Jumat, 24 Mei 2013

Perkosaan : Malam Jahanam



Aku tersadar dan menemukan diriku sudah terikat di kursi di
ruangan tengah rumah peristirahatan di Puncak. Aku dan
beberapa teman berserta istri mereka sedang ber-weekend di
puncak. Istriku, Diah sedang kembali ke Jakarta mengambil
beberapa keperluan yang tertinggal. Sedangkan aku sendiri baru
pulang berjalan-jalan sendiri, sekitar pukul 7 malam ketika sebuah
pukulan mendarat di kepalaku tepat ketika aku akan membuka
pintu.
Di tengah ruangan ada dua orang berdiri mengawasiku. Yang
satu berkulit penuh tato, dan yang satu berbadan kekar.
"Hei, lo sudah bangun. Bagus jadi lo bisa liat bagaimana kita
mainin istri lo sekarang!" kata si Tato.
Diah! Diah akan pulang sebentar lagi. Hampir bersamaan,
terdengar kunci pintu depan diputar dan Diah masuk ke ruang
depan. Si Kekar langsung mendekati dia sebelum Diah sadar apa
yang terjadi. Diah terkejut dan berusaha melepaskan pelukan si
Kekar. Kakinya menendang-nendang. Tapi pelukan si Kekar tidak
dapat dilepaskannya. Kemudian ia melihat si Tato, berdiri
disampingku dengan pisau panjang di leherku.
"Diem atau dia mati!" katanya.
Diah langsung berhenti meronta-ronta. Sementara itu si Kekar
sekarang menekuk tangannya ke belakang.
"Ka, kalian mau apa?"
Si Tato berjalan mendekati Diah tanpa menjawab. Kemudian ia
menarik dan merobek t-shirt yang dikenakan oleh Diah. Nafas
Diah tersentak ketika dengan cepat si Tato dengan pisaunya
melucuti BH dan celana jeans yang dikenakannya. Sekarang Diah
berdiri di tengah ruangan hanya dengan memakai celana
dalamnya. Payudaranya yang penuh bulat terbuka, demikian
juga dengan tubuhnya yang putih mulus, tidak tertutup selembar
benangpun. Diah baru berumur 25 tahun, dan kami baru
menikan 3 bulan yang lalu.
"Ampun, jangan.." Diah meronta sambil memandangku putus
asa.
"Diem brengsek!" kata si Tato.
Kemudian ia menyeret Diah ke depan kamar mandi, dan ia
meletakan kedua tangan Diah pada kusen pintu kamar mandi
sehingga Diah berdiri dengan bertumpu ke depan dengan kedua
tangannya. Kemudian si Tato melebarkan kaki Diah. Diah
sekarang berdiri dengan kaki terbuka di depan kamar mandi, dan
tepat di hadapannya terdapat kaca rias, setinggi tubuh manusia.
Kaca itu biasanya digunakan Diah untuk mencoba baju-baju yang
baru dibelinya. Si Tato lalu merobek celana dalam Diah dan
menjatuhkannya ke lantai. Sekarang Diah bisa melihat dirinya
melalui cermin di depannya telanjang bulat, dan di belakang
dilihatnya si Tato sedang mengagumi dirinya.
"Gila bener! Gue suka pantat lo. Lo bener-bener oke!" si Tato
menampar pantat Diah yang sebelah kiri yang membuat Diah
menjerit dan melompat kesakitan. Lalu tanpa menunggu lagi, si
Tato melepaskan celananya dan memperlihatkan penisnya yang
sudah keras. Si Tato kemudian menyelipkan penisnya diantara
kedua kaki Diah lewat belakang, untuk diperlihatkan pada Diah.
"Jangan pak. Jangan! Ampun, jangan!" Diah menoleh ke belakang
dan memandangku. Terlihat air mata meleleh dari matanya. Aku
meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari ikatan.
Si Tato masih tidak peduli melihat Diah memohon-mohon. Kepala
penisnya kemudian menyusuri belahan pantat Diah, terus
menuju ke bawah, kemudian maju mendekati bibir vaginanyah.
Setelah tangan si Tato memegang pinggul Diah dan dengan satu
gerakan keras bergerak maju.
"Arrgghh, jangaan! Ampuun!" Diah menjerit-jerit ketika penis si
Tato mulai membuka bibir vaginanya dan mulai memasuki
lubang kemaluannya. Kaki Diah mengejang menahan sakit ketika
penis si Tato terus menembus masuk tanpa ampun.
Si Tato mulai bergerak maju mundur memperkosa Diah dan
ketika kepala Diah terjatuh lunglai kesakitan, ia menarik rambut
Diah sehingga kepala Diah kembali terangkat dan Diah kembali
bisa melihat dirinya disetubuhi oleh si Tato melalui cermin.
Kadang-kadang si Tato menampar pantat Diah berulang kali, aku
juga melihat payudara Diah yang tersentak-sentak setiap kali si
Tato memasukan penisnya ke dalam vagina istriku.
Tiba-tiba si Tato mengeluarkan penisnya dari vaginanyah. Diah
langsung meronta dan berlari menuju pintu, berharap seseorang
akan melihatnya minta tolong, biarpun dirinya telanjang bulat.
Tapi si Kekar terlebih dahulu menyambar pinggangnya sebelum
Diah sampai ke pintu depan.
"Ahh, tolong! Tolommpphh", Teriakan Diah dibungkam oleh
tangan si Kekar sementara itu si Tato mendekat dan mengikat
tangan Diah menjadi satu ke depan. Setelah itu, Diah didorong
hingga terjatuh di atas lutut dan sikunya. Sekarang si Kekar,
membuka celananya dan memasukan penisnya ke mulut Diah.
"Mmpphh!", Diah berteriak, dengan penis di dalam mulutnya.
Sementara itu si Kekar masih diam dan terus menggerakkan
penisnya di mulut Diah. Mata Diah tertutup dan wajahnya
memerah, sementara itu air mata masih meleleh turun di pipinya.
Ketika itu si Tato masuk ke kamar tidur kami dan ketika kembali ia
membawa salah satu ikat pinggang kulitku. Si Kekar kemudian
mengeluarkan penisnya dari mulut Diah. Diah yang masih
tersungkur di atas lutut dan sikunya terlihat lega. Tapi tanpa
peringatan lagi, si Tato mengayunkan ikat pinggang ke pantat
Diah.
"Aduuh. Sakiit! Ampuun! Jangan, pak, sakit!", si Tato terus
memukuli pantat Diah, sementara Diah berusaha merangkak
menjauh, dan berusaha berdiri. Akhirnya Diah sampai ke sofa
dan berusaha berdiri. si Tato berhenti memukul dan langsung
berlutut di belakang Diah dan meremas pantat Diah.
"Jangan bergerak!" anacam si Tato.
Diah sekarang bersandar pada sofa. Payudaranya tertindih
badannya di sofa, sementara ia berlutut di lantai.
"Ampun pak! Lepaskan saya pak! Sakit pak! Ampun!".
"Diem!" bentak si Tato. si Tato membuka belahan pantat Diah dan
meraba-raba liang anusnya. "Ap, apa, mau kalian.".
"Siap, siap sayang. Gue musti ngerasain pantat lo yang putih
mulus ini!".
Diah memandangku dengan ketakutan, kemudian ia menoleh ke
si Tato yang ada di belakangnya. Wajahnya mulai memucat.
"Jangan! Jangan pak. Saya nggak mau diperkosa di situ pak!
Ampun!".
"Well, gue tetep mau peduli lo mau apa nggak!" si Tato menarik
tubuh Diah hingga ia terjatuh di atas sikunya lagi ke lantai, dan
mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi. Kemudian ia menempatkan
kepala penisnya tepat di tengah liang masuk anusnyah.
Kemudian ia membuka belahan pantat Diah lebar-lebar. "Ampun,
jangan! Sakit! Ampun pak, ampun! aakkhh" si Tato mulai
mendorong masuk, terus masuk sementara Diah mejerit-jerit
minta ampun. Diah meronta-ronta tak berdaya, hanya semakin
menambah gairah si Tato untuk terus mendorong masuk. Diah
terus menjerit, ketika perlahan seluruh penis si Tato masuk ke
anusnya.
"Ampun! Sakit sekali! Ampun!" jerit Diah, ketika si Tato mulai
bergerak pelan-pelan keluar masuk anusnyah.
"Buset! Pantat lo emang sempit banget! Lo emang cocok buat
beginian!" kata si Tato sambil memandang mataku.
"Lo udah pernah nyoba pantat istri lo belon? Bener-bener kualitas
nomer satu!".
Tangisan Diah maskin keras. "Sakit! Sakit sekali! Ampun, sakit!
Sakit pak, ampun!" si Tato menampar pantatnya.
"Gila, gue bener-bener seneng sama pantat lo!"
Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu depan. Sebelum Diah sempat
berteriak, tangan si Tato sudah menutup mulutnya dan ia
mendorong penisnya masuk ke anusnyah. Si Kekar kemudian
menuju ke ruang depan yang gelap, ketika pintu depan terbuka.
"Di? Ini gue! Kok pintu lo nggak dikunci sih?"
Santi! Sahabat Diah. "Ntar kalo ada ma.. Aahh!" si Kekar sudah
menerkam dan memeluk tubuh Santi dari belakang. Terdengar
Santi berontak dan meronta-ronta. Tapi tak lama kemudian Santi
masuk dipegangi oleh si Kekar dengan kedua tangan terikat ke
depan.
Untuk pertama kalinya si Kekar berkata, "Yang ini punya gue."
Santi mempunyai tubuh lebih kurus dan lebih tinggi. Buah
dadanya tidak sebesar Diah tapi tidak mengurangi kecantikan dan
keindahan tubuhnya. Sementara itu si Tato kembali menyetubuhi
Diah lewat pantatnya, sementara si Kekar mulai melucuti pakaian
Santi.
"Lepasin! Jangan! Diah, kamu kenapa?" Santi berteriak ketika si
Kekar menarik BH-nya hingga lepas dan mulai menarik celana
jeansnya.
"Jangan! Lepasin Santi, jangan! Kalian perkosa saja saya. Jangan
ganggu Santi! Jangan!" si Tato langsung memasukan penisnya
keras-keras.
"Jangan banyak omong! Kita mau lo berdua!" Kemudian ia
kembali bergerak dengan brutal dan keras.
Si Kekar berhasil menelanjangi Santi, sementara Santi dengan
kedua tangan terikat, berusaha menutupi payudaranya. Si Tato
kemudian menarik penisnya keluar dari anusnyah, membuat
Diah tersungkur lemas kesakitan di lantai. Kemudian ia membantu
si Kekar meringkus Santi.
"Lo mau pake pantatnya juga?" tanya si Tato.
"Tentu dong!"
"Oke"
Kemudian mereka mendorong Santi hingga terjatuh di atas lutut
dan sikunya di hadapanku. Kemudian si Tato menyeret tubuh
Diah dan membaringkannya di sebelah Santi. Sekarang mereka
berdua berada dalam posisi merangkak tepat di hadapanku. Si
Kekar dan si Tato mulai membandingkan antara Diah dan Santi.
"Wow, liat mereka! Beda tapi oke semua!".
"Lo pilih yang mana? Yang dada besar atau yang pantatnya
kenceng?" tanya si Kekar.
"Gue pikir tadi lo bilang yang pantatnya kenceng punya lo!" jawab
si Tato.
"Iya, tapi gue lagi baek nih!".
"Gue ambil yang dadanya gede aja. Pantatnya lebih bunder."
jawab si Tato sambil menunjuk Diah.
"Oke kalo gitu yang pantatnya kenceng buat gue!"
Akhirnya mereka berdua berlutut di belakang mereka. Si Tato di
belakang Diah dan si Kekar di belakang Santi. Mereka
menempelkan kepala kejantanannya ke liang dubur Diah, serta
membuka belahan pantat Diah dan Santi. Dan bersamaan dengan
mulai mendorong masuk ke dubur mereka berdua yang telah
menganga dengan lebar.
"Ampun! Jangan lagi! Sakit! Jangan disitu lagi!", Diah menjerit
ketika penis si Tato mulai masuk lagi ke anusnya.
"Aduuhh, sakiit. Diah toloong!" Santi menjerit lebih keras lagi,
ketika anusnya yang kecil dimasuki oleh penis si Kekar.
"Diem semua! Dasar cewek murahan!" bentak si Kekar.
Si Tato terus bergerak maju mundur sambil mengerang nikmat.
"Wah, gue bener kagum sama pantat istri lo ini!"
Aku tak berdaya melihat kedua wanita itu mengerang dan
menjerit diperkosa oleh mereka. Kulihat tangan si Kekar meraih
payudara Santi yang kecil tapi padat dan meremasnya keras-
keras. Kemudian ia menariknya tanpa kasihan. Jeritan Santi
kembali terdengar. Melengking.
TAMAT

4 komentar: