Jumat, 24 Mei 2013

(My Deary) Perkosaan Dalam Bus by.



...Kedatangan Herman ke sini mengingatkanku akan kampung
halamanku. Banyak yang telah ia ceritakan mengenai
perkembangan kota kelahiranku. Maklum, sudah tujuh tahun
lebih aku tidak pernah kembali ke sana. Namaku Agnes Monica,
umurku sekitar 23 tahun, aku mempunyai seorang anak
perempuan umur tujuh tahun bernama Chelsea Olivia, mungkin
pembaca bingung dan heran dengan nama kami. Ya, nama kami
seperti nama artis di negara kita, ibuku yang memberikan nama
Agnes Monica kepadaku, karena saat mengandung aku, ibu
sering menonton acara Tralala Trilili yang saat itu dibawakan oleh
artis cilik bernama Agnes Monica. Sedangkan saat aku melahirkan
putriku, aku kebingungan menamakannya, saat itu ia terlahir
tanpa seorang ayah, aku hanya teringat dengan cara ibu
menamaiku. Aku coba mencari nama artis Indonesia melalui
internet, maklum, sejak beberapa tahun lalu aku sudah berapa di
Singapura, jadi aku kurang tahu perkembangan di Indonesia.
Kemudian hasil pencarianku mengena pada nama yang cukup
menarik bagiku, nama tersebut adalah Chelsea Olivia. Setelah
melahirkan Chelsea, aku bertemu dengan John yang kini sudah
menjadi suamiku, ia tidak menghiraukan statusku saat itu.
Ceritanya sangat panjang, tujuh tahun yang lalu tepatnya aku
duduk di bangku SMP, aku mengalami musibah yang
membuatku harus meninggalkan negaraku sendiri untuk
menutup aib dan memulai hidup baru. Awalnya orang tuaku
membawaku ke Jepang, namun tidak lama di sana aku
diterbangkan ke Singapura. Banyak hal buruk yang telah ku alami,
sehingga aku harus memulai kehidupanku kembali bersama
John.
Namun kedatangan Herman telah kembali mengingatkan
kenangan burukku. Sebenarnya niat Herman ke sini hanya
sekedar untuk liburan, namun aku sendiri yang kembali
mengingat masa laluku. Jujur, aku pernah jatuh hati dengan
Herman, namun karena sesuatu hal, aku harus dijodohkan orang
tuaku dengan pria lain, hal tersebutlah yang membuat Herman
berubah sifat, ia cukup frustasi dan akhirnya memperkosaku
bersama teman-temannya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku
tidak menuntutnya, karena sampai hari ini pula aku masih
menaruh hati padanya. Setidaknya kedatangannya sedikit
mengobati rasa rinduku.
Herman terlihat akrab dengan keluargaku, baik dengan Chelsea
maupun John. Sepertinya ia punya ikatan batin dengan Chelsea.
Firasatku mengatakan bahwa Herman lah ayah dari putriku ini.
Tapi kami masing-masing telah mengambil jalan sendiri, jadi
kami tidak berhak untuk mengungkit masa lalu. Banyak cerita
mengenai perkembangan negara asalku yang menambah
wawasanku, namun yang sedikit membuatku sedih adalah
mengenai kasus yang sedang hangat ketika itu. Herman bilang di
kota asalku marak terjadi kasus pemerkosaan dalam angkot,
kejadian itu baru saja terjadi sebelum keberangkatan Herman ke
sini.
Cerita Herman tersebut sontak saja mengingatkanku dengan
keperihan yang aku alami dulu. Bayangkan saja, aku yang masih
ABG dulu diperkosa oleh teman-teman sekolahku, bahkan
beruntut diperkosa petani. Bukan hanya itu saja, menjejakkan kaki
ke Jepang, aku masih mengalami hal yang tidak menyenangkan
itu. Kasus di Indonesia adalah pemerkosaan dalam angkot,
sedangkan yang kualami di Jepang adalah pemerkosaan dalam
bis. Berita ini benar-benar kembali menyayat hatiku untuk kembali
terluka. Aku akan menceritakannya kepada pembaca agar
pembaca mengerti bagaimana sakitnya menjadi seorang
perempuan. Aku harap pembaca tersadar dan tidak akan
menzolimi kaum hawa lagi.
Aku kebingungan setelah sampai di bandara Jepang, aku sama
sekali tidak tahu daerah di sini, untungnya mama ku sedikit bisa
berbahasa Jepang, dan beliau mempunyai beberapa teman yang
bekerja di sini. Narita airport, kata mama ditelepon kepada
temannya agar bisa menjemput kami. Sambil menunggu, aku
dan mama duduk di kursi yang telah disediakan, ku lihat ramai
orang berkulit putih susu berlalu lalang tanpa sapa menyapa,
wajah mereka terlihat serius, cukup bosan juga aku menunggu di
sini. Untungnya tidak perlu menunggu cukup lama, teman mama
pun sampai untuk menjemput kami. "Wah, ini anakmu ya?
Cantik banget..." kata teman mama sambil memujiku. "Iya, nanti
rencananya dia lanjut sekolah di sini..." kata mama. Akhirnya aku
memperkenalkan diri kepada wanita berambut pirang hasil semir
itu, "Agnes, tante..." Sepertinya di sini sedang tren cat rambut,
aku sebenarnya lebih suka dengan warna rambutku yang hitam
alami. Iya, aku lebih suka dengan rambut yang lebih oriental,
hitam dan lurus, sangat cocok dengan postur tubuhku yang
mungil namun seksi.
Kamipun kemudian berangkat dari airport menuju ke apartemen
teman mama yang ku panggil tante Olive. Sepenjang jalan kami
banyak berbincang, sambil aku menoleh ke arah luar jendela
melihat suasana kota yang mama bilang adalah Tokyo,
sepanjang jalan banyak orang berjalan kaki, beda jauh dengan
negara kita Indonesia, bahkan orang yang berpakaian rapi pun
berjalan kaki menjinjing tasnya. Sepanjang jalan pun banyak
papan nama toko yang tidak ku mengerti tulisannya, karena aku
belum pernah sekali pun mempelajari bahasa Jepang. Ternyata
tante Olive adalah teman SMA mama, sejak lulus tante Olive
sudah merantau di Jepang untuk bekerja menjadi buruh pabrik.
Tante Olive mempunyai sebuah apartemen, ia memperbolehkan
kami tinggal untuk sementara di apartemennya. Ia juga langsung
membawa kami keliling, bahkan mengenalkan aku pada sebuah
sekolah, tante bilang ia akan membiayaiku di sekolah yang
lumayan ternama di Tokyo ini. Semua data yang ku bawa dari
Indonesia diminta oleh tante Olive, "Kalau prosesnya sudah
selesai, tante akan temani Agnes agar tahu jalan ke sekolah", kata
tante Olive. "Makasih ya tante...", aku sangat berterimakasih akan
jasa tante Olive, karena bukan hanya membantuku, ia juga coba
membantu mama untuk masuk bekerja di pabrik tempat ia
bekerja. Kami tidak tahu apa yang akan kami lakukan lagi selain
berterima kasih.
Setelah selesai dengan kesibukan, kami sampai ke apartemen
tante Olive. Kedatangan kami ternyata disambut dengan ramah
oleh suami dan anak-anaknya. "Owh, ini suamimu Liv?" tanya
mama. Semua senang sekali bisa berkumpul, karena ternyata
mama juga mengenal suami tante Olive yang juga berasal dari
Indonesia. Kisah cinta mereka memang berseri di negara sakura
ini, kata tante ia bertemu om Aseng di sebuah restoran, om
Aseng adalah koki di restoran tersebut, karena bisa berbahasa
Indonesia maka tante Olive sering makan di sana dan menjadi
akrab. Tante Olive memiliki dua anak laki-laki, namanya Sanusi
dan Kosashi. Sanusi anak sulungnya sudah cukup besar,
mungkin dua atau tiga tahun lebih tua dariku, sedangkan Kosashi
mungkin seumuran denganku. Setelah berkenalan, akhirnya kami
makan bersama, mereka semua terlihat akrab sekali, sungguh
hangat berada dalam suasana keluarga ini.
Tak terasa hari pun sudah menjelang malam, tante Olive telah
menyediakan kamar untuk aku dan mama. Kami pun segera
melepas lelah agar besok bisa terbangun dengan kondisi yang
lebih segar, karena besok tante Olive akan menuntunku ke
sekolah baruku di Jepang, namanya Nishi, di sana banyak anak
orang Indonesia yang bersekolah, jadi kalau masalah bahasa, aku
tidak akan kesulitan. Tante Olive memang pandai meyakinkanku,
aku yang hanya berbekal bahasa Inggris juga tidak mau
menyerah mempelajari bahasa Jepang di sini. Setelah itu tante
juga harus membawa mama ke pabrik tempat ia bekerja.
Lumayanlah, setidaknya mama tidak susah mencari kerja lagi di
sini dan tidak perlu terus berharap dengan papa yang sedang
merantau ke Singapura lagi.
"Ayo Nes..." ajak tante di hari besoknya, segera aku mengenakan
seragam sekolah khas siswi Jepang yang telah disediakan tante.
Seragamnya keren banget, sangat jauh berbeda dengan seragam
sekolahku di Indonesia kemarin.
Ternyata benar apa yang dikatakan tante Olive, di sekolah ini aku
menemukan beberapa siswa yang juga berasal dari Indonesia.
Awalnya aku sedikit malu, tapi agar bisa beradaptasi, mau gak
mau aku harus berkenalan dengan mereka. Di kelasku saja aku
sudah menemukan lima orang siswa yang berasal dari
Indonesia, seperti diriku, mereka adalah warga keturunan. Rata-
rata mereka adalah orang yang cukup berada sehingga dapat
bersekolah di luar negeri. "Tenang saja nes, tidak susah koq
belajar bahasa Jepang...", kata seorang siswa kepadaku. Dari lima
siswa tersebut ada seorang gadis cantik dari Indonesia juga.
Perlahan-lahan akhirnya kami menjadi akrab. "Lagian di sini
pelajarannya pakai bahasa Inggris koq", kata gadis asal Indonesia
tersebut. Hampir 80% siswa di sini berambut pirang, terlihat
dengan jelas trend di sini.
Aku duduk bersebelahan dengan Elissa, gadis yang ramah
tersebut terus membantuku melewati pelajaran hari ini. Pulang
sekolah aku pun sudah ditunggu oleh tante Olive. Tante Olive
mengajarkanku jalur pulang ke apartemen, agar besok aku bisa
mandiri untuk bisa sendiri pergi bersekolah.
Seperti halnya kemarin, malam ini kami makan bersama, namun
menu hari ini cukup berbeda. Tante Olive menyiapkan makanan
yang super mewah, "Hari ini kita selamatan untuk hari pertama
Agnes bersekolah dan Mamanya Agnes yang sudah mulai
bekerja..." mendengar itu kami sangat terharu. Mamaku langsung
memeluk tante Olive sambil mengucapkan terima kasih. "Ayo
makan, ga perlu sungkan...", kata om Aseng yang dengan
senyum manisnya ikut senang dengan kondisi kami. Aku pun
sangat menikmati malam itu, sungguh suasana keluarga yang
cukup akrab. Mungkin karena tante Olive dan om Aseng tidak
memiliki anak perempuan, maka mereka memperlakukan aku
sangat baik seperti anak sendiri. Begitu pula Sanusi dan Kosashi
yang juga berkata sudah menganggapku seperti saudari mereka.
Besok pagi aku bangun lebih awal agar tidak terburu-buru
berangkat ke sekolah. Setelah sarapan pagi, aku langsung
berpamitan dengan mama dan tante Olive, sedangkan om Aseng
dan dua anaknya tidak ada di rumah. Om Aseng bekerja di
sebuah restoran sebagai koki, jadi dia harus berangkat lebih awal
untuk menyiapkan bahan-bahan masakan, sedangkan Sanusi dan
Kosashi bersekolah di SMA lain yang jauh lebih elit, maklum, om
Aseng sangat mengharapkan anaknya bernasib yang lebih baik.
Aku masih sedikit canggung keluar dari apartemen, ini pertama
kalinya aku sendirian di daerah yang belum aku kenal. Aktivitas
pagi sudah ramai dengan warga yang berjalan lalu lalang, sibuk
mengejar waktu mereka, sungguh lucu kulihat ada yang sambil
makan roti sambil berjalan seperti tidak ada waktu lagi baginya
untuk duduk menikmati rotinya. Aku masuk dalam kerumunan
warga yang berlalu lalang, aku berjalan ke arah halte yang tidak
jauh dari sini. Semua warga seperti tidak saling mengenal,
berjalan dengan tatapan serius hingga aku sendiri merasa tidak
nyaman dengan kondisi ini. Akhirnya aku sedikit lega setelah
sampai di halte yang aku tuju, sambil menunggu jemputan bis
akupun mengutak-ngatik hp yang baru om Aseng belikan
untukku, biasa, ingin update status Facebook saja.
Aku pun menaiki bis yang menjemput tadi, kulihat hanya pria-
pria tua berjas yang menaiki bis ini, kelihatannya para bapak yang
tampak seperti bisnisman ini satu jalur denganku. Sambil
mengutak-atik Facebook-ku, perasaanku terasa tidak enak, bis
yang berjalan sedikit bergetar sehingga aku yang berdiri karena
tidak kebagian tempat duduk ini harus bersenggolan dengan
bapak-bapak yang menghimpitku. Rasa curigaku makin
memuncak ketika ku tersadar para 'bisnisman' itu pada melirikku.
Apakah mereka kagum dengan tubuhku? Walaupun sedikit
mungil, tapi bentuk tubuhku sangat seksi, apalagi dibarengi wajah
orientalku yang berkulit putih dengan rambut hitam terurai
panjang seperti boneka, aku yakin beberapa pria juga akan
terpesona. Namun yang kupikirkan semakin membingungkan,
kulihat seorang pria mengeluarkan handycam dari tasnya,
sepertinya sedari tadi pria itu sudah menyorotku melalui
handycam yang ditutupi sedikit dari dalam tasnya.
Perasaanku semakin tidak enak ketika pria di belakangku meraba
bokongku. Sontak saja aku langsung kaget dan melotot ke
belakang. Bukan hanya orang belakang, pria berkacamat dari
depan pun meraba dadaku. "Don't touch me!!!" teriakku.
Kekesalanku berubah menjadi ketakutan karena bis tidak singga di
halte yang seharusnya aku turun, sopir bus malah memutar arah
ke jalan yang aku tidak kenal. Badanku gemetaran dan ketakutan,
pria yang memegang handycam terus menyorotku, dan seorang
pria didekatku membisikkan sesuatu yang aku tidak mengerti,
nada bahasa Jepang sepertinya mengancamku. Aku melirik ke
arah tangannya, ternyata dia memegang pisau, sedangkan pria-
pria lain tersenyum kegirangan melihat aku yang tak berdaya.
Satu per satu tangan mereka meraba dada dan bokong ku, gila,
apa ini akan dijadikan video bokep? Aku tidak bisa berbuat apa-
apa, walaupun sesekali aku memohon dengan bahasa Inggris,
entah mereka mengerti atau tidak, tapi sama sekali mereka tidak
menggubrisku. Tindakan mereka semakin keterlaluan, beberapa
tangan pria yang berkerumunan di dekatku telak menyingkap rok
ku, dan beberapa tangan sudah menjelajahi payudaraku melalui
balik seragamku. Perasaanku sungguh sakit hingga aku
meneteskan air mata. Handycam terus menyorot aksi mereka,
bahkan ada pria di samping yang sudah menurunkan resleting
celananya dan mengeluarkan penisnya, kemudian ia menarik
tanganku untuk memegangi penisnya. Aku berusaha berontak,
namun jumlah mereka ramai sekali, bahkan ada yang menarik
rambutku untuk berusaha melumat bibirku. Aku berusaha
menjauhi bibir pria itu namun tak bisa, ia terus menciumi bibirku
tanpa perasaan. Kedua tanganku ditarik ke arah berlawanan untuk
memegangi penis pria sebelah kanan dan kiriku. Pria belakang
yang sudah menyingkap rokku sudah berhasil menarik turun
celana dalamku.
Aku mendengar mereka terus berkomunikasi dalam bahasa
Jepang untuk melancarkan aksi mereka. Pria depan juga sudah
berhasil membuka kancing bajuku hingga seragamku terbuka,
bra warna pink ku pun ditariknya ke atas hingga payudara ku
yang baru tumbuh terpampang jelas di hadapan mereka. Tanpa
perintah, mereka pun berebutan meraba payudara ku, beberapa
pria di depan berusaha menciumi susu ku. Aku tak mampu
berontak karena beberapa tangan terus memegangiku dengan
erat.
Di arah bawah, aku sudah merasakan jemari manusia
menjelajahi vaginaku, pria tersebut berusaha menusukkan jarinya
ke dalam lubang vaginaku yang masih sempit ini. Aku mencoba
menggoyangkan pinggulku agar jarinya tidak bisa berbuat lebih
jauh, namun usahaku gagal, pria yang sedari tadi melumat
bibirku kemudian menampar pipi ku, maksudnya adalah agar aku
tidak melawan. Jantungku berdegup sangat kencang, sambil
menangis aku hanya bisa melayani mereka dengab terpaksa. Jari
pria belakang sudah berhasil masuk ke vaginaku, ia terus
mengocokkan jarinya di lubang vaginaku, aku hanya merasa geli.
Ke dua susu ku pun dikulum bergantian oleh pria-pria di
sampingku. Ke dua tanganku pun disibukkan dengan memainkan
penis mereka.
Akhirnya aku jatub tersungkur ketika jari pria yang mengocok
vaginaku selama beberapa menit telah membuatku orgasme,
cairan hangat pun tersembur keluar dari vaginaku. Ketika aku
tersungkur dengan posisi berlutut, pria tadi langsung
mendekatkan jarinya yang penuh dengan cairan vaginaku ke arah
wajahku, ia menggosokkan jarinya ke arah mulutku. Walaupun
itu cairan dari tububku, tapi aku juga merasa sedikit jijik untuk
menjilatinya. Aku benar-benar merasa sangat kotor, dilecehkan
pria-pria tak dikenal di negeri orang.
Pria yang tadinya aku kocok penisnya kemudian menyodorkan
penisnya ke mulutku. Dia memaksaku untuk mengulum
penisnya. Pria-pria lain pun kemudian membuka resleting mereka
dan mengeluarkan penis mereka yang sudah mengeras, mereka
sepertinya antri untuk melesapkan penis mereka ke mulutku. Aku
sangat jijik, tapi pria itu menampar-nampar pipi ku agar aku
membuka mulutku. Bahkan mereka menekan pipiku agar aku
membuka mulutku. Aku yang tidak mungkin bisa melawan
dengan terpaksa harus melayani nafsu birahi mereka.
Sambil mengulum penis pria tersebut, pakaian yang masih
tersisa di tubuhku kemudian dilepas mereka dengan dengan
segera. Pria lain ikut jongkok agar bisa memainkan susu dan
vagina ku. Sudah beberapa penis yang aku layani, tubuhku sudah
benar-benar kelelahan, vaginaku pun sudah terasa perih karena
tusukan kasar jemari tangan pria-pria itu.
Mereka kemudian mengangkat tubuhku yang sudah mulai
lunglai, mungkin mereka tahu aku sudah kecapekan. Mereka pun
menaruh tubuhku di kursi, aku pun duduk tersandar, ku lihat ke
arah jendela, bis masih berjalan, namun orang-orang di luar
tampak tak sadar dengan apa yang terjadi di dalam sini. Tiba-tiba
aku tersontak kembali, aku kaget dengan benda besar yang tiba-
tiba menusuk ke vagina ku. Ku lihat seorang pria menusukkan
sesuatu yang bentuknya menyerupai penis, batangan itu besar
sekali sehingga vaginaku terasa sakit sekali. Pria-pria lain masih
menangkapku, sambil meraba dan menciumi susuku. Aku
semakin tak mampu menahan rasa sakitku karena aku
merasakan vaginaku diobok-obok penis mainan itu. Ternyata
benda yang ditusukkan ke vagina ku itu bisa bergerak-gerak dan
bergetar. Aku tak mampu menahan orgasme ku yang
selanjutnya. Cairan vagina ku menyemprot tak karuan keluar dari
vaginaku. Mereka hanya tersenyum sambil berbicara bahasa
yang tidak ku mengerti itu.
Mereka benar-benar tak berperasaan, aku yang sudah tak
bertenaga dan mengalami orgasme dua kali masih saja dinikmati.
Bibirku terus dilumat oleh pria-pria itu, susuku diciumi dan
disedot, bahkan sesekali mereka menggigit puting ku dengan
keras, vaginaku pun tak henti-hentinya diobok-obok dengan
sextoy mereka itu, lebih tragisnya adegan itu direkam handycam
yang dipegang salah satu pria-pria jahanam tersebut.
Tak puas dengan adegan begitu, kemudian satu pria berbuat
yang lebih jauh, ia menusukkan penisnya ke liang vaginaku.
Vaginaku benar-benar perih, seperti sudah tersobek-sobek, tapi
pria jahanam ini tidak memperdulikanku, ia terus menggenjot
vaginaku tanpa henti. Bahkan sebelum dia orgasme, ia menarik
keluar penisnya dan menusukkan penisnya ke mulutku, ia
memaksaku mengulum penisnya hingga orgasme dan
menyemprotkan sperma nya di dalam mulut ku. Aku hanya
tersedak oleh banyaknya sperma yang memenuhi
kerongkonganku. Belum selesai menelan sperma pria itu, pria lain
telah mengambil posisi pria sebelumnya, ia menusukkan
penisnya ke vaginaku, mungkin dinding-dinding vaginaku sudah
lecet.
Seperti pria sebelumnya, ia juga kemudian menyemprotkan
spermanya di dalam mulutku hingga masuk ke kerongkonganku.
Aku sangat merasa muak dan mual, ingin sekali ku muntahkan
semua, namun apa daya, mulutku dibekap agar tidak
memuntahkannya. Para pria itu terus bergiliran dengan aksi yang
sama. Hingga semua sudah mendapatkan giliran, barulah mereka
berhenti dan kemudian memakaikan baju ku kembali. Sambil
memakaikan baju, mereka pun masih mencuri kesempatan
untuk menjamah payudaraku. Aku tak mampu bergerak, mereka
memakaikanku seragam dengan sembarangan, bahkan celana
dalam dan bra ku tidak dipakaikan, aku yakin rambutku juga
sudah acak-acakan, apalagi wajahku yang penuh dengan cairan
sperma yang belepotan.
Pria-pria tersebut mengangkatku dan memapahku ke arah pintu,
aku kemudian diturunkan di daerah yang sangat sepi, aku tidak
tahu daerah apa itu. Badanku lemas, aku hanya mengenakan
seragam tanpa dalaman, kemudian tas ku dilempar ke arahku
dan mereka pun meninggalkan ku. Aku tak mampu bangkit lagi,
ku bongkar tas ku untuk menghubungi tante Olivia, tapi tak
sempat menelepon, aku sudah merasa pandanganku berkunang-
kunang, kemudian semua menjadi gelap. Aku pun jatuh pingsan
untuk beberapa jam lamanya.
Saat aku membuka mata ku, aku sudah berada di kamarku, tante
Olive dan mama merawatku. Tante Olive mendapatkan informasi
dari kantor polisi, maka itu tante dan mama segera
menjemputku. Polisis hanya menyuruh mereka membawa aku
pulang. Kata tante Olive, di sini polisi sangat takut dengan
keganasan para yakuza, maka oleh karena itu mama dan tante
Olive tidak ingin menuntut masalah yang sudah ku alami. Aku
sangat kecewa sekali, namun apa boleh buat, hal ini akan
mengancam keselamatan tante Olive beserta keluarganya juga,
karena tante curiga kejadian ini didalangi oleh para yakuza. Mama
juga tidak bisa berbuat apa, beliau hanya berjanji akan segera
pergi dari sini untuk menyusul papa di Singapura.
TAMAT

5 komentar:

  1. Balasan