Jumat, 24 Mei 2013

PErkosaan : RIska si Cantik mulus


Riska adalah seorang gadis pelajar kelas 3 di sebuah SMU negeri
terkemuka di kota YK. Gadis yang berusia 17 tahun ini memiliki
tubuh yang sekal dan padat, kulitnya kuning langsat. Rambutnya
tergerai lurus sebahu, wajahnya juga lumayan cantik.
Dia adalah anak bungsu dari lima bersaudara, ayahnya adalah
seorang pejabat yangkini bersama ibunya tengah bertugas di
ibukota, sedang kakak-kakaknya tinggal di berbagai kota di pulau
jawa ini karena keperluan pekerjaan atau kuliah. Maka tinggallah
Riska seorang diri di rumah tersebut, terkadangdia juga ditemani
oleh sepupunya yang mahasiswi dari sebuah universitas negeri
ternama di kota itu.
Sebagai anak ABG yang mengikuti trend masa kini, Riska sangat
gemar memakai pakaian yang serba ketat termasuk juga seragam
sekolah yang dikenakannya sehari-hari. Rok abu-abu yang
tingginya beberapa senti di atas lutut sudah cukup menyingkapkan
kedua pahanya yang putih mulus, dan ukuran roknya yang ketat
itu juga memperlihatkanlekuk body tubuhnya yang sekal
menggairahkan.
Penampilannya yang aduhai ini tentu mengundang pikiran buruk
para laki-laki, dari yang sekedar menikmati kemolekan tubuhnya
sampai yang berhasrat ingin menggagahinya. Salah satunya
adalah Parno, si tukang becak yang mangkal di depan gang
rumah Riska. Parno, pria berusia 40 tahunan itu, memang
seorangpria yang berlibido tinggi, birahinya sering naik tak
terkendali apabila melihat gadis-gadis cantik dan seksimelintas di
hadapannya.
Sosok pribadi Riska memang cukup supel dalam bergaul dan
sedikit genit termasuk kepada Parno yang sering mengantarkan
Riska dari jalan besar menuju ke kediaman Riska yang masuk ke
dalam gang.
Suatu sore, Riska pulang dari sekolah. Seperti biasa Parno
mengantarnya dari jalan raya menuju ke rumah. Sore itu suasana
agak mendung dan hujan rintik-rintik, keadaan di sekitar juga sepi,
maklumlah daerah itu berada di pinggiran kota YK. Dan Parno
memutuskan saat inilah kesempatan terbaiknya untuk
melampiaskan hasrat birahinya kepada Riska. Ia
telah mempersiapkan segalanya, termasuk lokasi tempat dimana
Riska nanti akan dikerjai. Parno sengajamengambil jalan memutar
lewat jalan yang lebih sepi, jalurnya agak jauh dari jaluryang
dilewati sehari-hari karena jalannya memutar melewati areal
pekuburan.
"Lho koq lewat sini Pak?", tanya Riska.
"Di depan ada kawinan, jadi jalannya ditutup", bujuk Parno sambil
terus mengayuhbecaknya.
Dengan sedikit kesal Riska pun terpaksa mengikuti kemauan Parno
yang mulai mengayuh becaknya agak cepat. Setelah sampai pada
lokasi yang telah direncanakan Parno, yaitu di sebuah bangunan
tua di tengah areal pekuburan, tiba-tiba Parno
membelokkanbecaknya masuk ke dalam gedung tua itu.
"Lho kenapa masuk sini Pak?", tanya Riska.
"Hujan..", jawab Parno sambilmenghentikan becaknya tepat di
tengah-tengah bangunan kuno yang gelap dan sepi itu. Dan
memang hujan pun sudah turun dengan derasnya.
Bangunan tersebut adalah bekas pabrik tebu yang dibangun pada
jaman belanda dan sekarang sudahtidak dipakai lagi, paling-paling
sesekali dipakai untukgudang warga. Keadaan seperti ini membuat
Riska menjadi semakin panik, wajahnya mulai terlihat was-was
dan gelisah.
"Tenang.. Tenang.. Kita santai dulu di sini, daripada basah-basahan
sama air hujan mending kita basah-basahan keringat..", ujar
Parno sambil menyeringai turun dari tempat kemudi becaknya
dan menghampiri Riska yang masih duduk di dalam becak.
Bagai tersambar petir Riskapun kaget mendengar ucapan Parno
tadi.
"A.. Apa maksudnya Pak?", tanya Riska sambil terbengong-
bengong.
"Non cantik, kamu mau ini?" Parno tiba-tiba menurunkan celana
komprangnya, mengeluarkan penisnya yangtelah mengeras dan
membesar.
Riska terkejut setengah mati dan tubuhnya seketika lemasketika
melihat pemandangan yang belum pernah dia lihat selama ini.
"J.. Jaangan Pak.. Jangann.." pinta Riska dengan wajah yang
memucat.
Sejenak Parno menatap tubuh Riska yang menggairahkan, dengan
posisinya yang duduk itu tersingkaplah dari balik rok abu-abu
seragam SMU-nya
kedua paha Riska yang putihbersih itu. Kaos kaki putih setinggi
betis menambah keindahan kaki gadis itu. Dandi bagian atasnya,
kedua buah dada ranum nampak menonjol dari balik baju
putihseragamnya yang berukuranketat.
"Ampunn Pak.. Jangan Pak..", Riska mulai menangis dalam posisi
duduknya sambil merapatkan badan ke sandaran becak, seolah
inginmenjaga jarak dengan Parnoyang semakin mendekati
tubuhnya.
Tubuh Riska mulai menggigil namun bukan karena dinginnya
udara saat itu, tetapi tatkala dirasakannya sepasang tangan yang
kasarmulai menyentuh pahanya. Tangannya secara refleks
berusaha menampik tangan Parno yang mulai menjamah paha
Riska, tapi percuma saja karena kedua tangan Parno dengan
kuatnya memegang kedua paha Riska.
"Oohh.. Jangann.. Pak.. Tolongg.. Jangann..", Riska meronta-ronta
dengan menggerak-gerakkan kedua kakinya. Akan tetapi Parno
malahan semakin menjadi-jadi, dicengkeramnya erat-erat kedua
paha Riska itu sambil merapatkan badannya ke tubuh Riska.
Riska pun menjadi mati kutu sementara isak tangisnya menggema
di dalam ruangan yang mulai gelap dan sepi itu.Kedua tangan
kasar Parno mulai bergerak mengurut kedua paha mulus itu
hingga menyentuh pangkal paha Riska. Tubuh Riska menggeliat
ketika tangan-tangan Parno mulai menggerayangi bagian pangkal
paha Riska, dan wajah Riska menyeringai ketika jari-jemari Parno
mulai menyusup masuk ke dalam celana dalamnya.
"Iihh..", pekikan Riska kembali menggema di ruangan itu di saat
jari Parno ada yang masuk ke dalam liang vaginanya.
Tubuh Riska menggeliat kencang di saat jari itu mulai mengorek-
ngorek lubang kewanitaannya. Desah nafas Parno semakin
kencang, dia nampak sangat menikmati adegan 'pembuka' ini.
Ditatapnya wajah Riska yang megap-megap dengan tubuh yang
menggeliat-geliat akibatjari tengah Parno yang menari-nari di
dalam lubang kemaluannya.
"Cep.. Cep.. Cep..", terdengar suara dari bagian selangkangan
Riska. Saat ini lubang kemaluan Riska telah banjir oleh cairan
kemaluannya yang mengucur membasahi selangkangan
dan jari-jari Parno.
Puas dengan adegan 'pembuka' ini, Parno mencabut jarinya dari
lubangkemaluan Riska. Riska nampak terengah-engah, air
matanya juga meleleh membasahi pipinya. Parno kemudian
menarik tubuh Riska turun dari becak, gadisitu dipeluknya erat-
erat, kedua tangannya meremas-remas pantat gadis itu yang
sintal sementara Riska hanyabisa terdiam pasrah, detak
jantungnya terasa di sekujurtubuhnya yang gemetaran itu. Parno
juga menikmati wanginya tubuh Riska sambil terus meremas
remas pantat gadis itu.
Selanjutnya Parno mulai menikmati bibir Riska yang tebal dan
sensual itu, dikulumnya bibir itu dengan rakus bak seseorang
yang tengah kelaparan melahap makanan.
"Eemmgghh.. Mmpphh..", Riskamendesah-desah di saat Parno
melumat bibirnya. Dikulum-kulum, digigit-gigitnya bibir Riska oleh
gigi dan bibir Parno yang kasar dan bau rokok itu. Ciuman Parno
pun bergeser ke bagian leher gadis itu.
"Oohh.. Eenngghh..", Riska mengerang-ngerang di saat lehernya
dikecup dan dihisap-hisap oleh Parno.
Cengkeraman Parno di tubuh Riska cukup kuat sehingga
membuat Riska sulit bernafasapalagi bergerak, dan hal inilah yang
membuat Riska pasrah di hadapan Parno yang tengah
memperkosanya. Setelah puas, kini kedua tangan kekar Parno
meraih kepala Riska dan menekan tubuh Riska ke bawah sehingga
posisinya berlutut di hadapan tubuh Parno yang berdiri tegak di
hadapannya. Langsung saja oleh Parno kepala Riska dihadapkan
pada penisnya.
"Ayo.. Jangan macam-macam non cantik.. Buka mulut kamu",
bentak Parno sambil menjambak rambut Riska.
Takut pada bentakan Parno, Riska tak bisa menolak
permintaannya. Sambil terisak-isak dia sedikit demi sedikit
membuka mulutnya dan segera saja Parno mendorong masuk
penisnya ke dalam mulut Riska.
"Hmmphh..", Riska mendesah lagi ketika benda menjijikkanitu
masuk ke dalam mulutnya hingga pipi Riska menggelembung
karena batang kemaluan Parno yangmenyumpalnya.
"Akhh.." sebaliknya Parno mengerang nikmat.
Kepalanyamenengadah keatas merasakan hangat dan
lembutnya rongga mulut Riska di sekujur batang kemaluannya
yang menyumpal di mulut Riska.
Riska menangis tak berdaya menahan gejolak nafsu Parno.
Sementara kedua tangan Parno yang masih mencengkeram erat
kepala Riska mulai menggerakkan kepala Riska maju mundur,
mengocok penisnya dengan mulut Riska. Suara berdecak-decak
dari liur Riska terdengar jelas diselingi batuk-batuk.
Beberapa menit lamanya Parno melakukan hal itu kepada Riska,
dia nampak benar-benar menikmati. Tiba-tiba badan Parno
mengejang, kedua tangannyamenggerakkan kepala Riska semakin
cepat sambil menjambak-jambak rambut Riska. Wajah Parno
menyeringai, mulutnya menganga, matanya terpejamerat dan..
"Aakkhh..", Parno melengking, croot.. croott.. crroott..
Seiring dengan muncratnya cairan putih kental dari kemaluan
Parno yang mengisimulut Riska yang terkejut menerima
muntahan cairan itu. Riska berusaha melepaskan batang penis
Parno dari dalam mulutnya namun sia-sia, tangan
Parnomencengkeram kuat kepala Riska. Sebagian besar sperma
Parno berhasil masuk memenuhi rongga mulut Riska dan
mengalir masuk ke tenggorokannya serta sebagian lagi meleleh
keluar dari sela-sela mulut Riska.
"Ahh", sambil mendesah lega,Parno mencabut batang
kemaluannya dari mulut Riska.
Nampak batang penisnya basah oleh cairan sperma yang
bercampur dengan air liur Riska. Demikian pula halnya dengan
mulut Riska yang nampak basah oleh cairan yang sama. Riska
meski masih dalam posisi terpaku berlutut, namun tubuhnya juga
lemas dan shock setelah diperlakukan Parno seperti itu.
"Sudah Pak.. Sudahh.." Riska menangis sesenggukan, terengah-
engah mencoba untuk 'bernego' dengan Parno yang sambil
mengatur nafas berdiri dengan gagahnya di hadapan Riska.
Nafsu birahi yang masih memuncak dalam diri Parno membuat
tenaganya menjadi kuat berlipat-lipat kali, apalagi dia telah
menenggak jamu super kuat demi kelancaran hajatnya ini
sebelumnya. Setelah berejakulasi tadi, tak lama kemudian
nafsunya kembali bergejolak hingga batang kemaluannya kembali
mengacung keras siap menerkam mangsa lagi.
Parno kemudian memegang tubuh Riska yang masih menangis
terisak-isak. Riskasadar akan apa yang sebentar lagi terjadi
kepadanya yaitu sesuatu yang lebih mengerikan. Badan Riska
bergetar ketika Parno menidurkan tubuh Riska di lantai gudang
yang kotor itu, Riska yang mentalnya sudah jatuh seolah tersihir
mengikuti arahan Parno.
Setelah Riska terbaring, Parno menyingkapkan rok abu-abu
seragam SMU Riska hingga setinggi pinggang. Kemudian dengan
gerakan perlahan, Parno memerosotkan celana dalam putih yang
masih menutupi selangkangan Riska. Kedua mata Parno pun
melotot tajamke arah kemaluan Riska. Kemaluan yang
merangsang, ditumbuhi rambut yang tidak begitu banyak tapi rapi
menutupi bibir vaginanya, indah sekali.
Parno langsung saja mengarahkan batang penisnya ke bibir
vagina Riska. Riska menjerit ketika Parno mulai menekan
pinggulnya dengan keras, batang penisnya yang panjang dan
besar masuk dengan paksa ke dalam liangvagina Riska.
"Aakkhh..", Riska menjerit lagi, tubuhnya menggelepar mengejang
dan wajahnya meringis menahan rasa pedihdi selangkangannya.
Kedua tangan Riska ditekannya di atas kepala, sementara ia dengan
sekuat tenaga melesakkan batang kemaluannya di vagina
Riskadengan kasar dan bersemangat.
"Aaiihh..", Riska melengking keras di saat dinding keperawanannya
berhasil ditembus oleh batang penis Parno. Darah pun mengucur
dari sela-sela kemaluan Riska.
"Ohhss.. Hhsshh.. Hhmmh.. Eehhghh.." Parno mendesis nikmat.
Setelah berhasil melesakkan batang kemaluannya itu, Parno
langsung menggenjot tubuh Riska dengan kasar.
"Oohh.. Oogghh.. Oohh..", Riska mengerang-ngerang kesakitan.
Tubuhnya terguncang-guncang akibat gerakan Parno yang keras
dan kasar. Sementara Parno yang tidak peduli terus menggenjot
Riska dengan bernafsu. Batang penisnya basah kuyup oleh cairan
vagina Riska yang mengalir deras bercampur darah
keperawanannya.
Sekitar lima menit lamanya Parno menggagahi Riska yang
semakin kepayahan itu,sepertinya Parno sangat
menikmati setiap hentakan demi hentakan dalam menyetubuhi
Riska, sampai akhirnya di menit ke-delapan, tubuh Parno kembali
mengejang keras, urat-uratnya menonjol keluar dari tubuhnya
yang hitam kekar itu dan Parno pun berejakulasi.
"Aahh.." Parno memekik panjang melampiaskan rasa puasnya
yang tiada tara dengan menumpahkan seluruh spermanya di
dalam rongga kemaluan Riska yang tengah menggelepar
kepayahan dan kehabisan tenaga karena tak sanggup lagi
mengimbangi gerakan-gerakan Parno.
Dan akhirnya kedua tubuh itupun kemudian jatuh lunglaidi lantai
diiringi desahan nafas panjang yang terdengar dari mulut Parno.
Parno puas sekali karena telah berhasil melaksanakan hajatnya
yaitu memperkosa gadis cantik yang selama ini menghiasi
pandangannya danmenggoda dirinya.
Setelah rehat beberapa menittepatnya menjelang Isya, akhirnya
Parno dengan becaknya kembali mengantarkan Riska yang
kondisinya sudah lemah pulang ke rumahnya. Karena masih
lemas dan akibat rasa sakit di selangkangannya, Riska tak mampu
lagi berjalan normal hingga Parnoterpaksa menuntun gadis itu
masuk ke dalam rumahnya.
Suasana di lingkungan rumahyang sepi membuat Parno dengan
leluasa menuntun tubuh lemah Riska hingga sampai ke teras
rumah dan kemudian mendudukkannya di kursi teras. Setelah
berbisik ke telinga Riska bahwa dia berjanji akan datang kembali
untuk menikmati tubuhnya yang molek itu, Parno pun kemudian
meninggalkan Riskadengan mengayuh becaknya menghilang di
kegelapan malam, meninggalkan Riska yang masih terduduk
lemas di kursi teras rumahnya.
E N D

5 komentar:

  1. Balasan