Jumat, 24 Mei 2013

Perkosaan : Irene, Adik Pacarku

,selamat Pagi sahabat setia fp KumCerPer ...?
,barusan Admin dapet e-mail dari seseoranq yg gag mau nyebutin Identitas Aslinya .., dia mengirimkan e-mail yg ternyata berisi sebuah cerita yg katanya dia alamin sendiri.., dan Admin juga gak tau',ntah dia bo'ong or nggak.., yg penting tugas Admin, cuma ingin share cerita yg anda kirimkan..,
dan inilah isi ceritanya ...

Sebelum saya ceritakan kisah-kisah nyata yg terjadi di hidupku,
sebelumnya saya perkenalkan dulu.
Saya lahir di Jakarta, keturunan cina, umur 28 thn, kerja disalah
satu perusahaan swasta sebagai auditor pembukuan dan
keuangan, saya ditugasi untuk mengawasi cabang denpasar, jadi
saya tinggal disana menempati rumah kontrakan.
Suatu hari saya diberi kabar oleh pacar saya (Wiwi umur 26) yg di
Jakarta, bahwa dia mau datang bersama adiknya (Irene umur 22).
Setelah kedatangannya, mereka menginap di kontrakanku (kamar
tamu).
Tetapi Wiwi tidak bisa lama, karena dia hanya diberi ijin oleh
kantornya 3 hari.
Selama 3 hari saya dan Wiwi selalu ngumpet-ngumpet dari
cicinya untuk bermesraan, dan sialnya kita hanya bisa melakukan
hubungan sex 1X (kami dulu telah biasa melakukannya sewaktu
saya tingal di Jakarta), karena kesempatan untuk itu susah sekali.
Setelah Wiwi pulang, tinggal saya dan Irine yg masih mau liburan
di bali.
Pada hari minggu saya ajak dia jalan ke berbagai tempat wisata,
pulangnya dia langsung ingin istirahat karena kelelahan. Karena
saya belum merasa ngantuk, saya ke ruangan tamu untuk nonton
TV, sedangkan dia masuk kamar tidur tamu untuk istirahat.
Setelah acara yg saya sukai selesai, saya melihat jam, ternyata
sudah jam 1 pagi, tiba-tiba muncul ide isengku untuk memasuki
kamar tidur Irene, dengan perlahan-lahan saya berjalan mendekati
pintu kamarnya, ternyata tidak dikunci, saya masuk dan melihat
Irene telentang dengan kedua lengan dan paha terbuka, saya
langsung mengambil tali plastik dan perlahan-lahan saya melucuti
pakaiannya semua, mungkin karena dia terlalu lelah sehingga
tidurnya sangat nyenyak sampai tidak tahu apa yg sedang saya
lakukan, setelah semua pakaiannya kubuka, saya langsung
mengikat lengan dan kakinya ke sudut-sudut ranjang.
Tiba-tiba dia terbangun, dan terkejut karena tubuhnya telah
telanjang polos dan terikat di ranjang. "Ko lepasin saya", suaranya
gemetaran karena shock. "Cepat lepasin Ko!" Irene mengulangi
perintahnya, kali ini lebih keras suaranya. Tubuh telanjangnya telah
mambiusku. Aku segera mencopot celana dan celana dalamku
dengan cepat. "Ko!" Irene memekik. "Mau ngapain kamu?" Irene
terkesiap melihat batang kemaluanku yang sudah berdiri tegak.
Kusentuh payudaranya dengan kedua tanganku, rasanya dingin
bagai seonggok daging.
"Koko gila luu yah!" Aku merasakan sensasi aneh melihat
payudara dan liang kemaluan adik pacarku ini. Jelas beda dengan
waktu-waktu dulu kalau mengintip dia ganti baju di kamarnya.
Sekarang aku melihatnya dengan cara yang berbeda. "Koko, gua
khan adik Wiwi!" Aku menyentuh liang kemaluannya dengan
tanganku, lalu menjilatinya.
Setelah puas segera kuletakkan batang kemaluanku di gerbang
liang kemaluan Irene. "Ko jangaan!" dia memohon-mohon
padaku. "Diam.. cerewet!" aku menjawab dengan sembarangan.
Sekali batang kemaluanku kudorong ke depan, tubuhku sudah
menjadi satu dengannya. "Iiih.. shiit!" dia mengumpat tapi ada
nada kegelian dari suaranya itu. Aku menggoyangkan pinggangku
secara liar hingga batang kemaluanku mengocok-kocok liang
kemaluannya. "Ahh.. shiit! ah shiit! Ko stop!" Semakin dia mamaki
dan mengumpatku dengan ekspresi judesnya itu, semakin
terangsang aku jadinya.
Sambil memompa liang kemaluannya aku menghisap puting-
puting payudaranya yang agak berwarna pink itu. "Mmmh.. udah
jangan Ko!" Irene masih berteriak-teriak memintaku berhenti. "Lu
diam aja jangan banyak ngomong", ujarku cuek. "Ohh shiit!"
ujarnya mengumpat. Dia menatapku dengan tatapan yang
bercampur antara kemarahan dan kegelian yang ditahan. Sejenak
aku menghentikan gerakanku. Kasihan juga aku melihatnya terikat
seperti ini. Dengan menggunakan cutter yang tergeletak di meja
samping ranjang aku memotong tali yang mengikat kedua
kakinya. Begitu kedua kakinya terlepas dia sempat berontak. Tapi
apa dayanya dengan posisi telentang dengan tangan masih terikat.
Belum lagi posisiku yang sudah mantap di antara kedua kakinya
membuat dia hanya bisa meronta-ronta dan kakinya menendang-
nendang tanpa hasil. "Aaahh Ko stop dong.. udah Ko.. gue khan
adik Wiwi", dia memohon lagi tapi kali ini suaranya tidak kasar lagi
dan terdengar mulai berdesah karena geli. Nafasnya pun mulai
memburu. Aku menjilati lehernya dia melengos ke kiri dan ke
kanan tapi wajahnya mulai tidak mampu menutupi rasa geli dan
nikmat yang kuciptakan. " Aduhh sshh Ko udah doong.. hh.. ssh!"
suaranya memohon tapi makin terdengar mendesah lirih. Kedua
kakinya masih meronta menendang-nendang tapi kian lemah dan
tendangannya bukan karena berontak melainkan menahan rasa
geli dan nikmat.
Aku menaikkan tempo dalam memompa sehingga tubuhnya
semakin bergetar setiap kali batang kemaluanku menusuk ke
dalam liang kemaluannya yang hangat berulir serta kian basah
oleh cairan kenikmatannya yang makin membanjir itu. Kali ini
suara nafas Irene kian berat dan memburu, "Uh.. uh.. uhhffssh..
shiit Koo.. agh uuffsshh u.. uhh!" Wajahnya semakin memerah,
sesekali dia memejamkan matanya sehingga kedua alisnya seperti
bertemu. Tapi tiap kali dia begitu atau saat dia merintih nikmat,
selalu wajahnya dipalingkan dariku. Pasti dia malu padaku. Liang
kemaluannya mulai mengeras seperti memijit batang kemaluanku.
Pantatnya mulai bergerak naik turun mengimbangi gerakan
batang kemaluanku keluar masuk liang kenikmatannya yang
sudah basah total. Saat itu aku berbisik "Gimana, lu mau udahan?"
Aku menggodanya. Sambil mengatur pernafasan dan dengan
ekspresi yang sengaja dibuat serius, dia berkata, "I.. iiya.. udah..
han yah Ko", suaranya dibuat setegas mungkin tapi matanya yang
sudah sangat sayu itu tidak dapat berbohong kalau dia sudah
sangat menikmati permainanku ini. "Masa?" godaku lagi sambil
tetap batang kemaluanku memompa liang kemaluannya yang
semakin basah sampai mengeluarkan suara agak berdecak-decak.
"Bener nih lu mau udahan?" godaku lagi. Tampak wajahnya yang
merah padam penuh dengan peluh, nafasnya berat terasa
menerpa wajahku. "Jawab dong, mau udahan gak?" aku
menggodanya lagi sambil tetap menghujamkan batang
kemaluanku ke liang kemaluannya.
Sadar aku sudah berkali-kali bertanya itu, dia dengan gugup
berusaha menarik nafas panjang dan menggigit bibir bagian
bawahnya berusaha mengendalikan nafasnya yang sudah ngos-
ngosan dan menjawab, "Mmm.. iya.. hmm." Aku tiba-tiba
menghentikan gerakan naik turunku yang semakin cepat tadi.
Ternyata gerakan pantatnya tetap naik turun, tak sanggup
dihentikannya. Soalnya liang kemaluannya sudah semakin
berdenyut dan menggigit batang kemaluanku. "Ehmm!" Irene
terkejut hingga mengerang singkat tapi tubuhnya secara otomatis
tetap menagih dengan gerakan pantatnya naik turun. Ketika aku
bergerak seperti menarik batang kemaluanku keluar dari liang
kemaluannya, secara refleks tanpa disadari olehnya, kedua kakinya
yang tadinya menendang-nendang pelan, tiba-tiba disilangkan
sehingga melingkar di pinggangku seperti tidak ingin batang
kemaluanku lepas dari lubang kemaluannya.
"Lho katanya udahan", kata-kataku membuat Irene tidak mampu
berpura-pura lagi.
Mukanya mendadak merah padam dan setengah tersipu dia
berbisik, "Ah shiit Koo.. uhh.. uhh.. swear enak banget.. pleasee
dong terusiin yeeass!" belum selesai ia berkata aku langsung
kembali menggenjotnya sehingga ia langsung melenguh panjang.
Rupanya perasaan malunya telah ditelan kenikmatan yang sengaja
kuberikan kepadanya. "Ah iya.. iiya.. di situ mmhh aah!" tanpa
sungkan-sungkan lagi dia mengekspresikan kenikmatannya.
Selama 15 menit berikutnya aku dan dia masih bertempur sengit.
Tiga kali dia orgasme dan yang terakhir betul-betul dahsyat kerena
bersamaan dengan saat aku ejakulasi. Spermaku menyemprot
kencang sekali bertemu dengan semburan-semburan cairan
kenikmatannya yang membanjir. Irine pasti melihat wajahku yang
menyeringai sambil tersenyum puas. Senyum kemenangan.
Aku melepaskan ikatannya. Dia kemudian duduk di atas kasur.
Sesaat dia seperti berusaha menyatukan pikirannya.
"Huuhh, kamu hebat banget sih Ko, sering yach melakukan
dengan Wiwi"
"Enggak juga koq!"
"Alah, sama setiap cewek yang kamu tidurin juga jawabannya
pasti sama"
"Keperawanan lu kapan diambil?" tanyaku
"Sewaktu pacarku ingin pergi ke Amerika untuk kuliah, saya
hadiahkan sebagai hadiah perpisahan"
Kemudian dia bangkit dengan tubuh yg lemah ngeloyor ke kamar
mandi, setelah selesai bersih-bersih Irene kembali lagi ke kamar.
Di depan pintu kamar mandi kusergap dia, kuangkat satu pahanya
dan kutusuk sambil berdiri. "Aduh kok ganas banget sih Lu!"
katanya setengah membentak. Aku tidak mau tahu, kudorong dia
ke dinding kuhajar terus vaginanya dengan rudalku. Mulutnya
kusumbat, kulumat dalam-dalam. Setelah Irene mulai terdengar
lenguhannya, kugendong dia sambil pautan penisku tetap
dipertahankan. Kubawa dia ke meja, kuletakkan pantatnya di atas
meja itu. Sekarang aku bisa lebih bebas bersenggama dengan dia
sambil menikmati payudaranya. Sambil kuayun, mulutku dengan
sistematis menjelajah bukit di dadanya, dan seperti biasanya, dia
tekan belakang kepalaku ke dadanya, dan aku turuti, habis emang
nikmat dan nikmat banget. "aahh.. sshh.. oohh.. uugghh..
mmhh", Irene terus meracau.
Bosen dengan posisi begitu kucabut penisku dan kusuruh Irene
menungging. Sambil kedua tangannya memegang bibir meja.
Dalam keadaan menungging begitu Irene kelihatan lebih aduhai!
Bongkahan pantatnya yang kuning dan mulus itu yang bikin aku
tidak tahan. Kupegang penisku dan langsung kuarahkan ke
vaginanya. Kugesekkan ke clitorisnya, dan dia mulai mengerang
nikmat. Tidak sabar kutusukkan sekaligus. Langsung kukayuh, dan
dalam posisi ini Irene bisa lebih aktif memberikan perlawanan,
bahkan sangat sengit. "Aahh Koo Akuu mmoo.. kkeelluuarr
laggi.." racaunya. Irene goyangannya menggila dan tidak lama
tangan kanannya menggapai ke belakang, dia tarik pantatku
supaya menusuk lebih keras lagi. Kulayani dia, sementara aku
sendiri memang terasa sudah dekat. Irene mengerang dengan
sangat keras sambil menjepit penisku dengan kedua pahanya.
Saya tetap dengan aksiku. Kuraih badannya yang kelihatan sudah
mulai mengendur. Kupeluk dari belakang, kutaruh tanganku di
bawah payudaranya, dengan agak kasar kuurut payudaranya dari
bawah ke atas dan kuremas dengan keras. "Eengghh.. oohh..
ohh.. aahh", tidak lama setelah itu bendunganku jebol, kutusuk
keras banget, dan spermaku menyemprot lima kali di dalam.
Dengan gontai kuiring Irene kembali ke ranjang, sambil kukasih
cumbuan-cumbuan kecil sambil kami tiduran. Dan ketika kulihat
jam di dinding menunjukan jam 02.07. Wah lumayan, masih ada
waktu buat satu babak lagi, kupikir. "rine, vagina dan permainan
kamu ok banget!" pujiku. "Makasih juga ya Ko, kamu juga hebat",
suatu pujian yang biasa kuterima!
Setelah itu kami saling berjanji untuk tidak memberi tahu cici dan
pacarnya yg sedang kuliah di Amerika. Selanjutnya kami selalu
melakukannya setiap hari sampai dia pulang ke Jakarta. Jika ada yg
ingin berkenalan, silakan cari sendiri.

5 komentar:

  1. Balasan