Jumat, 24 Mei 2013

ANTARA JAKARTA DAN BANDUNG



Laki-laki brengsek!, Merry mengumpat seraya menekan pedal gas
Cielonya dalam-dalam. Ia saja melewati pintu tol menuju
Bandung, tapi pikirannya masih mengingat kejadian siang tadi
ketika ia melihat Rendy, tunangannya sedang menyuapkan
sesendok makanan ke seorang wanita di sebuah café. Ketika
Merry mendekati mereka wajah Rendy langsung pucat dan
tergagap-gagap ia menjelaskan yang diyakini oleh Merry tidak ada
satupunyang bisa dipercaya.
Oleh karena itu, ia memutuskan untuk berakhir pekan ke Bandung.
Melupakan kekesalan hatinya. Ia langsung berangkat sepulang
kerja, setelah mengepak keperluan secukupnya untuk berakhir
pekan, Merry langsung berangkat menuju rumahnya yang ada di
pinggiran kota Bandung.
Setelah beberapa saat keluardari pintu tol, dan hari sudahgelap,
sekitar pukul 8 malam. Tiba-tiba mesin mobilnya berbunyi aneh.
Dan tanpa disangka-sangka asap mengepul dari kap depan
mobilnya menutupi dan mesin mobilnya langsung terbatuk-batuk
dan berhenti. Dengan sisa-sisa tenaga, mobil itu berhasil
dkemudikan ke pinggir jalan oleh Merry yangkebingungan dan
panik melihat asap yang mengepul dari depan.
Merry masih berusaha untuk menyalakan lagi mesin mobilnya,
tapi sia-sia. "Shit!" Merry keluar dari mobil dan menemukan dirinya
ada di pinggir jalan yang gelap, sumber cahaya hanya dari bulan
purnama yang sedang bersinar. Hampir tidak ada mobil yang
lewat, sedangkan tidak ada tanda-tanda di sekitar situ ada rumah
penduduk.
"Damn, gue musti nginep di mobil, sialan!", Merry menendang
ban mobilnya. Udara sekitar situ agak panas, untung Merry hanya
mengenakan t-shirt dan celana pendek, sehingga panasnya udara
tidak begitu mengganggunya. Sedangkan untuk makanan, ia
sudah mempersiapkan bekal untuk selama di perjalanan,
biarpunseadanya tapi cukup untuk mengganjal perut.
Tapi Merry masih tetap berharap akan ada mobil yang lewat yang
bisa membawanya ke bengkel atauwartel sehingga ada yang bisa
menjemputnya. Rupanya Merry tidak usah menunggu terlalu
lama. Tak berapa lama
terdengar suara deru kendaraan mendekat, lalu terlihat sepasang
lampu, makin lama makin terang dan terlihat sebuah mobil box
mendekati tempat Merry. Merry langsung berdiri di tepijalan dan
melambai-lambaikankedua tangannya.
"Haaii! Tolong Saya!". Box itu berhenti dan minggir dua orang
keluar. Yang satu berbadan hitam dan besar serta berotot,
sedangkan yang satu lagi botak, denganbadan kekar. Merry
sempat ragu-ragu menghadapi keduaorang yang tampaknya
kasar-kasar itu, tapi dirinya sangat membutuhkan tumpangan,
dan ia berdoa agar tidak terjadi apa-apa.
"Ada yang bisa saya bantu, Non?", tanya Botak dengan sopan,
sementara Hitam diam dan hanya tersenyum tipis.
"Mobil saya tau-tau keluar asepnya. Terus mesinnya mati nggak
mau jalan lagi".
"Sial banget ya Non", jawab Botak sambil melirik kaki Merry yang
panjang.
"Bener. Padahal saya musti sampe ke Bandung hari ini juga.
Bapak-bapak bisa bantu saya?".
"eeh, bisa Non, mungkin kepanasan atau ada yang bocor. Bisa
pinjem kuncinya Non?".
Merry merogoh saku celana pendeknya dan memberikan kunci
Cielo-nya. Saking leganya ia tidak melihat Hitamdan Botak bertukar
pandang dan menyeringai.
"Tunggu sebentar ya Non. Kita mesti periksa dulu mobilnya", kata
Botak sambil menerima kunci dari Merry. Merry memberikan
senyumnya yang paling manissebagai tanda terima kasih, dan ia
lalu berjalan-jalan sekitar situ melemaskan kakinya yang kaku
selama mengemudi.
"Waduuh!", Botak berteriak ketika asap menyembur keluar dari
kap yang ia buka.
Selama lima menit kemudian mereka berdua menunduk di mesin
mobil Merry sambil berbisik-bisik. Sekali Merry bertemu pandang,
dan Merry tersenyum. Mereka membalasnya, lalu kembali
memandang satu sama lainnya. Beberapa saat Merrysedang
melamun sambil memandang sebuah pohon di depannya ketika
suara Botakdari belakangnya membuat ia terlompat kaget.
"Aduh, Saya sampe kaget Pak!".
"Begini Non, mobilnya emang rusak, tapi temen saya ini bisa
betulin. Gimana, Non maununggu dibetulin?" kata Botak sambil
menunjuk Hitam.
"Oh!" Merry merasa lega,"Betul? Bisa dibetulin? Kalo begitu silakan
Pak dikerjakan. Makasih sekali Pak!".
"Cuma", kata Botak "Kami minta.., ya.., sedikit imbalan atau..",
Botak tidak menyelesaikan kalimatnya sementara Hitam sekarang
menyeringai.
"Oh iya Pak. Ten, tentu Pak. Bapak jangan kuatir". kata Merry. Ia
sendiri heran mengapa ia merasa begitu gugup.
"Berapa biayanya, nanti sayabayar. Juga nanti ada uang lelah
untuk Bapak ber.."
Merry terheran-heran melihat kedua laki-laki dihadapannya tertawa
terbahak-bahak.
"Ada apa?" tanyanya bingung. "Ada yang salah?".
"Itu bukan imbalan yang kami minta nona manis!" mendengar
nada suara Botak, Merry langsung sadaryang yang diingikan oleh
mereka berdua atas dirinya. Dadanya berdebar keras, keringat
dingin mulai keluar. Ini pasti mimpi, katanya dalamhati. Mereka
pasti hanya bergurau. Matanya melihat suasana sekitarnya, gelap,
tidak orang lain, tidak ada kendaraan yang lewat. Tidak ada.
"Sa, sa, saya nggak mengertimaksud Bapak!, Saya..", Merry
berusaha menenangkan dirinya. Wajah si Botak dan Hitam
langsung berubah sinis.
"Tentu saja Non tau", kata Botak dengan tenang.
"Perempuan cantik kayak Non, sendirian, dan butuh bantuan dari
kita", Hitam kembali tertawa sementara mata Merry membelalak
tidak percaya pendengarannya.
"Tentu saja ada yang lebih baik dan bagus daripada dibayar
dengan uang. Betul nggak Cing?".
Merry perlahan-lahan mundur, "Sa, sa, sa tetap nggak nge,
ngerti", berusahaagar tidak terdengar ketakutan. Merry merasa
putus asa melihat Botak dan Hitam perlahan-lahan maju
mendekati dirinya.
Air mata meleleh ke pipi Merry, "Tung, tunggu sebentar Pak!
Jangan!" Merryterus mundur sementara jarak antara dirinya dan
kedua laki-laki itu makin dekat.
"Lebih baek Non buka celana Non sekarang!"
Itu saat pertama terdengar suara keluar dari mulut Hitam.Merry
langsung shock dan tidak dapat menguasai diri lagi. "Toloong!
Toloong!", Merry berteriak dan berbalik lari sekuat tenaga.
Anehnya kedua laki-laki itu
tidak langsung mengejarnya. Merry menyadari kecil kemungkinan
ada mobil yang akan lewat yang akan menolongnya. Tapi ia tidak
mau hanya berdiri dan menyerah diperkosa oleh kedua laki-laki
itu. Nafas Merry mulai terengah-engah setelah ia sudah jauh berlari
dari Botak dan Hitam. Ketika ia menoleh Merry melihat Botak dan
Hitam masuk ke box mereka dari menyalakan mesin. Merry
semakin panik dan ketakutan menyangka mereka akan
menabrakkan mobil itu pada dirinya.
Merry terus berteriak minta tolong sambil terengah-engah
menyadari mobil itu makin mendekatinya. Akhirnya mobil itu
menjejeri dari sebelah kanan, dan Botak membuka jendela sambil
meneriakinya.
"Lari terus Non!, Terus!, Cepeten Non! TerusS!", Merry berusaha
mempercepatlarinya sambil terus berteriak, "Jangaan!".
Tiba-tiba box itu berhenti tiba-tiba, Merry terus berlari.Nafasnya
hampir putus, terengah-engah, menangis tersengal-sengal.
Keringat membanjiri tubuhnya. Menyadari box tadi berhenti
mengejarnya, ia sedikit merasa lega mengira mereka melepaskan
dirinya. Ia terus berlari, berusaha mencari tanda-tanda seseorang
yangbisa dimintai tolong. Mata Merry mulai berkunang-kunang,
karena tubuhnya belum pernah dipaksa berlarisecepat ini, Merry
berusaha untuk tidak jatuh tersungkur dan pingsan.
Tapi dari arah belakang kembali terdengar dencit roda, dan dalam
sekejap boxtadi kembali ada disampingnya, lalu tiba-tiba pintu
samping box terbuka dengan keras menghantam tubuh Merry
yang sedang berlari limbung.
Merry merasa tubuhnya terlempar dan berputar sesaat sebelum
akhirnya jatuh ke jalan berbatu. Tubuh Merry berguling-guling
sebelumnya berhenti menabrak pohon di pinggir jalan tersebut.
Dalam kesakitan dan ketakutannya,Merry berusaha bangkit lagi tapi
ia langsung tersungkaur antara sadar dan tidak.
Kemudian ia merasa tubuhnyadiangkat dan dimasukan ke bak
belakang box tadi. Tubuhnya gemetar, jatuhnya tadi tidak
menyebabkan luka hanya Merry merasa sakit dan pusing
dikepalanya. Lewat matanya yang kabur, ia melihat Botak
menyuruh
Hitam untuk kembali ke mobilnya dan melepaskan nomor
polisinya, dan kemudian membakarnya.
"Nona manis ini nggak butuh mobil lagi. Soalnya dia kan udah ikut
kita".
"Jangan, jangan bakar mobil saya. Saya mohon!", Merry berusaha
berteriak, tapi yang keluar hanya kata-katalemah, sambil berusaha
bangkit.
"Hei, nona manis ini masih bisa ngomong!" Botak lalu menampar
pipi Merry, membuatnya ia tergeletak kembali ke lantai box tadi
sambil menangis.
Tak lama, Hitam kembali sambil membawa nomor polisi mobil
Merry. Dari kejauhan, terlihat cahaya api yang berkobar
membakar mobil Merry, termasuk semua yangada di dalamnya.
Sekarang tak seorangpun tahu, milik siapa mobil tersebut atau
tidak seorangpun dapat mencari kemana pengemudi mobil itu.
Kemudian Merry merasa, tangan seseorang mengikat kedua
tangannya erat-erat di depan, setelah itu giliran kakinya,
sementaraMerry hanya bisa berharap dirinya mati saat itu juga.
Setelah selesai mengikat Merry, mereka berdua keluardan
menutup pintu belakang box itu. Dan sesaat kemudian, mesin
mobil itu menyala dan mulai melaju. Merrypun jatuh pingsan
dalam gelap.
Merry berusaha membuka matanya, dan perlahan-lahansadar
bahwa dirinya tidak ada di dalam box tadi. Dirinyaterbaring di
tanah berumput. Hari sudah malam, dan ada api unggun
didekatnya berkobar membuat sekitarnya bersinar terang. Tali
yang mengikat tangan dan kakinya sudah tidak ada.Merry
memandang sekelilingnya dan kembali ketakutan melihat dua
penculiknya sedang duduk didekatnya di atas sebuah batu. Botak
memegang sebuah pisau yang besar, sementara Hitam
mengacungkan sebuah pistol.
"Sudah bangun Non?", sindir Botak.
"Sekarang kita mulai pesta kita!", Mereka langsung tertawa
sementara Merry menjerit ketakutan.
"Ma, ma, mau apa kalian?".
Merry sudah putus asa. Dirinya sudah dikuasai seluruhnya oleh
Botak dan Hitam, semua identitasnya terbakar bersama mobilnya.
Dan tidak ada seorangpun dari teman dan saudaranya tahu
kemana ia pergi, karenarencananya ini semua dilakukannya secara
tiba-tiba. Tangis Merry mulai terdengar lagi, terisak-isak dihadapan
laki-laki yang tanpa belas kasihan terus memperhatikan dirinya.
"Kita nggak bakalan menyakiti kamu Non", jawab Botak, "Selama
Non menuruti semua perintah kita. Semua. Ngerti Non?".
Merry hanya mengangguk sambil menundukan kepala.
"Saya nggak bisaenger Non!", bentak Botak.
"Saya mengerti", Merry menjawab disela tangis.
"Saya mengerti tuan!", bentak Botak lagi.
"Saya mengerti Tuan", ulang Merry ketakutan.
"Sekarang coba Non berdiri!"
Perlahan Merry berdiri, sambil terus menundukan kepalanya.
"Lepasin semua pakaian Non!".
"Y, y, ya Tuan", Merry menarik t-shirtnya ke atas.
"Pelan dong!", kata Botak kesal.
"Kita mau menikmati juga!".
Putus asa, Merry menuruti perintah Botak, perlahan-lahan menarik
t-shirtnya ke atas melalui kepalanya. Buah dadanya terlihat ditutupi
olehBH yang halus dan berwarna putih. Dengan tangis yang
makin keras, ia melepaskan BH tapi dan menjatuhkannya ke tanah.
Sekarang Merry berdiri dengan dada terbuka,payudaranya yang
bulat terlihat jelas disinari cahaya api unggun. Botak dan Hitam
bersuit-suit dan bertepuk tangan kegirangan. Muka Merry
memerah mendengar komentar-komentar Botak dan Hitam. Baru
dua kali ia bertelanjang di depan laki-laki, pertama kali di depan
Achmad, tunangannya yang ternyata sekarang berkhianat.
"Celananya sekalian Non!" perintah Botak.
Perlahan, Merry membuka kancing depan celananya danperlahan
menurunkannya, akhirnya celana itu jatuh di kakinya, lalu dengan
air matameleleh di pipi Merry menarik turun celana dalamnya,
sehingga sekarang ia betul-betul telanjang bulat. Merry berusaha
menutupi kemaluan dan buah dadanya dengan tangannya. Tapi
Botak menggerak-gerakan pisaunya, menyuruh Merry
menurunkan tangannya. Merry langsung menurunkan tangannya,
dan sekarang Botak dan Hitam berjalan mengelilinginya
mengagumi tubuhnya.
"Coba sekarang Non berlututdan merangkak ke temen saya di
sana!" perintah Botak, dan Merry menuruti perintahnya, ia
merangkak dengan tangan dan lututnya mendekati Hitam yang
tinggi dan besar.
"Nah, sekarang coba Non, masukin punya teman saya itu ke
mulut Non. Jilatin sama isep, sampe dia keluar. Kalo nanti di keluar,
Non musti telen semuanya, jangan sampe ada yang kebuang.
Dan ati-ati jangan sampe punya temen saya itu kegigit.Kalo sampe
kegigit, terpaksa saya potong puting susu Non!"
Merry kembali shock, ia belum pernah memasukkan penis ke
dalam mulutnya. Perasaannya muak membayangkan
memasukan penis ke dalam mulutnya, ia lebih ketakutan
mendengar ancaman Botak yang akan memotong puting
susunya jika ia tidak menuruti perintahnya.
"Si, si, siap Tuan", jawab Merry sambil meraih kancing celana
Hitam.
"Tunggu", tiba-tiba Hitam berkata, membuat Merry berhenti
kebingungan.
"Minta ijin dulu dong Non!".
Merry menangis lagi, melihat dirinya sedang dilecehkan oleh kedua
orang itu. Ia takutsekali akan terus-menerus mengalami ini.
"Bo, bo, boleh saya jilat punya Tuan?", Merry berusaha
mengeluarkan suara ditengah isak tangsinya. Pipi Merry tampak
berkilat-kilat basah oleh air mata.
"Yah, silakan deh", jawab Hitam.
"Soalnya Non sopan sekali sih mintanya." Jari-jari Merrygemetar
berusaha melepaskan kancing celana Hitam, setelah berhasil
restleting celana Hitam langsung terbuka dengan sendirinya.
Melihat apa yang keluar dari celana itu, tidak heran restleting celana
tadi tidak bisa menahan apa yang
keluar dari celana itu, tidak heran restleting celana tadi tidak bisa
menahan apa yangada di dalamnya. Celana dalam Hitam sudah
turun dengan sendirinya tidak mampu menahan penis Hitam
yang sudah tegang sekali. Di depan mata Merry, penis itu
mengacung dengan panjang sekitar 25 cm, dengan urat-urat
yang menonjol. Penis itu tampak berkilau-kilau ditimpa cahaya api
unggun. Kepala penis itu sendiri berdiameter sekitar 8cm. Hitam
tertawa melihat wajah Merry memucat melihat penisnya.
"Lho, Non, katanya mau..", kata Hitam tidak sabar. Tidaktahu
bagaimana memulainya, Merry memajukan wajahnya dan
menempelkan bibirnya yang mungil ke kepala penis tadi, dan
mulai menciuminya. Merry terus menciumi selama beberapa saat,
kemudian ia mengeluarkan lidahnya lalu iamenjilati batang penis
Hitam. Sambil menelan ludah, Merry sekarang membuka
mulutnya lebar-lebar dan memasukan kepala penis tadi ke dalam
mulutnya, sedangkan lidahnya terus menjilati. Nafas Hitam
sekarang semakin berat dan terengah-engah, sementara itu Merry
terus menjilati kepala penisnya, sesaat dirasakannya sesuatu yang
asin di ujung penis Hitam. Merry berusaha melupakan apa yang
baru dijilatnya, sambil menutup matanya erat-erat, bibirnya
menempeldisekeliling penis tuannya yang baru.
Hitam mulai mengerang. Dengan tangan kanannya Merry
memegang batang penis Hitam, sementara kepalanya bergerak
maju mundur berirama dengan berusaha membuka rahangnya
lebar-lebar agar giginya tidak bersentuhan dengan kepala penis
Hitam. Bibir Merry terus menggosok-gosok maju mundur pada
kepala dan batang penis Hitam, sedangkan lidahnya terus begerak
menjilati dan membasahinya. Hitam sekarang semakin keras
mengerang, Merry ketakutan mendengar erangan Hitam
menyangka ia telah berbuat salah dan menyakitinya. Tapi Hitam
terus membiarkan bibirnya menggosok-gosok penisnya. Terus,
terus, terus sampai akhirnya.
Hitam tiba-tiba memegang rambutnya dan mendorong kepala
Merry hingga wajah Merry bersentuhan dengan pinggulnya.
Hitam menyemprotkan sperma
masuk ke dalam mulut Merry. Merry belum pernah merasakan
sperma sebelumnya, ia tak berdaya menelan semua cairan kental
yang terasa asin yang dalam sekejap memenuhi mulutnya, dan
dengan leluasa masuk kedalam perutnya.
"aararaagghh!", erang Hitam,sementara Merry kembali menangis
tak berdaya berusaha menelan semua sperma yang terus keluar
dari penis Hitam.
"Telen semua!, Semuaakkhahh!".
Lalu pegangan Hitam pada rambutnya perlahan mengendor dan
aliran spermayang keluar melambat dan akhirnya berhenti.
Selama beberapa saat Merry masih memasukan penis Hitam
dalammulutnya, takut akan berbuatsalah dengan mengeluarkan
penis si Hitam tanpa perintah.Tapi Hitam akhirnya menarik keluar
penisnya dari mulut Merry. Merry langsung membungkuk
terengah-engahmenghirup udara, beberapa kali berusaha menelan
sisa-sisa sperma yang masihmenempel di lidah dan langit-langit
mulutnya, dan Hitam yang juga terengah-engah, berusaha
berbicara.
"Kita bener-bener nemuin emas di sini", Ia tertawa.
Tubuh Merry berkeringat walaupun sebernarnya udarasekitar situ
cukup dingin.
"Nona manis ini bener-bener hebat!", lanjut Hitam.
"Oke nona manis", Botak maju.
"Giliran saya sekarang!", Melihat tidak ada yang bisa dilakukannya,
dan berharap bila ia menuruti perintah mereka ia akan dibebaskan
Merry berlutut di depan Botak dan berkata. "Tuan, bolehkan saya
memuaskan Tuan?".
"Tentu saja boleh!", jawab Botak sambil menyeringai. Merry
kembali membuka celana Botak dan tak lama kemudian keluarlah
penis Botak di depan wajah Merry. Penis Botak tidak sebesar milik
Hitam, tapi kepala penisnya sangat besar dan berwarna ungu.
Merry melakukan kembali apa yang baru saja ia lakukan terhadap
Hitam, menciumi, menjilati penis Botak sampai Botak mengerang
mencapai puncak kenikmatan.
"aakkhh! aakkhh! Teruusshhkk! aakkhh! Botak berteriak dan
spermanya keluar deras masuk ke mulut Merry. Sperma Botak
terasa lebih pahit dari milik Hitam, tapi tidak sebanyak yang
dikeluarkan oleh Hitam, Merryberusaha untuk menelan
semua cairan kental pahit itu ke dalam perutnya.
Botak menarik keluar penisnya, sementara Merry tersungkur dan
menangis takberdaya, berharap mereka berdua puas dan
melepaskandirinya, tapi ternyata harapan yang sia-sia. Hitam
berdiri di hadapan Merry, mata Merry terbelalak melihatpenis
Hitam sudah tegang dan mengacung kembali.
"Berdiri!", perintah Hitam.
"Ya Tuan!", Merry berdiri sambil menghapus tangis yang mengalir
di pipinya.
"Naik ke belakang box dan berbaring telentang".
"Iya Tuan, saya naik Tuan", Merry naik ke belakang box.
Di lantai box itu sudah tergelar kasur tipis. Merry pasrah
menyadari sekarang dirinya akan segera diperkosa oleh kedua
orang itu. Sambil menangis Merry merangkak naik dan berbaring
telentang di atas kasur, gemetar ketakutan dan kedinginan.
Sekarang Hitam merangkak ke atas tubuh Merry, Merry ngeri, aku
bisa sesak nafas jika ia menindihku. Tuhan, tolong saya Tuhan.
Tapi yang dilihatnya cuma wajah Hitam yang menyeringai.
Hitam memajukan pinggulnya, dan Merry langsung menjerit
kesakitan ketika kepala penis Hitam mulai membuka bibir
vaginaya. Dia tidak pakai kondom, Merry tersadar, dia akan
menghamiliku! Ketakutan akandihamili oleh Botak, Merry terus
menangis ketika penis Hitam terus masuk menyakiti vaginanya.
"Aduuhh, Sakiitt! Sakit Tuaan!, Merry menjerit-jerit.
"Tuhaan! Sakiitt!", Tapi Hitam terus bergerak makin cepat dan
keras, makin lama makin dalam penis Hitam masuk ke dalam
vagina Merry. 10, 15, 20 dan 25 cm penis Hitam masuk!
"Saakiitt!", jerit Merry.
"Ampuunn! Ampuunn!".
Jeritan Merry hanya menambah semangat Hitam. Iamakin keras
menghentak-hentak, pinggul dan pantat Merry terbanting-banting
di lantai box. Penis Hitam hampirsebesar pergelangan langan
Merry, dan seluruhnya bergerak keluar dan masuk vagina Merry
yang masih sempit. Merry merasa bagian bawah dirinya seperti
tersobek-sobek, tak terlukiskan sakit yang dirasakan oleh Merry,
sakit sekali sehingga Merry merasa akan mati saat itu juga. Hitam
terus memperkosa Merry, sampai
Merry terlalu sakit dan lelah untuk bisa berteriak, tiba-tiba Hitam
berguling dan mengangkat tubuh Merry hingga terbaring di atas
perutnya. Merry terbaring terengah-engah dengan penis Hitam
yang masih masuk seluruhnya. Hitam lalu memegangi pantat
Merry dan mulai bergerak lagi, sekarang lebih perlahan tapi masih
tetap menyakitkan. Merry masih menangis di atasdada Hitam,
sementara Hitam terus memompa keluar masuk. Sebelum Merry
berhasil bernafas dengan normal kembali, dirasakannyasebuah
kepala penis mendorong tepat di liang anusnya yang kecil dan
rapat.
"Ya Tuhan, ya Tuhan! Jangaann!", Merry melolong ketika penis
Botak mulai menembus masuk anusnya senti demi senti. Ya
Tuhan, jangan Tuhan. Aku diperkosadua orang sekaligus! Tolong
Tuhan, jerit Merry dalam hati.Dengan satu dorongan final, penis
Botak terbenam seluruhnya dalam anus Merry.
"aarrhhkkhh!", Merry menjerit dan menjerit.
"Sakiit!, Sakiit! Sakiit! Ampuunn!", Tapi Botak dan Hitam terus
bergerak keluar masuk, sampai akhirnya Merry hanya bisa
merintih"..sakit,.. Sakit,.. Sakit.."
Dan akhirnya Merry merasakan hentakan pinggul Hitam dan cairan
hangat terasa memenuhi vaginanya. Hitam telah mencapai
orgasme, Merry mengetahui itu dan ia menyadari dirinya akan
hamil karena saat itu adalah saat suburnya. Merry sudah tidak
mampu lagi bergerak ketika Botak, juga dengan keras dan brutal
mencapai puncak dan meyemprotkan spermanya dalam anus
Merry. Dan, kedua laki-laki itu dengan terengah-engah terbaring
lemas dengan Merry tepat berada ditengah-tengah mereka.
Perlahan Merry merasakan batang kejantanan yang masih
bersarang di dalam liang kewanitaan dan juga duburnya telah
mengecil, danmereka terlelap kelelahan. Sedangkan Merry, jatuh
pingsan di atas tubuh Hitam, dan ditindih oleh Botak, sementara
sperma meleleh keluar dari vagina dan anusnya serta perlahan
mengering.
Dengan tubuh berkeringat karena teriknya matahari, tubuh Merry
terbaring di atasperutnya dengan tangan kakiterikat pada dua buah
batangpohon. Sekarang ia berbaring
seperti huruf X di atas rumput dan pasir. Ketika ia mengangkat
kepalanya dilihatnya Hitam dan Botak ada di dekatnya, kembali
Merry memohon-mohon untukdikasihani, "Tuan, saya mohon
Tuan, jangan sakiti saya lagi Tuan. Saya akan lakukan apa saja
yang Tuan suruh. Saya janji Tuan!".
Botak maju ke depan dan Merry langsung ketakutan melihat Botak
memegang sebuah logam yang panjang dan lentur, mirip dengan
sebuah antena radio mobil.
"Saya tau Non pasti nurut sama kita. Yang kita mau adalah denger
nona manis dan cantik macem Non menjerit-jerit minta ampun".
"Tapi kenapa Tuan?" tapi Botak cuma tersenyum. Merrylangsung
meronta-ronta ketika dirasakannya tangan Botak mengusapi
pantatnya.
"Jangan! Ampuun, Jangan pecut Saya.., Tuann! Ampuun!", Merry
berusaha melepaskan diri dari ikatan."Halus sekali", Ia mendengar
Botak berkata. Sebuah jeritan melengking ketika pecut logam tadi
mendarat di pantat Merry.
"aaiaiaiaahh!", Merry menjerit. Dan sekali lagi pecutitu mendarat
dan jeritan terdengar lagi.
Sekitar sepuluh kali Botak mengayunkan pecutnya, tapi pada
pecutan yang kelima Merry sudah tidak mampu lagimenjerit
karena kehabisan tenaga dan nafas. Ketika tangan Botak kembali
merabapantatnya sakit kembali menyengat dan Merry merasakan
darah meleleh mengalir turun keluar dari tempat Botak
mengayunkan pecutnya.
Segera setelah itu, tangan Merry dilepaskan dari batangpohon dan
diikat menjadi satu di depan. Sementara kakinya dilepaskan sama
sekali. Lalu ia didorong hingga jatuh telentang dan saat itu juga
dirasakannya cairan hangat kental jatuh di atas wajahnya.
Ternyata dengan menyiksanya dengan pecut tadi Botak mencapai
puncak kenikmatan dan menyemprotkan spermanya ke wajah
Merry.
Setelah itu Merry ditarik berdiri, dan Hitam berkata,"Non, kita mau
ngundang Nonke rumah kami. Sekitar 3 kilo dari sini. Di sana ada
beberapa temen kami, yang tentu juga pengen berkenalan sama
Non. Kami pikir mereka pasti suka samaNon, suka sekali malah!".
Merry kembali gemetar dan pucat, mereka akan
memperkosanya lagi, dan sekarang bukan hanya dua orang tapi
banyak orang. Merry langsung jatuh berlutut.
"Jangan, saya mohon Tuan, jangan bawa saya Tuan! Jangan,
ampun Tuan!" Merry berkata sambil menangis.
"Hush, hush, hush, inget kata saya. Non nurut apa yang kami
bilang". kata Botaksambil menarik tangan Merry untuk berdiri lagi.
Merry tidakberkata-kata lagi, ia hanya masih terus menangis.
Sementara itu Hitam mengikat tali yang ada di tangannya dengan
sebuah tali yang lain dan ujung tali tersebut diikatnya ke bemper
belakang mobil box mereka. Pertama Merry kebingungan melihat
itu, tapi ia tersadar,"Jangan, jangan, saya tidak sanggup".
Botak dan Hitam terus masuk ke dalam kabin box dan Botak
berkata, "Cuma 3 kilo Non. Non pasti bisa". Sambil tertawa ia
menyalakan mesin.Merry berdiri dengan limbungkarena kesakitan
akibat pecutan Botak, berusaha menahan dirinya agar tidak
ambruk jatuh. Box tadi maju dan tangan Merry tertarik kedepan,
dan tubuhnya tertarikdan terbanting ke depan. Boxitu berhenti,
dengan putus asa Merry kembali berusaha berdiri. Box tadi mulai
maju dan di belakang Merry mulai berlari kecil menyeberangi
padang rumput yang berbatu dan luas, sambil menyeringai
kesakitan, dengan tubuh telanjang, putus asa.
Merry berusaha menghilangkan pikiran itu, sementara box tadi
terus melaju di terik matahari.
TAMAT

5 komentar:

  1. Balasan