Jumat, 24 Mei 2013

Kisah Pemerkosaan SMA

Di sekolah ini aku dan Dol bekerja sendirian. Kami sengaja hidup
berpindah-pindah tempat. Kami bukanlah pekerja tetap di sekolah
negeri ini, aku hanya mendapat order sebagai cleaning service.
Kami tidak dibayar mahal namun aku memiliki kebebasan untuk
tinggal di lingkungan sekolah ini. Maklumlah aku adalah perantau
yang hidup nomaden.
Diantara gadis-gadis di sekolah tempatku bekerja, ada salah
seorang yang paling menonjol. Aku sangatlah hafal dengannya.
Karena memang dia cantik, lincah dan aktif dalam kegiatan
sekolah, sehingga akupun sering melihat dia mondar-mandir di
sekolahan ini. RATRI namanya. Postur tubuhnya besar, wajahnya
cantik dan manis, kulitnya putih bersih serta wangi selalu,
rambutnya lurus panjang sepunggung dan selalu diurai.
Penampilannyapun modis sekali, seragam sekolah yang
dikenakannya selalu berukuran ketat, rok seragam abu-abunya
berpodolgan sejengkal diatas lutut sehingga pahanya yang putih
mulus itu terlihat, ukuran roknyapun ketat sekali membuat
pantatnya yang sekal itu terlihat menonjol, sampai-sampai garis
celana dalamnyapun terlihat jelas melintang menghiasi lekuk
pantatnya, tak lupa kaos kaki putih selalu menutupi betisnya yang
putih mulus itu.
Tidak bisa kupungkiri lagi aku tengah jatuh cinta kepadanya.
Namun perasaan cintaku kepada Ratri lebih didominasi oleh nafsu
sex semata. Gairahku memuncak apabila aku memandanginya
atau berpapasan dengannya di saat aku tengah bekerja di sekolah
ini. Ingin aku segera meyetubuhinya. Banyak sudah WTS-WTS
kunikmati akan tetapi belum pernah aku menikmati gadis
perawan muda yang cantik dan sexy seperti Ratri ini. Aku ingin
mendapatkan kepuasan itu bersama dengan Ratri. Informasi
demi informasi kukumpulkan dari orang-orang di sekolah itu, dari
penjaga sekolah, dari tukang parkir, dari karyawan sekoah.
Dari merekalah aku mengetahui nama gadis itu. Dan dari orang-
orang itupun aku tahu bahwa gadis yang bernama lengkap Ratri
********* (nama kusamarkan) adalah seorang siswi yang duduk
di kelas 3 SMA, umurnya baru 18 tahun. Beberapa saat yang lalu
dia merayakan hari ulang tahunnya yang ke-18 di kantin sekolah
ini bersama teman-temannya sekelas. Diapun termasuk siswi
yang berprestasi, aktif dalam kegiatan OSIS di sekolah ini. Dan
yang informasi terakhir yang kudapat bahwa dia ternyata adalah
salah seorang murid yang akan diberangkatkan ke luar negeri,
bulan depan dalam rangka pertukaran pelajar antar SMA.
Kini di saat sekolah telah sepi, salah satu dari gadis-gadis anggota
OSIS tadi itu tengah merintih-rintih dihadapanku. Dia adalah gadis
yang terakhir kalinya masih tersisa didalam sekolah ini, yang
sedang asyik bercanda ria dengan temannya melalui HP-nya,
semetara yang lainnya telah meninggalkan halaman sekolah.
Beberapa menit yang lalu melalui sebuah pergulatan yang tidak
seimbang aku telah berhasil meringkusnya dengan mudah,
kedua tangannya kuikat dengan kencang kebelakang tubuhnya,
dan mulutnya kusumpal dengan kain gombal. Setelah itu kuseret
tubuhnya ke massal olahraga yang berada di bagian belakang
bangunan sekolah ini.
Tidak salah salah lagi gadis itu adalah Ratri, gadis cantik sang
primadona sekolah ini yang telah lama kuincar. Aku sangat hafal
dengan kebiasaannya yaitu menunggu jemputan supirnya dikala
selesai rapat OSIS sore dan sang supir selalu terlambat datang
setengah jam dari jam bubaran rapat. Sehingga dia paling akhir
meninggalkan halaman sekolah. Kini dia meringkuk dihadapanku,
dengan tangisannya yang teredam oleh kain gombal yang
kusumpal di mulutnya. Sepertinya dia memohon-mohon
sesuatu padaku tetapi apa peduliku, air matanya nampak
mengalir deras membasahi wajahnya yang cantik itu. Sesekali
nampak dia meronta-ronta mencoba melepaskan ikatan tali
tambang yang mengikat erat di kedua tangannya, namun sia-sia
saja, aku telah mengikat erat dengan berbagai simpul. Posisinya
kini bersujud dihadapanku, tangisannya kian lama kian
memilukan, aku menyadari sepenuhnya bahwa dia kini tengah
berada dalam rasa keputusasaan dan ketakutan yang teramat
sangat didalam dirinya.
Kutatap tajam dan kupandangi tubuh gadis cantik itu, indah nian
tubuhnya, kulitnya putih bersih, pantatnya sekal berisi. Kunikmati
rintihan dan tangis gadis cantik yang tengah dilanda ketakutan itu,
bagai seseorang yang tengah menikmati alunan musik didalam
ruangan sepi. Suara tangisnya yang teredam itu memecahkan
kesunyian massal olahraga di sekolah yang tua ini. Sesekali dia
meronta-ronta mencoba melepaskan tali ikatan yang mengikat
kedua tangannya itu. Lama kelamaan kulihat badannya mulai
melemah, isak tangisnya tidak lagi sekeras tadi dan sekarang dia
sudah tidak lagi meronta-ronta mungkin tenaganya telah habis
setelah sekian lamanya menagis meraung-raung dengan
mulutnya yang telah tersumbat. Sepertinya didalam hatinya dia
menyesali, kenapa Pak Jos supirnya selalu terlambat
menjemputnya, kenapa tadi tidak menumpang sahabat karibnya
yang tadi mengajaknya pulang bareng, kenapa tadi tidak
langsung keluar dari lingkungan sekolah di saat latihan usai,
kenapa malah asyik melalui HP bercanda ria dengan sahabatnya
yang lain. Yah, semua terlambat untuk disesali pikirnya, dan saat
ini sesuatu yang mengerikan akan terjadi pada dirinya.
“Beres Gol, pintu pagar depan sudah gue tutup dan
gembok” terdengar suara dari seseorang yang tengah
memasuki massal. Ternyata Dol dengan langkah agak
gontai dia menutup pintu massal yang mulai gelap ini.
“OK sip, gue udah beresin nih anak, tinggal kita pake aja”
ujarku kepada Dol sambil tersenyum.
Kebetulan malam ini Pak Marijan sang penjaga sekolah beserta
keluarganya yang tinggal di dalam lingkungan sekolah ini yaitu
sedang pulang kampung, baru besok lusa mereka kembali ke
sekolah ini. Mereka langsung mempercayakan kepada kami untuk
menjaga sekolah ini selama mereka pergi. Maka tinggallah kami
berdua bersama dengan Ratri yang masih berada didalam
sekolah ini. Pintu gerbang sekolah telah kami rantai dan kami
gembok sehingga orang-orang menyangka pastilah sudah tidak
ada aktifitas atau orang lagi didalam gedung ini. Pak Jos sang
supir yang menjemput Ratri pastilah berpikiran bahwa Ratri telah
pulang, setelah melihat keadaan sekolah itu.
Kupandang lagi tubuh Ratri yang lunglai itu, badannya bergetar
karena rasa takut yang teramat sangat didalam dirinya. Hujanpun
mulai turun, ruangan didalam massal semakin gelap gulita angin
dinginpun bertiup masuk kedalam massal itu, Dol menyalakan
satu buah lampu TL yang persis diatas kami, sehingga cukup
menerangi bagian disekitar kami saja. Mulailah kubuka bajuku
satu per satu, hingga akhirnya aku telanjang bulat. Batang
kemaluanku telah lama berereksi semenjak meringkus Ratri di
teras sekolah tadi.
“Gue dulu ya” ujarku ke Dol.
“Ok boss” balas Dol sambil kemudian berjalan
meninggalkan aku keluar massal.
Kudekati tubuh Ratri yang tergolek dilantai, kuraba-raba
punggung gadis itu, kurasakan detak jantungnya yang berdebar
keras, kemudian tanganku turun hingga bagian pantatnya yang
sekal itu, kuusap-usap pantatnya dengan lembut, kurasakan
kenyal dan empuknya pantat itu sambil sesekali kutepok-tepok.
Badan Ratri kembali kurasakan bergetar, tangisnya kembali
terdengar, sepertinya dia kembali memohon sesuatu, akan tetapi
karena mulutnya masih tersumbat suaranyapun tidak jelas dan
aku tidak memperdulikannya. Dari daerah pantat tanganku turun
ke bawah ke daerah lututnya dan kemudian menyelinap masuk
kedalam roknya serta naik ke atas kebagian pahanya. Kurasakan
lembut dan mulus sekali paha Ratri ini, kuusap-usap terus
menuju ke atas hingga kebagian pangkal pahanya yang masih
ditutupi oleh celana dalam. Karena sudah tidak tahan lagi,
kemudian aku posisikan tubuh Ratri kembali bersujud, dengan
kepala menempel dilantai, dengan kedua tangannya masih terikat
kebelakang. Aku singkapkan rok seragam abu-abu SMUnya
sampai sepinggang.
“Waw indah nian gadis ini” gumamku sambil melototi
paha dan pantat sekal gadis ini.
Kemudian aku lucuti celana dalamnya yang berwarna putih itu,
terlihatlah dua gundukan pantat sekal gadis ini yang putih bersih.
Sementara Ratri terus menagis kini aku memposisikan diriku
berlutut menghadap ke pantat gadis itu, kurentangkan kedua
kakinya melebar sedikit. Dengan jari tengahku, aku coba meraba-
raba selangkangan gadis ini. Di saat jari tengahku menempel pada
bagian tubuhnya yang paling pribadi itu, tiba-tiba tubuh gadis ini
mengejang. Mungkin saat ini pertama kali kemaluannya disentuh
oleh tangan seorang lelaki. Di saat kudapatkan bibir kemaluannya
kemudian dengan jariku itu, aku korek-korek lubang
kemaluannya. Dengan maksud agar keluar sedikit cairan
kewanitaannya dari lubang kemaluannya itu. Tubuhnya seketika
itu menggeliat-geliat di saat kukorek-korek lubang kemaluannya,
suara desahan-desahanpun terdengar dari mulut Ratri, tidak lama
kemudian kemaluannya mulai basah oleh cairan lendir yang
dikeluarkan dari lubang vaginanya. Setelah itu dengan segera
kucabut jari tengahku dan kubimbing batang kemaluanku dengan
tangan kiriku kearah bibir vagina Ratri. Pertama yang aku pakai
adalah gaya misionaris, ini adalah gaya favoritku. Dan…
“Hmmmpphhhh” terdengar rintihan dari mulut Ratri di
saat kulesakkan batang kemaluanku ke bibir vaginanya.
Dengan sekuat tenaga aku mulai mendorong-dorong batang
kemaluanku masuk kelubang kemaluannya. Rasanya sangat seret
sekali, karena sempitnya lubang kemaluan gadis perawan ini. Aku
berusaha terus melesakkan batang kemaluanku kelubang
kemaluannya dengan dibantu oleh kedua tanganku yang
mencengkram erat pinggulnya. Kulihat badan Ratri mengejang,
kepala mendongak ke atas dan sesekali menggeliat-geliat. Aku
tahu saat ini dia tengah merasakan sakit dan pedih yang tiada
taranya. Keringat terus mengucur deras membasahi baju
seragam sekolahnya, namun harum wangi parfumnya masih
terus tercium, membuat segarnya aroma Ratri saat itu, rintihan-
rintihan terdengar dari mulutnya yang masih tersumpal itu. Dan
akhirnya setelah sekian lamanya aku terus melesakkan batang
kemaluanku, kini bobol sudah lubang kemaluan Ratri. Aku telah
berhasil menanamkan seluruh batang kemaluanku kedalam
lubang vaginanya. Kurasakan kehangatan disekujur batang
kemaluanku, dinding vagina Ratri terasa berdenyut-denyut seperti
mengurut-urut batang kemaluanku. Sejenak kudiamkan batang
kemaluanku tertanam didalam lubang vaginanya, kunikmati
denyutan-demi denyutan dinding vagina Ratri yang
mencengkram erat batang kemaluanku. Selanjutnya kurasakan
seperti ada cairan mengucur mengalir membasahi batang
kemaluanku dan kemudian meluber keluar menetes-netes.
“Ah, ternyata itu darah, berarti aku telah merenggut
keperawanan dari gadis cantik ini.” batinku.
Sementara itu kepala Ratri kembali tertunduk dilantai, desah
nafasnya terdengar keras, badannya melemas. Setelah itu, aku
mulai memompakan kemaluanku didalam lubang vaginanya.
Kedua tanganku yang mencengkram erat pinggulnya juga
membantu memaju mundurkan tubuhnya. Badan Ratri kembali
tegang, rintihan kembali terdengar. Semakin lama aku semakin
mempercepat gerakanku, hingga tubuh Ratri tersodok-sodok
dengan cepat sesekali, badannya juga menggeliat-geliat. Raut
mukanya meringis-ringis akibat rasa sakit diselangkangannya.
Hujanpun mulai turun dengan deras dan aku ingin menikmati
rintihan-rintihan dari gadis ini. Sementara aku terus menyodok-
nyodok dari belakang, aku putuskan untuk membuka gombal
yang sedari tadi membekap mulutnya. Dan…
“Aakkk…akkkhh…oohh...ooh…iihh…oohh...” suara
erangan Ratri kini terdengar, kunikmati suara-suara itu
sebagai penghantar diriku yang tengah menyetubuhi
gadis ini.
Suaranya menggema diseluruh massal olahraga ini, namun
masih tertelan oleh suara derasnya hujan diluar. Ratri semakin
terlihat kepayahan, tubuhnya melemah namun aku masih terus
menggenjotnya, gerakanku semakin cepat. Bosan dengan posisi
itu aku cabut kemaluanku dari lubang vaginanya dan kulihat
darah berceceran membasahi selangkangannya dan kemaluanku.
Sejenak Ratri mendesahkan nafas lega, kubalik tubuhnya, dan kini
posisi dia terlentang. Setelah itu kurentangkan kedua kakinya dan
kulipat hingga kedua pahanya menyentuh dadanya. Kulihat jelas
kemaluan gadis ini, indah sekali. Bulu-bulunya yang masih
jarang-jarang itu tumbuh menghias disekitar bibir kemaluannya.
“Ohh...jangann mas…ampun mas...ooohh sakittt
sekali...mas” terdengar Ratri merintih pelan memohon
belas kasihan kepadaku.
Dengan menyeringai aku tindih tubuh Ratri itu. Kembali aku
benamkan batang kemaluanku didalam lubang vaginanya.
“Aakkhh” Ratri terpekik matanya terpejam, roman
mukanya kembali meringis kesakitan dikala aku
menanamkan batang kemaluanku kedalam lubang
kemaluannya.
Setelah itu aku kembali memompakan tubuhku, menggenjot
tubuh Ratri. Batang kemaluanku dengan gaharnya mengaduk
aduk, menyodok-nyodok lubang kemaluannya. Tubuh Ratri
kembali tersodok-sodok. Sesekali kuputar-putar pinggulku, yang
membuat tubuh Ratri kembali kelojotan, dari bibir Ratri terdengar
desahan-desahan halus
“Ohh…enngghh…oohh…ohhh…oohh”
Setelah sekian menit lamanya aku menyetubuhinya, aku
merasakan diriku akan berejakulasi. Segera kupeluk kepalanya
dan kucengkram erat dengan kedua tanganku setelah itu irama
gerakanku kupercepat.
“Aakkhhh…” akupun menejan, tubuhku mengeras.
Croot…croottt…croott… akupun berejakulasi, kusemprotkan
spermaku didalam rahimnya. Banyak sekali sperma yang
kukeluarkan menyemprot membasahi liang vaginanya hingga
meluber keluar meleleh membasahi pahanya. Kulihat raut muka
Ratri saat itu nampak panik, sinar matanya menunjukkan
kekalahan dan kepedihan. Dengan tatapan sayu dia
memandangiku di saat aku mengejan menyemprotkan
spermaku yang terakhir. Ahh nikmat sekali gadis ini, baru kali ini
aku merengut keperawanan seorang gadis kota yang cantik.
Setelah itu akupun merebahkan tubuhku menindih tubuhnya
yang lemah, sambil mengatur nafasku. Tubuhku berguncang-
guncang akibat dari isakan-isakan tangisnya serta nafasnya yang
tersengal-sengal, sementara itu kemaluanku kubiarkan tertanam
didalam lubang kemaluannya. Kubelai-belai rambutnya, kukecup-
kecup pipi dan bibirnya. Terasa lembut sekali bibirnya, kumainkan
lidahku didalam mulutnya, sejenak aku bercumbu mesra dengan
Ratri. Dia hanya terisak-isak dengan nafas yang terus tersengal-
sengal. Akhirnya kusudahi permainanku ini, aku bangkit sambil
mencabut kemaluanku.
“Ouugghhhh…” Ratri merintih panjang saat kutarik
kemaluanku keluar dari lubang vaginanya.
Kulihat diselangkangannya telah penuh dengan cairan-cairan
kental dan darah penuh membasahi bulu-bulu kemaluannya. Tak
kusadari Dol ternyata telah berdiri didekatku, dan rupanya dia
telah telanjang bulat menunggu gilirannya, badannya yang kekar
dan tinggi itu nampak semakin sangar dengan banyaknya
gambar-gambar tatto yang menghiasi sekujur dada dan
lengannya. Dengan rasa toleran sebagai seorang sahabat, akupun
menyingkir dari tubuh Ratri yang tergolek lemas dilantai. Aku
ambil jarak beberapa meter dari tubuh Ratri kemudian aku
kembali merebahkan tubuhku. Dengan tiduran terlentang dilantai
aku menggali kembali rasa nikmatku setelah melampiaskan
nafsuku ke Ratri tadi. Sedang asyik-asyiknya aku istirahat,
terdengar olehku bunyi sesuatu, srett…sreettt…sreett…brett...
diikuti oleh isak tangis Ratri yang terdengar kembali. Setelah
kuperhatikan, oh ternyata Dol dengan sebuah pisau cutter
ditangannya tengah sibuk merobek-robek baju seragam Ratri.
Dengan kasarnya Dol mencabik-cabik baju seragam putih Ratri,
termasuk BH putih yang dikenalkannya. Dan akhirnya kini badan
Ratri telah telanjang, kedua buah payudaranya yang putih mulus
namun tidak begitu besar kini terpampang jelas. Termasuk juga
rok abu-abu yang melilit dipinggangnya setelah kusingkap tadi
dirobek-robeknya, hanya sepasang kaos kaki putih setinggi
betisnya serta sepatu kets masih dikenakannya.
“Ouuhh…ammpuunn…mas…ampun…” suara Ratri
terdengar lirih memohon-mohon ampun ke Dol yang
sepertinya tengah kalap kemasukan setan itu.
Setelah itu dengan kain gombal yang tadi menyumpal mulut
Ratri, Dol membersihkan daerah selangkangan Ratri. Dengan
sedikit kasar Dol mengusap-usap selangkangan Ratri sampai-
sampai tubuh Ratri menggeliat-geliat. Akupun kembali
merebahkan tubuhku dan mengatur nafasku.Sementara itu hujan
diluar mulai reda, namun angin dingin terus berhembus masuk
kedalam massal tempat pembantaian Ratri ini. Tiba-tiba semenit
kemudian dikala aku sedang rebahan, terdengar olehku jerit Ratri
yang memilukan
“Aaakkhhhhh...”
Akupun terbangun, kulihat dari asal suara itu. Ternyata Dol
tengah menyodomi Ratri. Posisi Ratri kembali bersujud dengan
kepala yang mendongak ke atas, bola matanya terbelalak,
wajahnya cantiknya terlihat miris sekali, mulutnya menganga
membentuk huruf “O” dan Dol berada dibelakangnya tengah
asyik menanamkan batang kemaluannya yang besar itu ke dalam
lubang anus Ratri.
“Aakkhh…”
Dolpun mendesah lepas tatkala dia berhasil menanamkan batang
kemaluannya di lubang anus Ratri. Setelah itu lubang anus Ratri
dihujani sodokan-sodokan batang kemaluan Dol, Dol
melakukannya dengan gerakan yang cepat dan kasar sampai-
sampai tubuh Ratri terdorong-dorong dan tersodok-sodok
dengan keras.Tidak ada suara rintihan lagi yang keluar dari mulut
Ratri mungkin karena suara tertahan ditenggorokannya karena
menahan rasa sakit yang dideritanya, akan tetapi badannya masih
kaku menegang, raut mukanya kini meringis-ringis, mulutnya
masih saja menganga terbuka. Rasa sakit dan pedih kembali
melanda dirinya yang tengah disodomi oleh Dol.
Melihat ini aku kembali terangsang, nafsu birahiku kembali
memuncak. Aku bangkit dari rebahanku mendekati mereka
berdua. Kemaluanku kembali ereksi melihat keadaan Ratri yang
tengah menderita. Kuamati wajahnya dari dekat dan dia masih
terlihat cantik, keringatpun mengucur deras membasahi wajah
cantiknya. Aku dengan posisi berlutut berada didepan wajah
Ratri, yang masih mendongak kesakitan itu, sementara itu
seluruh badannya terus tersodok-sodok karena ulah Dol yang
menggenjotnya dari belakang. Kini aku dan Dol berhadap-
hadapan sementara Ratri berada ditengah-tengah kami. Dolpun
menghentikan sejenak genjotannya untuk memberikan
kesempatan padaku memposisikan diri. Kuraih batang
kemaluanku yang telah berdiri tegak, dan kujejalkan kemulut Ratri
yang masih menganga itu. Ah, rasa dingin dan basah
menyelimuti sekujur batang kemaluanku tatkala masuk didalam
rongga mulut Ratri. Nikmat rasanya, juga kurasakan kelembutan
mulut dan bibirnya disekujur batang kemaluanku.Setelah itu
kembali Dol menggenjot tubuh Ratri dari belakang. Kulirik mata
Ratri menjadi sayu, nafasnya tersengal-sengal, aku hanya berdiri
santai saja, karena tubuh Ratri yang bergerak-gerak maju
mundur sebagai akibat sodokan-sodokan Dol yang tengah mulai
menyodominya kembali dari belakang. Kubelai-belai rambutnya
yang indah, sambil kutatap wajah dan badannya.
“Ahh…ahh…ah…“
Nikmat sekali rasanya mulut gadis ini, sambil memejamkan mata
aku terus merasakan kenikmatan di sekujur batang kemaluanku
yang tengah dikulum keluar masuk mulut Ratri.
Tidak lama kemudian Dol semakin cepat menggenjot, memompa
lubang anus Ratri, badannya semakin banyak mengeluarkan
keringat, kulihat dia sepertinya akan berejakulasi.Benar saja,
tubuhnya nampak menggelinjang dan dan menegang, dari mulut
Dol keluar pekikan kecil yang disusul oleh desahan yang penuh
dengan kepuasan. Dolpun berejakulasi di lubang pantat Ratri.
Setelah itu badan Dolpun ambruk disamping badan Ratri.
Akan tetapi posisiku masih tetap seperti semula, kemaluanku
masih tertanam dimulut Ratri. Dengan kedua tanganku kuraih
kepala Ratri, kini dengan gerakan tanganku kepala Ratri ku maju-
mundurkan. Ah, nikmat rasanya, kemaluanku seperti dipijit-pijit
dengan mulut Ratri, bibir sensualnya melingkari batang
kemaluanku, memberi rasa nikmat tersendiri, kurasakan pula
lidahnya menggelitik kepala batang kemaluanku, ah nikmatnya
penuh sensasi. Setelah sekian lama menikmati itu, tiba-tiba
kembali aku akan berejakulasi, maka kugerakkan kepalanya
semakin cepat untuk mengulum batang kemaluanku. Dan,
akupun berejakulasi didalam mulut Ratri, spermaku memancar
keluar membasahi mulut hingga tenggorokannya sampai-sampai
meleleh keluar dari mulutnya. Rasa nikmat yang tiada taranya
kembali melanda sekujur tubuhku. Kucabut batang kemaluanku
dari mulutnya, dan Ratri terbatuk-batuk sepeti akan muntah,
samar-samar kulihat mulutnya penuh dengan cairan-cairan lendir
kental sampai membuat mulutnya nampak mengkilat karena
belepotan cairan sperma. Wajahnya yang lesu dan lemah sejenak
memandangku dengan tatapan mata sayu penuh dengan
keputus-asaan serta air mata yang kembali meleleh. Kemudian
dia terjatuh lunglai dilantai, hanya suara nafasnya yang terdengar
menderu-deru tersengal-sengal dan isakan-isakan tangisnya.
Aku kembali merebahkan tubuhku disamping Ratri, akhirnya
akupun tertidur. Tidak lama rupanya aku tertidur, dan kemudian
terjaga setelah kembali telingaku menangkap suara erangan-
erangan dan rintihan-rintihan. Setelah aku bangun ternyata Dol
tengah menyetubuhi Ratri, tubuh telanjang Ratri yang hanya
tinggal mengenakan sepasang kaos kaki dan sepatu kets ditiduri
oleh Dol. Dengan garangnya Dol menggenjot tubuh Ratri,
iramanya cepat dan kasar sekali, tubuh lemah Ratri kembali
terguncang-guncang. Kini nampak roman muka Ratri telah lunglai
sepertinya hampir pingsan, beberapa saat yang lalu masih
kudengar suara rintihan lemah yang keluar dari mulut Ratri
namun kini suara itu hilang sama sekali. Tidak lama kemudian
Dolpun berejakulasi, kembali rahim Ratri disiram dan dipenuhi
oleh cairan sperma. Ratri nampak tidak sadarkan diri dan pingsan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, 4 jam lamanya
kami memperkosa Ratri. Kini tibalah waktu kami untuk angkat
kaki, setelah kami berpakaian rapi kemudian kami angkat tubuh
Ratri dari ruang aula menuju ke sebuah gudang dibagian paling
belakang sekolah ini. Kami rebahkan gadis cantik primadona
sekolah ini disana. Disisinya kami tebarkan baju seragam sekolah,
tasnya serta HP miliknya yang sedari tadi terus berbunyi.Kini
gadis cantik itu, terkulai pingsan didalam gudang yang kotor,
badan telanjangnya dipenuhi dengan cairan-cairan sperma yang
mulai mengering, juga darah yang nampak masih menetes dari
lubang pantatnya sebagai akibat disodomi oleh Dol tadi.
Kemaluannyapun terlihat kemerahan dan membengkak. Puas
kami memperkosanya. Tepat pukul 22.15 setelah kami
menghilangkan jejak kami, kami pun pergi meninggalkan gedung
sekolah negeri ini, berjalan menuju ke terminal di kota
metropolitan ini untuk menumpang bus yang entah kemana
membawa kami, menuju ke suatu tempat yang jauh dari kota
metropolitan ini.

5 komentar:

  1. Balasan