Kamis, 30 Juli 2015

Nightmare Campus 1: Rise of The Pervert

2 Juli 2007 oleh shusaku



(Gambar hanya ilustrasi jika mengenalnya, mohon jangan pahlawan kesiangan. . .it just fun)
Imron adalah karyawan penjaga kampus sebuah perguruan tinggi swasta berusia pertengahan limapuluh. Sosoknya sedang dengan body lumayan berisi, wajahnya jauh dari tampan, hitam dan agak bopengan, matanya pun cekung ke dalam berkesan ngantuk. Masa lalunya bisa dibilang kelam, dulunya dia adalah seorang penjahat yang ditakuti dan beberapa kali keluar masuk penjara, bekas luka sepanjang sejengkal di dadanya adalah hasil pertarungan antar geng dulu. Tampangnya yang seram dan tidak bersahabat itu, ditambah masa lalunya yang seram plus sifat penyendirinya membuatnya seringkali dipandang rendah oleh mahasiswa, dosen, maupun sesama rekan karyawan di kampus itu.
Dia tetap menjalankan tugasnya dengan rapi tanpa mempedulikan omongan orang-orang di sekitarnya. Bekerja di lingkungan itu membuatnya sering menelan ludah melihat tingkah polah para mahasiswi cantik dan dosen-dosen muda yang berpakaian seksi memperlihatkan paha mulus, pusar, maupun belahan dada mereka dengan pakaian berleher rendah, juga sesekali dia memergoki beberapa diantaranya berhubungan badan di areal kampus seperti mobil, toilet, ruang kuliah, dan lain-lain. Semua itu dia anggap sebagai hiburan semata sampai suatu ketika naluri jahat dalam dirinya kembali muncul ketika dia menemukan sebuah cameraphone yang yang tertinggal di kelas. Benda itu diambil dan dipelajarinya, sebentar saja dia sudah paham penggunaannya terutama cara pengambilan gambar dan merekam video klip. Dari sinilah terbesit niat jahat untuk membalas segala perlakuan yang selama ini dia terima dan mewujudkan angan-angannya menikmati tubuh para wanita cantik di kampus dengan cara memeras mereka dengan foto-foto memalukan yang bisa dia ambil dengan alat itu.
Chapter I : Ellen’s Tragedy
Hari itu, Imron mulai menyeleksi siapa yang akan dijadikan mangsa pertamanya. Dia bingung menentukan pilihan karena begitu banyak gadis-gadis cantik disana baik dari kalangan mahasiswi maupun dosen, dan kesempatan untuk mengambil gambar pun perlu momen yang tepat. Keberuntungan berpihak padanya ketika sore jam limaan dimana kampus mulai sepi, dia menemukan sepasang muda-mudi yang sedang berasyik-masyuk di ruang senat. Jendela ruangan itu dicat sebagian, tapi jika berjinjit sedikit maka kita akan bisa mengintip ke dalam melalui bagian yang tidak bercat. Di atas sofa nampak Ellen dan Leo (keduanya mahasiswa fakultas ekonomi) sedang beradegan panas saling melepas hasrat birahinya. Pakaian keduanya sudah tersingkap sana-sini, Leo sudah melepaskan celana panjangnya dan menindih tubuh Ellen yang sudah setengah bugil dengan kaos dan bra tersingkap dan tinggal memakai celana dalam saja, celana panjang Ellen sudah tergeletak di lantai.
“Mmhhh…eenngghhh !” desah Ellen sambil meremasi rambut Leo ketika pemuda itu mengisapi payudaranya.
Tangan Leo merayap ke bawah dan menyusup ke balik celana dalamnya sehingga pada celana dalam itu nampak gumpalan yang bergerak-gerak. Dengan gemetaran, Imron mengeluarkan cameraphone itu dari saku celananya dan mulai mengarahkan lensanya ke arah pasangan yang sedang bermesraan itu. Dengan sabar dan hati-hati, direkamnya adegan demi adegan dalam bentuk foto maupun video klip. Sambil mengambil gambar, tangan satunya tidak bisa menahan diri mengocok penisnya yang sudah mengeras dari luar celana. Ketika mereka sudah mau selesai dan hendak keluar dari ruang itu, Imron pun segera pergi dari situ, rencananya dia akan segera menjalankan aksinya setelah itu, tapi sayangnya kedua muda-mudi itu pulang bersama, lagi pula lebih baik sabar menunggu besok agar gadis itu sudah bersih dan segar kembali dari sisa-sisa persetubuhannya, demikian pikirnya.
Malamnya, Imron menikmati gambar-gambar dan video klip yang diambilnya barusan sambil mengocok penisnya, selain itu dia juga memikirkan saat yang tepat untuk mengerjai Ellen besoknya. Keesokan harinya, setelah beberapa saat mencari orang yang ditunggu, Imron akhirnya menemukan gadis itu sedang mengikuti kuliah di sebuah kelas. Tidak mau kehilangan buruannya, dia terus membuntuti diam-diam dan menunggu waktu untuk berbicara dengannya. Ellen nampak begitu cantik hari itu, dia memakai kaos ketat warna merah yang mencetak bentuk tubuhnya dipadu dengan rok jeans selutut, rambutnya yang hitam sedada itu diikat ke belakang memperlihatkan lehernya yang jenjang dan putih mulus. Tahun ini dia memasuki usianya yang ke-21, anak seorang pemilik toko emas ini selalu berdandan modis tapi tidak norak, sehingga termasuk salah satu bunga di kampus ini. Leo, pemuda yang kemarin bercinta dengannya adalah senior satu angkatan diatasnya, belum sampai sebulan Leo menyatakan cintanya dan diterima dengan mulus.
Saat itu adalah jam satu siang di basement parkir, Ellen baru saja melemparkan tas dan diktat kuliahnya ke dalam mobil dan hendak masuk ke kemudi ketika terdengar Imron, si penjaga kampus itu muncul dan menyapanya dari belakang.
“Siang Non !! Sudah mau pulang ya !” sapanya dengan suara pelan
“Haduh…ngagetin aja bapak ini, ada apa sih Pak !” jawabnya agak ketus sambil mengelus dada.
“Hehe…anu non, bapak cuma mau ngasih liat sesuatu buat non yang sepertinya penting” jawabnya dengan terkekeh.
“Apan sih Pak, cepetan deh saya mau pulang nih !”
Imron pun mengeluarkan HP-nya dan memperlihatkan file-file gambar itu kepada Ellen. Betapa kagetnya gadis itu, ekspresi wajahnya seperti melihat setan, pucat dengan mulut ternganga begitu melihat gambar pertama yang ditunjukkan yaitu dirinya sedang mengulum penis Leo kemarin sore, disusul gambar-gambar berikutnya yang semua berisi adegan syur dirinya bersama kekasihnya itu.
“A-a-apa-apaan ini Pak, apa…apa maksudnya semua ini !?” tanyanya terbata-bata dengan ekspresi kebingungan bercampur kaget.
“Hehehe…bagus yah non ? kalo saya cetak fotonya gimana non ?” wajah Imron menyeringai mesum
“Kurang ajar, apa sebenernya mau Bapak ?” Ellen menjadi geram sehingga hampir berteriak, keringat mulai menetes di dahinya.
“Ssttt…ssssttt…jangan keras-keras dong non, nanti yang lain denger gimana” Imron mengacungkan telunjuk di depan hidungnya dengan tetap cengengesan, “nah, gimana kalau kita bicarakan di gudang sana aja deh, biar lebih enak !” katanya lagi dengan pandangan ke arah sebuah pintu di salah satu pojok basement itu. Ellen tidak bisa berkata-kata lagi, jantungnya berdebar kencang dan tubuhnya panas dingin, namun karena tidak ada jalan lain dia terpaksa mengikuti saja Imron yang terlebih dahulu berjalan ke ruang itu.
Ruang itu tidak begitu besar, diterangi lampu neon 10 watt, sebuah tangga lipat tersandar di dinding diantara setumpuk barang bekas, juga terdapat sebuah rak yang berisi kaleng-kaleng cat, tiner, dan macam-macam peralatan. Setelah keduanya masuk, Imron menyalakan lampu dan menggeser slot pintu membuatnya terkunci dari dalam. Ellen begitu terkejut dan tersentak kaget begitu merasakan pantatnya diraba dari belakang, dia langsung berbalik dan menepis tangan Imron.
“Ahhh…kurang ajar, jangan keterlaluan ya Pak !!” bentaknya marah
“Ahahaha…ayolah Non, kemarin juga Non nafsu banget kan ?” seringainya “lagian apa Non punya pilihan lain buat ngejaga rahasia ini” mimiknya mulai serius.
“Ok…ok Pak, gimana kalau Bapak bilang aja mau berapa, pasti saya kasih” Ellen sudah demikian panik sampai-sampai suaranya gemetaran.
“Ooohh…uang, dasar orang kaya, saya selama kerja disini ngerasa cukup-cukup aja kok Non, tanpa anak istri yang perlu dibiayai, yang susah didapat itu ya kesempatan untuk mencicipi cewek seperti Non ini” sambil menatapnya dalam.
Ellen benar-benar kehabisan akal, dia tidak tahu harus bagaimana lagi. Dia merasa jijik untuk melayani lelaki yang seumuran ayahnya ini yang juga dari status dan ras yang berbeda, tapi nampaknya tidak ada pilihan lain untuk menutupi skandalnya ini, jangankan foto, beritanya yang tersebar saja sudah cukup membuatnya jadi bahan gunjingan sekampus, kedua tangannya terkepal keras menahan emosi.
“Sekarang ya terserah Non aja, bapak ga mau maksa kok, kalo non ga mau silakan pergi, kalau setuju silakan non duduk disini biar kita bisa berunding lagi”kata Imron sambil mengambil kursi lipat yang lapisan kulitnya telah sobek, dibentangkannya kursi itu di dekat Ellen yang masih tertegun.
Akhirnya dengan berat hati, Ellen pun menghempaskan pantatnya ke kursi itu.
“Nah gitu dong baru anak manis, pokoknya asal Non nurut, saya jamin rahasia ini aman”
Kemudian Imron membuka resulting celananya dan menyembullah penis yang sudah mengeras itu di depan wajah Ellen. Matanya melotot melihat penisnya yang hitam berurat dengan ujungnya disunat menyerupai jamur serta jauh lebih besar daripada milik kekasihnya.
“Gede kan Non, pasti punya pacar Non ga segede gini kan !” katanya dengan bangga memamerkan senjatanya itu. “Nah, ayo Non sekarang servisnya mana !”
Dengan tangan gemetar, dia mulai meraih penis itu dan mengocoknya pelan.
“Servis mulutnya mana Non, masa cuma tangan doang sih !” suruhnya tak sabar
Pelan-pelan, Ellen memajukan wajahnya sambil memandangnya jijik, dia melanjutkan kocokannya sambil menyapukan lidahnya pada kepala penis itu dengan ragu-ragu, sehingga Imron jadi gusar.
“Heh, apa-apaan sih, disuruh pake mulut malah cuma pake lidah disentil-sentil gitu !” bentaknya “gini nih yang namanya pake mulut !” seraya menjambak kuncir rambut Ellen dan menjejalkan penisnya ke dalam mulutnya.
“Mmmhhppphh…!!” hanya itu yang keluar dari mulut Ellen yang telah dijejali penis, air mata menetes dari sudut matanya.
Mulut Ellen yang mungil itu membuatnya tidak bisa menampung seluruh batang itu, ditambah lagi bau yang keluar dari benda itu menambah siksaannya.
“Ayo, yang bener nyepongnya, kemaren kan hebat ke pacarnya, kalau gak muasin rahasianya ga Bapak jamin loh !”
Imron mendesah merasakan belaian lidah Ellen pada penisnya serta kehangatan yang diberikan oleh ludah dan mulutnya. Pertama kalinya sejak dipenjara belasan tahun yang lalu dia kembali menikmati kehangatan tubuh wanita. Ellen sendiri walaupun merasa jijik dan kotor, tanpa disadari mulai terangsang dan mulai mengulum benda itu dalam mulutnya.
“Uuhhh…gitu Non, enak…mmmm !” gumamnya sambil memegangi kepala Ellen dan memaju-mundurkan pinggulnya.
Ellen merasakan wajahnya makin tertekan ke selangkangan dan buah pelir Imron yang berbulu lebat itu, penis di dalam mulutnya semakin berdenyut-denyut dan sesekali menyentuh kerongkongannya. Sekitar sepuluh menit lamanya dia harus melakukan hal itu, sampai Imron menekan kepalanya sambil melenguh panjang.
“Ooohh…keluar nih Non, isep…awas kalo dimuntahin, sekalian bersihin kontolnya !” perintahnya dengan nafas memburu.
Cairan putih kental itu menyembur deras di dalam mulutnya dan mau tidak mau, Ellen harus menelannya, rasanya yang asin dan kental itu membuatnya hampir muntah sehingga tersedak. Beberapa saat kemudian barulah semprotannya melemah dan berhenti. Ellen langsung terbatuk-batuk begitu Imron mencabut penis itu dari mulutnya. Nafasnya terengah-engah mencari udara segar, air mata telah mengalir membasahi wajah cantiknya.
“Sudah…cukup ya Pak, saya mohon lepaskan saya !” Ellen memohon.
“Cukup apanya Non, baru juga pemanasannya, pokoknya dijamin puas deh Non !” ujar Imron sambil berjongkok di depannya, tangannya meraih ujung baju Ellen hendak menyingkapnya.
“Jangan…jangan Pak, saya mohon !” ucapnya mengiba sambil menahan tangan Imron yang akan menaikkan bajunya.
Namun tenaganya tentu saja kalah dari pria setengah baya itu yang menepis tangannya dan langung menyingkap kaos sekaligus bra hitam di baliknya. Kini mulut Imron dengan rakus menjilat dan menyedot puting Ellen yang merah dadu itu, setelah beberapa saat tangannya yang menggerayangi payudara yang lain mulai turun ke bawah mengelus paha mulusnya lalu menyusup masuk ke roknya. Di dalam rok, tangan kasar itu menjejahi kemulusan paha dalam Ellen sebelum akhirnya menjamah selangkangannya yang masih tertutup celana dalam.
Ellen hanya bisa pasrah menerima perlakuan itu, dia mendesah dan sesekali terisak saat tangan itu mulai meraba-raba kemaluannya dari luar. Rasa geli membuatnya mengatupkan kedua belah pahanya sehingga tangan Imron terjepit diantara kemulusan kulitnya. Hal ini membuatnya semakin bernafsu, dia mulai menyusupkan jari-jarinya melalui pinggiran celana dalam itu dan menyentuh bibir vaginanya yang telah becek.
“Hehehe…nangis-nangis tapi ikut konak juga !” ejeknya sambil nyengir lebar ketika merasakan daerah kewanitaan Ellen yang basah itu.
Kemudian dengan mengaitkan dua jari, ditariknya lepas celana dalamnya yang juga warna hitam itu, lalu diangkatnya juga roknya sehingga kini angin menerpa tubuh bagian bawah yang telah terbuka itu.
“Buka kakinya Non !” perintahnya pada Ellen yang merapatkan pahanya dengan rasa malu yang mendalam.
“Buka ga…atau fotonya saya sebarin !” katanya lagi dengan lebih keras.
Dengan amat terpaksa, Ellen mulai membuka pahanya perlahan-lahan memperlihatkan kemaluannya yang berbulu cukup lebat kepada Imron yang berjongkok di depannya. Dia menggigit bibir dan memejamkan mata, tak pernah terbayang olehnya akan melakukan hal ini di depan lelaki seperti itu.
“Wah…udah lama sekali Bapak gak ngerasain yang satu ini !” katanya sambil menatapi daerah pribadi itu dan mengelusnya.
Tak lama kemudian Imron pun melumat vaginanya dengan ganas, diserangnya setiap sudut vagina itu mulai dari bibir hingga klitorisnya disertai gigitan-gigitan kecil, tangan kanannya meraih payudaranya dan meremasinya, sedangkan yang kiri menelusuri kemulusan pahanya.
“Uh…uhh…jangan…sudah, ahhh… !” desah Ellen dengan tubuh menggeliat-geliat menahan rasa geli yang bercampur nikmat luar biasa itu, suatu perasaan yang tidak bisa ditahannya lagi.
Tubuh Ellen telah basah oleh keringat, wajahnya memerah dan nafasnya makin memburu. Mendadak dia merasakan bulu kuduknya merinding semua, secara reflek dia merapatkan kedua pahanya mengapit kepala Imron karena sebuah sensasi dahsyat, ternyata Imron membenamkan lidahnya pada bagian yang lebih dalam dari vaginanya, dia merasakan dinding vaginanya menjepit lidah Imron. Selain itu dia juga merasakan putingnya makin mengeras karena terus dipilin dan dipencet-pencet oleh Imron. Puas bermain-main dengan vagina itu, Imron mengangkat tubuh Ellen bangkit berdiri, kini posisi mereka berhadap-hadapan. Tanpa perlawanan berarti Imron melucuti kaos dan bra-nya. Yang tersisa di tubuhnya tinggal rok yang telah tersingkap ke atas dan sepatu haknya, sementara Imron masih memakai kaos dan seragam karyawannya yang kancingnya terbuka sebagian tetapi tanpa celana. Diangkatnya wajah Ellen yang tertunduk, ditatapnya sejenak dan disekanya air mata yang mengalir sebelum dengan tiba-tiba melumat bibir mungil itu dengan ganas.
Mata gadis itu membelakak menerima serangan kilat itu, dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mendorong dada Imron, namun sia-sia karena Imron memeluknya begitu kuat dengan tangan satunya memegangi kepalanya. Lidahnya mendorong-dorong dan menjilati bibirnya, ditambah lagi tangannya merabai kulit punggung dan pantatnya menyebabkan Ellen makin terangsang sehingga bibirnya mulai membuka membiarkan lidah Imron masuk menyerbu rongga mulutnya. Beberapa saat kemudian Imron merasakan badan Ellen sudah lebih rileks dan tidak meronta lagi, maka diapun melepaskan pegangannya pada kepala Ellen agar bisa menjamah daerah lainnya. Tanpa sadar. Ellen pun merespon permainan lidah Imron walaupun awalnya bau mulut Imron terasa tak nyaman baginya, sekalipun nuraninya mengatakan tidak, dia tidak bisa menahan gelombang birahi yang menerpanya, terlebih saat itu tangan Imron sedang menggerayangi segenap penjuru tubuhnya.
Kedua telapak tangan kasar itu berhenti di pantatnya dan masing-masing mencaplok satu sisi. Dirasakannya kedua bongkahan daging itu, bentuknya padat berisi dan bulat indah karena memang sebagai anak dari kalangan berada, Ellen merawat benar tubuhnya dengan fitness dan diet. Ciuman Imron makin merambat turun ke leher jenjangnya lalu dia membungkukkan badan agar bisa menciumi payudaranya. Ellen sudah tidak bisa menahan diri lagi, birahi telah membuyarkan akal sehatnya. Lagipula yang pernah menikmati tubuhnya bukan cuma bajingan tua ini dan Leo, kekasihnya, sebelumnya dirinya pernah terlibat one night stand dengan beberapa pria dan juga mantan pacarnya semasa SMA, yang membedakannya dengan pria-pria lain cuma status sosial, ras, dan perbedaan usia yang mencolok. Jadi untuk apa lagi menahan diri dan jaga image, toh sudah telanjur basah, jadi sebaiknya tuntaskan saja agar masalah selesai, demikian yang terlintas di benaknya.
Dari leher mulut Imron turun lagi ke dadanya, dia membungkuk agar bisa menyusu dari payudara berukuran 32B yang montok itu. Dijilatinya dengan liar hingga permukaan payudara itu basah oleh ludahnya, terkadang dia juga menggigiti putingnya memberikan sensasi tersendiri bagi Ellen. Tangan satunya turun meraba-raba kemaluannya dan memainkan jarinya disitu menyebabkan daerah itu makin berlendir.
“Pak…Pak…ga mau…ahh-ah !” desahnya antara menolak dan menerima.
Sambil terus memainkan jarinya Imron mendorong tubuh Ellen hingga punggungnya bersandar di tembok. Sekali lagi dia menyergap bibir Ellen, sambil berciuman tangannya menempelkan kepala penisnya ke bibir vagina Ellen. Gesekan kepala penis dengan bibir vagina itu membuat Ellen merasa geli sehingga tubuhnya menggelinjang. Lalu pelan-pelan Imron menekan penisnya ke liang senggama Ellen.
“Sshhh…sakit, aawhhh…!!” rintih Ellen ketika penis Imron yang besar itu menerobos vaginanya.
Ellen meringis dan merintih menahan rasa sakit pada vaginanya, meskipun sudah tidak perawan tapi kemaluannya masih sempit, lagipula penis para pria yang pernah kencan dengannya tidak ada yang sebesar ini. Sementara Imron terus berusaha memasukkan senjatanya sambil melenguh-lenguh. Setelah beberapa saat menarik dan mendorong akhirnya masuklah seluruh penis itu ke vaginanya, walaupun nafsu sudah di ubun-ubun, Imron masih berhati-hati agar korbannya tidak menjerit dan suaranya terdengar keluar, maka itu dia lebih memilih pelan-pelan daripada memakai sodokan mautnya untuk melakukan penetrasi. Saat itu airmata Ellen meleleh lagi merasakan sakit pada vaginanya.
“Huhh…masuk juga akhirnya, memeknya seret banget Non, Bapak suka yang kaya gini” katanya dekat telinga Ellen.
Sesaat kemudian, Imron sudah menggoyangkan pinggulnya, mula-mula gerakannya perlahan, tapi makin lama kecepatannya makin meningkat. Ellen benar-benar tidak kuasa menahan erangan setiap kali Imron penis Imron menghujam sambil berharap tidak ada orang lewat yang mendengar suara persenggamaan mereka. Saat itu adalah hari Sabtu, jam-jam seperti ini memang kegiatan kuliah sedikit sehingga yang parkir di basement itu pun tak banyak, tapi tidak menutup kemungkinan kalau seseorang lewat situ dan mengetahui yang terjadi di ruang ini. Gesekan demi gesekan yang timbul dari gesekan alat kelamin mereka menimbulkan rasa nikmat yang menjalari seluruh tubuh Ellen sehingga matanya membeliak-beliak dan mulutnya mengap-mengap mengeluarkan rintihan. Imron lalu mengangkat paha kirinya sepinggang agar bisa mengelusi paha dan pantat Ellen sambil terus menggenjot.
Menit demi menit berlalu, Imron masih bersemangat menggenjot Ellen. Sementara Ellen sendiri sudah mulai kehilangan kendali diri, dia kini sudah tidak terlihat sebagai seseorang yang sedang diperkosa lagi, melainkan nampak hanyut menikmati ulah bajingan tua itu. Kemudian tanpa melepas penisnya, dia mengangkat paha Ellen yang satunya dan digendongnya menuju kursi dimana dia mendaratkan pantatnya. Anehnya, tanpa disuruh, Ellen memacu dan menggoyangkan pinggulnya pada pangkuan Imron karena kini bukan lagi pikiran dan perasaannya yang bekerja melainkan naluri seksnya. Ketika memandang ke depan, dilihatnya wajah tua gelap pria itu sedang menatapnya dengan takjub, segaris senyum terlihat pada bibirnya, senyum kemenangan karena telah berhasil menaklukkan korbannya. Dengan posisi demikian, Imron dapat mengenyot payudara Ellen sambil menikmati goyangan pinggulnya. Kedua tangannya meraih sepasang gunung kembar itu, mulutnya lalu mencium dan mengisap putingnya secara bergantian.
Remasan dan gigitannya yang terkadang kasar menyebabkan Ellen merintih kesakitan. Namun dia merasakan sesuatu yang lain dari persenggamaan ini, lain dari yang dia dapat dengan pria lain yang pernah bercinta dengannya yang umumnya bersikap gentle, gaya bercinta Imron yang barbar justru menciptakan sensasi yang khas baginya yang belum pernah dia dapatkan sebelumnya. Di ambang klimaks, tanpa sadar Ellen memeluki Imron dan dibalas dengan pagutan di mulutnya. Mereka berpagutan sampai Ellen mendesis panjang dengan tubuh mengejang, tangannya mencengkram erat-erat lengan kokoh Imron. Sungguh dahsyat orgasme pertama yang didapatnya, namun ironisnya hal itu bukan dia dapat dari kekasihnya melainkan dari seorang pria mesum yang memanfaatkan situasi tidak menguntungkan ini. Setelah dua menitan tubuhnya kembali melemas dan bersandar dalam pelukan Imron.
Penis Imron yang masih menancap di vaginanya belumlah terpuaskan, maka setelah jeda beberapa menit dia bangkit sehingga penis itu terlepas dari tempatnya menancap. Ellen yang belum pulih sepenuhnya disuruhnya menungging dengan tangan bertumpu pada kepala kursi.
“Oohh…udah dong Pak, saya sudah gak kuat, tolong !” Ellen memelas dengan lirih
Mendengar itu, Imron cuma nyengir saja, dia merenggangkan kedua paha Ellen dan menempelkan penisnya pada bibir kemaluannya.
“Uugghh…oohh !” desah Ellen dengan mencengkram sandaran kursi dengan kuat saat penis itu kembali melesak ke dalam vaginanya.
Tangannya memegang dan meremas pantatnya sambil menyodok-nyodokkan penisnya, cairan yang sudah membanjir dari vagina Ellen menimbulkan bunyi berdecak setiap kali penis itu menghujam. Suara desahan Ellen membuatnya semakin bernafsu sehingga dia meraih payudara Ellen dan meremasnya dengan gemas seolah ingin melumatkan tubuh sintal itu.
Limabelas menit lamanya Imron menyetubuhinya dalam posisi demikian, seluruh bagian tubuh Ellen tidak ada yang lepas dari jamahannya. Sekalipun merasa pedih dan ngilu oleh cara Imron yang barbar, namun Ellen tak bisa menyangkal dia juga merasakan nikmat yang sulit dilukiskan yang tidak dia dapatkan dari pacarnya. Akhirnya, Imron menggeram dan merasakan sesuatu akan meledak dalam dirinya, penisnya dia tekan lebih dalam ke dalam vagina Ellen, serangannya juga makin gencar sehingga Ellen dibuatnya berkelejotan dan merintih. Kemudian dia melepaskan penisnya dan cret…cret…cret, spermanya muncrat membasahi pantat Ellen. Belum cukup sampai situ, disuruhnya Ellen menjilati penisnya hingga bersih, setelahnya barulah dia merasa puas dan memakai kembali celananya. Ellen bersimpuh di lantai dengan menyandarkan kepala dan lengannya pada kursi itu, wajahnya tampak lesu berkeringat dan bekas air mata, dalam hatinya berkecamuk antara kepuasan yang sensasional ini dan rasa benci pada pria yang baru saja memperkosanya.
Imron mendekatinya dan berjongkok, lalu berkata
“Nah sekarang rahasia Non aman, tapi Non juga harus pastikan cuma kita berdua yang tau yang terjadi barusan kalau tidak, foto-foto Non ini akan saya kirim ke sembarang orang atau mungkin akan terpajang di papan penguman, ngerti !”
Setelah Ellen berpakaian kembali, dia menyuruhnya pergi setelah memastikan keadaan sekitar situ aman. Dalam perjalanan pulangnya, Ellen hampir saja menabrak mobil lain karena melamun memikirkan kejadian barusan yang membuat dirinya serasa hina, namun juga merasakan kepuasan yang lain dari biasanya. Sementara itu Imron menanti kesempatan untuk memangsa korban berikutnya. Ikuti terus petualangan Imron, the pervert janitor.
###########################

Selasa, 28 Juli 2015

Putriku Terima kasih, kalian nikmat sekali part 2

" Oh Tuhanku! Sandie, bagaimana bisa kamu melakukannya dengan ayah!"

Aku menoleh kearah datangnya suara. Di depan pintu kamar aku melihat putri sulungku Melanie, berumur 17 tahun , dia memakai salah satu T-shirt lamaku, sedang menyilangkan kedua tangan di dadanya. Wajahnya menampakkan keterkejutan amat sangat!

Aku sedang duduk dengan punggungku bersandar di bantal, kaki-kakiku terpentang lebar, dan putriku berada di antara kaki-kakiku, telanjang dan hanya memakai celana dalam mini, tangan kanannya bahkan masih menggenggam penisku Aku tertangkap basah!. Apa yang aku lakukan sekarang?

Aku berbicara kepada Mel dengan tergagap "Ini tidak seperti yang kausangka sayang, aku mengira Sandie adalah ibumu"

"Jangan kuatir tentang dia yah, dia hanya cemburu, dia belum mempunyai seorang pacar di dalam hidupnya dan dia hanya cemburu karena aku memiliki penismu yang perkasa ini.”

Mel telah memasuki ruangan, dia sedang menatap pada penisku, yang sudah mulai melemas sekarang, tetapi masih dengan ukuran yang menakjubkan. Sandie memegang penisku di genggaman tangan kanannya seolah-olah segan untuk melepaskannya.

"Bolehkah aku menyentuhnya ayah?" Mel berkata 

Itu adalah kata-kata yang pertama keluar dari mulutnya.

"Ya sayang, silahkan"

Perasaanku sudah campur aduk. Sekarang aku diantara kedua putriku yang berumur 16 tahun dan 17 tahun, di tempat tidurku memperhatikan penisku. Aku tidak mengetahui bagaimana caranya lari dari hal ini, otakku terasa kosong. Apakah Mel benar-benar masih perawan? Apakah dia belum pernah menyentuh penis sebelumnya?

Dia seorang anak gadis yang rajin belajar. Sama seperti ibunya, dengan kepalanya selalu di buku dan terlalu serius untuk menerima semua yang akan terjadi atau hal-hal yang menyenangkannya. Dia jangkung seperti aku, tubuhnya ramping, seperti semua anak-anak perempuanku lainnya, dia juga mempunyai buah dada, kira-kira berukuran 32C aku pikir. Rambut pirangnya tumbuh sebahu, dan bagian yang terbaik di dirinya adalah kedua matanya, besar dan bercahaya. Inikah putriku sekarang? Dan kedua mata itu sekarang sedang mengamati langsung penisku, dan dia sedang mengagguminya, kepala penisku berwarna kemerahan dan setelah ejakulasi hingga dua kali, sekarang aku sedang berusaha keras untuk membuatnya tegak kembali, tetapi akan memerlukan lebih banyak waktu.

"Ayah, apakah memang selalu besar seperti ini?"

Sebelum aku bisa menjawab Sandie berkata

"Mel, saat ini penisnya masih dalam keadaan lemas, kamu perlu melihat ketika ia ereksi, benar-benar luar biasa!"

Ada rasa bangga ketika mendengar kata-kata tersebut, dan melihat kesungguhan di mukanya.

Aku bertemu dengan istriku untuk pertama kalinya di kampus pelatihan kepolisian, Jatuh cinta pada pandangan pertama. Menikah dan belum pernah berpaling dengan yang lain. Pada waktu itu kita sama-sama masih perawan dan aku masih perjaka, dan sejak itu kita saling mempercayai satu dengan yang lainnya.

Sekarang, disini, aku sedang berusaha untuk menyetubuhi putri sulung dan putri bungsuku sendiri, dan mereka sekarang mencoba membuat penisku kembali berereksi. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku hanya memikirkan nafsuku sendiri, mengikuti arus kesenangan ini.

"Ayah, dapatkah kutunjukkan kepada Mel betapa nikmatnya menaruh penismu yang gemuk di dalam mulut ini" Sandie berkata.

"Aku pikir bahwa Mel dapat memutuskan apa yang dia inginkan untuk dilakukannya ketika dia merasa siap"

Lalu Mel maju ke depan dan mencoba untuk menjejalkan penisku ke dalam mulutnya sekaligus, dia langsung tersedak dan terbatuk dalam hitungan detik. 

"Jangan seperti itu Mel!" Sandie berkata, "Seperti ini seharusnya" Dia kembali berlutut, meraih penisku dari mulut kakaknya dan dengan lemah-lembut mulai menghisap helmku. Dia memandang dengan senyum manisnya kepadaku dan Mel bergantian "Begitulah caranya"

Mel berusaha dan beberapa menit kemudian, dia sudah bisa menelan sekitar 5 inci penisku ke dalam mulutnya, air liurnya mengalir jatuh di batang penisku, tangannya sedang menggenggam dengan erat dan aku mengira aku akan ereksi lagi. Pada usiaku, aku sedang berpikir. Sulit sekali untuk kembali berereksi segera, tetapi keadaan ini telah menimbulkan sensasi yang tinggi.

Sandie telah melepas celana dalam mininya dan sedang menggosokkan tangan di celah vaginanya dan setiap dua atau tiga kali gosokan, dia memasukkan jari di dalam liang vaginanya, aku bisa melihat kombinasi antara maniku tadi dan cairan vaginanya, menetes diatas tempat tidur, lubrikasi membuatnya mudah untuk mengocok liang vaginanya sendiri.

Mel juga meremasi buah dadanya sendiri yang masih terbungkus T-shirt, dia menaik-turunkan kepalanya di penisku dan bermain di buah dadanya sendiri di waktu yang sama. 

"Mel, apakah lebih nyaman kalau kau melepaskan kausmu itu" Aku berkata

"Ya Ayah, aku juga berpikir demikian" Dia berhenti untuk sebentar dan melepas kaus melewati kepalanya.

Aku sedang memperhatikan kedua putri ku sekarang, kedua-duanya menjamahi tubuhnya sendiri dan bermain di titik-titik sensitif mereka. Aku merasa disurga.

"Mel berhentilah sebentar, berbaringlah dan akan kutunjukkan padamu sesuatu yang aku tahu pasti kamu akan suka." Aku berpindah ke bawah tubuhnya dan menjalankan lidahku perlahan di atas celah vaginanya yang lembut, tetapi kemudian aku meningkatkan intensitasnya, sehingga lidahku mengenai klitorisnya. Tidak memerlukan waktu yang lama ketika dia mencapai orgasme pertamanya, dia menjerit dalam kenikmatan, dan menyemprot mukaku dengan cairan orgasmenya.


"Oh Ayah, rasanya sungguh nikmat, jangan berhenti" dia berkata

Aku berereksi penuh kembali. Sandie yang melihat penisku sudah siap kembali sedang berusaha untuk mengambil posisi, ketika dia berusaha keras memasukkan penisku di vaginanya, pemandangan itu sungguh lucu.

"Sandie, apakah kamu bisa berbagi dengan saudarimu dan memperbolehkan penisku memasukinya?

Mel menyadari bahwa dia bisa kehilangan keperawanannya dan aku melihat dia sejenak berpikir keras, tetapi dia telah memutuskan. Secepat kilat tangannya merebut penisku dari adiknya

"Ayah, apakah ayah akan menyetubuhiku dalam posisi misionaris?"

"Tidak sayang, aku berbaring dan kamu dapat berada diatas ayah, dengan cara itu kamu dapat lebih nyaman, akan sedikit sakit, maka pelan-pelan saja dan rilekskan dirimu."

Aku membaringkan tubuhku. Mel segera pindah berada di atas tubuhku, dengan vaginanya yang perawan hanya beberapa senti saja jauhnya dari batang penisku yang tegak mengacung. Sandie yang memegang penisku menyiapkannya untuk menembus selaput dara kakaknya. Aku merasa inilah keluarga, saling bekerja sama. Mel menurunkan dirinya pelan-pelan, dan aku sedang menyaksikan semakin banyak dari batang penisku menghilang di dalam vaginanya, sangat sempit, basah dan hangat. Aku mengharapkan Mel untuk berhenti, tetapi ketika sampai di daerah selaput daranya, dia hanya menurunkan pinggulnya hingga, batang penisku tenggelam hingga ke pangkalnya.

"Jangan kuatir Ayah" dia berkata "Aku kehilangan keperawananku sudah lama. Dengan tangkai sikat rambut kesenanganku "

Aku adalah mampu berbaring dan benar-benar memperhatikan kedua anak perempuanku, kedua vaginanya mulus tak berambut, seperti halnya ibu mereka, aku berpikir mungkin ibunyalah yang mengajari anak-anak perempuan kami menjaga kebersihan diri dengan mencukur rambut pubicnya setiap 2 minggu sekali.

Mel sedang menaik-turunkan pinggulnya diatas penisku, terkadang sengaja mengangkat pinggulnya agak tinggi lalu kembali membenamkan seluruh batang penisku di liang vaginanya yang hangat. Aku merasakan kalau dia sudah orgasme paling sedikit 3 kali. Cairan vaginanya membanjir di selakanganku. Sandie tidak mau ketinggalan, dia sedang menurunkan pinggulnya di mukaku. Saat ini benar-benar saat yang paling menakjubkan dalam kehidupanku. Kujilati celah vaginanya, dapat kurasakan kombinasi rasa antara sisa maniku dan cairan vaginanya sendiri.

Dia sedang menggeliat, mengejang menahan kenikmatan yang datang dari lidah ayahnya sendiri. Seperti mengendarai tongkat Pogo. Aku teringat, ketika pada suatu Natal, mereka keduanya mendapatkan tongkat Pogo, dan ketika mereka bermain aku berlarian untuk menjaga mereka agar jangan sampai terjatuh. Dan sekarang ini mereka sedang menaik-turunkan tubuhnya diatas tubuh ayahnya seperti mengendarai tongkat Pogo. Sungguh fantastis!

"Ayah" Sandie berkata "Dapatkah ayah bermain di lubang duburku, aku menyukainya ketika ayah melakukannya tadi pagi"

Lidahku berpindah diatas lubang duburnya, membuatnya semakin basah. Aku menggunakan kedua tanganku,kulebarkan pantatnya dan jariku mulai bermain di vaginanya. Sementara kuselipan satu jari ke dalam lubang duburnya. Tanpa menunggu lama, Sandie mengalami orgasme hebat, cairannya menetesi mukaku.

Tak lama kemudia penisku sendiri tidak mampu menahan desakn gelombang orgasme dari dalam. Menyemprotkan maniku dengan kuat di rahim putriku, berkedut-kedut, memerasnya hingga tetes terakhir. Mel ambruk diantara tubuhku dan adiknya. Nafas kami bertiga seperti habis berlari marathon.

Perasaanku bercampur baur jadi satu, tetapi ada rasa kepuasan yang menguasai emosiku.

"Anak-anak, kita tidak bisa diam seperti ini, aku ingin kalian berdua segera bangun dan mandi. Setelahnya segera kembali lagi kemari" 

Satu jam kemudian kita bertiga berbaring di tempat tidurku, dengan sprei yang sudah diganti. Banyak sekali yang akan didiskusikan, tetapi sekarang aku benar-benar memerlukan waktu untuk tidur.

Namun aku tahu, setelah semuanya yang telah terjadi, aku tidak mungkin bisa membiarkan diriku tertidur.


Sekian dan terima kasih@ nantikan kisah yang lainnya

Putriku Terima Kasih, Kalian Nikmat Sekali Part 1

 Aku sudah menjadi polisi hampir 20 tahun. Di pagi ini aku telah menyelesaikan shift malamku dan pulang ke rumah. 

Sesampainya di rumah aku melakukan hal yang rutin, sarapan satu mangkuk sereal dari gandum, pergi mandi, lalu tidur. Kamar tidur kami mempunyai tirai gelap untuk menahan sinar matahari, sehingga aku dapat tidur dengan mudah sepanjang hari, karena aku juga kebagian shift malam, maka tidur 8 jam yang baik sangatlah penting buatku. Setelah mandi, aku menggantungkan seragam, dan mengenakan jubah mandiku. Aku menuju ke sisi lain dari tempat tidur, tempatku sendiri. Dalam keadaan gelap, aku hanya bisa memandangi sebentar siluet tubuh dari istriku, lalu kuhempaskan diriku perlahan ke ranjang.

Aku melepaskan jubah mandiku dan merayap ke dalam tempat tidur, sudah dari tahun ke tahun kita menyepakati sebuah kode. Shift malam yang panjang dapat membuat anda benar-benar horny, dan aku juga menemukan bahwa berhubungan intim yang baik dapat membuat anda tertidur dengan perasaan bahagia. Jika aku membangunkan istriku dengan kasar maka dia akan menolak berhubungan intim dan memohon kepadaku untuk membiarkannya tidur. Sehingga rencanaku adalah bermain-main dengannya, membuatnya siap, tetapi juga dengan cara yang pelan dan halus.

Aku memulai dengan mengelus-elus lembut pahanya, sekedar gelitik kecil, hanya agar membuat dia merasa seperti dipijat secara pelan, aku tahu kalau dia juga suka disentuh, dan itu membuatnya terangsang. aku menghabiskan sekitar 10 menit untuk menjamah dan mengelusnya, lalu berhenti di belahan vaginanya. Aku tidak tergesa-gesa. Aku tahu, jika kaki-kakinya menegang dan agak membuka, maka dia pasti menginginkan lebih dari itu.

Hari ini terasa berbeda, dia mungkin benar-benar tertidur nyenyak atau, sengaja mempermainkanku, agar aku berbuat lebih dari itu, aku juga menyukainya seperti yang dia inginkan. Seperti yang aku katakan, aku tidak terburu-buru. Kadang-kadang kita bisa menghabiskan waktu dengan hanya saling belai. Setelah suatu 20 menit, aku mendapati sinyal darinya, suatu bisikan kecil, seperti seekor kucing mendengkur dari bibirnya, yang diikuti oleh suatu gerakan kecil, dan kaki-kakinya mulai melebar.

Sekarang pertama-tama kusentuh vaginanya dengan lembut, aku merasakan dia sengaja memakai celana dalam mininya. Sedikit nakal. Setelah 17 tahun pernikahan, dia masih sering memberiku kejutan, seperti kali ini.

Aku dengan lemah-lembut menggosok vaginanya, di klitorisnya dengan jari, perlahan-lahan. Kain nya seperti sutera dan halus ditanganku. Kucari labianya, lalu kuselipkan tanganku dibalik celana dalamnya. Ya tuhan dia sudah basah. Aku masih tidak tahu apakah dia sudah sepenuhnya terjaga. tetapi tidak masalah, kita sering bermain-main seperti ini, tanpa satupun dari kita yang mengeluarkan sebuah kata-kata. Itu menambahkan sensasi. Biarlah imajinasi kita bermain.

Erangan kecil keluar dari bibirnya. Kini waktunya untuk ke tingkatan yang berikutnya. Tubuhku termasuk berotot, Aku bisa berlatih di dalam gimnasium berjam-jam pada waktu yang sama, otot-ototku sungguh ditempa, terutama tangan-tangan dan kakiku, besar sekali. Jari-jariku seperti sosis-sosis yang gemuk. Aku menyisipkannya, melebarkan bibir vaginanya dan mulai menyisipkannya pelan-pelan di liang vaginanya. Kudorong masuk dan kutarik secara perlahan-lahan, berkali-kali, liang vaginanya yang basah membantu jariku meluncur dengan mudah ke dalam.

Kadang-kadang dalam posisi ini dia sudah tidak tahan lagi, dan mengatakan: "Steve, segera setubuhi aku, masukkan penismu ke dalam sayang, aku sudah tidak tahan lagi!". Tetapi tidak ada apa pun hari ini, dia sudah memulai untuk mendorong dirinya sendiri ke jari-jariku, menginginkan lebih. Aku memasukkan 2 jariki di dalam liang vaginanya, dan dia mengerang lagi.

Dia bergerak sedikit punggungnya dihadapanku, Kaki kanannya sudah diangkat memberi aku akses lebih besar kepada vaginanya. Sekarang aku dapat benar-benar bermain. Dengan 2 jari di dalam nya, aku dapat mulai untuk mempermainkan ibu jariku di lubang duburnya bergantian dengan bibir vaginanya. Cairan vaginanya mulai membanjir, dan ibu jariku terus menggosok lembut lubang duburnya. Dia mulai menggerakkan tubuhnya maju mundur. Ibu jariku menggosok-gosok di lubang duburnya, sedangkan kedua jariku bermain di titik G-Spotnya. Aku melanjutkan gerakan ini sampai aku merasakan orgasmenya, tubuhnya gemetar, dan cairan vaginanya membanjir, tumpah ketanganku.

Hal ini harus kuperbuat, dan pengalaman sudah membuktikan bahwa memasukkan penisku yang berukuran 9 inci ke dalam vaginanya tanpa membuat dia orgasme dulu, dapat menyakitinya. Aku mencabut jari-jariku. Aku memposisikan diri dan perlahan lahan memasukkan penisku membelah liang vaginanya. Sangat tidak dipercaya vaginanya masih sesempit ini, tetapi karena sudah basah, maka pelan-pelan penisku mulai memenuhi liang vaginanya. Ada perasaan sedikit aneh ketika penisku masuk di liang vaginanya. 

Aku mulai melambatkan gerakanku. Dia suka sekali ketika vaginanya terasa penuh. Dia suka sekali ketika ujung penisku menyodok hingga mentok ke mulut rahimnya, dan liang vaginanya merengang lebar mengikuti bentuk otot-otot di batang penisku. Hanya beberapa sodokan, dia sudah menggeram, dan mengerang tanda orgasme kedua telah dicapainya. Aku tidak menyangka dia bisa orgasme lagi secepat ini, bahkan hanya dengan beberapa sodokan. Dia pasti sedang bermimpi erotis sebelumnya, sehingga dia bisa orgasme dengan cepat.

Salah satu bagian yang sensitif adalah puting susunya. Aku selalu menyentuh keduanya di saat terakhir, keduanya sangat sensitif. Aku memeluknya erat, tanganku menjamah kedua buah dadanya, jariku bersiap di puting-puting susunya. Kurasakan buah dadanya sangat membulat penuh. Buah dadanya hanya berukuran 34C, tetapi hari ini aku rasakan, buah dadanya sangat kenyal dan besar. Pikiranku mulai melayang, memikirkan perbedaan ini.

Dia mengerang dan mengejang di pelukanku, dengan berirama aku mengayunkan pinggulku, menyodok-nyodok liang vaginanya, tanpa kesulitan tak berapa lama kemudian dia telah mencapai orgasmenya lagi. Dia menjerit dan mengerang histeris dalam orgasmenya. Aku belum pernah mendengar dia seperti ini sebelumnya. Gerakanku terhenti sejenak.

Pada detik berikutnya dia mengatakan sesuatu yang membuat jantungku hampir copot!

"Jangan berhenti ayah, ini sangat menakjubkan!" 

Aku tercengang! Aku tahu bahwa tanpa suatu keraguan apapun, pada saat ini aku sedang memuntahkan benih di dalam kandungan salah satu putriku. Aku sangat shock, tetapi ini shock yang menyenangkan. Sudah ada keanehan sebelumnya, celana dalam mungil, buah dada yang besar dari biasanya, suara erangan dan jeritan yang belum pernah aku rasakan. Aku sekarang sadar kalau ini adalah Sandra, atau Sandie panggilannya, dia memang mempunyai buah dada yang paling besar di dalam keluarga ini. Aku pernah mendengar dari istriku kalau ukurannya mencapai 32E.

Aku tahu ini salah, tetapi pada saat ini, penisku menjadi semakin keras, dan aku merasakan sensasi yang lain. Penisku menginginkan gesekan dan denyutan dinding-dinding vagina putriku, dan menyemburkan spermanya ke dalam liang yang menyenangkan ini! Sesaat aku bimbang. Di salah satu sisi aku ingin berhenti, tetapi keinginan yang lebih besar menyelimutiku, denyutan di penisku membuatku ingin berejakulasi! aku bergerak tanpa dapat terkontrol lagi, dan memang akhirnya penisku tidak dapat menahan lebih lama lagi, menyemburkan cairan putih kental, menyemprot dengan deras di liang vagina putriku, lagi dan lagi...aku mengerang, mengejang hebat!

Sandie sedang meraung dan menjerit pada waktu yang sama, Ya Tuhan, jeritannya bisa membangunkan seisi rumah! Dia sedang orgasme hebat, tubuhnya seperti meleleh, menyatu dengan diriku sendiri, menyatu dengan ayahnya sendiri!

Tubuhku terasa lemas, tidak mampu digerakkan, tetapi aku tahu aku harus bangkit. Tanganku hampir menjangkau sakelar lampu disisi tempat tidur. Tetapi Sandie berkata:

"Jangan nyalakan ayah, berbaringlah denganku di dalam kegelapan" 

Aku mulai panik, Hukum kita menilai ini hal yang sangat serius. Dan ketika salah satu dari penegak hukum tertangkap menyetubuhi putrinya sendiri, maka dapat dipastikan aku tidak mungkin bisa lari dari jeruji penjara. Mereka akan mengurungku selama-lamanya!

Aku berkata "Sayang ayah sangat menyesal, aku mengira kalau kamu adalah ibumu, aku masih belum tahu apa yang sedang terjadi ini!"

"Ya ayah, ibu mendapat panggilan darurat subuh tadi, ada kasus yang perlu dirinya dan dia harus berangkat karena tidak ada yang dapat menggantikannya"

"Itu tidak menjelaskan kenapa kamu ada di tempat tidur ayah ibumu?"

"Maafkan aku ayah, kemarin malam aku bersenang-senang dengan beberapa teman sekelasku, dan minum terlalu banyak, sehingga ibu menyarankan untuk tidur dengannya untuk meredakan sakit akibat mabuk semalam"

"Ayah sangat menyesal, sayang, Aku tidak tahu apa yang ada dipikiranku. Aku tidak pernah berniat membuatmu merasakan hal ini untuk pertama kalinya" 

"Jangan kuatir ayah, aku sudah beraktivitas seksual selama setahun terakhir ini, dan ini bukan yang pertama kalinya bagiku."

Aku masih shock, aku tidak tahu harus berbuat apa ataupun berpikir, aku hanya tahu kalau penisku masih keras, ereksi, dan dan masih berada di liang hangat vagina putriku yang masih berusia 16 tahun. Tanganku masih sedang memegang dadanya, dan ya Tuhan, puting-puting susu mungilnya masih tegak menyembul. Aku menyadari kalau jari-jariku masih bermain di puting-putingnya. Apa yang harus kulakukan sekarang?

"Ayah, aku tahu kalau penis ayah masih ereksi, kumohon dapatkah kita melakukannya lagi? tetapi kali ini, aku ingin menghisap penismu, aku merasa penis ayah sangat besar. Aku hanya ingin menyentuhnya, melihatnya, dan menghisapnya barang sebentar".

Hari ini sangat penuh dengan kejutan-kejutan. Aku mendapatkan anak perempuan kecilku itu sudah beraktivitas seksual; dia sangat ahli dibandingkan dengan ibunya, secara bersamaan aku juga malu apa yang telah aku lakukan. Aku merasa ini akan menjadi sesuatu yang menakjubkan, selama tidak ada seorangpun yang mengetahuinya.

"Sayang apa yang kita lakukan ini salah, tetapi sepanjang ini menyenangkanmu dan membuatmu nyaman, Ayah tidak mempunyai alasan untuk dapat menolaknya". 

" Oh Ayah, apakah ayah tahu bahwa aku selalu berfantasi, membayangkan penis ayah memenuhi liang vagina putrimu ini. Kadang aku terbangun dan mendengarkan ayah dan ibu, ayah sangat ahli dalam bercinta. Itu membuatku terangsang. Walaupun ayah telah berumur dan tidak remaja lagi, tetapi ayah tidak kalah dengan mereka semuanya. Sebaliknya, ayah sangat hebat dan perkasa, membuat putrimu ini menginginkan dan merasakan lagi, setubuhi putrimu ini ayah, aku ingin merasakan multi orgasme seperti yang aku rasakan tadi secepatnya!"

Aku perlahan-lahan mulai menggerakkan pinggulku lagi. Kurasakan penisku semakin keras, sekeras batang baja, aku jadi merasakan diriku kembali muda lagi. Sandie juga mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya, merespon dan menyambut sodokan-sodokan ayahnya sendiri, tak diragukan bahwa dia akan orgasme lagi. Sekarang dia benar-benar menjerit, mengerang dan terengah-engah hebat, tubuhnya mengejang tak terkendali, rintihannya terdengar indah di telinga ayahnya. Memberikan kenikmatan yang luar biasa baginya. Dia menggulingkan tubuhnya, penisku terlepas sejenak dari liang surganya.

"Ayah, jangan dulu klimaks, aku ingin merasakannya, muntahkan semuanya di wajahku"

Dia mengangkat tubuhnya, dan sensasi berikutnya sungguh luar biasa, aku merasakan penisku mulai memasuki mulutnya, kurasakan bibir mungilnya menelusuri seluruh dinding penisku. Aku merasa di surga!

"Ayah, bisakah ayah menyalakan lampu? Bisakah ayah menjangkaunya?".

Aku menyalakan lampu, dan disambut dengan pemandangan dari putriku yang berumur 16 tahun sedang berlutut, menghisap kepala penisku ke dalam mulutnya dia hanya bisa memasukkan penisku sekitar 3 inci ke dalam mulutnya, penisku sudah memenuhi seluruh mulutnya. Dengan sedkit latihan mungkin dia bisa seahli ibunya, dan bisa menelan penisku secara utuh di kerongkongannya. Aku memandangnya dan berpikir, dia terlihat sangat cantik sekali. Aku merasakan desakan-desakan di dalam kantung bolaku, merayap di saluran menuju ke batang penisku. Dia sedang menghisap dan menjilati kantung bolaku ketika penisku berkedut-kedut memuntahkan seluruh sperma yang tertahan dari tadi. Dia terpekik kecil, tidak menelan, dalam posisi ini dia memukul-mukulkan penisku di mukanya. Aku benar-benar menyemburkan cairan maniku di seluruh mukanya. Putriku berusaha menjilati dan menampung semua cairan maniku. Akhirnya dia telah mengumpulkan dan menghisap setiap tetesan yang terakhir, dia membuka mulut nya untuk menunjukkannya kepadaku dan lalu menelan nya, dengan satu tegukan.

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=8960970701888352847#editor/target=post;postID=1659442527390111567

Jumat, 24 Mei 2013

Budak Nafsu


seorang gadis Nama lengkapnya adalah VitaAnggraeni. Umurnya 24 tahun, dan
sebagian besar mahasiswa mengatakan Vita adalah gadis yang
cantik, pintar sekaligus berani. Rambutnya hitam legam terurai
hingga bahu. Buah dadanya berukuran sedang dan kenyal hingga
mampu mengacung tegak walaupun ia tidak mengenakan BH.
Perut Vita rata, pinggulnya bulat, pinggangnya ramping. Dan
sepasang kaki yang ramping hasil fitness dan olah raga tampak
mempercantik tubuhnya. Selama perjalanan dari kantor polisi di
kotanya hingga penjara ini Vita masihdapat melihat jalan-jalan
yang dilaluinya. Penjara ini benar-benar terpencil, ia sendiri tidak
mengetahui ada penjara di tempat seperti ini. Dan ketika ia melihat
jarak yang ditempuh ternyata jarak penjara itu dengan batas
kotanya saja sudah lima puluh kilometer lebih danpenjara itu
terletak di tengahhutan.
Lamunan Vita terputus ketikasebuah piring seng berisi makanan
didorong masuk ke dalam selnya lewat jeruji. Ia tiba-tiba tersadar
bahwa dirinya belum makan dalam waktu 24 jam ini, sejak ia
dipindahkan dari kantor polisi ke penjara ini. Ketika mengambil
piring itu, Vita melihat makanannya hanya nasi kering dan sebuah
tempe goreng. Tapi karena perutnya yang tiba-tiba terasa begitu
lapar, Vita langsung menghabiskan makanan itu dan kemudian ia
dengan terpaksa meminum air di ember tadi untuk
menghilangkan rasa hausnya.
Tengah malam ketika Vita tertidur ditutupi oleh selembar selimut,
seorang penjaga masuk ke dalam selnya. Sambil menarik selimut
yang menutupi tubuh Vita, penjaga itu lalu menarikdan menyeret
Vita keluar dari selnya. Vita berjalan sambil sesekali didorong-
dorong oleh penjaga itu menyusuri gang demi gang sampai
akhirnya ia sampai di sebuah tanah lapang yang dikelilingi tembok
tinggi.
Di tengah lapangan itu sudahberdiri lima orang pejaga laindan
seorang tahanan wanita.Gadis itu tampak cantik sekaliwalaupun di
sekelilingnya nyaris gelap, hanya ada beberapa api unggun yang
menerangi tempat itu. Vita dengan tangan dilipat ke
belakang oleh penjaga yang pertama tadi didorong terus hingga ia
berdiri dengan jarak hanya beberapa meter dari gadis tadi.
"Buka baju!" Perintah itu bagaikan tamparan keras di wajah Vita.
Vita ragu-ragu dan kaget setengah mati mendengar perintah tadi.
Vitamelihat gadis di depannya sudah membuka kancing bajunya.
Sebuah pukulan mendarat di pundak Vita membuatnya terdorong
maju.
"Gue bilang buka baju!" Masih termangu tak percaya Vita
melepaskan satu-satunya kancing yang ada di bajunya dan
melepaskan baju itu hingga dengan sendirinya terjatuh di kedua
kaki Vita. Vita sudah menyadari apa yang akan terjadi pada
dirinya. Ia akan diperkosa oleh keenam penjaga itu. Ia pernah
membaca berita tentang tindakan aparat keamanan yang tidak
senonoh kepada tahanan wanita, tapi waktu itu ia tidak percaya.
Tapi sekarang Vita sudah berdiri telanjang ditatap dengan penuh
nafsu oleh para penjaga itu. Vita sendirimasih perawan, ia dan
pacarnya belum pernah berhubungan lebih jauh dari sekedar
petting, dan sekarang Vita berdiri gemetar berusaha menutupi
tubuhnya yang telanjang bulat dengan tangannya. Gadis di depan
Vita juga sudah telanjang bulat, dan Vita melihat tubuhnya yang
sempurna, jauh lebih terawatdari pada dirinya. Gadis itu terlihat
lebih tegar dan kuat daripada Vita, ia berdiri tak bergerak di tengah
para penjaga dan matanya tidak menyiratkan rasa takut.
Penjaga yang membawa Vita berdiri di tengah mereka.
"Malam ini kita punya program latihan buat kamu semua. Kamu
berdua harus melawan satu sama lain sampai salah satu dari
kaliantidak bisa bangun lagi. Yang menang boleh balik ke selnya.
Yang kalah musti menghibur kita di sini. Kalau kalian tidak serius,
kalian berdua akan kena hukuman masing-masing tiga puluh
kalipecutan. Jelas!"
Vita shock sekali mendengar perkataan itu sambil melihat gadis di
depannya menganggukkan kepala. Sementara Vita masih berdiri
karena terkejut, gadis di depannya sudah mendekat dan
melayangkan pukulan keperut Vita sekuat tenaga. Nafas Vita
terhentak keluar
ketika ia tersungkur jatuh berlutut sambil memegangi perutnya.
Kemudian Vita melihat kaki gadis itu terangkat dan mengayun
kemudian menghantam dagunya, membuat kepala Vita tersentak
ke belakang dan tubuh Vita terjengkang ke belakang, tergeletak di
atas tanah setengah sadar. Vita mendengar para penjaga
bersorak-sorak ketika ia berguling ke atas perutnya dan berusaha
bangun dengan susah payah.Vita kemudian merasakan tubuh
gadis itu menyergapnya dari belakangdan melingkarkan
tangannya ke leher Vita membuatnya susah bernafas. Dengan
satuusahanya yang terakhir Vita mendorong tubuh gadis itu agar
ia lepas dari tubuhnya.
Sekarang mereka berdua berdiri berhadapan satu sama lain. Gadis
itu lalu langsung mendekat lagi sambil mengayunkan tinjunya,
dan kembali menghajar Vita tepat di dagunya. Pandangan Vita
berkunang-kunang berusahakeras menjaga keseimbangannya.
Sebuah pukulan kembali mendarat di perut Vita membuat ia jatuh
terjengkang lagi. Gadis itu langsung menindihnya dan terus
mengayunkan pukulan ke wajah Vita sampai Vita hampir tak
sadarkan diri. Vita masih bisa merasakan penjaga menarik gadis
itu dari atas tubuhnya sementara ia sendiri terbaring tak berdaya.
Setelah itu gelap.
Vita tidak mengetahui berapalama ia tak sadarkan diri. Ia tersadar
lagi setelah penjaga menyiramkan seember air ke wajahnya
membuat Vita bangun terduduk dan tersedak. Keenam penjaga itu
berdiri mengelilingi Vita. Gadis tadi sudah tidak kelihatan. Ketika
Vita melihat wajah penjaga-penjaga itu, ia melihat wajah yang
penuh nafsu dengan lidah yang menjilati bibir mereka. Vita
tersadar bahwakekalahannya tadi hanya merupakan awal dari
mimpi buruknya malam ini.
Dua orang penjaga memegangi tangan Vita dan menyeretnya
kembali ke bangunan utama. Setengah dipapah setengah diseret,
Vita dibawa masuk ke kamar mandi pria. Dengan tubuh penuh
keringat dan lumpur Vita didorong di bawah shower dan air
sedingin es langsung menyembur membuat Vita berjongkok
sambil menggigil di depan penjaga tadi. Seorang
penjaga memasang sebuah borgol di tangan Vita dan
mengaitkannya ke sebuah pipa di tembok. Vita menatap dengan
panik ketika keenam laki-laki itu mulai melepaskanpakaian mereka.
Ketika mereka telah telanjang bulat,dua orang penjaga memegangi
kaki Vita dan membuka lebar-lebar. Vita meronta-ronta tapi tak
berdaya. Penjaga yang lain mulai meremas dan menarik buah
dada Vita sementara yang satu lagi meraba paha Vita setelah itu
memasukkan jarinya ke lubang kemaluan Vita. Vita mengerang
dan menangis ketika tangan-tangan mereka terus
merabatubuhnya tanpa henti.
Kemudian seorang penjaga berdiri di hadapan Vita, batang
kemaluannya sudah tegang dan keras ketika ia tersenyum
menyeringai pada Vita. Sambil meraih pinggul Vita dengan kedua
tangannya, ia mengangkat tubuh Vita sedikit dari atas lantai
sementara ia sendiri menekuk kakinya mengarahkan batang
kemaluannya ke belahan kemaluan Vita. Dengan satu dorongan
keras batang kemaluan itu merobek masuk ke lubang kemaluan
Vita. Tubuh Vita terasa tersobek-sobek terutama lubang
kemaluannya ketika batang kejantanan itu masuk ke dalam lubang
senggamanya yang kering dan sempit. Vita menjerit-jerit keras
hanya untuk menerima satu tamparan di wajahnya yang
membuat Vita hampir tak sadarkan diri. Batang kemaluan yang
bergerak keluar masuk liang senggamaVita, terasa seperti besi
panas yang membuat nafas Vita terputus-putus.
Untuk meredam teriakan Vita seorang penjaga memasukkan
segumpal kain ke dalam mulut Vita. Sekarang yang keluar dari
mulut Vita hanya erangan takjelas setiap kali penjaga yang sedang
memperkosanya bergerak masuk. Setelah beberapa lama, Vita
merasakan tubuh penjaga itu mengejang dan erangan nikmat
keluar dari mulutnya. Sperma laki-laki itumenyembur masuk
sebanyak-banyaknya ke dalam lubang kemaluan Vita. Sambil
terengah-engah ia menarik batang kemaluannyayang berlumur
sperma dan darah perawan Vita keluar dari tubuh Vita.
Sebelum sempat menarik nafas lagi, penjaga yang lainyang
mengambil giliran selanjutnya dan dengan
kasar ia juga mendorong batang kemaluannya masuk ke liang
sorga Vita yang meneteskan darah bercampur sperma. Rasa sakit
itu sekarang sudah berkurang tapi tetap menyakitkan sementara
penjaga tadi tanpa peduli terus mendorong dan menarik batang
kemaluannya.Vita memejamkan matanya berharap ia dapat
mengurangi rasa sakit dan ngilu yang menyerang seluruh
tubuhnya. Penjaga yang lain mendekat dan kembali meremas dan
menarik buah dada serta puting susu Vita hingga nyeri. Suara
yang dapat didengar Vita selain erangannya sendiri hanya suara
pinggul penjaga itu yang menumbuk pantatnya ketika ia
mendorong batang kemaluannya keluar masuk kemaluan Vita.
Ketika penjaga kedua selesai, Vita sudah bersiap untuk penjaga
yang ketiga. Tapi dengan mata terbelalak kaget dan ngeri, Vita
merasakan sepasang tanganmembalikkan tubuhnya kemudian
membuka belahan lubang kemaluannya. Vita menjerit tapi tak ada
suara yang keluar selain erangan. Vita sempat merasakan kepala
batang kemaluan penjaga itu menempel di lianganusnya sebelum
seluruh rasa sakit kembali menyerang sekujur tubuh Vita. Vita
tidak pernah merasakan rasa nyeri yang tak tertahankan seperti ini
sebelumnya. Penjaga itu bergerak dengan brutal merobek-robek
liang anus Vita, hingga ia pingsan kesakitan.
Sesaat kemudian Vita kembalitersadar dan ia merasa gumpalan
kain yang ada di mulutnya ditarik keluar. Tetapi setelah itu seorang
penjaga langsung memasukkan batang kemaluannya ke dalam
mulut Vita sambil menarik kepala Vita kebelakang. Vita tersedak
dan terbatuk ketikabatang kemaluan yang kerasitu memotong
aliran udaranyamembuat ia tidak bisa bernafas. Batang kemaluan
dianus Vita masih terus bergerak keluar masuk dengan keras
sementara mulut Vita juga dimasukan oleh batang kemaluan yang
lain. Buah dada Vita terus disakiti oleh tangan keempat penjaga
yang lain. Tubuh Vita bergerak maju mundur seirama dengan
gerakan batang kemaluan yang keluarmasuk di anus dan
mulutnya.
Perkosaan itu berlanjut terus, hingga keenam
penjaga itu mendapat giliran sedikitnya dua kali memperkosa Vita.
Vita sekarang tergeletak tak bergerak di lantai kamar mandi,
dengan sperma mengalir keluar dari lubang kemaluan dan
mulutnya. Tubuh Vita kesakitan sepertibaru saja dipukuli selama
berhari-hari. Ia mengerang lirih ketika dua orang menarik
tangannya berdiri dan melemparkan baju penjaranya.
Tak berdaya berjalan sendiri, mereka menyeret tubuh Vita ke
selnya dan melemparkannya masuk ke dalam. Dari celah kecil di
atasnya Vita dapat melihat sinar matahari pagi mulai memancar. Ia
merangkak menuju ember berisi air dan dengan sekuat tenaga
berusaha membersihkan dirinya. Kemudian ia kembali merangkak
menuju matrasnya dan tersungkur tidur
Hari-hari selanjutnya merupakan neraka bagi Vita dan itu terus
berulang. Setiap pagi ia ditarik keluar dari sel jam lima pagi
kemudian bersama tahanan yang lain mereka naik ke sebuah truk
yang membawa mereka ke sebuah tanah lapang yang tandus. Di
situ mereka harus mencangkul tanah lapang itu untuk
diolahmenjadi lahan perkebunan. Ditengah hari mereka diijinkan
beristirahat selama setengah jam. Dan ketika matahari mulai
tenggelam mereka baru kembali ke penjara.
Dan pada malam hari, di hari-hari tertentu sekelompok penjaga
akan menyeretnya keluar dan memperkosanya bergantian hingga
hari menjelang pagi. Dan jika Vita terlihat kelelahan pada siang
harinyamaka komandan penjara akan mengikat Vita di
tengahlapangan dan memecuti tubuhnya disaksikan oleh para
tahanan yang lain.
Setelah sebulan berlalu, dan ketika Vita sedang bekerja dengan giat
demi menghindarkan dirinya dari hukuman komandan,
sekelompok tahanan wanita yang berkuasa di situ menyeret
tubuhnya ke dalam kamar mandi. Di situ mereka memukuli Vita
karena dianggap mencari muka dengan bekerja sangat
rajin.Mereka juga menyiksa Vita dengan memasukkan batang besi
dan sebuah tongkat ke dalam anus dan lubang kemaluan Vita.
Satu bulan kemudian Vita kembali diseret keluar dari selnya dan
dibawa mendekatisel tahanan pria. Dua orang penjaga
memegangi tangannya dan menyeretnya agar masuk ke dalam
sel tahanan yang penuh dengan tahanan pria.
"Malam ini kamu musti menghibur mereka!"
"Jangan! Jangaann! Jangan masukkan saya ke sana!" Vita
memohon dan menjerit minta tolong.
Tahanan pria sudah mulai berkerumun sambil meraba bagian
bawah tubuhnya. Jeritan Vita tak didengar sama sekali oleh
penjaga itu yang terus membuka kunci pintu sel itu dan
mendorong tubuh Vita masuk ke dalam sel yang lebih luas. Vita
berusaha menjauh dari tahanan pria itu sambil akhirnya terdesak
hingga jeruji sel itu. Sebuah tangan meraih bahu Vita dan
menariknya hingga terjatuh ke lantai. Tangan-tangan lainmeraih
kaki Vita dan membukanya. Dan ketika Vita
membuka mulutnya untuk menjerit sebuah batang kemaluan
langsung masuk kedalam mulutnya sementara sebuah batang
kemaluan lainmasuk ke dalam lubang kemaluannya.
Vita harus dirawat selama tiga hari di rumah sakit penjara setelah
semalam bersama tahanan pria itu. Tubuh Vita harus diseret
keluar dari sel di pagi harinya dan Vita hanya merintih,
"Lagi.. lagi.. lagi.. lagi.. lagi.."
Sebelum Vita pingsan malam harinya, Vita masih bisa mengingat
tiga orang laki-laki yang sekaligus menikmati tubuhnya dan ia
menjerit dengan sisa-sisa tenaganya dengan batang kemaluan
masuk di dalam mulutnya. Dan ketika ia sedang terbaring di
rumah sakit, Vita mengingat kembalipengalamannya di dalam sel
pria itu. Dan ia ingat betapa ia sendiri mencapai orgasme setelah
beberapa orang memperkosanya. Setelah beberapa orang lagi ia
kembali mengalami orgasme berkali-kali hingga ia pingsan
kelelahan. Dan ia sendiri tidak mengerti mengapa itu semua terjadi
pada dirinya.
Suatu hari Vita dan seorang tahanan lainnya Lia. Lia juga
mahasiswi yang diciduk dari Bandung karena demonstrasi. Lia
baru masuk sekitar satu bulan yang lalu, dan juga sudah habis-
habisan dikerjai oleh para penjaga penjara. Vita dan Liabekerja di
bidang tanah yanglain. Hari itu amat sangat panas. Vita dengan
segera telah terengah-engah kehausan. Menjelang tengah hari Vita
mendengar Lia berbisik kepadanya.
"Vita, Vita.." ia memanggil dengan suara lirih. Vita mengangkat
kepalanya dan melihat mata Lia membesar.
"Apa?" tanya Vita.
"Lihat! Para penjaganya nggak ada!"
Vita memperhatikan sekelilingnya dan ia terkejut ternyata Lia
benar. Tidak ada seorang pun penjaga yang terlihat. Ia
memandang kembali pada Lia dan langsung dapat menebak
pikirannya. Mereka akan berusaha melarikan diri.
Lia langsung melemparkan cangkulnya dan berlari masuk ke
dalam hutan. Vita juga langsung menyusul di belakangnya. Akar-
akar yang bergantungan menghalangi pandangan Vita,tapi ia
masih bisa melihat Lia yang berlari di depannya, entah menuju ke
mana yang
penting menjauhi neraka di belakang mereka.
Setelah beberapa saat nafasVita makin berat dan terputus-putus.
Semakin masuk ke dalam hutan, semakin sulit berlari dengan
cepat. Sebuah dahan mengayun dan memukul pipi Vita hingga
berdarah. Makin lama, pakaian yang dikenakan mereka berdua
semakin terkoyak-koyak karena tersangkut dahan dan akar.
Sekarang mereka hanya mengenakan serpihan kain yang sama
sekali tidak menutupi tubuh mereka, Vita dapat melihat bahu Lia
yang tersayat dahan dan memerahsementara ia terus berlari.
Akhirnya, karena letih dan kehabisan nafas mereka berdua jatuh
tersungkur di bawah pohon yang besar. Selama beberapa menit
mereka hanya bisa terengah-engah menarik nafas sementara
keringat membanjir keluar dari sekujur tubuh mereka.
Lia berbaring telentang, dan buah dadanya yang mengacung
bergerak naik turun seirama dengan nafasnya yang tersengal-
sengal.
"Kita berhasil!" kata Lia dengan senyum penuh kemenangan.
Wajahnya lebih berseri, walaupun ada darah yang menetes dari
dahi dan pipinya.
"Semoga kamu benar", kata Vita tenang.
"Kita masih harus keluar darihutan ini dan mencari jalan kembali ke
kota. Aku sendiri nggak tau kita ada di mana. Kamu tau?"
Saat itulah terdengar gonggongan anjing. Mereka langsung berdiri
dan berlari lagi, mereka berlari tanpa mengetahui arah mereka.
Anjing-anjing itu terdengar semakin dekat dan gonggongan
mereka terdengar makin keras. Vita dapat mendengar suara
teriakan penjaga-penjaga di sela gonggongan ajing itu, dan itu
membuat ia makin ketakutan dan berlari makin cepat. Hutan itu
makin gelap dan mereka sekarang sama sekali tidak tahu sedang
menuju ke arah mana. Yang mereka inginkan hanya melepaskan
diri dari regu pencari di belakang mereka.
Ketika mereka sampai di sebuah daerah kecil yang terbuka tiba-tiba
saja mereka sudah dihadang oleh sekelompok penjaga, dan setiap
kelompok memegang rantai yang mengikat seekor anjing
doberman yang besar dan hitam. Doberman itu menggonggong
dan melonjak-lonjak berusaha
mendekati Vita dan Lia tak terkendali. Salah seorang dari penjaga
berteriak dan doberman tadi langsung diamdan duduk di depan
masing-masing kelompok. Lia dan Vita langsung jatuh berlutut
ketakutan. Usaha mereka untuk melarikan diri gagal total.
"Betul juga kata komandan!" kata salah seorang penjaga.
"Yang dua ini pasti berusahalari!"
"Ya benar, kita semua pasti dapet hadiah malem nanti!" kata yang
lain.
"Iket mereka lalu seret balik ke penjara."
"Tunggu!" kata penjaga yangtadi menenangkan doberman.
"Masa anjing-anjing ini nggak dapet bagian. Mustinya mereka
dapet hadiah, kan mereka yang nemuin cewek-cewek ini!"
Rasa mual langsung menyerang perut Vita, karena ia bisa
menebak maksud penjaga itu. Sambil ditertawai oleh penjaga-
penjaga itu, Vita dan Lia didorong hingga jatuh tersungkur di atas
siku dan lutut, dan kaki-kaki mereka ditarik membuka lebar-lebar.
Sementara dua penjaga memegangi tubuh Vita, penjaga yang
ketiga menggiring seekor dobermanmendekati tubuh Vita dari
belakang. Vita dapat merasakan hembusan nafas ajing itu di
pantatnya dan ia mendengar anjing itu mendengus-dengus.
Tubuh Vita mengejang ketika lidah anjing itu menjilati lubang
kemaluannya yang mengirimkan sensasi ke seluruh tubuhnya.
Dan tiba-tiba kaki depan doberman itu menghujam ke pinggulnya
dan batang kemaluan binatang itu masuk ke dalam lubang
kemaluan Vita. Dengan perut mual Vita hanya bisa diam tak
bergerak ketika doberman itu mulai bergerak memperkosanya
dari belakang. Sementara penjaga-penjaga itu mulai tertawa lagi
melihat adegan di depan mereka.
Perlahan tubuh Vita mulai bereaksi atas gerakan doberman itu dan
tubuhnya mulai bergerak seirama dengan gerakan doberman.
Lubang kemaluan Vita perlahan mulai terangsang ketika gerakan
Vita makin seirama dengan gerakan doberman di belakangnya.
Tubuh Vita mulai berkeringatlagi dan nafasnya makin tersengal-
sengal. Vita mulai mengerang sembari menelan ludah dan
pandangannya mulai kabur. Tubuh Vita mulaimenuju orgasme
yang makin lama makin memuncak di
sekujur tubuhnya. Dan ketikadoberman itu melolong, Vita
merasakan sperma anjing memenuhi lubang kemaluannya dan ia
menjerit dan mengerang nikmat. Doberman itu lalu mundur
danseekor anjing lain menggantikan posisinya. Kembali Vita
merasakan sebuah daging panas masuk ke dalam lubang
kemaluannya dan doberman itu mulai menyetubuhinya. Dengan
tubuh makin bergejolak mendekati orgasme Vita masih sempat
melihat Lia yang ada di seberangnya, ia melihat Lia yang meronta-
ronta karena seekor doberman lain sedang menyetubuhinya juga.
Vita seperti sedang bermimpimelihat itu semua, yang nyata
baginya hanyalah orgasme dalam tubuhnya yang makin
mendekati puncak. Dan ketika dobermankedua menyemburkan
spermanya, Vita menjerit dihantam gelombang orgasmeyang
kedua. Vita tidak tahu lagi berapa doberman lagi yang
menyetubuhinya, tapi ketika anjing terakhir selesai, tubuh Vita
langsung tersungkur kelelahan. Dari lubang kemaluan Vita
mengalir sperma anjing dan di pinggulnya juga dilumuri oleh
sperma mereka. Vita terus berbaring tak bergerak selama
beberapa menit, terengah-engah dan gemetar ketika gelombang
orgasme yang tersisa masih mengalir ke seluruh tubuhnya.
Dengan mata terkejap-kejap ia melihat ke arah Lia, dengan seekor
doberman di depannya dan batang kemaluan anjing itu
dimulutnya, berusaha mengulum dan menjilati hingga akhirnya
anjing itu menggeram dan sperma menyembur ke wajah Lia.
Setelah itu seorang penjaga mendekat dan menarik kepala Vita
sambil mendekatkan batang kemaluannya ke mulut Vita. Tanpa
bisa berpikir jernih lagi Vita membuka mulutnya dan mulai
mengulum dan menjilat batang kemaluan laki-laki itu. Vita terus
mengulum sementara batang kemaluan lain juga masuk ke
lubang kemaluannya dan mulai bergerak. Vita sudah tidak
menyadari keadaan sekelilingnya lagi. Semuanya tampak kabur
sampai akhirnya gelap gulita. Vita mengulum batang kemaluan
yang besar itu dengan penuhnafsu, lidahnya menjilati batang
kemaluan hingga pangkalnya. Nafas Vita tersentak ketika sebuah
batang kejantanan lain menghunjam ke anusnya. Vita sedang
dalam posisi merangkak. Buah dada Vita mengayun-ayun ketika
tubuhnya mulai bergerak didorong oleh gerakan batang kemaluan
di anusnya.Tubuh Vita segera berkeringat ketika Vita dengan
sekuat tenaga membuat dua orang itu mencapai klimaks. Vita
sendiri telah mengalami dua kali orgasme sepanjang hari itu, dan
ia sadar dirinya masih akan mengalami orgasme demi orgasme
sebelum akhirnya ia kembali ke penjara lagi.
Sekarang Vita sudah menjadipelacur bagi penjara itu. Ia harus
melayani setiap orang yang sanggup dan mau membayar
tubuhnya. Penjaraitu ternyata memiliki kegiatanpelacuran kelas
tinggi. Bisnisman dari manca negarayang pernah mendengar
tentang penjara itu kebanyakan mengetahui tentang kegiatan
terselubungitu, tak terkecuali juga pejabat-pejabat negara kelas
tinggi yang kadang juga menggunakan tubuh Vita dan tubuh
gadis lainnya yang sudah dipilih sendiri oleh komandan penjara.
Malam itu Vita harus melayanidua orang dari Inggris yang sudah
membayar US$ 1.000 kepada komandan untuk dapat
menggunakan tubuhnya selama delapan jam. Tiga minggu yang
lalu Vita melayani seorang pejabat dari Brunei. Ia membayar US$
2.000 agar ia dapat memecuti tubuh Vita yang menjerit dan
mohon ampun, selama enam jam berturut-turut. Vita tidak dapat
bergerak selama enamhari setelah peristiwa itu.
TAMAT