Jumat, 24 Mei 2013

Perkosaan : Malam Jahanam



Aku tersadar dan menemukan diriku sudah terikat di kursi di
ruangan tengah rumah peristirahatan di Puncak. Aku dan
beberapa teman berserta istri mereka sedang ber-weekend di
puncak. Istriku, Diah sedang kembali ke Jakarta mengambil
beberapa keperluan yang tertinggal. Sedangkan aku sendiri baru
pulang berjalan-jalan sendiri, sekitar pukul 7 malam ketika sebuah
pukulan mendarat di kepalaku tepat ketika aku akan membuka
pintu.
Di tengah ruangan ada dua orang berdiri mengawasiku. Yang
satu berkulit penuh tato, dan yang satu berbadan kekar.
"Hei, lo sudah bangun. Bagus jadi lo bisa liat bagaimana kita
mainin istri lo sekarang!" kata si Tato.
Diah! Diah akan pulang sebentar lagi. Hampir bersamaan,
terdengar kunci pintu depan diputar dan Diah masuk ke ruang
depan. Si Kekar langsung mendekati dia sebelum Diah sadar apa
yang terjadi. Diah terkejut dan berusaha melepaskan pelukan si
Kekar. Kakinya menendang-nendang. Tapi pelukan si Kekar tidak
dapat dilepaskannya. Kemudian ia melihat si Tato, berdiri
disampingku dengan pisau panjang di leherku.
"Diem atau dia mati!" katanya.
Diah langsung berhenti meronta-ronta. Sementara itu si Kekar
sekarang menekuk tangannya ke belakang.
"Ka, kalian mau apa?"
Si Tato berjalan mendekati Diah tanpa menjawab. Kemudian ia
menarik dan merobek t-shirt yang dikenakan oleh Diah. Nafas
Diah tersentak ketika dengan cepat si Tato dengan pisaunya
melucuti BH dan celana jeans yang dikenakannya. Sekarang Diah
berdiri di tengah ruangan hanya dengan memakai celana
dalamnya. Payudaranya yang penuh bulat terbuka, demikian
juga dengan tubuhnya yang putih mulus, tidak tertutup selembar
benangpun. Diah baru berumur 25 tahun, dan kami baru
menikan 3 bulan yang lalu.
"Ampun, jangan.." Diah meronta sambil memandangku putus
asa.
"Diem brengsek!" kata si Tato.
Kemudian ia menyeret Diah ke depan kamar mandi, dan ia
meletakan kedua tangan Diah pada kusen pintu kamar mandi
sehingga Diah berdiri dengan bertumpu ke depan dengan kedua
tangannya. Kemudian si Tato melebarkan kaki Diah. Diah
sekarang berdiri dengan kaki terbuka di depan kamar mandi, dan
tepat di hadapannya terdapat kaca rias, setinggi tubuh manusia.
Kaca itu biasanya digunakan Diah untuk mencoba baju-baju yang
baru dibelinya. Si Tato lalu merobek celana dalam Diah dan
menjatuhkannya ke lantai. Sekarang Diah bisa melihat dirinya
melalui cermin di depannya telanjang bulat, dan di belakang
dilihatnya si Tato sedang mengagumi dirinya.
"Gila bener! Gue suka pantat lo. Lo bener-bener oke!" si Tato
menampar pantat Diah yang sebelah kiri yang membuat Diah
menjerit dan melompat kesakitan. Lalu tanpa menunggu lagi, si
Tato melepaskan celananya dan memperlihatkan penisnya yang
sudah keras. Si Tato kemudian menyelipkan penisnya diantara
kedua kaki Diah lewat belakang, untuk diperlihatkan pada Diah.
"Jangan pak. Jangan! Ampun, jangan!" Diah menoleh ke belakang
dan memandangku. Terlihat air mata meleleh dari matanya. Aku
meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari ikatan.
Si Tato masih tidak peduli melihat Diah memohon-mohon. Kepala
penisnya kemudian menyusuri belahan pantat Diah, terus
menuju ke bawah, kemudian maju mendekati bibir vaginanyah.
Setelah tangan si Tato memegang pinggul Diah dan dengan satu
gerakan keras bergerak maju.
"Arrgghh, jangaan! Ampuun!" Diah menjerit-jerit ketika penis si
Tato mulai membuka bibir vaginanya dan mulai memasuki
lubang kemaluannya. Kaki Diah mengejang menahan sakit ketika
penis si Tato terus menembus masuk tanpa ampun.
Si Tato mulai bergerak maju mundur memperkosa Diah dan
ketika kepala Diah terjatuh lunglai kesakitan, ia menarik rambut
Diah sehingga kepala Diah kembali terangkat dan Diah kembali
bisa melihat dirinya disetubuhi oleh si Tato melalui cermin.
Kadang-kadang si Tato menampar pantat Diah berulang kali, aku
juga melihat payudara Diah yang tersentak-sentak setiap kali si
Tato memasukan penisnya ke dalam vagina istriku.
Tiba-tiba si Tato mengeluarkan penisnya dari vaginanyah. Diah
langsung meronta dan berlari menuju pintu, berharap seseorang
akan melihatnya minta tolong, biarpun dirinya telanjang bulat.
Tapi si Kekar terlebih dahulu menyambar pinggangnya sebelum
Diah sampai ke pintu depan.
"Ahh, tolong! Tolommpphh", Teriakan Diah dibungkam oleh
tangan si Kekar sementara itu si Tato mendekat dan mengikat
tangan Diah menjadi satu ke depan. Setelah itu, Diah didorong
hingga terjatuh di atas lutut dan sikunya. Sekarang si Kekar,
membuka celananya dan memasukan penisnya ke mulut Diah.
"Mmpphh!", Diah berteriak, dengan penis di dalam mulutnya.
Sementara itu si Kekar masih diam dan terus menggerakkan
penisnya di mulut Diah. Mata Diah tertutup dan wajahnya
memerah, sementara itu air mata masih meleleh turun di pipinya.
Ketika itu si Tato masuk ke kamar tidur kami dan ketika kembali ia
membawa salah satu ikat pinggang kulitku. Si Kekar kemudian
mengeluarkan penisnya dari mulut Diah. Diah yang masih
tersungkur di atas lutut dan sikunya terlihat lega. Tapi tanpa
peringatan lagi, si Tato mengayunkan ikat pinggang ke pantat
Diah.
"Aduuh. Sakiit! Ampuun! Jangan, pak, sakit!", si Tato terus
memukuli pantat Diah, sementara Diah berusaha merangkak
menjauh, dan berusaha berdiri. Akhirnya Diah sampai ke sofa
dan berusaha berdiri. si Tato berhenti memukul dan langsung
berlutut di belakang Diah dan meremas pantat Diah.
"Jangan bergerak!" anacam si Tato.
Diah sekarang bersandar pada sofa. Payudaranya tertindih
badannya di sofa, sementara ia berlutut di lantai.
"Ampun pak! Lepaskan saya pak! Sakit pak! Ampun!".
"Diem!" bentak si Tato. si Tato membuka belahan pantat Diah dan
meraba-raba liang anusnya. "Ap, apa, mau kalian.".
"Siap, siap sayang. Gue musti ngerasain pantat lo yang putih
mulus ini!".
Diah memandangku dengan ketakutan, kemudian ia menoleh ke
si Tato yang ada di belakangnya. Wajahnya mulai memucat.
"Jangan! Jangan pak. Saya nggak mau diperkosa di situ pak!
Ampun!".
"Well, gue tetep mau peduli lo mau apa nggak!" si Tato menarik
tubuh Diah hingga ia terjatuh di atas sikunya lagi ke lantai, dan
mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi. Kemudian ia menempatkan
kepala penisnya tepat di tengah liang masuk anusnyah.
Kemudian ia membuka belahan pantat Diah lebar-lebar. "Ampun,
jangan! Sakit! Ampun pak, ampun! aakkhh" si Tato mulai
mendorong masuk, terus masuk sementara Diah mejerit-jerit
minta ampun. Diah meronta-ronta tak berdaya, hanya semakin
menambah gairah si Tato untuk terus mendorong masuk. Diah
terus menjerit, ketika perlahan seluruh penis si Tato masuk ke
anusnya.
"Ampun! Sakit sekali! Ampun!" jerit Diah, ketika si Tato mulai
bergerak pelan-pelan keluar masuk anusnyah.
"Buset! Pantat lo emang sempit banget! Lo emang cocok buat
beginian!" kata si Tato sambil memandang mataku.
"Lo udah pernah nyoba pantat istri lo belon? Bener-bener kualitas
nomer satu!".
Tangisan Diah maskin keras. "Sakit! Sakit sekali! Ampun, sakit!
Sakit pak, ampun!" si Tato menampar pantatnya.
"Gila, gue bener-bener seneng sama pantat lo!"
Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu depan. Sebelum Diah sempat
berteriak, tangan si Tato sudah menutup mulutnya dan ia
mendorong penisnya masuk ke anusnyah. Si Kekar kemudian
menuju ke ruang depan yang gelap, ketika pintu depan terbuka.
"Di? Ini gue! Kok pintu lo nggak dikunci sih?"
Santi! Sahabat Diah. "Ntar kalo ada ma.. Aahh!" si Kekar sudah
menerkam dan memeluk tubuh Santi dari belakang. Terdengar
Santi berontak dan meronta-ronta. Tapi tak lama kemudian Santi
masuk dipegangi oleh si Kekar dengan kedua tangan terikat ke
depan.
Untuk pertama kalinya si Kekar berkata, "Yang ini punya gue."
Santi mempunyai tubuh lebih kurus dan lebih tinggi. Buah
dadanya tidak sebesar Diah tapi tidak mengurangi kecantikan dan
keindahan tubuhnya. Sementara itu si Tato kembali menyetubuhi
Diah lewat pantatnya, sementara si Kekar mulai melucuti pakaian
Santi.
"Lepasin! Jangan! Diah, kamu kenapa?" Santi berteriak ketika si
Kekar menarik BH-nya hingga lepas dan mulai menarik celana
jeansnya.
"Jangan! Lepasin Santi, jangan! Kalian perkosa saja saya. Jangan
ganggu Santi! Jangan!" si Tato langsung memasukan penisnya
keras-keras.
"Jangan banyak omong! Kita mau lo berdua!" Kemudian ia
kembali bergerak dengan brutal dan keras.
Si Kekar berhasil menelanjangi Santi, sementara Santi dengan
kedua tangan terikat, berusaha menutupi payudaranya. Si Tato
kemudian menarik penisnya keluar dari anusnyah, membuat
Diah tersungkur lemas kesakitan di lantai. Kemudian ia membantu
si Kekar meringkus Santi.
"Lo mau pake pantatnya juga?" tanya si Tato.
"Tentu dong!"
"Oke"
Kemudian mereka mendorong Santi hingga terjatuh di atas lutut
dan sikunya di hadapanku. Kemudian si Tato menyeret tubuh
Diah dan membaringkannya di sebelah Santi. Sekarang mereka
berdua berada dalam posisi merangkak tepat di hadapanku. Si
Kekar dan si Tato mulai membandingkan antara Diah dan Santi.
"Wow, liat mereka! Beda tapi oke semua!".
"Lo pilih yang mana? Yang dada besar atau yang pantatnya
kenceng?" tanya si Kekar.
"Gue pikir tadi lo bilang yang pantatnya kenceng punya lo!" jawab
si Tato.
"Iya, tapi gue lagi baek nih!".
"Gue ambil yang dadanya gede aja. Pantatnya lebih bunder."
jawab si Tato sambil menunjuk Diah.
"Oke kalo gitu yang pantatnya kenceng buat gue!"
Akhirnya mereka berdua berlutut di belakang mereka. Si Tato di
belakang Diah dan si Kekar di belakang Santi. Mereka
menempelkan kepala kejantanannya ke liang dubur Diah, serta
membuka belahan pantat Diah dan Santi. Dan bersamaan dengan
mulai mendorong masuk ke dubur mereka berdua yang telah
menganga dengan lebar.
"Ampun! Jangan lagi! Sakit! Jangan disitu lagi!", Diah menjerit
ketika penis si Tato mulai masuk lagi ke anusnya.
"Aduuhh, sakiit. Diah toloong!" Santi menjerit lebih keras lagi,
ketika anusnya yang kecil dimasuki oleh penis si Kekar.
"Diem semua! Dasar cewek murahan!" bentak si Kekar.
Si Tato terus bergerak maju mundur sambil mengerang nikmat.
"Wah, gue bener kagum sama pantat istri lo ini!"
Aku tak berdaya melihat kedua wanita itu mengerang dan
menjerit diperkosa oleh mereka. Kulihat tangan si Kekar meraih
payudara Santi yang kecil tapi padat dan meremasnya keras-
keras. Kemudian ia menariknya tanpa kasihan. Jeritan Santi
kembali terdengar. Melengking.
TAMAT

Aku di perkosa Om ku



Saat itu aku berusia 16 tahun. Keluargaku tinggal di sebuah daerah
di Jawa Tengah. Kami memang bukan orang kaya raya, tapi
setidaknya kami hidup berkecukupan. Aku berkeinginan untuk
melanjutkan sekolah SMU ku di Jakarta. Pada awalnya orang tuaku
menolak, alasannya karena mereka menganggap hidup di Jakarta
sangatlah sulit. Namun tekadku sudah bulat. Akhirnya aku
berangkat dengan kereta menuju Jakarta. Perjalanan sehari
semalam ini memang membuatku pegal walaupun kereta cukup
nyaman. Aku sulit memejamkan mata karena terus-menerus
membayangkan gemerlapnya Jakarta. Namun niatku bukan untuk
bersenang-senang, aku mau belajar, menuntul ilmu setinggi-
tingginya.
Akhirnya kereta tiba di stasiun Gambir, kira-kira pukul 11 siang.
Ternyata Jakarta sangat terik! Ini memang bukan pertama kalinya
aku ke Jakarta. Pernah beberapa kali sebelumnya aku ke kota ini
untuk keperluan keluarga dan liburan. Tapi kali ini aku pergi sendiri.
Dengan berbekal catatan rute angkutan umum, aku beranikan diri
untuk mencari bus kota. Supir taksi dan ojek pun bertubi-tubi
menawarkan jasa. Aku mau irit sajalah, lagipula hanya 2 kali naik
bus, bisa lahh…
Bus melaju ke selatan Jakarta, tempat dimana tante dan om ku
tinggal. Jalanan cukup lancar siang itu, jam 1 aku sudah tiba di
rumah mereka. Tante dan om menyambut dengan ramah. Aku
langsung diantar ke kamar tamu. Mereka sudah memiliki anak
berumur 3 tahun. Rumah ini memang tidak terlalu besar, namun
cukup nyaman untukku. Hari itu kuhabiskan waktu untuk
bermain-main dengan Dipo, anak tante dan omku.
Hari-hari sekolah sudah dimulai, ini adalah tahun ajaran baru, dan
aku duduk di kelas 1 SMU. Suasana belajar disini tidak seperti di
kampung. Disini lebih ramai dan alat praktikumnya juga lebih
lengkap. Aku sangat bersemangat sekali sekolah. Uang jajan rutin
dikirim orang tuaku. Aku mengakali uang jajanku supaya bisa
tersisa banyak karena ngga mungkin aku minta uang tambahan
pada tante dan om ku. Masa' udah numpang, minta uang pula…
Setiap hari aku juga membantu pekerjaan rumah. Hal ini ngga aku
kerjakan dengan terpaksa, karena ini juga bentuk terima kasih
kepada mereka. Begitulah, setiap harinya kegiatanku, berangkat
sekolah pagi-pagi, pulang jam 4 sore, bantu-bantu pekerjaan
rumah. Bila ada keperluan diluar, aku usahakan untuk tidak pulang
terlalu malam.
Kira-kira sudah 6 bulan aku tinggal disini. Dan mulai hari itu lah
banyak kejadian yang menimpa diriku. Tanteku kini mempunyai
usaha tempat makan yang buka dari jam 5 sore sampai jam 1
malam. Hampir setiap ku pulang sekolah, aku tidak bertemu
tanteku karena dia sudah harus berada di tempat makan tsb jam
setengah 5. Jadi aku hanya akan bertemu dengan om ataupun
Dipo, itu juga kalau Dipo ngga ikut pergi dengan tanteku. Pernah
suatu ketika saat ku pulang sekolah, saat berganti baju di kamar,
omku tiba-tiba membuka pintu. Aku kaget dan reflek menutup
tubuhku yang hanya memakai bra dan cd. Dan dia langsung
bilang maaf dan pergi menutup pintu.
Hari-hari selanjutnya kadang ku memergoki om yang sedang
melihat paha ataupun toketku. Bajuku di rumah juga ngga
menggoda. Kaos dan celana pendek ataupun daster selutut. Suatu
malam, om meminta tolong memijit punggung dan kakinya,
katanya terkilir. Awalnya aku agak ragu, namun aku ngga mau
dibilang membantah. Posisi om sudah tengkurap di atas karpet.
Aku pijit bagian punggungnya walaupun aku sendiri sebenarnya
tidak tau bagaimana cara memijit yang benar.
"Aahh, enak banget pijitanmu, Vie.. Coba ditekan lebih kuat lagi
dong"
Aku menurut saja.
"Pinggang om juga pegal, Vie, tolong bagian situ lebih lama yah"
Tanganku turun ke bagian pinggannya. Ku pijat dengan 2 tangan
dan ditekan lebih keras.
"Enak banget, Vie, Kayaknya pinggang om udah ngga sakit lagi
deh, kamu emang pintar.. Sekarang pindah ke betis dan paha om
yah! Udah pegel bgt nih."
"Ya om," jawabku.
Pertama-tama ku pijat bagian pergelangan kakinya. Lalu pindah ke
betisnya, turun lagi ke bagian pergelangan kakinya, bergitu
berulang-ulang. Om memakai celana yang aga pendek setengah
paha.
"Udah, Vie, sekarang yg bagian paha yaa"
Lalu kupijat bagian paha, sesuai kata om.
"Mmmmhhh mmmhh"
Berulang-ulang om mengaluarkan suara seperti itu.
"Sakit ya, om?
"Ngga kok, Vie, justru enak banget malah! Coba keatasan dikit,
Vi.."
"Disini?"
"Naikan lagi dikit"
"Disini?"
"Iyaaa, enak bgt itu, Vi!"
Aku memijit paha bagian dalam, dekat sekali dengan
selangkangannya om.
Sejujurnya jariku sudah mulai pegal, namun om belum minta
berhenti, malah sepertinya dia keenakan.
Tiba-tiba dia membalikkan badan, lalu meminta aku memijat
pahanya yg bagian depan.
Kulihat sedikit basah di celana om. Tapi aku pura-pura ngga
melihat saja.
"Ayo pijat, kok malah bengong?"
"Ehhh ohh iya… Hehehe"
Sambil kupijat pahanya, kulihat om merem melek dan
mengeluarkan suara desahan yg pelan.
"Vi, kamu punya pacar?"
"Loh kok nanya ky gitu om?"
"Yaa nanya ajaaa, ngga mungkin kan anak seumuran kamu ngga
punya pacar. Tenang aja, om ga akan bilang sapa-sapa."
"Mmmm ya ada sih om."
"Terus kamu pernah ngapain aja sama pacar kamu?"
"Maksud om?
"Ahhh kamu pura-pura ngga ngerti! Apa pernah ciuman, atau
apa? Sejauh mana gitu lohh maksut om."
"Ehh mmm yaa biasa aja sih, om, cuma ciuman aja, sama
pegang-pegang aja."
"Hahaha om ngerti…"
Malam itu sesi pijitnya selesai sampai disitu. Begitulah hampir
setiap malam om memintaku untuk memijitnya. Kalau pulang
sekolah, kadang om suka memberi uang saku untukku, tidak
dikasi ke tanganku, tapi langsung ditaro di kantong bajuku.
Jarinyanya kadang digerakkan dengan sengaja saat didalam saku
baju, sehingga mengenai pentilku. Bagiku, uang 100ribu sangatlah
banyak.
Suatu hari, aku pulang agak malam. Jam 8 aku tiba di rumah.
Hanya ada om sedang menonton tv.
"Dari mana kamu?"
"Oh.. Aku abis dari nonton sama temen-temen, om."
"Yawda sana cepet mandi, abis ini pijitin om ya"
"Iya"
Aku menutup pintu kamar dan agak sedikit sebel karena akupun
lelah, tapi masih saja harus memijit. Kulepaskan kancing bajuku
satu persatu. Kuturunkan risleting rokku. Kini hanya bra dan cd
saja yang menempel di tubuhku. Ku tatap tubuhku di cermin
besar. Sebenarnya aku pulang malam karena tadi pacaran dulu.
Kubuka kaitan bra, dan kutekan-tekan toketku perlahan. Ahh,
toketku agak sakit karena tadi pacarku meremasnya dengan
kencang. Pentilku juga sepertinya jadi lebih mancung akibat
hisapan tadi.. Kuperhatikan bekas gigitan pacarku di samping toket
kiri. Kuremas toketku perlahan dengan kedua tangan. Ahh
nikmatnya… Andaikan pacarku bisa melakukan ini setiap hari.
Kuperhatikan ekspresi wajahku saat ku remas toket ini. Kujepit
perlahan pentilnya. Sungguh nikmatttt…
Tiba-tiba om membuka pintu! Sial!!! Aku memang lupa
menguncinya! Dengan gelagapan kurain kemeja untuk menutupi
badan.
"A.. aaa… Apaan sih om?! Kok ngga ngetok pintu dulu sihh?!"
Suaraku bergetar, aku sangat ketakutan. Terlebih lagi sekarang aku
hanya pakai cd dan om melihatku penuh napsu.
"Ngga, om cuma pengen manggil kamu aja, kirain kamu
ketiduran."
"Ngga kok om, a.. aku inget, nanti ya a.. a aku mau mandi dulu!"
Suaraku makin bergetar, om tau kalau aku sangat ketakutan.
Namun dia ngga beranjak dari pintu kamarku, malah melihatku
semakin lama dengan matanya yang penuh napsu. Senyumnya
terlihat licik!
Lalu dia melangkahkan kakinya kearahku.
"Ma mau apa?!"
"Vi, kamu terlihat cantik deh kalo ga pake baju. Om suka
ngeliatnya.."
"Ng nggak!! Sana pergiii!!!"
Aku lempar segala yang ada di atas tempat tidurku. Tas, jam
tangan, bantal, rok. Sulit sekali melempar barang-barang tersebut
sementara tangan kiriku mempertahankan kemeja seadanya yang
menutupi tubuhku.
"Sssh, Vi, jangan galak gitu doong"
Tiba-tiba dia menangkap tanganku, aku berontak sekuat tenaga,
namun tetap saja aku kalah tenaga bila dibandingkan dia. Lalu dia
memegang tanganku yg satu lagi. Kemejanya kini tersibak,
toketku menggantung bebas dan dia tertawa. Tubuhku dihempas
ke tempat tidur sementara tangannya memegang tanganku. Dia
menciumiku dengan paksa, aku berontak, kupalingkan wajahku ke
kanan kiri. Dia menggigit kupingku dan aku tetap melakukan
perlawanan.
PLAKKKKK….!!!
Sebuah temparan keras mendarat dipipiku. Perih sekali rasanya.
"Diam!!! Atau setelah ini om tampar lagi pipi kamu! Kalau masih
ngga mau diam, om sundut toket kamu ini pake rokok!!!"
Aku hanya bisa menangis.
"Ampun omm, jangannnn…. Jangan…"
Namun ngga digubrisnya, dia menciumi bibirku, memasukkan
lidahnya. Menciumi telingaku, menjilatnya sampai basah.
Ciumannya turun ke leher, digigitnya kecil-kecil. Aku ngga
sanggup meronta lagi, tanganku dibekap. Lalu dia berhenti
menciumiku.
"Toket kamu bagus banget, Vi. Om suka. Pacar kamu pasti
pernah ngemut toketmu kan? Tadi aja om liat kamu remas-remas
toketmu sendri! Sekarang om kasi yang lebih enak tapi jangan
melawan ya! Ingat, kalo kamu melawan, om sundut kamu pakai
rokok!"
Perlahan tanganku dilepasnya. Lalu dia mengelus-elus dadaku
sampai ke perut.
"Jangan, om… Plisss…"
Tangisku memang sudah berhenti, hanya tersisa sesengukan.
namun kata-kataku pun sepertinya ngga akan menghentikan om
sialan itu.
Tangannya mulai meraba-raba kedua toketku. Diremas-remasnya
dengan kencang, sambil dicium-cium. Pentilku dimainkan dengan
lidahnya, dihisap, lalu dimainkan lagi dengan lidahnya.
"Ahh…"
Aku tak sengaja mendesah.
"Tuh kan!! Om bilang juga apa, pasti enak kan!"
Lalu dia lanjutkan lagi kuluman pentilnya.
Sungguh, hisapan om memang lebih enak dibandingkan pacarku.
Pentilku dipelintir dengan kedua jarinya, dijepit, ditarik-tarik.
Walopun sedikit sakit, tapi enak.
"Nahh sekarang kamu isep punya om nih!"
"Ta tapi Vi belom pernah ngisep 'itu' om! Vi takut"
"Sini om ajarin ya"
Lalu dia turunkan celana pendeknya. Om ngga pakai celana dalam,
jadi penisnya langsung menyembul keluar. Aku kaget, dan
merasa aneh dengan bentuknya. Baru kali ini aku melihat penis
cowo secara langsung. Biasanya hanya lewat film porno.
Om menuntun tanganku untuk mengocok batang penisnya. Maju
mundur. Lalu mengarahkan ujung penisnya kebibirku.
"Emut ini, tapi jangan sampe kena gigi."
Aku emut ujung penisnya perlahan, kurasakan cairan asin keluar
dari situ.
"Ahhh ya bener, Vi, enak banget! Coba masukin lebih dalam lagi!"
Ku masukkan batang penis lebih dalam lagi ke mulut sambil
kukocok batangnya. Kulihat om merem melek saat kulakukan itu.
Kepalaku didorong maju mundur olehnya. Kadang juga badannya
yang bergerak maju mundur. Lalu om memasukkan penisnya
jauh kedalam mulutku, rasanya sampai ke kerongkongan, aku
terbatuk-batuk, ku dorong pinggulnya menjauh dari mukaku.
"Hahaha.. Keselek ya, Vi? Tapi yg barusan itu enak banget loh,
lama-lama juga kamu terbiasa!"
"Udah, om. Vi ngga mau lagi.." Aku mulai menangis lagi.
"Ngga!!! Udah tanggung nih, om mau jilat memek kamu Vi!"
"Jaa jangan…"
belom sempat kuberontak, om sudah mendorong badanku
hingga terjatuh di tempat tidur. Kakiku digeser ke pinggir tempat
tidur, dia mulai menciumi perutku, lalu menciumi celana dalamku.
Aku coba menahan kaki untuk rapat, tapi percuma saja, pahaku
ditahan oleh kedua tangannya.
Dia mulai lagi menciumi, menjilat dan menggigit vaginaku yang
masih tertutup celana dalam.
"Aaahh oohh jang jangan ommmmm…"
Tapi dia terus menggerakkan bibirnya di vaginaku.
Sekarang jarinya meraba-raba celana dalamku yang sudah basah.
"Celana kamu udah basah tuh! Enak ya? Bentar lagi om kasi yang
lebih enak!"
"Nggaaaaa!!! Jangaannn ommm!! Pliisssss!!!!"
Tapi jarinya udah menggelitik bagian klit ku. Walopun masih
tertutup cd, rasanya seperti nyata.
Klit ku ditekan-tekan, kadang digerakan seperti gerakan
menggaruk.
"Uhhh om.. Udahhhhh!!! Pliissss!"
Kakikuu dibukanya makin lebar. Kepalanya berada diantara
selangkanganku. Jarinya masih bermain di klitku. Lalu dia berhenti,
berdiri, menyuruhku bangun dengan posisi duduk. Dia pindah
duduk dibelakangku. Dadanya menempel di punggungku. Diciumi
pundakku, tangan kanannya meremas payudaraku dan tangannya
satunya memainkan klitku.
"Gimana, Vi? Enak kan? Kamu kaya gini juga ngga ke pacarmu?"
Bibir om tepat di telingaku, aku ngga tau mau jawab apa, rasanya
cuma desahan pelan yang keluar dari mulutku.
Lalu tangannya masuk kedalam celanaku.
"Wah, kamu udah becek banget, Vi. Enak nih, licin!"
Tangannya berputar-putar di vaginaku, sesekali menyentuh klit.
Aku mendesah agak keras saat jarinya menyentuh klit. Om
menyadari itu, lalu dengan sengaja, dia mainkan jarinya di klitku
sementara tangan satunya lagi memilin pentilku dengan cepat.
"Ahhh om.. U udah udahhh!!!"
Tapi gerakan jarinya makin cepat di klitku. Ku rasakan darahku
mengalir sampai ke ubun-ubun. Aku ngga tau perasaan apa ini.
Sangat aneh tapi enak sekali. Jarinya bergerak makin cepat dan
ditekan semakin dalam. Sektika aku merasakan sesuatu yang aneh
yang membuat seluruh tubuhku mengejang.
"Ahhh om!!! Apaan ini!!!"
"Nikmatin aja, Vi, ini pasti bakalan enak banget kok, percaya deh
sama om!"
Ternyata benar, seketika itu tubuhku mengejang, kurasakan
denyutan di klit dan diseluruh tubuhku.
"Ommm udah, udah!!! St stoppp!"
"Gimana? Enak kan?"
Aku ngga menjawab, seluruh tubuhku masih terasa ngilu.
Lalu om bangun dari tempat tidurku, dia berlutut diantara kedua
kakiku. Diturunkan cdku perlahan. Toketku dan pentilku diciumi
sambil melepaskan cdku.
Sekarang aku benar-benar telanjang di depan omku. Aku lihat dia
berdiri dengan penis yang tegak. Dia memuji-muji tubuhku sambil
mengocok penisnya. Vaginaku diusap-usap sambil sesekali
memainkan klitku yang masih ngilu karena orgasme tadi. Lalu dia
jilat-jilat vaginaku. Lidahnya masuk kedalam lubang vaginaku.
"Jangan!!! Jangan dimasukin om!! Plisss"
Tapi lidahnya terus masuk kedalam vaginaku, membuat sensasi
geli dan enak, tapi aku juga takut. Takut kalo selaput daraku akan
sobek karena jilatan itu. Lidah nya terus menari-nari di liang
vaginaku. Sepertinya banyak sekali cairan yang aku keluarkan, tapi
om ngga peduli, dia jilat habisss semua cairanku. Jarinya semakin
menggila memainkan klit ku. Dan aku mendapatkan orgasme
yang kedua.
"Ahh ommm, ahhhhhh uhhh"
Ngga ada lagi kata yang bisa kuucapkan selain desahan. Vaginaku
berkedut hebat seiring detak jantung. Klitku terasa ngilu sekali.
"Vi, kalo kamu orgasme kaya tadi, bikin memek kamu makin
lebar. Sini om kasi yang lebih enak lagi dibanding yang barusan!"
"Ja jangan om! Vi masih perawan, Vi ngga mauu!!! Ja jangannn
om!!!"
Aku meronta sekuat tenaga.
PLAKKKK…!!!
Tamparan mendarat di pipiku. Ini lebih perih dari yang pertama.
Aku cuma bisa menangis, saat om menggesek-gesekkan
penisnya di bibir vaginaku. Aku coba merapatkan paha namun
sia-sia. Kalah tenaga.
Perlahan-lahan kepala penisnya menerobos bibir vaginaku.
"Ssss sa sakitttt ommm!!! Sakitttt!!!"
Om ngga peduli. Dia tetap mendorong penisnya. Ku cengkram
lengannya kuat-kuat. Sedangkan tanga satunya lagi mencengkram
sperei yang sudah berantakan.
Perih dan sakit sekali saat ujung penis itu masuk walaupun
perlahan.
"Liat nih, Vi, kepala ****** om udah masuk!"
Aku ngga mempedulikannya. Aku cuma meringis menahan sakit.
Om masih berusaha memasukan penisnya, kulihat batang
penisnya berlumuran darah namun ngga begitu banyak. Aku tau,
itu darah perawanku. Air mataku mengalir karena ku menyesali
kenapa harus kehilangan keperawananku dengan cara seperti ini.
Penis om masuk semaik dalam. Kurasakan penisnya berhimpitan
dengan tulang-tulang dalam vaginaku. Lalu penisnya digerakkan
mundur perlahan, lalu bergerak maju, begitu seterusnya.
Sungguh, aku ngga merasakan nikmat. Hanya sakit yang
kurasakan.
"Uhh.. Sssaakittt ommm!! Pe pelannn pelllannn..."
Penisnya bergerak maju mundur, dan sesekali dia tegangkan
penisnya sehingga membuatku mendesah lebih kencang. Kedua
pentilku sambil dipelintir dengan tangannya dan penisnya bergerak
maju mundur. Kali ini sedikit lebih cepat. Kulihat om mengeluarkan
desahan yang semakin kencang. Dagunya terangkat dan matanya
terpejam.
"Aaahh, Vi… Om mau keluar nih… Ahhhhh"
Aku mengerti kalau om sudah akan ejakulasi.
Dia cabut penisnya dan air mani bermuncratan ke perutku.
Rasanya hangat. Om masih mengocok batang penisnya yang
berlumuran darah.
"Aahhh Vi, memek kamu eennnnakkkk banget, peju om sampe
keluar benyak banget kan tuhh… Coba kamu jilat peju om dehâ
€¦"
Lalu om menuntun jariku, mencolek peju yang berlumuran diatas
perutku.
"Coba buka mulutnya"
Jari ber-peju itu ditempel ke lidahku.
"Gimana rasanya?"
"Anehh om, ngga enak ah"
"Hahaha kamu nanti lama-lama bakal ketagihan loh! Dah sana
kamu mandi. Sepreinya dicuci, tuh darah perawan kamu tumpah-
tumpah. Inget ya, Vi, jangan bilang siapa-siapa. Kalo ngga, badan
kamu yg bagus ini bakalan kena sundut rokok, mungkin juga lebih
dari itu."
Aku cuma diam.
Saat itu cuma ada dendam terhadap om ku.
Begitulah setiap harinya, hampir setiap malam kalau tante dan
Dipo ngga ada dirumah, aku jadi budak napsu om bejat itu.
Permintaannya pun semakin aneh-aneh. Kadang dia ikat tangan ku
dan menyumpal mulutku dengan celana dalam yg kupakai lalu
badanku dilumuri lelehan coklat dan dia jilat seluruh badanku.
Pernah pentilku dijepit dengan jepitan jemuran dan lubang
vaginaku dimasukkan vibrator selama 3 jam, lalu aku disuruh
melakukan tarian erotis.
Salah satunya kejadiannya seperti ini...
Suatu hari tante ada keperluan di luar kota selama 3 hari. Di rumah
hanya tinggal aku, om dan Dipo. Setiap malam selama 3 hari itu,
om selalu menyelinap ke kamarku. Aku yang sedang tertidur tiba-
tiba merasakan ada tangan yang menyelinap kebawah dasterku.
Jari-jarinya masuk, dikocoknya g-spotku sampai aku orgasme.
Aku memang ngga pernah memakai bra dan cd saat tidur jadi
membuatnya semakin mudah saja. Ternyata om sudah
menyiapkan 'peralatan' untuk menyiksaku. Dia telanjangi aku dan
menyumpal mulutku dengan celana dalamnya. Lalu tanganku
diikat ke teralis jendela. Kaki ku diikat ke ujung kaki tempat tidur
sehingga tubuhku membentuk huruf X. Lalu om keluar kamar dan
kembali dengan membawa plastik hitam. Dia mengeluarkan
jepitan jemuran. Jepitan jemuran diarahkan ke pentilku.
"Jaangan om! Itu pasti sakit!! Ja….."
Suaraku terdengar tidak jelas karena disumpal
Jlepppp!!!!
Jepitan jemuran itu kini sudah menjepit pentil kiriku.
"Ahhhhhhh.. sakiiittt! Ampunn omm!!!!"
Jlepppp!!!
Kini pentil kananku juga dijepit dengan jepitan jemuran.
Dia tersenyum melihat ekspresiku yang kesakitan.
Rambutku dijambak dan diciumi sambil meremas-remas toketku
yang menegang.
"Kamu udah jadi budakku! Kamu harus nurut!"
Sekarang dia meraih tas plastik hitam yang tadi dibawa.
Ada kain panjang berwarna hitam lalu dia lilitkan dikepalaku,
menutupi mata.
Sekarang aku ngga bisa lihat apapun.
Lalu terdengar bunyi sesuatu yang dikeluarkan dari tas plastik. Aku
ngga tau apa itu. Om cuma tertawa pelan.
Benda itu mengeluarkan suara getaran.
Zzzzzz zzzzz zzzzz
Ahh! Tidaaakk!! Itu pasti vibrator!
Kukerahkan tenaga ku untuk melepaskan tali yang mengikat dan
tiba-tiba vibrator itu berada di bibir vagina. Bergetar di klitorisku,
ditekan dengan kuat disitu dan akhirnya aku orgasme.
Om tertawa melihatku orgasme karena vibrator itu. Lalu dia
masukkan kedalam vaginaku. Speednya pun bertambah makin
cepat. Vaginaku dikocok dengan vibrator. Sensasinya memang
luar biasa apalagi kalau dilakukan dengan cepat.
"Mmmmhhh!!! Mmmhhh!!"
Eranganku tidak terdengar jelas saat vibrator itu dicopot dan
diletakkan di penjepit jemuran yang kini menjepit pentilku. Lalu
dimasukkan lagi ke vaginaku.
Tak lama kemudian aku pun orgasme. Kakiku mengejang dan
tubuhku ahirnya terkulai lemas. Namun om tetap membiarkan
vibratornya didalam vaginaku
"Tenang Vi sayang, aku akan menaruh vibrator ini selama 5 jam
di dalam memek kamu."
"Aahh!!! Ngga!!! Ngga mau!!! Dasar bajingan!!! Sialan!!!"
Walau suaraku tidak terdengar jelas, aku yakin om tau
perkataanku.
Namun dia diam saja disampingku sambil meraba toketku.
Terdengar suara plastik diambil, sepertinya om mengambil
sesuatu lagi didalam situ.
"Vi, aku masih punya 1 lagi nih!"
Ternyata masih ada 1 lagi vibrator. Lalu dia nyalakan dan dia
tempelkan vibrator itu di penjepit jemuran yang kini menjepit
pentilku.
Aku rasakan sensai geli dan sakit secara bersamaan.
"Gimana, Vi? Yang ini pasti lebih enak."
Tak lama kemudian aku orgasme hebat karena vibrator dalam
vaginaku. Dan itu berlangsung selama 5 jam. Entah berapa
orgasme yang kudapatkan, pastinya lebih dari 10 kali.
Sudah jam 5 subuh. Om melepaskan penutup mataku. Kulihat dia
telanjang dengan penis yang tegak.
"Vi, om udah napsu banget dari 5 jam lalu waktu om siksa kamu.
Sekarang gantian ****** om yang masuk situ yah."
Kontolnya dimasukkan maju mundur dengan gerakan cepat,
dihentakkan dalam-dalam dan jarinya memainkan klitorisku. Aku
pasrah karena tak ada lagi tenaga yang tersisa.
"Aahhh, Viiiii, om mau keluar nihhhh… Aaaahh…"
Lalu buru-buru dia cabut penisnya dan dilepaskan celana dalam
yang menyumpal mulutku. Dia masukkan dalam-dalam penisnya
yang berdenyut itu. Cairan hangat menyembur ke dalam
kerongkonganku. Aku sampai tersedak karena banyak sekali peju
yang dikeluarkan.
Ngga semuanya aku telan, ada yang aku keluarkan karena aku
mual. Lalu om membasuh mukaku dengan pejunya yang tumpah
dari mulutku.
Penisnya yang masih belepotan peju dilap ke toketku. Dia
tersenyum puas. Puas karena sudah semalaman mengerjai aku.
"Makasih ya, Vi sayang…"
Lalu dilepaskan tali yang mengikat tangan dan kakiku. Setelah
vibrator tsb diambil, dia pergi begitu saja dari kamar.
Dan kini sudah 3 tahun aku tinggal bersama mereka. Aku pun
memutuskan untuk kuliah di Bandung. Kelakuan bejat om ku
selama ini sepertinya tidak diketahui oleh tanteku. Om
menyayangkan keputusanku untuk kuliah di Bandung. Dia bilang
kalau aku memutuskan untuk kuliah di Jakarta, dia mau
membantu biaya kuliahku. Cih! Aku tau betul maksud kata-katanya
itu. Tapi keputusanku sudah bulat.
Kini aku kuliah di Bandung, di kampus incaranku. Kebetulan juga
aku mendapat beasiswa disini. Hal-hal yang terjadi di masa lalu
membuatku tegar dan menjadikan ku orang yang berbeda. Kini
aku menjadi liar untuk urusan seks. Aku suka sekali menyiksa
pasangan seksku. Mendengarkan jeritan dan melihat ekspresi
ketakutan mereka membuatku semakin bergairah. Jadi, inilah aku
yang sekarang.
E N D

Perkosaan si Jilbab Sexy



Siti Rofikah siswi kelas 2 sebuah SMK swasta, sore ituhendak pulang sekolah.Namun pada saat siswi berjilbab itu melintasi lokasi sebuah perkebunan dimana ia biasa lewat tiba-tiba sepasang tangan kekar membekapnya dari belakang seraya kemudian menyeret paksa siswi berjilbab itu kedalam perkebunan karet yang amat sepi itu. Siti Rofikah berjuang sekuat tenaga memberontak namun sia-sia saja karena pria bertopeng ski yang menyergapnya itu terlalu kuat.
Sesaat kemudian lelaki dan calon korbannya itu tiba didepan disebuah gubuk yang nampaknya sebuah tempat beristirahat bagi parapekerja kebun. Lalu diseretnya siswi berjilbab itukedalam seraya menutup pintu gubuk rapat-rapat. Dijungkalkannya tubuh Siti Rofikah ke atas matras yang ada didalam ruangan gubuk itu seraya melucuti pakaiannya sendiri hingga telanjang bulat. Nampak kemaluan pria bertopeng itu mengacung tegak sepertinya ia sudah tidak sabar lagi memperkosa siswi SMK berjilbab itu.
Siti Rofikah yang terlentang diatas matras nampak panik seraya menjerit ia berusaha kabur. Namun apadaya sebuah pukulan keras mendarat telak diperutnya.?Akkhh??, pekiknya tertahanmenahan sakit sambil terjerembab diatas matras. Tubuhnya terbaring melengkung dengan tangannya memegangi perutnya yang ditonjok tadi. Belum sempat hilang rasasakit pukulan diperutnya taditiba-tiba pria bertopeng yang telah telanjang bulat itumenyingkap rok abu-abu panjang seragam sekolahnyakeatas sampai sebatas pinggang. Nampak sepasang paha dan betis mulus miliknya dihiasi sepasang sepatu kulit serta kaus kaki putih panjang.
“Ampun pak tolong jangan perkosa saya”, pinta Siti Rofikah memelas.
Pria bertopeng itu tidak menghiraukannya malah menampar wajah cantiknya hingga siswi berjilbab itu tidak mampu berkata apa-apa lagi selain menjerit tertahan sambil menangis tersedu-sedu.Tangan kasar pria itu mulai melucuti celana dalam SitiRofikah. Belahan vagina yang nampak ditumbuhi bulu-bulu halus miliknya kelihatan mengundang selera pria itu. Diraba-rabanya vagina dara
berjilbab yang masih mengenakan seragam sekolah namun rok abu-abu panjangnya yg sudah tersingkap itu dengan tangankanannya sembari terkadangjari tengahnya masuk menusuk-nusuk kedalam. Gadis berjilbab itu menggelinjang seraya kedua tangannya mencengkeram erat pinggiran matras. Seumur hidupnya belum pernah ia merasakan perlakuan seperti ini.
Dalam hati Siti Rofikah hanya bisa menjerit seraya mengutuk nasibnya yang sial.Kepalanya yang terbungkus rapi jilbab warna putih itu hanya bisa menggeleng-geleng pelan seraya menahan perasaan aneh yang mulai merasuki dirinya. Dengan air mata berlinang bibirnya mendesah pelan sedangkan tubuhnya terkadang menggelinjang pelan. Kelihatannya perlakuan pria bertopeng itu perlahan membuat alam bawah sadarnya mulai terangsang.
Kemaluan milik siswi berjilbabitu perlahan mulai basah olehlendir yang keluar dari dalamvagina.Melihat calon korbannya itu mulai terangsang akibat permainanjemarinya tangan kiri sang pria durjana beringsut menjamah kancing hem putih seraya melepasnya satu persatu sembari tangan kanannya tetap mengobel kemaluan si dara berjilbab.
Tampak sepasang payudara nan ranummilik ABG berjilbabyang tertutup oleh BH dan bawahan jilbab putihnya. Disibaknya bawahan jilbab putih itu seraya menyingkap BHnya. Payudara yang bulat padat dengan sepasang putting coklat nampak tegak mengacung. Lalu tangan kiri pria durjana itu kini sibuk memilin dan meremas putting dan buah dada milik Siti Rofikah. Semakin lama gerakan mengelinjang tubuh siswi berjilbab itu semakin intens. Nafasnya naik turun terengah-engah sedang bibirnya mendesah perlahan. Kelihatannya ABG berjilbab itu mulai tenggelam dalam birahi akibat perlakuan lelakibertopeng itu.
Jemari kanan pria itu mulai basah oleh cairan yang mengucur dari dalam vagina Siti Rofikah. Dan lelaki bertopengitupun menghentikan permainan jemarinya dari vagina dan buah dada dara SMK berjilbab itu. Pria itu ingin segera merasakan kenikmatan vagina legit milik korbannya itu. Dilebarkannya
kedua paha sang gadis berjilbab itu seraya mengarahkan penis yang besar miliknya kearah vagina Siti Rofikah.
Dan, “Aakkhhh…”, jerit gadisberjilbab itu menahan rasa sakit yang ada diselangkangannya itu. Matanya terpejam seraya menggigit bibir bawahnya. Kedua tangannya mencengkeram erat matras. Nafasnya tersengal-sengal menahan sakit. Perlahan senti demi senti penis pria ituberpenetrasi kedalam vaginaperawan sang siswi berjilbabkorbannya. Belahan vagina dara itu nampak menggembung seiring denganmasuknya penis tersebut. Sesaat kemudian ia memberi nafas kepada gadis belia berjilbab yang ditidurinya itu agar kemaluannyanya dapat menyesuaikan diri terlebih dahulu dengan ukuran penisnya yang begitu besar merangsang, sehingga terlihat bibir kemaluannya telah ikut melesak masuk kedalam pula tatkala dipaksaharus menelan batang penis lelaki itu yang kini sudah menancap pada vaginanya disela-sela kedua belahpahanya yang terbuka.
Kenikmatan demi kenikmatan yang dirasakan oleh bajingan itu ternyata sangat bertolak belakang sekali denganapa yang dirasakan siswi berjilbab itu kini. Ia yang baru kali ini di sebadaniolehseorang lelaki begitu merasakan kesakitan yang amat tak terperikan. Jeritannya yang tertahan begitu terdengar berulang kali seakan tiada henti mengiringi kemenangan lelakiperkasa itu yang berhasil menaklukkannya dan membuat Siti Rofikah dengan terpaksa merelakan keperawanannya tanpa ampun dibawah dekapan lelaki bajingan yang memperkosanya secara brutal ini.
Sementara jilbab putih sebahu milik gadis itu seakanterlecut-lecut mengikuti arah kepalanya yang terus terbanting-banting di atas matras ke kiri dan ke kanan seakan tak rela atas apa yang terjadi menimpa dirinya ini. Linangan air matanya turun berderai lagi membasahi kembali kedua pipi mulusnya serta mengisi alur bekas air mata lalunya yang telah mengering .
Didekapnya tubuh gadis beliaberjilbab yang kini berada dibawahnya dan dada bidangperkasa nan sarat dengan bulu-bule lebatnya itu menekan kedua belah
payudara korbannya. Wajah lelaki itu menelusuri leher jenjang yang tertutup jilbab putih dari siswi SMK itu sehingga membuat kepala SitiRofikah tak lagi dapat bergolek kesana kemari.
Dipagutnya leher jenjang sang perawanberjilbab itu dengan rakusnya dari pangkal telinga sampai pundak kanannya, melumuri area itu dengan airliur kemenangannya. Puting sususebelah kiri gadis itu yang semakin mekar ranum memerah dipilin oleh pertemuan ibu jari dan telunjuk tangan kanannya yang kasar, dengan gencar diremas-remasnya bongkahan daging susu yangmasih mencuat indah keatas dan sama sekali belum kelihatan turun sama sekali serta masih berbentuk bulat kenyal dan memadat indah mempesona nan menghiasi bagian dadanya yang jatuh dalam dekapan sang pria jahanam itu.
Ciuman ganas penuh birahi yang luar biasa buas dari sang durjana kepada korbannya menutupi suara erangan dan rintihan siswi berjilbab itu. Kedua bibir dariinsan berlainan jenis ini bertemu seketika dalam peraduan adegan indah persetubuhan nan terlarang itu. Lidah lelaki itu telah memasukki rongga mulut mungil sang dara berjilbab yang terpejam erat dan menari-nari di dalamnya berusaha
Terus didera bertubi-tubi ciuman sang lelaki, kini Siti Rofikah hanya bisa pasrahmerelakan lidahnya yang telah dikaitkan oleh tarian lidah lelaki tersebut yang elastis,kadang pula lemas seperti tali yang meliuk-liuk maupun mengait lidah mungilnya Setelah dirasanya telah puas mencicipi keperawanan sang dara, kinipenis yangcukup lama terbenam di dasar vagina itukini ditariknya perlahan dan kedua jembut mereka yang tadinya melekat erat seakan telah menjadi satu itu mulai terpisah ruah.
“Psshh…! sleph.. wes hewess..!”, suara yang ditimbulkan dari pelepasan batang pelir yang tertancap pada kemaluan sang perawan itu begitu sangat khas sekali di telinga dan prosesterenggutnya kesucian gadis berjilbab itu dimulailah.
Kini seiring dengan pergerakan urat intim lelaki jahanam itu yang telah keluar sepertiga dari ukuran batangnyadari dalam
belahan intim kemaluan dara berjilbab itu yang merekah membuat bibir-bibir vagina korbannya menjadi ikut tertarik sampai monyong kedepan. Bersamaan itu pula dari sela-sela lubang vaginanyanya dimana kulit-kulit kemaluan bajingan itu bersarang didalamnya, kini tampak berkilat-kilat basah oleh lendir vaginanya yang melumasi jajaran tonggak daging pelirnya mulai menetes darah segar kesuciannya yang pada akhirnya berhasil direnggut paksa jua dari tubuhnya.
“Mmpphff! Ugh! Ughff!!”, itulahsuararintihan dari seorang dara berjilbab yang terdengar saat keperawannya telah terenggut seutuhnya oleh sang lelaki maniak durjana pemetik bunga nan penuh nista ini, sementara sela-sela vaginanya yang telah diluluh lantakkan itu masih berdesis-desis tatkalamelepaskan batang pelir lelaki tersebut dari dasar peranakkannya diiringi senyum kemenangan kepala rampok itu.
Mulut lelaki itu melahap belahan payudara kanan gadis itu dan menelan puting susunya sekaligus, lalu disedot-sedot dengan buas penuh dengan nafsuhewaniah. Tubuh setengah telanjang siswi SMK berjilbabitu sampai menggeliat-liat dibuatnya seiring dengan dimulainya hentakkan pinggullelaki itu diantara kedua kakiindah mengangkang dengan rok panjang abu-abu yang tersingkap sampai sepinggang.
Kini korbannya yang mengenakan jilbab putih itu telah takluk pada kejantanannya. Derai-derai air mata di pipi mulusnya itu telah dibersihkan pulaoleh telapak tangannya yang kekar. Sepasang betisnya yang masih mulus terbentangkencang itu kini dikepitnya diantara kedua ketiak dari lengan perkasanya kiri dan kanan. Kaki-kaki indah yang masih memakai sepatu warnahitam dengan kaus kaki panjang berwarna putih yangterjuntai itu tampak bergerak-gerak seiring hujaman lelaki bajingan itu pada lubangvaginanya dan seragam putih abu-abu yangteringkap itu sudah bermandikan oleh peluh persetubuhan terhempas-hempas dibuatnya.
Dengan posisi setengah jongkok lelaki jahanam itu terus menggenjot tubuh Siti Rofikah yang masih begitu kencang dan padat diusia
mudanya. Kedua tungkai paha gadis itu kini ditekan oleh kedua tangannya sehingga kangkangannya semakin jelas dan lebar dengan kedua tumit kaki indahnya bertumpu pada kedua belah pundak berkulit gelap sang durjana tersebut.Wajahnya yang cantik dengan jilbab putihnya semakin mendongak kebelakang Kedua kakinya semakin tertarik keatas bertopang pada pundak kiri dan kanan sang lelaki jahanam yangtelah leluasa menikmati kehangatan tubuh mudanya itu.
Dalam posisi yang sebegitu rupa ini membuat bongkahan dari pantat gadis yang berkulit putih mulus licin itu semakin mencuat keatas mempertontonkan lonjakan-lonjakan kejantanan lelaki ituyang masih terlihatseret keluar masuk pada vaginanya. Kedua biji pelir lelaki itu yang terpontang-panting menabrak-nabrak jalan masuk lobang pantatnya semakin nyata mengiringi lelehan lendir kewanitaannya yang telah bercampur aduk dengan darah
kesuciannya nan terus menggenangi mulut vaginanya dan dijadikan bulan-bulanan olehnya. Cairan surgawi kepunyaan gadis berjilbab itu telah merembes sampai membasahilubang anusnya yang begitu kecil tak berdaya nan berwarna merah muda sungguh menawan hati ini beserta bercak-bercak darah keperawanannya yangtelah direnggut Matras tempat tumpuan adegan persetubuhan merekaitupun mulai berdentum-dentum seiring dengan suara decakan peret pada lubang kemaluan dara berjilbab yang digagahi oleh bajingan zina ini.
“Ough… ohh.. ohh.. ternyata enak sekali memekmu ini sayang.. Ohh.. ohh.. sempit sekali sihh..? masih peret nihh Uhh.. Ohh… Ouh”, seloroh ******* itu diantara tarian maksiatnya menikmati kehangatan dagingbelia korbannya ini.
“Ahh…! ahh..! aduhh..! perih Pak.. Oh.. oh.. jangan keras-keras.. uhh..ahh”, pinta Siti Rofikah itu akhirnya.
“Enak sayang?! Hah?! Bagaimana sekarang?! Masih sakit yach?! aduh kasihan.. tahan sebentar yahh manisku? Ohh.. ohh.. Ouh..”, balas lelaki itu yang asyik menggenjot vagina milik siswiberjilbab itu.
“Sshh.. ahh… sshh.. ohh.. pelan-pelan Ppakk.. ahh.. ahh.. ahh”, pintanya di
sela-sela tubuhnya yang terhentak-hentak tanpa perlawanan lagi. Senang sekali sang bajingan itu mendapati korbannya kini telah pasrah melayani keinginannya.
“Jangan ditahan terus dong******ku ini sayang.. terima saja apa adanya.. lebarkan kakimu supaya tidak terlalu sakit lagi manisku.. ohh.. ohh.. legit sekali kepunyaanmu ini.. ohh”, perintah ******* itu yang kiranya langsung dipatuhi oleh gadis cantik berjilbab itu yang semakin membuka rentangan kakinya hingga semakin jelasbibir memeknya yang melesak ke dalamdan memonyong ke depan mengikuti hunjaman penis besar yang tertanam didalam isi belahan daging surganya.
Liang anus gadis berjilbab itujuga turut mengembang dan menguncup terkena pukulan-pukulan kedua biji penis lelaki jantan itu yang terbanting-banting di bongkahan pantat yang mungil mengangkang seakan sengaja ia mempertontonkan miliknya yang indah namun terlarang
Kedua tubuh itu terus bergumul seakantak peduli lagi akan keadaan malam yang semakin larut dalam keheningannya, seakan tak terpisahkanlagi dalam geloranafsu membara yang menyala-nyala dikamar gubuk yang telah pengap dan sesak oleh permainanasmara nista berbirahi hina ini. Meskipun telah lewat masa seperempat jam berlalu, namun tak membuat lelaki perkasa itu mengendorkan goyangan pinggulnya dan terus melesak-lesakkan pelirnya
mengaduk-aduk isi dalam lubang kemaluan dara berjilbab itu yang telah sembab membengkak dan semakin memerah warnanya.
Tak lama kemudian tubuh dengan hem putih lengan panjang yang terbuka dengan rok abu-abu panjangyang tersingkap sepinggang itu yang berada dibawah lelaki durjana tersebut menggelinjang kencang seiring dengan luapan puncak orgasmenya yang kedua.Perut rampingnya yang dihiasi pusarnya nan begitu indah tampak berkedut-kedut mengikuti gelinjangan tubuh setengah bugilnya. Kedua kakinya yang masih bersepatu itu kinimenendang-nendang di udara menahan luapan puncak kenikmatannya yang melanda sekujur tubuh dengan hem putih lengan panjang yang terbuka itu.
Dan belum lagi kelojotan siswi berjilbabitu terhenti, lelaki itu segera mencabut penisnya dari dalam liang vaginanya yang tengah bergetar didera arus birahi sanggamanya.
“Wess hewess.. poof!!”, begitulah suara yang dihasilkan saat batang kejantanan lelaki itu dicabut dari jepitan lubang kemaluan Siti Rofikah yang telah kehilangan keperawanannyaini.
Sekujur kulit luar dari penis nan demikian perkasanya penuh dengan lelehan lendir vagina yang bercampur dengan lumuran darah segarkesucian siswi SMK berjilbab cantik itu yang belepotan melumuri tonggak daging kejantanannya yang masih mengacung tegak mengangguk-angguk. Kedua tungkai kaki gadis itu di angkat keatas tinggi-tinggi dari matras sehingga ujung kaki yang masih mengenakansepatu itu terjuntai indah menggantung tanpa daya. Di dalam sepatunya itu kedua otot dari jari-jari kaki indahnya
mengatup dan membuka sangat cepat sekali bergantian membendung gelora birahinya yang kembali telah berhasil dibangkitkan oleh lelaki itu. Bongkahan pantatnya terhidang jelas tepat beradapada wajah lelaki itu yang menadahkanlidahnya pada perbatasan antara belahan bibir vagina gadis berjilbab putih tersebut dengan daerah duburnya dan ia tempelkan disitu.
Berikutnya dari mulut vaginanya yang kini sudah tak berbentuk garis vertikal yang sempit seperti tadi itu, malah kini telah terpecah menjadi dua garis bergelombang dengan kelentitnya yangbengap danbasah itu terkuak sejelas-jelasnya disertai oleh lelehanlendir memeknya keluar dari lubang senggamanya nan semakin merekah menjadi sebesar ukuran sebutir telurburung puyuh.
Cairan yang keluar dari vagina itu langsung ditelan oleh lelaki itu
dengan rakusnya bak orang yang tengah kehausan nan amat sangat. Dengan lahapnya jilatan lidah lelaki itu sampai menyeruak-ruak kedalam isi belahan kemaluankorbannya, menyapu segenap dinding bagian dalam vagina gadis malang itu sampai licin tandas tanpa tersisa sedikitpun.
Tubuh dengan hem putih lengan panjang yang terbuka milik dara itu kini
terjerembab pada hamparan matras yang terbentang awut-awutan disana sini dan ditengahnya telah terdapat noda darah dari kesuciannya. Jilbab putih yang dikenakannya pun basah oleh keringat yang menucur deras dari kepalanya. Selain itu sebagian rok panjang abu-abu seragamnya dibasahi oleh keringat keduanya dan juga lendir-lendir yang berasal dari kedua kelamin yang berbeda jenisnya tersebut. Keletihan yang amat sangat mendera tubuh dengan seragam sekolah yang tersingkapnya kini telah lusuh tanpa tenagalagi, seakan tulang-tulangnya telah terlolosi semuanya. Belum lagi usai mengatur helaan nafasnya yang masih menderu-deru, tetapi kini tubuh setengah telanjang gadis itu yang ramping itu dibalikkan secarapaksa oleh lelaki itu sehingga tertelungkup.
Tangan-tangan kurang ajarnya menyusupi bagian bawah perutnya yang telah menempel pada kasur ranjangnya, setelah itu ditariknya keatas, dan bongkahan pantat gadis yang telah lemas itu terjungkit keatas kini. Bajingan itu menekuk kedua lutut korbannya sampai pantatnya tampak dalam posisi menungging. Agaknya ia akan menyetubuhi dara itudengan mengambil gaya dari****** yang tengah kawin. Namun sebelum itu tangannya berpindah lagi menyingkap rok abu-abu panjang milik Siti Rofikah yang sempat terjuntai kebawah menutupi pantatnya.Lalu ditelusurinya pantat itu dengan jemarinya dan menemukan posisi lubang anusnya berada, lalu lidah lelaki itu menyusupi kekedalaman belahan duburnya itu tanpa rasa jijik sama sekali mengingat lubang itu biasa digunakan untuk buanghajat.
Tetapi apalah artinya batasan itu jika dibandingkandengan nilai kenikmatan yangdapat ia peroleh dari kelezatan anusnya sang gadis muda berjilbab dengan mengabaikan aroma tak sedap yang terpancar dari dalamnya.
Setelah puas menjilati dubur dari sang siswi SMK yang begitu sangat lezat baginya ini, kini tubuh lelaki itu berlutut dihadapan tunggingan pantat korbannya, setelah itu batang penisnya kembali ia selusupkan ke dalam vagina gadis itu yang telah
kehabisan suaranya karena kecapaian melayani birahi lelaki perkasa ini. Bajingan itu memperkosa vaginanya dari arah belakang tanpa peduli sama sekali terhadap perasaan korbannya, yang ada hanyalah nafsu yang harus ia tuntaskan walaupunharus mempertaruhkan dirinya yang sewaktu-waktu dapat tertangkap oleh aparathukum.
Kembali kedua tubuh itu menyatu dan jembut yang menghiasi bawah perut lelaki itu seakan terjepit pula ke lubang anus dara bidadari cantik berjilbab ini tatkala penisnya terus menyodok-nyodok isi dalam liang kemaluannya.
Menjelang tengah malam, sepasang insan berlainan jenis itu meraih orgasmenya untuk yang ketiga kalinya dalam posisi menungging, namun baru kedua kali jikalau dihitung dari saat mula Siti Rofikah disetubuhi lelaki jahanam tersebut. Malangnya pelajar berjilbab itu tak sadarkan diri lagi usaimencapai puncak surga duniawinyadari lelaki itu yang staminanya begitu sangat luar biasa.
Rasanya jarang sekali lelaki yang mempunyai daya tahan tubuh seperti pria durjana bertopeng ini Setelah puas mereguk cairan lendir madu surgawi yang telah dihasilkan kembali oleh vagina gadis itu pada puncakkenikmatannya tadi. Ia menelentangkan kembali tubuh gadis berjilbab itu yang telah pingsan dan menaruh kedua tumit dari kaki dara itu yang setengah telanjang ke kanan kiri bahunya lagi untuk kemudianmenggenjot kembali tubuh si siswi belia berjilbab ini dengan brutal.
Tampak sekarang pompaan penis lelaki ini pada vagina korbannya terus bertambah kecepatannya, sementara hamparan matras dibawahnya itu telahbenar-benar basah oleh keringat keduanya yang semakin memanas. Andai saja Siti Rofikah tidak sadarkan diri seperti sekarang ini, mungkin ia akan meminta ampun karena pasti vaginanya akan terasa nyeridiperlakukan sedemikian brutalnyaoleh pemerkosa tersebut.
Barulah pada pukul setengahsatu pagi, tubuh lelaki itu bergetar hebat diatas tubuh korbannya yang pingsan untuk sekian lamanya dan tanpa sepengetahuan siswi SMK berjilbab nan cantik ini
bajingan itu memuntahkan segenap akhir puncak dari nafsunya yang meledak-ledak kedalam tubuhnya. Pahayang terbuka membentuk huruf “V” dari tubuh Siti Rofikah itu ditekannya kuat-kuat. Tubuhkekarnya seakan telahlekat menjadi satu dengan korbannya. Akhirnya lelaki itu sedang memuntahkan seluruh persediaan cairan mani lelakinya yang sejak tadi tersimpan di kedua belahbiji penis besarnya nan perkasa. Cairan mani dari kemaluan lelaki itu yang mengandung benih-benih cintanya kini memuncrat-muncrat mengisi rongga rahim siswi berjilbab itu yangtengah dalam keadaan suburmalam itu.
“Croot..! serr.. serr.. creet.. cret!”, benih lelaki itu begitu tersembur dengan sangat cepat menyemburat kuat ke dalam isi dasar belahan vagina Siti Rofikah sang siswi SMK berjilbab yang dikangkanginya tanpa pelindung sama sekali.
Gadis belia berjilbab itu hanya diam terpana merasakan lahar panas mengalir deras kedalam liangnya…..”Ahhhhhhh……..….”, pekikpuas pemerkosa bertopeng itu sembarikedua tangannya mencengkeram rok abu-abu panjang seragam sekolah Siti Rofikah yang tersingkap sepinggang.Lalu durjana itupun rubuh menindih tubuh korbannya dengan rasapuas tak terkira.
Suasana ruangan di gubuk itu kembali sepi yang nampakhanyalah pemandangan seorang pria bertopeng telanjang bulat sedang menindih tubuh seorang perempuan belia berjilbab putih dengan seragam putih abu-abunya telah tersingkapserta awut-awutan.

Pemerkosaan Cewek ABG

  1. Siapa yang tak tergoda dengan tuguh seorang abg, masih seger,
    padat dan pastinya ranum, orang mengistilahkan dengan wanita
    bau kencur, atau wanita yang masih suci, bagaimana jika
    keperawanannya hilang karena di perkosa? Berikut adalah cerita
    pemerkosaan Seorang ABG . Mungkin emnarik untuk anda
    simak….
    Bejo adalah seorang narapidana dari sebuah rutan di suatu
    kabupaten di Jawa Tengah. Ia masuk penjara karena mencuri
    dengan kekerasan. Berperawakan sedang, kulit sawo matang,
    rambut cepak dihiasi sebuah tato banteng di punggungnya.
    Hukuman yang Bejo terima selama 1 tahun 8 bulan penjara.
    Namun karena berkelakuan baik, ia mendapat pengurangan
    hukuman sebanyak 2 bulan. Dalam rutan tersebut pria itu banyak
    kenal dekat dengan para penjaga rutan. Bahkan saking dekatnya, ia
    sering mendapat kepercayaan untukmengurusi tetek-bengek
    kebutuhan para penjaga mulai dari beli rokok di warung luar
    penjara sampai beli makanan di warteg! Memang si Bejo paling
    pintar mengambil hati para penjaga rutan itu. Namun ia tidak
    berani disuruh pergi agak jauh dari rutan, karena khawatir, kalau
    ada kepala rutan mendadak melihat ia sedang berada di luar bisa
    gawat. Hari kebebasan yang tinggal 1 hari lagi bisa sirna.
    Namun hari itu “mungkin” merupakan hari keberuntungannya,
    Bejo diminta oleh salah seorang sipir penjara untuk mengantarkan
    sebuah bungkusan ke rumah temannya yang berada jauh dari
    rutan. “Wah, mas! nanti kalau ketahuan saya tidak ada di tempat
    bagaimana? “, tanya Bejo dengan cemas. “Tenang Jo. bapak lagi
    keluar daerah 2 hari. Pokokekamu tenang saja, aku jamin aman”,
    jawab si sipir penjara yang paling dekat dengan si napi satu ini.
    Sambil menghela nafas lega Bejo yang sudah mengganti bajunya
    dengan baju biasa pergi meninggalkan rutan. Di tengah
    perjalanan, ia terusikakan isi bungkusan yang dibawanya.
    Alangkah kagetnya ketika dibuka isinya vcd porno berjumlah 30
    lembar. Kebanyakan dari vcd itu merupakan film pornoasia
    terutama Jepang. Mata si Bejo melotot melihat gambar2 sampul
    vcd itu.
    Namun segera ia masukkan kembali karena sedang berada dalam
    angkutan umum. Nafasnya naik turun gara-gara melihat sampul
    vcd tadi. Terlebih sudah lamaia tidak merasakan kenikmatan tubuh
    wa nita. “Sialan mas Surip! aku disuruh mulangin barang ke
    rumah temennya nggak taunya vcd bf!”, umpat Bejo dalam
    hati ,”Otakku nggak keruan jadinya!”.
    Akhirnya tibalah sang napi ke tempat yang dituju, yang ternyata
    rumah kos. Orang yang dituju menyewa kamar di belakang
    rumah kos yang berada di lantai 2. Ternyata teman si sipir penjara
    tadi hendak pergi keluar. Dengan ramah ia menawarkan Bejo
    untuk menonton vcd koleksinya yang dipinjam sang sipir. Dengan
    antusias Bejo menerima tawarannya, sambil tidak melupakan
    pesan orang itu agar menitipkan kunci kamar kepada pemilik kost
    setelah ia selesai nonton. Film demi film Bejo tonton dengan
    penuh nafsu. Selesai menonton, sesuai dengan janjinya ia titipkan
    kunci kamar kepada pemilik rumah. Waktu menunjukkan pukul
    14:00 siang. Di dalam angkot Bejo merasakan nafsu birahinya naik
    turun. Ia merasa kesal karena gejolaknafsu dalam dirinya belum
    dapat terlampiaskan. “Uuuhh!Sial! gara-gara film tadi otakku nggak
    karu-karuan”,sesal Bejo. Namun apa daya di dalam angkot yang
    ditumpanginya hanya berisi 3orang pria dan 1 orang nenek.
    Kemudian satu demi satu penumpang itu turun tinggal ia sendiri.
    Disaat dirinya sedang tenggelam dalam lamunan joroknya, sang
    sopir angkot menepikanmobilnya pertanda akan ada penumpang
    yang naik. Naiklah seorang gadis SMU ke dalam angkot yang ia
    tumpangi dan duduk dekat pintu keluar masuk angkot. Serta
    merta mata si Bejo melirik tajam ke arah cewek itu. Diamatinya
    tubuh gadis itu dengan seksama. Wajahnya lumayan manis
    dengan rambut sebahu diikatkebelakang, buah dadanya terlihat
    agak menonjol dari balik seragam OSISnya. Lekukan pinggul dan
    pantatnya kelihatan padat berisi dibalut rok abu-abu selutut. Otak,
    mata dan birahinya terasa panas membara. Bayangan akan blue
    film yang ditontonnya tadi terlintas jelas. Terutama
    film Jepang dengan adegan seorang siswi SMU yang sedang
    ditunggangi seorang pria dari belakang. Sadar akan dirinya sedang
    dipandangi oleh orang asing, gadis itu berusaha menutupipaha
    dan lututnya dengan tas sekolahnya. Dirinya mulaimerasakan
    kegelisahan dan rasa cemas yang amat sangat karena pria itu
    terus menatapnya seola h-olah ingin menerkam.
    Namun gadis SMU itu merasa lega karena tujuannya sudahdekat.
    Segera ia minta turun dan membayar ongkos. Sambil berjalan
    dengan perasaan was-was, gadis itubolak-balik menengok kalau
    pria yang menakutkannya ituikut turun dan mengikutinya. Dilihat
    sosok yang dimaksud tidak ada perasaannya kembali lega. Gadis
    itu berjalan menyusuri jalan setapak dimana kanan kirinya
    merupakan tanah kosong ditumbuhi pepohonandan semak
    rimbun dengan beberapa gubuk kosong yang berdiri . Namun
    tanpa disadarinya si Bejo sedari tadi menguntitnya dari belakang
    sambil menjaga jarak dan bersembunyi di balik pepohonan. Sang
    napi segera mengambil jalan pintas untuk mendahului langkah
    gadis itu. Dari balik pohon dan semak belukar yang agak lebat Bejo
    menantimangsanya mendekat. Begitu gadis SMU itu berjalan
    melewati lokasi tempat Bejo bersembunyi, pria itu segerabergerak
    meringkusnya dari belakang. Untuk melumpuhkan mangsanya
    Bejo menempelkan sebuah pisau yang ia ambil dari tempat kos
    tadi. Ditempelk annya pisau ke leher gadis itu sambil tangan kirinya
    menutup mulutnya dan mengancam agar ia tidak berteriak. Bau
    harum tubuh gadis itu membuat ia tidak tahan lagi. Diseretnya
    gadis itu ke dalam rerimbunan pohon dan semak-semak. Gadis
    yang tidak berdaya itu hanya bisa menangis terisak-isak ketakutan
    akan keselamatan dirinya. Sampai ditempat yang dirasa Bejo
    aman, ia segera melaksanakan aksinya. Sambil tetap
    menempelkan pisaunya ke leher gadis SMU itu, tangan kirinya
    mulai bergerilya meremas-remas buah dada korbannya dari luar
    hem putihnya. Tangan gadis kiri gadis itu berusaha mencegah
    namun urung karena Bejo makin menempelkan pisau yang
    dipegang itu ke lehernya. “Ampun pak…tolong lepaskansaya”, isak
    gadis itu memohon. “Ssshh…Diam manis, kalau sekali lagi
    kamubicara akan kugorok lehermu!”, hardik Bejo pelan sambil
    menciumi leher gadis itu. Puas meremas-remas buah dadanya,
    tangan kirinya bergerak turun meraba dan mengobok-obok
    selangkangan gadis itu dari balik rok abu-abunya. S edangkan dari
    belakang ia
    gesek-gesekkan penisnya yang sudah menegang dalam celana ke
    belahan pantat gadis itu. Cewek SMU itu hanya bisa menangis
    pasrah tak berdaya diperlakukan seperti itu.
    Tangan kiri Bejo menarik rokSMU gadis itu keatas kemudian
    jemarinya segera menyusup kedalam cd dan mulai mengorek-
    ngorek vaginanya. Gadis itu tersentak karena perlakuan Bejo
    lagipula seumur hidupnya belum pernah ada tangan kasar pria
    yang menyentuh liang kewanitaannya. Rintihan dan isak tangis
    gadis itu membuatbirahi Bejo semakin naik. “AAkkhh…!”‘, pekik
    gadis itu tiba2 karena jatuh telungkupdiatas rerumputan tebal
    akibat didorong Bejo dari belakang. Belum punah rasa kaget dan
    ketakutannya, kedua belah tangannya ditarik kebelakang oleh Bejo
    kemudian diikat dengan tali yang sudah dipersiapkannya.Merasa
    mangsanya tidak mungkin kabur ditancapkannya pisau yang
    dipegangnya ke tanah. Kemudian pria birahi itu membuka seluruh
    pakaiannyahingga bugil. Dan nampak penis yang sudah berdiri
    mengeras mengacung keatassiap bertempur. Dibaliknya tubuh
    gadis itu. Dengan mata terbelalak ia menatap Bejo yang sudah
    bugil dengan penis besar sedang mengacung. Mulutnya yang
    hendak berteria k segera disumpal Bejo dengan
    sehelaisaputangan. Tangan-tangan kasar Bejo membuka paksa
    seragam putih yang dikenakannya sehingga sobek.
    Terpampanglah bukit kembar sekepalan tangan terbungkus bra
    berwarna coklat muda. Dengan sekali tarik putuslah bh itu tinggal
    buah dada yang terpampang indah dengan puting susu berwarna
    coklat muda. Dengan rakus dikulum dan dilumatnya kedua buah
    dada itu bergantian. Tangan kirinya meremas buah dada sambil
    sesekali memelintir puting susu gadis itu. Sedangkan tangan
    kanannyameraba dan mengelus selangkangan gadis itu dari luar
    rok abu-abunya. Tentu saja tubuh gadis yg belum pernah
    disentuh oleh pria itumenggelinjang tidak karuan. Apalagi ketika
    tangan kasar lelaki itu masuk ke dalam roknya serta meraba dan
    mengelus paha dan vaginanya , membuat tubuhnya bergetar
    bagaikan tersengat listrik. Lama
    kelamaan celana dalam gadis itu mulai basah akibat perlakuannya.
    Merasa tidak tahan lagi, Bejomembalikkan tubuh siswi SMUitu
    hingga kembali tengkurap.Ditariknya pinggul ABG itu sehingga
    posisinya seperti orang bersujud dengan pantat menungging
    serta tangan terikat ke belakang. Dielus dan diremasnya
    pantatyang padat dan kenyal itu, sambil sesekali menggosok-
    gosokkan penisnya ke belahan pantat yang masih terbungkus rok
    abu-abu SMU. Jerit dan isak tangis yang tertahan akibat mulut
    yang tersumpal gadis itu makin menjadi-jadi ketika tangan Bejo
    menyingkap roknya ke atas dan memelorotkan celana dalam
    putihnya. Dengan mata melotot dipandanginya pantatyang putih
    bulat serta padat dan kenyal itu. Diremas, dicium, digigit dan
    dikulumnyapantat itu. Dalam keadaan yang tidak berdaya gadis itu
    hanya bisa menangis pasrah.Rasa ketakutan yang amat sangat
    tidak henti-hentinya menyergap dirinya. Degup jantungnya
    berdebar kencang ketika pahanya dilebarkan Bejo. Dengan
    rasayang berdebar dia menant i apa yang akan dilakukan pria itu
    selanjutnya. Tiba-tiba ia memekik tertahan ketika merasakan benda
    kenyal dan besar sedang menggesek belahan pantatnya. Rupanya
    Bejo sedang melakukan pemanasan berikutnya dengan
    menggesekkan batang kemaluannya. Dengannafas memburu ia
    arahkan penis besar menegang itu keliang senggama yang
    lembab,sedangkan tangan kirinya mencengkram erat pinggul
    siswi SMU itu. Tubuh gadis itutersentak ketika merasa benda asing
    dan besar sedang memasuki vaginanya dengan paksa.
    “Ssshhh….”, desis mulut Bejo yang sedang melakukan
    penetrasi.Terasa sempit dan hangat. Butuh usaha yang keras.
    Senti demi senti hingga setengah dari penisnya perlahan
    menembus liang kenikmatan ABG itu, hingga akhirnya seluruhnya
    terbenam masuk. “SShhh…ahhh…”, desis dan desah nikmat keluar
    dari mulutnya. Sedangkan tubuh gadis bergetar akibat menahan
    sakit dan tangis. Nampak darah menetes dari selangkangannya.
    Jebol sudah keperawanannya. Dibiarkannya sejena k penisnya
    yang menancap dalam liang surga itu. Terasabatang kemaluannya
    seperti sedang diurut oleh liang
    vagina siswi SMU itu. Perlahan Bejo menggerakkanpantatnya
    maju mundur sambil mencengkram erat pinggulnya. Irama
    genjotannya lama kelamaan dipercepat. “Plak..plak..”, bunyi
    benturan pantat gadis itu dengan selangkangannya.Tubuh yang
    dalam keadaan telungkup menungging itu menggeliat-geliat
    karena disodok dari belakang. “Mmmhh…emmhh…ehh..hhhh “,
    suara sang korban yang hanya bisa merintih. Sedangkan Bejo
    mengeluarkan desahan dan racauan dari mulutnya
    sambilmemompa dari belakang. “Ssshh..aahh..nikmat sekali
    memkmu manis”, racaunya. Terkadang tangannya meremas kuat
    kedua belah pantatnya sambil menepok-nepok dengan gemas. Di
    otaknya terlintas bayangan film porno yang ditontonnya tadi
    siang. 15 menit berlalu, makin lama sodokan pria itu makin cepat.
    Penisnya bergetar hebat hendak mengeluarkan lahar panas.
    Dipeluknya tubuh ABG i tu dari belakang sambil terus memompa
    dan meremas-remas kedua bukit kembarnya. Bejo merasakan
    vagina gadis itu makin lama makin basah dan tubuhnya juga
    menggelinjang hebat. Nampaknya ia akan mencapaiklimaksnya.
    Merasakan hal itu, Bejo makin mempercepat sodokannya.
    Dibenamkannya dalam-dalam sang penis hingga menyentuh
    rahim kewanitaan gadis itu. “Ummpphh…”, dengus nafas kencang
    siswi itu sambil kepalanya mendongak keatas. Tubuhnya
    melengkung. Dan pada saat yang bersamaan pria pemerkosanya
    juga mencapai klimaks. Ditancapkannya penis itu dalam-dalam. “
    Crrott…crrottt.. “, pancaran sperma menyemburdari kepala
    penisnya, bercampur dengan cairan kewanitaan dan darah
    perawan sang gadis. Tubuh kedua insan berlainan jenis itu
    ambruk seketika dengan posisi sang pria memeluk siswi ABG itu
    dari belakang. Senyum puas mengembang dari bibir Bejo,
    sedangkan cucuran air mata menetes dari mata sayu sang gadis.
    Agak lama batang kemaluan si Bejo dibiarkan menancap didalam
    va gina sang korban.Sepertinya ia ingin menikmati momen
    tersebut berlama-lama.
    Waktu terus bergulir, dan sinar matahari mulai meredupseiring
    datangnya senja. Bejo bangkit berdiri sambil
    menarik rok abu-abu siswi SMU untuk melap batang
    kejantanannya yang berlumur air mani bercampur darah. Setelah
    rapi berpakaian kembali, ia sempat menatap sebentar tubuh yang
    tertelungkup lemah itu. “Oh indah dan nikmatnya hari ini”, kata
    hatinya sambil tersenyum puas. Ditinggalkannya siswi SMU
    korban nafsu birahinya dalam keadaan baju dan rok tersingkap
    awut-awutan. “Kebabasan aku datang!”, teriaknya dalam hati
    sambil berharap hari-hari berikutnya ia dapat kembali menikmati
    tubuh-tubuh hangat gadis muda .
    Demikian cerita dewasa kali ini yang menceritakan tentang
    hilangnya keperawanan seorang wanita akibat pemerkosaan,
  2. My Westi

    Perkenalkan, namaku Adi. Aku seorang mahasiswa disebuah
    perguruan negeri di kota Purwokerto. Aku punya pacar namanya
    Westi setiap hari selasa dan sabtu,kami selalu bertemu. Karena
    kami ikut kursus bahasa inggris di sebuah tempat kursus bahasa
    asing yang cukup terkemuka. Di tempat kursus itu pula kami
    pertamakali bertemu.
    Sekedar informasi, Westi adalah seorang pelajar di sebuah SMK
    terke...
    Lihat Selengkapnya
  3. RISKA

    Riska adalah seorang gadis pelajar kelas 3 di sebuah SMU negeri
    terkemuka di kota YK. Gadis yang berusia 17 tahun ini memiliki
    tubuh yang sekal dan padat, kulitnya kuning langsat. Rambutnya
    tergerai lurus sebahu, wajahnya juga lumayan cantik.
    Dia adalah anak bungsu dari lima bersaudara, ayahnya adalah
    seorang pejabat yangkini bersama ibunya tengah bertugas di
    ibukota, sedang kakak-kakaknya tinggal di berbagai kota di pulau
    jawa ini karena keperluan pekerjaan atau kuliah. Maka tinggallah
    Riska seorang diri di rumah tersebut, terkadangdia juga ditemani
    oleh sepupunya yang mahasiswi dari sebuah universitas negeri
    ternama di kota itu.
    Sebagai anak ABG yang mengikuti trend masa kini, Riska sangat
    gemar memakai pakaian yang serba ketat termasuk juga seragam
    sekolah yang dikenakannya sehari-hari. Rok abu-abu yang
    tingginya beberapa senti di atas lutut sudah cukup menyingkapkan
    kedua pahanya yang putih mulus, dan ukuran roknya yang ketat
    itu juga memperlihatkanlekuk body tubuhnya yang sekal
    menggairahkan.
    Penampilannya yang aduhai ini tentu mengundang pikiran buruk
    para laki-laki, dari yang sekedar menikmati kemolekan tubuhnya
    sampai yang berhasrat ingin menggagahinya. Salah satunya
    adalah Parno, si tukang becak yang mangkal di depan gang
    rumah Riska. Parno, pria berusia 40 tahunan itu, memang
    seorangpria yang berlibido tinggi, birahinya sering naik tak
    terkendali apabila melihat gadis-gadis cantik dan seksimelintas di
    hadapannya.
    Sosok pribadi Riska memang cukup supel dalam bergaul dan
    sedikit genit termasuk kepada Parno yang sering mengantarkan
    Riska dari jalan besar menuju ke kediaman Riska yang masuk ke
    dalam gang.
    Suatu sore, Riska pulang dari sekolah. Seperti biasa Parno
    mengantarnya dari jalan raya menuju ke rumah. Sore itu suasana
    agak mendung dan hujan rintik-rintik, keadaan di sekitar juga sepi,
    maklumlah daerah itu berada di pinggiran kota YK. Dan Parno
    memutuskan saat inilah kesempatan terbaiknya untuk
    melampiaskan hasrat birahinya kepada Riska. Ia
    telah mempersiapkan segalanya, termasuk lokasi tempat dimana
    Riska nanti akan dikerjai. Parno sengajamengambil jalan memutar
    lewat jalan yang lebih sepi, jalurnya agak jauh dari jaluryang
    dilewati sehari-hari karena jalannya memutar melewati areal
    pekuburan.
    "Lho koq lewat sini Pak?", tanya Riska.
    "Di depan ada kawinan, jadi jalannya ditutup", bujuk Parno sambil
    terus mengayuhbecaknya.
    Dengan sedikit kesal Riska pun terpaksa mengikuti kemauan Parno
    yang mulai mengayuh becaknya agak cepat. Setelah sampai pada
    lokasi yang telah direncanakan Parno, yaitu di sebuah bangunan
    tua di tengah areal pekuburan, tiba-tiba Parno
    membelokkanbecaknya masuk ke dalam gedung tua itu.
    "Lho kenapa masuk sini Pak?", tanya Riska.
    "Hujan..", jawab Parno sambilmenghentikan becaknya tepat di
    tengah-tengah bangunan kuno yang gelap dan sepi itu. Dan
    memang hujan pun sudah turun dengan derasnya.
    Bangunan tersebut adalah bekas pabrik tebu yang dibangun pada
    jaman belanda dan sekarang sudahtidak dipakai lagi, paling-paling
    sesekali dipakai untukgudang warga. Keadaan seperti ini membuat
    Riska menjadi semakin panik, wajahnya mulai terlihat was-was
    dan gelisah.
    "Tenang.. Tenang.. Kita santai dulu di sini, daripada basah-basahan
    sama air hujan mending kita basah-basahan keringat..", ujar
    Parno sambil menyeringai turun dari tempat kemudi becaknya
    dan menghampiri Riska yang masih duduk di dalam becak.
    Bagai tersambar petir Riskapun kaget mendengar ucapan Parno
    tadi.
    "A.. Apa maksudnya Pak?", tanya Riska sambil terbengong-
    bengong.
    "Non cantik, kamu mau ini?" Parno tiba-tiba menurunkan celana
    komprangnya, mengeluarkan penisnya yangtelah mengeras dan
    membesar.
    Riska terkejut setengah mati dan tubuhnya seketika lemasketika
    melihat pemandangan yang belum pernah dia lihat selama ini.
    "J.. Jaangan Pak.. Jangann.." pinta Riska dengan wajah yang
    memucat.
    Sejenak Parno menatap tubuh Riska yang menggairahkan, dengan
    posisinya yang duduk itu tersingkaplah dari balik rok abu-abu
    seragam SMU-nya
    kedua paha Riska yang putihbersih itu. Kaos kaki putih setinggi
    betis menambah keindahan kaki gadis itu. Dandi bagian atasnya,
    kedua buah dada ranum nampak menonjol dari balik baju
    putihseragamnya yang berukuranketat.
    "Ampunn Pak.. Jangan Pak..", Riska mulai menangis dalam posisi
    duduknya sambil merapatkan badan ke sandaran becak, seolah
    inginmenjaga jarak dengan Parnoyang semakin mendekati
    tubuhnya.
    Tubuh Riska mulai menggigil namun bukan karena dinginnya
    udara saat itu, tetapi tatkala dirasakannya sepasang tangan yang
    kasarmulai menyentuh pahanya. Tangannya secara refleks
    berusaha menampik tangan Parno yang mulai menjamah paha
    Riska, tapi percuma saja karena kedua tangan Parno dengan
    kuatnya memegang kedua paha Riska.
    "Oohh.. Jangann.. Pak.. Tolongg.. Jangann..", Riska meronta-ronta
    dengan menggerak-gerakkan kedua kakinya. Akan tetapi Parno
    malahan semakin menjadi-jadi, dicengkeramnya erat-erat kedua
    paha Riska itu sambil merapatkan badannya ke tubuh Riska.
    Riska pun menjadi mati kutu sementara isak tangisnya menggema
    di dalam ruangan yang mulai gelap dan sepi itu.Kedua tangan
    kasar Parno mulai bergerak mengurut kedua paha mulus itu
    hingga menyentuh pangkal paha Riska. Tubuh Riska menggeliat
    ketika tangan-tangan Parno mulai menggerayangi bagian pangkal
    paha Riska, dan wajah Riska menyeringai ketika jari-jemari Parno
    mulai menyusup masuk ke dalam celana dalamnya.
    "Iihh..", pekikan Riska kembali menggema di ruangan itu di saat
    jari Parno ada yang masuk ke dalam liang vaginanya.
    Tubuh Riska menggeliat kencang di saat jari itu mulai mengorek-
    ngorek lubang kewanitaannya. Desah nafas Parno semakin
    kencang, dia nampak sangat menikmati adegan 'pembuka' ini.
    Ditatapnya wajah Riska yang megap-megap dengan tubuh yang
    menggeliat-geliat akibatjari tengah Parno yang menari-nari di
    dalam lubang kemaluannya.
    "Cep.. Cep.. Cep..", terdengar suara dari bagian selangkangan
    Riska. Saat ini lubang kemaluan Riska telah banjir oleh cairan
    kemaluannya yang mengucur membasahi selangkangan
    dan jari-jari Parno.
    Puas dengan adegan 'pembuka' ini, Parno mencabut jarinya dari
    lubangkemaluan Riska. Riska nampak terengah-engah, air
    matanya juga meleleh membasahi pipinya. Parno kemudian
    menarik tubuh Riska turun dari becak, gadisitu dipeluknya erat-
    erat, kedua tangannya meremas-remas pantat gadis itu yang
    sintal sementara Riska hanyabisa terdiam pasrah, detak
    jantungnya terasa di sekujurtubuhnya yang gemetaran itu. Parno
    juga menikmati wanginya tubuh Riska sambil terus meremas
    remas pantat gadis itu.
    Selanjutnya Parno mulai menikmati bibir Riska yang tebal dan
    sensual itu, dikulumnya bibir itu dengan rakus bak seseorang
    yang tengah kelaparan melahap makanan.
    "Eemmgghh.. Mmpphh..", Riskamendesah-desah di saat Parno
    melumat bibirnya. Dikulum-kulum, digigit-gigitnya bibir Riska oleh
    gigi dan bibir Parno yang kasar dan bau rokok itu. Ciuman Parno
    pun bergeser ke bagian leher gadis itu.
    "Oohh.. Eenngghh..", Riska mengerang-ngerang di saat lehernya
    dikecup dan dihisap-hisap oleh Parno.
    Cengkeraman Parno di tubuh Riska cukup kuat sehingga
    membuat Riska sulit bernafasapalagi bergerak, dan hal inilah yang
    membuat Riska pasrah di hadapan Parno yang tengah
    memperkosanya. Setelah puas, kini kedua tangan kekar Parno
    meraih kepala Riska dan menekan tubuh Riska ke bawah sehingga
    posisinya berlutut di hadapan tubuh Parno yang berdiri tegak di
    hadapannya. Langsung saja oleh Parno kepala Riska dihadapkan
    pada penisnya.
    "Ayo.. Jangan macam-macam non cantik.. Buka mulut kamu",
    bentak Parno sambil menjambak rambut Riska.
    Takut pada bentakan Parno, Riska tak bisa menolak
    permintaannya. Sambil terisak-isak dia sedikit demi sedikit
    membuka mulutnya dan segera saja Parno mendorong masuk
    penisnya ke dalam mulut Riska.
    "Hmmphh..", Riska mendesah lagi ketika benda menjijikkanitu
    masuk ke dalam mulutnya hingga pipi Riska menggelembung
    karena batang kemaluan Parno yangmenyumpalnya.
    "Akhh.." sebaliknya Parno mengerang nikmat.
    Kepalanyamenengadah keatas merasakan hangat dan
    lembutnya rongga mulut Riska di sekujur batang kemaluannya
    yang menyumpal di mulut Riska.
    Riska menangis tak berdaya menahan gejolak nafsu Parno.
    Sementara kedua tangan Parno yang masih mencengkeram erat
    kepala Riska mulai menggerakkan kepala Riska maju mundur,
    mengocok penisnya dengan mulut Riska. Suara berdecak-decak
    dari liur Riska terdengar jelas diselingi batuk-batuk.
    Beberapa menit lamanya Parno melakukan hal itu kepada Riska,
    dia nampak benar-benar menikmati. Tiba-tiba badan Parno
    mengejang, kedua tangannyamenggerakkan kepala Riska semakin
    cepat sambil menjambak-jambak rambut Riska. Wajah Parno
    menyeringai, mulutnya menganga, matanya terpejamerat dan..
    "Aakkhh..", Parno melengking, croot.. croott.. crroott..
    Seiring dengan muncratnya cairan putih kental dari kemaluan
    Parno yang mengisimulut Riska yang terkejut menerima
    muntahan cairan itu. Riska berusaha melepaskan batang penis
    Parno dari dalam mulutnya namun sia-sia, tangan
    Parnomencengkeram kuat kepala Riska. Sebagian besar sperma
    Parno berhasil masuk memenuhi rongga mulut Riska dan
    mengalir masuk ke tenggorokannya serta sebagian lagi meleleh
    keluar dari sela-sela mulut Riska.
    "Ahh", sambil mendesah lega,Parno mencabut batang
    kemaluannya dari mulut Riska.
    Nampak batang penisnya basah oleh cairan sperma yang
    bercampur dengan air liur Riska. Demikian pula halnya dengan
    mulut Riska yang nampak basah oleh cairan yang sama. Riska
    meski masih dalam posisi terpaku berlutut, namun tubuhnya juga
    lemas dan shock setelah diperlakukan Parno seperti itu.
    "Sudah Pak.. Sudahh.." Riska menangis sesenggukan, terengah-
    engah mencoba untuk 'bernego' dengan Parno yang sambil
    mengatur nafas berdiri dengan gagahnya di hadapan Riska.
    Nafsu birahi yang masih memuncak dalam diri Parno membuat
    tenaganya menjadi kuat berlipat-lipat kali, apalagi dia telah
    menenggak jamu super kuat demi kelancaran hajatnya ini
    sebelumnya. Setelah berejakulasi tadi, tak lama kemudian
    nafsunya kembali bergejolak hingga batang kemaluannya kembali
    mengacung keras siap menerkam mangsa lagi.
    Parno kemudian memegang tubuh Riska yang masih menangis
    terisak-isak. Riskasadar akan apa yang sebentar lagi terjadi
    kepadanya yaitu sesuatu yang lebih mengerikan. Badan Riska
    bergetar ketika Parno menidurkan tubuh Riska di lantai gudang
    yang kotor itu, Riska yang mentalnya sudah jatuh seolah tersihir
    mengikuti arahan Parno.
    Setelah Riska terbaring, Parno menyingkapkan rok abu-abu
    seragam SMU Riska hingga setinggi pinggang. Kemudian dengan
    gerakan perlahan, Parno memerosotkan celana dalam putih yang
    masih menutupi selangkangan Riska. Kedua mata Parno pun
    melotot tajamke arah kemaluan Riska. Kemaluan yang
    merangsang, ditumbuhi rambut yang tidak begitu banyak tapi rapi
    menutupi bibir vaginanya, indah sekali.
    Parno langsung saja mengarahkan batang penisnya ke bibir
    vagina Riska. Riska menjerit ketika Parno mulai menekan
    pinggulnya dengan keras, batang penisnya yang panjang dan
    besar masuk dengan paksa ke dalam liangvagina Riska.
    "Aakkhh..", Riska menjerit lagi, tubuhnya menggelepar mengejang
    dan wajahnya meringis menahan rasa pedihdi selangkangannya.
    Kedua tangan Riska ditekannya di atas kepala, sementara ia dengan
    sekuat tenaga melesakkan batang kemaluannya di vagina
    Riskadengan kasar dan bersemangat.
    "Aaiihh..", Riska melengking keras di saat dinding keperawanannya
    berhasil ditembus oleh batang penis Parno. Darah pun mengucur
    dari sela-sela kemaluan Riska.
    "Ohhss.. Hhsshh.. Hhmmh.. Eehhghh.." Parno mendesis nikmat.
    Setelah berhasil melesakkan batang kemaluannya itu, Parno
    langsung menggenjot tubuh Riska dengan kasar.
    "Oohh.. Oogghh.. Oohh..", Riska mengerang-ngerang kesakitan.
    Tubuhnya terguncang-guncang akibat gerakan Parno yang keras
    dan kasar. Sementara Parno yang tidak peduli terus menggenjot
    Riska dengan bernafsu. Batang penisnya basah kuyup oleh cairan
    vagina Riska yang mengalir deras bercampur darah
    keperawanannya.
    Sekitar lima menit lamanya Parno menggagahi Riska yang
    semakin kepayahan itu,sepertinya Parno sangat
    menikmati setiap hentakan demi hentakan dalam menyetubuhi
    Riska, sampai akhirnya di menit ke-delapan, tubuh Parno kembali
    mengejang keras, urat-uratnya menonjol keluar dari tubuhnya
    yang hitam kekar itu dan Parno pun berejakulasi.
    "Aahh.." Parno memekik panjang melampiaskan rasa puasnya
    yang tiada tara dengan menumpahkan seluruh spermanya di
    dalam rongga kemaluan Riska yang tengah menggelepar
    kepayahan dan kehabisan tenaga karena tak sanggup lagi
    mengimbangi gerakan-gerakan Parno.
    Dan akhirnya kedua tubuh itupun kemudian jatuh lunglaidi lantai
    diiringi desahan nafas panjang yang terdengar dari mulut Parno.
    Parno puas sekali karena telah berhasil melaksanakan hajatnya
    yaitu memperkosa gadis cantik yang selama ini menghiasi
    pandangannya danmenggoda dirinya.
    Setelah rehat beberapa menittepatnya menjelang Isya, akhirnya
    Parno dengan becaknya kembali mengantarkan Riska yang
    kondisinya sudah lemah pulang ke rumahnya. Karena masih
    lemas dan akibat rasa sakit di selangkangannya, Riska tak mampu
    lagi berjalan normal hingga Parnoterpaksa menuntun gadis itu
    masuk ke dalam rumahnya.
    Suasana di lingkungan rumahyang sepi membuat Parno dengan
    leluasa menuntun tubuh lemah Riska hingga sampai ke teras
    rumah dan kemudian mendudukkannya di kursi teras. Setelah
    berbisik ke telinga Riska bahwa dia berjanji akan datang kembali
    untuk menikmati tubuhnya yang molek itu, Parno pun kemudian
    meninggalkan Riskadengan mengayuh becaknya menghilang di
    kegelapan malam, meninggalkan Riska yang masih terduduk
    lemas di kursi teras rumahnya.
    E N D