punggung Nidya jatuh ke belakang, mulut mang Dodi segera mengejar buah dada yang hendak melarikan diri dari mulutnya. Sambil terus menggeluti buah dada Nidya mang Dodi menggusur tubuh mulus Nidya yang menggeliat-geliat kegelian ke tengah ranjang.



“Aaaa. Aah !! hsssh nnnnnhhh” Suara desah tertahan dan rintih kecil mewarnai cumbuan-cumbuan mang Dodi yang semakin panas



Butir-butir keringat meleleh memandikan dua insan berbeda ras yang tengah asik menjalin hubungan terlarang. Menggelinjang tubuh Nidya dibawah tindihan tubuh kekar mang Dodi. Nidya yang berkulit putih mulus menggeliat resah merintih dan mendesah dibawah tindihan tubuh kekar mang Dodi yang meneduhinya.



“mmmm, hssh mang Dod.. ahhh…”



Nidya gelisah saat merasakan tekanan kepala kemaluan mang Dodi pada belahan vaginanya. Mang Dodi menepiskan tangan Nidya yang berusaha mendorong dirinya, entah kenapa ada rasa takut yang mencekam saat Nidya melihat mata mang Dodi yang liar.



“Ahhh..!!” desah kecil Nidya mengiringi tenggelamnya kepala penis mang Dodi.



Bibir vagina Nidya yang mungil melingkari leher penis mang Dodi. Dari usia tentu saja usia Nidya jauh lebih muda, dari warna kulit tentu saja kulit mang Dodi lebih gelap dari kulit Nidya yang putih mulus, dari wajah sudah tentu wajah beringas mang Dodi menang atas cantiknya wajah Nidya. Sekali lagi mang Dodi menekankan penisnya dengan kuat dan Nidya mengerang. Entah sanggup atau tidak vagina Nidya menampung batang di selangkangan Mang Dodi. Satu tusukan kuat menyusul dan Nidya mengaduh kesakitan, bibir vaginanya yang mungil sobek dan selaput daranya robek ditembus batang penis mang Dodi.



“Aduh mang Dod !! Aduh!!sakit ! sakit mang Dod !! sakit !!” tangan Nidya menggapai-gapai menahan pinggul dan dada mang Dodi.



“ENNNNNNNNNGGGHHHHHH..!!!!” suara erangan Nidya terdengar keras saat mang Dodi memaksakan seluruh batangnya masuk ke dalam vaginanya



Selangkangan mang Dodi dan Nidya bersatu, bulu jembut mang Dodi bergesekan dengan bulu jembut Nidya. Nafas Nidya terdengar keras, matanya terpejam menahan sakit yang menyengat. Batang mang Dodi menyesaki liang vaginanya yang sempit peret karena baru kehilangan keperawanannya. Selama ini belum pernah ada benda apapun yang melewati liang senggamanya.



“ Non Nidya, memeknya enak amat, sebenarnya sudah lama mang Dodi pengen nyolok memek Non Nidya, siapa sangka hari ini Mang Dodi bisa melakukannya, percayalah sama mang Dodi Non, sebentar lagi tubuh Non bakal tersentak sentak keenakan he he he he” Mang Dodi menceracau menumpahkan isi hatinya.



“Hsssshhh ahh !! aduh mang.. hsssshhhh!!” Nidya mendesis kesakitan, batang mang Dodi mulai menggenjot.



“Auw-hhh..!!”



Berkali-kali mata sipit Nidya membeliak saat mang Dodi membenamkan batangnya dalam-dalam. Nidya merinding mendengarkan geraman mang Dodi, otot perutnya serasa kram saat batang penis Mang Dodi menusuk dalam. Kecupan dan lumatan gemas mang Dodi pada bibir Nidya yang merekah membuatnya semakin kewalahan.



“Ahhhhh…..”



Mata Nidya Nanar, ada rasa nikmat luar biasa menyela rasa sakit yang mengigit. Untuk yang pertama kali ia merasakan denyut-denyut orgasme akibat sebatang penis yang menumbuki vaginanya, rasanya seperti jiwa terlepas dari raga, melayang ke langit indah berhiaskan tangga pelangi.



“mang Dodddddd….ahhh enak mangggg” erangnya



Nidya mulai meladeni kecupan dan cumbuan mang Dodi. Bibirnya menyambut bibir mang Dodi, kedua tangannya memeluk tubuh kekar yang sedang giat bekerja menumbukkan batang penis ke dalam vaginanya. Mang Dodi mencabut batangnya hingga terlepas dari vagina kemudian kembali mencoblos liang vagina Nidya. Kemudian ditusuk-tusukannya penisnya dengan gencar pada liang yang becek itu dan dicabut lagi.



“ahhh, manggg.. jangan digituin… mang dod..” Nidya merengek manja.



“abis harus digimanain dong ?” Mang Dodi bertanya



Wajah Nidya merona karena terangsang berat sehingga menambah cantik wajahnya.



“Ayo , Nidya bilang sama mang Dod, harus digimanain.” Mang Dodi sengaja menggoda nona majikannya.



“emmm.. digituin mang…” Nidya tersenyum malu.



“digituin gimana yach ? mang Dodi nggak tau tuch “ Mang Dodi tersenyum lebar.



“Ahhnnhh mang Dod jahat !!” Nidya mencubit dada mang Dodi.



“ADOWHH…!!” Mang Dodi mengaduh kesakitan.



“Hiaaaahhh…!!” Nidya mengerahkan seluruh tenaga untuk mendorong mang Dodi.



“Eiiiiitttttt…”



Mang Dodi menangkap tubuh Nidya. Dua insan berbeda ras itu bergulingan dan kembali bercumbu mesra layaknya sepasang pengantin baru. Mang Dodi duduk di pinggiran ranjang, Nidya berdiri memperhatikan batang perkasa di selangkangan sopir setianya. Mang Dodi menarik Nidya untuk berlutut di hadapan batang penisnya.



“Nah sekarang Nidya jilat kontol mamang ya” Mang Dodi mengarahkan Nidya.



“jijik mang.. ihhh…” Nidya masih jijik dengan batang mang Dodi.



“Loh kenapa harus jijik, coba dulu.. ayo…” Mang Dodi membujui Nidya.



“iii – ihhh ngak mau ah , bau” Nidya menolak sambil menutup hidung dengan tangan.



“Ayo .. cobain… dulu…”



Tangan kiri mang Dodi menahan belakang kepala Nidya. Dengan rayu dan sedikit paksaan akhirnya mang Dodi berhasil menjejalkan kepala penisnya ke dalam mulut Nidya. Sang sopir merem melek keenakan.



“Ayo dihisap non.. “ perintah Mang Dodi sambil membelai rambut Nidya.



“Emmm. Mmmhh..” Nidya tak habis pikir, mendadak ia menyukai bau penis mang Dodi, senang menghisap dan juga senang menjilat-jilat batang penis yang besar panjang.



Ada sesuatu di dalam dirinya yang menuntut pelampiasan dari kesepian dan kejenuhannya selama ini. Dari seks pertama dengan sopirnya ini ia merasa mendapat pelampiaskan atas seluruh rasa yang menggebu dalam dada yang membuatnya ingin merasakan lebih dan lebih lagi. Sesekali Nidya mengangkat wajah cantiknya menatap mang Dodi yang tersenyum kemudian ia kembali menunduk untuk bekerja mengoral penis itu. Dengan lembut lidah Nidya mengulas-ngulas kepala penis mang Dodi sebelum akhirnya mang Dodi membimbingnya untuk menduduki batang penisnya dengan posisi tubuh Nidya memunggunginya.



“jangan takut Non.., dudukin aja.., ntar juga masuk…” Mang Dodi menarik pinggul Nidya untuk turun.



“sebentar mang, Nidya takut…”



Setengah mati Nidya mengumpulkan keberanian.



“rileks aja, anggap aja Non Nidya lagi duduk di pangkuan mang Dod, dulu kan waktu masih kecil non Nidya sering duduk di pangkuan mang Dodi”



Mang Dodi mengecup punggung Nidya perlahan. Dengan hati ragu Nidya menurunkan vaginanya. Mang Dodi membimbing Nidya untuk belajar memasukkan penis ke dalam liang vaginanya.



“ih..”



Nidya mengangkat pinggulnya kembali saat ujung penis mulai tenggelam ke dalam belahan vagina. Geli rasanya saat kepala penis menjilat belahan vagina yang berlendir. Sekali lagi tangan Nidya mengarahkan kepala penis mang Dodi pada belahan vaginanya, kali ini ia menahan rasa geli yang menggelitik saat kepala penis membelah belahan vaginanya. Gemetar seluruh tubuh Nidya menahan sensasi nikmat saat penis mang Dodi tenggelam semakin dalam.



“Ohh mang Dod…!! Mang Dod..”



Wajah Nidya terangkat ke atas menahan nikmat. Vaginanya berkedutan dan meremas batang penis mang Dodi, dengan gerakan indah luar biasa Nidya menggeliat, tubuhnya mulai bekerja mengikuti panduan dari mang Dodi yang terus mengajari sambil memainkan buah dada Nidya. Belum begitu lama Nidya menaik turunkan pinggul, ia merintih kecil, Vaginanya kembali berdenyut-denyut , rasa nikmat dimulai dari daerah panggul kemudian menyebar ke seluruh tubuh moleknya yang berpeluh. Mang Dodi memeluk erat-erat tubuh Nidya yang tengah orgasme. Sebuah gigitan gemas bersarang di pundak Nidya meninggalkan bekas gigitan merah. Tanpa melepaskan pelukan dari tubuh Nidya, mang Dodi beringsut ke tengah ranjang.



“Ohhh !! ennnnhh aaaa.. Ahhhhh…”



Tubuh Nidya melambung turun naik di atas tubuh mang Dodi, sungguh indah buah dadanya terpantul di dada mengikuti tubuhnya yang melambung-lambung. Suara derit ranjang mengiringi suara nafas berat, desah dan rintihan Nidya dalam kamar, suara geram gemas mang Dodi sesekali terdengar di sela-sela kesibukan meluncurkan batang penisnya ke atas pada sebuah lubang mungil yang menjadi target bulan-bulatan penis besarnya. Wajah Nidya seperti tengah menahan derita, namun sebenarnya bukan derita yang sedang dirasakan olehnya, ia tengah menahan rasa nikmat akibat sodokan-sodokan batang penis mang Dodi yang menghujam keras hingga terasa ke ulu hati. Bercak – bercak darah perawan menodai seprai putih. Berkali-kali Batang penis besar milik seorang sopir bernama Dodi menuai kemenangan atas vagina nona majikannya yang keturunan Chinese bernama Nidya. Sebelum akhirnya penis besar itu mengisi liang vagina Nidya dengan sperma. Hanya suara nafas Nidya dan Mang Dodi yang terdengar memburu di dalam kamar. Dengan sebuah handuk mang Dodi mengeringkan tubuh Nidya yang berpeluh. Hampir tiga jam lamanya mang Dodi menikmati sempitnya vagina dan kemulusan tubuh Nidya. Setengah jam kemudian mang Dodi keluar dari dalam kamar meninggalkan Nidya yang termenung kebingungan. Baju piyama berwarna pink menyembunyikan tubuhnya dari ketelanjangan. Papa dan Mama Nidya baru pulang jam 6 sore tanpa merasa curiga sedikitpun apa yang baru saja terjadi.
Beberapa hari kemudian, malam hari.




Pintu kamar Nidya dibuka oleh seseorang yang hanya mengenakan sarung dan kaos oblong, orang itu tidak lain adalah Mang Dodi yang mengendap-endap masuk ke dalam kamar nona majikannya. Dengan wajah mesum ia mengunci pintu, di atas ranjang Nidya menoleh kepadanya dengan wajah yang bingung campur malu. Mang Dodi menggusur selimut yang membungkus tubuh Nidya, setelah melepaskan sarung, kaos oblong dan celana dalam dekil, ia naik keatas ranjang meneduhi tubuh Nidya yang masih terbalut piyama berwarna pink.



“Mang Dod.. emmm…” Nidya mendesah menahan beban tubuh mang Dodi yang menindihnya,



Bibirnya menyambut bibir mang Dodi , mesra keduanya berciuman bagaikan sepasang pengantin baru yang berbeda usia dan ras dimana seorang dari ras mayoritas memangsa dan menikmati cantik dan mulusnya seorang gadis ras minoritas. Satu demi satu kancing baju piyama Nidya terlepas, mata mang Dodi melotot melihat buah dada yang membuntal, padat dan kenyal terasa saat mang Dodi meremas buah dada sebelah kiri.



“Emmmhh mang Dod…”



Nidya menggeliat – geliat resah, sementara mulut mang Dodi semakin rakus dan kasar menghisapi buah dadanya. Sesekali Nidya merintih merasakan gigitan-gigitan gemas mang Dodi pada putting susunya.



“Ah..mmmmhhhh…”



Nidya menggeser-geserkan tubuhnya, kemanapun tubuhnya bergeser kesitu pula kepala mang Dodi mengejar buah dadanya. Sepasang buah dada Nidya yang ranum menjadi bulan-bulanan mang Dodi , begitu ganas mang Dodi menciumi buntalan buah dada dan menghisap kuat puncak payudara Nidya, setelah puas menggeluti sepasang buah dada yang membuntal, mulut mang Dodi melumat bibir Nidya. Setelah itu cumbuan mang Dodi merayap turun.pada leher, melewati belahan payudara, bermain pada perut dan pinggul dan terus turun mengejar milik Nidya yang paling sensitif.



“Ohh Non Nidya, indah sekali memek kamu Non…”



Mata Mang Dodi menatap tajam pada belahan bibir vagina Nidya, bulu-bulu lembut menghiasi vagina Nidya menambah indah pemandangan di daerah kewanitaannya. Mang Dodi mengendus-ngendus aroma vagina Nidya.



“Unnhhh .. ,aaa.. mang Dodddd.. mang Dodddd…” Nidya merengek saat hembusan-hembusan nafas hangat yang memburu menerpa vaginanya



Nidya mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar seolah Nidya ingin memperlihatkan seluruh keindahan yang dimilikinya kepada mang Dodi. Tubuh moleknya melenting menggeliat dan menggelinjang dengan indah saat vaginanya menjadi santapan mang Dodi yang rakus.



“Ussshhhh.. hssssshhhhhhhh… ahhhhhhh” tiba-tiba Nidya mendesis dan mendesah panjang, perutnya mengejang dan cairan vaginanya meluap bersama kedut-kedut orgasme



Begitu indah tubuh Nidya terkulai dibawah sorotan lampu kamar, butiran keringat meleleh membasahi tubuh mulusnya. Suara desah tertahan sesekali terdengar di antara suara seruputan seorang laki-laki yang usianya berbeda jauh dengannya.



“Mang Dod ?? “



Nidya tak mengerti ketika mang Dodi membalikkan tubuh mulusnya yang terkulai lemas dan mengikat kedua tangannya dengan menggunakan celana piyamanya. Setelah itu mulut Nidya disumpal dengan menggunakan celana dalam dekil milik mang Dodi.



“Emmm!!” Nidya berontak saat mang Dodi menyelipkan penis pada belahan pantatnya, kedua tangan mang Dodi menekan pundak Nidya ia menunduk dan berbisik di telinga gadis itu.



“jangan berisik non, nanti kita ketahuan”



Bisikan mang Dodi ternyata sangat efektif.



“hmmmm hmmmmmm”



Nidya berusaha menggelengkan kepala menolak keinginan mang Dodi. Nafas Nidya seperti orang yang sedang sekarat, matanya yang sipit membeliak, liang anusnya merekah diiringi rasa pedih dan perih yang tak tertahankan saat ujung kepala penis mang Dodi membongkar kerutan anusnya.



“Uhhh Nidya…peret banget bool mu Non…” Mang Dodi menceracau



Otot anus Nidya mengigit seputar ujung penisnya yang terbenam semakin dalam. Dengan sekali sentakan kuat mang Dodi membenamkan kepala penisnya hingga otot nidya melingkari leher penis mang Dodi. Kesenangan dan kenikmatan bagi mang Dodi harus dibayar mahal dengan kesakitan luar biasa bagi nidya.



“Emmmmmm !!! mmmmmhhhh”



Tubuh molek Nidya mengejang kesakitan saat batang penis mang Dodi memaksa masuk inchi demi inchi. Pandangan Nidya mendadak gelap seakan hendak jatuh pingsan namun rasa sakit tetap membuat kesadarannya terjaga dalam derita.



“Ehem, mang Dod sayaaaangg sama Nidya.. , sudah jangan nangisss… Sudah masuk semua…koq…”



Mang Dodi tersenyum merasakan empuknya buah pantat Nidya bergesekan dengan bagian bawah perutnya. Batangnya yang panjang dan besar tertanam dalam anus Nidya. Mang Dodi menarik celana dalam dekilnya, melepaskan mulut Nidya yang tersumpal.



“urhh.. s-sakit mang.. s sakit sekali .. aduhhh…” Nidya mengerang saat batang mang Dodi mulai bergerak seperti sebuah piston



Bisik rayuan-rayuan mang Dodi ternyata tidak sanggup untuk membayar rasa sakit yang dirasakan oleh Nidya yang merasa “dipermalukan” dan “direndahkan” serendah-rendahnya oleh mang Dodi. Berbeda dengan apa yang sedang dirasakan oleh Nidya, Mang Dodi merasa kesuperioran atas diri Nidya. Ego mang Dodi sebagai bawahan/ sopirnya menimbulkan rasa bangga memangsa Nidya sebagai nona majikan dan berdarah Chinese. Dengan teratur batang penis mang Dodi terus bergerak memompa Nidya hinga puas. “Plooo—ppp” Mang Dodi mencabut penisnya, ia membebaskan mulut Nidya dari sumpalan celana dalam dekil milik seorang sopir kemudian menarik pinggul Nidya agar gadis itu menungging dengan sempurna untuk permainan selanjutnya. Ujung penis mang Dodi mencari – cari belahan vagina Nidya. Setelah dirasa pas, perlahan mang Dodi menjejalkan kepala penisnya.



“Mmmmhhhh..” Nidya merinding kegelian, rasa sakit pada anus dibayar oleh sedikit rasa nikmat saat ujung penis mang Dodi menembus dan mengocok-ngocok liang vaginanya.



Mang Dodi terlihat lihat mencecar liang vagina Nidya, serong kiri, serong kanan, menusuk dalam, dan mengocek. Dengan bimbingan dari mang Dodi, Nidya mulai belajar, saat mang Dodi menusukkan batang penisnya, ia mendesakkan pinggulnya menyambut tusukan penis mang Dodi. Untuk beberapa kali tusukan keras Nidya masih dapat bertahan, namun untuk tusukan-tusukan berikutnya tubuh Nidya mulai menggelinjang. Rasa nikmat berkedutan membuat kepalanya terasa ringan namun selain itu Nidya merasa malu mendengar suara yang berasal dari vaginanya. Risih saat payudaranya yang tergantung terayun – ayun dan risih saat buah pantatnya beradu dengan bagian bawah perut mang Dodi.



“mmmmhh emmmmh emmmhh…” Nidya menenggelamkan wajahnya pada bantal.



Mang Dodi tersenyum, sebagai seorang laki-laki sudah tentu mang Dodi takjub pada kecantikan Nidya. Terbayang olehnya wajah cantik Nidya kecil yang lugu dan polos, selama tujuh belas tahun mang Dodi menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri perkembangan Nidya kecil menjadi seorang gadis cantik bertubuh aduhai.



“Mang Dod.. Mang Doddddd….” Nidya merengek perlahan.



“Ya Non ??” Mang Dodi menyahut.



“Pelan-pelan mang…” Nidya meminta mang Dodi memperlembut tusukannya.



“Segini Non ??” Mang Dodi bertanya.



“He-emm.., hssssshhhh.. ohhhh mang Dod… enakk”



Tanpa sadar Nidya merintih keenakan saat penis mang Dodi menusuk vaginanya. Begitu dalam dan lembut membuat Nidya meringis dalam getar-getar kenikmatan yang berkedutan saat cairan orgasmenya kembali tumpah.



“Unnnhhhhhh mang Dooood.. utsssss !!” Nidya merengek manja saat mang Dodi membalikkan tubuhnya kemudian menarik kedua kakinya yang mulus indah ke udara.



Satu tusukan kuat membuat tubuh Nidya mengerjat, selanjutnya tubuh Nidya terguncang mengikuti helaan batang penis mang Dodi. Sedikit demi sedikit mang Dodi meningkatkan ritme tusukan penisnya, helaan – helaan nafas berat terdengar memenuhi kamar tidur Nidya. Ringisan Nidya mengeksploitasi sensualitas wajahnya yang jelita. Nidya menatap mang Dodi yang sibuk menjejal-jejalkan batang penisnya, mata laki-laki itu menatap tajam pada buah dadanya yang terguncang dengan hebat. Reflek Nidya menyilangkan kedua tangannya di dada untuk melindungi sepasang payudaranya yang terguncang. Mang Dodi terlihat kecewa, ia meletakkan kaki Nidya di bahu dan kedua tangannya mencekal dan menarik kedua tangan Nidya agar buah dadanya terekspos dengan sejelas-jelasnya dalam guncangan hebat yang membuat jantung mang Dodi berdegub dengan lebih kuat. Berkali-kali cairan orgasme Nidya tumpah meluap sebelum akhirnya sperma mang Dodi muncrat mengisi vagina Nidya. Tubuh Mang Dodi roboh menimpa tubuh molek Nidya yang berpeluh. Batangnya mengerut terjepit dalam kepitan vagina Nidya yang sempit.



“mmmmhhh mang Dod…” Nidya memeluk tubuh mang Dodi, keduanya berciuman lama dan mesra.



Setelah cukup tenaga Mang Dodi pamit keluar dari kamarnya dan Nidya pun tertidur kelelahan.



############################



Keesokan harinya, jam 7 pagi



Hari itu Nidya jadi pendiam, sementara ayah dan ibunya sibuk mengobrol bisnis di meja makan tanpa memperhatikan anak semata wayangnya. Nidya menghela nafas panjang untuk meringankan beban berat yang harus ditanggungnya akibat rasa nikmat sesaat.



“Nidya berangkat dulu ma.., pa..” Nidya pamit kepada kedua orang tuanya.



“Ya…” Ayah Nidya menjawab singkat.



“He-eh..” Ibu Nidya menjawab tak kalah singkat.



Mereka kembali sibuk dengan urusan masing – masing, kadang-kadang Nidya merasa hidup sendiri di rumah mewah yang semakin terasa sepi semenjak kematian Mbok Ijah setahun yang lalu. Hari itu Nidya tampak risih menatap mata Mang Dodi yang mesum sumringah. Wajah Nidya yang cantik merah padam mengingat apa yang telah dilakukan oleh Mang Dodi, sopir kepercayaan-nya.



“Non kenapa koq diem aja sih?” Mang Dodi memecah keheningan.



“Emm .. ngak apa-apa mang…”



Wajah Nidya merona saat mang Dodi menyapa. Nidya melihat ke jendela, sepertinya ini bukan jalan menuju sekolah, entah kemana mang Dodi akan membawanya. Nidya tidak peduli karena sebenarnya Nidya memang sedang tidak mood untuk masuk sekolah hari ini. Hilangnya perawan membuat ia tersiksa dalam rasa gelisah yang tak berkesudahan.



“Kemarin enak banget ya non…” Mang Dodi terkekeh mesum.



“Kita mau kemana mang ??” Nidya berusaha mengalihkan topik pembicaraan.



“Mang Dodi punya kejutan buat Non Nidya” jawab Mang Dodi



“Kejutan?” Nidya heran



“Iya Non suka ngentot kan? Kemaren Non menikmati kan?” tanya Mang Dodi tanpa malu-malu lagi.



“Eeemmm....jangan nanya gitu ah Pak!” wajah Nidya memerah dan tidak tahu harus menjawab apa, memang tak bisa disangkal kalau dirinya menikmati persetubuhan itu.



“Hehehe...malu-malu ah si Non, Mamang yakin Non Nidya pasti suka kejutan ini….tubuh Non bakal menggeliat, menggeliat dan terus menggeliat he he he”



Mang Dodi senyum sambil menancap gas. Mobil melaju kencang menuju Gunung Tangkuban Perahu. Hari Senin tidak terlalu banyak orang, hanya ada beberapa mobil yang parkir dan dua buah bus pariwisata.



“Ayo non , udah sampe, yuk turun…ikutin mamang ya.. agak jauh supaya nggak pada curiga”



Mang Dodi membukakan pintu seperti biasa. Dengan hati ragu Nidya turun dari dalam mobil. Entah mengapa ia menurut saja mengikuti mang Dodi yang terus naik ke atas. Semakin ke atas semakin sepi, hanya satu atau dua orang saja yang kadang berpapasan dengan Mang Dodi dan Nidya. Menyusuri jalan berbatu menuju sebuah gubuk yang tampak ramai dengan beberapa laki-laki bertubuh kekar namun berpakaian kumal dan dekil.



“Mang Dodi?? Mereka siapa?”



Nidya bersembunyi di balik punggung sopirnya, sorot-sorot mata laki-laki bertubuh kekar itu tampak ganas dan liar seperti hendak menelanjangi tubuh Nidya. Wajah-wajah sangar dan beringas tersenyum mesum pada Nidya. Semuanya berjumlah lima orang.



“Ini temen-temen Mamang Non, Non kan katanya pengen kejutan ya, makannya Mamang ajak ke sini” kata Mang Dodi enteng.



“Ahhhhhhhh…!! Tapi Mang...kok gini....aaahhh!!”



Tiba-tiba seorang dari mereka yang bertubuh gempal menarik lengan Nidya. Bibir Si gempal yang tebal segera menyumpal bibir mungil Nidya. Keahlian si gempal dalam mencumbu membuat Nidya merinding panas dingin dan pemberontakannya mengendur. Keempat temannya tidak tinggal diam, mereka mengerubuti Nidya seperti semut mengerubuti sebongkah gula-gula. Mereka mempreteli satu persatu pakaian seragam Nidya, beberapa kancing seragamnya putus karena agak kasar, sehingga dalam waktu singkat Nidya telah telanjang di pelukan si pria gempal diiringi decak kagum orang-orang yang sama sekali tidak dikenal oleh gadis itu. Lima pasang tangan kasar itu segera menjelajahi kehalusan dan kemulusan tubuh Nidya. Meremas buah pantat, mencolek belahan bibir vagina dan mengelusi permukaan paha Nidya yang halus. Mata Nidya terbelak melihat batang-batang besar berurat mengacung perkasa. Nidya merasa panas oleh gairah yang membakar darah mudanya.



“Auhhhh…..” Nidya menjerit kecil



Si gempal melemparkan tubuh Nidya ke atas sebuah kain selimut belel yang dibentangkan di depan sebuah rumah gubuk tua. Serempak lima orang laki-laki berwajah beringas menerkam tubuh Nidya yang terpekik. Tubuh telanjang Nidya terlentang pasrah, lima pasang tangan kembali menjelajah menggerayangi sekujur tubuh Nidya yang putih mulus. Kelima Orang Laki-laki dengan wajah sangar terkekeh saat saling berbincang mesum. Dari situ Nidya mengetahui nama-nama mereka, yang bertubuh gempal bernama Bang Somad, yang berkumis bernama Bang Malik, yang berwajah codet bernama Bang Toto, yang brewokan bernama Kardi, yang bibirnya paling tebal bernama Jarot. Kesemuanya adalah penduduk setempat, ada yang menjadi penjaga keamanan, penjual mainan, dan petugas kebersihan.



“Minggir. Gua mau nyicip memeknya…” Bang Somad mengejar vagina Nidya.



“Siap banggg. Tapi kalau abang udah selesai jangan lupa bagi-bagi ya” sahut Bang Malik, ia dan kawan-kawannya mundur, memberi ruang bagi bang Somad.



“Iya lah pasti...gua kasih kalau gua udah puas ngentot sama si amoy cantik ini”



Jawaban Bang Somad disambut senang oleh Malik dkk.



“Gila ini lobang, bagus amat ck ck ck seumur-umur baru kali ini gua ngeliat isi memek Cina…”



Mata Somad melotot melihat isi vagina Nidya yang berwarna merah muda, aromanya yang harum karena terawat membuat nafas Somad memburu. Dengan rakus mulut Somad melumat-lumat vagina Nidya. Rintihan Nidya membuatnya semakin liar dan beringas menikmati vagina gadis itu. Lidah Somad menusuk-nusuk dan mencokel – cokel daging mungil milik Nidya.



“Hssshshhh.. Hssssshhhhh ahhh!!” Nidya mendesis dan mendesah.



Permainan Bang Somad membuatnya kewalahan, geli tapi nikmat, risih tapi ingin lebih sementara keempat orang laki-laki berwajah beringas lainnya beserta Mang Dodi menonton dengan penuh nafsu, selentingan-selentingan nakal terdengar di antara mereka.



“Kasih bang !! kasih..!!” Jarot berteriak kemudian terkekeh.



“Hihhhhh…..”



Dengan sekali sentak, Bang Somad menusuk vagina Nidya.



“Aduhhh…!!” Nidya memekik keras, setengah penis terbenam dalam vaginanya.



“Ha ha ha ha ha…” Suara tawa menggelegar “ahh aaa aaaa ahhhhhhh…uuhhuyyy...amoy emang emoy!!”



Tubuh Nidya terguncang hebat. Mata sipitnya menatap mang Dodi yang asik mengabadikan persetubuhan liar antara Nidya dan Mang Somad dengan menggunakan kamera saku. Nidya mengerang menahan pompaan kasar dari Bang Somad.



“unnhh hsssshhh ahhhhhhh…..” nafas Nidya tertahan, denyut-denyut nikmat membuatnya terkulai diiringi sorak sorai keempat orang laki-laki beringas yang menyemangati Bang Somad yang menyerang dengan lebih gencar.



Suara erang, rintih dan pekik Nidya membuat bang Somad bergairah luar biasa. Suara becek terdengar keras saat Bang Somad memompakan batang penisnya ke dalam vagina Nidya. Bosan dengan posisi missionary dan kemenangan gemilang atas orgasme Nidya, Bang Somad menyuruh Nidya untuk menungging.



“Wuihh !! Bulet padet !! Mantap ini!!” Bang Somad memuji sambil menampar buah pantat Nidya.



Cairan orgasme Nidya meleleh pada paha bagian dalam, tangan Bang Somad mengusap keringat di punggung Nidya kemudian meremas-remas buah pantatnya sebelum akhirnya ia menggesekkan ujung penis pada belahan pantat Nidya yang hangat.



“Akkkhhh !! Aduh-duh.. Awwwww.. sakit bang..” Nidya mengaduh dan memekik kesakitan.



Anus yang masih lecet karena kemarin diperawani sopirnya kembali dikuakkan oleh sebatang penis yang lebih besar dari milik mang Dodi. Suara erang Nidya membuat jantung para lelaki di tempat itu berdegub dengan lebih kencang. Mang Dodi menjepretkan kamera sakunya pada wajah Nidya , mengabadikan ekspresi wajah cantik yang sedang kesakitan kemudian bak fotografer mengambil pose Nidya yang sedang menungging ditusuk oleh penis Bang Somad.



“sebentar bang…, saya pindahin dulu handycam nya..” Bang Dodi memindahkan handycam second yang dibeli dari sebuah counter di pusat perbelanjaan elektronik terbesar di kota Bandung, sebuah tripod menyangga handycam second yang masih berfungsi dengan baik.



“Aduh , aduh .. ahh ahh akhh awwww…” Nidya mengaduh dan memekik kesakitan, tubuhnya tersungkur maju mundur mengikuti gerakan batang penis Bang Somad yang bergerak kasar menyodomi anusnya.



Wajah Nidya dalam derita diabadikan dengan sejelas-jelasnya oleh sebuah handycam dan jepretan – jepretan kamera saku di tangan mang Dodi.



“Aduh sakit-s-sakit , T-tolong mang Dod.. Tolong…” Nidya memohon pertolongan mang Dodi yang terkekeh padanya.



“Aduhhh !! Ampun Bang ampunnnhh akhh arrrrrhhh…”



Kasar sekali Bang Somad menumbukkan penisnya. Suara benturan buah pantat Nidya dengan bagian bawah perut Bang Somad terdengar keras seperti suara tamparan. Jerit dan tangisan Nidya terdengar di antara suara tumbukan-tumbukan penis Bang Somad yang mencecar dengan gencar. Mata Nidya yang sipit terbeliak-beliak akibat rasa sakit yang tak tertahan. Suara merdu Nidya terdengar sedikit serak akibat terlalu sering dan terlalu keras menjerit.



“UNGGHH !! Anjing !!” Bang Somad mengumpat, spermanya muncrat dalam anus Nidya, batang penisnya berkedut-kedut , layu dan mengkerut, tubuhnya yang gempal ambruk menindih tubuh mungil Nidya.



Nidya merintih kesakitan saat gigitan gemas Bang Somad menancap di bahunya setelah itu barulah Bang Somad mengangkat tubuhnya dari tubuh Nidya.



“Aduhhh.. jangannnn….” suara Nidya kembali terdengar, empat orang laki-laki dengan wajah beringas menyerbu menggeluti tubuh mulusnya yang berpeluh, tidak ada seincipun tubuh Nidya yang lolos dari gerayangan-gerayangan tangan keempat lelaki itu yang menggerayang penuh nafsu binatang. Buah dada Nidya yang bulat padat menjadi sasaran empuk bagi mulut orang-orang gunung yang begitu bernafsu padanya.



“Sudah bang , jangan.. nggak kuat…” Nidya menolak saat dipaksa menaiki batang penis Bang Jarot.



“Tinggal naek !! Susah amat sih !!” Jarot yang terlentang membentak Nidya.



“Ha ha ha ha” suara tawa menggelegar mendengar gerutuan Jarot.



Dibimbing oleh tiga orang laki-laki Nidya naik ke atas penis Jarot, tangan jarot mengusap-ngusap paha, pinggul dan meremas-remas payudara Nidya. Saat merasa ujung penisnya mulai tenggelam dalam vagina, dengan gerakan mendadak Jarot mengangkat penisnya ke atas, tanpa ampun penisnya melesat menusuk vagina Nidya.



“Aaaaaa.. ahhhhh….”



Tubuh mulus Nidya pun menggelinjang dalam pelukan Jarot. Saat itu Malik yang tidak tahan mengarahkan penisnya ke pantat Nidya



“Aduh..!!jangan bang..!! tolong jangannn…” Nidya memohon saat Bang Malik mulai melakukan penetrasi ke duburnya



“AWWWWWWWW….” jerit Nidya terdengar keras saat anusnya ditembus penis.



Baru untuk yang pertama kali Nidya merasakan dua batang penis menusuk anus dan vaginanya sekaligus. Sekujur tubuhnya gemetar hebat, harga dirinya direndahkan serendah-rendahnya di hadapan para laki-laki di tempat itu. Mang Dodi melotot dengan wajah mesum ia kembali sibuk menjepretkan kamera di tangannya untuk mengabadikan obsesi dari angannya yang terliar, Nidya yang cantik mengerang disandwich oleh dua orang laki-laki berwajah beringas.



“Aduhh !! AOWWWW…!!” Nidya menjerit dan memekik keras saat dua batang penis bergerak seolah sedang saling berlomba mencari kenikmatan dalam anus dan vaginanya.



Nidya melenguh keras dalam rasa malu, ia dipermalukan semalu-malunya oleh Malik dan Jarot yang kasar dan beringas menghujamkan batang mereka ke dalam kedua lubangnya. Jerit dan pekik dalam rasa malu dan rasa direndahkan akhirnya berakhir dengan kepasrahan saat Nidya merasa kedutan-kedutan nikmat yang menyebar ke seluruh tubuh. Dalam kepasrahan Nidya merengek.



“He he he… nih susu buat yang mau…”



Malik menarik bahu Nidya agar posisinya duduk menjengking ke belakang, otomatis buah dadanya membusung menggairahkan. Dua mulut mengejar mengecupi buntalan buah dada kemudian menghisap kuat puncak payudaranya. Bergantian Toto dan Kardi melumat dan mengulum bibir Nidya, tangan mereka tak henti meremas buah dada yang membusung itu. Erang dan ringisan menabur sensualitas di wajah cantik Nidya yang sedang dikeroyok oleh empat orang laki-laki berwajah buruk yang menuai kemenangan gemilang atas orgasme yang dialami Nidya hingga penis Malik dan Jarot memuntahkan sperma panas dalam anus dan vaginanya.



“Sini cantik biar abang gendong…” Toto dan Kardi terkekeh menggoda Nidya.



Penis kardi mengait vagina Nidya dalam posisi menggendong berdiri berhadapan, reflek kaki Nidya mengapit pinggang Kardi. Tidak berapa lama penis Bang Toto menusuk anusnya. Anus dan vagina Nidya kembali menjadi bulan-bulanan dua batang penis yang bergerak dengan teratur menusuki liang vagina dan anusnya. Nidya mengalungkan kedua tangannya pada leher Kardi, ia menyambut lumatan bibir laki-laki itu sesekali Nidya menoleh ke belakang untuk berciuman dengan Bang Toto. Entah sudah berapa kali vaginanya berkedut dalam nikmat orgasme sebelum akhirnya diiringi suara lenguhan panjang wajah cantik Nidya menengadah ke atas langit saat ia tersiksa dalam buaian puncak klimaks bersamaan dengan semburan sperma panas Bang Toto dan Kardi. Mang Dodi tersenyum lebar menyaksikan tubuh Nidya yang putih mulus merosot turun. Nidya kecil yang kini tumbuh menjadi seorang remaja cantik terkulai dengan tubuh basah berpeluh dibawah kaki lima orang laki-laki berwajah sangar yang terkekeh puas menikmati kemudaan dan kemulusan tubuh moleknya. Tiga batang penis yang masih berdiri perlahan turun. Bang Somad , Bang Jarot, dan Bang Malik menembakkan spermanya pada wajah, payudara dan perut Nidya. Sebentar saja Nidya sudah belepotan cairan putih susu berbau menusuk itu. Mang Dodi mendekatkan kameranya ke wajah Nidya.



“Gimana Non? Enak ga?” tanya Mang Dodi



Nidya hanya mengangguk dengan senyum lemas. Ia menelan sperma dalam mulutnya agar tidak terlalu tersiksa dengan aromanya yang tajam. Terus terang, walaupun merasa dipermalukan namun dalam hati kecilnya ia mulai menyukai dan sangat menikmati suasana tadi.



“Lain kali mamang ajak entotan lagi Non mau kan?” tanya sopir itu lagi



“Mau...mau Mang” jawabnya



Begitulah awal dari kehidupan baru Nidya sebagai budak seks sopirnya sendiri. Hari demi hari selalu ada saja pengalaman baru bersama Mang Dodi. Kesepian dan kurangnya perhatian orang tua membuatnya berpaling pada kesenangan terlarang.

Diary Ira




Seorang penjaga perpustakaan tersenyum-senyum mesum  sambil menatap tubuh mungil seorang gadis cantik berseragam putih abu-abu yang tengah asik membaca sebuah buku, sesekali mata tuanya mendelik  melotot  ke arah pangkal pahanya  yang putih mulus. Pak Romi mengangkat matanya ke atas menatap wajah Ira yang tersenyum-senyum dengan nakal sambil mempertontonkan kemulusan pahanya. Rok seragam abu abu yang dikenakan oleh Ira tersibak sampai kebagian pangkal pahanya, kaki kirinya sengaja ditumpangkan di atas kaki kanan. Jantung si penjaga perpustakaan serasa berhenti ketika Ira mengedipkan mata kirinya dengan nakal. CEGLUKKK…GLEKKKKK…berkali-kali Pak Romi menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering, panas terbakar.
“He he he, rasainnn luhh, mupeng tapi ngak bisa ngapa-ngapain!! makan pembalasan gue, DASAR TUA BANGKA…cuihhh…!!“ dalam hati Ira  mengumpat dan memaki si penjaga perpustakaan sambil gerakan tubuhnya terus menggodanya.
Gadis cantik berseragam putih abu-abu itu kini merentangkan kedua tangannya ke atas sambil menggeliatkan tubuhnya. Ia berpura-pura sedang menggeliat untuk mengusir rasa pegal di tubuhnya, ia tersenyum nakal menyaksikan wajah mesum si penjaga perpustakaan yang memerah karena terbakar oleh nafsu birahi yang semakin panas memanggang tubuh renta-nya.
“Heuhhhhh ?? Alamaaaaaaaakkkk!!“ Pak Romi berseru keras dengan spontan ketika tiba-tiba Ira mengangkangkan sepasang kakinya yang mulus kemudian dengan cepat gadis cantik itu menutup rapat-rapat kedua lututnya, ia menggeser kursi yang menyangga tubuhnya kemudian duduk dengan sopan.

“Hahhhh?? ada apa Pakkk?? Pakkk…Pak Romi“ seorang siswa bertanya keheranan sambil berusaha mengikuti tatapan mata Pak Romi, siswa itu memanggil-manggil Pak Romi yang berdiri mematung dengan wajah merah padam.
“BAPAKKKKKKK……!!!“ siswa bertubuh kurus itu berteriak keras hingga seluruh siswa/i yang sedang asik membaca buku menengokkan kepala mereka ke arah suara teriakan keras yang menggelegar.
“Beuhbleeh…, uhukkk.. uhukkkk yaaaa?? ada apa nakkk….uhukkkkkk.” Pak Romi gelagapan sambil terbatuk-batuk karena tersedak ketika siswa bertubuh kurus berkacamata itu berteriak keras.
“Yeeee… Pak Romi kenapa sich? nihhhh saya pinjam dua!!”
“Iyaa.. uhukkk ehemmmm… hemmmm……Eherrremmmmm” berkali-kali Pak Romi berdehem keras sambil berusaha menguasai dirinya dari godaan Ira yang cantik mungil,
Gadis cantik berseragam abu-abu itu tertawa senang dalam hati. Ia berhasil membuat Pak Romi menderita termakan oleh nafsunya sendiri, setidaknya, inilah pembalasan yang dapat dilakukan oleh Ira di tengah ketidak berdayaannya ketika si tua bangka memaksanya untuk berkencan di malam minggu besok. Begitu lonceng berdentang tanda jam istirahat telah usai, dengan terburu-buru Ira mengembalikan buku yang dibacanya kemudian ia menyelinap keluar dari dalam ruangan perpustakaan  sebelum ruangan mengerikan itu  menjadi kosong. Ira tahu dengan pasti apa yang akan terjadi jika dirinya tertinggal di dalam ruangan perpustakaan tempat Pak Romi mencari nafkah dan kenikmatan,

Ihhhh, tengkuk Ira sampai merinding, rasanya sungguh menjijikkan sekali ketika mulut Pak Romi mengenyoti sepasang payudara dan mencumbuinya, ia menghela nafas panjang ketika mengingat moment-moment mengerikan bersama di tua bangka di dalam sebuah kelas kosong sepulang sekolah.
“sebentar Pakkk!!” Ira berlari-lari kecil sambil berteriak untuk mencegah pintu kelasnya yang hampir tertutup oleh seorang guru.
“Ehhh kamu Iraa…, ayo masukkk….(-in Kontol bapak kememekmu, Ohhh… ahhhhh Iraaaa… memek kamu seret sekali sayanggg. ayoo goyang manisss goyanggg…. Ahhhhh).” Pak Dede tersenyum dikulum sambil membuka pintu kelas lebar-lebar
Ira tertunduk dengan wajah masam melewati Pak Dede si guru keparat, yang melanjutkan kata “masuk” dengan tambahan segudang kata-kata mesum di dalam otak-nya yang bejat.
“Sekarang silahkan kalian buka PR yang bapak berikan kemarin….” Pak Dede melayangkan pandangannya.
Guru itu memeriksa mulai dari bangku depan sebelah kiri dekat jendela kelas, beberapa orang siswa dan siswi dihukum berdiri di depan kelas karena tidak mengerjakan PR yang diberikan olehnya. Ira tampak gelisah, ia juga belum mengerjakan pekerjaan rumahnya detak jantungnya semakin berdebar-debar dengan kencang ketika Pak Dede melangkah menghampirinya, seorang siswi teman sebangku Ira yang bertubuh gemuk langsung dihardik oleh Pak Dede karena tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya, siswi gemuk berkacama itu tertunduk kemudian dihukum berdiri di depan kelas menyusul kedua orang temannya yang lain.
“Hemmmmm…. “ Pak Dede berpura-pura memeriksa sebuah buku di hadapan Ira yang tertunduk cemas, ia menahan nafasnya ketika tangan Pak Dede membolak balik lembaran buku miliknya.

“Ehhhh??“ Ira menatap punggung Pak Dede yang berbalik setelah selesai membolak balik buku miliknya,
Si guru bejat melangkah menjauh kemudian mulai memanggil nama siswa/siswi dikelas itu secara acak untuk mengerjakan soal-soal fisika di papan tulis. Pak Dede mengeluarkan HaPe-nya kemudian mengetik dan mengirimkan SMS kepada salah seorang siswi cantik di kelas itu.
“Iraaa…, kamu nakal nggak bikin PR fisika, nanti saat pergantian jam pelajaran kamu pura-pura sakit yaa, he he he, Bapak mau menghukum kamu manissss…”
Ira tertunduk lemas setelah membaca isi SMS yang mampir di hpnya dengan kesal siswi cantik itu menghapus isi SMS kiriman Pak Dede si guru fisika. Entah kenapa jam dinding di depan kelas seolah berlari dengan lebih cepat, Ira bergidik menatap sorot mata Pak Dede yang seolah mengancamnya untuk segera berpura-pura sakit ketika terdengar suara lonceng yang berdentang..
“Pakkk….. “dengan terpaksa Ira mengacungkan telunjuknya keatas.
“Ehh…kenapa Ira?“ Pak Dede berpura-pura bertanya kepada siswi cantik itu..
“Ira pusing Pakk”
“Ohhh… begitu ya…kalau begitu segera bereskan tas kamu, terus minta izin pulang” kata Pak Dede sok perhatian
Dengan lesu Ira melangkahkan kakinya yang terasa berat keluar dari dalam kelasnya ekor mata Ira melirik wajah Pak Dede yang memasang wajah welas asih untuk menutupi kebejatannya

“Ehhh kenapa ini Pak ?“ Seorang guru wanita bertanya pada pak Dede ketika Ira menyapa guru wanita itu dan lewat di depannya.
“Begini Bu, Ira mendadak sakit makanya saya mau mengantar dia ke rumah sakit” Pak Dede tersenyum ramah.
“Ooo…ya sudah kalau begitu, mari Pak Dede….”
“Mari Bu, mariii…., selamat mengajar…..”
Ira tertunduk lesu kemudian kembali melangkahkan kakinya menuju mobil Pak Dede di lapangan parkir, setelah guru dan murid cantik itu masuk ke dalam mobil, Pak Dede tersenyum sambil memasangkan safetybelt membelit tubuh Ira, tidak begitu lama sebuah mobil melaju membawa tubuh mungil seorang siswi cantik yang menundukkan wajahnya sambil melamun
“Brrrmmm Brmmmmm….Brrmmmm“ setelah tiba di depan rumahnya, dengan terburu-buru pak Dede membuka pintu garasi dan  memasukkan mobilnya ke dalam garasi, mobil tua itu menggeram beberapa kali sebelum dimatikan oleh pemiliknya sementara seorang siswi cantik terdiam ketika Pak dede menyuruhnya untuk turun dari dalam mobil.
“TURUN…!! “ Pak Dede membentak sekali lagi kemudian setelah siswi cantik itu turun dari dalam mobil tangan pak Dede mencekal pergelangan tangan Ira dan menariknya masuk ke dalam rumah. Istrinya yang juga adalah seorang guru tengah mengajar di sekolah lain sementara anak tunggalnya masih belajar dengan tekun di sebuah sekolah negeri, kondisi rumah Pak Dede yang sepi sangat menunjang kebejatan si guru fisika itu yang menarik tubuh mungil seorang siswi cantik bermata sipit kedalam kamar tidurnya.
“Blukkkk“ dengan kasar Pak Dede mendorong tubuh Ira hingga murid cantik itu jatuh terhempas ke atas ranjang sepasang kakinya yang mulus terjuntai menggantung. Ira memejamkan kedua matanya ketika Pak Dede duduk di pinggiran ranjang di sisi pinggulnya. Si guru bejat itu tersenyum sambil merogohkan tangan kanan-nya yang kotor masuk ke dalam rok seragam abu-abu yang membelit di pinggang siswi cantik itu.

“Iraaaa…koq kamu diem aja sich? nggak rindu nih sama Pak Dede??” tanya pria itu sambil mengelusi permukaan paha Ira yang putih mulus sementara Ira melengoskan kepalanya ke arah lain, dirinya muak ketika harus bertatapan dengan wajah Pak Dede yang berada di atas wajahnya.
“Keparat!! Siapa yang rindu kepadamu!!! dasar guru bejat!! HINAAAA!!“ Ira memaki pak Dede di dalam hati, dengan reflek Ira merapatkan kedua kakinya yang mulus ketika tangan si guru fisika menyibakkan rok seragam abu-abunya ke atas.
“Auhhhhh!! Sakit pak,  sakkiittt….!!“ Ira menepiskan kedua tangan Pak Dede yang meremas payudaranya dengan kuat seolah ingin menghancurkan sepasang buah apel.
“Eh-Ohh…maaf, abis-nya kamu diam aja sich, bapak-kan jadi ngak bisa horny, kaya lagi tidur sama guling, ayo sini…come on baby! Ouuuuuuuu come Ira my sweetheart….muachhhh!!“ Pak Dede berdiri tepat di hadapan Ira, ia berkacak pinggang sambil tersenyum ramah memanggil gadis itu dengan logat bahasa Inggrisnya yang menyebalkan.
“Hhhhhh…. “ siswi cantik itu menghela nafas panjang kemudian dengan malas Ira menghampiri Pak Dede, ia menekuk lututnya berlutut di hadapan permukaan celana Pak Dede yang menggembung, kedua tangannya mulai bekerja dengan terpaksa untuk melepaskan ikat pinggang, celana dalam dan yang terakhir siswi cantik itu menarik celana dalam Pak Dede hingga terlolos dari sepasang kaki si guru bejat yang berbulu lebat.
“(Duhhh, mana bau lagi..!! )“ Ira mengeluh didalam hati ketika hidungnya mengendus bau tak sedap dari benda yang menggantung di selangkangan Pak Dede.

“Pakkk.. Mandi dulu yachhhhh…… “ Ira berusaha tersenyum sambil menengadahkan wajahnya ke atas, Pak Dede mencubit kecil hidung Ira yang mancung.
“Bolehhh…tapi kita mandi sama-sama yach…Ohh Ira sayang, sini Bapak bukain seragam kamu, katanya mau mandi” Pak Dede menarik bahu Ira kemudian meloloskan semua pakaian yang melekat di tubuh mungil siswi cantik itu hingga telanjang bulat tanpa selembar benangpun menutupi tubuhnya yang putih mulus, dengan bersemangat Pak Dede menggiring tubuh Ira ke kamar mandi yang berada di dalam kamar tidurnya.
“Iraaa, tolong mandiin Bapak dong!“ Pak Dede cengengesan sambil menyambar sebotol sabun cair merek Dove dan memberikannya kepada siswi cantik itu yang tertunduk sambil memandikan guru-nya yang bejat sampai bersih.
“Ahhhh…….!!“ Ira mendorong kepala Pak Dede yang tiba-tiba menukik menghujam belahan dadanya, Plakkkkkk!! satu tamparan dihadiahkan Pak Dede untuk membalas penolakan Ira, gadis cantik bermata sipit itu memejamkan kedua matanya rapat-rapat ketika Pak Dede kembali menukikkan kepalanya, wajah si guru fisika terbenam di belahan payudara siswi cantik itu yang mendesah ketika Pak Dede mencumbui buntalan payudaranya bergantian yang kiri dan yang kanan.
“Ahhhhh… hhhsssshhh auhhhh… mmmmfffhhsssshhh”
Pak Dede semakin terangsang ketika telinganya mendengar suara-suara rintihan dan desisan kecil dari bibir seorang siswi cantik bertubuh mungil yang menggeliat-geliat kegelian dalam pelukan kedua tangannya, otaknya semakin kotor dan bejat, bibirnya tersenyum lebar menyaksikan ketidak berdayaan Ira.

Puting susu Ira yang semakin mengeras runcing di hadapan wajahnya, lidah Pak Dede terjulur-julur keluar membelai-belai puting yang meruncing menggemaskan itu, dikenyot-kenyotnya puncak payudara Ira yang semakin membusung padat..
“Sekarang giliran bapak yang mandiin kamu, take and gift-lah, Bapak nggak mau berhutang budi kepada kamu, sini bapak mandiin biar bersih“
Ira mengepalkan kedua tangannya ketika tangan pak Dede mengusapkan sabun cair ke tubuhnya, terdengar suara tawa mesumnya memenuhi ruangan kamar mandi terkutuk itu, ia tersenyum sambil memperhatikan ekspresi wajah Ira yang menahan rasa geli ketika jemari tangannya menggerayangi buntalan susu gadis itu, mengusap, meremas dan kemudian membetot-betot putingnya yang mengeras sementara kucuran air shower yang hangat semakin-lama semakin mengikis habis busa-busa sabun di tubuh keduanya. Guru bejat itu menekan bahu Ira agar gadis itu berlutut di hadapannya..
“Aduhhh…Bapak jadi horny nehhh hehe, ayo dijilatin”
“(Keparatt..!! keparattttt…!!…Ohh.. BAJINGANNN..)“ Jika bisa menjerit, Ira ingin menjerit, berteriak sekeras-kerasnya memaki Pak Dede dan menampar wajah si guru yang bejat dan tak bermoral itu, tanpa disengaja Ira meremas penis Pak Dede karena kekesalan yang meluap di hatinya.
“OUHHH… WADOWWWW…..!!he he he, rupanya kamu horny juga ya?? tapi sehorny-hornynya mbo-ya jangan diremes begitu dong, dielus, dipijat terus dijilatin kaya oreo, ehhh jangan lupa dicelupin, ke mana coba?? Ayo dijawab“ Pak Dede menceracau panjang lebar ketika batang lidah Ira mulai mengulas, mengelus-ngelus batang kemaluannya, setelah merasa puas diservice oleh siswi cantik itu Pak Dede manarik tubuh Ira untuk kembali berdiri setelah membalikkan tubuh Ira kedua tangannya meremasi dan menggerayangi dada Ira dari belakang, kepala Pak Dede tertunduk untuk mengecupi pundak, bahu dan leher gadis itu dari arah belakang, kedua tangannya menopang mencapit induk payudara Ira sebelah bawah kemudian meremasinya dengan teratur.

“Nungging manis.., he he he” detelah mematikan kran shower Pak Dede menekuk lututnya berlutut di belakang bokong Ira sambil menarik pinggul gadis itu agar menungging, kedua tangan siswi cantik itu bertumpu pada pinggiran bak mandi untuk menjaga keseimbangan, sesekali kepalanya mendongkak keatas ketika merasa-kan belaian-belaian tangan pak Dede yang mengelusi paha, pinggul dan meremas-remas buah pantatnya. Ira harus mengakui elusan dan remasan-remasan Pak Dede membuatnya terangsang dengan hebat.
“Ohhhhhh!!“ kedua kaki Ira yang mulus gemetaran ketika ia mulai merasakan jilatan-jilatan batang lidah Pak Dede mengusapi bibir vaginanya, rasa hangat yang menggelitik dan nikmat semakin menyiksa ketika lidah guru keparat menyelip dan menggeliat bergelombang di cepitan bibir vaginanya yang mulai becek oleh cairan kewanitaannya. .
“ahhhhh aa aaauh…“ tubuh Ira yang mulus menggeliat-geliat resah, pinggulnya bergoyang kegelian ketika pak Dede semakin bernafsu mengemuti bibir vaginanya dan melumat-lumat belahan pantatnya, sesekali Ira menarik pinggulnya untuk menghindari rasa geli-geli nikmat yang semakin menyiksa di selangkangan dan belahan pantatnya, tanpa merasa jijik lidah Pak Dede menjilati dan melumat-lumat liang anus Ira, ia mengecupi liang vagina dan liang anus Ira sebelum akhirnya berdiri dan mendekatkan benda di selangkangannya pada belahan vagina gadis itu..
“Shhhhh…. Hsssshhhh Paakk BAPAAAAAAAKK…..!! Jrebbbbbb!! AOOWWWW!!” Ira menjerit keras ketika merasakan sebuah benda melesat membelah vaginanya dari belakang dengan kasar.
“Houghhhh…, Ngeh he he he, Urrrhhhhhhh…..” Pak Dede menggeruh mirip seperti suara sapi yang sedang disembelih ketika batang penisnya  tercepit di antara belahan vagina Ira.

Pak Dede meleletkan lidah untuk membasahi bibirnya yang kering, matanya melotot merasakan betapa enaknya remasan-remasan vagina seorang siswi-nya yang bermata sipit, ia mulai mengayunkan batang penisnya.
“Uhhh… tubuh dan susu kamu terayun-ayun dengan semakin kuat dan cepat seiring dengan gerakan batang penis bapak yang sedang mengocoki memek kamu… Urrrhhhh… E = M Ce Kuadrat, semakin cepat disodok maka tubuh kamu akan terayun semakin kuat seperti inihh….. “
“plok..plokkk.plookkkhh.. Cleppokkk…aaahh.. ahhhhh aaaaaaaa BAPAKKKKKK……PAKKKK………”
Kamar  mandi berukuran sedang itu kini dipenuhi dengan  suara kocokan, dan suara rintihan yang saling meyambung dari bibir seorang siswi cantik yang tengah ditunggangi oleh seorang gurunya dari belakang, tubuhnya yang putih mulus terayun-ayun menggeliat keenakan disodok-sodok oleh sebatang penis yang bergerak dengan cepat teratur menusuki belahan vaginanya, kedua matanya yang sipit terpejam-pejam menikmati setiap sodokan demi sodokan dari Pak Dede, si guru fisika.
“ahhhhhh Crrrrrr Crrrrrrrrrrrrrrr…“ Ira merasakan tubuhnya mengejang menahan denyutan-denyutan cairan puncak klimaksnya, Pak Dede tahu apa yang tengah menimpa siswinya yang cantik, sambil menarik pinggul siswi cantik itu Pak Dede membenamkan batang penisnya dalam-dalam, ia menikmati siraman cairan kewanitaan Ira yang terasa hangat-hangat panas, dinding-dinding liang vagina Ira berkontraksi dengan kuat meremas-remas batang penis si guru bejat.
“Uhhh Iraaaa, anget banget sich, titit Bapak kaya lagi saunaan di dalem memek Kamu…, enak ya manisss hemmmmm? enak dientot sama Bapak ?? nahhh bapak aduk memek kamu kaya gini gimana?? lebih enak??” sejumlah pertanyaan terlontar dengan bebasnya dari mulut Pak Dede yang kotor mesum, sebebas batang penisnya yang sedang mengaduki vagina Ira yang merintih dan meringis keenakan sementara tangannya merayap menggerayangi lekuk liku tubuh Ira dari belakang

Setelah  menarik batang penisnya hingga terlepas dari jepitan vagina Ira, guru bejat itu menarik pergelangan tangan siswi cantik itu. Ira tertunduk sambil mengekori Pak Dede yang menariknya menuju ranjang di kamar itu, seorang siswi keturunan Chinese dan guru-nya kini merangkak naik ke atas ranjang. Siswi cantik itu merebahkan tubuhnya terlentang dengan pasrah di atas ranjang sementara siguru bejat mulai menindih tubuhnya yang  mulus.
“Ira.., kamu cantik sekali  manis…”
“Ohh Pakk Mmm ckk Mmmmmm, Bapak mmmmmmmm Ckk Cppkk“ Pak Dede melumat bibir mungil Ira, dikulum-kulumnya dengan bernafsu bibir siswi cantik itu yang mendesah dan merintih pasrah dibawah tindihan tubuhnya, Pak Dede tertawa senang ketika Ira membalas lumatan-lumatan liarnya, nafsu birahi semakin memanas memanggang tubuh seorang siswi cantik dan seorang guru bejat yang tengah asik bercengkrama di atas sebuah ranjang
“nnnnnnnhhh…Ennnnnnhhh… Nnnneeemm”, suara rengekan-rengekan manja Ira membuat Pak Dede semakin bernafsu melumat bibir mungil siswi cantik itu sementara Ira semakin bernafsu untuk melayani keliaran guru Fisika-nya. Kedua pipi Ira tampak kempot ketika bibirnya diemut oleh Pak Dede.
“Ahhhhhhhhhhh… Hhhhh Hhhhhhhhhh…..“ Ira buru-buru mengambil nafas ketika Pak Dede melepaskan kulumannya, bibirnya yang mungil belepotan terbasuh oleh air liur Pak Dede, guru bejat itu menatap dalam-dalam mata siswi cantik itu sambil membelai-belai puncak payudaranya,  dikecupnya kening si gadis kemudian ia menggeser kepalanya turun ke arah dada, kini wajah Pak Dede berhadapan langsung dengan sepasang gundukan bukit putih yang menantang di dada Ira.

“Aduhh Pak aduhhhhh!!“ Ira mengaduh ketika tiba-tiba gigi Pak Dede terbenam di puncak payudaranya.
Ia hendak berontak namun kedua tangan Pak Dede mencengkram dan menekankan bahunya dengan kuat, rintihan kesakitan Ira diselingi dengan rintihan kenikmatan ketika mulut Pak Dede mencucup dan mengenyoti susunya dengan rakus. Cupphhhh, cuppphhhh beberapa buah ciuman dihadiahkan Pak Dede pada bulatan payudara Ira yang tampak memar kemerahan dihiasi bekas-bekas gigitan, pinggul Pak Dede terangkat ke atas sementara batang penisnya mencari-cari belahan sempit di selangkangan Ira setelah kepala kemaluannya menemukan belahan lubang sempit itu, tanpa membuang waktu Pak Dede segera menghempas-hempaskan pinggulnya dengan kuat ke bawah.
“Crebbbbb…Unnnggghhhhhhh….Emmmngehennnnhh” terdengar suara lenguhan-lenguhan keras yang diikuti dengan rengekan manja dari bibir siswi cantik itu ketika sebatang penis membelah cepitan vaginanya dengan kasar, tubuhnya mulai terguncang di bawah tindihan tubuh Pak Dede.
“BAPAKKK….!! Crruutttt Srrruttttt…“ Ira memeluk tubuh Pak Dede sementara kedua kakinya yang mulus menjepit tubuh guru bejat itu yang terus memompa dengan semakin kuat dan kencang walaupun siswi cantik itu tengah dilanda puncak klimaksnya
“cleppp…!! Cleppp… Clepppp!! Pleppppphhh…!! “
“BAPAK KOCOK KAMU IRA, BAPAKK KOCOOOOOOKKKKK!!! GRRRRHHHHH….ARRHHHH….KOCOOOOOKKK!!!!“ Pak Dede membelit tubuh mulus siswi cantik bermata sipit itu yang tengah menggelepar dihantam badai puncak klimaks-nya kemudian mengocokkan batang penisnya sedalam dan sekuat mungkin menusuki vagina Ira hingga selangkangannya mendesak-desak kuat selangkangan sang gadis yang semakin keras merengek-rengek.

“Crooootttt…. Croootttttt Croooottttttt…….!! “ sebuah senyum kepuasan mengembang menghiasi wajah Pak Dede ketika batang penisnya berdenyutan dengan nikmat, batang lidah Pak Dede menjilati butiran keringat yang memeleh dileher Ira yang jenjang.
Entah berapa lama Ira tertidur dibawah tindihan Pak Dede hingga akhirnya terbangun ketika merasakan tubuhnya kembali terguncang, rintihan dan desahan- desahan siswi cantik itu kembali mengalun dan merangsang Pak Dede agar mempercepat sodokan-sodokan batang penisnya untuk segera menaklukkan siswi cantik itu, Ira termegap oleh kenikmatan demi kenikmatan puncak klimaks yang dicekok-kan oleh Pak Dede, tubuhnya yang halus mulus terkulai lemah, butiran keringat membanjiri tubuhnya yang terguncang dengan hebat di atas sebuah ranjang Crettttttttttttt… Cretttttttttttt… tubuh mulusnya kembali mengejang dan menggelepar dengan hebat. Hingga akhirnya, pada saat yang hampir bersamaan
“UAhhhh…CROOTT…CROOOOTTTT!!!” setelah beristirahat sejenak Pak dede menggulingkan tubuhnya tanpa melepaskan tubuh Ira, kini Ira-lah yang menindih Pak Dede, sesekali terdengar rintihan lirih dari bibirnya yang mungil ketika tangan Pak Dede menggerayangi tubuhnya yang putih mulus, Pak Dede semakin terlena mengelusi dan menggerayangi lekuk liku tubuh Ira yang menggairahkan hingga deringan suara jam menyadarkannya.
“He he he…. , Ayo Ira,.. bapak antar kamu pulang, terus kamu istirahat yang baik ya, cepat sayang pakai roknya, ntar kalau istri bapak keburu pulang bisa berabe…..HA Ha HA HA HA, Ehemmmm“ Pak Dede tersenyum puas sambil memperhatikan Ira yang tengah memakai pakaian seragamnya, tidak begitu lama mobil Pak Dede meluncur untuk mengantar Ira pulang ke rumahnya.

******************************
Hari Sabtu, sehabis mandi sore…

“Nonnn, Pak Romi nihhh, inget ya Nonnn, kita ada janji jam 18.30, bapak tunggu-in di halteu bis yaa… Muachh I lop u, Ps: inget pakai tok mini, trus jangan pake celana dalam..!! Baju kaos harus ketat… kalau nggak nurut AWASSSSS!!!” sebuah pesan sms masuk di Hp Ira, dengan kesal ia menghempaskan pinggulnya di pinggiran ranjang
“Aduhhhh…., mampuss dah!“ Ira mengerutu sambil menghapus sms dari Pak Romi, dengan malas Ira membuka lemari bajunya dengan terpaksa ia memenuhi permintaan Pak Romi, sebuah SMS kembali masuk di Hpnya “Cepet Nonnn… gimana sich..! Lama AMAT..!! 10 menit, nggak pake lama…!!“  Dengan terburu-buru Ira menuruni anak tangga.
“Aduhhhh…, cantik amat anak mama, mau kemana nihhhh ?? “
“Emmm, Ira ada janji Mahhh…..”
“Sama siapa ?? wah-wah, anak papah udah punya pacar ya, ajak orang-nya kesini.., kenalin sama Papaaa…. “
“it.. Ituu dia, emmm dia orangnya pemalu Paaaa…, jadi ya…, gitu-deh”
“Ahhh masa malu ? malu-malu kucing kali….. kaya Papa-mu dulu“
“eiittt….!! Mama, jangan buka kartu Papa doonggg…! “
Ira tersenyum untuk menyembunyikan kegalauan dihatinya.
“Maaa… Ira pergi dulu yaa…”

*********************************
Halteu bis…

“Haduh…gimana sichhh??!! Lama amat!!“ Pak Romi menengokkan kepala ke arah kanan menanti “makanan-nya” dengan tidak sabaran, wajahnya yang cemberut tiba-tiba berseri-seri ketika seorang gadis cantik berlari-lari kecil dari kejauhan.
“Non Ira gimana sich? Lama amat!! “ Pak Romi menghardik gadis cantik keturunan Chinese itu begitu ia bediri dihadapannya.
“Ya…,Ira-kan harus ganti baju di WC umum dulu Pak, supaya nggak ketahuan orang tua Ira” Ira berusaha menjelaskan kalau demi memuaskan permintaan Pak Romi ia mengganti pakaian-nya di sebuah WC umum tidak begitu jauh dari halteu bis tempat Pak Romi menunggu.
“Wah-wah cerdik juga, seksi amat Nonn ? Ehhh Nonn, nggak pake Cd-kan?? “ Pak Romi berbisik sambil menatap ira dengan tajam, si tua bangka tersenyum lebar ketika Ira menggelengkan kepalanya.
“Oceh-oceh…Non Ira emang sip-lah, naek Nonn“ begitu Ira duduk ,  motor tua Pak Romi melaju dengan tersendat-sendat.
“Eh-ehhh.. ati-ati Pakkk…, ntar jatuhhh”
“Ooo…, tenanngggg…, dulu waktu muda, saya ini seorang pembalap professional loh Non , yaaaa tapi ngak pernah masuk tipi sich”
“Aduhh-duhh, mampus dahh, bisa nggak sichhh.! aaaaa… Mamihhhhhh!!! aaaaa“ selama perjalanan Ira memaki, mengeluh dan menjerit ketakutan berkali-kali didalam hati karena motor Pak Romi terkadang limbung kesana kemari, kedua tangan Ira berpegangan kuat-kuat pada jaket Pak Romi, akhirnya perjalanan yang terasa jauh dan menakutkan itu berakhir juga ketika motor Pak Romi berhenti di sebuah lapangan parkir yang luas, dengan terburu-buru Ira merosot dari atas boncengan motor tua Pak Romi.

“Ayoo Nonnnnn, he he he he”setelah memarkir motor tuanya, Pak Romi menggiring Ira menuju ke sebuah gedung bioskop tua yang hampir bangkrut.
“Dikkk, minta tempat duduk 2 yang paling pojok di sebelah atas”setelah membayar 2 lembat tiket yang diberikan oleh seorang laki-laki gemuk pak Romi menggandeng Ira masuk ke dalam ruangan bioskop dan duduk bersebelahan di kursi paling pojok sebelah atas di ruangan bioskop yang gelap gulita.
“Pssssstttt…Nonn, duduknya yang ngangkang he he he” Pak Romi berbisik di telinga Ira.
“Pakkk.., jangannnn ah, ntar ada yang liat”
“nggak akan…, gelap, terus yang nonton juga sedikit, di belakang sini cuma ada saya sama Non Ira!!” dengan terpaksa Ira memenuhi permintaan Pak Romi, ia mengangkangkan kedua pahanya lebar-lebar. Ira menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya ketika tangan Pak Romi mulai mengusapi lututnya kemudian naik untuk menggerayangi pahanya sebelah dalam, tangan si tua bangka terus naik hingga menyentuh selangkangan Ira.
“Esshhhh… Pakkkk…“ suara sound system yang menggelegar seolah menyamarkan suara Ira ketika pak Romi mencelupkan sebuah jarinya ke dalam jepitan vagina gadis itu. Takut-takut horny, itulah perasaan yang dirasakan oleh Ira saat ini. Ia semakin gelisah ketika Pak Romi menaikkan baju kaosnya ke atas  hingga tersangkut di atas buntalan payudaranya yang membusung dengan indah. Dari bangku pojok ruangan bioskop, ia mencoba untuk melayangkan pandangannya berkeliling, antara lega dan gelisah ketika menatap beberapa bayangan hitam tengah duduk jauh di depan sana.

“Ahhhhh…… hssshhhhh… Pak Romiii… “ Ira mendesis ketika bayi tua renta itu menyusu dengan rakus.
Semakin lama punggungnya semakin tertekan tenggelam pada sandaran kursi ketika tangan si tua renta menekan bahunya agar bersandar sementara mulut Pak Romi semakin rakus mengecupi dan mengemuti sepasang bukit kembar milik gadis itu, tangan pria itu kembali menyusup ke selangkangannya, beberapa saat kemudian tubuh Ira tersentak menggeliat ketika si penjaga perpustakaan menusukkan jari telunjuk dan jari tengahnya sekaligus ke dalam cepitan vagina gadis itu.
“Hhhh Hhhhhhh….. Hhhhhhhhhh!!” Ira merasakan dadanya semakin sesak ketika cumbuan-cumbuan pak Romi mulai memacu gairahnya menuju ke puncak kenikmatan, bibirnya merintih-rintih kecil merasakan dua buah jemari Pak Romi yang bergerak semakin cepat menusuki liang vaginanya, merasakan batang lidah Pak Romi yang menggelitiki putting susunya yang mengeras.
“Ahssshhh… crrr crrrrrrrrrrrruttttttt!!!.”terdengar suara desisan dari bibir mungil seorang gadis cantik yang tengah digeluti oleh seorang bandot tua di bangku paling pojok atas kanan di dalam ruangan bioskop itu yang gelap.
Bersamaan dengan muncratnya cairan kewanitaannya, dengan reflek tangan kiri  Ira memegangi pergelangan tangan Pak Romi yang tengah mengocok-ngocok selangkangannya dengan kuat, sedetik setelah merasakan ada cairan hangat yang menyiram kedua jarinya dengan cepat pak Romi menungkikkan kepalanya hingga terbenam di selangkangan gadis itu.

“Srrrrpphhhh… Sllllrrruuuppphhhh….ckk, sllllrrrruuppppp” mulutnya mengenyot dan menyeruput cairan gurih yang meleleh dari belahan bibir vagina si gadis yang semakin terlena menikmati emutan-emutan mulutnya. Pak Romi tidak menelan cairan kewanitaan Ira namun menampung cairan itu di dalam mulutnya.
“Euunn…” hanya suara itu yang terdengar dari bibir Ira ketika jari kanan Pak Romi mencapit kedua pipinya hingga mulutnya menganga
Mulut Pak Romi mendekati mulut Ira kemudian membuka mulutnya, Ira membeliak tak percaya ketika lelehan cairan kewanitaannya bercampur dengan air liur Pak Romi tumpah ke dalam mulutnya menyusul dengan masuknya batang lidah si tua bangka mengaduki rongga mulutnya dan menggelitiki batang lidahnya yang tersembul keluar dari rongga mulutnya untuk melayani permainan lidah Pak Romi. Sambil meremasi payudara Ira mulut pak Romi mengemut-ngemut batang lidah Ira yang kini terasa lebih gurih karena lidahnya berbalutkan cairan kewanitaan gadis itu yang sebagian tumpah meleleh di dagunya ketika berciuman dan berperang lidah dengan Pak Romi. slap.., slappp.. slapppp, lidah Pak Romi kembali terayun-ayun menjilati putting gadis itu. Tangannya bergerilya menggerayangi selangkangan gadis cantik keturunan Chinese itu di tengah-tengah gelapnya ruangan bioskop yang menyembunyikan aksi bejatnya terhadap seorang gadis cantik yang duduk berssandar dengan pasrah ketika susunya diemut dan dijilati oleh seekor mahluk keriput berusia renta, bibir mungilnya merintih ketika tangan mahluk itu menggerayangi kelembutan lekuk liku tubuhnya yang halus mulus. Sambil menggusur tubuh mulus Ira Pak Romi membaringkan tubuh rentanya terlentang di bawah jajaran kursi bioskop. Vagina Ira mengangkangi wajah Pak Romi sedangkan wajahnya berhadapan dengan penis si tua bangka.dengan kesal pak Romi meremas kuat-kuat buah pantat Ira agar siswi cantik itu segera memulai pekerjaannya.

“Ah-duhh-duh, Iy Iya Pakk Iya…. Cupphh Cupppp… cppppkkk…. Srrrllllppph.. Hoofffhhhhhmm” Ira segera menciumi dan menjilati penis Pak Romi, kemudian setelah mulutnya menelan kepala penis si tua bangka, ia terpaksa mengemut-ngemut kepala kemaluannya untuk memuaskan nafsu bejat si penjaga perpustakaan, semakin liar Ira menggeluti penis Pak Romi ia merasakan remasan-remasan tangan pria itu yang tadinya menyakitkan semakin lama semakin lembut meremasi bongkahan buah pantatnya yang bulat padat.
“he he he.. Slllccck sllccccckkkk” kepala Pak Romi terangkat-angkat untuk menjilati dan mengemut-ngemut belahan vagina Ira yang gurih asin lezat. Sambil menyantap lezatnya vagina si gadis, jari tengah Pak Romi bergerak menusuki liang anus Ira, cukup lama Pak Romi dan Ira bermain 69 dalam kegelapan gedung bioskop hingga Ira merasakan tubuhnya dibalikkan oleh Pak Romi kemudian pinggul ditarik kebawah mendekati selangkangan si tua bangka yang bangkit duduk mengangkang sambil menekankan pinggul gadis itu ke arah selangkangannya, Ira mengalungkan kedua tangannya pada leher Pak Romi.
“Ohhhh… Aaaaahhhhhppphhhh…Slepppppppppppphhh” wajah Ira terangkat ke atas ketika penis milik pak Romi merayap masuk semakin dalam ke dalam himpitan liang vaginanya, Ira memincingkan matanya sambil memandang berkeliling, beberapa sosok bayangan hitam tampak asik menonton di bangku tengah dan di bangku depan, mereka sepertinya tidak mempedulikan apa yang tengah terjadi di bangku pojok atas ruangan bioskop itu yang gelap.

“Ahhhh… Ahhhh… Pee.. pelanhh.. pelannnnhh Ahhhhh!!” tubuh Ira terangkat-angkat tersentak ke atas ketika sebatang penis bergerak dengan  cepat dan kuat menghujam-hujam belahan vaginanya, kedua mata Ira yang sipit terpejam rapat hingga tidak menyadari kalau Pak Romi mengarahkan sebuah pentungan karet ke arah liang anusnya.
“Jrebbbb…!! Awwwwww!! Aduh-duh Owwwww!!” gerakan pinggul Ira terhenti ketika sebatang pentungan yang terbuat dari karet itu ditusukkan pak Romi ke dalam lubang duburnya, mata sipit gadis itu membeliak merasakan pentungan karet itu menerobos semakin dalam kemudian mengaduk-ngaduk liang anusnya, bersamaan dengan itu tubuhnya kembali tersentak-sentak keatas ketika vaginanya dihajar oleh penis Pak Romi. Tubuh Ira bergetar hebat, tusukan-tusukan itu membuat tubuhnya terasa semakin hangat-hangat panas, butiran-butiran keringat yang meleleh serasa menggelitiki tubuhnya yang mulus
“Ahhhh Pakkkkk!! Cretttttt!! Plofffhhhh!! Unnnhh..Blukkkk!” setelah mencabut penisnya Pak Romi mendorong tubuh Ira hingga gadis itu terlentang pasrah mengangkang dengan sebatang pentungan karet yang masih tertancap dalam-dalam di liang anusnya, kedua matanya terpejam-pejam merasakan vaginanya yang masih berdenyutan, cairan kewanitaanya muncrat berkali-kali dengan nikmat.
Ira menutup kedua matanya ketika tubuh si tua bangka  merangkak menaiki dan menindih tubuhnya, siswi cantik itu terdiam sambil mengutuk di dalam hati ketika tubuh yang renta itu mulai meneduhi tubuhnya, kecupan-kecupan liar Pak Romi mengecupi lehernya yang jenjang, jilatan-jilatan batang lidahnya menggelitiki rahang dan dagunya.

“Duhhh.. kasar amat sih!“ Ira mengomel dalam hati ketika tangan Pak Romi meremas-remas payudaranya dengan kasar, jilatan-jilatan pria itu semakin turun ke arah belahan dadanya , menjijikkan sekali rasanya ketika mulut si tua bangka melahap kedua bukit ranum di dadanya, menjilat, mengecupi dan mengemut-ngemut pentil susunya, ciuman-ciuman Pak Romi merayap turun dan terus turun…
“Idihhhh…!! “ kedua tangan Ira menjambak rambut kepala Pak Romi yang terbenam di antara selangkangannya.
“Duhhhhh beceknya, lubang becek yang nikmat nehe he he he” Pak Romi menjulurkan batang lidahnya kemudian menyelipkan lidahnya di antara belahan bibir vagina Ira yang sudah becek kuyup oleh cairan-cairan kewanitaannya dengan tekun pak Romi mengoreki belahan vagina gadis cantik itu hingga Ira menggelinjang-gelinjang kegelian setelah Pak Romi merasa puas menjilat-jilat dan mengoreki belahan vagina gadis itu,  jemari-nya menyibakkan belahan vagina Ira diendusinya harum liang vagina siswi cantik itu, jari jempolnya bergerak mencari-cari tonjolan daging mungil yang bersembunyi ketakutan mencoba untuk berlindung di kegelapan ruangan bioskop, sebuah senyuman mengembang di bibir si tua renta ketika jari jempolnya menyentuh tonjolan daging klitoris si gadis, diurut-urutnya tonjolan klitoris Ira yang semakin menonjol karena terrangsang.
“Huuhhhh.. Uhhhhhh Hhhhh Uhhhhhhh….” Ira merasakan nafasnya semakin berat dan dadanya sesak ketika merasakan pijatan-pijatan jari Pak Romi yang memijati kelentit-nya, sesekali tubuh mulus Ira tersentak nikmat ketika merasakan lumatan-lumatan rakus mulut si penjaga perpustakaan yang tengah asik menggeluti vaginanya, tubuh Ira mengejang ketika Pak Romi menarik pentungan karet itu dari dalam liang duburnya.

“Ohhhhhhhhhh!!“ Ira merasakan bokongnya terangkat ke atas, kedua kakinya dicekal oleh si tua bangka, dikangkangkan menggantung di udara, Ira menggigit bibirnya ia tahu benda apa yang tengah mendesak-desak belahan di selangkangannya, satu tusukan yang kuat membuat tubuhnya tersentak, liang vaginanya kembali disesaki oleh sebatang penis milik Pak Romi yang mulai aktif bergerak keluar-masuk menusuki belahan vaginanya, tusukan-tusukan batang penis Pak Romi membuat tubuhnya terguncang dengan hebat.
“Ploffff… Pleeepppp… Plepppp… Plepppph….” samar-samar telinga Ira mendengar suara tumbukan – tumbukan penis Pak Romi yang tengah menumbuki belahan bibir vaginanya, angannya melayang tinggi di kegelapan ruangan bioskop, perutnya mengejang-ngejang seperti menahan sesuatu ketika berkali-kali penis si penjaga perusahaan bergerak menusuki belahan vaginanya
“DORRR…!! DOORRRR…. DOORRRR!!“ serentetan tembakan menggema dengan keras memenuhi ruangan bioskop, film Rambo IV yang dibintangi oleh Sylvester Stallone semakin seru dipenuhi dengan adegan aksi adu tembak yang membabi buta, sebrutal dan seliar tusukan-tusukan batang penis Pak Romi yang tengah memacu penisnya menusuki cepitan vagina si gadis cantik bermata sipit yang tengah terengah-engah kewalahan. Nafasnya termegap-megap merasakan serentetan tusukan menusuki liang vaginanya dengan cepat dan kuat.
“CLEPP…!! CLeeppp…. Cleppppp….!! Cretttt… Crettttt“ punggung Ira melenting ke atas, wajahnya yang cantik tergolek lemas, payudaranya masih teruncang akibat tusukan-tusukan liar Pak Romi yang semakin kuat mendesak-desak liang vaginanya, seiring dengan suara dentuman yang memenuhi ruangan bioskop, sperma Pak Romi turut meledak memenuhi liang vaginanya, KECRROOOTT…CROOOOTTTT…!! BRUKK!

Tubuh renta Pak Romi Ambruk menindih tubuh Ira, dengus nafasnya dan gadis itu berdengusan di tengah suara tepukan tangan beberapa  penonton di bangku tengah, setelah berhasil menguasai diri Pak Romi bangkit dan duduk di kursinya, demikian juga halnya dengan Ira, gadis itu menurunkan baju kaosnya yang tersibak sampai ke atas gundukan buah dadanya  kemudian menurunkan rok mini yang tersangkut dipinggulnya, butiran keringat masih meleleh, mengucur dengan deras di lehernya yang jenjang, nafas Ira memburu sekeras dan sekencang nafas Pak Romi, dua insan yang habis melakukan perbuatan terlarang itu bersandar dengan lemas bersebelahan di kursinya masing-masing. Sekitar lima belas menit kemudian terdengarlah suara tepuk tangan riuh ketika John Rambo menghabisi si pentolan penjahat yang sadis, ruangan bioskop yang tadinya gelap gulita kini terang benderang ketika lampu di ruangan itu menyala.
“Yaaa ceritanya abis dehhh… ngehe he he he, yuk say kita pulanggg..”
“He-eh….” Ira menjawab singkat kemudian mengekori Pak Romi ke lapangan parkir, Ira tersenyum pahit ketika Pak Romi berusaha menyalakan motor tuanya, gawat dah! selamat nggak ya nyampe rumah? Ira bertanya-tanya di dalam hati.
“Ngehe nyala, Ayo Nonn, Naekkk!” jantung Ira kembali berdetakan dengan kuat ketika duduk di boncengan motor tua itu di belakang tubuh Pak Romi, apalagi ketika motor tua itu melaju sambil oleng kesana kemari.
“Waaaaaa…..ati-ati PAKKKKK……!!! “
“WEittttsss…., jangan goyang-goyang Nonnn……!!”
“Aaaaaw…. Huppppppppppp…..”
“ MAMPUSSS…!!BRAKKKK….”
Dengan cerdik Ira buru-buru melompat dari atas boncengan motor tua Pak Romi dan mendarat tanpa terluka di atas kedua kakinya sementara Pak Romi jungkir balik bergulingan bersama motor tua-nya, si tua bangka babak belur terkapar tanpa daya, terdengar suara mengaduh dan erangan si bandot tua yang memilukan hati.
“WADOOOHHH… HADOOOOOHHHHH…….Errrrhhhhhh…”